A Socioreligious Analysis of Islamic New Year Commemorative Practices in Kubang Utara Sikabu Village, Lembah Segar, Sawahlunto
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 17-22 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17481482 *Corresponding Author Email: evaazhariname[email protected]om Analisis Kegiatan Keagamaan dalam Perayaan Tahun Baru Islam di Desa Kubang Utara Sikabu, Lembah Segar, Sawahlunto A Socioreligious Analysis of Islamic New Year Commemorative Practices in Kubang Utara Sikabu Village, Lembah Segar, Sawahlunto Sandra Dewi1, Eva Azharina Mevya2, Dila Oktaviandini3, Nayla Dwi Putri4, Zulfa Rahmatika5 1Program Studi Keperawatan Universitas Negeri Padang, 2.4.5Program Studi Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Padang, 3Program Studi Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Padang A B S T R A C T The Islamic New Year, especially on the 1st of Muharram, is not merely a religious ceremony but also holds significant educational value, particularly in shaping character and strengthening Islamic values. This study aims to describe the form, content, and impact of the 1st Muharram religious study activities held at the Al-Kautsar Mosque, Mata Air Hamlet, Kubang Utara Sikabu Village, Lembah Segar District, Sawahlunto City. The method used is descriptive qualitative with a content analysis approach. The results show that these religious studies contain the values of hablumminallah (human relationship with God) and hablumminannas (relationship with others), and are an effective means of non-formal education in the community. In addition, these activities also strengthen social solidarity, increase community participation, and preserve local values in accordance with Islamic teachings. This 1st Muharram religious study can be used as a concrete example of Islamic education practices that are alive in the community and are able to shape religious, caring, and moral characters. A B S T R A K Peringatan Tahun Baru Islam, khususnya pada tanggal 1 Muharram, bukan hanya sekadar seremoni keagamaan, tetapi juga punya nilai pendidikan yang penting, terutama dalam membentuk karakter dan memperkuat nilai-nilai keislaman. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana bentuk, isi, dan dampak kegiatan pengajian 1 Muharram yang dilaksanakan di Musholla Al-Kautsar, Dusun Mata Air, Desa Kubang Utara Sikabu, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajian ini mengandung nilai-nilai hablumminallah (hubungan manusia dengan Allah) dan hablumminannas (hubungan dengan sesama), serta menjadi sarana pendidikan nonformal yang efektif di tengah masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan partisipasi masyarakat, dan melestarikan nilai-nilai lokal yang sesuai dengan ajaran Islam. Pengajian 1 Muharram ini bisa dijadikan contoh nyata praktik pendidikan Islam yang hidup di lingkungan masyarakat dan mampu membentuk karakter religius, peduli, dan berakhlak. PENDAHULUAN Dalam kitab Fathul-Baari (7/268), Imam Ibnu Hajar Al-asqalani menyebutkan bahwa nama-nama bulan hijriyah bukanlah sebuah wahyu, tetapi bangsa arab sejak zaman jahiliyah pun telah memakai namanama tersebut. Latar belakang ditetapkannya penanggalan ini karena para gubernur yang menjabat pada masa khalifah sayyidina Umar Bin Khattab merasa kebingungan dengan surat dan perintah yang masuk tetapi tidak ada tanggalnya. Oleh karena itu, sayyidina Umar Bin Khattab beserta dengan sahabat dan orangpenting lainnya berdiskusi untuk penanggalan ini, guna agar para staf dan gubernur serta masyarakat luas tidak merasa kebingungan lagi. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai tahun pertama dimulainya penanggalan ini. Ada yang mengusulkan tahun pertama dimulai ketika nabi lahir, ada yang mengusulkan pada tahun wafatnya nabi, ada yang mengusulkan ketika nabi diangkat menjadi Rasul, dan yang terakhir yaitu pada tahun hijrahnya nabi ke Madinah. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan, terbitlah sebuah keputusan bahwasannya permulaan tahun ini yaitu dimana Nabi Muhammad saw melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Dan hal tersebut menjadi tonggak awal kejayaan umat Islam, A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 19, 2025 Revised 20 Oktober 2025 Accepted 25 Oktober 2025 Available online 30 Oktober. 2025 Keywords Islamic New Year, character education, hablumminallah, hablumminannas Kata Kunci: Tahun Baru Islam, pendidikan karakter, hablumminallah, hablumminannas. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 17-22 Socius E-ISSN: 3025-6704 karena setelah sebelumnya dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan akhirnya dakwah dilakukan secara terang-terangan. Oleh karena itu, kalender ini dinamakan kalender hijriyah. Setelah bersepakat mengenai awal tahun hijriyah, diantara sayyidina Umar Bin Khattab dengan para sahabatnya terjadi perdebatan kembali mengenai bulan pertama pada tahun hijriyah tersebut. Ada yang mengusulkan bulan Rabiul Awal sebagai bulan pertama dengan alasan bahwa bulan itu adalah bulan hijrahnya Nabi Muhammad saw dari Mekah ke Madinah. Tetapi sayyidina Umar dan sayyidina Utsman memilih bulan Muharram sebagai bulan pertama, dengan alasan bahwa wacana hijrah itu muncul ketika para sahabat membaiat nabi, dan baiat itu terjadi di akhir bulan dzulhijjah. Dan bulan yang muncul setelah bulan dzulhijjah adalah bulan Muharram (Risky Maulana et al., 2022) Muharram merupakan nama bulan pertama dalam sistem penanggalan Hijriyah dan dipakai sebagai sistem penanggalan kaum Muslim Jawa, yang ditetapkan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma dan sering disebut sebagai bulan Suro. Bagi kaum Syiah, Muharram merupakan bulan ratapan (Syahr alnihayah) atas kematian cucu Rasulullah yaitu Hasan dan Husein bin Ali tepatnya pada 10 Muharram 61 H. Kata Muharram yang berarti diharamkan atau dipantang, maksudnya adalah larangan untuk melakukan perang atau pertumpahan darah kaum kafir. Menurut penjelasan ulama, Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena terdapat dua makna di dalamnya. Pertama pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Masyarakat jahiliyah pun mempercayai hal itu. Kedua, pada bulan itu kita dilarang untuk melakukan perbuatan haram dan itu lebih ditekankan dari bulan yang lainnya.” (Lubis et al., 2023) Tahun Baru Islam adalah pada saat datangnya 1 Muharam dimana merupakan momen spiritual yang sering dijadikan refleksi bagi umat islam untuk bermuhasabah diri memperbaiki hubungan dengan sang pencipta serta manusia. Peringatan ini menjadi peristiwa resmi yang memiliki potensi sebagai sarana Pendidikan moral dan keagamaan. Dalam konteks Pendidikan masyarakat, pengajian adalah salah satu media pembinaan karakter yang paling relevan karena bersifat kolektif, langsung, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Desa Kubang Utara Sikabu, Kec Lembah Segar, Kota Sawah Lunto menjadi contoh nyata kegiatan keagamaan local seperti pengajian yang dapat berfungsi untuk pemersatu sosial dan penguat nilai-nilai religious. Kegiatan pengajian ini diadakan setiap satu Muharam dengan melibatkan beragai unsur masyarakat dan dikemas secara sederhana namun penuh makna. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan bentuk, isi, serta dampak kegiatan pengajian Tahun Baru Islam di Desa Kubang Utara Sikabu, dengan harapan sebagai kegiatan keagamaan yang kontekstual dan relevan dengan nilai-nilai Pendidikan Islam. Musholla sebagai pusat spiritual dan komunitas bagi masyarakat sekitar, telah lama menjadi penanda kebahagiaan, perdamaian, dan kedekatan dengan nilai-nilai Islami (Muharam et al., 2023). Musholla Al-Kautsar dusun Mata Air, Desa Kubang Utara Sikabu merupakan tempat ibadah masyarakat di sekitarnya. Musholla ini juga merupakan pusat Pendidikan Islam seperti tempat belajar, perkembangan dakwah Islam yang mampu membentuk pola dan perilaku masyarakat dari semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga kalangan tua. Masyarakat setempat berpartisipasi dan aktif dalam kegiatan 1 Muharam di Musholla Al-Kautsar. Sebagaimana masyarakat datang tepat waktu untuk meramaikan pengajian dalam rangka peringatan 1 Muharam. Peneliti menyimpulkan hubungan dalam antara tradisi dan nilai islam didalam perayaan tahun baru islam seperti nilai tauhid, nilai ibadah, nilai kearofan local, dan dilai kemasyarakatan. Sehubung dengan itu acara ini bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk dan esensi perayaan 1 muharram di dusun mata air desa kubang utara, sikabu, kecamatan lembah segar, sawahlunto dan menggali nilai dakwah yang terkandung di dalamnya. METODE Penelitian ini bersifat kualitatif serta menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis isi. Penelitian dengan pendekatan deskriptif kualitatif dilakukan secara menyeluruh, dan mendalam untuk menyelidiki dan menangkap atau mengetahui kondisi sosial. Pendekatan kualitatif focus pada pemaparan hasil, yaitu menjelaskan dengan kata-kata hasil yang ditemui dalam penelitian. Moleong menyatakan bahwa sumber data untuk penelitian kualitatif diperoleh melalui pengamatan terhadap objek dan dokumen secara mendalam untuk mengerti atau memahami makna tersirat atau tersembunyi dari dokumen atau objek tersebut. Pendekatan kualitatif merupakan rangkaian proses untuk mengumpulkan data deskriptif yang berasal dari kata-kata yang diucapkan atau lisan maupun tertulis dari individu serta perilaku yang mereka amati, Khasnah (2024). Analisis isi atau konten di sisi lain, merupakan metode penelitian yang dilakukan untuk menyusun kesimpulan dengan cara mengidentifikasi ciri-ciri tertentu secara sistematis dan objektif dari sebuah teks
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 17-22 Sandra Dewi, et., al/ Analisis Kegiatan Keagamaan agar dapat menggambarkan isi pesan dakwah serta memperoleh gambaran dari suatu media. Sumber data primer adalah kategori data utama yang diperoleh langsung dari berbagai wsumber seperti artikel, skripsi, tesis, dan model perayaan tahun baru hijriah. Sumber-sumber ini diakses melalui alat riset yaitu Google Scholar. Data yang dikumpulkan dari dokumen-dokumen yang relevan dengan nilai-nilai dan model, seperti jurnal, laporan, artikel ilmiah, arsip, majalah, laporan, dan gambar-gambar, dikategorikan sebagai data sekunder dalam penelitian ini. (Oktaviani et al., hlm. 66) HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hablumminallah Makna habluminallah secara syariah didalam Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir At-Thaabari dan AlBagahawi, di kutip dari Fatimah A, adalah perjanjian dari Allah yaitu beriman terhadap agama islam untuk jaminan keselamatan mereka didunia maupun diakhirat.Manusia tidak hanya di perintahkan untuk beribadah, namun harus seimbang dengan hubungan baik terhadap sesama manusia. Dalam Surah An-Nisa ayat 36, Allah berfirman,"Sembahlah Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan apapun, serta berbuat baiklah kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, teman sejawat, musafir, dan hamba sahaya kalian dan Allah tidak menyukai orang yang bersikap sombong dan angkuh (Ghazali, 1993). Hablumminallah adalah Hubungan manusia dengan Allah. Istilah ini merujuk pada hubungan baik antara manusia dan Allah yang mendalam dalam ajaran Islam, hablumminallah menjadi dasar dari semua interaksi yang mencakup berbagai aspek spiritual, etis, dan ritual. Hubungan ini berfungsi untuk memenuhi tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah hanya kepada Allah. Ada beberapa kategori utama dalam hubungan ini diantaranya; 1) Dari segi relasi ontologis, manusia dipahami sebagai makhluk ciptaan Allah (khaliq) yang memiliki posisi inferior dibandingkan dengan Tuhan yang Maha Agung. Ini menciptakan kesadaran akan misi dan tanggung jawab manusia di dunia. 2) Dalam beribadah, Ibadah adalah cara utama untuk menjalin hubungan dengan Allah. Dalam Islam, ibadah mencakup berbagai aktivitas seperti salat, puasa, zakat, dan haji, yang semuanya ditetapkan oleh syariat Islam sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. 3) Hubungan ini juga melibatkan komunikasi timbal balik antara manusia dan Allah. Manusia berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah, sementara Allah memberikan wahyu dan petunjuk melalui AlQur'an. 4) Hablumminallah dengan Etika dan Moralitas Hubungan manusia dengan Allah juga mencakup aspek etika, di mana manusia diharapkan untuk bersyukur atas nikmat yang diberikan dan menjalankan perintah-Nya dengan penuh kesadaran akan konsekuensi dari tindakan mereka. 5) Hablumminallah juga berhubungan dengan kesetaraan dalam hubungan, karena setiap individu memiliki kedudukan yang setara dalam hubungannya dengan Allah. Dalam ajaran Islam, tidak ada perantara atau system kependetaan, setiap orang dapat langsung berdoa dan meminta kepada Allah tanpa perantara. Tujuan akhir dari hubungan ini adalah untuk mencapai keridaan Allah dan mendapatkan kebahagiaan di dunia serta akhirat. Dengan menjalin hubungan yang baik melalui ibadah dan ketaatan, manusia diharapkan dapat menemukan makna hidup yang lebih dalam. Secara keseluruhan, hubungan manusia dengan Allah adalah fondasi dari kehidupan spiritual seorang Muslim, yang menuntut penghayatan mendalam terhadap ajaran-ajaran agama serta pelaksanaan ibadah secara konsisten (Himmawan et al., 2025). Contoh perilaku Hablumminallah menurut Imam Ghazali adalah menunaikan perintah syariat, rela dengan ketentuan dan takdir serta pembagian rezeki dari Allah SWT, dan meninggalkan kehendak nafsunya untuk mencari keridhoan Allah SWT. Dalam pengertian syariah, makna Hablumminallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah perjanjian dari Allah, yaitu masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban: َ ال َ ُلْ وُزات َ اداق اام َ دْباع َ امْ واي َ ِةاماايِقْلا ىَّتاح َالاأْسُي َْناع َ عابْ راأ Artinya: “Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ditanya tentang 4 hal: 1) Umurnya untuk apa dihabiskan, 2) Jasadnya untuk apa digunakan, 3) Ilmunyaa apakah diamalkan, 4) Hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan”. Umur, untuk apa dihabiskan? Umur merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup. Tidak ada cara untuk mendapatkannya Kembali setelah sudah terlewat. Setiap momen, waktu, yang sudah berlalu akan ditanyakan oleh Allah SWT. Banyak orang yang mengabaikan masa mudanya, padahal masa tersebut merupakan masa yang paling optimal untuk belajar, bereksplorasi, menjadi lebih kreatif, produktif, berbuat baik, beramal, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tahun baru Hijriyah menjadi salah satu momen yang tepat untuk mulai merefleksi diri seperti sejauh mana waktu yang kita gunakan selama ini apakah untuk melakukan hal-hal positif atau hal-hal yang tidak baik.