One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 8, November 2025, Halaman 1-7 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17590925 One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan Laili Afifah, Nadya Seika Salsabila, Revadina Nazwa Azzahra, Yasha Agita , Rahma Nur Afifah, Bulan Aulia, Azzura Mufida , Elma Monika, Tania Dwi Astuti, Aulia Azahra, Sudiharto Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta Jalan RS. Fatmawati Raya, Pondok Labu, Cilandak, South Jakarta City, Jakarta 12450, Indonesia Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Abstrak One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan adalah kegiatan edukasi kesehatan yang dilaksanakan pada tanggal 17, Oktober 2025 bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat. Latar belakang: Infeksi akibat penyuntikan tidak aman masih menjadi risiko di fasilitas kesehatan. Siswa keperawatan perlu dibekali pemahaman dan keterampilan penyuntikan sesuai standar keselamatan pasien. Metode: Kegiatan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, dan simulasi di SMK Kesehatan Mulia Karya Husada. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test terhadap 30 siswa untuk menilai peningkatan pengetahuan dan sikap preventif. Hasil: Skor rata-rata siswa meningkat dari 65% menjadi 92% setelah intervensi, menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman prinsip penyuntikan aman dan penerapan 6 benar obat. Siswa juga menunjukkan perubahan sikap lebih hati-hati, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Kesimpulan: Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan membentuk budaya keselamatan pasien sejak dini. Edukasi berbasis praktik direkomendasikan untuk diterapkan secara berkelanjutan di lingkungan pendidikan kesehatan guna mencegah infeksi dan kesalahan prosedur klinik. Kata Kunci: one shot zero risk, edukasi kesehatan, penyuntikan aman, keselamatan pasien, enam benar obat Abstract One Shot, Zero Risk: A Smart Strategy to Prevent Injection-Related Infections is a health education activity conducted on October 17, 2025, aimed at increasing students’ knowledge about safe injection practices and the six rights of medication administration. Background: Infections caused by unsafe injections remain a risk in healthcare facilities. Nursing students need to be equipped with proper understanding and skills in injection techniques according to patient safety standards. Method: The activity applied an educational and participatory approach through interactive lectures, discussions, demonstrations, and simulations at Mulia Karya Husada Health Vocational School. Evaluation was carried out using pre-test and post-test assessments on 30 students to measure improvements in knowledge and preventive attitudes. Results: The students’ average scores increased from 65% to 92% after the intervention, indicating a significant improvement in understanding safe injection principles and applying the six rights of medication administration. Students also showed positive behavioral changes, becoming more cautious, responsible, and patient-safety oriented. Conclusion: This program proved effective in enhancing knowledge and fostering a culture of patient safety from an early stage. Practice-based education is recommended to be continuously implemented in health education settings to prevent infections and clinical procedure errors. Keywords: one shot zero risk, health education, safe injection, patient safety, six rights of medication administration Article Info Received date: 22 Oktober 2025 Revised date: 27 Oktober 2025 Accepted date: 31 Oktober 2025 PENDAHULUAN Di SMK Kesehatan Mulia Karya Husada ditemukan permasalahan rendahnya pemahaman siswa keperawatan terhadap prinsip penyuntikan aman dan penerapan “6 Benar Obat”. Berdasarkan hasil pre-test kegiatan pengabdian, sebagian besar siswa belum memahami bahwa jarum suntik hanya boleh digunakan satu kali untuk satu pasien serta belum mengetahui pentingnya dokumentasi dalam
