214 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) ANALISA KEBOCORAN SAMBUNGAN LAS PIPA SANITARY SS 316L YANG DIRENDAM DALAM LARUTAN pH 4 Muhammad Oktariady1), M. Rasid2), dan Ella Sundari3)* 1)2)Program Studi Teknik Mesin Produksi dan Perawatan, Jurusan Teknik Mesin, Politeknik Negeri Sriwijaya. Jl. Srijaya Negara, Bukit Besar Palembang 30139, Indonesia *email korespondensi:
[email protected] INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK Received: 26/03/2025 Received in revised: 05/08/2025 Accepted: 05/08/2025 Online-Published: 08/10/2025 ©2025 The Authors. Published by Machinery: Jurnal Teknologi Terapan (Indexed in SINTA) doi: http://doi.org/10.5281/zenodo.17505055 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab kebocoran pada pipa sanitary berbahan SS 316L yang digunakan dalam saluran bahan tambah makanan. Kebocoran pada pipa diduga disebabkan oleh korosi akibat paparan larutan asam tersebut. Pengujian dilakukan dengan metode eksperimen, menggunakan 12 sampel yang mengalami perlakuan berbeda: tanpa pengelasan, pengelasan argon, dan pengelasan listrik dengan elektroda NSN-309L/E 309-16 dan NSN316/E 309-16. Seluruh sampel direndam selama 24 jam dalam larutan pH 4, kemudian diuji menggunakan metode gravimetri untuk mengukur kehilangan massa akibat pengikisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan asam pH 4 secara signifikan menyebabkan penurunan berat pada pipa, dengan tingkat pengikisan tertinggi terjadi pada sambungan las listrik. Persentase pengikisan tertinggi sebesar 2,99% terjadi pada pengelasan menggunakan elektroda NSN-309L/E 309-16, sementara sampel tanpa pengelasan hanya mengalami pengikisan sebesar 0,21%. Validitas data diuji dan dinyatakan valid berdasarkan perbandingan nilai r hitung dengan r tabel. Kesimpulan menunjukkan bahwa metode pengelasan memengaruhi tingkat kerentanan pipa terhadap korosi, dan pengelasan listrik lebih berisiko dibandingkan pengelasan argon dalam lingkungan asam. Kata Kunci : pipa sanitary SS 316L, larutan asam, pH 4, pengelasan, korosi ABSTRACT This study aims to analyze the cause of leakage in SS 316L sanitary pipes used for food additive distribution. The leakage is suspected to be caused by corrosion due to exposure to the acidic environment. The research was conducted experimentally using 12 samples subjected to different treatments: no welding, argon welding, and electric welding using NSN-309L/E 309-16 and NSN-316/E 309-16 electrodes. All samples were immersed for 24 hours in a pH 4 solution and tested using the gravimetric method to measure mass loss due to erosion. The results showed that pH 4 acid solution significantly caused mass reduction in the pipes, with the highest erosion occurring in electric welding joints. The highest erosion percentage, 2.99%, was found in samples welded with NSN-309L/E 309-16 electrodes, while unwelded samples experienced only 0.21% erosion. The validity of the data was tested and confirmed based on the comparison between the calculated r-value and the critical r-table value. The conclusion indicates that the welding method influences the pipe’s susceptibility to corrosion, with electric welding posing a higher risk than argon welding in acidic environments. Keywords : sanitary pipe SS 316L, acid solution, pH 4, welding, corrosion
215 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) 1. PENDAHULUAN PT. XXX atau lebih dikenal dengan nama XXX merupakan produsen berbagai jenis makanan dan minuman yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. PT. XXX ini memiliki cabangnya yang salah satu cabangnya yaitu PT. XXX di Palembang. Yang di mana pabrik ini memfokuskan untuk memproduksi supply bahan tambah makanan. Perusahaan melakukan proses produksi yang kontinu sehingga gangguan pada salah satu proses akan sangat mempengaruhi unit-unit proses selanjutnya [1]. Dalam menunjang kegiatan produksinya PT. XXX memiliki beberapa line perpipaan yang berbahankan stainless steel 316L yang di mana baik ketahanan maupun kekuatannya terhadap korosi [2]. Stainless steel 316L ini termasuk baja tahan karat yang bersifat non magnetik mempunyai ketahanan korosi yang baik [3]. Di dalam pipa tersebut berisikan bahan tambah makanan. Salah satu yang menjadi perhatian yaitu pipa penyaluran bahan tambah makanan yang selalu bocor. Beberapa indikasi penyebab pipa tersebut bocor yaitu kurangnya ketahanan suatu material dalam menahan pressure fluida, penipisan ketebalan pipa, proses pengelasan yang kurang baik sehingga menyebabkan dark bond pada weld metal yang mengakibatkan terjadinya disbonding atau lepasnya weld metal pada base metal, pemilihan bahan yang kurang kuat untuk menahan keasaman dari bahan tambah makanan, benturan partikel dan yang terakhir bisa jadi karena usia/lifetime dari pipa tersebut [4][5][6][7]. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi umur teknis pipa yaitu jenis material pipa, penyambungan pipa, proteksi korosi dan perawatan pipa serta lingkungan kerja di sekitar pipa seperti suhu, tekanan, oksigen, kandungan klor, biofouling, dan lain-lain [8]. Juga penyebab lainnya karena di dalam pipa tersebut terdapat endapan bahan tambah makanan, yang di mana menyebabkan perubahan tekanan, suhu, atau pH yang melepaskan karbon dioksida terlarut (CO2) yang disebut Scale [9]. Dalam proses pengelasan juga berpengaruh sangat signifikan terhadap kebocoran pipa baik saat proses penyambungan dengan pengelasan maupun saat proses pendinginan. Yang berpengaruh terhadap ketahanan pada pipa tersebut [10]. Kebocoran pipa bahan tambah makanan tidak bisa kita prediksi, kapan pipa tersebut bocor. Sehingga membuat kegiatan produksi menjadi terhambat dan menyebabkan kerugian besar untuk perusahaan baik itu kerugian perbaikan, gagal produksi maupun lambatnya pengiriman produk kepada konsumen. Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka akan dibuat beberapa analisa kegagalan dari pengelasan argon dengan teknik infus, pengelasan las listrik dengan menggunakan elektroda NSN-309L/E 309-16 dan NSN-316/E 309-16. Maka dari itu penulis memberi judul jurnal ini dengan “Analisa Pengaruh Sambungan Las terhadap Kebocoran pada Pipa Sanitary SS 316L yang direndam dalam Larutan pH 4”. 2. BAHAN DAN METODE 2.1 Alur Penelitian Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, yang bertujuan untuk menganalisis penyebab kebocoran pipa sanitary SS 316L. Eksperimen yang dilakukan dengan menganalisis pengaruh sambungan las terhadap kebocoran pada pipa sanitary SS 316L yang direndam dalam larutan asam pH 4. Proses penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis. Tahap pertama dimulai dengan kegiatan studi lapangan, yang mencakup observasi sistem aliran pada perpipaan serta identifikasi fluida yang terdapat di dalam pipa SS 316L di area produksi. Selanjutnya dilakukan studi pustaka, yaitu pengumpulan informasi melalui jurnal, artikel penelitian, buku ilmiah, dan sumber terpercaya dari internet, guna memperkuat dasar teori dan mendukung proses analisis. Berdasarkan hasil observasi dan kajian pustaka, perumusan masalah dan penetapan tujuan penelitian. Setelah itu dilakukan persiapan alat dan bahan uji, termasuk pemilihan pipa, elektroda, dan alat pengelasan. Lalu masuk ke tahap pembuatan bahan pengujian, di mana spesimen pipa dipotong, dilas sesuai metode tertentu (tanpa las, las argon, dan las listrik dengan dua jenis elektroda), dan dipersiapkan untuk perendaman. Proses dilanjutkan dengan pengujian ketahanan terhadap asam, yaitu pencelupan spesimen ke dalam larutan pH 4 selama 24 jam. Yang di mana, dilakukan penimbangan massa awal (sebelum pencelupan) dan akhir (setelah pencelupan) untuk mengetahui selisih berat sebagai indikator korosi menggunakan metode gravimetri. Seluruh data yang diperoleh dianalisis untuk melihat perbedaan pengikisan akibat korosi pada masingmasing jenis pengelasan dan dilakukan uji validitas data untuk mengecek ke-validan data tersebut. Terakhir, dari hasil analisis data, dilakukan penarikan kesimpulan mengenai pengaruh jenis pengelasan terhadap tingkat kebocoran pipa sanitary SS 316L terhadap asam.
