scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA MASYARAKAT YANG TINGGAL DI DAERAH PESISIR PANTAI YANG MENGHADAPI ISU POTENSI GEMPA MEGATHRUST

Sabrina Wulandari, Witama; Rinaldi

Abstract

Fenomena gempa megathrust di wilayah pesisir Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, menimbulkan urgensi bagi masyarakat untuk memiliki tingkat kesiapsiagaan yang tinggi dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana besar. Salah satu aspek penting yang diyakini berperan dalam membentuk kesiapsiagaan tersebut adalah dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kesiapsiagaan bencana pada masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai yang menghadapi isu potensi gempa megathrust. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan subjek penelitian masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, berjumlah 172 responden. Instrumen yang digunakan meliputi Skala Kesiapsiagaan Bencana yang disusun berdasarkan teori Spittal, serta Skala Dukungan Sosial yang mengacu pada teori Sarafino & Smith. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana untuk menguji pengaruh antara kedua variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara dukungan sosial terhadap kesiapsiagaan bencana. Artinya, semakin tinggi tingkat dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungan sekitar, maka semakin tinggi pula tingkat kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi potensi gempa megathrust. Temuan ini menegaskan pentingnya peran dukungan sosial dalam memperkuat kapasitas masyarakat pesisir agar lebih siap dalam menghadapi risiko bencana.

Full text

1 JURNAL ILMIAH PSIKOLOGI INSANI PENGARUH DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA MASYARAKAT YANG TINGGAL DI DAERAH PESISIR PANTAI YANG MENGHADAPI ISU POTENSI GEMPA MEGATHRUST Sabrina Wulandari Witama1, Rinaldi2 [email protected] Universitas Negeri Padang ABSTRAK Fenomena gempa megathrust di wilayah pesisir Indonesia, khususnya di Sumatera Barat, menimbulkan urgensi bagi masyarakat untuk memiliki tingkat kesiapsiagaan yang tinggi dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana besar. Salah satu aspek penting yang diyakini berperan dalam membentuk kesiapsiagaan tersebut adalah dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial terhadap kesiapsiagaan bencana pada masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai yang menghadapi isu potensi gempa megathrust. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan subjek penelitian masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, berjumlah 172 responden. Instrumen yang digunakan meliputi Skala Kesiapsiagaan Bencana yang disusun berdasarkan teori Spittal, serta Skala Dukungan Sosial yang mengacu pada teori Sarafino & Smith. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier sederhana untuk menguji pengaruh antara kedua variabel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara dukungan sosial terhadap kesiapsiagaan bencana. Artinya, semakin tinggi tingkat dukungan sosial yang diterima individu dari lingkungan sekitar, maka semakin tinggi pula tingkat kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi potensi gempa megathrust. Temuan ini menegaskan pentingnya peran dukungan sosial dalam memperkuat kapasitas masyarakat pesisir agar lebih siap dalam menghadapi risiko bencana. Kata Kunci: Dukungan Sosial, Kesiapsiagaan Bencana, Masyarakat Pesisir, Gempa Megathrust. ABSTRACT The phenomenon of megathrust earthquakes in Indonesia’s coastal regions, particularly in West Sumatra, highlights the urgency for communities to maintain a high level of disaster preparedness in anticipating the occurrence of major disasters. One important aspect believed to play a role in shaping such preparedness is the social support received by individuals from their surrounding environment. This study aims to examine the influence of social support on disaster preparedness among communities living in coastal areas facing the potential threat of a megathrust earthquake. The research employed a quantitative approach with participants consisting of 172 residents living in coastal areas. The instruments used included