scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

The Concept of Tawḥīd in the Thought of Haji Batin Sulaiman: A Study of the Manuscript Syair Tsani

Suryan Masrin

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P 105-117 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17543323 *Corresponding Author Email: [email protected] Pemikiran Tauhid Haji Batin Sulaiman; Tinjauan atas Naskah Syair Tsani The Concept of Tawḥīd in the Thought of Haji Batin Sulaiman: A Study of the Manuscript Syair Tsani Suryan Masrin1 1IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung A B S T R A C T This paper examines the concept of tawḥīd (Islamic monotheism) in the thought of Haji Batin Sulaiman as reflected in Syair Tsani, a poetic summary of Asrār al-Insān by Shaykh Nūr al-Dīn al-Rānīrī. As a local Muslim scholar, Haji Batin Sulaiman devoted great attention to issues of tawḥīd within a society still influenced by local traditions and syncretic elements. His theological ideas are expressed not only through oral preaching but also through a number of written works in Malay Jawi script. The findings indicate that Haji Batin Sulaiman’s conception of tawḥīd emphasizes the strengthening of faith through a synthesis of spiritual and Sufi dimensions. Consequently, his thought can be regarded as a valuable intellectual legacy and a source of inspiration for the development of Islamic education rooted in the values of tawḥīd. A B S T R A K Tulisan ini mengkaji pemikiran tauhid Haji Batin Sulaiman dalam Syair Tsani, yang merupakan simpulan dari kitab Asrar al-Insan karya Syekh Nuruddin al-Raniri dalam bentuk bait sair. Sebagai seorang ulama lokal, Haji Batin Sulaiman menaruh perhatian besar pada persoalan tauhid di tengah masyarakat yang masih dipengaruhi oleh tradisi lokal dan unsur sinkretis. Pemikiran beliau tercermin tidak hanya dalam aktivitas dakwah lisan, tetapi juga dalam sejumlah karya tulis yang beraksara Arab Melayu. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran Haji Batin Sulaiman menitik0beratkan pada penguatan tauhid melalui pendekatan yang memadukan aspek spiritual dan sufistik. Dengan demikian, pemikiran tauhid Haji Batin Sulaiman dapat diposisikan sebagai warisan intelektual yang berharga sekaligus inspirasi bagi pengembangan pendidikan Islam yang berakar pada nilai tauhid. PENDAHULUAN Pendidikan tauhid (akidah) memiliki dinamika dan corak yang khas, yang tak lepas dari kontribusi para ulama lokal yang merintis jalan dakwah dengan berbagai strategi, baik melalui pendidikan informal di surau maupun lewat penulisan karya-karya berbahasa Melayu Jawi. 1 Dalam konteks ini, munculnya karya-karya tulis berbahasa Melayu Jawi yang mengajarkan nilainilai tauhid menjadi sangat penting untuk dilacak dan dikaji, sebagai sumber pendidikan yang otentik sekaligus refleksi dari dinamika keilmuan lokal. 2 Pendidikan tauhid di Pulau Bangka pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem pendidikan tradisional yang berkembang pada masa itu. Pendidikan keagamaan masih lebih bersifat informal, diwariskan dari mulut ke mulut, serta sangat tergantung pada peran ulama lokal. Materi yang diajarkan pun masih bersifat integratif— fikih, akidah, dan tasawuf tidak dipisahkan secara kaku. Salah satu tokoh penting dalam lanskap pendidikan Islam tradisional di Bangka adalah Haji Batin Sulaiman, seorang ulama lokal yang aktif pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke1 Zulkifli, Kontinuitas Islam Tradisional di Bangka (Bangka: Siddik Press, 2007). 29 2 Ibid. 22. Karya-karya tersebut di antaranya dapat dilihat pada karya Syekh Abdurrahman Siddik, yakni Jadwal Sifat Dua Puluh yang di tulis di Belinyu, Pelajaran Kanak-kanak di Kemuja, Syarah Sittin Masalah dan Jurumiyah di Sungaiselan, Asrar al-Shalah min 'Iddab Kutub al-Mu'tamadah di Mentok, Fath al-'Alim fi Tartib al-Ta'lim di Kundi, Tadzkirah li Naifs wa li Amtsal di Belinyu, dan Syair Ibarah dan Khabar Qiyamah di Mentok. A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 19, 2025 Revised 20 Oktober 2025 Accepted 29 Oktober 2025 Available online 04 November. 2025 Keywords Haji Batin Sulaiman, tawḥīd thought, Islamic education, Malay-Jawi manuscripts, Islam Nusantara Keywords Haji Batin Sulaiman, pemikiran tauhid, pendidikan Islam, manuskrip MelayuJawi, Islam Nusantara This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 105-117 Socius E-ISSN: 3025-6704 20. Beliau dikenal sebagai guru agama 3 dari kampung Peradong yang menulis sejumlah karya keagamaan dalam bahasa Melayu (Arab Melayu atau Jawi) atau dalam peenyebutan orang Bangka “Arab Gundul”. 