Volume 29 No 8 Tahun 2025 | 99 PENGARUH INFLUENCER MARKETING, E-WOM, DAN BRAND AWARENESS TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK SKINTIFIC DI YEPPA COSMETIC Putu Novi Riskayani1, Ni Nyoman Yulianthini2
[email protected],
[email protected] Universitas Pendidikan Ganesha Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness secara parsial dan simultan terhadap Keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif kausal. Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Jumlah sampel yang digunakan dalam pengumpulan data adalah kuesioner serta teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Adapun hasil dalam penelitian ini adalah: (1) influencer marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. (2) E-WOM berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. (3) brand awareness berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. (4) influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Kata Kunci: Brand Awareness, E-WOM, Influencer Marketing, Keputusan Pembelian. ABSTRACT This study aims to examine the partial and simultaneous effects of influencer marketing, electronic word of mouth (E-WOM), and brand awareness on purchase decisions of Skintific products at Yeppa Cosmetic. The research design used is quantitative causal research. The sampling technique employed in this study is purposive sampling. The data was collected through questionnaires, and the data analysis technique used is multiple linear regression analysis. The results of this study indicate that: (1) influencer marketing has a positive and significant effect on the purchase decisions of Skintific products at Yeppa Cosmetic; (2) E-WOM has a positive and significant effect on the purchase decisions of Skintific products at Yeppa Cosmetic; (3) brand awareness has a positive and significant effect on the purchase decisions of Skintific products at Yeppa Cosmetic; and (4) influencer marketing, E-WOM, and brand awareness simultaneously have a significant effect on the purchase decisions of Skintific products at Yeppa Cosmetic. Keywords : Brand Awareness, E-WOM, Influencer Marketing, Purchase Decisions. PENDAHULUAN Industri skincare di Indonesia telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat beberapa tahun terakhir sehingga dapat memicu persaingan yang ketat. Seiring meningkatnya populasi penduduk di Indonesia berusia muda dan kesadaran akan masyarakat mengenai pentingnya menjaga penampilan dan kesehatan kulit, industri kecantikan nasional semakin berkembang dengan melahirkan banyak brand kosmetik. Industri kecantikan global membawa pengaruh terhadap pandangan akan kecantikan ideal bagi perempuan Indonesia, skincare semakin diminati oleh seluruh masyarakat di Indonesia baik itu perempuan ataupun pria. Munculnya banyak brand kosmetik dari dalam dan luar negeri dengan berbagai kualitas dan fungsi yang begitu beragam. Tren penggunaan produk skincare juga menjadi suatu indikasi meningkatnya kualitas produk yang mampu bersaing dengan berbagai brand lainnya. Pertumbuhan fenomenal industri kosmetik di Indonesia ditandai dengan pertumbuhan jumlah industri kosmetik
100 | Jurnal Ekonomi Manajemen (JEKMa) yang ada di Indonesia yang mencapai 21,9 persen, yakni dari 913 perusahaan pada tahun 2022 dan menjadi 1.010 perusahaan pada pertengahan tahun 2023. Kemunculan akan tingginya kebutuhan pasar dalam katagori rangkaian perawatan kulit wajah atau skincare, mengakibatkan berbagai macam brand baru yang bermunculan dan juga menimbulkan persaingan yang ketat. Brand skincare yang telah banyak dikenal oleh konsumen skincare yaitu Skintific. Produk skincare Skintific ini merupakan brand skincare asal Kanada. Skintific dirilis di akhir 2021 dan telah menjadi salah satu brand paling banyak dicari. Skintific menjadi salah satu brand skincare yang meraih kesuksesan dengan penghargaan “Brand Pendatang Baru Terbaik Indonesia 2022”. Tidak hanya itu, berdasarkan kompas.com brand skincare merek skintific ini juga berhasil menempati posisi pertama dalam katagori “moisturizer terbaik” dan skintific juga menjadi “top 1 beauty category” hampir di seluruh e-commerce di Indonesia seperti shopee, tiktok shop, tokopedia, dan platform lainnya. Gambar 1. 