Enhancing Qur'an Literacy and Learning Motivation among Children in Belawan Sicanang Subdistrict
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 23-31 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17484048 *Corresponding Author Email: [email protected] Peningkatan Literasi Al-Qur'an dan Motivasi Belajar Anak di Kelurahan Belawan Sicanang Enhancing Qur’an Literacy and Learning Motivation among Children in Belawan Sicanang Subdistrict Nur Intan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara A B S T R A C T This study aims to describe efforts to improve Qur’anic literacy and learning motivation among children in Belawan Sicanang Village. The research focuses on the condition of children’s Qur’anic literacy, the role of teachers and the environment, the strategies and methods applied, the relationship between Qur’anic literacy and learning motivation, as well as supporting and inhibiting factors. A qualitative approach was used with data collected through observation, interviews, and documentation. The results show that children’s Qur’anic literacy levels vary, depending on family support and the availability of learning facilities. Teachers play a vital role in guiding and fostering enthusiasm for learning through enjoyable and contextual approaches. Effective strategies include tahsin, talaqqi, and the use of visual and digital interactive media. Good Qur’anic literacy positively influences learning motivation by enhancing discipline, interest, and self-confidence in the learning process. The main supporting factors come from religious family and community environments, while the main obstacles are limited facilities and lack of continuous guidance. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upaya peningkatan literasi Al-Qur’an dan motivasi belajar anak di Kelurahan Belawan Sicanang. Fokus penelitian mencakup kondisi literasi Al-Qur’an anak, peran guru dan lingkungan, strategi serta metode pembelajaran yang diterapkan, hubungan antara literasi Al-Qur’an dengan motivasi belajar, serta faktor pendukung dan penghambat peningkatan keduanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi Al-Qur’an anak di Kelurahan Belawan Sicanang masih beragam, bergantung pada dukungan keluarga dan ketersediaan sarana belajar. Guru berperan penting dalam membimbing dan menumbuhkan semangat belajar melalui pendekatan yang menyenangkan dan kontekstual. Strategi yang efektif meliputi pembelajaran tahsin, talaqqi, serta penggunaan media visual dan digital interaktif. Literasi Al-Qur’an yang baik berpengaruh positif terhadap motivasi belajar anak, terutama dalam meningkatkan disiplin, minat, dan rasa percaya diri dalam proses belajar. Faktor pendukung utama berasal dari lingkungan keluarga dan masyarakat yang religius, sementara hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan fasilitas dan kurangnya pendampingan berkelanjutan. PENDAHULUAN Pendidikan Al-Qur’an merupakan aspek fundamental dalam membentuk karakter religius dan moral peserta didik sejak usia dini. Literasi Al-Qur’an tidak hanya mencakup kemampuan membaca huruf Arab dengan benar, tetapi juga memahami makna dan menginternalisasi ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Literasi Al-Qur’an yang baik menjadi pondasi dalam membangun generasi yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingkat literasi Al-Qur’an di kalangan anakanak, terutama di wilayah pesisir seperti Kelurahan Belawan Sicanang, masih tergolong rendah. Kondisi sosial ekonomi masyarakat, minimnya tenaga pengajar, serta kurangnya dukungan lingkungan belajar menjadi faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an. A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 19, 2025 Revised 20 Oktober 2025 Accepted 25 Oktober 2025 Available online 30 Oktober. 2025 Keywords Qur’anic Literacy, Learning Motivation, Teacher’s Role, Learning Strategies Kata Kunci: Literasi Al-Qur’an, Motivasi Belajar, Peran Guru, Strategi Pembelajaran This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Socius E-ISSN: 3025-6704 Pengembangan program penghafalan Al-Qur’an surat-surat pendek bagi anak-anak di wilayah ini menjadi solusi yang diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan kemampuan hafalan mereka. Surat-surat pendek dipilih karena lebih mudah diingat dan dipahami oleh anakanak, sekaligus menjadi dasar bagi tahapan hafalan selanjutnya. Dengan menerapkan metode yang kreatif, seperti pendekatan bermain, bernyanyi, bercerita, dan pemanfaatan media audiovisual, proses penghafalan dapat berlangsung dengan lebih menyenangkan dan bermakna. Guru memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an melalui pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan. Selain