scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

The Typology and Functions of Fawātiḥ al-Suwar within the Structural Framework of the Qur'an

Adinda Aisyah Nurussyifa

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P 140-150 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17555965 *Corresponding Author Email: [email protected] Ragam Fawatih As-Suwar dan Fungsinya dalam Stuktur Al-Qur’an The Typology and Functions of Fawātiḥ al-Suwar within the Structural Framework of the Qur’an Adinda Aisyah Nurussyifa1 Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Makassar, Indonesia A B S T R A C T This study discusses Fawātiḥ al-Suwar within the context of Qur’anic exegesis (tafsīr) and ʿUlūm al-Qur’ān from a linguistic perspective, focusing on their structural functions and variations throughout the Qur’anic system. The method employed in this research is library research, which involves collecting information and data from various sources available in libraries such as documents, books, journals, historical records, and other relevant materials. The primary sources used in this study are derived from several classical works on ʿUlūm al-Qur’ān that are relevant to the topic. The approach adopted in this article is qualitative and descriptive. The findings indicate that Fawātiḥ al-Suwar represent one of the unique and miraculous features of the Qur’an’s composition, reflecting the profound meaning and divine eloquence (balāghah ilāhiyyah) of its expression. Prominent exegetes such as al-Qurṭubī, al-Rāzī, and Ibn ʿĀshūr explain that the openings of the Qur’anic chapters possess their own secrets, containing spiritual, rhetorical, and thematic messages. The fawātiḥ serve as an introduction to the meanings and as an affirmation of each surah’s central theme. Among their forms, ten main types can be identified: openings with praise, openings with al-ḥurūf al-muqattaʿah (disjointed letters), openings with vocatives (nidāʾ), openings with declarative statements (jumlah khabariyyah), openings with oaths (qasam), openings with conditional particles (ḥurūf sharṭ), openings with imperative verbs (fiʿl amr), openings with interrogatives (istifhām), openings with supplications (duʿāʾ), and openings with causal statements (taʿlīl). A B S T R A K Penelitian ini membahas mengenai Fawatih as-Suwar dalam konteks tafsir dan Ulumul Qur’an dari prespektif linguistik dengan menyeroti stuktur fungsi, serta variasinya dalam keseluruhan sistem Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah library research (studi kepustakaan). Penelitian kepustakaan (library research) merupakan suatu studi yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti dokumen, buku, majalah, kisah-kisah sejarah, dan sebagainya. Sumber primer yang digunakan dalam penyusunan jurnal ini diperoleh melalui beberapa kitab klasik ulumul Qur’an yang relevan dengan pokok bahasan. Adapun Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fawātiḥ as-suwar merupakan salah satu keunikan dan keajaiban susunan Al-Qur’an yang menunjukkan kedalaman makna dan keindahan balaghah ilahiyah. Para ulama tafsir seperti Al-Qurṭubī, Al-Rāzī, dan Ibn ʿĀsyūr menjelaskan bahwa pembukaan surahsurah Al-Qur’an memiliki rahasia tersendiri yang mengandung pesan spiritual, retoris, dan tematik. Fawātiḥ berfungsi sebagai pengantar makna sekaligus penegasan terhadap tema utama surah. Di antara bentuk-bentuknya terdapat sepuluh macam, yaitu: pembuka dengan pujian, pembuka dengan Al-Ahruf Muqhoto’ah, pembuka dengan Nida’ (seruan), pembuka dengan Jumlah khobariyyah, pembuka dengan Qasaam, pembuka dengan huruf Syarth, pembuka dengan fi’il Amr, pembuka dengan Istifham (pertanyaan), pembuka dengan doa, dan pembuka dengan Ta’lil (alasan). PENDAHULUAN Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab al-Qur’an bukanlah bahasa Arab biasa, akan tetapi bahasa Arab dengan keindahannya yang luar biasa sehingga tidak ada yang menandinginya. 1 Kemukjizatan aspek Bahasa Al-quran tidak dapat ditanding dan dijangkau keseluruhan maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik bahasa Al-quran, Hal ini kemudian menjadi sebab timbulnya 1 Ida Lathifatul, “Keindahan Bahasa Al-Qur’an Dan Pengaruhnya Terhadap Bahasa Dan Sastra Arab Jahily,” n.d., 49–65. A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 19, 2025 Revised 20 Oktober 2025 Accepted 29 Oktober 2025 Available online 04 November. 