scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Program Pendidikan dan Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Komprehensif Menuju Budaya Zero Accident dan Zero Risk Bagi Pekerja Konstruksi di Pesanggrahan, Jakarta Selatan

Aulia Nasywa Chairani, Anna Nabila, Hasna Mazaya, Regita Saharawati, Syahla Alifia Az-Zahr, Isnaini Hanifa, Naswa Tasya, Agustin Ratna Anjani, Salma Nisrina Cahyani, Ainur Rizqi Syavira

Full text

2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 7, Oktober 2025, Halaman 35-43 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17509507 Program Pendidikan dan Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Komprehensif Menuju Budaya Zero Accident dan Zero Risk Bagi Pekerja Konstruksi di Pesanggrahan, Jakarta Selatan A Comprehensive Occupational Safety and Health (OSH) Education and Training Program Toward Developing a Zero-Accident and Zero-Risk Culture among Construction Workers in Pesanggrahan, South Jakarta Aulia Nasywa Chairani1*, Anna Nabila2, Hasna Mazaya3 , Regita Saharawati4, Syahla Alifia AzZahr5 , Isnaini Hanifa6 , Naswa Tasya7 , Agustin Ratna Anjani8 , Salma Nisrina Cahyani9 , Ainur Rizqi Syavira10 1-10 Prodi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Email Korespondensi: [email protected] Abstrak Tingginya angka kecelakaan kerja secara global dan nasional, dengan tren kenaikan 5–7% di Indonesia, didorong oleh kelemahan dalam identifikasi bahaya (HIRARC), rendahnya kepatuhan SOP kerja aman, dan kurangnya penggunaan APD di kalangan pekerja proyek, di mana sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan K3 formal. Oleh karena itu, tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman dan kesadaran pekerja proyek bangunan di Pesanggrahan, Jakarta Selatan, mengenai risiko kerja melalui penerapan budaya Zero Accident, Zero Risk. Metode yang digunakan adalah ceramah interaktif dan tanya jawab dengan media PowerPoint, leaflet, dan alat P3K, yang berfokus pada topik HIRARC, P3K, pelaporan near miss, dan penggunaan APD. Melalui penyuluhan ini, diharapkan terjadi peningkatan kemampuan pekerja dalam mengenali potensi bahaya dan menjalankan prosedur aman, dengan hasil akhir berupa penurunan angka kecelakaan dan terwujudnya lingkungan kerja yang selamat, sehat, dan produktif. Saran utamanya adalah penguatan budaya pelaporan near miss sebagai sistem peringatan dini dan pengawasan ketat oleh manajemen untuk memastikan disiplin penggunaan APD dan kepatuhan SOP secara konsisten. Kata kunci: Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), HIRARC, Alat Pelindung Diri (APD), SOP Kerja Aman, Near Miss. Abstract The high incidence of work accidents globally and nationally, with an increasing trend of 5–7% in Indonesia, was driven by weaknesses in Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRARC), low adherence to Safe Work Standard Operating Procedures (SOPs), and insufficient use of Personal Protective Equipment (PPE) among project workers, most of whom had not attended formal Occupational Health and Safety (OHS/K3) training. Therefore, the objective of this activity was to increase the understanding and awareness of construction project workers in Pesanggrahan, South Jakarta, regarding occupational risks through the implementation of a Zero Accident, Zero Risk culture. The method used was interactive lectures and Q&A sessions, supported by media such as PowerPoint, leaflets, and first aid kits, which focused on the topics of HIRARC, First Aid (P3K), near miss reporting, and PPE usage. Through this intervention, an increase in workers’ ability to recognize potential hazards and implement safe procedures was achieved, resulting in the expected outcome of a reduction in accident rates and the realization of a safe, healthy, and productive work environment. The main recommendations