4 Syair Tsani Adalah salah satu karya berbentuk puisi religius. Sair ini merupakan ringkasan dalam bentuk pantun dari kandungan kitab Asrar al-Insan karya Syekh Nuruddin al-Raniri, seorang ulama besar dari Aceh abad ke-17. Kitab tersebut membahas tentang rahasia penciptaan manusia dan hubungan antara roh, jasad, dan Ilahi. Haji Batin Sulaiman menyajikan kandungan kitab tersebut dalam bentuk pantun berbahasa Melayu dengan struktur rima dan irama yang memudahkan penghafalan dan pengajaran, terutama bagi masyarakat yang lebih dekat dengan budaya tutur dan tradisi lisan. Dalam konteks ini, pentingnya mengangkat tema pemikiran tauhid Haji Batin Sulaiman menjadi sangat relevan, mengingat tiga alasan utama. Pertama, terdapat kelangkaan dokumentasi tentang ulama lokal Bangka dan kontribusinya terhadap perkembangan pendidikan Islam 5 , khususnya dalam bidang tauhid. Kedua, karya-karya Haji Batin Sulaiman merepresentasikan model pendidikan berbasis budaya lokal, yang sangat kontekstual dengan masyarakatnya, dan dengan demikian menjadi contoh penting dalam pengembangan pendidikan Islam berbasis kearifan lokal. Ketiga, pendekatan Haji Batin Sulaiman yang integratif—menggabungkan antara tauhid, tasawuf, dan bahasa sastra—dapat menjadi rujukan bagi pendekatan pendidikan tauhid yang lebih humanistik dan transformatif. 6 Dengan demikian, tulisan ini akan mengkaji secara mendalam kontribusi pemikiran tauhid Haji Batin Sulaiman, dengan pendekatan analisis terhadap karya beliau yang relevan. Kajian ini diharapkan dapat memperkaya literatur keislaman Nusantara dan memberikan gambaran tentang dinamika pendidikan tauhid di daerah Melayu yang selama ini jarang mendapatkan sorotan akademik. METODE Untuk melakukan kajian naskah ini ada beberapa hal yang harus dilakukan, sebagaimana disebutkan Edward Djamaris di dalam bukunya Metode Penelitian Filologi, antara lain, yaitu analisis filologi dan analisis pragmatik. 7 Analisis filologi meliputi empat metode, yaitu deskripsi naskah, transliterasi, suntingan teks, dan translasi atau terjemahan. Selanjutnya dilakukan analisis pragmatik. Istilah pragmatik merujuk pada efek komunikasi yang seringkali dirumuskan dalam istilah Horatius, seniman bertugas docere dan delectare, memberi ajaran dan kenikmatan, seringkali ditambah lagi movere, menggerakkan pembaca ke kegiatan yang bertanggung jawab. 8 Gunanya untuk mengungkapkan fungsi nilai-nilai dalam teks yang terkandung di dalam naskah. Pendekatan pragmatik mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. 3 M. Ikhsan Ghozali, Guru Kampong dan Perannya dalam Masyarakat Melayu Bangka (Bangka: Siddik Press, 2019). 26-27. Guru agama atau dalam penyebutan lain guru kampung (kampong) yang dikategorikan sebagai pemimpin kharismatik. Guru kampong sangat dihormati masyarakat sebab memiliki keluasan dan kedalaman keilmuan agamanya, kesahajaan dalam kehidupan sehari-hari, serta ketegasan sikap tapi mengayomi. Penerimaan dan penghormatan masyarakat juga didasarkan pada sikap guru kampong yang menghormati tradisi dan nilai-nilai kultural di masyarakat. Maka, menjadi hal yang biasa ditemukan bahwa guru kampong melaksanakan dakwah dan pengajaran Islam yang terkadang dibalut dengan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, misalnya tahlilan, barzanji, marhaban, shalawatan, maulidan, khataman atau betamat, dan nganggung. Dalam pelaksanaan peranannya, guru kampong bukan hanya menjadi da'i yang melakukan aktivitas dakwah ataupun pemimpin agama. Guru kampong juga menjadi pendidik pengajar pengetahuan dan praktik agama Islam kepada masyarakat, yang biasanya dilakukan secara nonformal, baik di masjid, mushalla/surau/langgar, madrasah, majelis taklim, maupun rumah-rumah. Selain itu, guru kampong pun berperan sebagai pembimbing masyarakat dalam menjalani kehidupan sesuai dengan tuntutan ajaran Islam, sekaligus problem solver yang membantu masyarakat menyelesaikan permasalahan kehidupan yang mereka alami. 4 Suryan Masrin, Naskah Kitab Permulaan Sembahyang; Alih Aksara (Jakarta: Perpusnas Press, 2024). 44 5 Suryan Masrin, “Bangka di Masa Lalu: Kenapa tidak Dikenal Ulama Lokal?”, https://www.trasberita.com (Bangka, 2024), https://www.trasberita.com/bangka-di-masa-lalu-kenapa-tidak-dikenal-ulama-lokal/#:~:text=Keempat%2C Fokus ulama pada praktik,nama mereka tidak banyak dikenal.&text=Suryan Masrin adalah guru sekolah,Arab Melayu di Pulau Bangka. Ini juga dimungkinkan karena pada masa itu, para ulama atau tokoh lokal lebih berfokus pada dakwah saja dan tidak diimbangi dengan penulisan karya. 6 Suryan Masrin, “Karya-karya Ulama Lokal Bangka Abad 19-20”, https://www.trasberita.com (Bangka, 2024), https://www.trasberita.com/karya-karya-ulama-lokal-bangka-abad-19-dan-20. Ulama lokal Bangka telah menghasilkan berbagai karya tulis dalam bidang keagamaan, khususnya kitab-kitab yang membahas tentang tauhid, fikih, tasawuf, doa-doa, dan lainnya. Ini juga termasuk karya yang dihasilkan oleh Haji Batin Sulaiman. 7 Edwar Djamaris. Metode Penelitian Filologi. (Jakarta: CV Manasco, 2002). 24. 8 A Teeuw. 3003. Sastra dan Ilmu Sastra. (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988). 51. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P 105-117 Suryan Masrin/ Pemikiran Tauhid Haji Dengan pertimbangan indikator karya sastra dan pembaca maka masalahmasalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatik diantaranya tanggapan berbagai masyarakat atau penerima pembaca tertentu terhadap karya sastra. 