10 Top Brand Pelembab Wajah Terlaris di E-Commerce Berdasarkan Gambar 1. diatas, terlihat bahwa produk skintific berada pada urutan pertama top brand yang paling terlaris di tahun 2022. Berdasarkan compas dashboard pada tahun 2023 menunjukkan bahwa skintific yang masuk peringkat ke enam di bawah Gulsha. Skintific masuk enam besar dengan market share mencapai 9,33%. Data Gambar 2 yaitu penurunan penjualan skincare skintific pada tahun 2023. Gambar 2. Penjualan Skincare Lokal dan Impor Per April 2023 Berdasarkan data pada Gambar 2. pada tahun 2024 brand skincare skintific mengalami penurunan penjualan berada pada posisi ke sembilan di antara beberapa produk skincare yang viral di tahun 2024. Yeppa Cosmetic yakni toko kosmetik yang menjual beragam jenis barang kecantikan mulai dari skincare, bodycare, kosmetik dan yang lainnya. Selain menjual barang kosmetik, Yeppa Cosmetic juga menjual beragam aksesoris seperti tas, sandal dan yang lainnya. Walaupun begitu, Toko Yeppa Cosmetic lebih di kenal masyarakat dengan barang kecantikan yang begitu diminati masyarakat dan terlaris dalam penjualannya. Salah satu brand produk kecantikan yang terlaris di Yeppa yaitu produk Skintific. Berikut merupakan data produk terlaris di Yeppa pada tahun 2024, sebagai berikut:
Volume 29 No 8 Tahun 2025 | 101 Gambar 3. Produk Terlaris di Yeppa Cosmetic Pada Tahun 2024 Berdasarkan Gambar 3. dapat dilihat bahwa produk skincare yang ada di toko Yeppa cosmetic yang paling di minati atau terlaris pada tahun 2024 yaitu Glad2glow dan di urutan kedua produk skincare skintific, di urutan selanjutnya ada scarlett, the originate, dan whitelab ada di urutan terakhir. Dilihat dari gambar di atas bahwa adanya penurunan penjualan dari produk skintific yang pada tahun sebelumnya selalu berada pada urutan pertama dalam katagori produk terlaris di Yeppa, sekarang mengalami penurunan persentase penjualan yang berada pada urutan kedua. Banyaknya produk yang ada di Yeppa Cosmetic, adapun pandangan dari para konsumen terhadap beragam produk yang ditawarkan oleh Yeppa Cosmetic. Berdasarkan hasil survei dan ulasan yang telah dikumpulkan, dapat dilihat bahwa setiap merek produk yang dijual seperti Skintific, Glad2Glow, Scarlett, The Originate, dan Whitelab memiliki daya tarik tersendiri di mata konsumen. Seperti pada produk Skintific diapresiasi karena teknologi barrier repairnya, sementara Glad2Glow dikenal dengan formulasi ringan yang cocok untuk kulit remaja dan harganya cukup terjangkau. Scarlett merupakan produk yang terkenal dengan berkat aroma khas dan hasil yang cepat terlihat. The Originote mendapat pujian atas pendekatannya yang minimalis namun efektif, dan untuk produk Whitelab dipercaya karena kandungan aktif yang fokus pada pencerahan kulit. Perbedaan preferensi ini menunjukkan bahwa konsumen Yeppa memiliki kebutuhan dan ekspektasi yang beragam terhadap produk perawatan kulit, yang semua produknya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Penurunan ini menjadi indikasi adanya perubahan dalam perilaku konsumen serta tingkat persaingan yang semakin ketat. Perusahaan dituntut untuk lebih cermat dalam menyusun strategi pemasaran guna mempertahankan loyalitas pelanggan dan menarik calon konsumen baru. Salah satu strategi yang banyak diterapkan adalah influencer marketing, yakni menggunakan tokoh-tokoh populer di media sosial untuk mempromosikan produk secara langsung kepada para pengikut mereka. Dalam konteks ini, Skintific aktif melakukan promosi melalui live streaming di TikTok dan Shopee, bekerja sama dengan berbagai influencer untuk meningkatkan visibilitas dan minat beli konsumen. Selain influencer marketing, kehadiran electronic word of mouth (E-WOM) juga memainkan peran besar dalam proses pengambilan keputusan konsumen. Di era digital, konsumen dengan mudah mengakses ulasan, testimoni, serta opini pengguna lain melalui media sosial dan platform e-commerce. Informasi ini sering kali menjadi acuan utama dalam mempertimbangkan pembelian suatu produk. E-WOM yang positif mampu meningkatkan kepercayaan terhadap suatu merek, sementara E-WOM negatif dapat menurunkan minat beli, terlebih di kalangan konsumen dengan kulit sensitif atau pertimbangan harga tertentu, seperti yang terjadi pada sebagian review Skintific. Faktor lain yang turut memengaruhi keputusan pembelian adalah brand awareness atau kesadaran merek. Konsumen cenderung memilih produk yang sudah mereka kenal dan ingat, karena dianggap lebih terpercaya. Brand awareness terbentuk dari paparan iklan, pengalaman penggunaan, atau pengaruh sosial yang berulang.
