scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Fostering Religious Values through a Sociocultural Approach within the Community of Camba Berua, Makassar

M. Ilham Muchtar, A. Asdar, M. Chiar Hijaz

Full text

2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 89-98 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17596657 Pembinaan Keagamaan Melalui Sociocultural Approach pada Masyarakat di Kelurahan Camba Berua, Makassar Fostering Religious Values through a Sociocultural Approach within the Community of Camba Berua, Makassar M. Ilham Muchtar1*, A. Asdar2, M. Chiar Hijaz3 1,2,3Universitas Muhammadiyah Makassar, Indonesia *Email: [email protected] Abstrak Pembinaan agama pada masyarakat golongan bawah memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Permasalahan utama yang dihadapi diantaranya adalah faktor kultur dan kondisi hidup yang serba terbatas membuat mereka cenderung tertutup dan eksklusif, maka untuk melakukan pembinaan keagamaan kepada komunitas seperti mereka diperlukan paradigma pendekatan khusus. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan mengeksploitasi data-data di lapangan. Data-data dikumpulkan dari pengamatan, wawancara, dan penelaahan dokumen-dokumen yang ditemukan di lapangan lalu dilakukan analisis deskriptif guna memberikan gambaran tentang bagaimana ‘Pembinaan Keagamaan Melalui Sociocultural Approach pada Masyarakat di Kel. Camba Berua, Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam konteks pembinaan aspek spiritual, khususnya pada komunitas masyarakat golongan bawah, maka model pendekatan sosiokultural sangat penting. Karena setiap kelompok masyarakat memiliki budaya sebagai karya mereka sekaligus sebagai pengikat kebutuhan mereka. Pendekatan sosiokultural dalam pembinaan aspek spiritual lebih bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan. Model pendekatan sosiokultural sangat tepat digunakan pada masyarakat di kelurahan Camba Berua yang bermukim di Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar. Setidaknya, ada dua macam pendekatan sosiokultural yang bisa digunakan dalam pembinaan keagamaan, yaitu pendekatan komprehensif dan pendekatan simpatik sugestif. Pendekatan komprehensif mengindikasikan bahwa proses internalisasi nilai-nilai agama dalam masyarakat seyogyanya mempertimbangkan nilai-nilai sosial dan budaya sesuai lingkungan masyarakat. Pendekatan simpatik sugestif adalah pengutamaan suasana yang dapat menimbulkan rasa nyaman dalam proses pembinaan keagamaan dan terhindar dari perasaan terancam bagi anggota komunitas. Pembinaan keagamaan masyarakat merupakan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu aspek; Pendidikan Berkualitas. Kata kunci: Pembinaan Keagamaan, Sociocultural Approach, Masyarakat, Komunitas Abstract Religious development among lower-income communities presents unique challenges and characteristics. The main issues encountered include cultural factors and limited living conditions, which often make these communities closed and exclusive. Therefore, implementing religious development within such communities requires a special paradigm and approach. This research is a field study employing a qualitative approach aimed at exploring data obtained directly from the field. The data were collected through observation, interviews, and document analysis, then analyzed descriptively to provide an overview of Religious Development through a Sociocultural Approach in the Community of Camba Berua Sub-district, Makassar City. The findings reveal that in the context of spiritual development—particularly among lower-income communities—the sociocultural approach model plays a crucial role. Every community possesses its own culture, which not only represents their creative expression but also serves as a social bond that fulfills their collective needs. The sociocultural approach in spiritual development is more accommodative toward specific cultural values in an innovative and creative way, without diminishing the essential aspects of religiosity. This model is particularly suitable for the community of Camba Berua in Ujung Tanah District, Makassar City. At least two forms of sociocultural approaches can be applied in religious development: the comprehensive approach and the sympathetic-suggestive approach. The comprehensive approach implies that the internalization of religious values within a community should consider the existing social and cultural values of its environment. The sympathetic-suggestive approach emphasizes creating a comfortable and non-threatening atmosphere during the process of religious development. Ultimately, 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 religious community development aligns with one of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in promoting Quality Education. Keywords: Religious Development, Sociocultural