Dampak Bahasa Gaul Dalam Sosial Media Terhadap Perubahan Pola Penggunaan Bahasa Indonesia Gen Z
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 8, September 2025, P. 53-59 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17313942 Dampak Bahasa Gaul Dalam Sosial Media Terhadap Perubahan Pola Penggunaan Bahasa Indonesia Gen Z Timothy Boy Dani Simanjuntak1, Tiar Arini Adelia Silalahi2, Rodimas Tamba3, Gerrard G.S Marbun4, Daniel Pederico Brahmana5, Winda Jessica Nainggolan6, Hendra Kurnia Pulungan7 Universitas Negeri Medan Email: ariniadelia.5243250[email protected]nimed.ac.id Abstrak Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya media sosial, telah membawa perubahan signifikan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Perkembangan Bahasa saat ini sangat pesat seiring meningkatnya penggunaan media sosial, seperti TikTok, Instagram, dan Whatsapp. Generasi z sebagai generasi yang bertumbuh bersama dengan perkembangan media sosial telah mengalami perubahan pola berbahasa dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan permasalahan diatas penulis mengangkat rumusan masalah sebagai berikut: (a) Bagaimana bentuk penggunaan bahasa gaul di media sosial TikTok oleh generasi Z? (b) Bagaimana pengaruh penggunaan bahasa gaul di TikTok terhadap perubahan kosakata Bahasa Indonesia pada generasi Z? (c) Bagaimana dampak penggunaan bahasa gaul di TikTok terhadap perubahan tata bahasa Bahasa Indonesia pada generasi Z?. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan studi literatur. penggunaan Bahasa gaul oleh generasi Z menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam membentuk pola komunikasi generasi muda. Pertama, bentuk penggunaan bahasa gaul di TikTok tidak hanya sebatas ekspresi spontan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas digital generasi Z. Bahasa gaul hadir dalam bentuk singkatan, akronim, serapan bahasa asing, hingga penciptaan kosakata baru yang berfungsi memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas antaranggota komunitas daring. Kata Kunci: bahasa gaul, generasi z, sosial media Abstract The development of information and communication technology, particularly social media, has brought significant changes in the use of everyday language. Language development today is progressing rapidly alongside the increasing use of social media platforms such as TikTok, Instagram, and WhatsApp. Generation Z, as a generation that has grown up with the advancement of social media, has experienced a shift in language patterns in daily life. Based on this issue, the research raises the following problems: (a) How is slang used by Generation Z on TikTok? (b) How does the use of slang on TikTok influence the changes in Indonesian vocabulary among Generation Z? (c) What is the impact of slang use on TikTok toward the changes in Indonesian grammar among Generation Z? This study employs a descriptive qualitative approach. Data collection methods include observation and literature review. The use of slang by Generation Z shows that social media plays a crucial role in shaping the communication patterns of young people. First, the use of slang on TikTok is not merely a spontaneous expression but also becomes part of Generation Z’s digital identity. Slang appears in the form of abbreviations, acronyms, borrowed foreign terms, and the creation of new vocabulary, all of which function to strengthen the sense of togetherness and solidarity among members of online communities. Keywords : slang, generation z, social media Article Info Received date: 30 August 2025 Revised date: 