102 | Jurnal Ekonomi Manajemen (JEKMa) Dalam pasar yang padat pesaing seperti skincare, tingkat brand awareness yang tinggi menjadi salah satu kunci untuk menjaga eksistensi produk di benak konsumen. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang beragam terkait pengaruh influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness terhadap keputusan pembelian. Misalnya, penelitian oleh Shanaya et al. (2018), Herviani et al. (2020), dan Reza et al. (2022) menemukan bahwa influencer marketing dan E-WOM berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Namun, hasil berbeda ditemukan dalam penelitian Iren et al. (2023) yang menyatakan bahwa E-WOM tidak berpengaruh signifikan, serta penelitian Salsabilla et al. (2023) yang menyimpulkan bahwa influencer marketing dan brand awareness tidak signifikan dalam memengaruhi keputusan pembelian. Ketidakkonsistenan hasil penelitian ini membuka ruang bagi kajian lebih lanjut, khususnya pada objek, populasi, dan konteks yang berbeda. Influencer marketing merupakan salah satu strategi pemasaran digital yang memanfaatkan figur publik atau individu yang memiliki jumlah pengikut yang besar dan loyal di media sosial untuk mempromosikan produk atau layanan tertentu. Dalam konteks industri kecantikan, termasuk produk skincare seperti Skintific, influencer marketing menjadi strategi yang sangat efektif karena konsumen cenderung lebih mempercayai rekomendasi dari seseorang yang dianggap ahli atau memiliki pengalaman nyata, dibandingkan dengan iklan komersial konvensional. Skintific aktif menggunakan strategi ini melalui live streaming, konten review, dan endorsement di platform seperti TikTok dan Shopee. Kepercayaan yang tinggi terhadap influencer berpotensi memengaruhi minat dan keyakinan konsumen untuk melakukan pembelian. Maka dari itu penelitian ini berhipotesis bahwa H1: influencer marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Electronic word of mouth (E-WOM) mengacu pada segala bentuk ulasan, komentar, rekomendasi, maupun pengalaman yang dibagikan konsumen melalui platform digital seperti media sosial, marketplace, atau forum online. E-WOM memainkan peran penting dalam pembentukan persepsi konsumen karena informasi tersebut biasanya dianggap lebih autentik, tidak bias, dan berdasarkan pengalaman nyata pengguna. Konsumen yang hendak membeli produk skincare seperti Skintific cenderung mencari ulasan terlebih dahulu dari pengguna sebelumnya sebelum memutuskan untuk membeli. Ulasan positif dapat memperkuat keyakinan pembeli, sedangkan ulasan negatif dapat menurunkan minat pembelian, terutama jika menyangkut ketidakcocokan produk atau harga yang dianggap mahal. Oleh karena itu, H2: E-WOM berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Brand awareness atau kesadaran merek mencerminkan sejauh mana konsumen mengenal dan mengingat suatu merek. Dalam industri kosmetik dan skincare, brand awareness sangat penting karena konsumen lebih cenderung memilih produk dari merek yang sudah dikenal dan dipercaya. Skintific sebagai brand baru yang muncul pada akhir 2021 telah memperoleh berbagai penghargaan dan visibilitas tinggi di media sosial dan e-commerce, yang tentunya membentuk tingkat brand awareness tertentu di benak konsumen. Ketika konsumen sudah familiar dengan suatu merek, maka potensi mereka untuk melakukan pembelian akan meningkat karena merasa lebih aman dan percaya terhadap kualitas produk tersebut. Oleh sebab itu, H3: brand awareness berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic.
