scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

The Historical Emergence of Shi'ism and Its Development in the Islamic World

Rismayani, Indo Santalia

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Munculnya Syiah (Rismayani, et., al) | 71-76 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 71-76 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17585984 Sejarah Munculnya Syiah dan Perkembanganya di Dunia Islam The Historical Emergence of Shi‘ism and Its Development in the Islamic World Rismayani1, Indo Santalia2 Pascasarjana, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Email: [email protected] Abstrak Kajian tentang Syiah menjadi penting untuk dikaji, sebab keberadaannya tidak hanya menyentuh aspek sejarah dan politik, tetapi juga mempengaruhi dinamika hubungan antarmazhab dalam dunia Islam. Pemahaman yang komprehensif mengenai sejarah dan perkembangan Syiah diharapkan dapat memperkaya wacana keislaman serta menumbuhkan sikap toleran antarumat Muslim. Penelitian ini menggunakan riset kepustakaan (library research) yang menggunakan berbagai macam bahan pustaka untuk mencari data dan semua informasi yang dibutuhkan. Data yang terkumpul dianalisis secara kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa puncak perkembagan syiah terjadi pada masa pertengahan ketika dinasti safawiyah menetapkan mazhab syiah sebagai mazhab resmi Iran, pengaruhnya semakin kuat setelah Revolusi Islam tahun 1979 yang menggugah semagat kebagkitan Islam di dunia. Hingga kini, syiah tetap menjadi bagian penting umat islam dengan pengikut yang tersebar di berbagai wilayah. Meskipun perbedaan antara sunni dan syiah masih menimbulkan ketegangan di beberapa tempat, Upaya dialog da semangat ukhuwah Islamiyah terus diusahakan agar umat islam dapat Bersatu dalam nilai keimanan dan kemanusiaan. Kata Kunci: Sejarah, Perkembangan, Syiah Abstract The study of Shi‘ism is essential, as its existence encompasses not only historical and political dimensions but also influences the dynamics of inter-sectarian relations within the Islamic world. A comprehensive understanding of the history and development of Shi‘ism is expected to enrich Islamic discourse and foster tolerance among Muslims. This research employs a library research method, utilizing various written sources to collect relevant data and information. The collected data were analyzed qualitatively. The findings reveal that the peak of Shi‘a development occurred during the medieval period when the Safavid dynasty established Shi‘ism as the official school of thought in Iran. Its influence further expanded following the 1979 Islamic Revolution, which inspired a broader revival of Islamic consciousness worldwide. To this day, Shi‘ism remains an integral part of the Muslim community, with followers distributed across various regions. Although differences between Sunni and Shi‘a groups continue to cause tension in some areas, ongoing efforts in dialogue and the spirit of ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhood) are continuously promoted to foster unity among Muslims on the basis of faith and humanity. Keywords: History, Development, Shi‘ism Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 29 Oktober 2025 Accepted date: 10 November 2025 PENDAHULUAN Islam merupakan agama yang memiliki sejarah panjang dan kompleks dalam aspek sosial, politik, dan teologi. Sejak wafatnya Rasulullah pada tahun 632 M, umat Islam dihadapkan pada persoalan penting mengenai siapa yang berhak memimpin umat setelah beliau. Perdebatan tentang suksesi kepemimpinan inilah yang menjadi akar munculnya berbagai aliran dalam Islam, salah satunya adalah Syiah. Kata Syiah secara etimologis berasal dari bahasa Arab syī‘ah (ةعيش) yang berarti “pengikut” atau “pendukung”. Secara terminologis, istilah ini mengacu pada kelompok umat Islam yang meyakini bahwa kepemimpinan umat (imamah) seharusnya berada di tangan Ali bin Abi Thalib