emphasized the strengthening of a near miss reporting culture as an early warning system and strict supervision by management to ensure consistent adherence to SOPs and proper PPE use. Keywords : Occupational Health and Safety (OHS/K3), HIRARC, Personal Protective Equipment (PPE), Safe Work Procedures (SOP), Near Miss. Article Info Received date: 22 Oktober 2025 Revised date: 27 Oktober 2025 Accepted date: 31 Oktober 2025 PENDAHULUAN Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hal mendasar yang wajib ada di setiap lingkungan kerja. Data dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan bahwa setiap tahun terjadi lebih dari 340 juta kasus kecelakaan kerja, serta sekitar 2,3 juta pekerja di dunia 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 kehilangan nyawanya akibat kecelakaan maupun penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Fakta ini menegaskan bahwa risiko kerja masih menjadi permasalahan serius yang membutuhkan penanganan kolektif. BPJS Ketenagakerjaan (2022) mencatat lebih dari 265 ribu kasus kecelakaan kerja di Indonesia, dengan tren kenaikan sekitar 5–7% setiap tahunnya. Fakta ini menegaskan bahwa risiko kecelakaan tidak hanya dialami oleh sektor industri berat, tetapi juga sering terjadi pada aktivitas rutin di bidang jasa, konstruksi, maupun perkantoran. Penerapan K3 secara terstruktur dan konsisten menjadi kebutuhan yang mendesak untuk mencegah terjadinya insiden kerja. Salah satu penyebab utama tingginya angka kecelakaan kerja adalah lemahnya upaya identifikasi bahaya (HIRARC), ketidaktaatan terhadap SOP kerja aman, serta rendahnya pemahaman mengenai pemakaian APD. Berdasarkan penelitian Piramida Kecelakaan Heinrich, setiap satu kecelakaan fatal berbanding dengan 29 kecelakaan ringan dan sekitar 300 kondisi berisiko yang seringkali tidak dilaporkan. Fakta ini menegaskan bahwa pelaporan insiden maupun kondisi berbahaya menjadi langkah krusial dalam mencegah kecelakaan yang lebih parah. Pelatihan K3 sangat penting agar pekerja memiliki kemampuan dalam mengenali risiko kerja, menjalankan prosedur aman, memberikan pertolongan pertama, serta membangun kebiasaan melaporkan insiden/near miss dan menggunakan APD secara benar. Dengan meningkatnya pemahaman, keterampilan, dan sikap kerja yang berfokus pada keselamatan, diharapkan jumlah kecelakaan kerja dapat menurun serta tercipta lingkungan kerja yang lebih selamat, sehat, dan produktif. Hasil survei dan wawancara yang dilakukan di area proyek konstruksi yang dijadikan tempat edukasi K3 menunjukkan bahwa sebagian besar pekerja belum pernah mengikuti pelatihan K3 secara formal dan masih banyak yang jarang menggunakan APD lengkap dengan alasan kurang nyaman atau keterbatasan fasilitas. Walaupun mayoritas pekerja mengetahui adanya SOP kerja aman, hanya sekitar separuh dari mereka yang benar-benar menjalankannya secara konsisten di lapangan. Dari wawancara mendalam, terungkap bahwa pekerja menilai sosialisasi rutin, pelatihan praktis, serta pengawasan ketat dari mandor sangat diperlukan agar budaya disiplin K3 benar-benar terwujud. Pelatihan K3 sangat penting agar pekerja memiliki kemampuan dalam mengenali risiko kerja, menjalankan prosedur aman, memberikan pertolongan pertama, serta membangun kebiasaan melaporkan insiden maupun kondisi berbahaya dan menggunakan APD secara benar. Dengan meningkatnya pemahaman, keterampilan, dan sikap kerja yang berfokus pada keselamatan, diharapkan jumlah kecelakaan kerja dapat menurun serta tercipta lingkungan kerja yang lebih selamat, sehat, dan produktif. MASALAH DAN RUMUSAN PERTANYAAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di area proyek konstruksi yang dijadikan lokasi edukasi K3 yaitu Jalan Bintaro Permai No. 32, Pesanggrahan Rt.03/Rw 03, Kota Jakarta Selatan, Pesanggrahan, Dki Jakarta, Id, 12320, Pesanggrahan, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Dki Jakarta 12320, ditemukan bahwa sebagian besar pekerja belum pernah mengikuti pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara formal. Banyak pekerja yang masih jarang menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap karena alasan ketidaknyamanan atau keterbatasan fasilitas. Meskipun sebagian besar pekerja mengetahui adanya standar operasional prosedur (SOP) kerja aman, hanya sekitar separuh dari mereka yang menjalankannya secara konsisten. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran dan kedisiplinan pekerja terhadap penerapan K3 masih rendah, sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja. Berdasarkan situasi tersebut, dibutuhkan upaya edukasi dan pelatihan yang lebih terarah agar pekerja memiliki pemahaman, keterampilan, dan sikap kerja yang berfokus pada keselamatan. Sebelumnya, para pekerja konstruksi di wilayah Pesanggrahan, Jakarta Selatan, hanya mendapatkan informasi secara umum mengenai keselamatan kerja, namun belum pernah ada program edukatif yang secara spesifik membahas penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) secara komprehensif. Pengetahuan pekerja cenderung terbatas, terutama dalam hal identifikasi bahaya kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta penerapan prosedur kerja aman. Berdasarkan hasil survei dan wawancara, sebagian besar pekerja belum pernah mengikuti pelatihan K3 formal dan masih banyak yang tidak konsisten dalam menjalankan SOP keselamatan di lapangan. Berdasarkan uraian tersebut, kelompok tertarik untuk melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa Program Pendidikan dan Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Komprehensif Menuju Budaya Zero Accident 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 dan Zero Risk bagi Pekerja Konstruksi di Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Program ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman, keterampilan, dan kesadaran pekerja dalam menerapkan budaya K3 melalui metode pelatihan interaktif, simulasi lapangan, penyuluhan penggunaan APD, serta evaluasi pre–post test guna menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman, sehat, dan produktif. Gambar 1 Peta Lokasi Kegiatan Pengabdian Masyarakat KAJIAN PUSTAKA Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan upaya sistematis untuk melindungi pekerja dari potensi bahaya dan penyakit akibat kerja melalui penerapan prinsip pencegahan dan pengendalian risiko. Menurut International Labour Organization (ILO, 2013), penerapan sistem manajemen K3 mencakup proses identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko (HIRARC) sebagai langkah dasar untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman. HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control) menjadi pendekatan utama dalam mengelola risiko di tempat kerja (Priyanka & Basaria, 2023). Proses ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu: (1) Hazard Identification, mengenali potensi bahaya dari aspek fisik, kimia, biologi, ergonomi, mekanis, hingga psikososial; (2) Risk Assessment, menilai tingkat kemungkinan dan keparahan dampak yang mungkin terjadi; dan (3) Risk Control, menentukan strategi pengendalian berdasarkan hierarki pengendalian bahaya mulai dari eliminasi hingga penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Selain HIRARC, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) kerja aman juga menjadi bagian integral dari sistem K3. SOP berfungsi sebagai panduan pelaksanaan kegiatan kerja agar berlangsung secara konsisten, efisien, dan aman, sekaligus menjamin kepatuhan terhadap regulasi nasional seperti Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Permenaker No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja. SOP yang