scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Strategi Kepala Sekolah Dalam Memajukan Lembaga Pendidikan Islam di Pedesaan: Studi Kasus di MTS Negeri 3 Aceh Jaya

Musliadi¹, Fadly Usman²

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 2, Oktober 2025, Halaman 142-150 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17309345 *Corresponding author Strategi Kepala Sekolah Dalam Memajukan Lembaga Pendidikan Islam di Pedesaan: Studi Kasus di MTS Negeri 3 Aceh Jaya Musliadi¹, Fadly Usman² 12Program Studi Magister Manajemen Pendidikan Agama Islam, Pascasarjana Universitas KH Abdul Chalim Mojokerto A B S T R A K Penelitian ini mengkaji strategi kepala sekolah dalam memajukan lembaga pendidikan Islam di pedesaan dengan fokus pada MTs Negeri 3 Aceh Jaya Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Tujuan penelitian adalah untuk mengeksplorasi langkah-langkah strategis yang diambil dalam meningkatkan mutu pendidikan di lingkungan yang menghadapi berbagai tantangan pasca-tsunami 2004. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumen. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan mencakup penyesuaian kurikulum yang sesuai dengan budaya lokal, pengembangan profesionalisme guru melalui pelatihan, serta peningkatan fasilitas pendidikan. Dampak dari strategi ini terlihat dari peningkatan jumlah pendaftar siswa hingga 30% dan partisipasi masyarakat yang lebih aktif dalam kegiatan pendidikan. Faktor pendukung meliputi dukungan masyarakat dan kepemimpinan yang kuat, sedangkan faktor penghambat mencakup keterbatasan fasilitas dan akses pelatihan berkualitas. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika kepemimpinan pendidikan di daerah pedesaan dan memberikan rekomendasi praktis untuk peningkatan mutu pendidikan Islam berkelanjutan. A B S T R A C T This research examines the strategies of school principals in promoting Islamic education institutions in rural areas with a focus on MTs State 3 Aceh Jaya Krueng Sabee District, Aceh Jaya Regency. The purpose of the study was to explore the strategic measures taken in improving the quality of education in neighborhoods facing various challenges post-tsunami 2004. The research method employed a qualitative approach with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and study of documents. Data analysis was performed by data reduction, data display, and conclusion drawing. The results of the study showed that the strategies applied included curriculum adjustment to local culture, development of teachers’ professionalism through training, as well as improvement of educational facilities. The impact of this strategy is evident in an increase in student enrollment by up to 30% and more active community participation in educational activities. Supporting factors include community support and strong leadership, whereas hindering factors include proximity to facilities and access to quality training. This study makes an important contribution in understanding the dynamics of educational leadership in rural areas and provides practical recommendations for sustainable quality improvement of Islamic education. PENDAHULUAN Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan suatu negara. Pendidikan Islam, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, juga memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter dan moralitas generasi muda muslim (Musliadi, 2024). Namun, pengembangan pendidikan Islam di pedesaan seringkali dihadapi dengan tantangan yang berbeda dibandingkan dengan di perkotaan. Di MTs Negeri 3 Aceh Jaya Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, terdapat keterbatasan dalam infrastruktur, akses terhadap teknologi, dan sumber daya manusia yang memadai. Kendala-kendala ini dapat menjadi hambatan dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam di pedesaan. Kondisi siswa di desa-desa seperti di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang harus menyeberangi sungai untuk mencapai Sekolah Dasar Inpres Blawuk, mencerminkan tantangan infrastruktur pendidikan di pedesaan Indonesia (Kompas.com, 2023). Hal ini tidak jauh berbeda dengan MTs Negeri 3 Aceh Jaya Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, yang juga terdampak tsunami A R T I C L E I N F O Article history: Received September 20, 2025 Revised 25 September 2025 Accepted 25 September 2025 Available online 04 Oktober. 