scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Implementasi Metode Pembelajaran Kitab Kuning di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Untuk Meningkatkan Karakter Santri

Muhaddis Maulana, M. Maulana Nur Kholis

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 3 , Oktober 2025, Halaman 72-76 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17256059 *Corresponding Author Email: [email protected] Implementasi Metode Pembelajaran Kitab Kuning di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Untuk Meningkatkan Karakter Santri Muhaddis Maulana, M. Maulana Nur Kholis Program Pascasarjana Pendidikan Agama Islam, Universitas Kh. Abdul Chalim A B S T R A C T Penelitian ini menganalisis implementasi metode pembelajaran kitab kuning di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Aceh Besar, dalam konteks peningkatan karakter santri. Kitab kuning sebagai teks klasik Islam berbentuk Arab gundul (tanpa harakat) memerlukan metode pembelajaran yang efektif agar santri dapat memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan seharihari. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini menggunakan teknik observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dayah ini menerapkan enam metode utama: bandongan (pembacaan bersama), boh bareh (pemberian harakat), surah (ceramah), niqasy (tanya jawab), muthala'ah (pembacaan berulang), dan nazam bait (penyusunan puisi). Implementasi metode-metode ini menghasilkan peningkatan karakter santri dalam empat aspek: kemampuan menulis (kaligrafi dan ketelitian), kemampuan membaca (fluensi dan pengucapan), kemampuan memaknai (interpretasi teks), dan kemampuan memahami (aplikasi nilainilai Islam). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan metode pembelajaran yang variatif dan kontekstual dapat secara signifikan memperkuat karakter santri, sehingga direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas di lembaga pendidikan Islam tradisional. A B S T R A C T This research analyzes the implementation of the yellow book learning method in Dayah Mahyal Ulum AlAziziyah, Greater Aceh, in the context of improving students' character. The yellow book as an Islamic classical text in Arabic form mumbled (without harakat) requires an effective learning method so that students can understand and apply Islamic values in their daily lives. This qualitative research with a case study approach uses observation techniques, in-depth interviews, and document analysis. The results of the study show that this dayah applies six main methods: bandongan (shared reading), boh bareh (giving harakat), surah (talk), niqasy (question and answer), muthala'ah (repeated reading), and nazam bait (composition of poetry). The implementation of these methods results in the improvement of students’ character in four aspects: writing ability (calligraphy and rigor), reading ability (fluency and pronunciation), meaning ability (text interpretation), and comprehension ability (application of Islamic values). The study concludes that the application of varied and contextual learning methods can significantly strengthen students’ character, thus recommended to be applied more widely in traditional Islamic educational institutions. PENDAHULUAN Pesantren atau dayah sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang mendalam, tetapi juga karakter yang kuat sesuai ajaran Islam. (Qomar, 2014) Kehadiran dayah di Indonesia, khususnya di Aceh, telah berlangsung sejak abad ke-15 bersamaan dengan masuknya Islam pertama kali di Nusantara. (Ismail, 1997) Sebagai institusi pendidikan tertua, pesantren telah berhasil menumbuhkan dan memperkuat kehidupan beragama, mereplikasi ulama, mempertahankan tradisi Islam, serta menanamkan rasa kebangsaan dalam jiwa rakyat Indonesia. (Indra, 2004) Salah satu karakteristik unik pesantren adalah pembelajaran kitab kuning, yaitu karya-karya klasik ulama yang ditulis dalam bahasa Arab tanpa harakat (tanda baca vokal). (Bruinessen, 1994) Kitab kuning menjadi sumber utama pembelajaran di pesantren dan membedakannya dari institusi pendidikan lainnya. (Yasmadi, 2002) Namun, pembelajaran kitab kuning yang berbentuk Arab gundul ini sering menyulitkan santri pemula untuk memahami dan menghafal isinya. (Hasan, 1997) Oleh karena itu, diperlukan pendekatan metode yang efektif agar proses A R T I C L E I N F O Article history: Received September 20, 2025 Revised 25 September 2025 Accepted 25 September 2025 Available online 01 Oktober. 