menantu sekaligus sepupu Nabi Muhammad dan keturunannya. Munculnya Syiah tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik pasca wafatnya Rasulullah. Pertikaian mengenai siapa yang layak menjadi khalifah pertama antara pihak pendukung Abu Bakar 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Munculnya Syiah (Rismayani, et., al) | 71-76 dan pendukung Ali menjadi titik awal perpecahan politik yang kemudian berkembang menjadi perbedaan teologis dan ideologis. Dalam pandangan Syiah, imamah bukan hanya persoalan politik, melainkan bagian dari rukun iman yang memiliki dasar spiritual dan teologis yang kuat. Perkembangan Syiah dalam sejarah Islam bukan sekadar fenomena politik, tetapi juga memiliki dimensi sosial, teologis, dan kultural yang mendalam. Seiring perjalanan waktu, Syiah berkembang menjadi salah satu sekte terbesar dalam Islam dengan sistem keyakinan, hukum, dan teologi yang khas. penganut Syiah tersebar di berbagai wilayah dunia Islam, terutama di Iran, Irak, Lebanon, Suriah, Yaman, serta beberapa wilayah di Asia Selatan seperti Pakistan dan India. Kajian tentang Syiah menjadi penting untuk dikaji, sebab keberadaannya tidak hanya menyentuh aspek sejarah dan politik, tetapi juga mempengaruhi dinamika hubungan antarmazhab dalam dunia Islam. Pemahaman yang komprehensif mengenai sejarah dan perkembangan Syiah diharapkan dapat memperkaya wacana keislaman serta menumbuhkan sikap toleran antarumat Muslim. METODE Penelitian ini menggunakan riset kepustakaan (library research) yang menggunakan berbagai macam bahan pustaka untuk mencari data dan semua informasi yang dibutuhkan 1 . Dari penjelasan tersebut dapat dipahami, bahwa riset kepustakaan merupakan data yang diperoleh melalui penelusuran terhadap berbagai dokumen, baik berupa buku, jurnal ilmiah, artikel akademik, maupun karya-karya ilmiah lain yang membahas konsep maqam dan ahwal dalam tasawuf 2 . Data-data yang sebelumnya telah dikumpulkan, kemudian peneliti dapat mengerjakan dengan tahap-tahap penelitian kepustakaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Definisi dan Terminologi Syiah Secara bahasa (etimologis), kata Syiah berasal dari bahasa Arab asy-syi‘ah (ةعيشلا) yang berarti pengikut, pendukung, atau golongan yang berpihak kepada seseorang atau suatu kelompok 3 . Istilah ini pada awalnya digunakan secara umum untuk menyebut kelompok yang mendukung seseorang dalam urusan politik atau sosial. Namun dalam konteks sejarah Islam, sebutan ini kemudian mengalami penyempitan makna dan digunakan secara khusus untuk menyebut pengikut setia Ali bin Abi Thalib— menantu sekaligus sepupu Nabi Muhammad 4 . Adapun secara terminologi, dalam ensiklopedia Islam syiah yaitu kelompok aliran atau faham yang mengidolakan Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau pemimpin agama setelah Nabi Muhammad SAW 5 . Sejarah Munculnya Syiah Sejarah munculnya Syiah merupakan proses panjang yang tidak hanya Kemunculan Syiah berakar pada keyakinan sekelompok umat Islam bahwa kepemimpinan sepeninggal Nabi Muhammad SAW seharusnya diberikan kepada sosok yang tidak hanya memiliki kedekatan keluarga dengan Nabi, tetapi juga menunjukkan integritas dan kesetiaan yang luar biasa dalam perjuangan Islam. Dalam pandangan ini, Ali bin Abi Thalib dipandang sebagai figur yang paling layak memegang amanah tersebut. Dukungan terhadap beliau dan keturunannya lambat laun membentuk identitas kolektif yang dikenal sebagai Syiah, sebuah aliran yang tumbuh dari keyakinan atas legitimasi spiritual dan moral seorang pemimpin, bukan semata melalui konsensus politik 6 . 1 Milya Sari, “Penelitian Kepustakaan Dalam Penelitian Pendidikan IPA,” Jurnal Penelitian Bidang IPA Dan Pendidikan IPA 6, no. 1 (2020): 43. 2 Maftuh Ajmain Happid, Raya Apdilla, “Maqam Dan Ahwal Dalam Tasawuf: Dinamika Perjalanan Spiritual Menuju Kedudukan Tinggi Di Hadapan Tuhan,” Pandawa: Jurnal Pendidikan Dan Dakwah 7, no. 2 (2025): 3. 