scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Analisis Kesalahan Berbahasa pada Karangan Siswa di Era Digital

Amelia Sika1, Nur Hakima Akhirani Nasution2, Isma Sarah3, Pitriyanti Harahap4, Suzy Hotmalia5

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 93-98 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17536436 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected] [email protected], [email protected], [email protected] Analisis Kesalahan Berbahasa pada Karangan Siswa di Era Digital Analysis of Language Errors in Students’ Writing in the Digital Era Amelia Sika1, Nur Hakima Akhirani Nasution2, Isma Sarah3, Pitriyanti Harahap4, Suzy Hotmalia5 1, 2, 3,4,5Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Syariah, IAI Padang Lawas, Sibuhuan, Kabupaten Padang Lawas, Indonesia A B S T R A C T This study aims to analyze language errors in students’ essays in the digital era using a literature study method. The data sources were obtained from various research articles and academic publications published between 2020 and 2025. The results show that the most common language errors occur in aspects of spelling, morphology, syntax, and semantics. These errors are generally caused by students’ low mastery of Indonesian grammar rules and the influence of digital culture, which encourages the habitual use of informal language in writing. The development of digital technology, on the one hand, provides opportunities for students to easily access learning resources but, on the other hand, presents new challenges for maintaining linguistic accuracy. Therefore, an adaptive Indonesian language learning strategy is required—one that balances digital literacy and proper language use. This study is expected to contribute to improving the effectiveness of writing instruction and fostering students’ awareness of the importance of using correct and standard Indonesian in the modern digital era. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan berbahasa pada karangan siswa di era digital dengan menggunakan metode studi literatur. Sumber data berasal dari berbagai penelitian dan publikasi ilmiah yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa yang paling sering ditemukan meliputi aspek ejaan, morfologi, sintaksis, dan semantik. Kesalahan tersebut umumnya disebabkan oleh rendahnya penguasaan kaidah bahasa Indonesia dan pengaruh budaya digital yang membuat siswa terbiasa menggunakan bahasa informal dalam kegiatan menulis. Perkembangan teknologi digital di satu sisi memberikan peluang bagi siswa untuk mengakses sumber belajar dengan mudah, namun di sisi lain menimbulkan tantangan baru terhadap ketepatan berbahasa. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran bahasa Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, dengan menekankan keseimbangan antara literasi digital dan kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran menulis serta kesadaran siswa terhadap pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah di era modern.. PENDAHULUAN Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam dunia pendidikan sebagai alat komunikasi, penyampaian gagasan, serta sarana pengembangan kemampuan berpikir logis dan kritis siswa. Dalam pembelajaran bahasa, keterampilan menulis menjadi aspek yang sangat penting karena melalui kegiatan menulis siswa dapat mengekspresikan ide, menyusun argumen, dan berlatih menggunakan bahasa yang baik dan benar. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesalahan berbahasa masih sering muncul dalam karangan siswa di berbagai jenjang pendidikan. Kesalahan tersebut mencakup aspek ejaan, morfologi, diksi, dan struktur kalimat. Penelitian oleh Septania et al. (2023) menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar masih banyak melakukan kesalahan dalam penggunaan huruf kapital dan tanda baca ketika menulis karangan deskripsi. A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 19, 2025 Revised 20 Oktober 2025 Accepted 29 Oktober 2025 Available online 04 November. 