the Disaster Preparedness Scale, developed based on Spittal’s theory, and the Social Support Scale, referring to the theory of Sarafino & Smith. Data were analyzed using simple linear regression analysis to examine the effect between the two variables. The results show a positive and significant influence of social support on disaster preparedness. This indicates that the higher the level of social support received by individuals from their surrounding environment, the higher their level of preparedness in facing the potential occurrence of a megathrust earthquake. These findings emphasize the crucial role of social support in strengthening the capacity of coastal communities to become better prepared in dealing with disaster risks. Keywords: Social Support, Disaster Preparedness, Coastal Communities, Megathrust Earthquake. Vol. 10 No. 10 Oktober 2025 2 PENDAHULUAN Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudra, yang menjadikannya lokasi strategis sebagai jalur transit perdagangan. Namun, selain keuntungan tersebut, Indonesia juga harus menghadapi risiko bencana alam, khususnya gempa bumi yang sering terjadi. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis Indonesia yang berada di pertemuan antara lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Maka dari itu, tidak mengherankan jika Indonesia sering dilanda gempa, baik yang berskala kecil maupun besar, yang kadang disertai tsunami dan letusan gunung berapi (Saputra et al., 2023). Berbagai daerah di Indonesia sangat rentan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Wilayah Indonesia berada di sekitar lempeng tektonik Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Lempeng-lempeng ini terus bergerak dan dapat menyebabkan gempa bumi. Jika gempa terjadi di dasar laut, guncangannya bisa menggerakkan air laut dan memicu tsunami. Menurut Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, ada 28 wilayah di Indonesia yang berisiko tinggi mengalami gempa bumi dan tsunami. Selain berada di persimpangan tiga lempeng tektonik, Indonesia juga terletak di jalur Cincin Api Pasifik (The Pacific Ring of Fire), yang merupakan rangkaian gunung berapi aktif di dunia. Indonesia memiliki sekitar 240 gunung berapi, dengan 70 di antaranya masih aktif. Zona ini dikenal karena seringnya terjadi gempa kuat dan tsunami besar yang bisa menimbulkan banyak korban jiwa (Sungkawa et al., 2007). Salah satu ancaman gempa bumi yang paling serius di Indonesia adalah potensi gempa megathrust. Megathrust adalah proses ketika dua lempeng tektonik bertemu, di mana salah satu lempeng bergerak perlahan di bawah lempeng lainnya. Pergerakan ini menyebabkan gesekan dan benturan antara lempeng-lempeng tersebut (Sieh, 2006). Sieh juga mengatakan bahwa, wilayah Sumatera Barat termasuk salah satu daerah di Indonesia yang memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya gempa megathrust. Jika megathrust terjadi di dasar laut, wilayah yang dekat dengan pusat gempa berisiko mengalami tsunami setelah pergerakan lempeng tersebut. Megathrust biasanya dikenal sebagai gempa tektonik dengan kekuatan yang besar (Nur, 2021). Isu tentang potensi gempa megathrust sering menjadi perbincangan di media massa dan media sosial, yang akhirnya membuat masyarakat semakin cemas. Akibat dari gempa bumi bisa berupa kerusakan rumah atau bangunan, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan anggota keluarga. Setelah bencana gempa berlalu, orang-orang yang selamat sering mengalami kesulitan untuk pulih. Mereka mungkin merasa takut dan khawatir berlebihan, terus-menerus teringat kejadian tersebut, serta mengalami berbagai gejala lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari (Maulida & Fitriyani, 2023). Gempa bumi dapat menimbulkan dampak besar dan tak terduga, termasuk korban jiwa dalam jumlah yang signifikan. Menurut Sangkala & Gerdtz (2018) pada rentang waktu 1997 hingga 2006, jumlah peristiwa bencana mengalami peningkatan sekitar 60%. Selain itu, jumlah kematian akibat bencana juga meningkat dua kali lipat dibandingkan dekade sebelumnya, dengan total korban jiwa lebih dari 1,2 juta orang. Pada periode yang sama, tercatat rata-rata sebanyak 270 juta