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 17-22 Socius E-ISSN: 3025-6704 Jasadnya digunakan untuk apa? Tubuh kita adalah sebuah Amanah dari Allah SWT. Kekuatan, pengliahtan, pendengaran, tenaga dan segalanya yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita. Semua itu adalah titipan dari Allah untuk kita yang akan diminta pertanggungjawaban atasnya. Apakah semasa hidup tubuh kita dipergunakan dengan baik seprti beribadah, menolong orang lain, atau justru untuk melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat. Apakah ilmu yang kita miliki diamalkan? Ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tidak berbuah. Dalam Islam sanhgat ditekankan untuk mengamalkan atau mempraktikkan ilmu yang kita miliki. Seseorang yang faham atas kewajiban shalat namun masih saja mengabaikannya akan dimintai pertanggungjawaban yang berat di akhirat kelak. Dari sinilah betapa pentingnya harmoni atau keselarasan antara pengetahuan dan Tindakan. Harta yang dimiliki berasal dari mana dan dipergunakan untuk apa? Harta tidak hanya diukur dari jumlah yang ada, tetapi diukur dan dilihat dari cara memperolehnya dan penggunaannya. Islam mengutamakan kejujuran dalam usaha dan manfaat dalam pengelolaan harta. Apakah kekayaan tersebut diperoleh dengan cara yang halal? Apakah digunakan untuk keluarga, zakat, seekah, atau hanya untuk bergaya dan berfoya-foya semasa hidupnya saja? Semua itu akan dipertanyak oleh Allah SWT di akhirat kelak. Gambar 1 : Ustadz menyampaikan kajian 2. Hablumminannas Hubungan manusia dengan sesama manusia adalah aspek penting dalam kehidupan sosial yang mencakup interaksi, komunikasi, dan kerjasama antar individu. Dalam konteks ini, ada beberapa poin utama yaitu: a. Konsep Dasar Makhluk Sosial: Manusia secara alami adalah makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis. Hubungan ini penting untuk menciptakan keseimbangan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Hablum Minannas dalam Islam, istilah ini merujuk pada pentingnya hubungan antar manusia. Hablum minannas menekankan bahwa setiap individu terhubung satu sama lain dan bahwa hubungan ini harus dibangun dengan prinsip solidaritas dan kerja sama. b. Bentuk Hubungan Hubungan Horizontal: Hubungan antar manusia bersifat horizontal, di mana setiap individu memiliki posisi yang sama dalam interaksi sosial. Ini mencakup hubungan keluarga, persahabatan, dan hubungan sosial lainnya. Muamalah: Dalam Islam, muamalah adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan sosial dan ekonomi antar manusia. Ini mencakup segala bentuk transaksi dan interaksi yang harus dilakukan dengan adil dan etis. c. Etika dalam Hubungan Prinsip Keadilan dan Empati: Hubungan antar manusia harus didasarkan pada prinsip keadilan, saling menghargai, dan empati. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan dan keharmonisan dalam masyarakat. Keharmonisan Sosial: Keharmonisan dalam hubungan antar individu sangat penting. Gangguan dalam hubungan ini dapat terjadi akibat tindakan dosa atau kesalahan, yang memerlukan pengakuan dan permintaan maaf untuk memulihkan kembali keharmonisan tersebut. d. Tujuan Hubungan Menciptakan Kebahagiaan dan Kesejahteraan: Tujuan utama dari hubungan antar manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan bersama, meminimalkan penderitaan, dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pertumbuhan pribadi serta kolektif.