2025 Keywords kesalahan berbahasa, karangan siswa, era digital, studi literatur, pembelajaran bahasa Indonesia Keywords language errors, students’ essays, digital era, literature study, Indonesian language learning This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 93-98 Socius E-ISSN: 3025-6704 Kesalahan serupa juga ditemukan dalam penelitian Angel (2022) terhadap karangan siswa SMA di Nusa Tenggara Timur. Peneliti menemukan bahwa kesalahan ejaan, diksi, dan struktur kalimat masih mendominasi tulisan siswa, terutama karena kurangnya penguasaan terhadap kaidah kebahasaan formal dan pengaruh bahasa sehari-hari yang terbawa ke dalam tulisan akademik. Hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa fenomena kesalahan berbahasa bukan hanya persoalan teknis linguistik, tetapi juga mencerminkan kurangnya kesadaran siswa terhadap pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang sesuai kaidah. Era digital membawa pengaruh besar terhadap kebiasaan berbahasa generasi muda. Meningkatnya penggunaan media sosial, pesan instan, dan platform digital lain membuat siswa terbiasa menggunakan bentuk bahasa yang lebih singkat, informal, bahkan tidak sesuai dengan tata bahasa baku. Sholeha & Herdiana (2022) dalam penelitiannya terhadap siswa SMP N 13 Tasikmalaya menemukan bahwa banyak siswa mencampuradukkan bahasa Indonesia formal dengan bahasa sehari-hari atau bahasa daerah dalam karangan mereka, dan hal ini turut dipengaruhi oleh kebiasaan berkomunikasi melalui media digital. Penelitian lain oleh (Anjani et al. (2025) yang membahas pengaruh media sosial dalam pembelajaran bahasa juga menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media digital memengaruhi gaya menulis siswa yang menjadi lebih ekspresif namun kurang memperhatikan struktur kebahasaan. Dengan adanya perubahan tersebut, analisis kesalahan berbahasa menjadi sangat penting untuk dilakukan agar dapat memahami bagaimana era digital memengaruhi kualitas tulisan siswa. Menurut Fadhilah et al. (2025) analisis kesalahan berbahasa tidak hanya berfungsi untuk mengidentifikasi bentuk kesalahan linguistik, tetapi juga untuk merancang strategi pembelajaran bahasa yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan siswa di masa kini. Berdasarkan berbagai temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa siswa di era digital merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebiasaan berbahasa dalam media sosial dan kurangnya kesadaran terhadap kaidah bahasa Indonesia baku. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan berbahasa pada karangan siswa di era digital melalui pendekatan studi literatur terhadap artikel dan buku ilmiah terbitan tahun 2020–2025. Hasil kajian diharapkan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai bentuk dan penyebab kesalahan berbahasa siswa serta menjadi dasar dalam pengembangan strategi pembelajaran bahasa Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (library research) yang berfokus pada pengumpulan, penelaahan, dan analisis berbagai sumber pustaka yang relevan dengan topik kesalahan berbahasa pada karangan siswa di era digital. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk memperoleh pemahaman komprehensif terhadap fenomena yang diteliti melalui hasil-hasil penelitian terdahulu tanpa harus melakukan observasi lapangan. Menurut Zed (2017) penelitian kepustakaan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pengumpulan data pustaka, membaca, mencatat, serta mengolah bahan penelitian dari berbagai sumber yang telah ada dan relevan dengan topik kajian. Dengan demikian, pendekatan ini sangat sesuai untuk mengkaji pola kesalahan berbahasa siswa berdasarkan literatur yang telah diterbitkan dalam beberapa tahun terakhir. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari artikel jurnal nasional, prosiding ilmiah, dan buku-buku akademik yang terbit antara tahun 2020 hingga 2025. Pencarian data dilakukan melalui portal Google Scholar, Garuda Kemdikbud, dan Sinta Indonesia dengan menggunakan kata kunci seperti kesalahan berbahasa siswa, karangan di era digital, dan analisis kebahasaan. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P 93-98 Amelia Sika, et., al/ Analisis Kesalahan Berbahasa Beberapa hasil penelitian yang menjadi dasar kajian ini antara lain karya Septania et al. (2023) yang meneliti kesalahan penggunaan huruf kapital dan tanda baca pada karangan deskripsi siswa sekolah dasar, serta penelitian Angel (2022) yang menyoroti kesalahan ejaan dan diksi pada karangan siswa SMA di Nusa Tenggara Timur. Penelitian Sholeha & Herdiana (2022) juga menjadi rujukan penting karena mengkaji pengaruh kebiasaan berbahasa sehari-hari terhadap kesalahan berbahasa dalam tulisan siswa SMP di era digital. Tahapan analisis data dalam penelitian ini meliputi kegiatan pengumpulan literatur, seleksi terhadap sumber yang