2025 Kata Kunci: Strategi Kepala Sekolah, Lembaga Pendidikan Islam, Pedesaan, Kepemimpinan Pendidikan, Mutu Pendidikan Keywords: Principal Strategies, Islamic Educational Institutions, Rural, Educational Leadership, Education Quality This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 tahun 2004. Kekurangan infrastruktur yang memadai, termasuk akses jalan yang baik, merupakan permasalahan umum di daerah pedalaman Indonesia. Siswa di desa-desa sering menghadapi hambatan fisik seperti sungai atau jalan yang sulit dilewati untuk pergi ke sekolah (Detiknews, 2018). Persoalan serius lainnya adalah kurangnya guru atau ketidakmerataan distribusi guru di pedesaan. Guru merupakan elemen kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan (Rosmana et al., 2022). Jika desa seperti Krueng Sabee mengalami kesulitan dalam menarik dan mempertahankan guru yang berkualitas, hal ini akan berdampak besar terhadap pengembangan pendidikan di sana. Begitupun dampak bencana alam. Wilayah seperti Aceh Jaya yang pernah dilanda tsunami tahun 2004 mengalami dampak jangka panjang terhadap infrastruktur pendidikan. Meskipun sudah melakukan upaya pemulihan, sisa-sisa kerusakan dan trauma sosial dapat mempengaruhi kondisi pendidikan jangka panjang di wilayah tersebut. Beberapa aspek permasalahan pendidikan yang kompleks ini memerlukan pendekatan holistik dalam pemecahannya. Fokus utama termasuk masalah kualitas pendidikan, kurikulum yang kurang relevan, kesenjangan antara pendidikan perkotaan dan pedesaan, manajemen pendidikan yang sentralistik, dan sistem pembelajaran yang paternalistik (Adelia & Mitra, 2021). Pendidikan Islam juga menghadapi tantangan tambahan seperti kelemahan dalam pemberdayaan tenaga pendidik, manajemen birokratik, dan sistem pembelajaran yang kurang interaktif. Meskipun terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi perkotaan dan perdesaan, termasuk dalam hal pendidikan, namun penting untuk tidak mengabaikan upaya meningkatkan mutu pendidikan di pedesaan. Pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter, moralitas, dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan zaman (Selvita et al., 2021). Dengan memastikan bahwa setiap anak di Indonesia, termasuk yang tinggal di pedesaan, mendapatkan akses dan kualitas pendidikan yang memadai, kita dapat memastikan bahwa mereka memiliki kesempatan yang setara untuk mengembangkan potensi mereka. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjadi landasan yang kuat dalam memandu upaya-upaya untuk menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama. Tujuan dari pendidikan nasional yang menghasilkan individu yang beriman, berilmu, bertakwa, dan berakhlak mulia harus diwujudkan melalui kebijakan dan implementasi yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, diperlukan komitmen dan kerja sama dari semua pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, serta stakeholders pendidikan lainnya, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas di seluruh pelosok negeri. Kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam memajukan lembaga pendidikan Islam di pedesaan seperti MTs Negeri 3 Aceh Jaya Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya. Ada beberapa poin penting yang perlu dipertimbangkan, seperti memahami dinamika pendidikan, peka terhadap kebutuhan siswa dan guru, membangun daya saing, menciptakan perubahan, dan kepemimpinan kolaboratif (Musliadi, 2024). Dengan kepemimpinan yang visioner, adaptif, dan kolaboratif, kepala sekolah dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam memajukan pendidikan di madrasah, khususnya di wilayah pedesaan yang seringkali menghadapi tantangan infrastruktur dan sumber daya. Berdasarkan permasalahan yang telah dijelaskan di atas, maka pertanyaan penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut: Bagaimana strategi kepala sekolah dalam memajukan pendidikan Islam di perdesaan MTs Negeri 3 Aceh Jaya? Apa implikasi dari strategi kepala MTs Negeri 3 Aceh Jaya terhadap kemajuan lembaga pendidikan Islam di indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), di mana data utama kajian ini diperoleh dari lapangan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Menurut Moleong (2005), penelitian kualitatif adalah penelitian untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Moleong menggambarkan ilustrasi dari fenomena tersebut seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan. Fenomena tersebut dengan menggunakan metode ilmiah dikaji dalam konteks tertentu secara holistik dan kemudian dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa yang dapat memberi makna. Sukardi (2005) menyampaikan, bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat alamiah atau natural. Maksudnya, data-data yang diperoleh dari objek yang diteliti digambarkan dan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Musliadi, et., al / Strategi Kepala Sekolah Dalam menginterprestasikan dengan apa adanya. Jadi, penelitian ini nantinya menggambarkan tentang bagaimana strategi kepala sekolah dalam memajukan lembaga pendidikan Islam di pedesaan. Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 3 Aceh Jaya. Secara geografis madrasah ini berada di Jalan Banda Aceh-Meulaboh Km. 152 Kuala Meurisi Gampong Keutapang, Kecamatan Krueng Sabee Kabupaten Aceh Jaya. MTs Negeri 3 Aceh Jaya diresmikan pada tahun 2011. Itu artinya, MTs berdiri setelah tujuh tahun pasca Tsunami yang melanda Aceh tahun 2004. Kawasan Aceh Jaya merupakan kawasan pantai Barat yang sangat parah terkena dampat Tsunami pada waktu itu (Dokumen MTs Negeri 3 Aceh Jaya, 2023). Penelitian ini merupakan penelitian lapangan berjenis kualitatif, di mana pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik: Observasi. Pengumpulan data dengan melakukan observasi atau pengamatan langsung di lokasi penelitian merupakan cara pengambilan data dengan menggunakan data tanpa adanya pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut (Nazir, 2009). Dalam penelitian ini, bentuk observasi yang digunakan adalah observasi nonpartisipan, di mana penulis tidak terlibat langsung dan hanya sebagai pengamat independen. Wawancara adalah kegiatan tanya-jawab secara lisan guna memperoleh informasi yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan (Sugiyono, 2011). Wawancara dilakukan secara langsung dengan menemui kepala MTs Negeri 3 Aceh Jaya sebagai informan kunci, serta orang-orang lain yang dipandang dapat memberikan keterangan mengenai MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Dokumen adalah sebuah tulisan penting yang memuat informasi. Dalam konteks sekarang, dokumen masih dapat ditemui dalam bentuk tulisan dikertas dan juga elektronik. Dokumen dapat berupa buku, jurnal, artikel, opini, majalah, catatan-catatan pribadi, video, koran, termasuk juga foto-foto merupakan data yang memuat informasi bermakna. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Lokasi Penelitian Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Aceh Jaya (MTsN 3 Aceh Jaya) merupakan sebuah institusi pendidikan menengah pertama yang terletak di Keutapang, Kecamatan Krueng Sabee, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Sekolah ini diawasi oleh Kementerian Agama dan memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada dekat dengan jalan raya utama. Madrasah ini didirikan pada tahun 1970 dan memiliki luas tanah sebesar 7.666 meter persegi (Dokumen MTsN 3 Aceh Jaya, 2024). Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Aceh Jaya mengalami dampak yang sangat berat akibat tsunami yang melanda pada tahun 2004. Semua fasilitas dan bangunan sekolah rusak dan tidak dapat diselamatkan. Banyak korban jiwa termasuk para guru dan staf madrasah yang menjadi korban bencana tersebut. Setelah bencana tsunami, MTsN 3 Aceh Jaya memulai proses pemulihan dan pembangunan kembali. Kepemimpinan madrasah pasca-tsunami dimulai dengan Yuliansyah IS, Ag (2004-2012), dilanjutkan oleh Drs. Zurjani (2012-2018), Merahwan (2018-2020), dan saat ini dipimpin oleh Syafruddin Umri, S.Ag (2020-sekarang) (Dokumen MTsN 3 Aceh Jaya, 2024). Visi MTsN 3 Aceh Jaya adalah mewujudkan generasi yang berkarakter Islam berkualitas iptek dan berbudaya lingkungan. Misi madrasah meliputi: meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam; mewujudkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab; membangun dan menerapkan informasi secara logis, kritis, kreatif dan inovatif; mengembangkan potensi akademik dan non akademik peserta didik; meningkatkan kualitas guru dan karyawan; berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara; mengapresiasikan diri melalui kegiatan seni dan budaya; serta menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan (Dokumen MTsN 3 Aceh Jaya, 2024). Strategi Kepala Sekolah dalam Memajukan Pendidikan Islam di Perdesaan Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Madrasah, Bapak Syafruddin Umri, S.Ag pada tanggal 7 Mei 2024, ditemukan bahwa strategi utama yang diterapkan dalam memajukan pendidikan Islam di MTsN 3 Aceh Jaya mencakup beberapa aspek fundamental yang saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Visi dan Misi yang Jelas. Kepala madrasah menjelaskan bahwa visi untuk menciptakan generasi yang berakhlak Islam yang berkualitas, memiliki keahlian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), serta peduli terhadap lingkungan menjadi landasan utama dalam penetapan kebijakan. Misi madrasah dirancang secara komprehensif untuk mencakup berbagai aspek pendidikan, mulai dari peningkatan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 kemampuan siswa dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam, membangun sikap percaya diri dan tanggung jawab, hingga mengembangkan potensi akademik dan non-akademik siswa (Wawancara dengan Syafruddin Umri, 2024). Implementasi visi dan misi ini tidak hanya sebatas dokumen formal, tetapi