17 September 2025 Accepted date: 5 Oktober 2025 PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya media sosial, telah membawa perubahan signifikan dalam penggunaan bahasa sehari-hari (Yuanita, A., 2025). Kemajuan teknologi komunikasi yang pesat memicu munculnya variasi bahasa baru, termasuk bahasa gaul, dalam lingkungan Masyarakat (Romauli Situmorang et al., 2024). Bahasa gaul sendiri adalah ragam bahasa tidak baku yang berkembang di kalangan remaja dengan karakter informal, sering memodifikasi kosakata dari bahasa daerah maupun asing (Yuanita, A., 2025). Gaya bahasa gaul ini biasa melibatkan singkatan, plesetan, dan bentuk baru yang kreatif, sekaligus mengabaikan aturan baku dalam ejaan dan tata bahasa
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 Bahasa merupakan sarana komunikasi yang memiliki fungsi vital dalam kehidupan manusia. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai identitas budaya dan pemersatu bangsa (Al-azizi et al., 2025). Bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional, memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menjaga kesatuan bangsa. Namun, perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan dalam pola penggunaan bahasa, khususnya di kalangan anak muda. Fenomena penggunaan bahasa gaul juga berdampak pada kreativitas linguistik. Kata-kata seperti healing, bestie, mager, atau baper merupakan contoh inovasi kosakata yang lahir dari pengaruh budaya populer dan kreativitas remaja. Artikel Dampak Penggunaan Bahasa Gaul di Media Sosial terhadap Kemampuan Berbahasa Indonesia Formal Generasi Digital menjelaskan bahwa 68% responden masih memiliki kemampuan ejaan formal yang baik, namun penggunaan bahasa gaul yang berlebihan berpotensi menurunkan ketepatan struktur kalimat formal (Arisetya, 2025). Artinya, bahasa gaul tidak sepenuhnya berdampak negatif, tetapi perlu diimbangi dengan pembiasaan bahasa baku dalam situasi tertentu. Salah satu fenomena yang menonjol adalah munculnya bahasa gaul. Bahasa ini berkembang pesat seiring dengan meningkatnya penggunaan media sosial seperti TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Bahasa gaul sering kali berupa singkatan, serapan dari bahasa asing, maupun ciptaan baru yang kemudian populer dalam percakapan sehari-hari. Contohnya antara lain kata mager (malas gerak), baper (bawa perasaan), bestie (sahabat dekat), hingga healing yang sering digunakan untuk menggantikan istilah “berlibur”. Hasil survei dalam penelitian “Pengaruh Bahasa Gaul terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia pada Komunikasi Mahasiswa UPN Veteran Jawa Timur” memperlihatkan bahwa ~73,9 % responden menyatakan bahwa bahasa gaul ‘melemahkan’ penggunaan bahasa Indonesia baku, meskipun mereka tetap mempertahankan penggunaan bahasa formal dalam konteks tertentu (Zaen et al., 2024) Generasi Z (lahir sekitar 1995–2010) yang tumbuh bersama media sosial sangat familiar dengan fenomena ini. TikTok, sebagai salah satu platform terpopuler bagi Gen Z, menjadi ruang utama penyebaran bahasa gaul (Romauli Situmorang et al., 2024). Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bahasa gaul di TikTok memengaruhi pola berbahasa sehari-hari kaum muda; responden lebih sering menggunakan slang dibanding Bahasa Indonesia baku (Puspasari, Rahmawati and ..., 2024). Karirah et al., (2024)mengungkapkan bahwa setelah terpapar TikTok, Gen Z cenderung memakai banyak istilah gaul baru sehingga kreativitas bahasa meningkat, tetapi penggunaan tata bahasa baku menurun. Romauli Situmorang et al., (2024) menyoroti bahwa meski kebiasaan ini memudahkan ekspresi informal, penggunaan bahasa gaul secara luas di media seperti TikTok dapat menyulitkan komunikasi dalam konteks formal. Dalam konteks media sosial khususnya TikTok, suatu studi “Dampak Media Sosial Terhadap Perubahan Bahasa Gaul” menyebutkan bahwa paparan video dan komentar singkat mendorong pengguna (terutama generasi muda) untuk “lebih banyak memakai istilah gaul dalam keseharian” dibanding frasa bahasa Indonesia baku (Romauli Situmorang et al., 2024). Menanggapi kondisi tersebut, muncul berbagai upaya literasi bahasa yang bertujuan mengembalikan kesadaran berbahasa di kalangan muda, salah satunya melalui program “Seimbang Berbahasa”. Program ini merupakan gerakan edukatif yang dirancang untuk menumbuhkan kesadaran penggunaan bahasa secara kontekstual, yakni kapan bahasa gaul pantas digunakan dan kapan bahasa baku harus diutamakan. Melalui kegiatan kampanye media sosial, diskusi ringan, dan tantangan kreatif seperti pembuatan video edukatif, program ini berupaya menanamkan nilai keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab menjaga bahasa Indonesia sebagai identitas nasional (Harahap & Alfikri, 2023). Fenomena ini menarik untuk dikaji karena di satu sisi bahasa gaul mampu memperkaya khazanah komunikasi, tetapi di sisi lain dapat menurunkan minat anak muda untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini sejalan dengan pendapat Suryani (2018) yang menyatakan bahwa bahasa bersifat dinamis, selalu berkembang, dan mengikuti kebutuhan penuturnya. Perubahan tersebut wajar, namun dapat berdampak negatif apabila menggeser fungsi bahasa baku dalam situasi formal (Sebayang et al., 2024)Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini difokuskan pada analisis fenomena bahasa gaul dan dampaknya terhadap minat anak muda dalam menggunakan bahasa Indonesia. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Bagaimana bentuk penggunaan bahasa gaul di media sosial TikTok oleh generasi Z?
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 2. Bagaimana pengaruh penggunaan bahasa gaul di TikTok terhadap perubahan kosakata Bahasa Indonesia pada generasi Z? 3. Bagaimana dampak penggunaan bahasa gaul di TikTok terhadap perubahan tata bahasa Bahasa Indonesia pada generasi Z? 4. Bagaimana pengaruh Program “Seimbang Berbahasa” terhadap kesadaran mahasiswa dalam menggunakan Bahasa Indonesia baku dan bahasa gaul secara tepat. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian deskripstif kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ungkapan tertulis, lisan, maupun perilaku yang dapat diamati. Dengan demikian, data yang dikumpulkan berbentuk kata, kalimat, atau visual seperti gambar, bukan berupa angka-angka (Safrudin et al., 2023). Pengumpulan data dilakukan melalui dua teknik, yaitu observasi dan studi literatur. Observasi dilakukan dengan mengamati percakapan gen z di media sosial, khususnya pada komentar di TikTok, Instagram, serta percakapan dalam aplikasi WhatsApp. Fokus observasi diarahkan pada kata-kata gaul yang sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Sementara itu, studi literatur dilakukan dengan menelaah berbagai buku dan artikel yang membahas mengenai fenomena bahasa gaul maupun perkembangan bahasa Indonesia. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan sehingga diperoleh gambaran menyeluruh mengenai fenomena bahasa gaul dan dampaknya terhadap bahasa Indonesia di kalangan anak muda. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Penggunaan Bahasa Gaul Di Media Sosial Tiktok Oleh Generasi Z Bahasa gaul di kalangan Generasi Z kini menjadi fenomena yang sangat menonjol, terutama pada platform media sosial seperti TikTok. Harahap and Alfikri, (2023) mencatat bahwa generasi Z “mengalami perubahan pengucapan dan tulisan bahasa Indonesia yang sesuai dengan KBBI karena munculnya gaya bahasa baru” (Harahap and Alfikri, 2023). Gaya bahasanya memang “tidak biasa” dan sering kali “dapat mengubah tata bahasa maupun ejaan” yang baku (Harahap and Alfikri, 2023). Berbagai studi kuantitatif menemukan ragam bentuk ekspresi gaul yang digunakan remaja di TikTok. Misalnya, Putri dkk. (2022) melaporkan adanya sekitar 60 variasi kata gaul yang dipakai Gen Z di TikTok, terdiri atas berbagai bentuk seperti salah ucap, singkatan, dan interjeksi. Hasil ini menunjukkan betapa kreatifnya generasi muda menciptakan istilah baru dalam komunikasi online sehari-hari. Bentuk-bentuk bahasa gaul di TikTok sangat beragam. Putri dkk. (2022) mengelompokkan ragam tersebut ke dalam enam kategori utama. Katakanlah, bentuk singkatan atau akronim (“aslina”), kata serapan, perpindahan fonem (metatesis), kontraksi, dan pemenggalan kata. Secara rinci, kajian Putri dkk. mencatat bahwa bentuk singkatan/akronim banyak ditemukan (seperti “fyp”, “gws”, “baper”, “bucin”), kata serapan (misalnya “omaygatt”, “nyingkir”), metatesis (perpindahan fonem seperti “kuy” dari “yuk”), kontraksi (pemendekan seperti “notif” dari “notifikasi”), dan pemenggalan (sapaan “bang” dari “abang” dan “kak” dari “kakak”). Sebagai gambaran, Putri dkk. menyebutkan: • Singkatan/Akronim (7 istilah baru): misalnya “fyp” (For You Page) atau “baper” (bawa perasaan) sebagai adaptasi Bahasa Inggris dan Indonesia. • Serapan (9 istilah baru): misalnya “omaygatt” (Oh my God), “bangsat” (kata vulgar yang populer), menunjukkan pengaruh slang dan bahasa daerah dalam ragam gaul. • Metatesis (4 istilah baru): perubahan urutan bunyi seperti “kuy” (yuk), “sabi” (bisa), “ngab” (bang) sebagai variasi fonologis khas pengguna TikTok. • Kontraksi (4 istilah baru): penggabungan kata seperti “bund” (bang+sebaiknya), “notifikasi” menjadi “notif” menghemat ruang ketik. • Pemenggalan kata (3 istilah baru): sapaan sapaan intensitas keakraban, misalnya “gan” (dari “juragan”) dan “bang/kak” yang sering disingkat untuk menyapa sesama pengguna. Keanekaragaman ini juga mencerminkan fungsi sosial dan identitas budaya pengguna. Misalnya, penggunaan “bucin” bukan hanya singkatan, tetapi merupakan cara ekspresif pengguna TikTok menunjukkan intensitas emosi. Begitu pula istilah kolokial seperti “bang” dan “dok” (untuk dokter) memperlihatkan keakraban dalam interaksi online (Saputra, 2025). Dengan kata lain, ragam bahasa gaul TikTok berfungsi sebagai penanda identitas generasi muda serta sebagai ungkapan kreativitas
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 linguistik. Temuan Studi Morfologi oleh Saputra dan Junadi (2025) menekankan bahwa proses afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi dalam bahasa gaul ini “memperbanyak kosakata tidak baku Bahasa Indonesia, dengan ciri kreatif, ringkas, sesuai dengan budaya digital generasi muda”. Dengan basis data dari riset literatur ini, dapat disimpulkan bahwa bentuk penggunaan bahasa gaul di TikTok oleh Gen Z meliputi kombinasi akronim, kata singkatan, kata serapan, metatesis, kontraksi, dan pemenggalan, kesemuanya muncul untuk memudahkan komunikasi santai di era digital (lihat tabel ringkasan di atas). Perubahan Kosakata Bahasa Indonesia Pada Generasi Z Bahasa gaul di TikTok juga membawa dampak nyata pada kosakata generasi Z. Penggunaan intensif slang ini memperkenalkan kata-kata baru dan bahkan merubah makna kata lama. Ratnasari