9 Langkah pertama yang dilakukan yaitu membaca dan memahami keseluruhan isi naskah Syair Tsani untuk memudahkan dalam mengerjakan tahapan selanjutnya. Kemudian langkah selanjutnya mencari kandungan apa saja yang terdapat di dalam naskah tersebut. Setelah menemukan beberapa fungsi teks, kemudian menuliskan hasilnya dalam pembahasan analisis pragmatik. Hasil tersebut selanjutnya dapat dinikmati oleh masyarakat pembaca dan terutama masyarakat akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Dinamika Pendidikan Islam di Pulau Bangka Pendidikan Islam di Indonesia sebelum tahun 1900 masih jauh berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Kondisi tersebut terjadi pula di Jawa dan Minangkabau, termasuk juga daerah-daerah lainnya termasuk Bangka. Sejarah perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam di Indonesia antara lain ditandai oleh adanya lembaga-lembaga pendidikan Islam yang amat bervariasi, namun antara satu dan yang lainnya memiliki hubungan subtansial dan fungsional. Dinamika pertumbuhan dan perkembangan lembaga lembaga pendidikan Islam tersebut selain dipengaruhi oleh faktor internal dari para pendirinya, juga tidak lepas dari pengaruh eksternal yang bersifat global. Kedua pengaruh ini satu dan yang lainnya secara akumulatif berpadu menjadi satu dan menghasilkan bentuk dan corak dari lembaga pendidikan yang bersangkutan. 10 Ulasan ini tidak didasarkan pada perbedaan tersebut, akan tetapi pada dua kategori tingkatan pendidikan agama Islam yang mencakup tingkat dasar dan tingkat lanjutan. Pendidikan tingkat dasar meliputi pendidikan keluarga, serta pendidikan Al-Qur'an di langgar, surau, ataupun serambi mesjid. Adapun pendidikan tingkat lanjutan meliputi pesantren dan pengajian kitab di surau. 11 Pulau Bangka sebagai salah satu daerah dengan warisan budaya Melayu yang cukup kuat, tidak hanya menjadi tempat berkembangnya tradisi lokal, tetapi juga sebagai ruang interaksi antara Islam dan kebudayaan setempat. Penduduk pulau Bangka mempunyai berbagai macam etnik dari seluruh Indonesia. Penduduk asli pulau Bangka mempunyai karakter tersendiri yang berasal dari pengaruh lingkaran agama dan budaya. Sebagian besar penduduk beragama Islam di samping Kristen, Hindu, Budha dan Kong Fhu Chu dengan kategori Islam 80 %, China 20 %, selebihnya adalah agama-agama lain yang diakui di Indonesia. Mengingat pada masa itu masyarakat masih menjalankan praktek-praktek tahayul dan syirik. 12 Pendidikan Islam di Pulau Bangka pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 tidak bisa dilepaskan dari internal dan eksternal. Pengaruh internal terjadi dari pengaruh sistem pendidikan tradisional yang berkembang di surau, langar, dan atau lainnya. Pada masa itu, sistem madrasah modern belum berkembang luas, dan pendidikan keagamaan lebih bersifat informal, diwariskan dari mulut ke mulut, serta sangat tergantung pada peran ulama lokal. Materi yang diajarkan pun masih bersifat integratif—fikih, akidah, dan tasawuf tidak dipisahkan secara kaku. Selain faktor internal, juga ada faktor eksternal, yakni pengaruh luar negeri. Pada abad ke-19, sebgian besar dunia Islam dihadapkan pada kekuasaan penjajah Barat. Menghadapi situasi yang demikian, sikap umat Islam terbagi-bagi ke dalam tiga kelompok; pertama, mereka yang menutup diri dari pengaruh modernisasi Barat, kedua, mereka membuka diri dari terhadap modernisasi Barat, dan ketiga, mereka yang membuka diri terhadap modernisasi Barat dengan penuh selektif. 13 9 Nyoman Kutha Ratna. Teori, Meode dan Teknik Penelitian Sastra. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004). 71-72. 10 Novia Yanti, “Sejarah Dan Dinamika Lembaga Pendidikan Islam Di Nusantara (Surau, Pesantren Dan Madrasah)”, Mauizhah: Jurnal Kajian Keislaman, vol. 9, no. 1 (2019), pp. 135–64. 11 Muh. Saerozi, Pembaruan Pendidikan Islam, 1st edition (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2013). 21 12 Mutiara Andini, “Dakwah Tauhid Syaikh Abdurrahman Siddik terhadap Perdukunan di Bangka”, Hikmah, vol. 17, no. 2 (2023), pp. 219–38. 13 Fatah Syukur, Sejarah Pendidikan Islam (Semarang: Pustakka Rizki, 2012). 132 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 105-117 Socius E-ISSN: 3025-6704 Dalam catatan sejarah pra abad ke-19, menginformasikan bahwa sebagian keluarga muslim melaksanakan sendiri pendidikan agama dasar untuk anak-anak mereka. Pelajaran agama dasar itu misalnya membaca Al-Qur'an dan tata cara ibadah yang sederhana. Pendidikan tersebut dilakukan di rumah, oleh orang tua, kakak laki-laki, atau kakak Perempuan. Tujuan utama pendidikan itu adalah agar anak dapat membaca Al-Qur'an. 14 Sementara itu, bagi keluarga yang kurang memiliki kompetensi agama, menyerahkan anak-anaknya untuk mempelajari dasardasar agama kepada orang lain, seperti tetangga, kiai, modin, ataupun guru ngaji atau guru kampung yang biasanya membuka pengajian di langgar serambi surau atau masjid, ataupun rumahnya sendiri. Para guru al-Qur'an (guru ngaji al-Qur'an) yang biasanya mengajar anak-anak, terkadang juga orang dewasa mendaras al-Qur'an dalam Bahasa Arab. Orang dewasa itu sekedar mengejar apa yang mereka lalaikan pada waktu mudanya. Sering kali mereka sekaligus mengajar muridmurid mereka mengenai pokok-pokok sembahyang (ibadah biasa) supaya murid-murid itu mampu memenuhi kewajiban ibadah yang paling sederhana. Segolongan kecil di antara mereka terdiri atas guru yang telah menekuni seluk-beluk ilmu bunyi Bahasa Arab dan telah dapat menguasai sejumlah lagu yang lazim dipakai dalam membaca al-Qur'an. 15 Guru yang mengajar agama tingkat dasar tidak meminta gaji. Sesuai dengan tradisi, mereka hanya menerima hadiah dari orang tua murid. Hadiah berupa makanan, uang, atau barang lainnya diserahkan bersamaan dengan ketika anak diserahkan kepada guru. Maksud dari pemberian hadiah adalah supaya guru mengajar dengan sebaik-baiknya, dan berkenan mendoakan supaya anak mendapat tambah berkah dan lancar dalam belajar. Ada pula adat yang mana ketika anak diserahkan kepada guru, orang tua menyertakan bingkisan berupa sebuah cermin kecil dan beberapa jarum sebagai simbol harapan supaya anaknya terang dan tajam dalam proses belajar. 