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 17-22 Sandra Dewi, et., al/ Analisis Kegiatan Keagamaan e. Lingkup Pengaturan Ajaran Islam mengatur hubungan antar manusia mulai dari interaksi sehari-hari hingga aspek sosial yang lebih luas. Ini mencakup etika bergaul, tata cara berkomunikasi, serta tanggung jawab sosial terhadap sesame. Secara keseluruhan, hubungan manusia dengan sesama merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang harmonis dan saling mendukung, di mana setiap individu berperan aktif dalam menjaga keseimbangan sosial (Himmawan et al., 2025) Iman seseorang tidaklah lengkap jika memperlakukan sekitar kehendaknya. Sesama manusia kita diwajibkan saling menyayangi dan menghargai. Manusia tidak hanya diperintahkan untuk rajin beribadah, namun harus diimbangi dengan hubungan baik kepada sesama manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, rasulullah SAW bersabda: “Haq seorang muslim terhadap muslim lainnya ada lima; 1) menjawab salam, 2) menjenguk orang sakit, 3) mengantar jenazah, 4) memenuhi undangan, dan 5) mendoakan Ketika bersin”. Hadis ini menegaskan bahwa keIslaman seseorang tidak hanya dinilai dari ibadah individualnya saj, tetapi juga dari bagaimana keterlibatan sosial manusia dalam kehidupan bermsayarakat. Yang pertama menjawab salam, salam adalah merupakan tindakan doa dan penghormatan dalam agama Islam. Salam bertindak sebagai pembuka jalan bagi persaudaraan antar sesama umat Islam, salam juga dapat menciptakan rasa damai. Menjawab salam bukan hanya sekedar sopan santun atau etika saja, tetapi juga sebuah kewajiban yang dapat mencerminkan rasa hormat dan kasih syaang terhadap sesama umat Muslim. Yang kedua Menjenguk orang sakit bukan hanya sekedar mengunjungi saja, tetapi juga memberikan motivasi, memberikan semangat, memperkuat persaudaraan, dan mendoakan untuk kesembuhan. Rasulullah SAW bahkan mengunjungi anak-anak, orang-orang Yahudi, hingga musuhpun sekalipun. Hal ini menunjukkan cinta kasih yang luas dalam ajaran Islam. Selanjutnya Mengantarkan jenazah, hal tersrbut adalah salah satu bentuk penghormatan terakhir. Bagi yang masih diberikan panjang umur, kesehatan, keselamatan, hal tersebut adalah salah satu pengingat bagi kita akan kematian. Bagi yangtelah meninggal, ini adalah sebuah proses atau pengantaran menuju alam barzakh. Memenuhi atau menghadiri undangan. Menghadiri undangan juga merupakan salah satu cara kita untuk dapat saling terhubung satu dengan lainnya dan bentuk penghormatan atas hak orang lain. Dengan ikut serta dalam acara seperti walimah, dapat memperkuat hubungan sosial, memperkuat tali silaturahmi, dan menumbuhkan rasa cinta diantara kita. Kemudian yang terakhir adalah mendoakan ketika bersin. Tindakan kecil seperti mendoakan seseorang yang bersin sering dianggap remeh oleh sebagian orang. Padalah mendoakan seseorang yang bersin menunjukkan betapa pentingnya Islam memperhatikan hal kecil dalam interaksi antar manusia. Ucapan “Yarhamukallah / Yarhamukillah” adalah salah satu bentuk kepedulian spiritual yang sangat sederhana tetapi memiliki penuh arti dan makna. Gambar 2 : Foto bersama setelah pengajian SIMPULAN Tahun Baru Islam, khususnya peringatan 1 Muharram, bukan hanya sebuah seremoni keagamaan, tapi juga momen yang sangat potensial untuk dijadikan sebagai media pendidikan, terutama pendidikan nilai dan karakter. Dalam perspektif pendidikan Islam, perayaan ini dapat dimaknai sebagai ajang pembelajaran yang mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas). Di Desa Kubang Utara Sikabu, kegiatan pengajian yang rutin dilakukan saat 1 Muharram merupakan contoh konkret bagaimana nilai-nilai pendidikan Islam bisa ditanamkan di tengah masyarakat secara alami dan kontekstual.