3 Zulkifli, “Sejarah Kemunculan Dan Perkembangan Syi’ah,” Jurnal Khatulistiwa-Journal Of Islamic Studies 3 (2013): 142–53. 4 Muhammad Yasir and Indo Santalia, “Sejarah Munculnya Syiah Dan Perkembangannya Di Dunia Islam,” Jurnal Penelitian Multidisiplin Terpadu 8, no. 12 (2024): 447–55. 5 Moh. Hasim, “Syiah: Sejarah Timbul Dan Perkembangannya Di Indonesia,” Harmoni 11, no. 4 (2012). 6 Yasir and Santalia, “Sejarah Munculnya Syiah Dan Perkembangannya Di Dunia Islam.” 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Munculnya Syiah (Rismayani, et., al) | 71-76 Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, muncul inisiatif dari sebagian sahabat di luar kalangan ahlul bait untuk segera menentukan arah kepemimpinan umat. Keputusan itu diambil saat keluarga Nabi masih sibuk mengurus jenazah beliau, dan langkah tersebut dianggap perlu demi menjaga stabilitas umat Islam yang baru saja kehilangan pemimpinnya. Namun, keputusan itu tidak melibatkan ahlul bait secara langsung, sehingga Ali bin Abi Thalib dan para pendukungnya dihadapkan pada realitas yang sudah terbentuk: Abu Bakar telah ditetapkan sebagai khalifah pertama. Ali bin Abi Thalib pada saat itu memilih untuk bersikap sabar dan tidak tergesa-gesa mengambil langkah, menunggu momentum yang tepat hingga masa kepemimpinan khalifah ketiga, Utsman bin Affan. Selama periode tiga khalifah pertama, posisi Ali dan kalangan ahlul bait cenderung berada di luar lingkaran kekuasaan utama, meskipun tetap memainkan peran penting dalam menjaga kesatuan umat dan memberi kontribusi dalam urusan keislaman sesuai kapasitas mereka 7 . Kepemimpinan Utsman bin Affan, yang oleh sebagian kalangan dinilai kurang efektif dalam merespons berbagai ketegangan sosial dan politik, meninggalkan sejumlah persoalan struktural yang menjadi tantangan serius bagi Ali bin Abi Thalib ketika beliau naik sebagai khalifah. Berbagai konflik internal mulai mencuat, dipicu oleh ketidakpuasan terhadap kebijakan masa sebelumnya dan ketegangan politik yang belum terselesaikan. Sepanjang masa pemerintahannya, Ali bin Abi Thalib harus menghadapi berbagai pemberontakan, termasuk dari pihak yang mendukung Muawiyah bin Abi Sufyan, yang secara politik menolak legitimasi kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Strategi politik dan tekanan kekuasaan yang terus berlangsung membuat situasi menjadi tidak stabil, bahkan mengarah pada perpecahan di tengah umat Islam. Ketegangan ini mencapai puncaknya ketika beliau gugur dalam peristiwa tragis, dibunuh oleh seorang anggota kelompok Khawarij. Di sisi lain, Muawiyah terus berusaha untuk mengambil alih kekuasaan dan menguatkan posisinya dalam pemerintahan Islam. Upaya untuk melemahkan pengaruh ahlul bait dilakukan secara bertahap. Pada akhirnya, demi mencegah pertumpahan darah yang lebih besar di kalangan umat Islam, Imam Hasan bin Ali putra dari Ali bin Abi Thalib memilih untuk menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah, dengan harapan dapat tercipta kedamaian dan menghindari konflik yang berkepanjangan. Masa kekuasaan Muawiyah bin Abi Sufyan selama dua puluh tahun merupakan periode yang penuh tantangan bagi kelompok Syiah. Pada masa tersebut, kaum Syiah tidak mendapatkan perlindungan yang memadai dan banyak dari mereka mengalami tekanan serta penganiayaan dari pemerintahan yang berkuasa. Keluarga Imam Hasan dan Husain menjadi korban kekerasan yang serius, termasuk pembunuhan dan pembantaian terhadap anggota keluarga serta para pengikut mereka. Penderitaan yang dialami oleh ahlul bait selama masa pemerintahan Muawiyah menjadi salah satu faktor yang menguatkan identitas dan perjuangan kelompok Syiah. Pengalaman ini membentuk dasar bagi perkembangan Syiah sebagai sebuah aliran yang berkomitmen untuk menentang ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh penguasa 8 . Faktor-Faktor Kemunculan Syiah Kemunculan Syiah tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan berbagai aspek kehidupan umat Islam pada masa awal. Faktor-faktor tersebut mencakup unsur politik, sosial-keagamaan, dan teologis yang saling berkaitan. Setiap faktor berkontribusi terhadap terbentuknya identitas Syiah sebagai sebuah kelompok dengan doktrin dan struktur keagamaan tersendiri. 