orang terdampak oleh bencana setiap tahunnya, dengan laju peningkatan sekitar 17% setiap tahun. Gempa bumi juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti Ketakutan akan kehilangan anggota keluarga atau orang terdekat karena kematian atau cedera, mengalami perubahan besar dalam hidup, seperti harus pindah rumah, terpengaruh oleh relokasi keluarga atau teman, mengalami masalah pekerjaan atau bisnis, atau menghadapi kesulitan keuangan akibat hal-hal tersebut, dan mengalami dampak besar secara pribadi, baik itu berupa masalah fisik atau emosional (Allen et al., 2018). Gempa bumi dapat menimbulkan efek psikologis jangka panjang, seperti kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pasca trauma (PTSD), yang bisa dialami oleh individu, 3 keluarga, maupun masyarakat, baik mereka yang menjadi korban langsung maupun tidak langsung (Farooqui et al., 2017). Masyarakat di pesisir Sumatera, khususnya di Kota Padang, mengalami dampak fisik dan psikologis yang signifikan dari gempa bumi dan tsunami 2004 di Aceh. Peristiwa tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat akan ancaman gempa bumi dan tsunami dan pentingnya mempersiapkan diri untuk bencana serupa di masa depan. Sebaliknya, peningkatan kesadaran belum sepenuhnya diikuti dengan pemahaman dan tindakan yang tepat untuk menangani keadaan bencana. Ini ditunjukkan oleh kepanikan yang terjadi di masyarakat saat terjadi gempa susulan, yang kadang-kadang menyebabkan kematian dalam proses evakuasi spontan (Sieh, 2006) Ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap ancaman bencana harus ditingkatkan bersamaan dengan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang lebih baik, yang mencakup semua aspek pengetahuan, sikap, dan kemampuan untuk bertindak secara tepat saat terjadi bencana. Salah satu komponen penting dalam pengelolaan bencana alam adalah kesiapsiagaan, yang memungkinkan masyarakat dan pihak terkait untuk mempersiapkan diri secara lebih baik untuk berbagai kemungkinan yang ditimbulkan oleh bencana. Hal ini juga berlaku untuk bencana gempa bumi, di mana kesiapsiagaan sangat penting untuk meminimalkan risiko dan dampak yang dapat terjadi, baik terhadap kerugian materiil maupun jiwa (Hadi et al., 2019) Kesiapsiagaan mencerminkan respons terhadap bencana yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan perilaku, sehingga sering digunakan sebagai variabel dependen dalam penelitian (Spittal et al., 2006). Kesiapsiagaan (preparedness) adalah tindakan atau aktivitas yang dilakukan sebelum bencana untuk memastikan respons yang efektif terhadap dampak bahaya, seperti memberikan peringatan dini yang tepat dan efektif dan mengevakuasi orang dan harta benda mereka dari tempat yang terancam. Kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana adalah ketika masyarakat secara individu maupun kelompok memiliki kemampuan secara fisik dan mental untuk menangani bencana (Damanik, 2024). Dalam siklus penanggulangan bencana, upaya kesiapsiagaan termasuk dalam tahap pengurangan risiko sebelum terjadinya bencana. Pergeseran dari konsep penanganan bencana ke paradigma pengurangan risiko bencana semakin menekankan bahwa upaya kesiapsiagaan bencana merupakan salah satu tahapan yang sangat penting untuk mengurangi besarnya kerugian yang diakibatkan oleh bencana (Paramesti, 2011). Menurut Damanik (2024) dalam penanggulangan bencana, kesiapsiagaan masyarakat sangat penting karena berpengaruh pada bagaimana masyarakat bertindak saat bencana terjadi. Kesiapsiagaan masyarakat sangat terkait dengan pengetahuan tentang bencana itu sendiri. Konsep kesiapsiagaan atau disaster readiness menjadi salah satu pilar penting dalam upaya mengurangi risiko bencana dalam menghadapi ancaman bencana. Kesiapsiagaan bencana, menurut United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR), didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan, keterampilan, kapasitas, dan tindakan yang dimaksudkan untuk secara efektif mengantisipasi, merespons, dan memulihkan diri dari dampak bencana yang diperkirakan akan terjadi, sedang berlangsung, atau telah terjadi. Kesiapsiagaan mencakup penyediaan peralatan darurat, pelaksanaan pelatihan, simulasi evakuasi, dan pembuatan rencana kontinjensi. Secara teoritis, kesiapsiagaan bencana mencakup persiapan pada tingkat individu, organisasi, dan komunitas. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap seseorang dalam menghadapi bencana termasuk apa yang harus dilakukan dan potensi risiko (Hugelius & Harada, 2025). Salah satu faktor eksternal yang paling penting dalam membentuk respons masyarakat terhadap bencana adalah dukungan sosial. Hal ini mencakup bantuan emosional, informasional, instrumental, dan dukungan persahabatan yang diberikan oleh teman, tetangga, keluarga, dan lembaga sosial kepada individu atau komunitas dalam situasi penuh tekanan, seperti ancaman bencana. Kesiapsiagaan bencana, yang didefinisikan sebagai 4 tindakan untuk meningkatkan keselamatan hidup orang saat bencana terjadi, sangat dipengaruhi oleh dukungan sosial (Hidayat, 2023) Lutfiyah et al. (2024) menemukan bahwa dukungan sosial, khususnya dalam bentuk pelatihan dan simulasi, berhubungan signifikan dengan tingkat kesiapsiagaan masyarakat di Ngagel, Surabaya. Dukungan ini terbukti efektif dalam membekali individu dengan pengetahuan dan kemampuan bertindak saat terjadi gempa Temuan ini juga dipertegas oleh penelitian yang dilakukan Hidayat (2023) yang menemukan hubungan signifikan (p = 0,000) antara dukungan sosial dan kesiapsiagaan remaja di MTS Al Mu’awwanah, Sukabumi. Dengan kata lain, semakin tinggi dukungan dari sekolah dan lingkungan sekitar, semakin siap remaja menghadapi risiko gempa bumi. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan sosial perlu menjadi fokus dalam upaya peningkatan kesiapsiagaan bencana gempa bumi. Dalam hal ini, dukungan sosial pra-bencana memiliki peran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan individu maupun komunitas terhadap bencana. Individu yang memperoleh dukungan sosial sebelum bencana cenderung memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dan kesiapan yang lebih tinggi dalam menghadapi situasi darurat. Selain itu, dukungan sosial yang kuat sebelum bencana juga berkontribusi dalam mengurangi tekanan psikologis pascabencana, karena individu yang memiliki jaringan sosial yang baik lebih mungkin untuk mendapatkan bantuan emosional dan praktis setelah bencana terjadi. Hubungan sosial yang telah terjalin sebelum bencana pun akan lebih mudah dibangun kembali, sehingga dapat mempercepat proses pemulihan dan ketahanan psikologis para penyintas (Setiawicaksana & Fitriani, 2021) Menurut Sarafino & Smith (2011) dukungan sosial mengacu pada kenyamanan, perhatian, penghargaan diri, atau bantuan yang diberikan kepada seseorang oleh individu lain atau kelompok. Selain itu, Sarafino & Smith (2011) menjelaskan bahwa dukungan sosial merupakan tindakan atau perlakuan nyata dari orang lain, atau dapat juga diartikan sebagai perasaan seseorang bahwa kenyamanan, perhatian, dan bantuan tersebut tersedia, yang disebut sebagai bentuk dukungan yang dirasakan. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Aspriyati (2020) yang mengatakan bahwa dukungan keluarga berperan penting dalam saling menguatkan, sehingga membantu penyintas tetap bertahan di tengah situasi yang sangat sulit. Selain itu, dukungan dari pihak lain, seperti relawan, juga memiliki pengaruh besar terhadap resiliensi penyintas, mendorong mereka untuk kembali menjalin hubungan sosial. Dukungan sosial terdiri dari beberapa dimensi utama yang memiliki peran berbeda dalam mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan individu. House memaparkan bahwa hubungan sosial tidak hanya memberi manfaat secara emosional, tetapi juga melalui berbagai bentuk bantuan nyata yang secara langsung memengaruhi cara individu mengatasi tekanan hidup (House et al., 1988). Dukungan emosional mencakup kesediaan mendengarkan perasaan seseorang, memberikan motivasi, dan menciptakan kesan positif. Dukungan informasional melibatkan pemberian informasi yang membantu seseorang menyelesaikan masalah. Sementara itu, dukungan konkrit adalah bentuk bantuan nyata, seperti memberikan barang atau melakukan sesuatu yang dibutuhkan oleh individu (Rif’ati et al., 2018) Kusrini & Prihartanti (2014) mengatakan bahwa menerima