Approach, Community, Society Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 29 Oktober 2025 Accepted date: 13 November 2025 PENDAHULUAN Pembinaan agama Islam adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terarah, guna tercapainya pribadi yang lebih berkompeten dan mempunyai wawasan luas, yang selalu berpegang teguh pada nilai-nilai Islam, demi terciptanya keselamatan di dunia dan di akhirat (Astoro et al., 2024). Pembinaan agama Islam dapat dipahami sebagai proses usaha yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan agama adalah konsep dalam rangka membimbing, mengarahkan, atau membangun nilai-nilai yang sangat penting dan beragama bagi manusia, yaitu nilai-nilai keagamaan berupa ajaranajaran agama kepada orang lain. Sehingga menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan bagi orang tersebut. Pembinaan agama yaitu proses masukan seperangkat keyakinan atau keimanan yang dipercayai kebenarannya mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan ajaran atau paham agama terhadap orang lain (Fatimah Sari, 2023). Dengan demikian dapat disimpulkan, pembinaan agama adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terarah dan terus menerus yang dilakukan oleh pembina agama kepada sasaran sebagai upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri yang berguna untuk keselamatan di dunia dan di akhirat. Disadari bahwa pembinaan aspek spiritual masyarakat adalah hal yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas keberagamaan(Utami, 2019). Namun upaya pembinaan pada komunitas tertentu, seperti masyarakat di Camba Berua tentu memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Kendala utama yang dihadapi diantaranya adalah faktor kultur dan kondisi kehidupan yang serba terbatas karena di bawah garis kemiskinan membuat mereka minder sehingga cenderung tertutup dan eksklusif maka diperlukan paradigma pendekatan khusus, seperti pendekatan sosiokultural(Muchtar & Juhanis, 2018). Komunitas nelayan yang mendominasi masyarakat di Camba Berua kerap diidentikkan dengan kehidupan yang kumuh. Hal ini karena dalam pemenuhan kebutuhan sehari-harinya selalu menghadapi berbagai hambatan yang sangat berat dan tidak menentu. Meski demikian mereka tetap berusaha untuk bertahan dalam kehidupannya meskipun dalam kondisi yang sulit. Keadaan hidup seperti yang dialami oleh komunitas nelayan inilah yang sering menjadi kendala dalam melakukan upaya pembinaan keagamaan kepada mereka. Karena adalah hal yang sulit untuk bisa hadir dan tekun dalam program jika pikiran mereka masih dibebani berbagai persoalan hidup, bahkan untuk makan sehari-hari saja mereka masih kesulitan(Mu’in, 2018). Berdasarkan penjelasan diatas maka sangat penting untuk melakukan penelitian terkait paradigma pembinaan keagamaan melalui pendekatan sosiokultural kepada masyarakat kumuh, khususnya pada komunitas nelayan Kampung Camba Berua, Kota Makassar(Muchtar, 2022). Pembinaan keagamaan masyarakat merupakan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu aspek; Pendidikan Bermutu(Muchtar & Billah, 2022). Penelitian ini berlokasi di Kelurahan Camba Berua, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar. Terdapat tiga fokus permasalahan pada penelitian ini, yaitu: 1) Kondisi kehidupan keagamaan masyarakat Camba Berua Makassar, 2) Paradigma pembinaan keagamaan masyarakat dengan pendekatan sosiokultural di Kota Makassar, dan 3) Faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan keagamaan masyarakat dengan menggunakan pendekatan sosiokultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti dengan 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 tujuan mengeksploitasi data-data di lapangan (Sugiyono, 2023). Data-data primer dan sekunder dikumpulkan dengan metode observasi, wawancara, dan penelaahan dokumen-dokumen yang ditemukan di lapangan lalu dilakukan analisis deskriptif. Pengolahan data diakukan melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi data(Pahkeviannur, 2022). Sementara itu kredibilitas data dalam penelitian ini dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi data, analisis kasus negatif, menggunakan bahan referensi, dan mengadakan member chek(Stewart, 2022). Melalui pendekatan sosiokultural yang akan digunakan dalam penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai dinamika pembinaan agama di tengah komunitas yang memiliki tantangan sosial dan ekonomi yang signifikan. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada aspek ajaran agama, tetapi juga pada nilai-nilai budaya, norma sosial, dan cara hidup yang membentuk pola pikir serta perilaku komunitas nelayan. Dengan demikian, pembinaan agama yang dilakukan dapat lebih efektif dan sesuai dengan kondisi sosial budaya mereka, sehingga proses transformasi spiritual yang diinginkan dapat tercapai dengan baik. Pendekatan sosiokultural ini juga memberikan kontribusi dalam merancang strategi pembinaan yang lebih manusiawi, sensitif terhadap kondisi masyarakat, dan berdampak jangka panjang. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Masyarakat Camba Berua Makassar Nama Kelurahan Camba Berua adalah hasil pemekaran dari Kampung Berua yang berubah nama menjadi Camba Berua. Awalnya nama kelurahan ini adalah Cambaya Berua namun untuk mempermudah dalam pengucapan kata, maka Cambaya Berua berubah menjadi Camba Berua(Ishak et al., 2018). Camba Berua terdiri atas dua kata yaitu Camba dan Berua. Kata “Camba” diambil dari kata Cambaya yang merupakan nama salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Ujung Tanah dan kata “Beru” (bahasa Makassar) yang artinya “baru”. Adapun huruf ‘a’ di akhir kata ‘Berua’ merupakan huruf tambahan dalam bahasa Makassar memiliki arti ‘yang’. Jadi ‘Camba Berua’ secara keseluruhan dapat diartikan sebagai “Cambaya yang baru”(Naing & Ikhsan, 2016). Camba Berua adalah salahsatu kelurahan di Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kelurahan Camba Berua memiliki kode wilayah 73.71.08.1011. Memiliki luas sekitar +0,36 Km dan terdiri dari 18 RT dan 4 RW. Kelurahan Cambaya merupakan kelurahan yang cukup padat penduduknya, tercatat jumlah penduduk Kelurahan Camba Berua pada tahun 2024 tercatat 4.721 jiwa yang terdiri atas 2.425 jiwa laki-laki dan 2.296 jiwa perempuan(Viviani et al., 2024). Asal daerah penduduk Cambaya sebanyak 47,7% dominan dari Makassar yang hidup dan menetap selama kurang dari 10 tahun secara turun-temurun. Kebanyakan dari mereka merupakan keluarga dari warga Cambaya yang berasal dari kampung yang datang dan menetap untuk mengadu nasib di kota Makassar. Tingkat Pendidikan masyarakat umumnya hanya sebatas tingat SD, sebahagian bahkan tidak bersekolah. Mata pencaharian utama adalah sebagai nelayan. Mereka hidup sangat sederhana dan terbatas dengan bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan sandang dan pangan saja. Letak geografis Kelurahan Camba Berua berada di pesisir pantai dengan ketinggian satu meter dari permukaan laut. Maka berdasarkan posisi letak geografisnya itulah Kelurahan Camba Berua menjadi strategis bagi usaha penangkapan ikan laut yang ditunjang dengan tersedianya prasarana Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Maka wajar apabila sebagian besar warga masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan, keadaan tersebut turut mewarnai pola lingkungan budaya setempat sebagai suatu pemukiman penduduk yang juga dikenal sebagai perkampungan nelayan(Iriani, 2017). 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 Pendekatan Sosiokultural dalam Pembinaan Keagamaan Masyarakat Teori sosiokultural merupakan teori yang dikembangkan oleh Lev. Semenovich Vygotsky, yang menekankan pentingnya perkembangan kecerdasan/intelegensi melalui kultur atau masyarakat. Perkembangan individu terjadi melalui dua tahap, yaitu dimulai dengan pertukaran sosial antarpribadi (interaksi dengan lingkungan sosial), lalu terjadi internalisasi intrapersonal. Keterampilan individu dapat dikembangkan melalui interaksi individu dengan bantuan atau bimbingan orang dewasa (guru) dan kolaborasi dengan teman sebaya(Mcleod, 2025). Inti dari teori ini adalah perkembangan kognitif seseorang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Berdasarkan teori di atas, maka pada penerapan pendekatan sosiokultural dalam pembinaan aspek spiritualitas masyarakat, para pembina seperti muballigh, penyuluh agama dan tokoh masyarakat berfungsi sebagai motivator yang memberikan arahan serta rangsangan kepada masyarakat agar aktif dan memiliki gairah untuk mengikuti proses pembinaan sesuai program yang telah dibuat. Selain itu juga berfungsi sebagai fasilitator yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama menemukan solusi pada setiap hambatan yang dihadapi. Pada intinya, masyarakat akan mengikuti proses kegiatan pembinaan secara sukarela dan ikhlas tanpa merasa dipaksa oleh siapapun. Hal itu bisa berhasil dilakukan dengan mempertimbangkan secara matang aspek kultur yang berlaku di tengah-tengah masyarakat. Pada penerapan pembelajaran dengan teori belajar sosiokultur, guru berfungsi sebagai motivator yang memberikan rangsangan agar siswa aktif dan memiliki gairah untuk berfikir, fasilitator, yang membantu menunjukkan jalan keluar bila siswa menemukan hambatan dalam proses berfikir, manajer yang mengelola sumber belajar, serta sebagai rewarder yang memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa, sehingga mampu meningkatkan motivasi yang lebih tinggi dari dalam diri siswa. Pada intinya, siswalah yang dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri untuk membangun ilmu pengetahuan(’Ibaad et al., 2022). Teori sosiokultural atau yang biasa juga disebut teori kontruktivisme sosial menyatakan bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Perkembangan individu terjadi melalui dua