1. Faktor Politik Aspek politik merupakan faktor paling dominan dalam kemunculan Syiah. Sejak wafatnya Rasulullah pada tahun 632 M, umat Islam menghadapi persoalan penting mengenai siapa yang paling 7 Allamah Sayyid Muhammad Husayn Thabathaba’i, Islam Syiah: Asal-Usul Dan Perkembangannya. (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989). 8 M. Quraish Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah: Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran (Tangerang: Lentera Hati, 2007). 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Munculnya Syiah (Rismayani, et., al) | 71-76 berhak memimpin setelah beliau. Sebagian besar sahabat bersepakat dalam peristiwa Saqifah Bani Sa‘idah untuk membaiat Abu Bakar as-Shiddiq sebagai khalifah pertama. Namun, sebagian sahabat lainnya, terutama pendukung Ali bin Abi Thalib, berpendapat bahwa Ali lebih berhak menduduki posisi tersebut karena kedekatannya dengan Nabi dan perannya yang besar dalam Islam 9 . Peristiwa ini menandai awal perbedaan politik yang kemudian berkembang menjadi perpecahan ideologis. Pihak pendukung Ali yang kemudian dikenal sebagai Syi‘at Ali atau “pengikut Ali” meyakini bahwa Rasulullah telah memberikan isyarat penunjukan Ali sebagai penerusnya dalam peristiwa Ghadir Khum, ketika Nabi bersabda: “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya” 10 . Perkembangan berikutnya, terutama setelah peristiwa Tahkim (arbitrase) dalam Perang Shiffin antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, semakin memperkuat garis pemisah antara pendukung Ali dan kelompok lain. Dari titik inilah Syiah mulai berkembang menjadi kekuatan politik yang nyata dalam sejarah Islam. 2. Faktor Sosial dan Keagamaan Selain politik, faktor sosial juga berperan penting dalam kemunculan Syiah. Pada masa awal Islam, struktur masyarakat Arab masih sangat dipengaruhi oleh sistem kesukuan (‘ashabiyyah). Loyalitas terhadap suku dan keluarga sering kali lebih kuat daripada ikatan ideologis keagamaan. Hal ini memperkuat posisi pendukung Ali, karena Ali berasal dari Bani Hasyim suku yang sama dengan Nabi Muhammad yang memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat Quraisy. Perbedaan latar belakang sosial dan ekonomi antar kelompok Muslim juga memperlebar jurang perbedaan. Kaum Muhajirin, Anshar, dan kelompok baru yang masuk Islam pasca penaklukan mengalami ketimpangan sosial dan politik. Situasi ini memunculkan perasaan ketidakadilan yang kemudian menemukan simbol perjuangannya dalam figur Ali bin Abi Thalib dan keluarganya (Ahlul Bait) 11 . Dari segi keagamaan, perbedaan penafsiran terhadap teks-teks wahyu juga ikut memperkuat identitas Syiah. Mereka menekankan pentingnya bimbingan Imam Ahlul Bait dalam memahami AlQur’an, karena dianggap lebih mengetahui maksud Nabi dan kehendak Allah. Selain itu, faktor tragedi kemanusiaan seperti Peristiwa Karbala (680 M) terbunuhnya Husain bin Ali oleh pasukan Yazid bin Muawiyah semakin memperkuat semangat keagamaan dan kesetiaan emosional pengikut Syiah kepada keluarga Nabi 12 . 3. Faktor Teologis Faktor teologis menjadi fondasi paling mendalam dari eksistensi Syiah. Mereka berkeyakinan bahwa imamah merupakan bagian dari akidah, bukan sekadar urusan politik atau administrasi pemerintahan. Menurut pandangan ini, seorang Imam bukan dipilih melalui musyawarah (syura’), tetapi diangkat oleh Allah melalui penetapan Nabi. Imam dianggap sebagai penerus risalah yang memiliki otoritas spiritual dan ilmiah dalam menafsirkan agama. Imam dalam pandangan Syiah juga memiliki sifat ma‘shum (terjaga dari dosa dan kesalahan), sebagaimana para nabi 13 . Oleh karena itu, kepemimpinan pasca-Nabi tidak bisa diserahkan