2025 Keywords Fawatih As-Suwar, Fungsi, Tafsir, Ulumul Qur’an Keywords: Fa wātiḥ al-Suwar, Function, Qur’anic Exegesis, ʿUlūm al-Qur’ān This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 keanekaragaman penafsiran dan takwil pada Al-quran. Pemaparan ayat-ayat di dalam Al-quran menunjukkan keutamaan Al-quran dan kebesaran Allah Swt, yang menarik semangat keilmuan umat manusia untuk menyelami dan mengkajinya. Salah satu redaksi yang dipaparkan Al-quran adalah redaksi yang tersusun pada permulaan surah-surah dalam al-Qur’an, yang dikenal dengan istilah “Fawatih as-suwar”. Kajian terhadap permasalah ini menjadi penting karena tidak hanya berfungsi sebagai pembuka surah, tetapi juga menjadi kunci untuk memahami tema, konteks, dan tujuan turunnya ayat. 2 Di era klasik banyak ulama yang mencoba memberikan penjelasan mengenai makna dan fungsi dari Fawatih al-Suwar, hingga kini masih ada perbedaan pendapat di kalangan mufassir mengenai apakah huruf-huruf ini mengandung makna tertentu yang hanya diketahui oleh Allah atau apakah mereka memiliki pengaruh struktural dan tematik dalam surah-surah yang mengikutinya. Menurut pendapat sebagian besar mufassir klasik, seperti al-Tabari dan alQurtubi, Fawatih as-Suwar adalah misteri yang hanya bisa dipahami dalam konteks kebesaran dan keunikan wahyu Ilahi, dengan penekanan pada ketidakmampuan manusia untuk sepenuhnya memahami atau mengungkapkan makna di baliknya. Mereka menganggapnya sebagai simbol dari keajaiban bahasa Al-Qur'an yang menggugah dan mengundang perhatian. 3 Dalam era kontemporer, quraish Syihab melalui Tafsir al-Misbah menekankan dimensi kontekstual dan makna komunikatif dari pembuka surah. ia menegaskan bahwa pembukan surah bukanlah sekedar ornamen atau hiasan gaya bahasa, tetapi memiliki keterkaitan makna erat dengan isi surah yang mengikutinya. 4 Kajian mengenai Fawatih as-Suwar terus dikembangan oleh ulama kontemporer dalam konteks tafsir dan Ulumul Qur’an, namun sebagian besar penelitian menitikberatkan pada aspek fungsi dan makna spiritual. 5 Sementara itu, penelitian yang secara khusus mengkaji ragam fawatih dari prespektif linguistik dengan menyeroti stuktur fungsi, serta variasinya dalam keseluruhan sistem Al-Qur’an masih sangat terbatas. Padahal variasi pembuka surah menunjukkan pola linguistik yang menarik untuk dianalisis secara ilmiah. Oleh karena itu, penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan fokus pada fungsi Fawatih asSuwaar sexara linguistik dan kontekstual. METODE Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah library research (studi kepustakaan). Penelitian kepustakaan (library research) merupakan suatu studi yang digunakan dalam mengumpulkan informasi dan data dengan bantuan berbagai macam material yang ada di perpustakaan seperti dokumen, buku, majalah, kisah-kisah sejarah, dan sebagainya. Tujuan pokok dari penerapan metode ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis stuktur linguistik melalui kajian terhadap sejumlah sumber literatur primer maupun sekunder. Sumber primer yang digunakan dalam penyusunan jurnal ini diperoleh melalui beberapa kitab klasik ulumul Qur’an yang relevan dengan pokok bahasan. Sementara sumber sekunder yang digunakan berupa buku-buku kontemporer, artikel jurnal, dan selainnya, yang berkaitan dengan “Fawatih as-Suwar” Adapun Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini adalah pendekatan kualitatifdeskriptif. Pendekatan ini berfokus pada analisis deskriptif yang menekankan pemahaman makna, konsep, serta penafsiran terhadap berbagai data dan informasi yang diperoleh dari berbagai literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri, mencermati, dan mengkaji isi dari setiap referensi dan dokumen yang relevan dengan topik pokok pembahasan. 2 Aminullah, Buku Ulumul Quran, ed. Nur Hifdziyah, Cetakan I (Makassar: Alauddin University Press, 2021). 3 At-Thabari, “Tafsîr at-Thabari (al-Tabari) Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wîl Ayi al-Qur’an " (Beirut: Dar al-Turath :2021) h.291. 4 M. Quraish Syihab, “Tafsir al-Misbah :Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an”, (Jakarta: Lentera Hati; 2002) h. 109. 5 Mustakim, Achmad Abu Bakar, “Peran Fawatih Al-Suwar Dalam Pembukaan Ayat-Ayat Al-Qur’an,” Pendidikan, Sosial Dan Humaniora 4, no. 2 (2025). Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Adinda Aisyah Nurussyifa/ Ragam Fawatih As-Suwar dan HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian fawatih As-Suwar Fawatih As-suwar pada dasarnya adalah cabang ilmu dalam studi Al-Qur'an yang fokus pada pembahasan mengenai pembuka surah-surah. Fawatihus suwar )روسلا حتاوف( terdiri dari dua kata, yaitu حتاوف (pembuka) dan روس (surah). Kata حتاوف merupakan bentuk jamak dari mufrad حتاف dan kata روس merupakan bentuk jamak kata ةروس yang berarti surah atau kumpulan surah. Dari arti dua kata pembentuk tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa fawatih as-suwar adalah pembuka-pembuka atau awal dari surah-surah Al-Quran. 6 Secara bahasa, fawatih al-suwar adalah pembukaan-pembukaan surat. Jika pembukaan surat itu diawali dengan huruf-huruf Hijaiah, maka huruf tersebut umumnya disebut dengan huruf-huruf yang terpisah (Ahrufun Muqattha'ah). Sebab, posisinya yang memang berdiri sendiri dan tidak bergabung membentuk sebuah kalimat. Para ulama tafsir mengatakan bahwa pembuka surat dalam al-Qur'an memiliki karakter dan kategori tersendiri. 7 Fawatih as-suwar secara terminologi, seperti yang disampaikan oleh T.M. Hasbi AshShiddiqy, fawatih as-suwar atau pembuka surah dalam Al-Qur'an disebut juga fatihah-fatihah (pembuka-pembuka) surah. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Al-Qur'an disusun dari huruf-huruf hijaiyah yang dikenal oleh bangsa Arab, sebagian di antaranya hanya terdiri dari satu huruf. Hal ini mempertegas bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa dan huruf yang mereka pahami, sehingga mereka tidak merasa asing saat mendengarnya. Dengan demikian, mereka menyadari keterbatasan mereka untuk menyusun teks yang menandingi keindahan dan kedalaman Al-Qur'an 8 Seluruh surat dalam al-qur’an di buka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut. Setiap macam pembukaan memiliki rahasia tersendiri sehingga sangat penting untuk kita pelajari. Diantara pembuka surat itu diawali dengan huruf-huruf terpisah (al-Ahruf al-Munqata’ah), kata, maupun kalimat. Semua bentuk ini memberi pesan tertentu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang memahami tafsir Al-qur'an. 9 Kajian ulama tentang Fawatih as-Suwar selain untuk membuktikan keunggulan dan keindahan Al-Qur'an dalam susunan kebahasaan juga bertujuan untuk memahami hikmah dari pemilihan ayat pertama dalam surah Al-Qur'an. 10 Sebagian besar ulama telah menyelidiki surat pembukaan Al-Qur'an; Ibnu Abi Al Asyba' penulis bab fawatih suwar, dalam kitab Al-Khawatir Al Sawanih fî Asrar Al Fawatiḥ. Dia mencoba menjelaskan beberapa jenis surat pembuka AlQur'an. Berikut ini adalah pembagian pembukaan surah. Pertama, mereka mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Selanjutnya, dalam 29 surah, mereka menggunakan huruf hijaiyah, kata seru (ahrufunnida), dan sumpah dalam bentuk Al-Aqsam. Namun, Sebagaimana dinyatakan oleh Badruddin Muhammad Az-Zarkasy, Allah SWT telah membuka kitab-Nya dalam sepuluh cara, dan tidak ada satu pun surat yang keluar dari salah satu dari sepuluh cara itu. serupa yang dikutip oleh As-Suyuti, Al Qasthalani dan Abu Syamah memberikan penjelasan tentang sepuluh jenis pembukaan. 11 Ragam Fawatih As-Suwar dan Fungsinya Dalam Stuktur Al-Qur’an Dalam sepuluh Al-Qur’an terdeteksi macam bentuk fawatih al suwar atau pembuka surat yaitu: 1) Pembukaan Dengan Pujian Kepada Allah (al-Iftitah bi al-itsana). Pujian kepada Allah ada dua macam, yaitu: a. Memakai lafaz hamdalah yakni dibuka dengan لله دمحلا yang terdapat dalam lima surat yaitu : Q.S Al Fatihah, Q.S Al An'am, Q.S Al Kahfi, Q.S Saba dan Q.S Fathr. 6 Abdul Mugni, “Fawatihus Suwar: Pembuka Komukasi Dalam Al-Qur’an”, Muhkamat. Vol 1, No. 1 (2022). 7 Junaid Bin Junaid, “Fawatih As-Suwar”, Jurnal al-Wajid, Vol 3, No.2 (2022). 8 Alfiani Irdan, “Fawatih As-Suwar : Pembuka Komunikasi dalam Al-Qur’an”, Hamalatul Qur’an, Vol 6, No.1 (2025). 9 Ahmad Yunus, “Nilai--Nilai Pendidikan Dalam Fawatih AlSurah” XXI, no. 2 (2022): 240–53. 10 Aniqotul Muthia, “Fawatih as-Suwar: Menyingkap Keindahan Kata Pertama Dalam Al-Qur’an”, Ta’wiluna, Vol. 1. No. 1, (2025). 11 Hakmi Hidayat, “Al-Muhkamat wa al-Mutasyabihat serta Fawatih al-Suwar”, Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan, Vol 1, No.4, (2024). Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 b. Memakai lafaz كرابت terdapat dalam dua surat yaitu Q.S Al Furqon dan Q.S Al Mulk. Ada juga yang menggunakan lafadz tasbih seperti: حبسي ,حبس, Yaitu : Q.S Al isra, Q.S Al A'la, Q.S Al-Hadid, Q.S Al Hasyr, Q.S As Shaff, Q.S Al Jum'ah dan Q.S At Taghabun. 12 Penjelasan mengenai beberapa surah yang diawali dengan ” لله دمحلا ” dijelaskan oleh para ulama, diantaranya yang dikatakan oleh ibnu jarir, ” Al-hamd adalah pujian yang disampaikan oleh Allah kepada diri-Nya. Dalam pujian ini terkandung perintah bagi para hamba-Nya agar menyanjung-Nya. Jadi seolah-olah Allah berfirman, 'Ucapkanlah oleh kalian alhamdu lillaah (segapa puji bagi Allah). Pujian ini dikhususkan bagi Rabb SWT. 13 Lafadz hamdalah pada fawatih as-suwar mengilustrasikan atau mendeskripsikan serta mempunyai tujuan mentransliterasi bahasa ke-Tuhanan kepada seorang hamba (`abdu) untuk selalu bersyukur. lafadz hamdalah pada keseluruhan ayat-Nya sangat memilki hubungan yang sangat kuat antara iman dan syukur kepada-Nya. Sebagian ulama mengatakan bahwa Alhamditu maknanya lebih menyeluruh, karena di dalam kalimat alhamd/pujian terkandung makna syukur, dan setiap kalimat syukur belum tentu termasuk ke dalam kalimat hamd. 14 Selain itu ada juga variasi pujian yang digunakan pada awal surah yaitu kata ” كرابت”. Senada dengan makna ”Al-Hamdu” kata ”Tabaraka” digunakan sebagai permulaan ayat untuk menunjukkan bentuk kekuasaan dan keagungan Allah SWT. Menurut buya hamka dalam Tafsir Al-Azhar, ia menguraikan sebagai berikut ”Maha Suci Dia, yang di dalam tanganNya sekalian kerajaan." (pangkal ayat 1) Apabila kita baca pangkal ayat yang pertama ini dengan penuh khusyu dan memahami kandungannya secara mendalam, akan terasalah betapa Tuhan memberi ingatan kepada manusia dalam perebutan kekuasaan dan kemegahan dalam dunia ini bahwasanya Kerajaan yang sebenar Kerajaan, ke-kuasaan yang sebenar kekuasaan hanya ada dalam tangan Allah”. 