relevan, dan analisis isi (content analysis) terhadap hasil-hasil penelitian sebelumnya. Tahap pertama dilakukan dengan menelusuri dan mengumpulkan artikel serta buku ilmiah yang memiliki relevansi dengan topik. Setelah itu, dilakukan proses seleksi untuk memastikan bahwa setiap sumber memenuhi kriteria validitas ilmiah, kebaruan, dan kesesuaian konteks. Selanjutnya, analisis isi dilakukan dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dalam literatur, seperti bentuk kesalahan berbahasa, faktor penyebabnya, dan kaitannya dengan penggunaan bahasa digital. Pendekatan analisis isi ini merujuk pada konsep Krippendorff yang menyatakan bahwa analisis isi merupakan teknik penelitian yang bertujuan menafsirkan makna dari data teks secara sistematis dan objektif berdasarkan konteks tertentu (Mumtaz, 2021). Melalui pendekatan studi literatur, penelitian ini berusaha menyusun sintesis dari berbagai hasil penelitian terdahulu untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bentuk dan penyebab kesalahan berbahasa pada karangan siswa di era digital. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan menekankan pada temuan-temuan empiris yang telah dipublikasikan, sehingga hasilnya dapat memberikan landasan teoritis dan praktis bagi pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk Kesalahan Berbahasa yang Ditemukan pada Karangan Siswa Berdasarkan hasil telaah berbagai penelitian, kesalahan berbahasa pada karangan siswa mencakup empat aspek utama, yaitu ejaan, morfologi, sintaksis, dan semantik. Kesalahan ejaan masih menjadi temuan yang paling dominan di berbagai jenjang pendidikan. Septania et al. (2023) menjelaskan bahwa siswa sekolah dasar sering melakukan kesalahan pada penggunaan huruf kapital, penulisan kata, serta tanda baca, khususnya koma dan titik. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pemahaman terhadap kaidah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) serta minimnya pembiasaan menulis sesuai aturan kebahasaan formal. Temuan serupa juga dikemukakan oleh Angel (2022) yang meneliti karangan siswa SMA di Nusa Tenggara Timur. Ia menemukan bahwa siswa masih sering mencampuradukkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia, serta melakukan kesalahan dalam memilih diksi yang tepat. Kesalahan semacam ini menyebabkan keambiguan makna dan menurunkan kualitas tulisan siswa. Selain itu, masih banyak siswa yang belum memahami perbedaan penggunaan imbuhan serta struktur kalimat efektif. Peneliti menegaskan bahwa lemahnya minat baca dan kebiasaan menggunakan bahasa informal dalam komunikasi sehari-hari turut memperparah munculnya kesalahan tersebut. Penelitian Sholeha & Herdiana (2022) terhadap karangan siswa SMP Negeri 13 Tasikmalaya memperkuat temuan sebelumnya. Mereka menemukan bahwa bentuk kesalahan yang dominan tidak hanya terjadi pada aspek ejaan dan diksi, tetapi juga pada aspek struktur kalimat. Banyak siswa menulis karangan dengan gaya bahasa lisan, seperti penggunaan kalimat tidak lengkap atau pengulangan kata yang berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa siswa belum Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 93-98 Socius E-ISSN: 3025-6704 mampu membedakan antara bahasa tulis formal dan bahasa percakapan sehari-hari, terutama karena kebiasaan mereka menggunakan media sosial yang cenderung informal. Berdasarkan hasil-hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa yang muncul dalam karangan siswa tidak hanya disebabkan oleh ketidakpahaman terhadap kaidah kebahasaan, tetapi juga karena adanya kebiasaan menulis yang tidak terarah dan kurangnya perhatian terhadap aspek ketepatan serta kerapian bahasa. Faktor-Faktor Penyebab Kesalahan Berbahasa di Era Digital Kesalahan berbahasa siswa tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah rendahnya penguasaan terhadap kaidah kebahasaan baku. Dalam penelitian yang dilakukan di SMA Negeri 1 Wonogiri, ditemukan bahwa sebagian besar siswa belum memahami dengan baik pedoman ejaan dan tata bahasa Indonesia. Mereka jarang membaca KBBI dan PUEBI sehingga menulis sesuai intuisi, bukan berdasarkan aturan linguistik yang benar (Gita & Sabardila, 2022). Faktor kedua adalah pengaruh budaya digital dan bahasa informal. Era digital telah mengubah cara siswa berkomunikasi, terutama melalui media sosial seperti WhatsApp, Instagram, dan TikTok. Gaya komunikasi yang cepat dan ringkas membuat siswa terbiasa menggunakan singkatan dan bentuk bahasa