kepada siapa pun selain orang yang telah ditentukan secara ilahiah. Pemahaman inilah yang menjadi dasar penolakan Syiah terhadap kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, karena dianggap tidak memiliki legitimasi spiritual dan keturunan kenabian. Faktor teologis ini kemudian memperkuat identitas Syiah sebagai kelompok yang menekankan otoritas Ahlul Bait dalam seluruh aspek keagamaan. Dengan demikian, kemunculan Syiah merupakan hasil interaksi kompleks antara politik, sosial, dan teologi yang membentuk satu mazhab 9 Hamid Enayat, Modern Islamic Political Thought (Austin: University Of Texas Press, 1982). 10 M. Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad (Jakarta: Litera AntarNusa, 2001). 11 Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: UI Press, 2015). 12 Jalaluddin Rakhmat, Menyingkap Tabir Ahlul Bait (Bandung: Mizan Publishing, 1997). 13 Murtadha Muthahhari, Imamah Dan Kepemimpinan (Bandung: Mizan Publishing, 1993). 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Munculnya Syiah (Rismayani, et., al) | 71-76 besar dalam sejarah Islam 14 . Perkembangan Syiah Dalam Sejarah Islam 1. Masa Klasik Pada masa klasik Islam, khususnya di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah (750–1258 M), Syiah mulai menunjukkan perkembangan pesat dalam bidang intelektual dan teologi. Abbasiyah yang awalnya bersekutu dengan kelompok Syiah untuk menggulingkan Bani Umayyah, memberikan ruang bagi para ulama Syiah untuk mengembangkan pemikiran mereka, terutama di kota Kufah dan Baghdad yang menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam. Dalam periode ini, muncul banyak karya penting dalam teologi Syiah, seperti pemikiran Imam Ja‘far ash-Shadiq yang dikenal sebagai salah satu pendiri mazhab fikih Syiah Ja‘fariyah. Imam Ja‘far berperan besar dalam merumuskan konsep imamah dan sistem hukum Islam versi Syiah. Ia juga mendidik banyak murid, termasuk yang kelak berpengaruh dalam pemikiran Sunni, seperti Abu Hanifah dan Malik bin Anas 15 . Selain itu, masa klasik juga ditandai dengan munculnya beberapa cabang dalam Syiah, seperti Zaidiyah di Yaman, Ismailiyah di Mesir dan Afrika Utara, serta Itsna ‘Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam) yang berkembang kuat di Irak dan Persia. 2. Masa Pertengahan Memasuki masa pertengahan Islam, sekitar abad ke-10 hingga ke-16 M, Syiah mengalami perkembangan politik dan teritorial yang signifikan. Salah satu momen penting adalah berdirinya Dinasti Buwaih (Buyid) di Persia (945–1055 M), yang berhaluan Syiah dan berhasil menguasai Baghdad. Meskipun khalifah Abbasiyah tetap dipertahankan secara simbolis, kekuasaan sebenarnya berada di tangan penguasa Syiah. Pada abad ke-10 pula berdiri Dinasti Fatimiyah di Mesir, yang beraliran Syiah Ismailiyah. Dinasti ini berhasil mendirikan universitas terkenal Al-Azhar di Kairo, yang awalnya berfungsi sebagai pusat pendidikan Syiah sebelum akhirnya menjadi lembaga Sunni. Perkembangan paling menentukan bagi Syiah terjadi pada abad ke-16 M ketika Dinasti Safawiyah menjadikan Syiah Itsna ‘Asyariyah (Dua Belas Imam) sebagai mazhab resmi negara Iran. Langkah ini menandai transformasi besar-besaran dalam sejarah Islam karena menjadikan Iran sebagai pusat kekuatan Syiah dunia. Sejak itu, Syiah berkembang menjadi sistem politik, sosial, dan budaya yang terlembaga, serta memainkan peran penting dalam geopolitik dunia Islam. 