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 proses pemberian obat yang benar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa siswa belum sepenuhnya menerapkan prinsip keselamatan pasien dalam tindakan klinik dasar. Permasalahan ini teridentifikasi pada saat kegiatan pembelajaran praktik keperawatan di SMK Kesehatan Mulia Karya Husada, sebelum pelaksanaan program penyuluhan. Kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama karena selama kegiatan praktik belum dilakukan pembiasaan dan supervisi yang menekankan pada penerapan prinsip penyuntikan aman dan 6 benar obat. Meskipun demikian, tingginya antusiasme siswa serta dukungan dari guru pendamping dan pihak sekolah menjadi faktor penting yang mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan edukatif ini. Rendahnya pengetahuan tersebut disebabkan oleh kurangnya pembiasaan praktek penyuntikan yang sesuai standar dan kegiatan edukatif yang berfokus pada praktik penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan awal antar siswa yang menyebabkan sebagian dari mereka belum memahami risiko infeksi akibat penggunaan jarum suntik berulang dan pembuangan limbah tajam yang tidak sesuai prosedur. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat belum diterapkan secara optimal di lingkungan sekolah, sehingga berpotensi meningkatkan risiko infeksi dan kesalahan prosedur klinik. Dengan adanya permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan kegiatan edukatif melalui pendekatan Project Based Learning (PjBL) bertema “One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan.” Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk penyuluhan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa SMK Kesehatan Mulia Karya Husada mengenai praktek penyuntikan yang aman dan penerapan prinsip 6 benar obat. Melalui metode ceramah interaktif, diskusi, simulasi, dan demonstrasi praktek penyuntikan yang benar, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman siswa terhadap pentingnya penerapan prinsip aseptik, penggunaan jarum suntik satu kali pakai, serta pembuangan limbah tajam sesuai standar Kementerian Kesehatan. Diharapkan pula kegiatan ini mampu menanamkan sikap preventif, tanggung jawab, dan budaya keselamatan pasien sejak dini, sehingga siswa dapat menerapkan prinsip penyuntikan aman baik dalam lingkungan belajar maupun saat praktik klinik di masa mendatang. METODE Metode pengabdian kepada masyarakat yang digunakan yaitu melalui pendekatan edukatif dan partisipatif yang melibatkan siswa/i SMK Kesehatan Mulia Karya Husada secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Tahapan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama pihak sekolah dan guru promotor kesehatan untuk menentukan kebutuhan edukasi serta waktu pelaksanaan yang tepat. Metode pengabdian menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif yang didasarkan pada pedoman WHO (2023) tentang injeksi aman, Kemenkes RI (2022) mengenai pengelolaan tindakan dan limbah tajam, serta temuan Afandi et al. (2023) terkait penerapan prinsip 6 benar obat. Tahap persiapan meliputi survei dan kunjungan ke SMK Kesehatan Mulia Karya Husada untuk mengetahui profil sekolah, karakteristik siswa, serta menyiapkan sarana prasarana dan materi edukasi sesuai pedoman. Tahap pelaksanaan dilakukan melalui interaksi aktif, penyampaian materi, demonstrasi, dan simulasi praktik seperti cuci tangan, penggunaan APD, serta pembuangan limbah tajam. Tahap evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, observasi simulasi, serta analisis hambatan dan faktor pendukung, dilanjutkan dengan pemberian umpan balik kepada siswa dan guru pendamping. Pada tahap persiapan, tim melakukan survei awal dan kunjungan ke SMK Kesehatan Mulia Karya Husada untuk mengetahui profil sekolah, karakteristik siswa, serta kebutuhan edukasi terkait penyuntikan aman. Tim juga mengecek kesiapan sarana prasarana seperti ruang kelas, media presentasi, alat simulasi, dan koordinasi dengan guru pendamping. Selain itu, disusun materi edukasi yang komunikatif dan sesuai tingkat pemahaman siswa.