itu, dukungan lingkungan keluarga dan masyarakat juga berkontribusi besar dalam menumbuhkan semangat anak untuk belajar Al-Qur’an. Menurut (Faruq,2023), keberhasilan peningkatan literasi Al-Qur’an sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta, sebagaimana dibuktikan dalam program pembinaan literasi AlQur’an di Kelurahan Lesanpuro, Malang, yang menerapkan metode Community Based Research (CBR) dan berhasil meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an secara signifikan. Dengan demikian, upaya peningkatan literasi Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang perlu didukung oleh kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat sekitar. Strategi pembelajaran seperti metode tahsin, talaqqi, dan penggunaan media pembelajaran interaktif dapat menjadi alternatif untuk menarik minat anak dalam mempelajari Al-Qur’an. Selain itu, peningkatan literasi Al-Qur’an terbukti memiliki korelasi positif dengan motivasi belajar anak. Anak-anak yang memiliki kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an cenderung menunjukkan semangat belajar yang lebih tinggi, disiplin, serta rasa tanggung jawab yang lebih baik dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi literasi Al-Qur’an anak di Kelurahan Belawan Sicanang, menganalisis peran guru dan lingkungan dalam meningkatkan literasi tersebut, mengidentifikasi strategi dan metode pembelajaran yang efektif, serta mengkaji hubungan antara literasi Al-Qur’an dan motivasi belajar anak. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi faktor-faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi peningkatan literasi dan motivasi belajar anak di lingkungan tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi kontribusi ilmiah dan praktis dalam pengembangan program literasi Al-Qur’an berbasis masyarakat di wilayah pesisir Indonesia. METODE Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara mendalam proses peningkatan literasi Al-Qur’an dan motivasi belajar anak di Kelurahan Belawan Sicanang. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap realitas sosial keagamaan secara alami dalam konteks masyarakat pesisir. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, dengan subjek terdiri atas anak-anak usia sekolah dasar yang mengikuti pembelajaran Al-Qur’an di TPQ, guru pengajar, orang tua, dan tokoh masyarakat. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap kegiatan pembelajaran Al-Qur’an serta keterlibatan lingkungan sekitar. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan temuan, digunakan teknik triangulasi sumber, metode, dan waktu serta melakukan konfirmasi hasil (member check) kepada responden. Penelitian ini juga mengadaptasi prinsip Community Based Research (CBR), yaitu melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi program pembelajaran. Melalui metode ini, diharapkan diperoleh pemahaman yang komprehensif tentang strategi, peran, dan faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan literasi Al-Qur’an serta motivasi belajar anak di Kelurahan Belawan Sicanang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa program peningkatan literasi dan penghafalan AlQur’an surat-surat pendek di Kelurahan Belawan Sicanang berjalan efektif dalam menumbuhkan kemampuan membaca, menghafal, serta meningkatkan motivasi belajar anak-anak. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek yang menjadi fokus penelitian, yaitu kondisi literasi Al-Qur’an anak,
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Nur Intan/ Peningkatan Literasi Al-Qur'an peran guru dan lingkungan, strategi pembelajaran yang diterapkan, hubungan antara literasi dan motivasi belajar, serta faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.Melalui penerapan metode talaqqi, tikrar, dan simā‘ī yang dikombinasikan dengan pendekatan kinestetik dan permainan edukatif, anak-anak menunjukkan peningkatan signifikan dalam hafalan dan pemahaman makna ayat-ayat Al-Qur’an. Peran guru sebagai pembimbing spiritual sangat dominan dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sedangkan dukungan orang tua dan lingkungan masyarakat turut memperkuat proses pembinaan. Kendala utama yang ditemukan adalah keterbatasan tenaga pengajar dan sarana prasarana yang belum memadai, namun faktor tersebut dapat diatasi melalui pelatihan guru tahfidz, keterlibatan masyarakat, dan penguatan manajemen program tahfidz (Dewi,2022). Secara keseluruhan, kegiatan ini terbukti tidak hanya meningkatkan literasi dan hafalan Al-Qur’an anak, tetapi juga menumbuhkan disiplin, rasa percaya diri, serta karakter religius yang kuat di lingkungan pesisir Kelurahan Belawan Sicanang. Kondisi Literasi Al-Qur’an Anak di Kelurahan Belawan Sicanang Hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa tingkat kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan anak-anak usia sekolah dasar (7–12 tahun) relatif lebih baik dibandingkan kelompok usia remaja. Hal ini disebabkan oleh intensitas pembelajaran yang tinggi di TPQ dan Rumah Tahfidz, serta dorongan dari orang tua. Namun, kemampuan memahami makna ayat dan penghayatan terhadap nilai-nilai Al-Qur’an masih terbatas pada kelompok usia remaja. Kondisi literasi Al-Qur’an anak-anak di Kelurahan Belawan Sicanang, khususnya di lingkungan Blok 5, menggambarkan dinamika yang cukup kompleks antara semangat religius masyarakat dengan tantangan sosial ekonomi wilayah pesisir. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan wawancara dengan tokoh masyarakat, diperoleh data bahwa tingkat motivasi belajar dan literasi Al-Qur’an anak-anak di wilayah tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Sebanyak 64% anak memiliki kedisiplinan belajar yang tinggi, terutama dalam mengikuti kegiatan pembelajaran agama baik di rumah maupun di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) sekitar. Selain itu, minat terhadap pelajaran agama juga tergolong tinggi, yaitu mencapai 72%, didukung oleh antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan mengaji dan hafalan surat-surat pendek yang dilaksanakan secara rutin setiap sore hari. Sementara itu, 68% anak menunjukkan keaktifan dalam berbagai kegiatan keagamaan seperti di TPQ, mushalla, dan remaja masjid, yang meliputi pembacaan ayat suci, latihan tilawah, dan ceramah islami sederhana. Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi AlQur’an di wilayah Belawan Sicanang telah berkembang secara positif, meskipun masih dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar. Dalam aspek dukungan keluarga, data menunjukkan bahwa 74% orang tua turut berperan aktif dalam memberikan motivasi belajar kepada anak-anaknya, terutama dengan cara mendampingi mereka saat belajar membaca Al-Qur’an di rumah. Akan tetapi, masih terdapat sekitar 11% anak yang memiliki motivasi rendah, terutama disebabkan oleh kurangnya fasilitas belajar dan terbatasnya waktu orang tua yang sebagian besar bekerja di sektor informal seperti nelayan, buruh pelabuhan, dan pedagang kecil. Hal ini juga berdampak pada konsistensi waktu belajar di rumah, di mana hanya sekitar 59% anak yang secara rutin meluangkan waktu untuk belajar mandiri di luar jam sekolah. Temuan tersebut memperkuat hasil penelitian (Khotimah,2023) yang menegaskan bahwa keberhasilan peningkatan kualitas bacaan Al-Qur’an anak sangat dipengaruhi oleh keterlibatan keluarga dan manajemen pembelajaran di TPQ. Pemberdayaan lembaga TPQ melalui pelatihan guru, sistem pembelajaran yang inovatif, serta penggunaan media bantu seperti kartu prestasi terbukti efektif meningkatkan minat dan kedisiplinan anak dalam belajar membaca AlQur’an. Pola serupa tampak di Belawan Sicanang, di mana TPQ berperan besar dalam membentuk kebiasaan belajar anak dan memperkuat interaksi sosial bernuansa religius di lingkungan masyarakat pesisir. Lebih lanjut, kegiatan pembelajaran di TPQ dan mushalla setempat di Belawan Sicanang pada umumnya menggunakan metode talaqqi, tikrar, dan simā‘ī, yaitu membaca langsung di hadapan guru, mengulang bacaan secara berulang-ulang, dan mendengarkan serta menirukan bacaan guru. Metode ini dianggap efektif bagi anak-anak usia dasar karena melibatkan aspek auditori dan kinestetik yang membantu mengingat bentuk dan bunyi huruf. Guru TPQ juga berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Socius E-ISSN: 3025-6704 mengombinasikan permainan edukatif dan kegiatan muroja’ah bersama. Pendekatan seperti ini sejalan dengan model pembelajaran berbasis partisipatif yang dianjurkan oleh (Faruq,2023), yaitu Community Based Research (CBR). Dalam pendekatan ini, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi sehingga program literasi Al-Qur’an menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Selain peran guru, dukungan masyarakat dan lembaga keagamaan di Belawan Sicanang juga menjadi faktor penting dalam pengembangan literasi Al-Qur’an anak. Tokoh agama dan kelompok remaja masjid secara rutin mengadakan kegiatan seperti Tadarus Bersama Anak Pesisir dan lomba hafalan surat-surat pendek yang bertujuan untuk menumbuhkan minat baca dan rasa cinta terhadap Al-Qur’an sejak dini. Program “Rumah Qur’an Anak Pesisir” yang digagas oleh masyarakat setempat bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) turut memberikan dampak positif dalam peningkatan literasi dan motivasi belajar anak-anak. Program ini dirancang dengan sistem pembelajaran yang lebih interaktif dan personal, di mana mahasiswa berperan sebagai mentor yang mendampingi