3. Masa Modern Memasuki abad ke-20, Syiah kembali tampil sebagai kekuatan politik besar di dunia Islam, terutama setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini. Revolusi ini menggulingkan monarki Pahlevi dan mendirikan negara teokrasi Islam berideologi Wilayat al-Faqih (Kepemimpinan Ulama) 16 . Peristiwa ini mengubah peta politik dunia Islam secara drastis, karena untuk pertama kalinya Syiah berhasil mendirikan negara berdasarkan prinsip teologi mereka. Iran kemudian menjadi pusat penyebaran ideologi Syiah ke berbagai negara, seperti Lebanon (melalui Hizbullah), Irak, Suriah, dan sebagian wilayah di Teluk. Selain di Iran, komunitas Syiah juga tumbuh di berbagai negara seperti Irak, Lebanon, Pakistan, Bahrain, dan India. Di masa modern, Syiah tidak hanya berperan dalam politik, tetapi juga dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial melalui lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan. Munculnya dialog antarmazhab antara Sunni dan Syiah dalam beberapa dekade terakhir juga menunjukkan adanya upaya menuju rekonsiliasi dan persatuan umat Islam, meskipun 14 Shihab, Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah: Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran. 15 Nasution, Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. 16 Ruhollah Khomeini, Hukum Islam Dan Pemerintahan Islam (Bandung: Mizan Publishing, 1984). 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Sejarah Munculnya Syiah (Rismayani, et., al) | 71-76 masih diwarnai ketegangan di beberapa wilayah 17 . SIMPULAN Kemunculan syiah berawal dari perbedaan pandangan mengenai siapa yang berhak memimpin umat islam setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sebagian sahabat meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib dan keturunannya memiliki hak istimewah sebagai penerus nabi. Dari perbedaan ini, syiah kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan teologis, politik dan intelektual yang berpengaruh besar dalam Sejarah islam. Puncak perkembagan syiah terjadi pada masa pertengahan ketika dinasti safawiyah menetapkan mazhab syiah sebagai mazhab resmi Iran, pengaruhnya semakin kuat setelah Revolusi Islam tahun 1979 yang menggugah semagat kebagkitan Islam di dunia. Hingga kini, syiah tetap menjadi bagian penting umat islam dengan pengikut yang tersebar di berbagai wilayah. Meskipun perbedaan antara sunni dan syiah masih menimbulkan ketegangan di beberapa tempat, Upaya dialog da semangat ukhuwah Islamiyah terus diusahakan agar umat islam dapat Bersatu dalam nilai keimanan dan kemanusiaan. SARAN Adapun saran yang dapat disampaikan pada makalah ini yaitu: 1. Dapat memberikan saran sharapkan kepada pembaca dapat menambah wawasa pengetahuan terkait dengan sejarah munculnya syiah dan perkembangannya di dunia islam. 2. Selain itu, diharapkan kepada teman-teman maupun dosen pengampu mata kuliah Perkembangan Pemikiran Islam dapat memberikan saran dan kritik kepada penulis yang sifatnya bisa membangun motivasi penulis dalam memperbaiki tulisannya saat ini da tulisan-tulisan lainnya yang akan datang. REFERENSI Enayat, Hamid. Modern Islamic Political Thought. Austin: University Of Texas Press, 1982. Fadlallah, Muhammad Husain. Dialog Sunni-Syiah: Menuju Ukhuwah Islamiyah. Jakarta: Lentera, 2003. Haekal, M. Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa, 2001. Hasim, Moh. “Syiah: Sejarah Timbul Dan Perkembangannya Di Indonesia.” Harmoni 11, no. 4 (2012). Khomeini, Ruhollah. Hukum Islam Dan Pemerintahan Islam. Bandung: Mizan Publishing, 1984. Muthahhari, Murtadha. Imamah Dan Kepemimpinan. Bandung: Mizan Publishing, 1993. Nasution, Harun. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI Press, 2015. Rakhmat, Jalaluddin. Menyingkap Tabir Ahlul Bait. Bandung: Mizan Publishing, 1997. Shihab, M. Quraish. Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah: Kajian Atas Konsep Ajaran Dan Pemikiran. Tangerang: Lentera Hati, 2007. Thabathaba’i, Allamah Sayyid Muhammad Husayn. Islam Syiah: Asal-Usul Dan Perkembangannya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1989. Yasir, Muhammad, and Indo Santalia. “Sejarah Munculnya Syiah Dan Perkembangannya Di Dunia Islam.” Jurnal Penelitian Multidisiplin Terpadu 8, no. 12 (2024): 447–55. Zulkifli. “Sejarah Kemunculan Dan Perkembangan Syi’ah.” Jurnal Khatulistiwa-Journal Of Islamic Studies 3 (2013): 142–53. 17 Muhammad Husain Fadlallah, Dialog Sunni-Syiah: Menuju Ukhuwah Islamiyah (Jakarta: Lentera, 2003).