216 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) 2.2 Diagram Alir Penelitian Gambar 1. Diagram Alir Penelitian 2.3 Peralatan, Bahan, dan APD Saat Pengujian 2.3.1 Peralatan Peralatan yang dipakai untuk pengujian terdiri dari mesin las, gas argon, setang las argon, penjepit massa las argon, regulator gas argon, selang penyambung regulator ke mesin las, gerinda tangan, dan gerinda duduk. 2.3.2 Bahan Bahan yang digunakan untuk pengujian terdiri dari tungsten las argon, elektroda, filler metal, batu gerinda potong, batu gerinda duduk, dan pipa sanitary SS 316L yang merupakan material yang tahan korosi [11]. 2.3.3 Alat Pelindung Diri (APD) saat pengujian Alat pelindung diri (APD) saat pengujian terdiri dari apron dan pelindung lengan, sepatu safety, sarung tangan las, kedok las, kedok gerinda, ear plug, sarung tangan, dan masker. 2.4 Langkah-Langkah dalam Pembuatan Sampel Spesimen Berikut merupakan langkah-langkah dalam pembuatan sampel spesimen untuk pengujian: 1. Persiapan alat dan bahan untuk pengujian. (seperti yang tertera di bagian 2.3.1 dan 2.3.2) 2. Pemotongan bahan pipa sanitary SS 316 L menjadi panjang 1 cm. 3. Pengelasan pada bahan. 4. Perapian bahan yang diuji.
217 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) 5. Pengukuran pH asam dari bahan tambah makanan. Didapat pH-nya sebesar 3,4. 6. Pengambilan larutan asam yang pH-nya hampir sama dengan pH 3,4. 7. Menimbang berat awal dari setiap sampel sebelum dicelupkan ke dalam larutan asam. 8. Pencelupan bahan uji ke dalam larutan asam dan di diamkan selama 1 hari / 24 jam. 9. Penimbangan berat sesudah di celupkan ke dalam larutan asam. 10. Setelah melakukan pengujian dilakukan analisis data hasil pengujian. . Gambar 2. Langkah dalam Pembuatan Sampel Spesimen (a) Penyetelan ampere trafo las dan pengelasan sampel, (b) Perapian sampel yang telah dilas, (c) Pengukuran pH asam pada bahan tambah makanan, (d) Penimbangan awal sampel sebelum dicelupkan dalam larutan asam, (e) Perendaman sampel pada larutan asam yang pH-nya sudah disamakan dengan pH bahan tambah makanan, (f) 12 sampel yang sudah dikelompokkan dan dilakukan proses perendaman larutan asam, (g) Penimbangan akhir sampel setelah direndam dalam larutan asam 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Uji Gravimetri Uji Gravimetri adalah analisis kuantitatif berdasarkan pada pengukuran bobot suatu unsur atau senyawa tertentu. Kelebihan gravimetri antara lain adalah tidak membutuhkan zat pembanding dan alat yang terkalibrasi hanya neraca analitik [12]. Pengujian dilakukan dengan Massa sampel sebelum dan setelah dilakukan uji, ditimbang untuk mengetahui selisih massanya [13]. Pengujian gravimetri ini dilakukan di laboratorium teknik kimia Politeknik Negeri Sriwijaya pada tanggal 6 Januari 2024. Pada uji gravimetri ini terdapat 4 spesimen dengan 1 spesimen terdapat 3 sampel. Jadi total ada 12 sampel yang diujikan. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui berapa berat benda yang terkikis dalam 24 jam/1440 menit. Berikut spesifikasi bahan uji sebagai berikut: (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g)
