scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Penerapan Metode Communicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas di SMKN 4 Palembang)

Yuspar Uzer, Yus Vernandes Uzer

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 3, Oktober 2025, Halaman 434-437 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17425266 *Corresponding author Email: [email protected] Penerapan Metode Communicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas di SMKN 4 Palembang) Yuspar Uzer, Yus Vernandes Uzer Universitas PGRI Palembang A B S T R A K Metode pendekatan komunikatif juga perlu ditekankan bagaimana fungsi dari seorang pengajar selama proses pembelajaran itu berlangsung, karena inti dari pembelajaran tersebut adalah untuk membantu siswa memperoleh pengalaman yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat berinteraksi secara verbal dan saling bertatap muka dengan cara bertukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah. Metode ini merupakan bentuk belajar mengajar yang mengunggulkan adanya interaksi antara guru dengan siswa dan siswi.Berdasarkan hal tersebut maka kami bermaksud mengajukan penelitian dengan judul Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang). Dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) dapat disimpulkan bahwa hasil belajar keterampilan berbicara dan aktivitas belajar murid kelas dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) mengalami peningkatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus, nilai rata-rata yang diperoleh murid setelah mengikuti tes akhir dari siklus I ke siklus II setelah diterapkan metode pembelajaran mengalami peningkatan yaitu dari 62 pada siklus I menjadi 94 pada siklus II dari nilai ideal yang mungkin dicapai yaitu 100. Ketuntasan belajar Keterampilan berbicara murid kelas I juga mengalami peningkatan. Pada siklus I, dari 10 (40%) murid menjadi pada siklus II sebanyak 24 (96%) murid mencapai ketuntasan belajar dan ketuntasan belajar klasikal tercapai. Aktivitas belajar murid dari awal pembelajaran siklus I sampai dengan akhir pembelajaran siklus II mengalami peningkatan yang positif. A B S T R A C T The communicative approach method also needs to emphasize how a teacher functions during the learning process, because the point of learning is to help students acquire the experience they need so that they can interact verbally and face-to-face by listening, retaining information or problem-solving. This method is a form of learning teaching that excels the existence of interaction between the teacher and the student.Based on that, we intend to propose a research entitled Commucicative Method Approach In Learning English Through Multimedia Devices In Grade 11 Students 4 Moist). With the theme of Application of Commucicative Approach in Learning English Through Multimedia Devices in Grade 11 Students (Research of Class Action In SMKN 4 Palembang) it can be concluded that the learning results of speaking skills and learning activities App English Language Learning Through Multimedia Devices In Grade 11 Students (Class Action Research In SMKN 4 Palembang) experienced improvement. The study was implemented with two cycles, the mean score obtained by the students after following the final test from cycle I to cycle II after applying the learning method underwent an increase i.e. from 62 in cycle I to 94 in cycle II from the ideal score that students could achieve learning ISpeaking skills 100. also experienced improvement. On cycle I, out of 10 (40%) students became on cycle II as many as 24 (96%) students achieved learning dropout and classical learning dropout was achieved. Students’ learning activities from the beginning of cycle I learning to with the end of cycle II learning experienced a positive improvement.. A R T I C L E I N F O Article history: Received September 30, 2025 Revised 10 Oktober 2025 Accepted 15 Oktober 2025 Available online 22 Oktober. 