16 Namun demikian, di sini tidak membahas atau membicarakan pembagian tersebut, yakni ebih secara umum pada Pendidikan akidah atau tauhid. Aspek tauhid (akidah, usuhuluddin) menduduki kedudukan yang paling penting bagi penganut Islam tradisional di Bangka. Ilmu Tauhid sering juga disebut ushuluddin (ushul at-din, yakni pokok pokok agama) atau Sifat Dua Puluh dan kegiatan mempelajari ilmu tersebut disebut "mengaji tauhid" atau "mengaji sifat dua puluh". Pengetahuan tentang tauhid atau sifat dua puluh sering diperbincangkan dan dibahas secara komprehensif di kalangan pemuka agama masyarakat Bangka. Pengetahuan tauhid tersebut bahkan menjadi ukuran tinggi rendahnya pengetahuan agama seseorang. la menjadi persyaratan penting bagi seeorang untuk memperoleh predikat ulama yang disebut Guru atau Tuan Guru. 17 Pada dasarnya, ajaran tauhid bertujuan untuk mengesakan Allah dan menyucikan diri dari segala bentuk syirik (menyekutukan Tuhan) yang dianggap sebagai dosa paling besar dalam Islam, baik syirik jali (nyata) maupun syirik khaft (tersembunyi). Oleh karena itu, setiap mukmin diwajibkan untuk memiliki keyakinan yang sesuai dengan ajaran-ajaran tauhid. Penganut Islam tradisional terutama ulama dan guru agama di Bangka lebih tertarik dan lebih banyak membahas dan mendiskusikan rukun iman yang pertama. Dipahami bahwa pengenalan terhadap Tuhan tidak dapat dilakukan melalui zat-Nya tetapi melalui sifat dan perbuatan-Nya. Mereka meyakini bahwa Tuhan memiliki dua puluh sifat yang wajib yang dikontraskan dengan dua puluh sifat mustahil, di samping sifat jaiz (boleh). 18 Dalam pengamalan ibadah, masyarakat Bangka pada umumnya mengikuti mazhab fikih Syafi'iyah.Namun demikian, kedudukan mazhab-mazhab fikih yang lain, yakni Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanbaliyah tetap dibenarkan, berbeda dengan sikap terhadap aliran-aliran teologi lain selain Asy'ariyah. Mazhab Syafi'i dianggap sebagai mazhab paling sempurna dan paling teliti dalam melahirkan hukum Islam meskipun, dalam realitas, kitab al-Umm Imam Syafi'i jarang 14 Ibid. 15 E.C. Andrianse Gobee, Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936, ed. by Terj. Sukarsi (Jakarta: INIS, 1992). 1242 16 C. Snouck Hurgronje, Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje VII, ed. by Terj. Soedarso Soekarno (Jakarta: INIS, 1992). 143-144 17 Zulkifli, Kontinuitas Islam Tradisional di Bangka. 31-32 18 Ibid. 33 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P 105-117 Suryan Masrin/ Pemikiran Tauhid Haji sekali atau mungkin tidak pernah dijadikan rujukan langsung dalam kegiatan pengajian maupun di pesantren (dikemudian hari). Tetapi kitab-kitab yang biasa dijadikan rujukan adalah kitabkitab yang ditulis oleh para ulama yang berpegang teguh pada mazhab Syafi'i. 19 Selanjutnya, dimensi tasawuf juga menghiasi masyarakat Bangka dalam menjalani ritual keagamaan. Tasawuf kemudian disederhanakan dengan istilah tarekat 20 , yang kemudian menjadi pijakan para ulama atau tokoh agama dalam mengajarkan agama Islam. Ajaran-ajaran yang terkandung dalam tasawuf dianggap sebagai ajaran keutamaan yang seharusnya diamalkan oleh setiap orang. Ajaran tasawuf yang dipegang itu adalah ajaran tasawuf Junaid al-Baghdadi dan alGhazali sehingga kedua tokoh sufi tersebut dipandang sebagai sosok sufi yang ideal. Namun demikian, sebelum mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf seseorang harus memiliki dasar ilmu tauhid dan fikih yang kuat agar tidak sesat dan rusak akidahnya karena tasawuf merupakan ajaran Islam yang paling dalam. 21 Bahkan seringkali ditekankan bahwa seseorang yang memasuki dunia tasawuf tetapi meninggalkan syariat akan menjadi gila. Ibadah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan internalisasi sifat ikhlas dalam ibadah dan kehidupan sudah menunjukkan penerapan tasawuf. Konsep ihsan itu juga dapat berkaitan erat dengan konsep ikhlas yang merupakan makna sentral dan terdalam dari agama itu sendiri. Selanjutnya, adat juga mempengaruhi dalam ritual keagamaan masyarakat Bangka. Sistem keyakinan, ibadah, dan tasawuf yang dipahami dan dipraktikkan kaum tuo di Bangka menyatu dengan adat. Adat sama dengan tradisi yang telah diwarisi secara turun-temurun. Ketiga komponen Islam tradisional yakni sistem keyakinan, fikih, dan tasawuf tersebut dipelajari dan diwarisi dari genera si ke generasi sehingga telah menjadi bagian dari tradisi itu sendiri. Dengan kata lain, Islam telah menjadi suatu tradisi tersendiri yang secara kukuh tertanam dalam konteks sosio-ekonomi dan politik selama tujuh abad. 22 Sebagaimana pada umumnya, masyarakat Muslim Bangka juga melaksanakan berbagai perayaan agama berdasarkan kalender Islam (Hijriyah) untuk memperingati peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam. Selain dua hari raya yang dirayakan semua penduduk Muslim, masyarakat tertentu memiliki jenis perayaan tertentu yang dilaksanakan secara besarbesaran. Di antara perayaan-perayaan keagamaan terkenal adalah Maulid Nabi di Kemuja, Tahun Baru Islam di Kenanga, dan Ruah yang lebih dikenal dengan Perang Ketupat di Tempilang. Masyarakat desa-desa lain juga memperingatinya walaupun dalam cara dan kadar yang terbatas. Berbagai perayaan hari-hari besar Islam tersebut biasanya dilaksanakan menurut tata cara yang telah diwarisi secara turun temurun. 