anak-anak dalam belajar membaca, menghafal, dan memahami makna surat-surat pendek. Hasil pelaksanaan program tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan literasi anak-anak, baik dari segi ketepatan bacaan maupun kecepatan dalam menghafal. Anak-anak yang awalnya belum lancar membaca mulai menunjukkan kemajuan setelah mengikuti kegiatan “Rumah Qur’an Anak Pesisir” selama beberapa bulan. Hal ini mengindikasikan bahwa kolaborasi antara masyarakat lokal, lembaga pendidikan, dan perguruan tinggi dapat menjadi strategi efektif dalam mengatasi keterbatasan tenaga pengajar di daerah pesisir. Walaupun perkembangan literasi Al-Qur’an di Belawan Sicanang menunjukkan arah yang positif, tantangan masih cukup besar, terutama dalam hal keberlanjutan kegiatan dan pemerataan fasilitas pendidikan. Keterbatasan ruang belajar, kurangnya alat peraga pendidikan Islam, dan kondisi geografis wilayah yang rawan banjir menjadi faktor penghambat kegiatan TPA. Beberapa guru juga menyampaikan kendala dalam memperbarui metode pembelajaran karena belum pernah mengikuti pelatihan tahsin atau tajwid formal. Padahal, sebagaimana ditekankan oleh (Khotimah,2023), peningkatan kompetensi guru merupakan kunci utama dalam menjaga kualitas pembelajaran Al-Qur’an di lembaga nonformal. Meskipun demikian, antusiasme anak-anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan tetap tinggi. Berdasarkan pengamatan, kegiatan hafalan surat pendek, lomba azan, dan tadarus bersama mampu meningkatkan rasa percaya diri dan kedisiplinan mereka. Anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga belajar memahami nilai-nilai keislaman seperti sabar, jujur, dan saling menghormati. Fenomena ini memperlihatkan bahwa literasi Al-Qur’an di Belawan Sicanang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengajaran agama, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter dan moral anak-anak di tengah tantangan sosial ekonomi masyarakat pesisir. Dengan demikian, kondisi literasi Al-Qur’an anak di Kelurahan Belawan Sicanang menunjukkan arah kemajuan yang positif. Meskipun masih menghadapi sejumlah kendala, tingkat motivasi belajar yang tinggi, keterlibatan keluarga, serta dukungan masyarakat menjadi modal penting dalam membangun budaya literasi Al-Qur’an yang kokoh di wilayah pesisir. Kolaborasi antara masyarakat, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah menjadi kunci untuk memastikan bahwa gerakan literasi Al-Qur’an ini dapat berlangsung secara berkelanjutan dan berkontribusi nyata terhadap pembentukan generasi muda yang berilmu, berakhlak mulia, serta cinta terhadap Al-Qur’an. Peran Guru dan Lingkungan dalam Meningkatkan Literasi Al-Qur’an Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membangun budaya literasi Al-Qur’an, khususnya di jenjang sekolah dasar dan menengah. Literasi Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan membaca teks dengan benar dan lancar, tetapi juga mencakup pemahaman makna, penerapan nilai-nilai moral yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an, serta pembiasaan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Seorang guru PAI tidak hanya bertugas mengajarkan tajwid dan bacaan, namun juga berperan sebagai fasilitator, motivator, konselor, dan teladan yang menginspirasi peserta didik untuk mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup. Dalam penelitian (Ikhsan,2025), guru PAI disebut sebagai aktor utama yang
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Nur Intan/ Peningkatan Literasi Al-Qur'an membentuk budaya literasi Qur’ani melalui pendekatan kontekstual, penggunaan media digital, pembelajaran berbasis proyek, dan pendekatan personal yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Dengan demikian, literasi Al-Qur’an menjadi bagian integral dari proses pendidikan karakter Islami yang berkelanjutan. Peran guru dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an mencakup beberapa dimensi penting, antara lain sebagai motivator, fasilitator, informator, observator, dan evaluator. (Surawan,2021) menegaskan bahwa guru PAI perlu menumbuhkan semangat belajar Al-Qur’an di kalangan siswa melalui pemberian motivasi dan arahan yang berkesinambungan. Sebagai motivator, guru menanamkan kesadaran bahwa mempelajari Al-Qur’an merupakan ibadah sekaligus jalan menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Guru juga berperan sebagai fasilitator yang menyediakan bimbingan langsung dalam membaca dan menulis Al-Qur’an, baik di dalam maupun di luar jam pelajaran. Dalam perannya sebagai informator, guru memberi arahan yang jelas tentang teknik membaca huruf hijaiyah, hukum tajwid, serta adab mempelajari Al-Qur’an. Sebagai observator, guru memantau perkembangan kemampuan