dukungan sosial dari orang yang diyakini akan memberinya perasaan dihargai, diperhatikan, dan dicintai. Berdasarkan hubungan formal atau informal, orang yang mendapatkan dukungan sosial akan merasa senang dan dibantu. Menurut Dhamayantie (2012) keuntungan dari pembentukan dukungan sosial dalam diri seseorang adalah peningkatan interaksi positif antar orang-orang di lingkungannya. Selain itu, dukungan sosial akan bermanfaat bagi individu dalam membangun hubungan atas peran yang dimilikinya dengan orang lain 5 Dukungan sosial memiliki peran penting dalam keberlangsungan hidup seseorang. Dukungan ini dapat berasal dari berbagai pihak, seperti teman, keluarga, sahabat, guru, psikolog, tetangga, atau lainnya, individu tidak dapat hidup tanpa bantuan. individu adalah makhluk sosial yang memerlukan hubungan sosial untuk dapat memperoleh dukungan sosial (Agustina, 2024). Menurut House et al (1988), dukungan sosial terdiri dari beberapa komponen yang mencerminkan sejauh mana seseorang memberikan dukungan, yaitu dukungan emosional, penghargaan, instrumental, dan informatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengaruh dukungan sosial terhadap kesiapsiagaan bencana masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai dalam menghadapi tekanan dan kesulitan akibat potensi gempa megathrust. Salah satu faktor yang berpotensi memainkan peran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana adalah dukungan sosial. Dukungan sosial, baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar, dapat memperkuat kapasitas individu dalam menghadapi tekanan psikologis serta membentuk respons yang lebih adaptif terhadap situasi darurat. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji sejauh mana pengaruh dukungan sosial terhadap tingkat kesiapsiagaan bencana, khususnya pada masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan berisiko tinggi menghadapi potensi gempa megathrust. Judul penelitian ini adalah "Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Kesiapsiagaan Bencana pada Masyarakat yang Tinggal di Daerah Pesisir Pantai yang Menghadapi Isu Potensi Gempa Megathrust." METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif karena jenis penelitian ini memerlukan analisis data yang valid, terukur, dan akurat. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif karena ini adalah jenis penelitian yang memerlukan pengambilan data dari responden dalam bentuk skor. Penelitian kuantitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk menguji berbagai teori dengan menganalisis hubungan antarvariabel. Secara lebih spesifik, penelitian ini dapat diartikan sebagai pendekatan yang memanfaatkan data berupa angka, mulai dari tahap pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian hasil (Siroj et al., 2024) HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di daerah pesisir, dengan jumlah keseluruhan responden sebanyak 349 orang. Dari total data yang terkumpul, dilakukan proses penyaringan untuk memastikan kelayakan data sebelum dianalisis. Hasil penyaringan menunjukkan bahwa sebanyak 177 data teridentifikasi sebagai outlier, yaitu data yang tidak memenuhi kriteria kelayakan karena menunjukkan pola respons yang tidak wajar dan berpotensi memengaruhi akurasi hasil analisis. Data tersebut kemudian dikeluarkan dari proses pengolahan agar hasil penelitian lebih valid dan representatif. Dengan demikian, jumlah data yang digunakan dalam analisis akhir adalah 172 responden. Instrumen penelitian disusun berdasarkan skala The Eartquake Readiness Scale dan skala Dukungan Sosial, kemudian disebarkan dalam bentuk tautan kuesioner melalui Google Form. Proses pengumpulan data dilakukan secara daring. Pada penyebaran daring, peneliti memanfaatkan Google Form untuk menjangkau partisipan, peneliti mendatangi beberapa rumah warga dan memberiikan barcode secara langsung kepada warga yang memenuhi kriteria subjek penelitian Tabel 1. Deskripsi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin Data Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin N Persentase (%) Pria 78 45,35% 6 Wanita 94 54,65% Jumlah 172 100% Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas dengan wanita, yaitu