23 Biografi Haji Batin Sulaiman dan Karyanya Riwayat hidup Haji Batin Sulaiman belum terungkap secara pasti, namun berdasarkan catatan/salinan Akek Arpa’i tahun 1980, nama aslinya adalah Rimbun 24 sedangkan nama cinanya Tjhau Hin Lie Mintit, 25 atau dengan sebutan lokal yang paling dikenal adalah Tok Aji Sulaiman. Haji Batin Sulaiman lahir pada paruh kedua abad ke-19 (ca. 1820-1920), di tengah masyarakat Melayu Bangka yang masih kuat memegang tradisi lokal namun mulai terbuka terhadap pengaruh Islam yang semakin berkembang. Haji Batin Sulaiman adalah seorang keturunan China asli dengan marga Chao (Tjhau), ayahnya bernama Chao Tungit (Tjhau Tungit) kemudian masuk Islam disebut Muhallaf dan ibunya bernama Jinah (Rimah) keturunan dari Akek Peradong. 26 19 Ibid. 41 20 Sebenarnya di Bangka istilah nama-nama tarekat yang ada dan berkembang tidak begitu akrab atau familiar di telinga masyarakat. Ulama atau tokoh agama di Bangka tidak memfamiliarkan tentang nama-nama tarekat tersebut. Mereka lebih fokus pada pengajaran kandungan isi yang ada pada tarekat-tarekat tersebut. 21 Zulkifli, Kontinuitas Islam Tradisional di Bangka. 47 22 Taufik Abdullah dan Sharon Shiddique, Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara (Jakarta: LP3ES, 1988). 1 23 Zulkifli, Kontinuitas Islam Tradisional di Bangka. 52 24 Kemungkinan besar ini adalah nama kecil atau panggilan. Akek Arpa’i (Arpa’i Jarsono/Yarsono) merupakan cucu dari Haji Batin Sulaiman yang lahir tahun 1901, kemudian tercatat dan disahkan menjadi Veteran Pejuang Kemerdekaan RI tahun 1964, sesuai dengan surat keputusan Menteri Urusan Veteran No. 90/Kpts/MUV/1964 tanggal 8 September 1964. 25 Menurut Pakwe Bujang yang masih keturunan (keempat) tingggal di Kampung Pal 3 Mentok menyebutkan bahwa nama cina Haji Batin Sulaiman adalah Tjhau Hin Lie Mintit (terkait penulisan mohon maaf jika keliru, ini berdasarkan tuturan dari informan). Pernyataan ini penulis tuangkan dari hasil wawancara yang dilakukan pada tahun 2020. 26 Suryan Masrin, Naskah Kitab Permulaan Sembahyang (Jakarta: Perpusnas Press, 2024). 46 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 105-117 Socius E-ISSN: 3025-6704 Merujuk pada catatan Abdul Mu’in tahun 1947, diperkirakan ayah Haji Batin Sulaiman datang ke Pulau Bangka kemudian ke Peraddong seekitar tahun 1820 dengan marga Siang Tjhau. 27 Setelah ayahnya meninggal, ibunya kawin dengan Batin Daik di kampung Ibul, cukup dewasa anak tirinya itu (Rimbun), disalinkan (diangkat) jadi Batin. Kemudian Haji Batin Sulaiman dari kampung Ibul pindah ke Peradong dan jadi Batin di Peradong. Batin Rimbun beristrikan orang Peradong dan memberikan keturunan sebanyak 8 orang, 1 orang laki-lak dan 7 orang perempuan. 28 Haji Batin Sulaiman memperoleh pendidikan agama dasar dari lingkungan keluarga dan guru-guru agama setempat. Pendidikan awal inilah yang kelak menjadi fondasi bagi pemahamannya tentang Islam dan dorongan untuk mendalami ilmu agama lebih lanjut. Keinginan Haji Batin Sulaiman untuk memperluas wawasan keagamaannya membawanya untuk belajar di luar Pulau Bangka. Beberapa sumber (tradisi lisan) menyebutkan bahwa ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah, yang menjadi titik balik dalam kehidupannya sebagai seorang ulama. 29 Selama di Tanah Suci, Haji Batin Sulaiman tidak hanya menunaikan ibadah haji, tetapi juga memperdalam ilmu agama, khususnya dalam bidang tauhid dan fikih. Pengalaman belajar di Mekkah memberinya wawasan luas tentang pemikiran Islam, yang kemudian ia adaptasikan dengan konteks sosial budaya di Bangka. Sekembalinya dari Mekkah 30 , Haji Batin Sulaiman tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama, tetapi juga sebagai pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat. Haji Batin Sulaiman mendirikan pengajian (majelis) untuk mengajarkan pendidikan Islam di Pulau Bangka sebagai upaya untuk mencerdaskan masyarakat dalam memahami ajaran agama. Majelis (pengajian) ini menjadi pusat pembelajaran yang melahirkan banyak murid, yang kemudian melanjutkan perjuangan dakwah Islam di Bangka dan sekitarnya. Selain itu, ia juga aktif dalam memberikan ceramah, khutbah, dan bimbingan langsung kepada masyarakat, baik di masjid maupun di lingkungan sosial lainnya. Haji Batin Sulaiman menjalani kehidupannya sebagai seorang ulama dengan komitmen yang tinggi terhadap dakwah Islam hingga akhir hayatnya. Haji Batin Sulaiman dikenang sebagai sosok yang tidak hanya memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal, tetapi juga sebagai pemimpin yang menginspirasi masyarakat Bangka untuk terus memperdalam pemahaman agama mereka. Latar belakang kehidupannya yang kaya dengan pengalaman dan dedikasi 27 Catatan singkat tentang Sejarah Peradong yang ditulis oleh Abdul Mu’in tanggal 10 Mei 1947. 