tersusun dengan baik mencegah terjadinya unsafe condition maupun unsafe action yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja. Faktor penting lainnya adalah kesiapan tenaga kerja dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Berdasarkan Permenakertrans Nomor PER.15/MEN/VIII/2008, setiap tempat kerja wajib memiliki petugas P3K yang terlatih agar cedera akibat kecelakaan dapat segera ditangani. Tindakan cepat dan tepat pada fase awal insiden sering kali menentukan tingkat keparahan cedera dan keselamatan korban (Herlinawati, 2008). Selanjutnya, pelaporan insiden dan near miss merupakan indikator budaya keselamatan yang sehat. Menurut ILO (2021), near miss adalah kejadian tak terduga yang berpotensi menyebabkan cedera atau kerugian namun berhasil dihindari. Sistem pelaporan yang non-punitif dan transparan memungkinkan perusahaan melakukan root cause analysis untuk mencegah kecelakaan di masa mendatang (Al Fayez, 2025). 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 Sementara itu, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan bentuk perlindungan paling dasar bagi pekerja terhadap berbagai risiko fisik, kimia, dan biologis. Penggunaan APD yang sesuai standar terbukti menurunkan angka kecelakaan kerja hingga 40% dan meningkatkan produktivitas pekerja sebesar 15% (Aldyirwansyah et al., 2023; Rahmawati et al., 2022). Dengan demikian, keberhasilan penerapan K3 di tempat kerja sangat bergantung pada kombinasi antara pengendalian teknis, administratif, dan perilaku pekerja yang disiplin. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Jalan Bintaro Permai No. 32, Pesanggrahan RT 03/RW 03, Kota Administrasi Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12320. Peserta kegiatan berjumlah 12 orang pekerja konstruksi dan warga sekitar yang terlibat dalam kegiatan pembangunan di wilayah tersebut. Metode pengabdian yang digunakan adalah penyuluhan dan edukasi interaktif mengenai penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan pendekatan partisipatif. Kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami konsep K3 secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara langsung dalam aktivitas kerja sehari-hari. Tahap awal pelaksanaan kegiatan dimulai dengan koordinasi bersama pihak kelurahan, mandor proyek, dan petugas K3 setempat untuk menentukan lokasi, waktu pelaksanaan, serta kebutuhan edukasi yang relevan bagi para pekerja. Selanjutnya, tim pengabdian menyusun materi pelatihan dan media edukatif seperti poster dan leaflet yang berisi panduan dasar K3, cara penggunaan APD, serta prosedur penanganan darurat. a. Pembukaan b. Pengisian pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal peserta mengenai prinsip dasar K3, penggunaan APD, dan tindakan P3K c. Penyuluhan dan diskusi mengenai identifikasi bahaya kerja (HIRARC), penerapan SOP kerja aman, serta budaya zero accident d. Simulasi ringan mengenai langkah-langkah pertolongan pertama sesuai prosedur P3K yang benar. e. Sesi tanya jawab interaktif f. Pengisian post test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan g. Evaluasi kegiatan dan penutup h. Penyerahan Poster Media Edukatif Pendekatan partisipatif dalam kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk membangun budaya kerja yang aman, sehat, dan produktif di lingkungan konstruksi. 1. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu pemberian pre-test, penyampaian materi edukatif mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3), simulasi penanganan luka baru dan luka bakar, serta post-test. Sebelum penyampaian materi, peserta terlebih dahulu mengisi angket pre-test yang bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat pengetahuan awal mereka mengenai prinsip dasar K3, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta prosedur pertolongan pertama di tempat kerja. Adapun hasil pre-test yang telah diperoleh yaitu sebagai berikut: No Pertanyaan Peserta yang Menjawab Ya Peserta yang Menjawab Tidak 1. Apakah semua pekerjaan di tempat kerja memiliki potensi bahaya? 