15 Selanjutnya beberapa surah didalam Al-Quran Juga dibuka dengan ucapan tasbih kepada Allah SWT. Salah satunya permulaan ayat pada surah Al-Hadid. Dalam Tafsir FiZhilalil Qur’an diterangkan bahwa Inilah permulaan yang inspiratif dan terpilih. Permulaan ini berisikan karakteristik ketuhanan yang berkehendak dan berpengaruh. Juga yang mencip takan segala sesuatu, yang meliputi segala sesuatu, yang mengayomi segala sesuatu, dan yang mengetahui segala sesuatu. Permulaan ini juga menyuguhkan ciptaan "tangan" kekuasaan yang menjangkau persada langit dan bumi, yang menyentuh relung-relung kalbu dan isi hati, dan yang memantau segala hal, baik benda maupun makhluk berakal, yang ada di alam nyata. Demikianlah nash AlQur' an yang mulia bertitik tolak pada bagian permulaan. Maka, seluruh jagat raya menjadi ramai dengan tasbih kepada Allah. Tasbih ini menyelimuti segala sesuatu yang ada di langitdan di bumi. 16 2) Pembukaan Dengan Huruf-Huruf Yang Terputus (Al-Iftitah bi Al-Ahrufil Muqotoah). Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni ع ق ك ل م ن ه ي ا ح ر س ص ط penggunaan surat surat tersebut dalam pembukaan surat-surat Al-Quran disusun dalam 13 rangkaian yang terdiri dari kelompok berikut: a. Terdiri dari satu huruf. Terdapat dalam 3 surat Yakni ص QS.Shad ق, (QS.Qaf), dan ) ن QS, Qalam. b. Terdiri dari dua huruf. Dinamakan Hawamim (surat-surat yang dibuka dengan Hamim), yakni: (QS. Al-Mukmin,Q,S As Sajdah , Q.S AlZuhruf, Q.S AdDukhan, Q.S AlJatsiyah, AlAhqaf. Ada juga disurah lain seperti, هط (thoha), سط (An-Naml), dan سي (Yasin). c. Terdiri dari tiga huruf. Contohnya dalam surah QS, Al-Baqarah, Q.S AlImran, Q.S Al-Ankabut, Q.S Ar-Rum, Q.S Lukman, dan Q.S Al-Sajdah, QS, Yunus, Q.S Hud, Q.S Ibrahim, Yusuf, Q.S AlHijr, QS, Al Qashash dan Q.S Asy-Syu'ara. d. Terdiri dari empat huruf . Yaitu رملا :(QS, Ar ra’du) dan صملا QS, Al-A’raf . 12 Hakki Akmal, “Kajian Ayat Fawatih al-Suwar dalam Alquran”, Journal An-Nur, Vol 11, No.2 (2011), h. 4. 13 Imam Asy-Syaukani, “Tafsir Fathul Qadir”, (Mesir; al-Maktabah al-Muniriyyah (1924), h. 73-80. 14 Ardi dan Moh. Issa, “Alhamdulillah Di Dalam Al-Qur’an: Kajian Terhadap Lafadz Alhamdulillah Dalam Fawatih dan Khawatim As-Suwar”, Al-Misykah: Jurnal Kajian Al-Qur’an dan Tafsir, Vol. 1, No. 1 (2020). H. 125. 15 Hamka , “Tafsir Al-Azhar”, juz 10 (Jakarta; Pustaka Panjimas, 1966) h. 191-198. 16 Sayyid Quthub, “Fi Zhilalil Qur’an :Surah Qaff-Al-Haqqah”, Jilid 11 (Beirut; Darusyi-Syuruq,1992), h. 155-156. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Adinda Aisyah Nurussyifa/ Ragam Fawatih As-Suwar dan e. Terdiri dari lima huruf Yaitu صعيهك :(QS, Maryam) dan قسع مح QS, Asy-Syura. Menurut Al-Hubbi, huruf-huruf terpisah atau huruf muqattha'ah yang menjadi pembuka surat dalam Al-Qur’an berfungsi sebagai pengingat bagi Nabi Muhammad saw. Allah swt. mengingatkan Rasul-Nya melalui huruf-huruf tersebut karena Dia mengetahui bahwa, sebagai manusia, Nabi Muhammad saw. terkadang disibukkan. oleh berbagai urusan. Oleh karena itu, Jibril menyampaikan wahyu dengan diawali hurufhuruf seperti Alif Lam Mim dan lainnya, agar Rasulullah saw. lebih fokus dalam menerima serta memperhatikannya. Sebagian ulama berpendapat bahwa huruf-huruf terpisah di awal surat merupakan nama dari surat-surat tersebut. Ada juga yang meyakini bahwa hurufhuruf tersebut berfungsi sebagai bentuk sumpah, di mana Allah SWT bersumpah atas nama seluruh huruf, tetapi hanya menampilkan beberapa di antaranya dalam bentuk yang lebih ringkas. 17 Secara garis besar pendapat para ulama tentang huruf al-Muqoṭo’ah ini terbagi dalam beberapa kelompok, diantaranya mereka berpendapat bahwa makna-makna huruf al-Muqoṭo’ah itu merupakan mutasyabih dalam Al-Qur’an yang tidak ada seorangpun mengetahui maksudnya selain Allah (Wallaahu a’lam bi muroodihi). Pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang didapat dari pendapat kaum salaf seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Imam A-Razi, Imam AsySya’bi, Ibnu Mas’ud. Dan sampai saat ini, pendapat ini lah yang dianggap pendapat terunggul karena tidak ada satu riwayat pun yang bisa menjelaskan secara pasti maksud dari huruf-huruf dalam fawaatih al-suwar tersebut. 18 An-Najdi mengatakan dalam bukunya min al-I’jaaz al-balaghii wa al-‘adadii li alqur’an alkariim yang diterjemahkan oleh Agus Effendi bahwa para peneliti terdahulu mencatat, surahsurah yang dibuka dengan huruf al-Muqoththo’ah berjumlah 29 surat, sementara jumlah huruf hijaiyah Arab ditambah dengan huruf hamzah juga 29 huruf, dimana hal itu merupakan indikasi bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. kedua, Ibnu Abbas dalam berbagai riwayat cenderung berpendapat bahwa huruf-huruf dalam fawaatih al-suwar tersebut merupakan namanama surat dengan mengaitkannnya dengan asma dan sifat Allah. 