sebanyak 94 orang (54,65%). Sementara itu, jumlah responden pria tercatat sebanyak 78 orang (45,35%), yang merupakan kelompok dengan jumlah paling sedikit dalam penelitian ini. Tabel 2. Deskripsi Subjek Berdasarkan Lama Tinggal Di Daerah Pesisir Lama Tinggal Responden di Daerah Pesisir Lama Tinggal (Tahun) N Persentase (%) 15 tahun 58 33,72% 20 tahun 37 21,51% 25 tahun 14 8,14% Lebih dari 25 tahun 63 36,63% Jumlah 172 100% Berdasarkan tabel tersebut, dapat diketahui bahwa mayoritas responden telah tinggal di wilayah pesisir dalam jangka waktu yang cukup lama. Sebagian besar responden, yaitu sebanyak 63 orang (36,63%), telah menetap lebih dari 25 tahun, diikuti oleh responden yang telah tinggal selama 15 tahun sebanyak 58 orang (33,72%). Sementara itu, responden yang telah tinggal selama 20 tahun berjumlah 37 orang (21,51%), dan kelompok dengan lama tinggal 25 tahun merupakan yang paling sedikit, yakni 14 orang (8,14%). Tabel 3. Deskripsi Subjek Berdasarkan Tingkat Kesiapan dalam Menghadapi Gempa Bumi Besar Tingkat kesiapan dalam menghadapi gempa bumi besar Tingkat kesiapan dalam menghadapi gempa bumi besar Tingkat kesiapan Jumlah Responden Persentase (%) Sama sekali tidak siap 17 9,88% Sangat kurang siap 7 4,07% Kurang siap 34 19,77% Cukup siap 41 23,84% Siap 38 22,09% Sangat siap 23 13,37% Sangat Siap Sekali 12 6,98% Jumlah 172 100% Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa tingkat kesiapan masyarakat pesisir dalam menghadapi gempa bumi besar beragam, dengan proporsi terbesar berada pada kategori cukup siap sebanyak 41 responden (23,84%). Selanjutnya, kategori siap mencakup 38 responden (22,09%), diikuti oleh kategori sangat siap sebanyak 23 responden (13,37%), dan sangat siap sekali sebanyak 12 responden (6,98%). Sementara itu, masih terdapat sebagian masyarakat yang berada pada tingkat kesiapan rendah, yaitu 17 responden (9,88%) yang menyatakan sama sekali tidak siap, 7 responden (4,07%) dalam kategori sangat kurang siap, dan 34 responden (19,77%) dalam kategori kurang siap. B. Pelaksanaan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan skala The earthquake readiness scale yang disusun oleh (Spittal et al, 2006). Sementara itu, untuk mengukur dukungan sosial, peneliti menggunakan skala yang dikembangkan oleh Achmad (2024) yang berlandaskan teori Sarafino (2011). Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner pada periode 10 Agustus hingga 16 September 2025. Teknik penyebaran kuesioner dilakukan dengan secara daring (online). Pada penyebaran kuesioner secara daring, peneliti menggunakan Google Form untuk menjangkau partisipan secara luas. 7 C. Hasil Penelitian 1. Deskripsi Data Penelitian a. Deskripsi Data Kesiapsiagaan Bencana dan Dukungan Sosial Dalam penelitian ini, analisis diskriminasi data dilakukan dengan membandingkan rata-rata skor empirik dan rata-rata skor hipotetik dari masing-masing variabel. Tujuan dari analisis ini adalah untuk melihat perbandingan hasil skor pada setiap variabel secara lebih mendalam. Karena fokus utama terletak pada perbandingan skor, maka diperlukan informasi mengenai skor minimum dan maksimum hipotetik, rata-rata hipotetik, serta standar deviasi hipotetik untuk masing-masing skala variabel, yaitu Kesiapsiagaan bencana dan dukungan sosial. Oleh sebab itu, peneliti melakukan perhitungan manual untuk memperoleh nilai ratarata hipotetik pada setiap variabel tersebut. Tabel 4. Rerata Hipotetik dan Rerata Empirik Kesiapsiagaan Bencana dan Dukungan Sosial Variabel Skor Hipotetik Skor Empirik Min Max Mean SD Min Max Mean SD Kesiapsiagaan Bencana 0 21 10,5 3,5 1 21 14,4 4,6 Dukungan Sosial 12 48 30 6 14 48 37,3 5,6 Berdasarkan Tabel 4. rerata hipotetik dan empirik pada variabel kesiapsiagaan bencana menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Skor hipotetik memiliki rentang 0–21 dengan rerata 10,5 dan standar deviasi 3,5. Sementara itu, skor empirik menunjukkan rentang 1–21 dengan rerata 14,4 (SD = 4,6). Hasil ini mengindikasikan bahwa tingkat kesiapsiagaan responden secara umum berada di atas rerata hipotetik, sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat pesisir dalam penelitian ini memiliki tingkat kesiapsiagaan