dan Yuanita (2025) menemukan perubahan makna pada kosakata gaul Gen Z dengan enam pola utama: generalisasi, spesialisasi, ameliorasi, peyorasi, sinestesia, dan asosiasi. Sebagai contoh, generalisasi dapat terjadi ketika suatu istilah yang sebelumnya spesifik mendapatkan makna lebih luas di kalangan milenial; sedangkan peyorasi terjadi ketika istilah baru malah membawa konotasi negatif. Penelitian tersebut mengidentifikasi 33 istilah slang TikTok (17 dari Gen Z, 16 dari Gen Alpha) yang terus mengalami pergeseran makna. Temuan ini menunjukkan bahwa kosakata gaul bertransisi secara dinamis, di mana istilah bisa mengaburkan makna asli atau mendapatkan makna tambahan sesuai konteks budaya pop. Secara empiris, dampak ini terbukti dalam kebiasaan berbahasa Gen Z sehari-hari. Situmorang dkk. (2024) melaporkan bahwa para remaja pengguna TikTok cenderung menggunakan slang dalam komunikasi mereka lebih sering daripada bahasa Indonesia yang formal. Hasil kuisioner menunjukkan bahwa responden “lebih banyak memakai bahasa gaul daripada bahasa Indonesia yang baik dan benar” dalam kehidupan sehari-hari(Saputra, 2025). Temuan ini mengindikasikan dua hal: pertama, kosakata baku secara perlahan tergeser oleh istilah gaul yang lebih populer di kalangan mereka; kedua, keseimbangan antara pemakaian kata populer dan kata sesuai EYD terganggu karena generasi Z lebih nyaman menggunakan kosakata gaul dalam interaksi non-formal. Pergeseran kosakata ini juga berdampak pada standar pemahaman bahasa Indonesia. Harahap & Alfikri (2023) menunjukkan kekhawatiran bahwa bahasa gaul “dapat menghilangkan standar penggunaan bahasa Indonesia yang sebenarnya”. Apalagi dalam konteks pendidikan, penggunaan berlebihan istilah gaul menyebabkan Gen Z mulai meninggalkan kaidah ejaan yang disempurnakan (EYD) dalam komunikasi mereka. Dengan kata lain, kosakata baku tergerus karena generasi muda terbiasa dengan gaya ekspresi baru. Meski demikian, beberapa kajian juga mencatat sisi positif: bahasa gaul dianggap sebagai ekspresi kreativitas sosial dan identitas kelompok. Namun, literatur yang ada menekankan pentingnya mengimbangi penggunaan istilah gaul agar kosakata baku tidak pudar. Berdasarkan studi di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa gaul TikTok memperluas dan mengubah kosakata Gen Z, baik melalui pengenalan istilah baru maupun pergeseran makna (misalnya generalisasi atau peyorasi kata lama). Dampak Bahasa Gaul Tiktok Terhadap Tata Bahasa Indonesia Gen Z Selain kosakata, penggunaan bahasa gaul di TikTok juga memengaruhi tata bahasa generasi Z. Banyak bentuk slang pada platform ini tidak sesuai dengan kaidah baku Bahasa Indonesia. Harahap & Alfikri (2023) menegaskan bahwa penggunaan slang TikTok “menggunakan gaya bahasa yang tidak biasa dan dapat mengubah tata bahasa maupun ejaan yang sesuai dengan KBBI”. Misalnya, urutan kata yang lazim sering diubah, penambahan atau penghilangan partikel, serta penulisan fonetik (seperti “aq” untuk “aku”, “kangen” menjadi “kangennya”). Ragam gaul ini lazim digunakan dalam konteks santai sehingga formalitas tata bahasa sering diabaikan. Akibatnya, generasi Z yang terlalu sering berkomunikasi dengan slang cenderung kurang menegakkan kaidah EYD. Situmorang dkk. (2024) menyimpulkan bahwa kecenderungan menggunakan slang secara dominan membuat responden lebih sering memakai bahasa non-baku daripada bahasa formal. Dampak praktisnya adalah kemampuan menulis atau berbicara dengan struktur yang tepat jadi terdegradasi. Harahap & Alfikri (2023) bahkan memperingatkan bahwa tren ini bisa “menghilangkan standar penggunaan bahasa Indonesia yang sebenarnya” dalam jangka panjang. Dalam tata bahasa, perubahan tersebut terlihat pada aspek sintaksis dan morfologis. Bahasa gaul sering memotong imbuhan atau menggunakan variasi kata yang tidak baku (misalnya memenjadi