28 Nama-nama anak Batin Rimbun (Haji Batin Sulaiman) adalah: 1. Wahab 2. Siti Tegek 3. Siti Liwet 4. Siti Rinda (Nek De) 5. Siti Limah (Nek Amah) 6. Siti Aisyah 7. Siti Midah (Nek Dut) 8 Siti Rani’ah. Waktu itu nama residen bernama Jur Sekap yang tukang rintis jalan Tuan Seri Mahajir di tanah Bangka. Informasi ini hanya merujuk pada catatan Arpa’i tahun 1980, terkait kebenarannya nama Jur Sekap dan Tuan Seri Mahajir hingga tulisan ini dituangkan belum dapat dibuktikan berdasarkan dokumen-dokumen residen di pulau Bangka. 29 Penulis berkesimpulan bahwa Haji Batin Sulaiman naik haji (menunaikan ibadah haji) diperkirakan tahun 1870-an, ini merujuk pada masa itu peraturan dalam keberangkatan naik haji lebih leluasa ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Pernyataan ini mengacu pada tulisan Mursyidi dan Sumuran Harahap bahwa pada awal abad ke-19 pemerintah Hindia Belanda membatasi gerak umat Islam yang kemudian mengeluarkan mengeluarkan berbagai peraturan dan khusus untuk haji dikeluarkan ordonansi pada tahun 1825 yang berisi ketentuan peraturan bahwa tidak boleh seorang urmat Islam Indonesia pergi ke Mekkah jika tidak mempunyai pas jalan (diperoleh dengan membayar seharga F.110,-). Kemudian pada tahun 1831 (26 Maret) dikeluarkan lagi peraturan bahwa barang siapa berani pergi ke Mekkah dengan tidak ada pas jalan dari pemerintah Hindia Belanda, sepulangnya dari Mekkah orang tersebut akan didenda dua kali lipat harga pas jalan yaitu sebesar f. 220, peraturan akhirnya dicabut karena tidak termuat didalam Indische Staatsblad sehing-ga pihak Hoogerechtsshof tidak bisa mengadakan tuntutan atas pelanggaran ketentuan 1831. Selanjutnya pada tahun 1859 pemerintah Hindia Belanda mengeluar kan ordonansi sebagaimana tercantum dalam Indische Staatblad No. 24 tahun 1859 yang isinya memuat dua pengertian yaitu: (1) Barang siapa pergi ke Mekkah harus minta pas jalan. Pas jalan hanya dapat diberikan jika Bupati berpendapat bahwa orang yang memintanya itu cukup mempunyai ongkos untuk perjalanan haji serta untuk nafkah bagi ahli familinya yang ditinggalkan. Pas jalan itu harus dipelihatkan untuk diketahui disemua tempat perwakil-an Belanda yang dilaluinya. (2) Orang yang telah kembali dari Mekkah harus menempuh ujian lebih dahulu sebelum mereka berhak mengenakan pakaian haji. Kemudian pada tahun 1867 pemerintah Hindia Belanda memerintahkan kepada para Bupati untuk mengadakan pendaftaran haji di daerahnya. (Indische Staatsblad 1867 no. 114). Pada tahun 1872 dikeluarkan peraturan yang menyebutkan bahwa pas jalan sebagaimana yang telah diundangkan dalam indesche Staatsblad 1859 itu cukup diperlihatkan kepada consul Belanda di Jeddah saja. Lihat Mursyidi dan Sumuran Harahap, intasan Sejarah Perjalanan Jemaah Haji Indonesia (Jakarta: Mars 26, 1984). 12-13 30 Orang yang telah melaksanakan ibadah haji di zaman dulu tidak sama dengan haji sekarang. Dahulu berangkat tahun ini, pulang dan kembalinya ditahun berikutnya (tidak ditahun yang sama). Ini dikarenakan proeses perjalanan yang lama (kurang lebih 3 bulan) dan menggunakan kapal laut. Akhirnya jamaah haji mukim dan menetap (dalam istilah orang Bangka disebut naon) di sana sambil menimba ilmu kepada syekh-syekh di sana. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P 105-117 Suryan Masrin/ Pemikiran Tauhid Haji menjadikan Haji Batin Sulaiman salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam lokal di Pulau Bangka. Keturunan Keturunan Haji Batin Sulaiman disarikan dari beberapa sumber, baik tertulis maupun lisan. Pertama dari catatan Abdul Mu’en (1947), kedua catatan Arpai'i Jarsono (1980), ketiga catatan Al Jufri (1994), keempat lisan dari Ati, Sani, Eeng (2019), kelima lisan dari Abdullah Bung No (Maret 2021), dan keenam lisan dari Nurhanudin (Agustus 2021). Dalam catatan 1947 mengulas sedikit tentang sejarah Peradong dan kedatangan orang Cina sekitar tahun 1820, yang salah satunya merupakan orang tua Haji Batin Sulaiman yang bermarga Chao (Siang Tjhau). Catatan 1980 menyebutkan nama orang tua Haji Batin Sulaiman bernama Chao Thungit dan nama-nama anak dari Haji Batin Sulaiman Peradong dengan Mariam berjumlah 8 orang (1 laki-laki dan 7 perempuan). Nama-nama anaknya adalah; Wahab, Siti Tegek, Siti Liwet, Siti Rinda (Nek De), Siti Limah (Nek Amah), Siti Aisyah, Siti Midah (Nek Dut), dan Siti Rani'ah. Kemudian dijabarkan melalui catatan 1994 dan lisan Abdullah Bungno dari dua jalur anaknya, yakni Wahab dan Siti Limah (Nek Amah). Lisan dari Ati, Sani, dan Eeng menguraikan keturunan dari Siti Rinda (Nek De). Lisan dari Nurhanuddin menguraikan keturunan dari Siti Midah (Nek Dut). 