siswa dan menyesuaikan metode pembelajaran sesuai tingkat kemampuan mereka. Akhirnya, sebagai evaluator, guru menilai tidak hanya aspek kognitif berupa ketepatan bacaan, tetapi juga aspek afektif dan spiritual, seperti sikap hormat dan cinta terhadap Al-Qur’an. Lingkungan sekolah dan sosial juga memiliki kontribusi besar dalam menumbuhkan budaya literasi Al-Qur’an. Pentingnya kolaborasi antara guru, keluarga, dan lingkungan masyarakat dalam membangun ekosistem Qur’ani yang mendukung. Misalnya, sekolah dapat menyelenggarakan kegiatan One Day One Ayat, tadarus pagi, atau program pojok baca Al-Qur’an di setiap kelas. Kegiatan semacam ini tidak hanya memperkuat kemampuan teknis membaca, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan positif yang berakar pada nilai-nilai Qur’ani. Peran lingkungan keluarga pun tidak kalah penting; orang tua yang memberikan teladan dengan membaca Al-Qur’an di rumah dapat memperkuat motivasi anak untuk belajar. Kolaborasi antara guru dan orang tua dalam membimbing anak mempelajari Al-Qur’an menciptakan kesinambungan pembiasaan antara sekolah dan rumah, yang pada akhirnya menghasilkan generasi yang melek Al-Qur’an secara intelektual dan spiritual. Selain itu, inovasi dalam pembelajaran menjadi kunci penting agar literasi Al-Qur’an tetap relevan dengan perkembangan zaman. Guru PAI dapat memanfaatkan media digital seperti aplikasi Qur’an for Kids, audio tilawah, serta video interaktif untuk meningkatkan daya tarik pembelajaran. Penggunaan media digital mampu membuat pembelajaran Al-Qur’an lebih kontekstual, menarik, dan sesuai dengan karakteristik siswa generasi Z yang dekat dengan teknologi. Inovasi lain dapat berupa pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), seperti pembuatan poster nilai-nilai Qur’ani, drama kisah para nabi, atau pembuatan jurnal refleksi ayat. Strategi ini tidak hanya mengasah kemampuan literasi teks Al-Qur’an, tetapi juga membentuk keterampilan sosial, kolaboratif, dan berpikir kritis siswa. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya mampu membaca dan menulis Al-Qur’an, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa guru dan lingkungan memiliki peran yang saling melengkapi dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an. Guru menjadi ujung tombak dalam proses pembelajaran, sementara lingkungan sekolah dan keluarga menyediakan atmosfer yang mendukung tumbuhnya kebiasaan Qur’ani. Perpaduan keduanya menciptakan ekosistem pendidikan Islam yang tidak hanya menekankan kemampuan teknis membaca Al-Qur’an, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, pemahaman, dan pengamalan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Melalui pendekatan yang holistik, kontekstual, dan inovatif, literasi Al-Qur’an dapat tumbuh menjadi budaya hidup peserta didik yang berkarakter Qur’ani, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan kehidupan modern dengan berpegang teguh pada petunjuk Ilahi. Strategi dan Metode Peningkatan Literasi Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang Upaya peningkatan literasi Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang memerlukan strategi dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat pesisir, terutama anak-anak usia sekolah dasar dan menengah yang menjadi sasaran utama program TPQ dan Rumah Tahfidz. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan data sekunder, diketahui bahwa
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Socius E-ISSN: 3025-6704 anak-anak usia 7–12 tahun yang mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil mencapai 52%, sedangkan anak usia 13–18 tahun yang mampu membaca sekaligus memahami makna dasar ayat baru 37%. Selain itu, 45% anak usia sekolah rutin mengikuti kegiatan TPQ minimal tiga kali seminggu, dan terdapat peningkatan kemampuan literasi sebesar 9,5% antara tahun 2023 hingga 2025 berdasarkan data gabungan TPQ dan Rumah Tahfidz setempat. Data tersebut menunjukkan adanya perkembangan yang menggembirakan, namun juga mengindikasikan perlunya penguatan strategi dan metode pembelajaran yang lebih efektif dan berkelanjutan. 1. Strategi Penguatan Literasi Al-Qur’an Berbasis Komunitas Strategi peningkatan literasi Al-Qur’an di wilayah pesisir seperti Belawan Sicanang perlu menekankan pendekatan berbasis komunitas (community-based approach). Pendekatan ini relevan dengan hasil penelitian (Faruq,2023) yang menekankan bahwa keberhasilan program literasi Al-Qur’an sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Dalam konteks ini, masyarakat dapat terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran, baik sebagai pengajar sukarela, donatur, maupun penyedia fasilitas belajar. Program seperti “Rumah Qur’an Anak Pesisir” dan “Tadarus Bersama Anak Nelayan” telah menjadi contoh konkret penerapan strategi ini. Kegiatan tersebut tidak hanya memfasilitasi anak-anak untuk belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat nilai sosial dan spiritual melalui interaksi antaranggota masyarakat. Dengan adanya dukungan lingkungan yang religius dan rasa kebersamaan, proses pembelajaran menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan prinsip Community Based Research (CBR), di mana masyarakat menjadi subjek aktif dalam setiap tahap kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi program. 