2025 Keywords: Implementasi Metode Pembelajaran, Kitab Kuning, Karakter Santri, Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Keywords: Learning Methods Implementation, Yellow Book, Student Character, Mosque This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 72-76 Maulana, et., al/ Implimentasi Metode Pembelajaran pembelajaran berjalan lancar dan berdampak positif terhadap pembentukan karakter santri, seperti kedisiplinan, ketekunan, dan pemahaman mendalam terhadap ajaran Islam. (Majid, 2014) Metode pembelajaran memainkan peran krusial dalam meningkatkan kenyamanan dan keterlibatan santri saat mempelajari kitab kuning. (Nizar, 2013) Dalam dunia pendidikan, terdapat ungkapan populer bahwa "metode jauh lebih penting daripada materi", yang menunjukkan betapa pentingnya pemilihan metode yang tepat dalam proses belajar mengajar. (Siraj, 2004) Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, sehingga pendidik harus mampu memilih dan menerapkan metode yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi santri. (Armai, 2002) Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah yang berlokasi di Desa Dilib Bukti, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang masih mempertahankan pembelajaran kitab kuning dengan metode tradisional namun efektif. (Dokumentasi Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 2024) Dayah ini didirikan pada tahun 1999 oleh Tgk. H. Faisal Ali, alumni Dayah MUDI Mesra Samalanga, dengan visi melahirkan insan yang dilandasi ketaqwaan, keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian. (Wawancara dengan Abu Faisal Ali, Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 6 Juni 2024) Hingga saat ini, dayah tersebut telah meluluskan santri yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri, termasuk Universitas Al-Azhar Mesir dan Global University Beirut, Lebanon. (rofil Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 2024) Pembelajaran kitab kuning di dayah ini menggunakan berbagai metode yang dikolaborasikan, seperti bandongan, sorogan, boh bareh, surah, niqasy, muthala'ah, dan nazam bait. (Wawancara dengan Abi Munawar Sanusi, Wadir I Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 6 Juni 2024) Yang menarik dari dayah ini adalah penerapan metode yang tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca kitab, tetapi juga pada pemahaman mendalam terhadap isi kitab melalui penjelasan kedudukan kata (i'rab) dan kosakata (mufradat). (Observasi pembelajaran di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 6 Juni 2024) Proses ini dirancang agar santri tidak hanya memahami hukum-hukum yang terkandung dalam kitab, tetapi juga mampu membaca, mengartikan, dan menjelaskan kembali dengan pemahaman yang utuh. (Wawancara dengan Tengku Baihaqi, Guru Senior Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 6 Juni 2024) Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini difokuskan pada dua pertanyaan utama: Bagaimana implementasi metode pembelajaran kitab kuning dalam meningkatkan karakter santri di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah? Dan Bagaimana hasil implementasi metode pembelajaran kitab kuning terhadap peningkatan karakter santri di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus (case study). (Sukmadinata, 2010) Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fenomena pembelajaran kitab kuning secara mendalam dengan berbagai metode yang melibatkan analisis data natural. (Yusuf, 2013) Studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menghimpun dan menganalisis data yang berkenaan dengan konteks spesifik Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah secara komprehensif. (Moleong, 2018) Penelitian ini dilakukan di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah yang berlokasi di Jl. Banda Aceh-Medan Km. 16,8, Desa Dilib Bukti, Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Penelitian berlangsung selama 4-5 bulan pada tahun 2024. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh langsung dari sumbernya melalui wawancara dengan pimpinan dayah (Abu Faisal Ali), ketua bagian pendidikan (Tengku Daman Huri SH), dan guru-guru dayah (Tengku Baihaqi, Tengku Umar Dani SH, Tengku Maulidi, Tengku Safrizal, dan lainnya), serta santri. (Darwis, 2014)Data sekunder diperoleh dari dokumen dayah, buku, jurnal, dan artikel yang relevan dengan topik penelitian. (Arikunto, 2010) Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: Observasi: Pengamatan langsung terhadap proses pembelajaran kitab kuning di dayah, termasuk metode yang digunakan, interaksi guru-santri, dan kondisi pembelajaran. (Sugiyono, 2018) Wawancara: Wawancara mendalam dengan pimpinan dayah, ketua pendidikan, guru-guru, dan santri untuk memperoleh informasi tentang implementasi metode pembelajaran dan dampaknya terhadap karakter santri. (Wawancara dengan Tengku Daman Huri SH, Ketua Bagian Pendidikan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah, 6 Juni 2024) Dokumentasi: Pengumpulan data melalui dokumen tertulis seperti profil dayah, struktur organisasi, jadwal pembelajaran, dan catatan-catatan penting lainnya. (Prastowo, 2012) Analisis data dilakukan melalui tiga tahap: (1) Reduksi data, yaitu meringkas dan memilih hal-hal pokok yang terkait dengan fokus penelitian; (2) Penyajian data, yaitu mengorganisasikan data dalam bentuk deskripsi, bagan, atau tabel agar mudah dipahami; (3) Penarikan kesimpulan, yaitu verifikasi temuan berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. (Mudjiono, 2013) Keabsahan data dijamin melalui empat kriteria: (1) Kredibilitas, dengan memperpanjang observasi dan meningkatkan ketekunan serta triangulasi teknik dan sumber; (2) Transferabilitas, dengan memberikan deskripsi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 72-76 Socius E-ISSN: 3025-6704 terperinci; (3) Dependabilitas, melalui audit prosedur penelitian; (4) Konfirmabilitas, dengan memastikan hasil penelitian objektif dan dapat diverifikasi. (Susetyo, 2010) HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Gambaran Umum Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah didirikan pada tahun 1999 di atas tanah wakaf seluas 6000 meter persegi yang disumbangkan oleh Tgk. H. Faisal Ali dan H. M Ali Mahmud.²⁷ Proses pengajian pertama dimulai pada malam 12 Rabiul Awal 1421 H dengan 5 santri perdana.²⁸ Visi dayah adalah melahirkan insan yang dilandasi ketaqwaan, keikhlasan, kesederhanaan, dan kemandirian, dengan misi memberikan pendidikan berdasarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah dan fiqh Syafi'iyyah.²⁹ Saat ini, dayah memiliki 595 santri yang terdiri dari 322 santriwan dan 273 santriwati, dengan 47 tenaga pengajar yang sebagian besar merupakan alumni dayah sendiri atau alumni MUDI Mesra Samalanga.³⁰ Dayah menerapkan sistem pendidikan mulai dari kelas Tajhizi (setara Tsanawiyah) hingga Tingkat 4 Ma'had Aly, dengan masa belajar total hingga 9 tahun, ditambah program Takassus untuk pendidikan kader guru selama 2 tahun.³¹ 2. Implementasi Metode Pembelajaran Kitab Kuning Berdasarkan hasil penelitian, Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah menerapkan enam metode utama dalam pembelajaran kitab kuning: a. Metode Bandongan Metode bandongan merupakan metode pembelajaran di mana guru membaca kitab kuning, menerjemahkan, dan memberikan penjelasan, sementara santri mendengarkan, menyimak, dan mencatat.³² Menurut Abu Faisal Ali, "Pembelajaran di dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah ini berbasis kitab, maka saya tekankan kepada guru untuk melaksanakan semua metode yang sudah dibuat, agar para santri cepat mendapatkan ilmu dan cepat bisa baca kitab."