19 Adapun menurut M. Quraish Shihab para ulama’ dan para pakar berbeda-beda dalam memahami makna huruf-huruf yang berbeda pada awal sejumlah surat Al-Qur’an sebagai contoh: Pertama, huruf-huruf yang dipilih sebagai pembuka surat sebanyak 14 huruf, yang ditemukan dalam 29 surat, dengan demikian seperdua dari huruf-huruf Hija’iyah. Keempat belas huruf tersebut dirangkai sementara ulama, dengan kalimat Nas karim, Qat’i Lahu Sir (teks mulia yang bersifat pasti dan memiliki rahasia). Kedua, huruf-huruf yang terpilih itu mewakili makharij al-huruf, yakni tempat-tempat keluarnya huruf. Seperti Alif tempat keluarnya adalah kerongkongan, Lam tempat keluarnya adalah lidah dengan meletakkanya di langit-langit mulut, sementara Mim, keluar dari bibir atas dan bibir bawah, maka dari itu Alif, Lam, Mim merupakan awal, tengah dan akhir. Ketiga, dengan membaca Alif Lam Mim, dibuktikan bahwa alQur’an tidak dapat dibaca tanpa bantuan pengajar. Karena pada surat al-Fil huruf Alif Lam Mim dibaca Alam. Dalam Tafsir at-Thabari disebutkan bahwa, bagi orang-orang Yahudi bahwa huruf-huruf penggalan (huruf alMuqatta’ah) tersebut penafsirannya dihubungkan dengan angka-angka. Menurutnya bahwa dengan angka-angka itu dapat diketahui berapa lama dominasi Islam secara politis. 20 Dalam Tafsir Al-Maraghi, dalam menafsirkan ahruf al-fawatih as-suwar konsisten pada satu penafsiran, yaitu bahwa penggalan-penggalan huruf yang terdapat pada awal surat dalam alQur’an adalah huruf-huruf tanbih, seperti halnya kata ala, ya dan lain sebagainya. Huruf-huruf seperti ini diadakan untuk membangkitkan pendengar dan menarik perhatiannya kepada hal-hal besar yang akan disampaikan kepadanya yang terkandung dalam surat tersebut. Hal ini bisa kita lihat ketika dia menafsirkan ayat pertama surat al-baqarah yang berbunyi alif lam mim. 17 Umar Al-Faruq, dkk, “Menelisik Ilmu Al-Qur’an Mengenai AlMuhkamat Dan Al Mutasyabihat Serta Fawatih AsSuwar”, Zaheen : Jurnal Pendidikan, Agama, Dan Budaya, Vol 1, No. 3 (2025). h. 49-50. 18 Hakmi Hidayat, dkk, “Al-Muhkamat wa al-Mutasyabihat serta Fawatih al-Suwar”, Jurnal Kajian Islam Dan Sosial Keagamaan, Vol. 1, No. 4 (2024). h. 305. 19 Ainul Churria, “Menakar Nilai-Nilai Moral Dengan Gaya Komunikasi Dalam Al-Qur’an”, Jurnal Al-Yasini, Vol 4, No. 1 (2019), h. 11. 20 M. Quraish Syihab, “Tafsir al-Misbah :Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an”, (Jakarta: Lentera Hati; 2002) Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 Mengawali dalam menafsirkan ayat tersebut dia menjelaskan bahwa kalimat tersebut terdiri dari beberapa kata seperti yang tersebut di dalam contoh awal surat yang berbunyi alif lam mim ‘ad, alif lam ra. Surat yang diawali dengan alif lam ra, artinya sama saja dengan huruf tersebut Alif lam mim yang berguna untuk menarik perhatian pendengar (mukhatab) agar memperhatikan bahasan yang dikemukakan oleh Allah Swt. 21 3) Pembukaan Dengan Panggilan Atau Seruan (Al-Iftitah bi An-Nida’) Terdapat dalam 9 surat . Nida disini ada 3 macam, yaitu : a. Nida’ untuk Nabi (يبنلا اهيأي( yaitu: Q.S Al Ahzab, Q.S At Tahrim dan Q.S At Thalaq Q.S al Muzammil dan Q.S Al Mudatsir. b. Nida’ untuk orang-orang beriman (اونما يذلا اهيااي( yaitu: Q.S Al Maidah, Q.S Al Mumtahanah dan Q.S Al Hujurat. c. Nida’ untuk manusia secara umum (سانلا اهيااي( yaitu: Q.S An Nisa dan Q.S Al Hajj. 22 Didalam Al-Qur’an ada akan kita temui sejumlah ayat yang menggunakan Nida’ (Seruan), baik diawal maupun pertengahan surah. Menurut Wahbah al-Zuhaili, redaksi ya ayyuha al-Rasul dan ya ayyuha al-Nabiy yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. Di dalam Al-Qur’an adalah sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan serta pengkhususan kepada Nabi Muhammad saw, sekaligus untuk mengajarkan kepada kaum mukminin supaya mereka memanggil beliau dengan gelarnya. Kemudian perbedaan redaksi lafaz ya ayyuha al-Rasul dan ya ayyuha al-Nabiy yaitu lafaz ya ayyuha al-Rasul adalah suatu bentuk panggilan Allah swt. yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. dan pesan tersebut bersifat khusus. Sedangkan lafaz ya ayyuha al-Nabiy adalah suatu bentuk panggilan Allah swt. yang ditujukan kepada Nabi Muhammad saw., namun pesan perkataan tersebut bersifat umum. Sehingga ketika Allah swt. memanggil beliau dan memerintahkan suatu perkara, maka perintah tersebut tidak hanya berlaku untuk Nabi Muhammad saw. semata, melainkan juga berlaku untuk umat beliau. Karena Nabi Muhammad saw. adalah imam bagi umatnya. 23 Dalam tafsirya Al-Misbah, Quraish Shihab, mengatakan ayat yang diawali dengan kalimat "ya ayyuha alladzina amanu" adalah ayat-ayat yang turun di Makkah. Panggilan semacam ini, bukan saja merupakan panggilan mesra, melainkan juga dimaksudkan agar orang beriman itu diajak mempersiapkan diri melaksanakan kandungan ajakan. 24 Dijelaskan dalam tafsir AtThabari, bahwa seruan ini ditunjukkan kepada orang-orang yang mengakui keesaan Allah SWT dan Kenabian Nabi-Nya. 25 Selain itu M. Quraisy Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah juga menjelaskan tentang redaksi seruan “ya ayyuhannas”(wahai manusia) seperti yang dapat kita temukan dalam QS.An-Nisa;1. Menurut M. Quraisy Shihab surah an-Nisa ayat 1 mengajak agar senantiasa menjalin hubungan kasih sayang antar seluruh manusia. Ayat ini mengajak seluruh manusia yang beriman dan yang tidak beriman yakni Adam atau jenis yang sama, tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan antara seorang manusia dan yang lain. dari diri yang satu itu lelaki dan perempuan yang berpasangan. Maka dapat disimpulkan bahwa seruan ini bersifat universal untuk menunjukkan bahwa ajaran yang terkandung dalam surah ini bersifat “Rahmatan Lil Alamiin” dan pesanpesannya mencakup seluruh manusia bukan hanya untuk orang -orang yang beriman. 