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 nge-). Gaya inversion (mengubah urutan kata) pun umum, akibatnya konstruksi kalimat jadi tidak sesuai pola standar. Penelitian-penelitian terdahulu juga menemukan bahwa struktur kalimat Gen Z di media sosial lebih longgar dan kurang terikat kaidah formal. Meskipun belum banyak studi kuantitatif tentang tata bahasa, literatur ada menunjukkan adanya pergeseran kaidah: contohnya, hilangnya ‘h’ dalam awalan ‘ke-’, atau penyusunan ulang subjek-predikat yang tidak biasa, yang semata-mata dipengaruhi oleh budaya komunikasi online. Pengaruh Program “Seimbang Berbahasa” Terhadap Kesadaran Mahasiswa Dalam Menggunakan Bahasa Indonesia Baku Dan Bahasa Gaul Secara Tepat Berdasarkan hasil angket, sampel penelitian berjumlah 18 responden mahasiswa dari berbagai program studi, dengan mayoritas berasal dari Teknik Sipil semester 3. Angket ini mengukur empat indikator utama melalui skala Likert 1–5, sehingga analisis berikut disusun untuk menggambarkan gambaran umum sikap dan perubahan perilaku berbahasa mahasiswa setelah mengikuti Program Seimbang Berbahasa. Pertama, dari segi kebiasaan dan pemahaman, sebagian besar responden memberi skor 4–5 pada pernyataan seperti “Saya sering menggunakan bahasa gaul” dan “Saya memahami perbedaan antara bahasa gaul dan bahasa baku.” Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa aktif menggunakan bahasa gaul dalam interaksi sehari-hari, namun mereka juga memiliki kesadaran akan adanya perbedaan konteks penggunaan antara ragam nonbaku dan baku. Dengan kata lain, meskipun bahasa gaul menjadi bagian dari keseharian, mahasiswa tidak sepenuhnya meninggalkan bahasa baku-mereka cenderung menyesuaikan pemakaian bahasa sesuai situasi. Kedua, terkait pengaruh Program Seimbang Berbahasa, mayoritas responden memberikan skor tinggi pada pernyataan yang menyatakan bahwa program membantu mereka memahami konteks penggunaan bahasa yang tepat dan membuat mereka lebih berhati-hati dalam memilih kata. Rata-rata skor sekitar 4,5 mengindikasikan dampak positif program terhadap peningkatan kesadaran berbahasa. Hal ini memperlihatkan bahwa intervensi yang diberikan mampu menumbuhkan sikap reflektif; mahasiswa kini lebih mempertimbangkan kapan penggunaan bahasa baku diperlukan, terutama dalam konteks akademik dan profesional. Gambar 1. Data Statistik pentingnya Bahasa baku berdasarkan responden Ketiga, dari sisi sikap dan kepercayaan diri, skor tinggi (4–5) pada pernyataan “Saya merasa lebih percaya diri menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar” menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri linguistik setelah mengikuti program. Responden juga umumnya setuju bahwa penggunaan bahasa gaul tidak menjadi masalah selama dipakai pada tempatnya. Temuan ini menegaskan bahwa mahasiswa tidak menolak ragam bahasa gaul, melainkan mengembangkan sikap seimbang: menghargai ekspresi sosial melalui bahasa gaul sekaligus mempertahankan kemampuan berbahasa baku ketika situasi menuntut formalitas.