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 Tahap pelaksanaan dilakukan melalui metode edukatif dengan tiga langkah utama: membangun interaksi, membangun konsep, dan menerapkan konsep. Interaksi dilakukan melalui ceramah interaktif dan diskusi. Pembangunan konsep dilakukan dengan penyampaian materi seputar penyuntikan aman, prinsip 6 benar obat, dan pencegahan infeksi menggunakan media visual dan demonstrasi. Penerapan konsep dilakukan melalui simulasi penyuntikan aman, praktik cuci tangan, penggunaan APD, serta pembuangan limbah tajam. Tahap evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan, serta observasi simulasi untuk menilai perubahan sikap dan keterampilan. Evaluasi juga mencakup analisis hambatan dan faktor pendukung selama kegiatan. Umpan balik diberikan kepada siswa dan guru pendamping untuk memperkuat pemahaman dan memastikan keberlanjutan edukasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap awal kegiatan diawali dengan koordinasi antara tim pelaksana dan pihak SMK Kesehatan Mulia Karya Husada guna memperoleh izin serta menentukan waktu pelaksanaan yang sesuai dengan jadwal pembelajaran. Selain itu, dilakukan pula peninjauan fasilitas sekolah untuk memastikan kesiapan sarana dan prasarana yang akan digunakan, seperti ruang kelas, alat peraga, serta perangkat pendukung presentasi. Hasil pre-test terhadap 30 siswa kelas keperawatan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta belum memiliki pemahaman yang optimal mengenai praktik penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat. Sebanyak 60% siswa belum memahami bahwa jarum suntik hanya digunakan satu kali, dan sekitar 55% belum mengetahui pentingnya pencatatan atau dokumentasi dalam proses pemberian obat. Beberapa kendala yang ditemui pada tahap ini antara lain keterbatasan waktu belajar serta perbedaan tingkat pengetahuan awal antar siswa. Namun demikian, antusiasme peserta dan dukungan dari pihak sekolah menjadi faktor pendukung utama terselenggaranya kegiatan. Solusi yang diterapkan oleh tim adalah menggunakan metode edukatif yang interaktif dengan bantuan media visual dan simulasi langsung agar materi lebih mudah dipahami. Keberhasilan tahap ini tidak terlepas dari koordinasi yang baik serta fasilitas sekolah yang memadai. Berdasarkan hasil pre-test, permasalahan utama yang ditemukan adalah rendahnya pemahaman siswa terhadap prinsip penyuntikan aman dan tindakan pencegahan infeksi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kesalahan prosedur seperti penggunaan alat suntik yang tidak steril dan pembuangan limbah tajam yang tidak sesuai standar. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan melalui metode ceramah interaktif, diskusi, serta simulasi praktik penyuntikan yang benar sesuai prinsip 6 benar obat. Siswa dilibatkan secara aktif dalam berbagai sesi, termasuk praktik mencuci tangan, penggunaan sarung tangan, dan cara pembuangan jarum ke dalam safety box. Selama kegiatan berlangsung, suasana pembelajaran berjalan kondusif dengan partisipasi aktif dari seluruh peserta. Hambatan kecil yang muncul, seperti keterbatasan alat peraga, diatasi dengan penggunaan video edukatif serta pembagian kelompok secara bergantian. Faktor pendukung utama pada tahap ini adalah semangat siswa dalam mengikuti kegiatan serta dukungan penuh dari guru pendamping dan pihak sekolah. Pelaksanaan berjalan efektif dan interaktif sehingga siswa lebih memahami pentingnya keselamatan kerja dalam prosedur klinik dasar. Tahap evaluasi dilakukan dengan pemberian post-test menggunakan instrumen yang sama seperti pada pre-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan, dengan skor rata-rata meningkat dari 65% menjadi 92%. Seluruh siswa mampu menjawab dengan benar terkait prinsip penggunaan jarum satu kali pakai serta pentingnya proses identifikasi dan dokumentasi pasien sebelum pemberian obat.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 Selain peningkatan skor, siswa juga memperlihatkan perubahan sikap yang lebih hati-hati, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keselamatan pasien saat melakukan simulasi. Keberhasilan ini didukung oleh penerapan metode pembelajaran partisipatif, penggunaan media interaktif, dan suasana belajar yang mendukung. Secara keseluruhan, kegiatan “One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan” terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai pentingnya penerapan penyuntikan aman serta prinsip 6 benar obat. Edukasi berbasis praktik seperti ini relevan untuk diterapkan secara berkelanjutan di institusi pendidikan kesehatan, karena mampu menumbuhkan budaya keselamatan pasien dan tenaga kesehatan sejak dini. Kegiatan