26 4) Pembukaan dengan jumlah khabariyah (Al-Iftitah bi al-jumlah al khabariyah). a. Jumlah Ismiyyah: Q.S At-Taubah, Q.S An-Nur, Q.S Az-Zumar, Q.S Muhammad, Q.S Al fath, Q.S Ar Rahman, Q.S Al Haaqqah, Q.S Nuh, Q.S Al Qodr, Q.S Al Qoriah dan Q.S Al Kautsar. 21 Shofaussamawati, “Konsep FawaAs-Suwar imam al-maraghi Dalam Tafsir Al-Maraghi”, Hermeneutik, Vol 9, No. 2, (2015). h. 279. 22 Noor Zaman, “Makna Huruf Al-Muqhota’ah Dalam Al-Qur’an”, Skripsi, (Jakarta: Fak. Usuluddin, (2022),h. 199. 23 Dede Yasep, “Redaksi ya ayyuha al-Rasul dan ya ayyuha al-Nabiy dalam al-qur’an (analisis penafsiran wahbah al-zuhaili)”, Skripsi (Jakarta; Fak.Usuluddin, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2018). 24 Ali Yusuf, “Rahasia Seruan 'Hai Orang-Orang Beriman' dalam Ayat Alquran”, https://islamdigest.republika.co.id/berita/qwnj00320/rahasia-seruan-hai-orangorang-beriman-dalam-ayat-alquran, diakses pada tanggal 07/11/2025, dijam 10:55. 25 At-Thabari, “Tafsîr at-Thabari (al-Tabari) Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wîl Ayi al-Qur’an " (Beirut: Dar al-Turath :2021) h.693. 26 Sri Wulandari, “Implikasi Pendidikan dari Q.S An-Nisa Ayat 1 tentang Silaturahim terhadap Pendidikan Sosial”, Islamic Education, Vol 2, No. 1 (2022), h. 59-60. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Adinda Aisyah Nurussyifa/ Ragam Fawatih As-Suwar dan b. Jumlah Fi’liyyah: Q.S Al Anfal, Q.S An Nahl, Q.S Al Qomar, Q.S Q.S Al Mu'minun, Q.S Al Anbiya, Q.S Al Mujadalah, Q.S Al Ma'arij, Q.S Al Qiyamah, Q.S Al balad, Q.S Abasa, Q.S Al bayyinah, Q.S At Takatsur. 27 Dalam penafsiran Al-Qur'an, konsep jumlah ismiyyah dan fi'liyyah memiliki peran penting dalam memahami makna ayat-ayat suci. Jumlah ismiyyah mengacu pada tandatanda kata benda dalam bahasa Arab yang menunjukkan jumlah, seperti tunggal, dual, dan jamak, sedangkan dilalah jumlah fi'liyyah mengacu pada tanda-tanda kata kerja yang menunjukkan bentuk-bentuk perbuata atau waktu. Pemahaman kedua konsep ini membantu memperdalam interpretasi teks Al-Qur'an dengan mempertimbangkan konteks linguistik dan struktur kalimatnya. Dengan memperhatikan jumlah ismiyyah dan fi'liyyah, pembaca dapat menafsirkan ayat-aya AlQur'an dengan lebih cermat, memahami nuansa maknanya, dan mendapatkan wawasan yang lebih dalam terkait ajaran dan pesan yang terkandung dalam kitab suci Islam tersebut. 28 5) Pembukaan Dengan Sumpah (Al-Iftitah bi Al-Qasam). a. Sumpah dengan benda-benda langit : Q.S. Al-Shaffat, Q.S An-Najm, Q.S An Nazi'at, Q.S Al Buruj, Ath-Thariq, Q.S Al fajr, Q.S Al-syams, Q.S Al Mursalat. Ahmad Musthofa Al-Maraghi menyebut-kan hikmah qasam Allah swt. memakai nama bintang-bintang tersebut karena gerakannya yang kadang-kadang timbul tenggelamnya menunjukkan kepada kekuasaan pengaturnya dan kerapian penciptaan-Nya serta kebijaksanaan-Nya dalam merata bintang-bintang tersebut. Penafsiran Ahmad Musthofa dengan gaya modern sesuai tuntunan masyarakat menjelaskan dalam hikmah qasam Allah swt. yakni untuk menunjukkan pada kebesaran kekuasaan-Nya dan keagungan hikmah-Nya. 29 Kemudian AlMaraghi memberikan ringkasan bahwa Allah swt. bersumpah dengan benda-benda alam ini dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian manusia dari pemikiran terhadap keagungan dan kekuasaan-Nya kepada pemikiran atas benda-benda ciptaan-Nya yang ada di depan matanya untuk menyingkap hakikat yang terselubung di dalamnya, serta menunjukkan pada kita agar menyingkap rahasia alam semesta ini. Dengan itu pula kita bisa menyimpulkan bukti yang menunjukkan pada kebesaran kekuasaan-Nya dan keagungan hikmah-Nya. b. Sumpah dengan benda-benda yang berada dibawah : Q.S Al Dzariyyat, Q.S At Thur, Q.S At Thin, Q.S Al-Adiyat. Menurut Ahmad Musthofa, dalam QS. Al-Adiyat, Allah swt. bersumpah dengan menggunakan nama kuda yang mempunyai ciri dan sifat-sifat tersebut, di samping mampu melaksanakan tugas-tugas itu. Maksudnya, agar kuda mempunyai kedudukan yang tinggi di hati para hamba-Nya yang beriman yakni mereka yang tekun dalam bekerja dan agar mereka memperhatikan, memelihara dan membiasakan diri dalam menaikinya. Di samping itu, agar mereka memperhatikan masalah menaiki kuda dan melatih menaikinya. Sehingga, setiap individu muslim mampu dan terbiasa dengan hal tersebut. Sebab, keahlian seperti ini memang sangat dibutuhkan terutama ketika menghadapi musuh yang hendak mematahkan pertahanan kaum muslimin. Ahmad Musthofa meringkas surah ini bahwa kuda yang mempunyai kemampuan lari mengandung manfaat yang sangat besar. Kuda itu sangat tepat digunakan untuk keperluan dan bisa membantu di dalam upaya lari dalam situasi yang sangat kritis di samping dapat digunakan untuk mengadakan serangan terhadap musuh dan mampu menempuh jarak yang cukup jauh. tetapi dalam waktu yang cukup singkat. c. Sumpah dengan waktu : Q.S Al-Layl, Q.S Ad Dhuha, Q.S Al Ashr. Menurut Ahmad Musthofa Allah swt bersumpah dengan memakai masa. Sebab, masa itu mengandung banyak peristiwa dan contoh yang menunjukkan betapa bijaksana-Nya Allah Kemudian Ahmad Musthofa Al-Maraghi menambahkan permisalan bergantinya antara siang dan malam yang keduanya menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah swt. Al-Ashr yang berarti 27 Cemoro sewu, “Ulumul Qur’an: Fawatih As-suwar”, https://duniacemoro.wordpress.com/, diakses pada tanggal 05/11/2025, dijam 21:03. 