218 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) Tabel 1. Spesifikasi Bahan No Spesifikasi Bahan Keterangan 1 Jenis Bahan Pipa 2 Nama Bahan Pipa Sanitary SS 316L 3 Diameter Bahan 2 inch 4 Tebal Bahan 2 mm 5 Berat/Batang 14,68 kg Dalam pengujian ini akan ada 4 perlakuan pada bahan yaitu: 1. Tanpa Pengelasan. 2. Di Las Argon. 3. Di Las Listrik dengan Elektroda NSN-309L/E 309-16. 4. Di Las Listrik dengan Elektroda NSN-316/E 309-16. Dari 4 perlakuan pada bahan uji maka akan dilakukan pengujian gravimetri dengan hasil pengujian ditunjukkan pada Tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Gravimetri No. Nama / kode Sampel Parameter Uji Hasil Analisa Selisih (gr) Rata - Rata (gr) Sebelum (gr) Sesudah (gr) 1 ATanpa Pengelasan Uji Gravimetri 21,7003 21,6963 0,004 0,0021 2 BTanpa Pengelasan 21,3419 21,3407 0,0012 3 CTanpa Pengelasan 20,1575 20,1564 0,0011 4 ALas Argon Uji Gravimetri 34,5199 34,5082 0,0117 0,0071 5 BLas Argon 31,0919 31,0884 0,0035 6 CLas Argon 75,1558 75,1495 0,0063 7 ALas Listrik NSN309L/E 309-16 Uji Gravimetri 53,4077 53,3486 0,0591 0,0299 8 BLas Listrik NSN309L/E 309-16 52,9912 52,9776 0,0136 9 CLas Listrik NSN309L/E 309-16 64,9433 64,9261 0,0172 10 ALas Listrik NSN316/E 309-16 Uji Gravimetri 40,0720 40,0158 0,0562 0,0226 11 BLas Listrik NSN316/E 309-16 44,7658 44,7615 0,0043 12 CLas Listrik NSN316/E 309-16 50,1341 50,1268 0,0073 Dari data hasil pengujian gravimetri yang telah dilakukan, berikut merupakan grafik yang diperoleh dari hasil pengujian: Gambar 3. Grafik Rata-Rata Hasil Pengujian Berdasarkan grafik di atas dapat terlihat bahwa pengelasan dengan metode las listrik proses pengikisan pada pipa lebih besar dibandingkan dengan menggunakan las argon. 0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025 0.03 0.035 tanpa las las argon Las Listrik NSN309L Las Listrik NSN316L Nilai Uji Gravimetri (gr) Kode Sampel
219 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) 3.2 Analisa Data Hasil Pengujian Gravimetri Dari Tabel 2. hasil uji gravimetri dapat dilihat persentase pengaruh dari larutan asam terhadap pengikisan pada permukaan pipa dan permukaan pengelasan pada pipa. Berikut kesimpulan persentase pengaruh larutan asam berdasarkan hasil uji gravimetri di atas: a. Hasil analisa dari bahan uji tanpa pengelasan didapatkan nilai rata-rata sebesar 0,0021 sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase pengaruh larutan asam terhadap permukaan pipa dan permukaan pengelasan pada pipa memberikan pengaruh sebesar 0,21 %. b. Hasil analisa dari bahan uji yang di las argon didapatkan nilai rata-rata sebesar 0,0071 sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase pengaruh larutan asam terhadap