Volume 29 No 8 Tahun 2025 | 103 Dalam dunia pemasaran modern, pengaruh terhadap keputusan pembelian tidak hanya berasal dari satu sumber, tetapi merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor. Influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness merupakan tiga elemen penting yang saling melengkapi dalam membentuk persepsi, keyakinan, dan niat beli konsumen. Influencer marketing dapat menciptakan daya tarik awal, E-WOM memperkuat bukti sosial (social proof), dan brand awareness memberikan jaminan atas reputasi produk yang dibeli. Ketiganya berkontribusi secara kolektif dalam memengaruhi keputusan akhir konsumen untuk melakukan pembelian. Oleh karena itu, H4: influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Berdasarkan pemaparan di atas, Toko Yeppa Cosmetic di Singaraja, yang dikenal sebagai toko yang menjual berbagai produk skincare dan kosmetik, termasuk Skintific, menarik untuk mengetahui bagaimana ketiga faktor tersebut memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh influencer marketing, electronic word of mouth (E-WOM), dan brand awareness terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. METODE PENELITIAN Penelitian ini dirancang untuk memperoleh data mengenai pengaruh influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Penelitian ini mengadopsi pendeketan kuantitatif kausal dengan menggunakan analisis regresi linier berganda yang diolah dengan menggunakan aplikasi Statistical Package for Social Science (SPSS) versi 26 for windows. Populasi yang digunakan adalah konsumen pengguna produk skintific di Yeppa Cosmetic, yang pernah melakukan pembelian dan konsumen yang berusia minimal 16 tahun yang sudah bisa untuk mengisi kuesioner. Teknik sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu nonprobability sampling dengan metode purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner, yang dimana sebelum kuesioner disebar terlebih dahulu melakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Analisis pengukuran kuesioner dilakukan dengan memberikan nilai dari setiap masing-masing pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Metode pengukuran yang akan digunakan dalam kuesioner yaitu menggunakan skala likert. Penelitian ini mengumpulkan skala dalam penyusunan kuesioner yaitu skala ordinal atau skala likert, dengan lima alternatif jawaban yaitu dari 1 (sangat tidak setuju) hingga 5 (sangat setuju). Variabel dependen (Y) adalah variabel tergantung yang keberadaannya dipengaruhi variabel bebas (Telagawathi & Yulianthini, 2022). Dalam penelitian ini variable dependen yaitu keputusan pembelian dan untuk variable independent yaitu influencer marketing (X1), E-WOM (X2), dan brand awareness (X3). Sebelum menuju tahap pengolahan data dengan analisis regresi linier berganda, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang dimana syarat analisis regresi linier berganda harus terbebas dari asumsi klasik yang meliputi: uji normalitas, uji multikolinearitas, dan uji heteroskesdastisitas. Setelah itu akan dilakukan uji analisis regresi linier berganda untuk mengetahui sejauh mana model regresi dalam menerangkan variabel dependen dapat dilihat dengan Koefisien Determinasi (R2) yang didapatkan. Selanjutnya untuk menjawab hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan dapat diketahui dengan melakukan uji hipotesis yang terdiri uji parsial (uji t) dan uji simultan (uji F).
104 | Jurnal Ekonomi Manajemen (JEKMa) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh item dalam pengujian memenuhi kreteria uji validitas dan uji reliabilitas. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Validitas dalam suatu pernyataan dikatakan valid atau tidak ditentukan dengan yaitu r-hitung. Apabila r-hitung < r-tabel (pada taraf signifikan 5%), menunjukkan bahwa item pernyataan tersebut dikatakan tidak valid, dan begitupun sebaliknya. Tabel 1. Hasil Uji Validitas No Variabel Indikator r-hitung r-tabel Keterangan Influencer Marketing (X1) X1.1 0,538 0,361 Valid X1.2 0,645 0,361 Valid 1. X1.3 0,554 0,361 Valid X1.4 0,868 0,361 Valid X1.5 0,592 0,361 Valid X2.1 0,857 0,361 Valid 2. E-WOM (X2) X2.2 0,663 0,361 Valid X2.3 0,803 0,361 Valid Brand Awareness (X3) X3.1 0,806 0,361 Valid 3. X3.2 0,841 0,361 Valid X3.3 0,883 0,361 Valid Y1 0,642 0,361 Valid 4. Keputusan Pembelian (Y) Y2 0,834 0,361 Valid Y3 0,715 0,361 Valid Y4 0,817 0,361 Valid Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Berdasarkan hasil Tabel 1, diketahui bahwa pada item pernyataan variabel keputusan pembelian, influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness pada kuesioner tersebut memiliki nilai r-hitung > r-tabel (pada taraf signifikansi 5%) atau dapat dikatakan bahwa r-hitung lebih besar dari r-tabel (0,361), maka dapat diketahui bahwa pada pernyataan kuesioner tersebut dikatakan valid. Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila memenuhi kriteria pengujian reliabilitas instrumen dengan menggunakan taraf signifikansi 5% (Telagawathi & Yulianthini, 2022). Selanjutnya, untuk mengetahui reliabel tidaknya suatu data yang diuji maka harus diuji reliabilitasnya terlebih dahulu. Suatu variabel dikatakan reliabel (andal) jika memberikan nilai Croncbach Alpha > 0,60. Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Variabel Cronbach's Alpha Keterangan Influencer Marketing (X1) 0,647 Reliabel E-WOM (X2) 0,656 Reliabel Brand Awareness (X3) 0,789 Reliabel Keputusan Pembelian (Y) 0,730 Reliabel Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Berdasarkan pada Tabel 2, menunjukkan hasil bahwa nilai Cronbach alpha dari masing-masing variabel > 0,60. Dengan demikian, ini menandakan bahwa seluruh item pernyataan pada kuesioner dapat disimpulkan reliabel.