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 17-22 Socius E-ISSN: 3025-6704 Pengajian yang dilaksanakan di Musholla Al-Kautsar, Dusun Mata Air, menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan dan sosial secara langsung kepada masyarakat. Karena bersifat kolektif dan terbuka untuk semua kalangan usia, pengajian ini tidak hanya memperkuat pemahaman agama, tetapi juga membentuk karakter masyarakat yang religius dan peduli terhadap sesama. Nilai-nilai seperti keikhlasan, tanggung jawab, solidaritas sosial, dan semangat kebersamaan sangat terasa dalam kegiatan ini. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas, melainkan bisa hadir dalam bentuk aktivitas sosial keagamaan di tengah masyarakat. Dari sudut pandang pendidikan, kegiatan seperti ini mencerminkan model pembelajaran yang partisipatif dan berbasis komunitas. Masyarakat tidak hanya menjadi objek, tapi juga subjek dari proses pendidikan. Mereka aktif mengikuti, menyimak, bahkan menyampaikan pendapat dalam forum pengajian. Materi yang disampaikan pun relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami dan diterapkan. Di sisi lain, Musholla Al-Kautsar bukan hanya tempat ibadah, tapi juga berperan sebagai pusat pendidikan nonformal di lingkungan sekitar. Secara keseluruhan, pengajian 1 Muharram di Desa Kubang Utara Sikabu menjadi salah satu contoh praktik pendidikan Islam yang hidup dan dekat dengan masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan agama bisa berjalan secara fleksibel, kontekstual, dan menyatu dengan budaya lokal. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai mahasiswa untuk melihat momen keagamaan seperti ini bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, tapi sebagai bagian dari proses pendidikan yang membentuk kesadaran spiritual, moral, dan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. REFERENSI Ghazali, I. Al. (1993). Kitab Bidayatul Hidayah Karya Imam Al Ghazali. 153. Himmawan, D., Muthi’ah, A., & Ramahdani, S. (2025). Annujum: Journal of Humaniora and Law https://annujum.kjii.org Interaction between Humans as an Implementation of Hablumminannas in Realizing Tolerance Between Communities of the Same Religion and Other Religions. https://annujum.kjii.org Khasanah, N. (2024). Pola komunikasi interpersonal dalam meningkatkan hablum minannas pada tradisi tilik umah di desa Tosaran, Kecamatan Kedungwuni. http://etheses.uingusdur.ac.id/id/eprint/10270%0Ahttp://etheses.uingusdur.ac.id/10270/1/341 9023_Bab I dan Bab V.pdf Lubis, Z., Saragih, M. S., Damayanti, I., Kurniawan, R., Zihad, A., Amin, N. N., & Muhaimin, R. A. (2023). Perspektif Hukum Islam terkait Larangan Menikah di Bulan Muharram bagi Masyarakat Jawa Desa Jati Mulyo. As-Syar’i: Jurnal Bimbingan & Konseling Keluarga, 5(3), 1079–1087. https://doi.org/10.47467/as.v5i3.5126 Muharam, R. P., Sudrartono, T., Warsiati, W., Nunung, A. I., & Hasbi, K. (2023). Membentuk Generasi Cerdas Islami Dan Mandiri Dengan Bakti Sosial Di Masjid Al - Kahfi Dalam. 6(2). Oktaviani, W., Sultan, I., Sambas, M. S., & Naskah, H. (n.d.). Syìar : Jurnal Ilmu Komunikasi, Penyuluhan dan Bimbingan Masyarakat Islam Nilai-Nilai Dakwah pada Perayaan 1 Muharram (Studi pada Beberapa Bentuk Perayaan 1 Muharram di Indonesia). https://doi.org/10.37567/syiar.v7i2 Risky Maulana, G., Aprilliani, K., Alfianti Hafianti, K., & Fajrussalam, H. (2022). TRADISI PAWAI OBOR DALAM MEMPERINGATI TAHUN BARU ISLAM DI KABUPATEN PURWAKARTA. SIBATIK JOURNAL: Jurnal Ilmiah Bidang Sosial, Ekonomi, Budaya, Teknologi, Dan Pendidikan, 1(11), 2467–2474. https://doi.org/10.54443/sibatik.v1i11.376