permukaan pipa dan permukaan pengelasan pada pipa memberikan pengaruh sebesar 0,71 %. c. Hasil analisa dari bahan uji yang di las listrik NSN-309L/E 309-16 didapatkan nilai rata-rata sebesar 0,0299 sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase pengaruh larutan asam terhadap permukaan pipa dan permukaan pengelasan pada pipa memberikan pengaruh sebesar 2,99 %. d. Hasil analisa dari bahan uji yang di las listrik NSN-316/E 309-16 didapatkan nilai rata-rata sebesar 0,0226 sehingga dapat disimpulkan bahwa persentase pengaruh larutan asam terhadap permukaan pipa dan permukaan pengelasan pada pipa memberikan pengaruh sebesar 2,26 %. Berdasarkan hasil pengujian di atas diketahui semakin kompleks proses pengelasan dan semakin banyak campuran material yang digunakan, maka ketahanan permukaan pipa terhadap larutan asam cenderung menurun. Hal-hal yang mempengaruhi laju dari korosi, disebabkan oleh perubahan struktur mikro, ketebalan, dan komposisi logam [14]. Tabel 3. Data Persentase Pengaruh Asam Terhadap Terkikisnya Pipa No. Nama/Kode Sampel Rata-Rata Hasil Analisa Persentase Pengaruh 1 Tanpa Pengelasan 0.0021 0.21 % 2 Di Las Argon 0.0071 0.71 % 3 Di Las Listrik NSN-309L/E 309-16 0.0299 2.99 % 4 Di Las Listrik NSN-316/E 309-16 0.0226 2.26 % 3.2 Pembahasan Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengukur sah, atau valid tidaknya suatu penelitian [15]. Uji validitas bertujuan untuk memvaliditas suatu hasil pengujian yang menggunakan alat ukur, di sini pengujian validitas ini penulis memvaliditas hasil uji gravimetri, data yang digunakan dalam pengujian validitas ini yaitu tabel hasil uji gravimetri berat sebelum dan setelah dari pipa sanitary SS 316L 2” sebanyak 12 sampel. Tabel 4. Data Tabel Untuk Uji Validitas No. Nama/Kode Sampel Parameter Uji Hasil Analisa Selisih (gr) Rata-Rata (gr) Sebelum (gr) Sesudah (gr) 1 DTanpa Pengelasan Uji Gravimetri 21,7003 21,6963 0,004 0,0021 2 ETanpa Pengelasan 21,3419 21,3407 0,0012 3 FTanpa Pengelasan 20,1575 20,1564 0,0011 4 DLas Argon Uji Gravimetri 34,5199 34,5082 0,0117 0,0071 5 ELas Argon 31,0919 31,0884 0,0035 6 FLas Argon 75,1558 75,1495 0,0063 7 CLas Listrik NSN309L/E 309-16 Uji Gravimetri 53,4077 53,3486 0,0591 0,0299 8 BLas Listrik NSN309L/E 309-16 52,9912 52,9776 0,0136 9 CLas Listrik NSN309L/E 309-16 64,9433 64,9261 0,0172 10 BLas Listrik NSN316/E 309-16 Uji Gravimetri 40,0720 40,0158 0,0562 0,0226 11 DLas Listrik NSN316/E 309-16 44,7658 44,7615 0,0043 12 CLas Listrik NSN316/E 309-16 50,1341 50,1268 0,0073