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 Gambar 2. Data Statistik respons informan Keempat, indikator yang paling menonjol adalah kemampuan menyesuaikan gaya bahasa; pernyataan “Saya mampu menyesuaikan gaya bahasa dengan lawan bicara” memperoleh rata-rata skor tertinggi, yaitu 4,6. Hasil ini menandakan bahwa program efektif dalam mengasah keterampilan adaptif berbahasa—mahasiswa mampu memilih ragam bahasa yang sesuai dengan konteks komunikasi, baik di lingkungan sosial maupun akademik. Secara keseluruhan, temuan angket menunjukkan bahwa Program Seimbang Berbahasa berperan penting dalam meningkatkan kesadaran, sikap reflektif, kepercayaan diri, dan keterampilan kontekstual mahasiswa dalam menggunakan bahasa baku dan bahasa gaul secara tepat. SIMPULAN Penelitian literatur mengenai penggunaan bahasa gaul di TikTok oleh generasi Z menunjukkan bahwa media sosial berperan penting dalam membentuk pola komunikasi generasi muda. Pertama, bentuk penggunaan bahasa gaul di TikTok tidak hanya sebatas ekspresi spontan, tetapi juga menjadi bagian dari identitas digital generasi Z. Bahasa gaul hadir dalam bentuk singkatan, akronim, serapan bahasa asing, hingga penciptaan kosakata baru yang berfungsi memperkuat rasa kebersamaan dan solidaritas antaranggota komunitas daring. Penggunaan bahasa gaul TikTok cenderung melemahkan kepatuhan terhadap kaidah tata bahasa Indonesia formal. Slang yang populer di media sosial sering kali tidak mematuhi aturan EYD dan struktur sintaksis baku. Implikasinya, generasi Z perlu kesadaran ganda: menggunakan gaya bahasa gaul di platform yang santai sambil tetap menjaga kemampuan berbahasa baku untuk konteks resmi. Literasi formal harus terus didorong agar pergeseran linguistik yang dipicu TikTok tidak merugikan kemampuan berbahasa Indonesia generasi muda di ranah akademis dan resmi. REFERENSI Al-azizi, A.V. et al. (2025) ‘Hakikat, Sejarah Perkembangan, Kedudukan, dan Fungsi Bahasa Indonesia’, 1(2), pp. 547–553. Arisetya, D. (2025) ‘Dampak Penggunaan Bahasa Gaul di Media Sosial terhadap Kemampuan Berbahasa Indonesia Formal Generasi Digital’, pp. 266–278. Available at: https://doi.org/10.47709/jbsi.v5i01.6552. Harahap, G.R. and Alfikri, M. (2023) ‘Fenomena Bahasa Gaul Sebagai Komunikasi Generasi Z Di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bandar Perdagangan’, Jurnal Indonesia : Manajemen Informatika dan Komunikasi, 4(2), pp. 600–606. Available at: https://doi.org/10.35870/jimik.v4i2.259. Puspasari, K.D.K., Rahmawati, D. and ... (2024) ‘The Influence of the TikTok Algorithm on Gen Z’s Language Ability’, International …, (4), pp. 215–233. Available at: http://ojs.staialfurqan.ac.id/IJoASER/article/view/679%0Ahttps://ojs.staialfurqan.ac.id/IJoASE R/article/download/679/478. Ratnasari, M. Yuanita, A. (2025) ‘Perubahan Makna pada Kosakata Bahasa Gaul Generasi Z dan Alpha: Studi Kasus Penggunaan Media Sosial’, 12(2023). Romauli Situmorang et al. (2024) ‘Dampak Media Sosial Terhadap Penggunaan Bahasa Gaul di Aplikasi Tiktok Pada Remaja’, Semantik : Jurnal Riset Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Budaya, 2(2), pp. 281–289. Available at: https://doi.org/10.61132/semantik.v2i2.668.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 8 Dampak Bahasa Gaul Dalam (Timothy, et., al) | 53-59 Safrudin, R. et al. (2023) ‘Penelitian Kualitatif’, Journal Of Social Science Research, 3(2), pp. 1–15. Saputra, A. (2025) ‘Perubahan Morfologis Dalam Bahasa Gaul : Analisis Proses’, 15(2), pp. 248–256. Sebayang, R.R. et al. (2024) ‘BAHTRA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra’, 05(02), pp. 10–22. Available at: https://jurnal.habi.ac.id/index.php/Bahtra. Zaen, S.A.M. et al. (2024) ‘Pengaruh Bahasa Gaul Terhadap Penggunaan Bahasa Indonesia Pada Komunikasi Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur’, Jurnal Bahasa Daerah Indonesia, 1(3), p. 8. Available at: https://doi.org/10.47134/jbdi.v1i3.2615.