28 Rohadi dan Agustiar, “Dilalah Jumlah Ismiyyah dan Fi'liyyah Dalam Penafsiran Al-Qur'an”, Al-Mikraj: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, Vol 4, No. 2 (2024). 29 Siti Khadijah, “Ayat-Ayat Qasan Allah SWT Dalam Juz Amma Menurut Tafsir Al-Maraghi”,h. 79. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Socius E-ISSN: 3025-6704 masa. Allah swt. bersumpah dengannya semata-mata karena di dalam qasam tersebut terdapat pelajaran (ibroh) bagi yang memiliki perhatian tentang berlalunya siang dan malam. 30 Allah bersumpah dengan waktu seperti masa, malam, siang, shubuh, fajar, dhuha. ashar, serta hari kiamat. Di antara hikmah Allah swt. bersumpah dengan waktu untuk mengingatkan kita bahwa dengan silih bergantinya malam dan siang hari menunjukkan keberadaan pengaturnya. Bahkan banyak mengandung peristiwa dalam kehidupan serta gambaran yang menunjukkan bertapa mulia dan bijaksana-Nya Allah swt. Dengan ringkasnya malam adalah waktu untuk beristirahat dengan tidur tenang setelah melakukan kesibukkan di pagi hari. Sedangkan siang hari adalah waktu untuk melakukan aktivitas. Allah bersumpah dengan waktu ini adalah guna menunjukkan akan pentingnya memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin dengan menjaga iman clan memperbanyak beramal shaleh. 31 6) Pembukaan Dengan Syarat (Al-Iftitah bi Al-Syath) Allah swt. menyebutkan kejadian-kejadian tertentu dengan mengaitkannya dengan syarat. Penyebutan syarat tersebut dibagian pertama surat-surat tertentu untuk menunjukkan bahwa kejadian itu merupakan hal yang pasti akan terjadi, bukan hal yang mungkin terjadi atau mustahil terjadi. Hal itu seperti dalam 7 surah, yakni QS.AlTakwîr, QS.Al-Infitâr, QS.Al-Insiqâq, QS.Al-Waqi‟ah, QS.QAl-Munafiqūn, QS.Al Zalzalah, dan QS.Al-Nasr. Semua surah tersebut dibuka dengan syarat idza yang artinya “apabila”. Ungkapan syarat, “Apabila terjadi hari kiamat”(Al-Waqi‟ah), “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu” (Al-Munafiqūn), “Apabila matahari digulung” (Al Takwîr), “Apabila langit terbelah” dan "Apabila bumi berguncang dengan guncangan yang dahsyat” (Al-Zalzalah), dan “Apabila telah datang pertolongan dan kemenangan (Al-Nasr), semuanya itu pasti akan terjadi di dalam kenyataan yang tidak dapat dihindari. Syarat idza digunakan untuk hal-hal yang pasti terjadi. 32 Dalam tafsir Al-Misbah, M Quraish Syihab menjelaskan tafsir dari QS.Al-Waqiah, bahwasannya pada permulaan ayatnya diisyaratkan adanya tiga kelompok manusia yang masingmasing akan menerima balasan dan ganjaran sesuai amal-amal mereka. Surah tersebut diakhiri dengan menyebut sifat faldl dan Ikram Allah swt. Nah, dalam surah ini hal tersebut dijelaskan dan dipertegas dengan menyebut masa terjadinya balasan dan ganjaran itu serta keniscayaannya. Allah berfirman: Apabila terjadi kejadian itu yakni hari Kiamat. Tidak seorang pun menyangkut kejadiannya yakni kepastian terjadinya dan keadaan yang terjadi ketika itu, kecil atau besar, rinci atau global, menyenangkan atau menyusahkan yang dapat dia dustakan yakni dia sangkal. Karena segala sesuatu nampak dengan jelas dan pasti. la yakni peristiwa itu sangat merendahkan dan menyengsarakan kelompok tertentu yakni yang durhaka kepada Allah lagi meninggikan dan membahagiakan kelompok yang lain yakni yang taat kepada-Nya. 33 7) Pembukaan Dengan Kata Perintah (Al-Iftitah bi Al-Amr) Allah membuka surah-surah tertentu dengan menekankan al-amr (perintah)-Nya yang diarahkan kepada Rasulullah, yang juga kepada umatnya. Hal ini seperti terlihat dalam surah QS.Al-Alaq, QS.Al-Jîn, QS.Al-Kafirūn, QS.Al-Falâq, dan QS. Al-Nas. Dalam surah-surah tersebut Allah memulai firman-Nya dengan f‟il amr “qul” yang artinya “katakanlah”. Perintah “qul” dimaksudkan agar apa yang disebutkan setelah kata perintah itu diterima, dijadikan sikap dan diyakini, sehingga benar-benar menjadi keyakinan yang kukuh. Misalnya, kita menerima firmanNya: qul huwallahu ahad (katakanlah Dia itu Allah Maha Esa). Itu berarti kita diperintah Allah untuk menerima, berkata, bersikap dan mempunyai arti bahwa AllahTuhan Yang Esa. Jumhur Ulama berpendapat bahwa lafaz Amr itu menurut asalnya menunjukkan hukum wajib, meskipun Amr tidak disertai oleh penjelasan (qarinah) apapun, pihak yang dikenai Amr menghendaki wajibnya untuk berbuat. 34 Pembuka dengan kata perintah “لق " di dalam Al-Qur’an, tidak hanya sekedar perintah untuk mengerjakan atau mengatakan tetapi memiliki tujuan komunikasi linguistik dari isi 30 Ahmad Qoisy, “Macam-Macam fawatih As-Suwar”, https://tafsiralquran.id/macam-macam-fawatihus-suwar-dalam-alquran/, diakses pada tanggal 05/11/2025, dijam 21:10. 