penyuluhan “One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan” dilaksanakan di SMK Kesehatan Mulia Karya Husada dan diikuti oleh 30 responden siswa kelas keperawatan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai praktek penyuntikan yang aman dan penerapan prinsip 6 benar obat sebagai bagian dari upaya pencegahan infeksi dan peningkatan keselamatan pasien (patient safety). Evaluasi efektivitas penyuluhan dilakukan melalui pengisian pre-test dan post-test yang berisi 10 pernyataan terkait pemahaman siswa terhadap injeksi aman dan prinsip 6 benar obat. Gambar 1. Grafik Batang Perbandingan Hasil Pre Test dan Post Test Hasil pengukuran menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada skor rata-rata post-test dibandingkan dengan pre-test. Pada lima pertanyaan pertama yang berkaitan dengan praktik penyuntikan aman, seperti “jarum suntik hanya boleh digunakan sekali”, “tenaga kesehatan membuka jarum dari kemasan baru”, serta “pentingnya penggunaan sarung tangan dan kebersihan tangan sebelum dan sesudah penyuntikan”, sebagian besar responden menunjukkan peningkatan pengetahuan hingga mencapai skor mendekati 100%. Sebelum penyuluhan, beberapa siswa masih belum memahami bahwa penggunaan ulang jarum suntik dapat menyebabkan penularan penyakit berbahaya seperti Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV, namun setelah penyuluhan seluruh responden memahami bahwa setiap jarum harus digunakan satu kali untuk satu pasien. Peningkatan juga terlihat pada pertanyaan mengenai pembuangan jarum bekas ke dalam safety box, di mana sebelum penyuluhan masih ada responden yang menjawab salah, namun setelah diberikan materi dan demonstrasi, semua siswa dapat menjelaskan bahwa pembuangan limbah tajam harus dilakukan di wadah khusus yang tidak dapat ditembus jarum. Hasil ini sejalan dengan penelitian Pangalila et al. (2019) yang menyatakan bahwa kepatuhan terhadap prosedur penyuntikan aman mampu menurunkan risiko cedera tertusuk jarum (needle stick injury) pada tenaga kesehatan di rumah sakit. Pada pertanyaan keenam hingga kesepuluh yang menilai pengetahuan tentang prinsip 6 benar obat (benar pasien, benar obat, benar dosis, benar waktu, benar cara/rute, dan benar dokumentasi),
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 peningkatan skor post-test juga cukup signifikan. Sebelum penyuluhan, sebagian responden masih memiliki pemahaman yang kurang tepat terutama pada poin “benar pasien” dan “benar dokumentasi”, di mana beberapa siswa beranggapan bahwa dokumentasi tidak perlu dilakukan apabila pasien sudah menerima obat. Namun setelah penyuluhan, seluruh responden memahami bahwa pencatatan pemberian obat merupakan bagian penting dari akuntabilitas dan keselamatan pasien. Selain itu, siswa juga memahami bahwa memeriksa identitas pasien dan memastikan dosis obat sesuai resep merupakan kewajiban tenaga kesehatan sebelum memberikan obat melalui injeksi. Hasil ini konsisten dengan temuan Kartika & Melani (2018) yang menyebutkan bahwa kepatuhan terhadap prinsip 6 benar obat berhubungan langsung dengan penurunan kesalahan pemberian obat (medication error) serta peningkatan kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan. Kegiatan penyuluhan terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman responden tentang keselamatan pasien dan tenaga kesehatan. Pendekatan ceramah, demonstrasi, dan diskusi interaktif membantu siswa memahami secara langsung langkah-langkah injeksi yang benar dan aman. Setelah mengikuti penyuluhan, siswa menunjukkan perubahan sikap lebih hati-hati dan bertanggung jawab terhadap keselamatan diri serta pasien dalam praktik klinik. Hal ini memperkuat bukti bahwa edukasi berbasis praktik mampu meningkatkan kesadaran preventif terhadap risiko infeksi dan kesalahan prosedur di lingkungan pelayanan kesehatan dasar, sebagaimana dijelaskan oleh Afandi et al. (2023). Secara keseluruhan, hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap positif siswa SMK Kesehatan Mulia Karya Husada terhadap pentingnya praktik penyuntikan aman dan penerapan prinsip 6 benar obat. Program “One Shot, Zero Risk” terbukti efektif sebagai media edukasi promotif-preventif dalam menanamkan budaya keselamatan pasien (patient safety) di kalangan calon tenaga kesehatan. Dengan