12 peserta 0 peserta 2. Apakah memakai APD (helm, sarung tangan, sepatu safety) bisa 9 peserta 3 peserta 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 sepenuhnya mencegah kecelakaan? 3. Apakah kecelakaan kerja hanya disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja yang berbahaya? 8 peserta 4 peserta 4. Apakah kelelahan dan kurang istirahat bisa menyebabkan kecelakaan kerja? 12 peserta 0 peserta 5. Apakah SOP kerja aman harus diikuti agar pekerjaan lebih selamat? 12 peserta 0 peserta 6. Apakah “near miss” (hampir celaka) tidak perlu dilaporkan karena tidak menimbulkan cedera? 6 peserta 6 peserta 7. Apakah suara bising yang keras di tempat kerja termasuk bahaya fisik? 9 peserta 3 peserta 8. Apakah bahaya kimia dapat berasal dari cat, lem, atau cairan pembersih di tempat kerja? 10 peserta 2 peserta 9. Apakah pertolongan pertama (P3K) hanya boleh dilakukan oleh petugas medis? 6 peserta 6 peserta 10. Apakah tujuan utama K3 adalah melindungi pekerja dari risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja? 12 peserta 0 peserta Tabel 1. Hasil Pre-Test Hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar peserta telah memiliki pemahaman dasar yang baik mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Dari 10 pertanyaan yang diberikan, ratarata peserta mampu menjawab dengan benar sebanyak 8 hingga 9 soal. Sekitar 80% peserta menunjukkan tingkat pengetahuan yang positif terhadap konsep dasar K3, terutama terkait pentingnya mengikuti SOP kerja aman, keberadaan potensi bahaya di semua jenis pekerjaan, tujuan utama K3, serta pengaruh faktor kelelahan terhadap risiko kecelakaan. Namun, masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat. Beberapa peserta masih memiliki miskonsepsi mengenai pelaporan “near miss” (hampir celaka) dan peran pertolongan pertama (P3K), di mana sebagian menjawab bahwa kejadian kecil tidak perlu dilaporkan dan bahwa P3K hanya boleh dilakukan oleh petugas medis. Selain itu, 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 pemahaman tentang penggunaan APD dan sumber bahaya kimia juga belum sepenuhnya merata. Temuan ini akan menjadi dasar dalam penyusunan materi penyuluhan lanjutan agar lebih tepat sasaran, dengan fokus pada pelaporan insiden, pemahaman P3K, dan penguatan budaya K3 yang proaktif. Gambar 2. Tim PKM melakukan Penyampaian Materi Tim pengabdian masyarakat memberikan materi edukasi K3 secara langsung kepada peserta kegiatan. Penyampaian dilakukan secara interaktif, didukung dengan alat bantu visual berupa slide PowerPoint yang ditayangkan di layar untuk mempermudah pemahaman. Selama sesi berlangsung, peserta tampak antusias mengikuti penjelasan terkait potensi bahaya kerja, pentingnya penggunaan APD, serta penerapan SOP keselamatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program promosi kesehatan dan keselamatan kerja yang bertujuan meningkatkan kesadaran serta pengetahuan masyarakat dalam mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Gambar 3. Gambar 3 menunjukkan interaksi aktif antara peserta dan pemateri Gambar 3 menunjukkan interaksi aktif antara peserta dan pemateri ketika salah satu peserta menanyakan alasan pentingnya melaporkan insiden near miss di tempat kerja. Pemateri menjelaskan bahwa meskipun insiden tersebut tidak menimbulkan cedera, kejadian near miss dapat menjadi indikator adanya potensi bahaya yang bisa memicu kecelakaan di kemudian hari jika tidak segera ditindaklanjuti. Pelaporan near miss juga membantu dalam evaluasi risiko, perbaikan prosedur, dan peningkatan budaya keselamatan kerja. Penjelasan ini membantu peserta memahami bahwa pencegahan kecelakaan tidak hanya bergantung pada kejadian yang sudah terjadi, tetapi juga pada antisipasi dini terhadap kondisi berbahaya. Selama diskusi, terlihat antusiasme dan rasa ingin tahu peserta yang tinggi terhadap topik yang dibahas. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 Gambar 4 memperlihatkan kegiatan praktik langsung Gambar 4 memperlihatkan kegiatan praktik langsung yang dipandu oleh tim pengabdian masyarakat terkait prosedur pertolongan pertama (P3K) di tempat kerja. Dalam sesi ini, peserta diajarkan langkah-langkah dasar penanganan awal pada kecelakaan ringan, seperti membersihkan luka sebelum tenaga medis datang. Praktik ini bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan peserta dalam menghadapi situasi darurat serta menanamkan kebiasaan kerja yang aman. Selain praktik, pemateri juga menjelaskan pentingnya memahami prosedur P3K, penggunaan peralatan di kotak P3K, serta peran setiap individu dalam memberikan pertolongan pertama sesuai kemampuan. Selama simulasi, peserta menunjukkan antusiasme dan keterlibatan yang tinggi. Tahap terakhir adalah pemberian angket post-test sebagai langkah evaluasi untuk mengukur sejauh mana pemahaman peserta setelah mengikuti sesi penyuluhan K3. Kuesioner ini memuat pertanyaan mengenai potensi bahaya kerja, penggunaan alat pelindung diri (APD), penerapan SOP keselamatan, pelaporan near miss, serta prosedur dasar P3K. Bagian kedua dari post-test juga mencakup pertanyaan terkait perilaku, sikap, dan pengetahuan peserta mengenai pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Evaluasi ini tidak hanya bertujuan menilai peningkatan pengetahuan, tetapi juga melihat adanya perubahan pola pikir dan kesiapsiagaan peserta terhadap risiko kerja setelah kegiatan berlangsung. Sebagai bagian dari proses perbaikan kegiatan pengabdian berikutnya, peserta juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran dan masukan terkait pelaksanaan penyuluhan. Adapun hasil post-test yang diperoleh adalah sebagai berikut: No Pertanyaan Peserta yang Menjawab Ya Peserta yang Menjawab Tidak 1. HIRARC digunakan untuk identifikasi dan pengendalian risiko 12 peserta 0 peserta 2. Bahaya dapat terjadi akibat angkat beban dengan posisi salah 12 peserta 0 peserta 3. Pengendalian risiko paling efektif adalah eliminasi bahaya 11 peserta 1 peserta 4. APD boleh dijadikan satusatunya cara pencegahan kecelakaan 10 peserta 2 peserta 5. Ventilasi penting untuk 12 peserta 0 peserta 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 kurangi debu dan bahan kimia 6. Budaya menyalahkan pekerja menghambat pelaporan insiden 10 peserta 2 peserta 7. Mesin atau alat rusak harus segera diperbaiki 12 peserta 0 peserta 8. Laporan insiden penting untuk pencegahan kejadian serupa 12 peserta 0 peserta 9. Istirahat & peregangan mencegah gangguan otot (MSDs) 12 peserta 0 peserta 10. Zero Accident/Zero Risk bertujuan lingkungan kerja aman 11 peserta 1 peserta Tabel 2. Hasil Post-Test Hasil angket post-test menunjukkan bahwa pemahaman peserta terhadap materi K3 mengalami peningkatan yang signifikan setelah mengikuti penyuluhan. Dari total 12 peserta dan 10 pertanyaan yang diajukan, sebagian besar mampu menjawab seluruh butir soal dengan benar, dengan tingkat capaian berkisar antara 96% hingga 100%. Hal ini terlihat dari dominasi jawaban benar pada topiktopik penting, seperti penerapan HIRARC untuk mengenali dan mengendalikan risiko, pentingnya ventilasi dalam mencegah paparan bahan kimia, urgensi perbaikan alat kerja yang rusak, pelaporan insiden dan near miss, serta pemahaman mengenai tujuan Zero Accident. Meski demikian, masih terdapat sedikit kekeliruan pada dua aspek, yaitu anggapan bahwa penggunaan APD dapat dijadikan satu-satunya metode pencegahan kecelakaan, dan kurangnya pemahaman sebagian peserta mengenai dampak budaya