³³ Dalam praktiknya, guru membaca lafadz dan makna kitab, kemudian santri memaknai kitab mereka dengan pensil. Setelah selesai membaca, guru memberikan penjelasan dan menunjuk salah satu santri untuk membaca hasil pemaknaan di kitabnya guna menguji ketelitian dan fokus santri.³⁴ Tengku Baihaqi menjelaskan, "Metode ini sangat bermanfaat bagi santri karena mereka harus mempelajari semua materi kitab baik secara teori maupun praktik."³⁵ Kelebihan metode bandongan antara lain: lebih cepat dan praktis untuk mengajar santri dalam jumlah banyak, efektif bagi santri yang telah mengikuti sistem sorogan, materi sering diulang sehingga mudah dipahami, dan melatih ketelitian dalam memahami kalimat sulit.³⁶ Namun, metode ini juga memiliki kekurangan seperti pembelajaran berlangsung satu arah sehingga santri kurang aktif, cepat membosankan, dan kurang efektif untuk santri yang pintar karena materi sering diulang.³⁷ b. Metode Boh Bareh (Memberi Harakat) Metode boh bareh adalah metode memberikan harakat (tanda baca) pada kitab Arab gundul agar santri dapat membaca kitab dengan benar.³⁸ Abu Faisal Ali menjelaskan, "Kitab kuning adalah kitab yang materinya disajikan dalam Bahasa Arab tanpa baris, atau Arab gundul. Oleh karena itu, sangat penting bagi santri untuk belajar membaca kitab kuning agar mereka dapat membacanya dengan baik."³⁹ Metode ini tidak hanya mengajarkan santri menulis harakat, tetapi juga membantu mereka memahami kedudukan kata dalam kalimat (i'rab) seperti mubtada', khabar, fa'il, maf'ul, dan lainnya.⁴⁰ Tengku Daman Huri SH menambahkan, "Membaca baris dalam kitab kuning mengajarkan harakat dan pengetahuan tentang simbol hukum nahwu dan sharaf, yang membantu memahami maksud dan tujuan teks Arab gundul."⁴¹ Kelebihan metode ini adalah mempermudah santri untuk cepat bisa membaca kitab kuning, melatih kemampuan memahami makna kitab, dan mengenalkan ilmu nahwu sharaf.⁴² Kekurangannya antara lain kesulitan bagi santri yang lemah dalam mengingat harakat dan adanya santri yang tidak memperhatikan guru saat pemberian harakat.⁴³ c. Metode Surah (Ceramah) Metode surah adalah metode di mana guru memberikan penjelasan mendalam tentang isi kitab kuning setelah proses pembacaan dan pemberian harakat.⁴⁴ Abi Munawar Sanusi menjelaskan, "Metode surah atau ceramah ini memberikan penjelasan yang lengkap dan memudahkan santri untuk memahami isi kitab dalam proses belajar."⁴⁵ Tengku Safrizal menambahkan, "Dalam metode surah, guru harus pandai mengolah kata agar santri mudah memahami materi yang diajarkan."⁴⁶ Metode ini sangat penting karena menurut Tengku Baihaqi, "60% santri membutuhkan metode surah, terutama kelas tinggi, agar mereka bisa paham penjelasan tentang apa yang sedang mereka pelajari dan bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang hukum ketika mereka pulang kampung."⁴⁷ Kelebihan metode surah adalah santri lebih fokus menyimak, lebih mengerti isi kitab dan hukumhukumnya, serta memudahkan santri bertanya.⁴⁸ Kekurangannya adalah membuat santri cepat Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 72-76 Maulana, et., al/ Implimentasi Metode Pembelajaran mengantuk, cepat bosan jika hanya mendengarkan, dan guru harus banyak berpikir untuk menyusun penjelasan.⁴⁹ d. Metode Niqasy (Tanya Jawab) Metode niqasy adalah metode pembelajaran aktif di mana guru atau santri menciptakan diskusi yang membuat pensurah (pemberi penjelasan) harus mempertahankan keyakinannya terhadap materi yang disampaikan.⁵⁰ Tengku Baihaqi menjelaskan, "Setelah santri atau guru menjelaskan isi kitab, pendengar akan memberikan pertanyaan yang meragukan sehingga pensurah harus mampu mempertahankan keyakinannya."⁵¹ Metode ini bertujuan melatih kekuatan daya pikir santri, mempersiapkan argumen yang kuat, dan melatih kewaspadaan dalam membuat hukum di masyarakat.