31 Guru Haji Batin Sulaiman Batin Rimbun dari Peradong berguru ke Mentok kepada Datok Hasanudin (Syekh Hasanudin dari Palembang mengajar ke Mentok). Kemudian Haji Batin Sulaiman disahkan menjadi guru di kampung-kampung, serta disahkan mendirikan Jum’at (mendirikan Shalat Jum’at) dari kampung Pal Enam (Air Belo) sampai kampung Tanjung Niur (Tempilang) dan Kelapa. Setelah menunaikan ibadah haji di tanah suci dan menetap (mukim atau dalam penyebutan Bahasa Bangka dengan istilah naon) selama kurang lebih satu tahun 32 , kemudian Haji Batin Sulaiman kembali ke Peradong. Setelah itu, Batin Rimbun sepulang dari Mekkah diubah namanya menjadi Haji Batin Sulaiman (Haji Batin Sulaiman). Di kampung Peradong, tepatnya di Pekal Bawah Haji Batin Sulaiman mulai menyebarkan ilmunya yang diperoleh dari tanah suci Mekkah tersebut Sanad guru Haji Batin Sulaiman berdasarkan catatan Arpa’i sebagai berikut: keturunan guru Nabi Muhammad turun kepada Abu Bakar, turun kepada Abdul Qadir Jailani, turun kepada tuan Syeikh Muhammad Saman, turun kepada Ja’far Siddik, turun kepada Sih (Syeikh) Adam bilal Palembang, turun kepada Abdul Somad bilal Palembang, turun kepada Sih (Syeikh) Abdul Sahit bilal Palembang, turun kepada Sih (Syekh) Hasanudin dari Palembang mengajar ke Mentok. Kemudian merujuk pada naskah salinan Muhammad Yasir yang ditulis pada tahun 1970, bahwa sanad guru Haji Batin Sulaiman sebagai berikut; awal rabbal ‘alamin, kedua Jibril, ketiga ila Muhammad shallallah, keempat baginda Ali, kelima ruhul Adam, keenam syekh Abdul Qadir, ketujuh syekh Muhammad Saman, kedelapan Labi Wahid Palembang, kesembilan Datuk Asan Udin (Hasanuddin) Palembang, dan kesepuluh Haji Batin Sulaiman Bangka Mentok. Murid Di antara murid Haji Batin Sulaiman yang menjadi guru dan penugasan wilayahnya adalah Djidin kampung Ibul, Teret kampung Ibul, Djidan kampung Teritip (Air Nyatoh), Aman kampung Peradong, Lipung kampung Pangek, Rinda (perempuan) kampung Peradong, Samah kampung Mayang, Wahab kampung Mayang, Dirun kampung Berang sampai naik haji, Ketak kampung Pelangas, dan Amat kampung Kacung. Kemudian disambung oleh Haji Dullah (Abdullah), keliling tanah Bangka. Haji Dullah meninggal di kampung Sungai Buluh tahun 1940 an. Menurut cerita Sardi, bahwa nek (nenek) beliau dahulu juga sempat berguru kepada Haji Batin Sulaiman dengan cara berenang saat menyeberangi Sungai Pelangas yang ada di perbatasan kampung Menggarau dan Peradong. Warisan ajaran tersebut juga mengisi dalam dirinya, pada 31 Keturunan ini diperbaharuui dengan lebih lengkap pertama kali pada tanggal 29 Jumadil Akhir 1442/11 Februari 2021, diperbaharui pada tanggal 23 Zulhijjah 1442 (2 Agustus 2021), diperbaharui lagi pada tanggal 26 Zulhijjah 1442 (5 Agustus 2021) Oleh hamba alfaqir, lagi dhaif dan hina, Suryan bin Masrin bin Masdar bin Bujang Amat (keturunan kelima dari jalur Siti Limah dan H Aman) 32 Terkait lama masa Haji Batin Sulaiman bermukin (Naon) dan belajar di Mekkah tidak diketahui secara pasti, bisa jadi lebih dari setahun, mengingat pada waktu itu proses untuk haji masih menggunakan kapal laut yang harus ditempuh kurang lebih selama 3 bulan lamanya untuk satu kali perjalanan. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 105-117 Socius E-ISSN: 3025-6704 sanad keilmuan shalat berawal dari bapaknnya (Buman Budin), kemudian bapaknya belajar dari nenenknya (Saidah), dan Nek Saidah belajar lansung ke Haji Batin Sulaiman. Nek Saidah ini seangkatan dengan Kek Ketak (yang juga sama dari Pelangas) yang telah ditulis di atas. 33 Selanjutnya turunan dari murid Haji Batin Sulaiman yang masih menjalankan tradisi tulismenulis jawi (arab melayu) dan melanjutkan ajarannya, yakni wilayah sekitar Peradong adalah Kek Pi’i/Kek Klares 34 , Kek Yasir, Kek Durahim (tinggal di kampung Berang), Bungno Abdullah (Simpang Gong), Bujang bin Himroni (Kapung Pal 3 Mentok), dan lainnya. Karya Beberapa karya Haji Batin Sulaiman yang telah penulis inventarisir hingga saat ini yakni sebagai berikut: a. Syair Tsani, semacam rangkuman yang digubah dalam bentuk syair dari kitab karangan Syekh Nuruddin Ar Raniry Aceh yang berjudul “Asrar al Insan”. Syair ini selesai disalin di kampung Peradong tanpa adanya keterangan angka tahun. b. Pahala Membaca dan Makna Huruf Fatihah, kitab ini secara khusus tidak ada judul, namun demikian penulis memberikan judul berdasarkan kandungan isi dalam kitab tersebut. Kitab selesai di salin pada tahun 1327 Hijriyah, jika dikonversikan ke masehi + tahun 1909, dan tanpa ada keterangan tempat. c. Kitab Nuqil yang kecil tempat permulaan berlajar ugama Islam mendirikan sembahyang yang lima waktu di dalam sehari semalam yang kemudian penulis ringkas dengan judul Kitab Permulaan Sembahyang. Kitab ini selesai di Mentok pada hari Rabu tanggal 9 Ramadhan 1333 H (jika dikonversi ke masehi berangka tahun 1915). d. Terjemah Hadits Nabi “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”. Karya ini tidak diketahui selesai dimana, hanya di dalam naskah tertulis angka tahun 1316, hari Jum’at tanggal 13 Ramadhan. e. Ilmu Usul al I’tiqad yang shahih soal dan jawab bayannya. Karya ini merupakan nasakh dari kitab karya Muhammad Ma’sum al-Jawi. Tersalin di Peradong 6 Rabiul Awal 1325 (1907), alhajj Sulaiman faqir. f. Perihal Zikir (belum diketahui zikir tentang apa). Selesai di salin di Peradong pada tanggal 4 Dzulqa'dah 1326 (1908), Haji Batin Sulaiman dengan tulisan huruf per huruf; h, j, s, l, (m), n. g. Perihal Sembahyang dan Talqin Mayyit. Karya ini tidak ada keterangan tempat penyalinan dan tahunnya. h. Terjemah Syahadat lima. Karya ini disalin pada tanggal 22 Dzulqaidah 1300 (1883) di