demikian, kegiatan serupa perlu dilanjutkan secara berkala agar kesadaran dan keterampilan siswa dalam mencegah infeksi serta kesalahan medis semakin meningkat. Peningkatan pengetahuan siswa setelah dilakukan edukasi menunjukkan bahwa intervensi promotif di lingkungan pendidikan kesehatan memiliki dampak yang signifikan dalam membentuk pemahaman dasar mengenai keselamatan pasien dan penerapan prosedur klinik yang benar. Edukasi mengenai penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat merupakan upaya preventif yang penting, terutama untuk siswa keperawatan yang akan terlibat langsung dalam pelayanan kesehatan. Hal ini sejalan dengan temuan Suharjo et al. (2021) yang menyebutkan bahwa edukasi dini akan meningkatkan kesiapan praktik serta mengurangi risiko kesalahan prosedur ketika memasuki dunia klinik. Pelatihan yang memadukan pemberian materi dengan demonstrasi terbukti memperkuat kemampuan kognitif dan psikomotor peserta didik. Model pembelajaran aktif seperti ini mendukung teori pembelajaran dewasa (experiential learning) yang menekankan pemahaman melalui praktik langsung di lingkungan simulasi. Dewi dan Handayani (2022) menyatakan bahwa demonstrasi pada prosedur klinik meningkatkan atensi dan retensi pengetahuan dibandingkan metode ceramah tunggal. Artinya, pendekatan yang digunakan pada kegiatan ini telah sesuai dengan karakteristik peserta yang sedang berproses menuju kompetensi praktik. Pada konteks keselamatan pasien (patient safety), penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat merupakan komponen penting dalam mencegah kesalahan medis yang berdampak serius. Kesalahan injeksi dan pemberian obat dapat menimbulkan potensi transmisi penyakit, reaksi obat yang merugikan, bahkan kejadian sentinel di fasilitas kesehatan (WHO, 2022). Oleh karena itu, edukasi yang diberikan dalam kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga berperan sebagai intervensi untuk memperkuat budaya keselamatan pasien sejak dini. Meski terdapat peningkatan pengetahuan, kemampuan siswa untuk mempertahankan dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik nyata dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pengalaman klinik, supervisi instruktur, dan frekuensi praktik terstandar. Studi Afandi et al. (2023) menekankan bahwa evaluasi lanjutan dan pelatihan berkelanjutan diperlukan agar perubahan perilaku
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 tetap konsisten dan berkesinambungan. Artinya, edukasi ini perlu direncanakan secara berkelanjutan agar tercipta kompetensi praktik yang benar-benar terbentuk, bukan hanya peningkatan skor pengetahuan sementara. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan bukti bahwa intervensi edukatif berperan penting dalam menguatkan mindset preventif dan tanggung jawab profesional calon tenaga kesehatan. Pembiasaan praktik penyuntikan aman dan penerapan prinsip 6 benar obat sejak masa sekolah merupakan pondasi untuk menekan angka kesalahan tindakan klinik dan risiko infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan di masa mendatang. SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “One Shot, Zero Risk: Strategi Pintar Mencegah Infeksi dari Penyuntikan” diawali dengan tahap persiapan yang mencakup koordinasi antara tim pelaksana dan pihak SMK Kesehatan Mulia Karya Husada. Tim melakukan survei awal untuk memetakan kebutuhan edukasi, menilai kesiapan sarana prasarana, serta memahami karakteristik siswa sebagai peserta kegiatan. Materi edukasi kemudian disusun dengan mengacu pada pedoman WHO dan Kementerian Kesehatan RI, berfokus pada penerapan penyuntikan aman dan prinsip 6 benar obat. Tahap ini menjadi fondasi utama keberhasilan program karena didukung oleh kolaborasi aktif antara tim pelaksana, guru pendamping, dan pihak sekolah. Pada tahap pelaksanaan, kegiatan dirancang dengan pendekatan edukatif dan partisipatif yang menekankan keaktifan siswa dalam proses belajar. Metode yang digunakan meliputi ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, serta simulasi praktik untuk memperkuat pemahaman konseptual dan keterampilan psikomotorik. Siswa dilatih melakukan cuci tangan, mengenakan alat pelindung diri (APD), menyuntik dengan teknik aseptik, serta membuang limbah tajam sesuai prosedur. Antusiasme peserta dan dukungan lingkungan belajar yang positif menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif. Kendala seperti keterbatasan alat praktik diatasi dengan penggunaan media visual dan sistem rotasi kelompok, sehingga setiap siswa tetap mendapat kesempatan untuk berlatih secara langsung. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam aspek pengetahuan dan sikap siswa terhadap praktik penyuntikan aman. Skor rata-rata post-test naik dari 65% menjadi 92%, yang menandakan adanya pemahaman lebih baik dan perubahan perilaku ke arah yang lebih hati-hati, bertanggung jawab, serta berorientasi pada keselamatan pasien. Program ini terbukti efektif dalam memperkuat kesadaran siswa tentang pentingnya penerapan prinsip 6 benar obat. Untuk keberlanjutan hasil, disarankan agar kegiatan serupa dilaksanakan secara periodik dengan supervisi praktik yang terstandar. Pendekatan berbasis praktik juga direkomendasikan menjadi bagian permanen dari kurikulum pendidikan keperawatan guna menanamkan budaya keselamatan pasien dan mencegah risiko infeksi maupun kesalahan klinis di masa mendatang. UCAPAN TERIMAKASIH Kami menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing, Bapak Dr. Sudiharto, S.Kp.,M.Kes., RN, atas bimbingan, arahan, serta dukungan yang konsisten selama seluruh rangkaian kegiatan ini berlangsung. Panduan beliau menjadi landasan penting dalam keberhasilan pelaksanaan program ini. Ucapan terima kasih yang tulus juga kami sampaikan kepada Ibu Devi Ekasakti S.Kep, selaku Kepala Sekolah SMA Kesehatan Mulya Karya Husada, atas izin, bantuan, dan dukungannya dalam memfasilitasi kegiatan, serta kepada seluruh adik-adik siswa kelas 11.4 SMA Kesehatan Mulya Karya Husada yang telah meluangkan waktu dan berpartisipasi aktif. Antusiasme dan kerja sama warga menjadi faktor penting yang mendukung kelancaran setiap tahap kegiatan.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 8 One Shot, Zero Risk (Laili Afifah, dkk.) | 1-7 Kami juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh rekan-rekan kelompok, yang telah menunjukkan dedikasi, semangat, dan solidaritas luar biasa selama pelaksanaan kegiatan. Kontribusi dan kerja sama tim yang solid menjadi bukti nyata komitmen dalam mengimplementasikan ilmu keperawatan ke dalam aksi nyata di masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap manfaat yang diperoleh tidak hanya dirasakan secara langsung oleh masyarakat, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya praktik penyuntikan yang aman dan bebas risiko infeksi. Dengan demikian, diharapkan tercipta sistem pelayanan kesehatan yang lebih bermutu, aman, dan berorientasi pada keselamatan bersama. REFERENSI Afandi, A. T., Maula, M., Asmaningrum, N., & Putra, G. D. (2023). The Six Right Principles of Drug Administration to Patients with Diabetes Mellitus in Hospitals: A Case Study. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 4(1). https://doi.org/10.58545/jkki.v4i1.165 Kartika, I. R., & Melani, V. (2018). Application of “Six Rights” on Medication Administration by Nurse and Patient Satisfaction. Indonesian Nursing Journal of Education and Clinic, 2(2), 178. https://doi.org/10.24990/injec.v2i2.144 Pangalila, A., et al. (2019). Hubungan praktik menyuntik aman dengan kejadian cedera tertusuk jarum di RSUD Kota Kendari. Jurnal Perawat Indonesia, 3(2), 229–236. https://core.ac.uk/download/pdf/270203336.pdf Kemenkes RI. (2022). Pedoman praktik penyuntikan aman dan pengelolaan limbah benda tajam di fasilitas pelayanan kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. World Health Organization (WHO). (2023). Safe Injection Practices: Global Health Report 2023. Geneva: WHO Press. Afandi, A. T., Maula, M., Asmaningrum, N., & Putra, G. D. (2023). The Six Right Principles of Drug Administration to Patients with Diabetes Mellitus in Hospitals: A Case Study. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 4(1). https://doi.org/10.58545/jkki.v4i1.165 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pedoman Praktik Penyuntikan Aman dan Pengelolaan Limbah Benda Tajam di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. World Health Organization. (2023). Safe Injection Practices: Global Health Report 2023. Geneva: WHO Press.