yang relatif tinggi terhadap potensi gempa bumi besar. Pada variabel dukungan sosial, skor hipotetik berada pada rentang 12–48 dengan rerata 30 dan standar deviasi 6, sedangkan skor empirik berkisar antara 14–48 dengan rerata 37,3 (SD = 5,6). Rerata empirik yang lebih tinggi dari rerata hipotetik menunjukkan bahwa secara umum responden merasakan adanya dukungan sosial yang tinggi dari lingkungan sekitar dalam konteks kesiapsiagaan terhadap bencana. Tabel 5. Rerata Hipotetik dan Rerata Empirik Kesiapsiagaan Bencana Berdasarkan Aspek Aspek Skor Hipotetik Skor Empirik Min Max Mean SD Min Max Mean SD Mitigasi 0 8 4 1,3 0 8 6,2 1,8 Perencanaan 0 13 6,5 2,1 0 13 8,1 3,4 Berdasarkan tabel, aspek mitigasi memiliki skor hipotetik rata-rata 4 (SD = 1,3), sedangkan skor empirik menunjukkan rata-rata 6,2 (SD = 1,8). Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingkat mitigasi masyarakat berada pada kategori tinggi, menandakan pengetahuan dan tindakan pencegahan terhadap bencana sudah cukup baik. Pada aspek perencanaan, skor hipotetik rata-rata 6,5 (SD = 2,1), sedangkan skor empirik menunjukkan rata-rata 8,1 (SD = 3,4) dengan rentang 0–13. Hal ini mengindikasikan bahwa aspek perencanaan berada pada kategori sedang–tinggi, yang berarti masyarakat telah memiliki rencana dasar dalam menghadapi bencana, namun masih perlu peningkatan pada kesiapan strategis dan jangka panjang. Tabel 6. Rerata Hipotetik dan Rerata Empirik Dukungan Sosial Berdasarkan Aspek Aspek Skor Hipotetik Skor Empirik Min Max Mean SD Min Max Mean SD Dukungan Emosional 3 12 7,5 1,5 3 12 9,6 1,8 Dukungan Instrunmenta l 3 12 7,5 1,5 3 12 8,9 1.8 8 Dukungan Informasional 3 12 7,5 1,5 3 12 9,3 1,6 Dukungan Persahabatan 3 12 7,5 1,5 3 12 9,8 1,6 Data tersebut menunjukkan bahwa keempat aspek dukungan sosial menunjukkan skor empirik rata-rata yang lebih tinggi daripada skor hipotetik rata-rata, yang berarti bahwa secara keseluruhan tingkat dukungan sosial yang dirasakan responden termasuk kategori tinggi, dengan variasi paling kecil pada dukungan instrumental dan informasional, serta variasi paling besar pada aspek persahabatan. 2. Kategorisasi Data Penelitian a. Kesiapsiagaan Bencana Dalam proses kategorisasi skor, peneliti terlebih dahulu menentukan rentang nilai pada skala kesiapsiagaan bencana, yaitu mulai dari skor terendah 0 hingga skor tertinggi 1. Skala ini terdiri atas 21 butir pernyataan, sehingga skor minimum yang mungkin diperoleh responden adalah 21x0 = 0, sedangkan skor maksimum yang mungkin adalah 21×1 = 21. Selanjutnya, nilai standar deviasi hipotetik dihitung menggunakan rumus μ = (21-0):6 = 3,5. Sedangkan nilai rata-rata hipotetiknya diperoleh dari rumus μ = (21 + 0): 2 = 10,5. Berdasarkan nilai-nilai tersebut, skor yang diperoleh responden pada skala kesiapsiagaan bencana kemudian dikategorikan ke dalam lima tingkatan, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah, sebagaimana ditunjukkan pada tabel klasifikasi berikut. Tabel 7. Kategorisasi Skor Subjek Kesiapsiagaan Bencana Rumus Skor Kategori Subjek F % x < (μ - 1,5σ) x < 5,25 Sangat Rendah 7 4,1% (μ - 1,5σ) < x ≤ (μ - 0,5σ) 5,26 < x ≤ 8,75 Rendah 17 9,9% (μ - 0,5σ) < x ≤ (μ + 0,5σ) 8,76< x ≤ 12,25 Sedang 26 15,1% (μ + 0,5σ) < x ≤ (μ + 1,5σ) 12,26 < x ≤ 15,75 Tinggi 42 24,4% x ≥ (μ + 1,5σ) 15,76 ≤ x Sangat Tinggi 80 46,5% Jumlah 172 100% Kategorisasi skor kesiapsiagaan bencana beragam dimana sebagian besar responden berada pada kategori sangat tinggi (46,5%) dan yang lainnya berada pada kategori sangat rendah, rendah, sedang dan tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap gempa bumi telah berkembang dengan baik, walaupun masih ada sebagian kecil masyarakat yang berada pada kategori rendah. Tabel 8. Kategorisasi Skor Skala Kesiapsiagaan Bencana Berdasarkan Aspek Aspek Rumus Skor Kategori Subjek F % Mitigasi x < (μ - 1,5σ) x < 2,6 Sangat Rendah 9 5,2% (μ - 1,5σ) < x ≤ (μ - 0,5σ) 2,7 < x ≤ 4,2 Rendah 16 9,3% (μ - 0,5σ) < x ≤ (μ + 0,5σ) 4,3< x ≤ 5,8 Sedang 28 16,3% (μ + 0,5σ) < x ≤ 5.9< x ≤ 7,4 Tinggi 60 34,9% 9 (μ + 1,5σ) x ≥ (μ + 1,5σ) 7,5 ≤ x Sangat Tinggi 59 34,3% Jumlah 172 100% Perencanaan x < (μ - 1,5σ) x < 2,75 Sangat Rendah 14 8,1 (μ - 1,5σ) < x ≤ (μ - 0,5σ) 2,76 < x ≤ 4,58 Rendah 18 10,5% (μ - 0,5σ) < x ≤ (μ + 0,5σ) 4,59< x ≤ 6,41 Sedang 17 9,9% (μ + 0,5σ) < x ≤ (μ + 1,5σ) 6,42< x ≤ 8,24 Tinggi 35 20,3% x ≥ (μ + 1,5σ) 8,25 ≤ x Sangat Tinggi 88 51,2% Jumlah 172 100% Berdasarkan aspek-aspek kesiapsiagaan, aspek mitigasi didominasi kategori sangat tinggi dan tinggi yaitu 34,9% dan 34,3%, sedangkan aspek perencanaan didominasi ke dalam kategori sangat tinggi (51,2%). Temuan ini mengindikasikan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan dan tindakan mitigasi yang baik, namun aspek perencanaan masih memerlukan penguatan, terutama pada kelompok yang masih berada di kategori rendah dan sedang. b. Dukungan Sosial Dalam proses kategorisasi skor, peneliti terlebih dahulu menetapkan rentang nilai pada skala kesiapsiagaan bencana, yaitu dari skor terendah 12 hingga skor tertinggi 48. Nilai tersebut diperoleh berdasarkan jumlah butir pernyataan sebanyak 12 item dengan skala penilaian 1 hingga 4. Dari rentang nilai tersebut, kemudian ditentukan nilai rata-rata dan standar deviasi hipotetik sebagai dasar untuk mengelompokkan skor responden ke dalam kategori. Selanjutnya, skor yang diperoleh responden pada skala kesiapsiagaan bencana diklasifikasikan ke dalam lima kategori, yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah, sebagaimana disajikan dalam tabel klasifikasi berikut. Tabel 9. Kategorisasi Skor Subjek Dukungan Sosial Rumus Skor Kategori Subjek F % x < (μ - 1,5σ) x < 29,75 Sangat Rendah 10 5,8% (μ - 1,5σ) < x ≤ (μ - 0,5σ) 29,76 < x ≤ 29,91 Rendah - - (μ - 0,5σ) < x ≤ (μ + 0,5σ) 29,92< x ≤ 30 Sedang 5 2,9% (μ + 0,5σ) < x ≤ (μ + 1,5σ) 30,01< x ≤ 30,25 Tinggi - - x ≥ (μ + 1,5σ) 30,26 ≤ x Sangat Tinggi 157 91,3% Jumlah 172 100% Kategorisasi skor dukungan sosial menunjukkan hasil yang sangat tinggi. Sebanyak 91,3% responden berada pada kategori sangat tinggi, sedangkan 2,9% berada pada kategori sedang, dan terdapat sebanyak 5,8% berada pada kategori sangat rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat pesisir memiliki ikatan sosial yang sangat kuat, baik dalam bentuk dukungan emosional, instrumental, informasional, maupun persahabatan. 16 Saputra, A., Diponegoro, A., & Urbayatun, S. (2023). Resiliensi Pada Penyintas Pasca Gempa Bumi Lombok. Psyche: Jurnal Psikologi, 5(2), 203–233. https://doi.org/10.36269/psyche.v5i2.1362 Sarafino, & Smith. (2011). HEALTH PSYCHOLOGY Biopsychosocial Interactions 7th Edition. Jonh Wiley & Son, Inc. Sari, A., & Sumiati, A. (2016). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Efikasi Diri Pada Siswa Kelas X Akuntansi Di Smk Bina Pangudi Luhur Jakarta. Econosains Jurnal Online Ekonomi Dan Pendidikan, 14(2), 16–25. https://doi.org/10.21009/econosains.0142.02 Setiawicaksana, N., & Fitriani, D. R. (2021). Hubungan Dukungan Sosial dengan Kesiapsiagaan Remaja dalam Menghadapi Banjir di Samarinda. 2(2), 921–927. Siagian, S. S. (2024). Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Kesiapan Pensiun pada TNI-AD di Bekangdam I / BB. Sieh, K. (2006). Sumatran megathrust earthquakes: from science to saving lives. June, 1947–1963. https://doi.org/10.1098/rsta.2006.1807 Siroj, R. A., Afgani, W., Septaria, D., Zahira, G., Kuantitatif, P., Ilmiah, P., & Data, A. (2024). Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, Volume 7 Nomor 3, 2024 | 11279. 7, 11279– 11289. Spittal, M. J., Walkey, F. H., McClure, J., Siegert, R. J., & Ballantyne, K. E. (2006). The earthquake readiness scale: The development of a valid and reliable unifactorial measure. Natural Hazards, 39(1), 15–29. https://doi.org/10.1007/s11069-005-2369-9 Sugiyono. (2013). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Sungkawa, D., Pendidikan, J., & Fpips, G. (2007). DAMPAK GEMPA BUMI TERHADAP LINGKUNGAN HIDUP Oleh: Dadang Sungkawa*) ABSTRAK. Susumaningrum, L. A., & Pristiwandono, Y. (2017). Survei Kesiapsiagaan Anak Usia Sekolah terhadap Bencana Alam Banjir Bandang di Desa Kemiri Kecamatan Panti Jember. Sutton, J., & Tierney, K. (2006). Disaster Preparedness: Concepts, Guidance, and Research Jeannette Sutton and Kathleen Tierney Natural Hazards Center Institute of Behavioral Science University of Colorado Boulder, CO.