2. Inovasi Metode Pembelajaran Literasi Al-Qur’an Metode pembelajaran memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan peningkatan literasi Al-Qur’an. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru TPQ di Belawan Sicanang, metode yang umum digunakan meliputi talaqqi, tikrar, dan simā‘ī, yaitu pembacaan langsung di hadapan guru, pengulangan bacaan secara berulang, serta mendengarkan dan menirukan. Ketiga metode ini telah terbukti efektif bagi anak usia dasar karena melibatkan aspek auditori dan kinestetik, membantu memperkuat daya ingat dan pengucapan huruf. Selain itu, metode kinestetik yang mengombinasikan gerakan tubuh dengan bacaan (seperti metode body signal atau gesture learning) juga relevan diterapkan. Hasil studi (Lestari,2019) menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis kinestetik dapat meningkatkan retensi hafalan anak hingga 30% lebih cepat dibanding metode konvensional. Guru TPQ di Belawan Sicanang telah mulai mengadopsi pendekatan ini dengan menambahkan gerakan sederhana ketika anak menghafal, seperti menunjuk arah atau menggambarkan makna ayat dengan ekspresi tubuh. 3. Integrasi Literasi Al-Qur’an dan Motivasi Belajar Hubungan antara literasi Al-Qur’an dan motivasi belajar anak di Belawan Sicanang bersifat saling memperkuat. Anak-anak yang memiliki kemampuan membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik cenderung menunjukkan semangat belajar yang tinggi, disiplin, dan percaya diri. Berdasarkan observasi lapangan, siswa yang rutin mengikuti kegiatan tahfidz dan muroja‘ah di TPQ menunjukkan peningkatan dalam aspek kedisiplinan belajar umum di sekolah. Mereka lebih teratur dalam mengatur waktu, tekun mengerjakan tugas, dan aktif dalam kegiatan akademik. Hal ini sejalan dengan pandangan (Afifah,2023) bahwa kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an dapat menumbuhkan kesabaran, ketekunan, serta motivasi intrinsik untuk berprestasi. Proses menghafal dan memahami Al-Qur’an menuntut fokus dan konsistensi, yang kemudian terbawa dalam kegiatan belajar lainnya. Dengan demikian, pengembangan literasi Al-Qur’an bukan hanya menghasilkan anak yang cakap secara religius, tetapi juga membentuk karakter belajar yang kuat. 4. Tantangan dan Upaya Keberlanjutan Program Meskipun perkembangan literasi Al-Qur’an di Belawan Sicanang menunjukkan kemajuan yang positif, masih terdapat tantangan yang perlu diatasi. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan ruang belajar, kurangnya alat peraga edukatif, dan minimnya pelatihan bagi guru tahfidz. Faktor geografis wilayah pesisir yang rawan banjir juga sering menghambat aktivitas TPQ dan kegiatan tadarus sore hari. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan pelatihan berkelanjutan bagi guru dan ustazah TPQ, terutama dalam bidang tahsin, tajwid, dan metodologi pembelajaran
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Nur Intan/ Peningkatan Literasi Al-Qur'an Al-Qur’an berbasis anak. Pemerintah daerah bersama lembaga pendidikan tinggi Islam dapat menjalin kerja sama melalui program Pengabdian Masyarakat Qur’ani yang melibatkan mahasiswa dan dosen sebagai pendamping. Selain itu, pengembangan Rumah Qur’an Terpadu di setiap lingkungan RW dapat menjadi solusi strategis untuk menjamin keberlanjutan kegiatan literasi Al-Qur’an, sekaligus sebagai pusat pelatihan tahfidz, kajian tafsir anak, dan pembinaan keluarga Qur’ani. Faktor Pendukung dan Penghambat Peningkatan Literasi dan Motivasi Belajar di kelurahan belawan sicanang Peningkatan literasi dan motivasi belajar Al-Qur’an di Kelurahan Belawan Sicanang tidak terlepas dari berbagai faktor pendukung yang melibatkan aspek sosial, kelembagaan, dan lingkungan keagamaan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan telaah terhadap data TPQ serta Rumah Tahfidz setempat, terdapat beberapa faktor utama yang berperan penting dalam menunjang keberhasilan program ini. 1. Dukungan Keluarga dan Lingkungan Sosial yang Religius Keluarga merupakan faktor paling berpengaruh dalam menumbuhkan semangat anak untuk belajar Al-Qur’an. Berdasarkan data lapangan, sekitar 74% orang tua di Belawan Sicanang aktif memberikan dorongan dan pendampingan kepada anak saat belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an di rumah. Mereka tidak hanya memotivasi secara verbal, tetapi juga ikut terlibat dalam kegiatan tadarus dan hafalan bersama anakanaknya. Dukungan ini memperkuat motivasi internal anak serta menciptakan suasana religius di rumah. Menurut (Rahman,2023) keterlibatan keluarga secara konsisten dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran Al-Qur’an hingga 40% karena anak memperoleh teladan langsung dari lingkungan terdekatnya. 