⁵² Tengku Ubaydillah menambahkan, "Metode ini bukan hanya untuk memberatkan santri, namun untuk melatih mereka menjadi individu yang matang yang dapat berkomunikasi dan bertindak dengan baik."⁵³ Kelebihan metode ini adalah menguji kemampuan santri, memperkuat pemahaman, dan sangat baik bagi pensurah untuk mendalami pelajaran.⁵⁴ Kekurangannya adalah membuat santri yang malas dan lemah cepat menyerah serta bingung.⁵⁵ e. Metode Muthala'ah (Mengulang) Metode muthala'ah adalah metode mengulang pelajaran secara mandiri untuk memperdalam pemahaman dan menghindari lupa.⁵⁶ Tengku Taufiq Hidayatullah menjelaskan, "Teknik ini digunakan untuk mengulangi pelajaran yang dipelajari sebelumnya serta mengkaji berbagai referensi tambahan dan pendukung secara mandiri."⁵⁷ Tengku Umar Dani menambahkan, "Metode Muthala'ah sangat penting diterapkan, terutama bagi santri yang baru belajar kitab kuning, agar mereka terbiasa dengan bacaan kitab tanpa baris dan bisa memudahkan mereka membaca kitab di kemudian hari."⁵⁸ Abu Faisal Ali menetapkan waktu terbaik untuk muthala'ah adalah subuh dan menjelang petang, dengan tujuan mengisi waktu luang santri agar tidak tidur karena tidur di waktu tersebut berbahaya bagi kesehatan dan dapat menyebabkan kelupaan.⁵⁹ Kelebihan metode ini adalah santri tidak cepat lupa, lebih cepat bisa membaca dan memahami kitab, dan memberikan waktu bagi guru untuk mengulang pelajaran.⁶⁰ Kekurangannya adalah santri memiliki sedikit waktu istirahat dan merasa lelah dengan banyaknya waktu belajar.⁶¹ f. Metode Nazam Bait (Menghafal Syair) Metode nazam bait adalah metode menghafal bait (syair) dalam kitab yang berisi ilmu dasar seperti nahwu, sharaf, dan mantiq.⁶² Abi Munawar Sanusi menjelaskan, "Nazam Bait di dayah ini ada beberapa, seperti nazam Khamsatun Mautun dan Alfiyah. Santri melafadzkan nazam tersebut dalam bentuk nyanyian Islami untuk membangkitkan semangat menghafal dan membuat suasana kelas aktif."⁶³ Tengku Daman Huri menegaskan, "Nazam Bait bukan hanya untuk dihafal dan nyanyian semata, tapi juga untuk bekal mereka nanti dalam membaca kitab yang lebih tinggi."⁶⁴ Setiap kitab bait memiliki syarahan (penjelasan) yang dipelajari oleh guru di kelas agar santri memahami setiap bait yang dihafalnya.⁶⁵ Kelebihan metode ini adalah mempermudah santri mengingat lafadz kitab, menghidupkan suasana kelas, dan santri tidak cepat bosan.⁶⁶ Kekurangannya adalah santri yang lemah mengeluh kesulitan menghafal, terlalu fokus pada nada/irama, dan bisa mengganggu konsentrasi kelas lain.⁶⁷ 3. Hasil Implementasi Metode Pembelajaran Hasil implementasi metode pembelajaran kitab kuning di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah menunjukkan peningkatan karakter santri dalam empat aspek utama: a. Kemampuan Menulis Menurut Tengku Daman Huri SH, kemampuan menulis merupakan hal pertama yang harus dikuasai santri karena jika tidak dapat menulis dengan benar, akan sulit mempelajari kitab kuning.⁶⁸ Hasil observasi menunjukkan bahwa tulisan santri rata-rata bagus dan rapi, meskipun beberapa masih kurang bagus, dengan tulisan santri putri lebih baik karena lebih tekun dan telaten.⁶⁹ Tengku Umar Dani menambahkan bahwa santri mampu menulis Arab dengan cepat karena kebiasaan menulis sejak tingkat Ibtidaiyah.⁷⁰ b. Kemampuan Membaca Hasil observasi menunjukkan bahwa santri mampu membaca kitab kuning dengan baik, meskipun kadang salah membaca beberapa kata, yang masih dianggap wajar.⁷¹ Kemampuan membaca ini tidak terlepas dari penerapan beberapa metode, terutama metode boh bareh dan kebiasaan membaca santri.⁷² Penguasaan ilmu alat seperti nahwu, sharaf, dan i'lal juga sangat mempengaruhi kemampuan membaca kitab santri.⁷³ c. Kemampuan Memaknai Menurut Abi Munawar Sanusi, santri kelas 5 dan 6 sudah terbiasa memaknai, namun tergantung pada individu masing-masing.⁷⁴ Hasil observasi menunjukkan beberapa santri kelas 3 sudah mampu Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 72-76 Socius E-ISSN: 3025-6704 membaca dan memaknai kitab dengan baik.⁷⁵ Ketidakmampuan sebagian santri dalam memaknai disebabkan kurangnya kosakata yang dipahami atau karena fokus utama mereka pada menghafal ilmu alat.