2025 Kata Kunci: Metode Communicative Approach, Bahasa Inggris, Perangkat Multimedia Keywords: Communicative method approach, English, Multimedia devices This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 434-437 Socius E-ISSN: 3025-6704 PENDAHULUAN Kemampuan berkomunikasi dianggap sebagai tujuan akhir pembelajaran, maka mestinya tidak hanya dipandang sebagai produk, tetapi juga sebagai proses. Berbekal konsep tersebut maka Bahasa Inggris menjadi sangat penting untuk diajarkan kepada mahasiswa tidak hanya secara konsep atau materi tetapi juga harus dipraktekkan yaitu dengan memproduksi kosakata sehingga meningkatkan kemampuan berkomunikasi. Saat ini masih banyak metode pengajaran berpusat pada tenaga pengajar atau dosen (lecturer centre learning) pada metode ini sistem belajarmengajar kurang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berbahasa Inggris secara aktif. Dalam program perkuliahan bahasa Inggris reguler, pembelajaran bahasa inggris seperti reading, writing, speaking, dan listening sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan karena keterbatasan waktu dalam 1 kali tatap muka (100 menit). Deckert [3] mengemukakan bahwa berdasarkan pada keterpusatan siswa, Communicative Language Teaching (CLT) membutuhkan peran guru yang low profile, pekerjaan pasangan yang konstan atau penyelesaian masalah kelompok kecil, siswa menanggapi teks otentik, pertukaran yang diperluas pada topik yang serbaguna, dan penerapan empat keterampilan dasar, yaitu berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Apa yang terjadi saat ini yaitu banyak siswa masih takut tidak bisa berbahasa Inggris. Rasa takut akan melakukan kesalahan lebih kuat dari keinginan mereka untuk berbicara, hanya siswa yang cerdas yang akan banyak berbicara di kelas. Ini artinya hanya siswa yang pandai akan mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas. Masalah ini terjadi bukan hanya karena ketidakmampuan mereka dalam merangkai kalimat tetapi karena kurangnya kosakata dan ide. Dapat disimpulkan bahwa dalam metode pendekatan komunikatif juga perlu ditekankan bagaimana fungsi dari seorang pengajar selama proses pembelajaran itu berlangsung, karena inti dari pembelajaran tersebut adalah untuk membantu siswa memperoleh pengalaman yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat berinteraksi secara verbal dan saling bertatap muka dengan cara bertukar informasi, mempertahankan pendapat, atau pemecahan masalah. Metode ini merupakan bentuk belajar mengajar yang mengunggulkan adanya interaksi antara guru dengan siswa dan siswi. Berdasarkan hal tersebut maka kami bermaksud mengajukan penelitian dengan judul Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) Dalam kerangka inilah dirasakan pentingnya melakukan sebuah penelitian terhadap Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang). Apakah Effective Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang)?. METODE PENELITIAN Peneliti menggunakan metode penelitian tindakan kelas, yang selanjutnya disngkat menjadi PTK, dalam penelitian ini dengan dua siklus penelitian yang berulang, penelitian tindakan kelas (Clasroom Action Research) merupakan pencermatan dalam bentuk tindakan terhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan.”. Secara umum, terdapat empat langkah dalam melakukan PTK, yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Proses siklus dihentikan apabila siswa sudah 70% mencapai kemampuan atau kompetensi yang ingin dicapai dengan nilai KKM yaitu 70 sesuia dengan kebijakan sekolah. Penelitian ini dilaksanakan sesuai kaidahkaidah penelitian PTK dengan beberapa model pelaksanaan, secara umum terdapat empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Adapun rancangan tiap siklus dapat dijabarkan sebagai berikut. Peneliti merencanakan semua tindakan yang akan dilakukan dalam meningkatakan keterampilan berbicara siswa dengan metode drill dengan cara menyusun RPP dan media pembelajaran, kegiatan perencanaan dilakukan dalam dua kali pertemuan. Peneliti membagi siswa dalam enam kelompok yang terdiri atas enam siswa, selanjutnya memberikan penjelasan sekilas mengenai materi yang akan dipejari, mengenalkan media dan metode pembelajaran yaitu metode drill. Peneliti membagikan bahan materi untuk didiskusikan dalam kelompok masingmasing yang disebut sebagai kelompok asal, pertemuan tersebut peneliti membahas materi mengenai percakapan sehari hari, setiap kelompok mendapatakn bahan materi yang berbeda-beda sesuai perode sastra yang ada. Peneliti memberikan waktu lima menit untuk siswa membaca dan menelaah materi yang diberikan. Setelah itu, siswa kembali dipisahkan dan membentuk kelompok baru yang berasal dari perwakilan kelompok sebelumnya, kelompok tersebut adalah kelompok ahli yang selanjutnya harus menyampaikan hal-hal yang didiskusikan di kelompok asal mereka. Setiap utusan kelompok asal mempresentasikan hasil diskusi selama lima menit di kelompok ahli dan bergantian sehingga semua bahasan materi dari masing-masing kelompok tersampaikan. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 434-437 Yuspar Uzer, et., al/ Penerapan Metode Communicative Peneliti melakukan pengumpulan data dari proses diskusi dan persentasi siswa, menilai setiap individu dalam berbicara menyampaikan materi yang dipahami. Peneliti menganalisis proses kegiatan dan dampak tindakan yang diberikan serta perbaikan yang akan dilaksanakan pada siklus berikutnya. Sebuah penelitian harus memiliki populasi yang menjadi bagian penting dalam sebuah proses pengambilan data. Populasi adalah “Wilayah generalisasi yang terdiri atas: Objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang).Yang terdiri dari dua siklus. Penelitian ini membuahkan hasil yang signifikan yakni meningkatnya hasil belajar murid dalam menyelesaikan soal-soal mata pelajaran dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang). Sebagaimana pendapat yang dikemukakan Nana Sudjana (1989: 111) bahwa hasil belajar adalah hasil belajar yang diperoleh murid adalah sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan oleh murid, harus semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh murid. Proses belajar merupakan penunjang hasil belajar yang dicapai murid. Pada siklus I belum mencapai hasil yang diharapkan, karena belum sesuai dengan target yang ditetapkan. Diawal pertemuan banyak kendala yang dihadapi murid dalam proses pembembelajaran antara lain murid masih bingung dalam menyelesaikan soal atau evaluasi yang diberikan oleh guru. Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) dimaksudkan agar murid mampu menyelesaikan soal – soal. Setelah melakukan refleksi pada siklus I, maka harus dilakukan kegiatan yang dianggap perlu demi peningkatan hasil belajar pada siklus II. Hasil belajar adalah perubahan perilaku murid akibat belajar. Perubahan perilaku disebabkan karena dia mencapai penguasaan atas sejumlah bahan yang diberikan dalam proses belajar mengajar. Dengan melihat dari persentase ketuntasan belajar yang mengalami peningkatan, maka jelas terlihat bahwa hasil dengan tema Penerapan Metode Commucicative approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) telah mencapai tuntas. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang). Meningkat setelah diterapkannya metode pembelajaran role playing. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan nilai ratarata hasil belajar dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) yang diajar Pada siklus I sebesar 62 dan siklus II sebesar 94. Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar keterampilan berbicara murid yang diajar melalui Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) mengalami peningkatan nilai dari siklus I ke siklus II. Pada siklus I peneliti lebih mendorong murid untuk mencintai pelajarannya terlebih dahulu, selama kegiatan pembelajaran berlangsung murid yang sebelumnya menanggapi pelajaran dengan cuek, secara perlahan beberapa yang mulai ada kemauan untuk mengikuti pelajaran. Hal ini disebabkan adanya tugas yang diberikan pada setiap akhir pertemuan sampai pada akhir siklus I telah dapat terlihat kesenangan pada murid untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Akibatnya hasil belajar murid mencapai skor rata-rata 54 dan jika dimasukkan ke dalam kategori distribusi frekuensi ketuntasan hasil belajar berada pada kategori sedang. Setelah diadakan refleksi kegiatan pada siklus I, maka dilakukan beberapa perbaikan kegiatan yang dianggap perlu, salah satunya memperbanyak kesempatan kepada murid untuk menjawab pertanyaan dan berpendapat. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan semangat belajar murid sehingga dapat meningkatkan hasil belajar murid pada siklus II. Pada siklus II, terlihat bahwa kemauan murid untuk belajar mengalami peningkatan, di mana murid yang dulunya belum mampu menjawab pertanyaan yang ditanyakan peneliti, kini sudah mulai berlombalomba untuk menjawab pertanyaan. Murid juga sudah percaya diri untuk mengeluarkan pendapatnya dan mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya, dan menjelaskan serta memaparkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Sukmadinata (2004 : 155) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai polapola respon yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan. Pendapat yang hampir sama yang dinyatakan oleh Sukmadinata (2004:155-156) belajar merupakan diperolehnya kebiasaan kebiasaan, pengetahuan dan sikap baru. Belajar dikatakan berhasil jika murid mampu mengulangi kembali materi yang telah dipelajarinya. Setelah diberikan tes akhir siklus II, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 3 Tahun 2025, P. 434-437 Socius E-ISSN: 3025-6704 skor rata-rata yang dicapai adalah 94 dan jika dimasukkan ke dalam distribusi frekuensi ketuntasan belajar berada pada kategori tinggi dibandingkan dengan akhir siklus I. SIMPULAN Dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) dapat disimpulkan bahwa hasil belajar keterampilan berbicara dan aktivitas belajar murid kelas dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang) mengalami peningkatan. Penelitian ini dilaksanakan dengan dua siklus, nilai rata-rata yang diperoleh murid setelah mengikuti tes akhir dari siklus I ke siklus II setelah diterapkan metode pembelajaran mengalami peningkatan yaitu dari 62 pada siklus I menjadi 94 pada siklus II dari nilai ideal yang mungkin dicapai yaitu 100. Ketuntasan belajar Keterampilan berbicara murid kelas I juga mengalami peningkatan. Pada siklus I, dari 10 (40%) murid menjadi pada siklus II sebanyak 24 (96%) murid mencapai ketuntasan belajar dan ketuntasan belajar klasikal tercapai. Aktivitas belajar murid dari awal pembelajaran siklus I sampai dengan akhir pembelajaran siklus II mengalami peningkatan yang positif. Hal tersebut terlihat dari murid yang hadir, bertanya, menjawab pertanyaan semakin bertambah, murid semakin aktif menyelesaikan tugas, dan murid yang melakukan kegiatan lain pada saat pembelajaran semakin berkurang. Keseluruhan dari hasil analisis kuantitatif dan deskriptif dapat disimpulkan bahwa penggunaan Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang).dapat dijadikan acuan dalam proses pembelajaran di kelas dengan tema Penerapan Metode Commucicative Approach Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Melalui Perangkat Multimedia Pada Siswa Kelas 11 (Penelitian Tindakan Kelas Di SMKN 4 Palembang). REFERENSI Arikunto, Suharsimi dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Desmita. 2012. Psikologi Perkembangan Siswa. Bandung:Rosda Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Hamdayama, Jumanta. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter. Bogor: Ghalia Indonesia. Iskandar, Denny. 2015. Berbicara dan Pembelajarannya. http://file.upi.edu. Diunduh tanggal 10 Januari 2023. https://www.learner.org/workshops/artsine veryclassroom/. Diunduh pada 11 Januari 2023. Hurlock, Elizabeth B. 2002. Psikologi Perkembangan, edisi kelima. Jakarta: Erlangga. Jalil, Jasman. 2014. Panduan Mudah Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka. 107 Ladousse, Gillian Porter. 2009. Role Play, twentieth edition. New York: Oxford University Press. Ladousse, Gillian Porter. 2009. Role Play. https://www.teachingenglish.org.uk/article /role-play. Diunduh pada 11 Januari 2022 pukul 21:35. Kamal, Sirajuddin dan Novita Triana, Penggunaan Metode Drill Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Lambung Mangkurat Komariyah, Chayun Sri. 2012. Pembelajaran Bahasa Inggris di MI Ma’arif Beji Tahun Pelajaran 2012/2013. Purwokerto: STAIN Purwokerto Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rodakarya Offset Ma’mur Asmani, Jamal. 2013. 7 Tips Aplikasi PAKEM. Yogyakarta: DIVA press Moelong, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya McKay, Penny. 2006. Assesing Young Language. London: Cambridge University Press. Miculka , Jean. 2007. Speaking for Success, second edition. Ohio: SouthWestern Educational Publishing. Mulyati, Yeti dkk. 2007. Keterampilan Berbahasa Indonesia SD. Jakarta: Universitas Terbuka. Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Sumantri, Mulyani dan Nana Syaodih. 2009. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Universitas Terbuka. Surna, I Nyoman dan Olga D. Pandeirot. 2014. Psikologi Pendidikan 1. Jakarta: Erlangga. Tarigan, H.G. 2008. Berbicara Sebagai suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Wilkin. 2012. Pengaruh Metode Pembelajaran Group Teaching Terhadap Ketrampilan Berbicara Siswa SMA. http://www.infodiknas.com/pengaruhmetode-pembelajaran-groupteachingterhadapketerampilan-berbicara-siswasma.html. Diunduh pada 11 Januari 2025