tidak baku seperti “yg”, “tdk”, atau “bgt”. Akibatnya, kebiasaan tersebut terbawa ke dalam konteks tulisan formal. Anjani et al. (2025) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa penggunaan media digital secara intensif menimbulkan pergeseran norma kebahasaan, di mana siswa lebih menekankan kecepatan komunikasi dibandingkan ketepatan struktur bahasa. Selain itu, faktor pedagogis juga turut memengaruhi munculnya kesalahan berbahasa. Proses pembelajaran bahasa yang masih berfokus pada hasil tulisan tanpa analisis kesalahan membuat siswa tidak memperoleh umpan balik yang cukup untuk memperbaiki tulisannya. Fadhilah et al. (2025) menegaskan bahwa analisis kesalahan berbahasa seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran menulis, karena melalui kegiatan tersebut guru dapat mengenali kelemahan siswa secara spesifik dan memberikan pembinaan yang sesuai. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa faktor penyebab kesalahan berbahasa siswa tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil interaksi antara kemampuan linguistik yang terbatas, pengaruh kebiasaan berbahasa di lingkungan digital, serta kurang optimalnya strategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah. Dampak Era Digital terhadap Keterampilan Menulis dan Pola Kesalahan Perkembangan teknologi digital membawa dampak ganda bagi pembelajaran bahasa. Di satu sisi, kemajuan teknologi memudahkan siswa dalam mencari referensi, meningkatkan minat menulis, dan memperluas wawasan kebahasaan. Namun, di sisi lain, kemudahan tersebut juga berpotensi menurunkan ketelitian berbahasa. Ndraha et al. (2025) menjelaskan bahwa teknologi digital dapat membantu siswa memperbaiki kesalahan ejaan melalui fitur otomatis pada aplikasi penulisan, tetapi jika digunakan secara berlebihan, hal itu dapat menurunkan kemampuan berpikir kritis dan analisis kebahasaan siswa. Selain itu, penelitian Ilham et al. (2025) menunjukkan bahwa budaya digital telah melahirkan apa yang mereka sebut sebagai “simplifikasi linguistik”, yaitu kecenderungan pengguna bahasa untuk menyingkat kata, mengabaikan struktur, dan mengganti kosakata baku dengan bentuk yang lebih ringkas. Fenomena ini jika tidak dikontrol akan menurunkan standar kebahasaan siswa dan menjauhkan mereka dari norma bahasa Indonesia yang baik dan benar. Temuan serupa juga diperkuat oleh Anjani et al. (2025) yang menekankan bahwa pola komunikasi di media digital mengajarkan siswa untuk berinteraksi cepat dan spontan tanpa memperhatikan kesalahan bahasa. Ketika kebiasaan tersebut terbentuk, siswa akan cenderung Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P 93-98 Amelia Sika, et., al/ Analisis Kesalahan Berbahasa menulis dengan struktur tidak lengkap dan kosa kata yang tidak sesuai konteks. Fenomena ini memperlihatkan bahwa teknologi digital berperan besar dalam membentuk karakter kebahasaan generasi muda yang lebih ekspresif tetapi kurang memperhatikan norma kebahasaan formal. Implikasi terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia Hasil-hasil penelitian yang ditelaah menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di era digital perlu diarahkan untuk menyeimbangkan antara kemampuan kebahasaan dan literasi digital. Sari et al. (2024) menegaskan bahwa integrasi literasi digital dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan kesadaran siswa terhadap konteks penggunaan bahasa yang tepat. Melalui pembelajaran yang adaptif, siswa dapat memahami perbedaan antara bahasa formal dan informal serta mengetahui kapan dan bagaimana bahasa tersebut digunakan sesuai situasi. Guru memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran berbahasa yang baik melalui pembelajaran kontekstual. Pendekatan seperti analisis kesalahan berbahasa, diskusi kelompok tentang kaidah kebahasaan, serta latihan menulis berbasis media digital dapat dijadikan strategi untuk memperbaiki kemampuan menulis siswa. Dalam konteks ini, teknologi tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai sarana yang dapat memperkuat pembelajaran jika digunakan secara bijak dan terarah. Dengan demikian, pembahasan ini menegaskan bahwa fenomena kesalahan berbahasa pada karangan siswa di era digital merupakan tantangan sekaligus peluang. Tantangan karena memerlukan adaptasi pembelajaran yang lebih modern dan reflektif; peluang karena perkembangan teknologi dapat dijadikan media pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan menyenangkan. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi guru dalam literasi digital dan kebahasaan menjadi faktor penting dalam menciptakan pembelajaran bahasa Indonesia yang relevan dengan perkembangan zaman. SIMPULAN Berdasarkan hasil kajian literatur terhadap berbagai penelitian tahun 2020 hingga 2025, dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa pada karangan siswa di era digital merupakan persoalan yang disebabkan oleh kombinasi antara rendahnya penguasaan kaidah bahasa Indonesia dan pengaruh kuat budaya digital. Kesalahan yang sering muncul mencakup aspek ejaan, morfologi, sintaksis, dan semantik. Siswa cenderung menulis dengan gaya bahasa informal yang terbawa dari kebiasaan berkomunikasi di media sosial, seperti penggunaan singkatan dan struktur kalimat yang tidak efektif. Hal ini menunjukkan bahwa era digital tidak hanya membawa kemudahan dalam mengakses informasi, tetapi juga menimbulkan tantangan baru dalam menjaga ketepatan dan keteraturan berbahasa Indonesia di kalangan pelajar. Meskipun demikian, perkembangan teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa. Guru memiliki peran penting dalam menyeimbangkan antara pemanfaatan teknologi dan pembinaan kaidah kebahasaan. Melalui penerapan literasi digital yang terarah dan analisis kesalahan berbahasa secara berkelanjutan, siswa diharapkan mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, benar, dan sesuai konteks. Dengan demikian, pembelajaran bahasa Indonesia di era digital harus berorientasi tidak hanya pada ketepatan linguistik, tetapi juga pada pembentukan kesadaran berbahasa yang cermat, kritis, dan berkarakter. REFERENSI Angel, M. Y. C. (2022). Kesalahan Berbahasa Indonesia Dalam Karya Tulis Ilmiah Siswa Smak Yayasan Persekolahan St. Petrus Keuskupan Agung Ende. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 93-98 Socius E-ISSN: 3025-6704 Indonesia, 7(12), 19336–19356. https://doi.org/https://doi.org/10.36418/syntaxliterate.v7i12.10717 Anjani, A. D., Lestari, D., Aulia, N., Tabriz, N., & Putri, D. T. (2025). Pengaruh Penggunaan Media Digital terhadap Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Digital. Journal Syntax Idea, 6(02), 261–269. Fadhilah, S., Slamet, S. Y., Ragil, I., & Atmojo, W. (2025). Analisis kesalahan berbahasa pada karangan deskripsi peserta didik kelas iv sekolah dasar. Didaktika Dwija Indria, 13(4), 469– 475. https://doi.org/https://doi.org/10.20961/ddi.v13i3.89392 Gita, M. M., & Sabardila, A. (2022). Analisis Kesalahan Berbahasa Pada Karangan Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 1 Wonogiri. BASINDO : Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya, 6(2), 201–214. http://journal2.um.ac.id/index.php/basindo Ilham, M. A., Supriadi, R., & Farisi, M. Z. Al. (2025). Transformasi Bahasa Indonesia Dalam Konteks Digital : Perubahan Pada Stuktur Dan Bentuk Bahasa. Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra), 10(1), 1–11. https://bastra.uho.ac.id/index.php/journal Mumtaz, N. M. (2021). Kepemimpinan Kyai Dalam menjaga Mutu Pendidikan di Ma‟had al-Jami‟ah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang [Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta]. https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/57486 Ndraha, P., Zai, S., Laoli, P. D., Gulo, R., & Bu’ulolo, Y. (2025). Pentingnya Inovasi Teknologi Untuk Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Era Digital. Jurnal Education and development Institut Pendidikan Tapanuli Selatan, 13(1), 645–649. https://doi.org/10.37081/ed.v13i1.6681 Sari, M., Elvira, D. N., Aprilia, N., R, S. F. D., & M, N. A. (2024). Media Pembelajaran Berbasis Digital Untuk Pelajaran Bahasa Indonesia. Universitas Dharmawangsa, 18(1), 205–218. Septania, D. P., Wahyudi, & Rokhmaniyah. (2023). Analisis Kesalahan Penggunaan Huruf Kapital dan Tanda Baca Pada Karangan Siswa Kelas V SDN Sidareja 01 Tahun Ajaran 2021/2022. Kalam Cendekia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 11(1), 153–159. https://doi.org/https://doi.org/10.20961/jkc.v11i1.63891 Sholeha, N. A., & Herdiana. (2022). Kesalahan Berbahasa Pada Karangan Siswa Kelas Viii Smpn 13 Tasikmalaya Dengan Menggunakan Model Corder. Jurnal Diksatrasia, 6(2), 167–172. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.25157/diksatrasia.v6i2.7638 Zed, M. (2017). Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. https://ipusnas2.perpusnas.go.id/book/d021789c-a782-402f-a223-3c359059944e