220 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) No. Nama/Kode Sampel Parameter Uji Hasil Analisa Selisih (gr) Rata-Rata (gr) Sebelum (gr) Sesudah (gr) ∑X 50,1341 50,1268 - - ∑Y - 0,1855 - (∑X)2 2.513,43 2.512,7 - - (∑Y)2 - 5,026.13 - ∑X.Y 8,9252 8,9177 0,00741131 - ∑X2 25.140,6804 25.122,8372 0,00741131 0,00145959 ∑Y2 17,8503 rxy = 𝑁∑𝑋𝑌 − (∑𝑋)(∑𝑌) √{𝑁∑𝑋2 − (∑𝑋)2}{𝑁∑𝑌2 − (∑𝑌)2} (1) Dimana, rXY = Koefisien korelasi antara variabel X dan Y ∑X.Y = Jumlah perkalian antara variabel X dan Y ∑X2 = Jumlah dari kuadrat nilai X ∑Y2 = Jumlah dari kuadrat nilai Y (∑X)2 = Jumlah nilai X kemudian dikuadratkan (∑Y)2 = Jumlah nilai Y kemudian dikuadratkan Dengan nilai, ∑X = 50,1341 ∑Y = 0,1855 ∑X.Y = 8,9252 ∑X2 = 25.140,6804 ∑Y2 = 17,8503 Sehingga diperoleh rxy = 1,2218 Nilai r hitung untuk pertanyaan di atas adalah 1,2218. Untuk mengetahui suatu data itu valid. Maka harus nilai r hitung > nilai r tabel. Diketahui nilai r tabel yaitu (n-2) = 10 untuk taraf kesalahan 5% yaitu sebesar 0,5760. Nilai ini didapatkan dari r dibawah ini: Tabel 5. r tabel df = (N - 2) Tingkat Signifikansi Untuk Uji Satu Arah 0.05 0.025 0.01 0.005 0.0005 Tingkat Signifikansi Untuk Uji Dua Arah 0.2 0.05 0.02 0.01 0.001 1 0.9877 0.9969 0.9995 0.9999 1.0000 2 0.9000 0.9500 0.9800 0.9900 0.9990 3 0.8054 0.8783 0.9343 0.9587 0.9911 4 0.7293 0.8114 0.8822 0.9172 0.9741 5 0.6694 0.7545 0.8329 0.8745 0.9509 6 0.6215 0.7067 0.7887 0.8343 0.9249 7 0.5822 0.6664 0.7498 0.7977 0.8983 8 0.5494 0.6319 0.7155 0.7646 0.8721 9 0.5214 0.6021 0.6851 0.7348 0.8470 10 0.4973 0.5760 0.6581 0.7079 0.8233 Karena nilai r hitung > nilai r tabel yaitu 1,2218 > 0,5760 maka pertanyaan tersebut VALID. 4. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa asam pada bahan tambahan makanan berperan dalam mengurangi massa pipa, sehingga menyebabkan pengikisan dan berpotensi menimbulkan kebocoran. Proses pengelasan turut memengaruhi tingkat pengikisan, di mana pengelasan dengan metode las listrik menunjukkan tingkat pengikisan yang lebih tinggi dibandingkan dengan las argon.
221 MACHINERY JURNAL TEKNOLOGI TERAPAN VOL.6 NO.3, OKTOBER 2025 ISSN : 2723-3359 (Print) ISSN : 2776-673X (Online) Selain itu, pipa tanpa pengelasan mengalami pengikisan yang lebih rendah dibandingkan dengan pipa yang mengalami proses pengelasan, karena sambungan pada stainless steel akibat pengelasan lebih rentan terhadap korosi akibat rekristalisasi yang menyebabkan perubahan kekuatan dan korosi suatu struktur [16]. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pipa sanitary SS 316L 2” tanpa pengelasan memiliki tingkat pengikisan sebesar 0,21%, sedangkan pipa yang dilas argon sebesar 0,71%, pipa yang dilas listrik dengan elektroda NSN309L/E 309-16 sebesar 2,99%, dan dengan elektroda NSN-316/E 309-16 sebesar 2,26%. Seluruh data yang diperoleh telah dinyatakan valid berdasarkan uji validitas, dengan nilai r hitung sebesar 1,2218 yang lebih besar dari r product moment sebesar 0,5760. DAFTAR PUSTAKA [1] A. A. Arini, "Analisis Risiko Kebocoran Pada Tangki Penyimpanan Asam Sulfat Menggunakan Metode Quantitative Risk Analysis (QRA)," Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia, Final Rep., Feb. 13, 2024. [2] M. Husaini, M. Ali, and M. M. Nizar, "Analisis Kegagalan Daerah Lasan Pipa Stainless Steel Sebagai Media Reboiler Pabrik Pupuk," Proc. Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIII (SNTTM XIII), Depok, Indonesia, Oct. 15-16, 2014. [3] H. Putra, "Pengaruh Media Pendingin Sesudah Pengelasan Terhadap Sifat Mekanis Stainless Steel 316," Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia, Final Rep., Feb. 13, 2024. [4] Y. Mariah, "Studi Korosi Plat Baja Material Kapal Terhadap Salinitas Dan Derajat Keasaman (pH) Di Pelabuhan Pengasinan Pertamina Jakarta," Jurnal Indonesia Sosial Sains, vol. 2, no. 3, Mar. 2021. https://doi.org/10.36418/jiss.v2i3.219 [5] S. Nugroho and Rusnaldy, "Analisis Kebocoran Pipa Reformer Di Sebuah Perusahaan Petrokimia," Jurnal Teknik Mesin ROTASI, vol. 16, no. 2, pp. 2731,Apr.2014.https://doi.org/10.14710/rotasi.16.2.27-31 [6] N. L. Antara, "Pencegahan Akibat Terjadinya Karat Pada Pipa Boiler," Jurnal LOGIC, vol. 13, no. 3, Nov. 2013. [7] K. M. R. Khadafi, Hendradinata, F. Putri, and U. O. Meita, "Analisis Kegagalan Pipa Embedded Pada PLTU TE 3×10 MW," MACHINERY: Jurnal Teknik Mesin, vol. 5, no. 2, Jun. 2024. [8] D. Idamayanti, B. Bandanadjaja, and M. Achyarsyah, "Analisis Kegagalan Pipa AISI 316L Pada Lingkungan Lepas Pantai," Proc. STEMAN 2016, Politeknik Manufaktur Negeri Bandung, ISBN 978979-17047-6-2. [9] Y. Andrika, "Pengaruh Asam Organik Hasil Pyrolysis Cangkang Kelapa Sawit Sebagai Pereduksi Scale Pada Pipa Distribusi," Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia, Final Rep., Feb. 13, 2024. [10] A. Sam, "Analisa Kecepatan Korosi Pipa Galvanis Pada Tanah Dengan Tingkat Kehalusan Yang Berbeda," Jurnal SMARTek, Universitas Tadulako, Palu, Indonesia. [11] D. P. Triharto, "Studi Ketahanan Korosi Material SUS 316L, SUS 317L, SUS 329J dan HC-276 Dalam Larutan Asam Asetat Yang Mengandung Ion Bromida," M.S. thesis, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia, 2010. [12] E. K. Pengestuti and D. Petrus, "Analisis Kadar Abu dalam Tepung Terigu dengan Metode Gravimetri," Jurnal Kimia dan Rekayasa, vol. 2, no. 1, 2020, Universitas Setia Budi, Surakarta. [13] S. Novita, E. Ginting, and W. Astuti, "Analisis Laju Korosi dan Kekerasan Pada Stainless Steel 304 dan Baja Nikel Laterit Dengan Variasi Kadar Ni (0, 3, dan 10% Ni) Dalam Medium Korosif," Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika, vol. 6, no. 1, Jan. 2018, Universitas Lampung. [14] D. A. Pangestu, S. Hastuti, C. Pramono, et al., "Pengaruh Waktu Proses Thermal Spray Aluminium Terhadap Laju Korosi dan Struktur Morfologi Baja AISI 1020," MACHINERY: Jurnal Teknik Mesin, vol. 5, no. 3, Oct. 2024. [15] N. Wahyuni, "Uji Validitas dan Uji Reliabilitas," BINUS QMC, Nov. 2014. [16] Y. Purwanto and D. L. I. Saputra, "Pengukuran Laju Korosi Pada Kondisi Asam Material Stainless Steel Yang Mengalami Pengelasan," Proc. Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2020, Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN, Tangerang Selatan, 2020