menyalahkan (blame culture) terhadap pelaporan insiden. Secara keseluruhan, hasil ini mencerminkan bahwa kegiatan penyuluhan K3 telah berjalan efektif dan mampu meningkatkan kesadaran serta pengetahuan peserta terkait keselamatan dan kesehatan kerja. Gambar 5. Hasil Pres-Test dan Post-test Pengetahuan Masyarakat 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 7 Program Pendidikan dan Pelatihan (Chairani, dkk.) | 35-43 Hasil pre-test dan post-test dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan. Rata-rata pemahaman peserta meningkat dari 77,3% pada pre-test menjadi 96,7% pada post-test. Artinya terjadi peningkatan sebesar 19,4% setelah diberikan edukasi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Pencapaian ini mencerminkan bahwa penyuluhan berjalan efektif dalam meningkatkan kesadaran peserta terkait potensi bahaya kerja, penggunaan APD, penerapan SOP, pelaporan near miss, hingga pentingnya pertolongan pertama (P3K) di lingkungan kerja. Hasil kegiatan juga menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan perubahan sikap peserta dalam upaya pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Hal ini terlihat dari antusiasme peserta selama diskusi dan praktik simulasi P3K, serta hasil post-test yang menunjukkan skor yang lebih tinggi dibandingkan pre-test. Peserta menjadi lebih memahami pentingnya identifikasi bahaya, pengendalian risiko, budaya kerja aman, dan kesiapsiagaan menghadapi insiden. Selain itu, keterlibatan aktif masyarakat dalam kegiatan ini turut memperkuat kolaborasi antara tim pengabdian dan pihak setempat, yang diharapkan dapat mendukung keberlanjutan program promosi K3 di lingkungan masyarakat. SIMPULAN Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan aspek penting dalam mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman peserta, dari rata-rata 77,3% pada pre-test menjadi 96,7% pada post-test. Hal ini membuktikan bahwa penyuluhan, diskusi interaktif, dan simulasi P3K efektif meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan peserta terhadap potensi bahaya kerja. Keberhasilan ini menjadi dasar penting dalam membangun budaya Zero Accident dan Zero Risk, yang membutuhkan sinergi antara masyarakat, pekerja, dan pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif. REFERENSI Afif Sa’Roni. (2020). Terapan pertolongan pertama pada kecelakaan di tempat kerja yang dilaksanakan oleh PT. Bina Guna Kimia Kabupaten Semarang (Skripsi). Universitas Negeri Semarang. Aulia, U., & Usiono. (2023). Systematic literature review (SLR): Pertolongan pertama pada kecelakaan kerja. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(4), 6074–6087. https://doi.org/ Nusantara, A. C. P., Andriyani, A., & Srisantyorini, T. (2025). Kepatuhan penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pekerja konstruksi: Kajian literatur tentang pengaruh faktor individu dan pendekatan keselamatan kerja. Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF), 3(2), 135–146. Prasetyo, R., Ahya, R., Lestari, M. S., & Komariah, A. (2024). Implementasi alat pelindung diri sebagai esensi K3 pada pekerja las konstruksi di UMKM. Journal of Appropriate Technology for Community Services, 5(1), 1–8. Rofiatun, R., Kumara, T. S. A., & Jumiati, J. (2022). Musculoskeletal disorders: Risiko pada proses pembuatan pintu kayu. Jurnal Kesehatan Saintika Meditory, 6(1), 442–450. https://jurnal.syedzasaintika.ac.id Tambipi, F. J., Multazam, A., & Ikhtiar, M. (2020). Penerapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) konstruksi kapal di Kota Makassar. Journal of Muslim Community Health (JMCH) Tanjung, N., & Susilawati, S. (2024). Pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) pada pekerja bangunan terhadap keselamatan kerja. Corona: Jurnal Ilmu Kesehatan Umum, Psikologi, Keperawatan dan Kebidanan, 2(2), 86–96.