benar-benar dijalankan dalam aktivitas sehari-hari madrasah. Observasi yang dilakukan pada tanggal 9 Mei 2024 menunjukkan bahwa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, khususnya mata pelajaran Fiqh yang diampu oleh Bapak Fadhlidi, S.Ag, siswa diajak untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga menerapkan ajaran tersebut dalam tindakan nyata. Guru menggunakan metode pembelajaran interaktif, seperti tanya jawab dan studi kasus, yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari mereka (Observasi, 2024). Penyesuaian Kurikulum dengan Budaya Lokal. Salah satu strategi yang menonjol adalah penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan lokal dan kekayaan budaya masyarakat Aceh. Ibu Septiya Wulandari, S.Pd, selaku Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum, dalam wawancara tanggal 9 Mei 2024 menegaskan bahwa madrasah berusaha menggabungkan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal Aceh. Sebagai contoh, dalam pembelajaran pendidikan agama, siswa diajarkan sejarah dan tradisi Islam di Aceh, seperti penerapan Syariat Islam yang dimulai sejak masa Sultan Iskandar Muda. Hal ini penting agar siswa dapat memahami bagaimana nilai-nilai Islam diimplementasikan dalam konteks lokal mereka (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Kegiatan ekstrakurikuler juga dirancang untuk mengintegrasikan pembelajaran seni dan budaya Aceh, seperti tari Saman dan alat musik tradisional. Ibu Septiya menyatakan bahwa dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang ajaran Islam, tetapi juga dapat menghargai serta melestarikan kekayaan budaya Aceh. Pendekatan ini sejalan dengan teori integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum yang menekankan pentingnya kontekstualisasi pembelajaran dengan budaya lokal (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Pengembangan Profesionalisme Guru. Kepala madrasah sangat menekankan pentingnya pengembangan sumber daya guru sebagai kunci peningkatan mutu pendidikan. Bapak Syafruddin Umri menyatakan bahwa madrasah secara teratur menyelenggarakan pelatihan dan lokakarya bagi para guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran dan pemahaman mereka tentang metode pengajaran yang efektif. Pelatihan ini tidak hanya mencakup teknik pengajaran, tetapi juga materi pembelajaran yang relevan dan inovatif (Wawancara dengan Syafruddin Umri, 2024). Ibu Septiya Wulandari menambahkan bahwa pelatihan yang diadakan mencakup berbagai aspek, termasuk metode, media, penggunaan teknologi, dan pengembangan materi. Hal ini merupakan bagian dari strategi untuk memastikan bahwa pengajaran yang diberikan tidak hanya berbasis teori, tetapi juga praktis dan relevan dengan perkembangan zaman (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Dampak dari program pelatihan ini dirasakan langsung oleh para guru. Bapak Fadhlidin, S.Ag, guru mata pelajaran Fiqh, dalam wawancara tanggal 9 Mei 2024 menyatakan bahwa pelatihan yang diikuti membantu guru untuk selalu terkini dengan perkembangan terbaru dalam metode pengajaran. Khususnya dalam hal teknologi digital, yang terkadang masih belum dipahami sepenuhnya oleh guru, pelatihan memberikan pengetahuan baru yang sangat berharga. Dengan adanya pelatihan, guru dapat mempelajari metode-metode baru yang dapat diterapkan di dalam kelas, salah satunya adalah penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran yang dapat membuat siswa lebih tertarik dan aktif dalam belajar (Wawancara dengan Fadhlidin, 2024). Peningkatan Fasilitas dan Sarana Prasarana. Kepala madrasah menegaskan pentingnya peningkatan fasilitas dan sarana prasarana madrasah, termasuk renovasi gedung dan penyediaan fasilitas belajar yang memadai. Observasi yang dilakukan menunjukkan bahwa lingkungan sekolah sangat mendukung proses belajar mengajar. Terletak di lokasi strategis, madrasah ini dikelilingi oleh berbagai fasilitas pendidikan lain, menciptakan suasana pendidikan yang kondusif dan inspiratif bagi siswa (Observasi, 2024). Salah satu aspek penting adalah adanya tembok perbatasan permanen setinggi 2 meter yang memberikan rasa aman dan privasi bagi siswa. Kebersihan dan kerapihan menjadi fokus utama. Lingkungan sekolah terlihat tertata rapi dan bersih, dengan halaman yang terawat dengan baik. Suasana ini menciptakan kenyamanan bagi siswa dan mendukung konsentrasi mereka selama proses pembelajaran. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Musliadi, et., al / Strategi Kepala Sekolah Dalam Area yang luas dan dikelilingi pepohonan menambah kesegaran udara, sekaligus memperindah lingkungan sekitar. Selain itu, kantin di dalam sekolah menyediakan berbagai jajanan sehat dan bersih, memberikan akses mudah bagi siswa untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka selama jam sekolah (Observasi, 2024). Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat. Strategi penting lainnya adalah membangun partisipasi orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan. Kepala madrasah menjelaskan bahwa madrasah mengatur pertemuan rutin dengan orang tua siswa untuk membahas kemajuan akademis dan perkembangan sosial anak-anak. Dalam pertemuan ini, guru memberikan laporan tentang prestasi siswa dan tantangan yang dihadapi di kelas (Wawancara dengan Syafruddin Umri, 2024). Madrasah juga menyampaikan himbauan kepada orang tua agar turut serta dalam kegiatankegiatan madrasah seperti ekstrakurikuler dan acara-acara khusus yang melibatkan masyarakat. Ibu Septiya Wulandari menambahkan bahwa orang tua sering hadir dalam pertunjukan seni budaya Aceh, seperti tari Saman, tari Ranup Lampuan, dan perayaan budaya pada hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus. Kehadiran mereka tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga sering kali mereka berkontribusi secara materi, baik dalam bentuk sponsor atau bantuan logistik (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Implikasi Strategi terhadap Kemajuan Lembaga Pendidikan Islam Implementasi strategi yang telah dijelaskan di atas memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan lembaga pendidikan Islam di MTsN 3 Aceh Jaya. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, dapat diidentifikasi beberapa implikasi penting dari strategi tersebut. Peningkatan Jumlah Siswa. Salah satu indikator keberhasilan strategi yang paling terlihat adalah peningkatan jumlah siswa yang mendaftar setiap tahun. Bapak Syafruddin Umri menyatakan bahwa setelah menerapkan visi dan misi baru, jumlah siswa mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun terakhir, tercatat peningkatan hingga tiga puluh persen dalam jumlah pendaftaran siswa baru. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin yakin dan tertarik dengan pendidikan yang disediakan oleh madrasah (Wawancara dengan Syafruddin Umri, 2024). Peningkatan jumlah siswa ini bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan kepercayaan masyarakat yang semakin meningkat terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan. Kepala madrasah menegaskan bahwa kepercayaan orang tua dan masyarakat terhadap madrasah semakin meningkat, yang juga berkontribusi pada pertumbuhan jumlah siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian Ahmad et al. (2017) yang menemukan bahwa strategi kepala madrasah yang efektif dapat meningkatkan daya tarik madrasah di mata masyarakat. Peningkatan Kualitas Pengajaran. Program pengembangan profesionalisme guru melalui pelatihan dan workshop telah memberikan dampak positif terhadap kualitas pengajaran. Ibu Septiya Wulandari menyatakan bahwa setelah mengikuti workshop mengenai metode pembelajaran interaktif, banyak guru mulai menggunakan teknik-teknik baru di kelas. Hal ini membuat suasana belajar menjadi lebih hidup dan menarik bagi siswa (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Bapak Fadhlidin menambahkan bahwa ia merasakan perubahan dalam minat siswa. Ketika menggunakan metode yang lebih kreatif dan relevan, siswa menjadi lebih aktif dalam kelas dan lebih mudah memahami materi yang diajarkan. Dengan pendekatan baru ini, siswa lebih aktif dalam bertanya dan berdiskusi, dan ia melihat peningkatan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan (Wawancara dengan Fadhlidin, 2024). Pelatihan juga meningkatkan kepercayaan diri guru dalam mengelola kelas. Bapak Fadhlidin menyatakan bahwa perubahan ini tidak hanya berdampak pada siswa, tetapi juga pada cara ia mengelola kelas. Ia merasa lebih percaya diri dalam mengatur waktu dan menjaga dinamika kelas, yang tentu membantu menciptakan suasana belajar yang lebih baik (Wawancara dengan Fadhlidin, 2024). Temuan ini sejalan dengan penelitian Khumairah (2023) yang menemukan bahwa peningkatan kompetensi guru berdampak positif pada kinerja guru dan kualitas pembelajaran. Penguatan Hubungan dengan Masyarakat. Program penguatan kemitraan dengan orang tua dan masyarakat telah menciptakan rasa memiliki yang lebih kuat terhadap madrasah. Kepala madrasah Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 menyatakan bahwa dukungan dari masyarakat semakin meningkat, baik dalam bentuk dukungan moral maupun material (Wawancara dengan Syafruddin Umri, 2024). Ibu Septiya Wulandari menjelaskan bahwa keterlibatan orang tua dalam kegiatan ekstrakurikuler, terutama yang berkaitan dengan seni dan budaya Aceh, menciptakan suasana yang positif dan mendukung bagi siswa. Hal ini mendorong siswa untuk berpartisipasi dengan semangat yang lebih besar. Melalui dukungan tersebut, orang tua berperan penting dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal, sekaligus meningkatkan rasa bangga siswa terhadap warisan mereka (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Sinergi antara orang tua dan sekolah dalam kegiatan ekstrakurikuler ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga mempererat hubungan antara madrasah dan masyarakat, menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih harmonis dan kolaboratif. Temuan ini mendukung penelitian Liskayani dan Sulastri (2018) yang menemukan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan faktor kunci dalam peningkatan mutu pendidikan di daerah pedesaan. Peningkatan Motivasi Belajar Siswa. Implementasi strategi pembelajaran interaktif dan pengembangan kurikulum yang relevan dengan konteks lokal telah meningkatkan motivasi belajar siswa. Ibu Septiya Wulandari menyatakan bahwa dengan pendekatan pembelajaran yang membuat siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses belajar, minat dan motivasi belajar siswa meningkat (Wawancara dengan Septiya Wulandari, 2024). Bapak Fadhlidin menambahkan bahwa ketika guru menggunakan metode yang lebih kreatif dan relevan, siswa menjadi lebih aktif dalam bertanya dan berdiskusi. Keterlibatan aktif ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi, tetapi juga mendorong rasa percaya diri siswa untuk menyampaikan pendapat dan ide-ide mereka (Wawancara dengan Fadhlidin, 2024). PEMBAHASAN Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa strategi kepala sekolah dalam memajukan pendidikan Islam di pedesaan harus bersifat komprehensif dan adaptif terhadap kondisi lokal. Strategi yang diterapkan di MTsN 3 Aceh Jaya mencerminkan penerapan teori kepemimpinan transformasional dan manajemen strategis yang efektif. Dari perspektif teori kepemimpinan, Kartono (1983) dan Nurkolis (2006) menekankan bahwa pemimpin yang berkualitas memiliki visi yang jelas dan kemampuan untuk memotivasi tim. Temuan penelitian ini mendukung teori tersebut, di mana kepemimpinan Kepala MTsN 3 Aceh Jaya yang visioner telah berhasil menginspirasi guru dan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam program-program yang dirancang. Strategi penyesuaian kurikulum dengan budaya lokal yang diterapkan di MTsN 3 Aceh Jaya sejalan dengan teori integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum. Hal ini menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya kontekstualisasi pembelajaran dengan realitas sosial dan budaya masyarakat setempat. Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 122 tentang pentingnya memperdalam pengetahuan agama, strategi ini mengintegrasikan pemahaman agama dengan kearifan lokal (Shihab, 2017). Program pengembangan profesionalisme guru yang diterapkan sejalan dengan standar kompetensi kepala madrasah yang ditetapkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007, khususnya dalam kompetensi supervisi. Kepala madrasah telah menunjukkan kemampuan dalam merencanakan dan melaksanakan program supervisi akademik untuk meningkatkan profesionalisme guru. Keterlibatan orang tua dan masyarakat yang menjadi salah satu strategi utama mendukung penelitian Liskayani dan Sulastri (2018) yang menemukan bahwa strategi kepala sekolah di daerah pedesaan harus mencakup penguatan hubungan dengan masyarakat. Program kemitraan yang dibangun di MTsN 3 Aceh Jaya telah berhasil menciptakan rasa kepemilikan yang kuat terhadap madrasah. Temuan tentang faktor penghambat, khususnya keterbatasan fasilitas dan akses terbatas ke sumber daya, konsisten dengan penelitian Rosmana et al. (2022) dan Husein (2021) tentang tantangan pendidikan di daerah terpencil. Namun, yang membedakan adalah bagaimana kepala madrasah mengembangkan strategi adaptif untuk mengatasi keterbatasan tersebut melalui optimalisasi sumber daya yang ada dan membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Musliadi, et., al / Strategi Kepala Sekolah Dalam Originalitas penelitian ini terletak pada konteks pasca-bencana tsunami yang memberikan dimensi tambahan pada tantangan pendidikan di pedesaan. Berbeda dengan penelitian Ahmad et al. (2017) yang berfokus pada madrasah di perkotaan, atau penelitian Khumairah (2023) yang mengkaji sekolah menengah umum, penelitian ini memberikan wawasan unik tentang bagaimana kepemimpinan pendidikan dapat berkembang dalam konteks pemulihan pasca-bencana di daerah pedesaan. Integrasi perspektif Islam dalam manajemen pendidikan, sebagaimana dicontohkan oleh strategi Nabi Muhammad saw dalam membangun pendidikan di Madinah, terlihat dalam pendekatan holistik yang diterapkan di MTsN 3 Aceh Jaya. Masjid sebagai pusat pendidikan, kemitraan dengan masyarakat, dan fokus pada pembangunan karakter merupakan prinsip-prinsip yang diaplikasikan dalam konteks modern (Republika.co.id, 2023). SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan beberapa hal penting mengenai strategi kepala sekolah dalam memajukan lembaga pendidikan Islam di pedesaan, khususnya di MTsN 3 Aceh Jaya: Pertama, strategi yang diterapkan oleh Kepala MTsN 3 Aceh Jaya bersifat komprehensif dan mencakup: (a) penetapan visi dan misi yang jelas dengan fokus pada pembentukan karakter Islam, kompetensi iptek, dan kepedulian lingkungan; (b) penyesuaian kurikulum dengan mengintegrasikan nilainilai Islam dengan budaya lokal Aceh; (c) pengembangan profesionalisme guru melalui program pelatihan dan workshop berkelanjutan; (d) peningkatan fasilitas dan sarana prasarana pendidikan; dan (e) penguatan keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan. Kedua, implikasi dari implementasi strategi tersebut terhadap kemajuan lembaga pendidikan Islam di pedesaan meliputi: (a) peningkatan signifikan jumlah siswa hingga 30% yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat; (b) peningkatan kualitas pengajaran melalui penerapan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif; (c) penguatan hubungan antara madrasah dan masyarakat yang menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih kondusif; dan (d) peningkatan motivasi dan prestasi belajar siswa. REFERENSI Adelia, I., & Mitra, O. (2021). Permasalahan Pendidikan Islam di Lembaga Pendidikan Madrasah. Jurnal Islamika: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman, 2(01), 3344. https://doi.org/10.32939/islamika.v21i01.832 Ahmad, M. Y., Arisanti, D., & Nasution, R. (2017). Strategi Kepala Madrasah Dalam Mewujudkan Madrasah Unggulan Di MIN 3 Simpang Tiga Kecamatan Bukit Raya Kota Pekanbaru. Jurnal Al-Hikmah, 14(2), 165-180. https://doi.org/10.25299/al-hikmah:jaip.2017.vol14(2).1026 Dewan Redaksi. (1997). Ensiklopedi Islam 3 (Cet. 4). Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. Detiknews. (2018, 9 April). Kondisi Infrastruktur Pendidikan di Aceh Jaya Pasca Tsunami. Diakses dari https://news.detik.com Dokumen MTs Negeri 3 Aceh Jaya. (2023). Profil Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Aceh Jaya. Aceh Jaya: MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Dokumen MTsN 3 Aceh Jaya. (2024). Data Kelembagaan dan Kepemimpinan MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Aceh Jaya: MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Fatah, N. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) & Dewan Sekolah. Bandung: Bani Quraisy. Handoko, T. H. (1997). Manajemen. Yogyakarta: BPEE. Hasibuan, H. M. SP. (2003). Manajemen: Dasar, Pengertian dan Masalah. Jakarta: Bumi Aksara. Husein, M. MR. (2021). Budaya dan Karakteristik Masyarakat Pedesaan. Aceh Antropological Journal, 5(2), 185-200. https://doi.org/10.29103/aaj.v5i2.5624 Indarti, L. (2019). Manajemen Inovatif Kepala Madrasah Dalam Memajukan Lembaga Pendidikan Islam. Jurnal Media Komunikasi Sosial Keagamaan, 19(02), 245-268. Julaiha, S. (2019). Konsep Kepemimpinan Kepala Sekolah. Tarbiya wa Ta'lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 6(3), 51-68. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 Kartono, K. (1983). Pemimpin dan Kepemimpinan, Apakah Pemimpin Abnormal Itu? Jakarta: Rajawali. Khumairah, N. (2023). Strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMAN 8 Malang (Tesis sarjana tidak dipublikasikan). Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Kompas.com. (2023, 9 Februari). Siswa Seberangi Sungai Demi Pendidikan. Diakses dari https://kompas.com Kuncoro, M. (2006). Strategi Bagaimana Meraih Keunggulan Kompetitif. Jakarta: Erlangga. Liskayani, & Sulastri. (2018). Strategi Kepala Sekolah Di Daerah Pedesaan Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Dan Karakter Warga Sekolahnya. Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan, 3(1), 80-95. https://doi.org/10.31851/jmksp.v3i1.1528 Maksum. (1999). Madrasah: Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Mansyur. (2020). Konsep Dasar Manajemen Pendidikan Islam. Jurnal el-Idarah: Manajemen Pendidikan Islam, 6(2), 1-15. Marser, M. H. (2003). Oxford Learner's Pocket Dictionary (ed. Ke 3). London: Oxford University Press. Mastuki. (2001). Menelusuri Pertumbuhan Madrasah di Indonesia. Jakarta: Depag RI. Moleong, L. J. (2005). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Musliadi. (2024). Strategi Kepala Sekolah Dalam Memajukan Lembaga Pendidikan Islam Di Pedesaan (Studi Pada MTs Negeri 3 Aceh Jaya Kec. Krueng Sabee, Kab. Aceh Jaya) (Tesis magister tidak dipublikasikan). Universitas KH Abdul Chalim, Mojokerto. Nasution, A. F. (2023). Metode Penelitian Kualitatif (Cet. 1). Bandung: Harfa Creatif. Nazir, M. (2009). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia. Noer, M. F. (2014). Menuntut Ilmu Sebagai Transformasi Perubahan Paradigma (Studi Matan Hadits Nabi saw dalam Sunan al-Tarmizi, Kitab al ilm an Rasulullah, Bab Fadhl Thallab al-Ilm, No. Hadits 2572). Jurnal Qatrunā, 1(1), 1-18. Nuonline. (2019, 18 Juli). Ketika Nabi Muhammad Mendamaikan Dua Orang Yang Bertikai. Diakses dari https://nuonline.or.id Nurkolis. (2006). Manajemen Berbasis Sekolah (Cet. 3). Jakarta: Grasindo. Nurtan, Ismail, A., & Harahap, R. D. (2022). Strategi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Lulusan Di SMKN 2 Sangatta Utara. JIPMUKJT: Jurnal Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Kramat Jati, 3(1), 18-32. https://jurnal.pcmkramatjati.or.id/index.php/JIPMUKJT/index Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2017 tentang Kepala Sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Madrasah/Sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Sekolah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2010 tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah. Permadi, K. (1996). Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rineka Cipta. Purwanto, M. N. (2006). Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Rahim, H. (2001). Arah Baru Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. Republika.co.id. (2023, 9 Agustus). Strategi Nabi Memajukan Ekonomi Madinah. Diakses dari https://republika.co.id Rosmana, P. S., Nurhasanah, A., & Sari, N. (2022). Upaya Pemerataan Pendidikan Berkelanjutan Di Daerah 3 T. Attadib: Journal of Elementary Education, 6(2), 400-415. Selvita, Juariah, S. K., & Rahman, A. (2021). Meningkatkan Kualitas Pendidikan RW 09 di Desa Ciputri Melalui Pembelajaran dan Pengembangan Taman Baca. In Proceedings UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 1(61), 65-72. Shihab, M. Q. (2017). Tafsir Al-Misbah (Volume 2). Ciputat: Lentera Hati. Siagian, S. P. (1994). Manajemen Strategik. Jakarta: Bumi Aksara. Siregar, R. L. (2021). Memahami Tentang Model, Strategi, Metode, Pendekatan, Teknik, dan Taktik. Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 63-75. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 142-150 Musliadi, et., al / Strategi Kepala Sekolah Dalam Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif R & D. Bandung: Alfabeta. Sukardi. (2005). Metode Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara. Suhartini, A., Mahfud, C., & Rosyid, M. (2022). Masjid Sebagai Basis Pendidikan Nonformal. Moraref, 14(1), 1-20. https://moraref.kemenag.go.id/documents/article/99751647886048141 Susyanto, B., Istan, M., & Ifnaldi. (2023). Strategi Kepala Madrasah Untuk Memajukan Mutu Pendidikan dan Meningkatkan Minat Siswa Lanjut Studi Di MA Muhammadiyah Curup. Nusantara: Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial, 10(8), 3456-3470. Syafaruddin. (2002). Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan: Konsep, Strategi dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo. Tirto.id. (2023, 24 September). Yonada Nancy. Geografi-Kurikulum Merdeka Perbedaan Desa dan Kota secara Sosial, Fisik, Geografi. Diakses dari https://tirto.id/perbedaan-desa-dan-kota-secara-sosialfisik-geografi-gPEE Tolkhah, I. (1999). Sejarah Perkembangan Madrasah. Jakarta: Depag RI. Umam, M. K. (2017). Strategi Alternatif Memajukan Lembaga Pendidikan Islam Di Pedesaan Berbasis Sekolah Excellent Perspektif Kompetitif Kontemporer. In Proceedings ANCOMS 2017 Annual Conference for Muslim Scholars Kopertais Wilayah IV Surabaya, 450-465. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Unpad.ac.id. (2023, April). Mengenal Konsep Pemimpin dalam Islam. Diakses dari https://www.unpad.ac.id/2023/04/mengenal-konsep-pemimpin-dalam-islam/ Wawancara dengan Bapak Syafruddin Umri, S.Ag, Kepala Sekolah MTs Negeri 3 Aceh Jaya, 7 Mei 2024, di Kantor Kepala Sekolah, MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Wawancara dengan Ibu Septiya Wulandari, S.Pd, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum MTs Negeri 3 Aceh Jaya, 9 Mei 2024, di Kantor Kurikulum, MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Wawancara dengan Bapak Muzakkir, S.Ag, Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan MTs Negeri 3 Aceh Jaya, 9 Mei 2024, di Kantor Kesiswaan, MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Wawancara dengan Bapak Fadhlidin, S.Ag, Guru Mata Pelajaran Fiqh MTs Negeri 3 Aceh Jaya, 9 Mei 2024, di Ruang Guru, MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Observasi di MTs Negeri 3 Aceh Jaya, 4 April 2024 dan 9 Mei 2024. Observasi Pembelajaran Kelas VII Mata Pelajaran Fiqh, 9 Mei 2024, di Ruang Kelas VII, MTs Negeri 3 Aceh Jaya. Wicaksono, H. (2022). Integrasi Pesantren dan Sekolah (Kajian atas Pemikiran Abdurrahman Wahid). Southeast Asian Journal Of Islamic Educational Management, 3(1).