⁷⁶ d. Kemampuan Memahami Tengku Daman Huri SH menyatakan bahwa santri kelas 2 dan 3 masih memiliki kemampuan rendah untuk memahami isi kitab, meskipun ada beberapa yang mampu memahami dengan baik.⁷⁷ Hasil observasi menunjukkan banyak santri kelas 2 dan 3 sudah dapat memahami maksud kalimat dalam kitab.⁷⁸ Kemampuan memahami juga terlihat dari cara santri berdiskusi dan membuat kesimpulan tentang masalah fikih yang berkaitan dengan materi pelajaran.⁷⁹ SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa: 1. Implementasi metode pembelajaran kitab kuning di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah menggunakan enam metode utama yang dikolaborasikan, yaitu: metode bandongan (pembacaan bersama), boh bareh (pemberian harakat), surah (ceramah), niqasy (tanya jawab), muthala'ah (pembacaan berulang), dan nazam bait (menghafal syair). Setiap metode memiliki prosedur yang sistematis mulai dari pembukaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, dengan melibatkan interaksi aktif antara guru dan santri. 2. Hasil implementasi metode pembelajaran kitab kuning menunjukkan peningkatan karakter santri dalam empat aspek utama: (a) kemampuan menulis yang baik dan rapi dalam bahasa Arab maupun Indonesia; (b) kemampuan membaca kitab kuning dengan lancar meskipun tanpa harakat; (c) kemampuan memaknai kitab dengan memahami kosakata dan struktur kalimat; dan (d) kemampuan memahami isi kitab sehingga dapat mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembelajaran yang variatif dan kontekstual terbukti efektif dalam memperkuat karakter santri, sehingga direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas di lembaga pendidikan Islam tradisional lainnya. REFERENSI Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Armai, A. (2002). Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press. Bruinessen, M. V. (1994). Kitab Kuning dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan. Darwis, A. (2014). Metode Penelitian Pendidikan Islam:Pengembangan Ilmu Paradigma Islam. Jakrta: Rajawali press. (2024). Dokumentasi Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Hasan, M. T. (1997). Islam dalam Perspektif Sosial Budaya. Jakarta: Galasa Nusantara. Indra, H. (2004). Pesantren dan Transformasi Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Kompleksitas Global. Jakarta: IRP Press. Ismail, F. (1997). Paradigma Kebudayaan. Yogyakarta: Titian Ilahi Press. Majid, A. (2014). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Moleong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mudjiono, D. d. (2013). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. Nizar, S. (2013). Sejarah Sosial dan Dinamika Intelektual Pendidikan Islam Di Nusantara . Jakarta: Kencana Prenada Media Group. (6 Juni 2024). Observasi pembelajaran di Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Prastowo, A. (2012). Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Yogyakarta: ArRuzz Media. Qomar, M. (2014). Menggagas Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. (2024). rofil Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Siraj, S. A. (2004). Pesantren Masa Depan. Cirebon: Pustaka Hidayah. Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukmadinata. (2010). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Susetyo, S. (2010). Statistik untuk Analisis Data Penelitian. Bandung: Relika Aditama. (6 Juni 2024). Wawancara dengan Abi Munawar Sanusi, Wadir I Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. (6 Juni 2024). Wawancara dengan Abu Faisal Ali, Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. (6 Juni 2024). Wawancara dengan Tengku Baihaqi, Guru Senior Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. (6 Juni 2024). Wawancara dengan Tengku Daman Huri SH, Ketua Bagian Pendidikan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Yasmadi. (2002). Modernisasi Pesantren, Kritik Nurcholish Madjid Terhadap Pendidikan Islam Tradisional. . Jakarta: Ciputat Press.