31 Khoirul Anam, “Waktu Dalam Perspektif Al-Qur’an Pada Ayat-Ayat Qasam”, Ulul Albab, Vol 8, No. 2. (2007). 32 Jahari, “Ulumul Qur’an (Ilmu-Ilmu Dalam Al-Qur’an)”, (Cet. 1;Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2018), h. 161. 33 M. Quraish Syihab, “Tafsir al-Misbah :Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an”, Juz 13 (Jakarta: Lentera Hati; 2002). h. 543. 34 Muh Dahlan, “Al-Amr (Perintah Dalam Al-Qur’an), Al-Ibrah, Vol. 10, No.2 (2021),h. 139-158. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 140-150 Adinda Aisyah Nurussyifa/ Ragam Fawatih As-Suwar dan ideologi Agung Al-Qur’an. Hal ini terlihat dari penggunaan kata "qul"di awal surat Al-Kafirun berupa kata mufrad, yang merujuk pada hal-hal yang bersifat tunggal dan personal. Hal ini ditujukan kepada setiap individu تنا anta (kamu). Dimana perintah ini ditunjukkan kepada yang telah mampu memahami makna dan kedalaman linguistik Al-Qur'an. “Qul” dalam ayat ini, merupakan bentuk perintah Allah melalui Nabi Muhammad secara pribadi kepada setiap individu yang telah matang akalnya, cukup umur, dan bertumbuh dengan intuisi intelektual. Dengan demikian, ayat ini tidak terbatas pada perintah atau komunikasi Nabi Muhammad kepada orangorang kafir dalam budaya Arab pada masa itu, melainkan sebagai "doktrin" dan tanda pembenaran ajaran Al-Qur'an terhadap ideologi agama yang menembus setiap dimensi ruang dan waktu serta bersifat sangat personal. 35 8) Pembukaan Dengan Pertanyaan (Al-Iftitah bi Al-Istifham) Pertanyaan Positif : Pertanyaan positif yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat positif. Pertanyaan dalam bentuk ini digunakan dalam surat: Al-Naba’, Al-Gasyiyah, dan Al-Ma‟un. Pertanyaan Negatif : Pertanyaan negatif, yaitu pertanyaan dengan menggunakan kalimat negatif, yang hanya terdapat dalam dua surat, yakni Al-Insyirah dan Al-Fîl. Pemaknaan istifham dalam Al-Qur'an bukan sekadar alat untuk mengajukan pertanyaan, melainkan sebuah perangkat linguistik yang memiliki fungsi teologis dan moral yang mendalam. Dalam berbagai bentuknya, seperti pertanyaan retoris, istifham digunakan untuk menegaskan keyakinan, menggugah kesadaran, dan mendorong pembaca untuk merenungkan esensi ajaran Islam secara kritis. Penggunaan istifham dengan beragam variasinya mulai dari pertanyaan yang mengonfirmasi hingga yang mengandung unsur penolakan berperan penting dalam membangun narasi yang memandu pembaca untuk mengeksplorasi hubungan manusia dengan Tuhan serta tanggung jawab moral yang harus diemban. 36 9) Pembukaan Dengan Doa (Al-Iftitah bi Ad-Du’a) Allah swt memvonis celaka kepada pihak-pihak yang mestinya celaka di permulaan beberapa surah, yakni surah QS.Al-Mutaffifîn dengan vonis نيففطملل ليو (celakalah bagi orang-orang yang curang); dalam surah QS.Al-Humazah dengan vonis wailul likulli humazat al-lumazah (celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela), dan dalam surah QS.Al-Lahab dengan vonis-Nya بتو بهل يبأ آدي تبت (binasalah diri Abu Lahab, dan benar-benar binasa dia). Dalam tafsir Ibnu Katsir ia menjelaskan bahwa awal surah ini dibuka dengan Jumlah (kalimat) yang mengandung makna doa (dan sesungguhnya dia binasa) artinya dia benar-benar merugi. Kalimat ayat ini adalah kalimat berita perihalnya sama dengan perkataan mereka: Ahlakahullaahu Waqad Halaka, yang artinya: "Semoga Allah membinasakannya; dan sungguh dia benar-benar binasa." Ketika Nabi menakut-nakutinya dengan azab, ia berkata, "Jika apa yang telah dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka sesungguhnya aku akan menebus diriku dari azab itu dengan harta benda dan anak-anakku." Lalu turunlah ayat selanjutnya. 37 10) Pembukaan Dengan Alasan/ Sebab (Ta’lil) Allah dalam satu-satunya surah, yaitu surah QS. Al-Quraisy mengedepankan penjelasan alasan (at-ta’lil). Alasan dalam surah itu ditempatkan lebih dahulu dari sesuatu yang diperintahkan-Nya seperti yang diletakkan pada ayat 3. Dalam kata lain, dalam surah ini Allah lebih mendahulukan keterangan alasan dari pada penyebutan sesuatu yang seharusnya dilakukan (taqdim Al-ta’lil anil-Amri). Jadi, Allah memerintahkan sesuatu dengan terlebih dahulu disampaikan alasannya, agar perintah yang disampaikan itu benar-benar diperhatikan atau dijalankan. 38 35 Hasanuddin Chaer, dkk, “Trilogy Of Linguistik Communication Of The Qur’an Surah Al-Kafirun”, Okara: Jurnal Bahasa Dan Sastra, Vol. 16. No. 2, (2022) 36 Laili Maya dan Muhammad Ishaac, “Telaah Perangkat Dan Makna Istifham Dalam Al-Qur’an Perspektif Moralitas Dan Teologi Islam Kontemporer”, Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur’an Dan Hadis, Vol 2, No. 1, (2023), h. 59. 37 Jalaluddin Al-Mahalli, Dan Jalaluddin Al-Syuyuthi, “Tarsir Jalalaein”, (Mesir; al-Matba’ah al-Kubra al-Amiriyyah, 1850) 38 At-Thabari, “Tafsîr at-Thabari (al-Tabari) Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wîl Ayi al-Qur’an " (Beirut: Dar al-Turath :2021) h.966).