2. Peran Aktif Guru dan Tokoh Agama Guru dan ustazah di TPQ serta tokoh agama setempat memiliki kontribusi besar dalam meningkatkan kemampuan literasi Al-Qur’an anak. Mereka berperan sebagai pendidik spiritual, pembimbing, dan motivator. Melalui metode talaqqi, tikrar, dan pendekatan kinestetik, para guru menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan kontekstual. Beberapa tokoh masyarakat juga turut berpartisipasi dalam mengadakan lomba tilawah, tahfidz, dan Tadarus Anak Pesisir yang meningkatkan semangat anak untuk belajar. Hal ini sejalan dengan temuan (Afifah, 2023) bahwa peran guru yang aktif dan kreatif dalam mengembangkan media pembelajaran memiliki pengaruh langsung terhadap peningkatan minat dan hasil belajar peserta didik. 3. Dukungan Lembaga Keagamaan dan Program Sosial TPQ, mushalla, dan Rumah Tahfidz di Belawan Sicanang menjadi wadah utama bagi anak-anak dalam belajar Al-Qur’an. Program Rumah Qur’an Anak Pesisir yang diinisiasi oleh masyarakat bersama mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menghafal surat-surat pendek. Kegiatan ini berhasil meningkatkan partisipasi belajar anak hingga 9,5% dalam dua tahun terakhir. Selain itu, program ini juga memperkuat hubungan sosial masyarakat dan memperluas akses pendidikan nonformal di wilayah pesisir yang sebelumnya minim fasilitas. Hasil penelitian (Nasution,2024) menunjukkan bahwa keberhasilan program literasi Qur’ani berbasis masyarakat sangat bergantung pada kolaborasi antara lembaga pendidikan dan komunitas lokal. 4. Ketersediaan Media Pembelajaran Digital dan Audio Visual Pemanfaatan media digital seperti aplikasi hafalan, video murottal anak, serta alat bantu audio terbukti meningkatkan minat belajar dan memperbaiki pelafalan bacaan. Penggunaan Qur’an Apps for Kids atau media audio interaktif membantu anak belajar secara mandiri di rumah. Hasil studi (Wardani,2023) menguatkan bahwa media audiovisual dapat meningkatkan daya ingat anak hingga 25% dalam pembelajaran hafalan surat pendek. Dengan dukungan teknologi sederhana, anak-anak di Belawan Sicanang dapat mengakses pembelajaran Al-Qur’an dengan cara yang lebih menarik.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Socius E-ISSN: 3025-6704 Meskipun terdapat berbagai faktor pendukung yang signifikan, pelaksanaan program peningkatan literasi dan motivasi belajar Al-Qur’an di Belawan Sicanang masih menghadapi sejumlah hambatan yang memerlukan perhatian serius. Keterbatasan ruang belajar menjadi salah satu kendala utama. Beberapa TPQ di wilayah ini masih menempati ruangan sempit dan belum memiliki perlengkapan yang memadai seperti papan tulis, alat bantu tajwid, dan mushaf anak. Kondisi geografis Belawan Sicanang yang rawan banjir juga menyebabkan aktivitas belajar sering terganggu. Menurut (Dewi,2022), keberhasilan program tahfidz sangat bergantung pada ketersediaan lingkungan belajar yang kondusif. Minimnya sarana belajar menyebabkan motivasi anak menurun karena suasana belajar menjadi kurang nyaman dan tidak berkelanjutan. Sebagian guru TPQ belum memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang tahsin atau tahfidz. Berdasarkan hasil wawancara, sekitar 38% pengajar di TPQ Belawan Sicanang belum pernah mengikuti pelatihan pembelajaran Al-Qur’an berbasis metode modern. Hal ini berdampak pada keterbatasan variasi metode yang digunakan dan lambatnya peningkatan kemampuan anak. Sebagian besar masyarakat Belawan Sicanang bekerja sebagai nelayan dan buruh pelabuhan dengan jam kerja panjang, sehingga waktu untuk mendampingi anak belajar sangat terbatas. Hal ini berdampak pada kurangnya pengawasan dan pendampingan belajar di rumah. Anak-anak yang tidak mendapat dukungan keluarga cenderung memiliki motivasi yang lebih rendah dalam belajar Al-Qur’an. Menurut (Pramahdi,2025), keterlibatan emosional dan perhatian orang tua memiliki pengaruh langsung terhadap motivasi belajar anak, terutama dalam konteks pembelajaran agama yang membutuhkan pembiasaan dan keteladanan. Sebagian kegiatan TPQ dan Rumah Qur’an di Belawan Sicanang belum memiliki sistem evaluasi yang teratur. Evaluasi kemampuan anak masih dilakukan secara informal tanpa indikator terukur. Hal ini menyebabkan sulitnya menilai sejauh mana perkembangan literasi dan motivasi belajar anak dari waktu ke waktu. Sebagaimana ditegaskan oleh (Mulyani,2023), keberhasilan program literasi Al-Qur’an harus disertai sistem monitoring dan evaluasi berkala untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan kegiatan pembelajaran. Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, diperlukan langkah strategis dan kolaboratif. Pertama, perlu diadakan pelatihan guru tahfidz secara rutin bekerja sama dengan lembaga pendidikan tinggi Islam dan pemerintah daerah. Kedua, pembangunan Rumah Qur’an Terpadu di setiap lingkungan RW dapat menjadi solusi untuk pemerataan fasilitas belajar. Ketiga, dukungan dari masyarakat dan lembaga sosial melalui program donasi mushaf atau adopsi santri dapat memperkuat sarana pembelajaran anak-anak kurang mampu. Selain itu, pengembangan kurikulum lokal berbasis literasi Qur’ani dapat membantu memperkuat keterkaitan antara pembelajaran Al-Qur’an dan kehidupan sehari-hari anak. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai peningkatan literasi dan motivasi belajar AlQur’an anak-anak di Kelurahan Belawan Sicanang, dapat disimpulkan bahwa program literasi AlQur’an seperti kegiatan tahsin, hafalan surat-surat pendek, serta pembelajaran berbasis komunitas telah memberikan dampak positif terhadap kemampuan membaca dan memahami AlQur’an anak usia sekolah. Dukungan keluarga, peran aktif guru dan tokoh agama, serta lingkungan sosial yang religius menjadi faktor utama yang mendorong keberhasilan program ini, dengan peningkatan kemampuan literasi mencapai 9,5% dari tahun 2023 hingga 2025. Meskipun demikian, masih terdapat kendala seperti keterbatasan fasilitas belajar, kurangnya tenaga pendidik terlatih, dan rendahnya keterlibatan sebagian orang tua dari kalangan ekonomi rendah. Secara keseluruhan, peningkatan literasi Al-Qur’an tidak hanya memperkuat aspek kognitif anak dalam membaca dan memahami ayat suci, tetapi juga meningkatkan motivasi belajar, kedisiplinan, dan pembentukan karakter religius di lingkungan masyarakat pesisir. SARAN Untuk memperkuat hasil yang telah dicapai, disarankan agar para guru dan pengelola TPQ terus meningkatkan kompetensi dalam metode pembelajaran Al-Qur’an melalui pelatihan tahsin dan pemanfaatan media digital yang menarik bagi anak-anak. Orang tua diharapkan berperan aktif dalam membiasakan anak membaca Al-Qur’an di rumah, sementara masyarakat
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 23-31 Nur Intan/ Peningkatan Literasi Al-Qur'an dan tokoh agama dapat memperluas kegiatan seperti Rumah Qur’an dan Tadarus Anak Pesisir sebagai wadah pembinaan bersama. Pemerintah daerah diharapkan mendukung program literasi Qur’ani dengan menyediakan fasilitas belajar dan insentif bagi guru tahfidz. Selain itu, penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk mengukur keterkaitan antara tingkat literasi Al-Qur’an dengan motivasi belajar serta prestasi akademik anak, sehingga dapat menjadi dasar pengembangan kebijakan pendidikan berbasis nilai-nilai Qur’ani di wilayah pesisir. REFERENSI Faruq, M., & Yuniar, R. F. (2023). Peningkatan Literasi Al-Qur’an bagi Warga Lanjut Usia di Kelurahan Lesanpuro Kedungkandang Kota Malang. Jurnal Pengabdian Masyarakat Manage, 4(2), 151–158. https://doi.org/10.32528/jpmm.v4i2.8317 Farida, R. (2021). Kurikulum dan Materi Pembelajaran Literasi Al-Qur’an di SMA. Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 8(2), 32–44. Ikhsan, M., Isnaini, N., & Andriani, D. (2025). Peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Meningkatkan Literasi Al-Qur’an di Sekolah Menengah. JUPERAN: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 6(1), 25–38. Khotimah, K., Aulia, Y., Zahrah, Y., Rahmawati, R., & Fuadillah, M. N. (2023). Pemberdayaan TPA dalam Mengembangkan Kualitas Bacaan Al-Qur’an di Kelurahan Kameloh Baru. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 1(10), 2198–2205. Nurliah, N. (2024). Pengembangan Kurikulum Program Literasi Al-Qur’an Jenjang SMA. Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, 2(6), 115–125. Raoda, R., Setiawan, I. P., & Wahid, A. (2023). Implementasi Program Literasi untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar. Al-Musannif: Jurnal Pendidikan dan Pengembangan Guru, 5(1), 75–90. https://doi.org/10.56324/al-musannif.v5i1.88 Surawan, & Fatimah, C. (2021). Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Literasi Al-Qur’an di SMPN Satap 1 Kamipang Kabupaten Katingan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 8(2), 143–155. Zulaiha, A. (2022). Sumber Daya Pendukung Kegiatan Literasi Al-Qur’an di Sekolah. Jurnal Kajian Pendidikan Agama Islam, 9(1), 83–93.