Volume 29 No 8 Tahun 2025 | 105 Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel residual mempunyai distribusi normal ataukah tidak mempunyai distribusi normal, yang menjadi syarat penting dalam regresi linier berganda. Hasil uji normalitas menggunakan grafik normal probability plot yang dapat menunjukkan bahwa titik-titik data tersebar dan sejajar mengikuti garis diagonal. Pengujian uji normalitas menggunakan metode One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test One Sampel Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual N 150 Normal Parametersa,b Mean 0,0000000 Std. Deviation 0,81785818 Most Extreme Differences Absolute 0,058 Positive 0,058 Negative -0,038 Test Statistic 0,058 Asymp. Sig. (2-tailed) 0,200 Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Berdasarkan pada Tabel 3, dapat dilihat bahwa nilai Sig. sebesar 0,200. Pada nilai Sig. tersebut menunjukan bahwa 0,200 > 0,05 untuk statistic One Sampel KolmogorovSmirnov Test. Dengan demikian dapat dikatakkan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Tabel 4. Hasil Uji Multikolinieritas Modal Collinearity Statistics Keterangan Tolerance VIF Influencer Marketing 0,663 1,508 Bebas Multikolinieritas E-WOM 0,580 1,723 Bebas Multikolinieritas Brand Awareness 0,589 1,697 Bebas Multikolinieritas Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Berdasarkan pada Tabel 4 diatas diketahui nilai VIF dari setiap variabel bebas (variabel independent) lebih kecil dari 10 dan untuk nilai tolerance lebih dari 0,10. Maka dapat disimpulkan bahwa nilai korelasi antara variabel bebas memiliki korelasi yang lemah. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa antara variabel bebas atau variabel independent dalam penelitian ini yaitu influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness tidak terjadi multikolinieritas. Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dengan cara melihat grafik scatterplot. Untuk mengetahui terjadi atau tidaknya dapat dilihat pada titik-titik tersebut apakah membentuk pola tertentu yang teratur dan titik-titik menyebar diatas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan bahwa pada model regresi dalam penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas. Selain menggunakan metode Scatterplot untuk menentukan hasilnya, adapun untuk memperkuat hasil uji heteroskedastisitas dapat digunakan uji Glejser.