Peradong. i. Hakikat Sembahyang, Rahasia, dan Ma’rifatnya. Karya ini disalin pada tanggal 3 Jumadil Awwal 1325 (1907) tanpa ada keterangan tempat. j. Khutbah, catatan-catatan dan lain-lainya. Deskripsi Naskah Naskah Syair Tsani tertuang dalam bagian akhir kitab Asrar Al Insaan sebagai tulisan baru dan merupakan sebuah simpulan dalam bentuk syair dari kitab Asrar Al Insaan tersebut yang di tulis oleh Haji Batin Sulaiman di Peradong. Adapun ukuran naskah Syair Tsani yakni 16.5x23 cm dengan jumlah teks 22 baris dalam dua susun bait. Syair ini berjumlah 4 halaman dengan penomoran halaman kelanjutan dari halaman kertas sebelumnya (penulisan nomor baru) yakni dari nomor halaman 256-259. Aksara yang digunakan adalah aksara Arab Melayu (Jawi) dan berbahasa melayu. Watermark yang tertera dalam kertas adalah tiga bulan sabit, pabrikan Andrea Galvani Pordenone, produksi Italia. Kandungan Isi Kitab Asrar al-Insan Sebelum menuraikan isi kandungan dari naskah Syair Tsani terlebih dahulu akan di uraikan andungan isi dari naskah kitab Asrar Al Insaan (lengkapnya judul tersebut berdasarkan kitab karya Syaikh Nuruddin Ar Raniry adalah Asrar Al Insan fi Ma’rifat Al Ruh wa Al Rahman: 33 Hasil dari percakapan dengan Sardi via WhatApps chat tanggal 10 Maret 2024. Menurutnya bahwa saat nenenya menyeberangi sungai, terkdang kain bidangnya sampai basah. Belajar agama pada waktu itu masih sulit. Dahulu orang menyebut Haji Batin Sulaiman dengan sapaan Syekh Sulaiman. 34 Ini adalah yang empunya catatan (Arpa’i Jarsono) Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P 105-117 Suryan Masrin/ Pemikiran Tauhid Haji Rahasia Manusia dalam Mengetahui Ruh dan Tuhan) yang terdiri dari dua bab, bab yang pertama terdiri dari 6 pasal. Pasal pertama tentang Ruh Al-Azam dan mengapa ruh itu diberi nama bermacam-macam. Pasal kedua tentang sifat dan hakikat Ruh Al-Azam dan segala sesuatu yang berhubungan dnegan itu. Pasal ketiga tentang hal ihwal kalbu (hati) dan semua namanya serta mengapa disebut kalbu (hati). Pasal keempat tentang keadaan nafsu dan tabiatnya. Pasal kelima tentang keadaan akal, apakah itu, dimana tempat kediamannya, dan bagaimana tabiatnya. Dan terakhir pasal keenam tentang rahasia roh, kalbu, nafsu, akal, sirr khafi (tersimpan), waridat (yang dalam hati), khatarat (niat kehendak), ilham, dan wahyu yang datang dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Dalam bab yang kedua terdiri dari 5 pasal. Pasal pertama tentang bagaimana terjadinya badan dan hal-hal yang berhubungan dengan itu, Pasal kedua tentang perintah kepada roh dan hal-hal yang berhubungan dengan itu. Pasal ketiga tentang peristiwa roh yang diajak bicara oleh Tuhan, ketika ia dikeluarkan dari rusuk Adam. Pasal keempat tentang sifat roh tatkala dikeluarkan oleh Allah Ta’ala dari rusuk nabi Adam dan ditaruh ke dalam rahim Siti Hawa dan perintah roh kepada nutfa (air mani) serta beberapa rahasia yang ditaruh Allah Ta’ala ke dalam badan. Terakhir pasal kelima tentang martabat roh, tempat kembalinya setelah berpisah dari badan (Tudjimah dalam Fang, 2011: 397). Kepastian kesamaan isi kandungan kitab dapat dibuktikan setelah penulis melakukan pengkajian dan penelaahan terhadap isi kandungan manuskrip tersebut. Ini penulis telaah berdasarkan halaman yang telah diurut dalam manuskrip tersebut, mudah-mudahan dalam pengurutan nomor halaman yang ada di dalam manuskrip tersebut telah benar adanya. Dalam manuskrip ini, diberi nama Asrar Al Insaan tanpa ada tambahan kata fii Ma’rifat ar Ruh wa al Rahman sebagaimana judul pada kitab aslinya. Berdasarkan dari pengamatan penulis, tebakan terselesainya menyurat (menyalin) kitab ini pada 14 Rabiul Awwal tahun 1304 H (1886 M), hari Sabtu pukul 12 siang, sebagaimana tercantum dalam manuskrip tersebut (halaman 247). Tebakan angka tahun ini didasarkan pada kaidah penulisan angka arab yang ada beberapa jenis kal itu. Ini juga kemungkinan yang mempengaruhi gaya penulisan angka dalam manuskrip tersebut. Kaidah dalam penulisan angka arab untuk 0 (nol) bakunya ditulis dengan simbol ‘.’ (titik), namun dalam beberapa kaidah lain dituliskan mirip seperti angka nol pada umunya, hanya sedikit lebih kecil buka lingkarannya. Untuk penulisan angka 6 dalam angka arab terkadang lebih mirip sebagaimana angka 6 pada umumnya. Dalam penulisan manuskrip ini juga jarang sekali digunakan simbol ‘.’ (titik) kecuali hanya untuk tanda baca huruf. Transliterasi angka Arab ke angka Latin (Sumber: https://agunkzscreamo.blogspot.com/2016/10/pengertian-angka-romawi-latin-danangka.html#.W7l9l3ucFH0) Kandungan dalam manuskrip ini terbagi dalam dua bab, sama halnya dengan kandungan yang telah disebutkan oleh Tudjimah. Bagian bab yang pertama pada menyatakan segala nama ruh a’zhom (al Azam), sifat, dan hakikatnya. Pada bab ini menjelaskan enam pasal, yakni pasal pertama pada menyatakan nama ruh a’zhom dan dinamai akan dia dengan nama yang berlainan (bermacam-macam), lihat pada halaman 4. Pasal kedua pada menyatakan sifat ruh a’zhom, hakikatnya, dan barang yang ta’liq (mengikut) dengannya, lihat pada halaman 47. Pasal ketiga pada menyatakan ihwal qalbu (hati) dan segala namanya, apa sebab dinamai hati dan setengah daripada segala perangainya, lihat pada halaman 103.