106 | Jurnal Ekonomi Manajemen (JEKMa) Tabel 5. Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan Uji Glejser Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 X1 0,013 0,017 0,076 0,775 0,439 X2 -0,041 0,025 -0,169 -1,607 0,110 X3 -0,041 0,029 -0,146 -1,397 0,165 Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Berdasarkan pada Tabel 5, diketahui bahwa nilai signifikan antara variabel bebas dengan absolute residual (ABS) memiliki nilai lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi yang digunakan tidak terdapat gejala heteroskedastisitas, sehingga dapat dikatakan layak untuk diuji lebih lanjut yaitu analisis regresi linier berganda. Pengolahan data dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan program Statistical Package for Social Science (SPSS) 26 for Windows, yang digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh variabel independent terhadap variabel dependen. Tabel 6. Uji Regresi Linier Berganda Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 2,260 0,517 4,371 0,000 X1 0,070 0,029 0,100 2,465 0,015 X2 0,371 0,042 0,384 8,832 0,000 X3 0,643 0,049 0,569 13,184 0,000 Berdasarkan pada Tabel 6, hasil penelitian yang diperoleh dari nilai konstanta (α) sebesar 2,260. Sedangkan, nilai koefisien variabel influencer marketing (β1) sebesar 0,070, nilai koefisien variabel E-WOM (β2) sebesar 0,371 dan nilai koefisien variabel brand awareness (β3) sebesar 0,643. Sehingga persamaan regresi diformulasikan sebagai berikut. Y = 2,260 + 0,070 + 0,371 + 0,643 + ε Konstanta sebesar 2,260 menunjukkan bahwa apabila variabel influencer marketing (X1), E-WOM (X2), brand awareness (X3) bernilai konstan, maka variabel keputusan pembelian (Y) memiliki nilai sebesar 4,328 satuan. Influencer marketing (X1) memiliki koefisien regresi (β1) sebesar 0,070. Nilai dari koefisien regresi yang positif menunjukkan bahwa variabel influencer marketing (X1) berpengaruh secara positif terhadap keputusan pembelian (Y). Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan influencer marketing satu satuan maka variabel keputusan pembelian meningkat sebesar 0,070 sehingga menjadi 2,330 (2,260 + 0,070), dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya adalah tetap. E-WOM (X2) memiliki koefisien regresi (β2) sebesar 0,371. Nilai dari koefisien regresi yang positif menunjukkan bahwa variabel EWOM (X2) berpengaruh secara positif terhadap keputusan pembelian (Y). Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan E-WOM satu satuan maka variabel keputusan pembelian meningkat sebesar 0,371 sehingga menjadi 2,631 (2,260 + 0,371), dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya adalah tetap. Brand Awareness memiliki koefisien regresi (β3) sebesar 0,643. Nilai dari koefisien regresi yang positif menunjukkan bahwa
Volume 29 No 8 Tahun 2025 | 107 variabel brand awareness (X3) berpengaruh secara positif terhadap keputusan pembelian (Y). Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan brand awareness satu satuan maka variabel keputusan pembelian meningkat sebesar 0,643 sehingga menjadi 2,903 (2,260 + 0,643), dengan asumsi bahwa variabel bebas lainnya adalah tetap. Demikian pada uji t (uji parsial) pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa, berdasarkan hasil rekapan uji regresi linier berganda pada Tabel 6 menunjukkan bahwa, hipotesis pertama yaitu adanya pengaruh influencer marketing (X1) terhadap keputusan pembelian (Y) produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Hasil uji pada variabel influencer marketing diperoleh t hitung sebesar 2,465 > 1,655 ttabel dan memperoleh nilai signifikasi sebesar 0,015 < 0,05, Dapat disimpulkan bahwa thitung > ttabel sehingga terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hipotesis kedua yakni pengaruh E-WOM (X2) terhadap keputusan pembelian (Y) produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Hasil uji pada variabel E-WOM diperoleh thitung sebesar 8,832 > 1,655 ttabel dan memperoleh nilai signifikasi sebesar 0,000 < 0,05, Dapat disimpulkan bahwa thitung > ttabel sehingga terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Sedangkan untuk hipotesis ketiga yakni pengaruh brand awareness (X3) terhadap keputusan pembelian (Y) produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Hasil uji pada variabel E-WOM diperoleh thitung sebesar 13,184 > 1,655 ttabel dan memperoleh nilai signifikasi sebesar 0,000 < 0,05, Dapat disimpulkan bahwa thitung > ttabel sehingga terdapat pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Tabel 7. Uji F (Uji Simultan) Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. Regression 522,875 3 174,292 255,321 0,000 Residual 99,665 146 0,683 Total 622,540 149 Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Hipotesis keempat yang diajukan dalam penelitian ini adalah pengaruh influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Dimana diketahui bahwa nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga hal ini menunjukkan bahwa H0 ditolak dan untuk H4 diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari influencer marketing, E-WOM, dan brand awareness terhadap keputusan pembelian produk Skintific di Yeppa Cosmetic. Dimana ketiga variabel seperti influencer marketing (X1), EWOM (X2), dan brand awareness (X3) secara bersama-sama berperan dalam meningkatkan keputusan pembelian (Y). Tabel 8. Uji Koefisien Determinasi (R2) Model R R Square Adjust R Square Std. Error of the Estimate 1 0,916 0,840 0,837 0,82622 Sumber: Output SPSS 26.0 for Windows Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada nilai R Square sebesar 0,840. Ini berarti sebesar 84% keputusan pembelian di pengaruhi oleh influencer marketing, EWOM, dan brand awareness secara bersama-sama. Sedangkan variabel lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini memiliki pengaruh sebesar 16%.