tahap, yaitu dimulai dengan pertukaran sosial antarpribadi (interaksi dengan lingkungan sosial), kemudian terjadi internalisasi intrapersonal. Keterampilan individu dapat dikembangkan melalui interaksi individu dengan bantuan atau bimbingan orang dewasa (guru) dan kolaborasi dengan teman sebaya(Abdin & Tuharea, 2023). Inti dari teori belajar sosiokultur ini adalah perkembangan kognitif seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu. Pembinaan keagamaan melalui pendekatan sosiokultural ini lebih bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan(Muchtar & Juhanis, 2018). Model pendekatan seperti ini dinilai tepat digunakan pada masyarakat rendah seperti pada komunitas nelayan Camba Berua yang bermukim di Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar. Dalam hal ini, ada dua macam pendekatan sosiokultural yang digunakan dalam pembinaan keagamaan, yaitu pendekatan komprehensif dan pendekatan simpatik sugestif. Pendekatan komprehensif mengindikasikan bahwa proses internalisasi nilai-nilai agama dalam masyarakat seyogyanya mempertimbangkan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Sedang pendekatan simpatik sugestif adalah pengutamaan suasana yang dapat menimbulkan rasa nyaman dalam proses pembinaan keagamaan dan terhindar dari perasaan terancam bagi anggota komunitas. 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 Berdasarkan teori di atas, maka pada penerapan pendekatan sosiokultural dalam pembinaan aspek spiritualitas masyarakat golongan bawah, para pembina seperti muballigh, penyuluh agama dan tokoh masyarakat berfungsi sebagai motivator yang memberikan arahan serta rangsangan kepada masyarakat agar aktif dan memiliki gairah untuk mengikuti proses pembinaan sesuai program yang telah dibuat. Selain itu juga berfungsi sebagai fasilitator yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama menemukan solusi pada setiap hambatan yang dihadapi. Pada intinya, masyarakat akan mengikuti proses kegiatan pembinaan secara sukarela dan ikhlas tanpa merasa dipaksa oleh siapapun. Hal itu bisa berhasil dilakukan dengan mempertimbangkan secara matang aspek kultur yang berlaku di tengahtengah masyarakat(Nuryani et al., 2019). Melalui pendekatan tersebut, dapat dikemukakan bahwa masyarakat Kampung Berua pada dasarnya dikenal sebagai komunitas yang sangat religius, karena mayoritasnya adalah muslim. Masyarakat Camba Berua memiliki kesadaran yang tinggi dalam melaksanakan perintah agama, hal ini terlihat pada keseluruhan aktifitas sehari-harinya hampir tidak terlepas dari motivasi agama Islam. Hal tersebut menjadi fenomena tersendiri karena pendidikan agama telah ditanamkan sejak dini ke dalam jiwa anak-anak mereka. Agama memberikan motivasi kepada Komunitas nelayan Camba Berua untuk menghidupkan rasa kegotong-royongan, merapatkan hubungan silaturrahim, tenggang rasa dan harmonisasi dalam kehidupan bermasyarakat. Agama dapat pula memberikan motivasi untuk meningkatkan etos kerja dalam rangka peningkatan kesejahteraan keluarga yang lebih baik. Mereka umumnya menyadari bahwa pekerjaan yang halal adalah sumber keberkahan sebagaimana diajarkan oleh orang tua mereka sejak dahulu. Itu sebabnya mereka berusaha mencari nafkah secara halal meski menjadi nelayan. Demikian pula halnya dengan pelaksanaan ibadah mahdhah, seperti shalat fardhu sebagai ritual agama yang dilakukan lima kali sehari secara berkesinambungan. Dengan berupaya untuk selalu melaksanakannya secara berjamaah di masjid yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Sedang bila bulan suci Ramadhan tiba, maka selain melaksanakan ibadah puasa sebagai ibadah wajib, masyarakat Kampung Berua juga selalu menyemarakkan malam-malam di bulan suci tersebut dengan melaksanakan ibadah shalat taraweh di masjid. Demikian halnya saat hari raya atau lebaran tiba, mereka selalu melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri di masjid atau di lapangan jika cuaca mendukung. Sebagaimana umat muslim lainnya, masyarakat nelayan Camba Berua, yaitu hampir semuanya punya komitmen untuk menunaikan rukun Islam ke-lima, yakni ibadah haji. Karena itu setiap kali mereka mendapatkan rezeki dari Allah swt, mereka selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Mereka berharap dengan menjalankan ibadah haji dan banyak berdoa di tanah suci, usahanya akan dimudahkan Allah swt. Dengan demikian, pembinaan keagamaan di Kelurahan Camba Berua, Makassar, telah mengalami beberapa dinamika yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan budaya yang ada di komunitas nelayan. Dalam penelitian ini, terdapat dua pendekatan utama yang diterapkan, yaitu pendekatan komprehensif dan simpatik-sugestif, yang berfokus pada penguatan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kedua pendekatan ini, meskipun memiliki karakteristik yang berbeda, saling melengkapi dalam memperkenalkan nilai-nilai keagamaan secara kontekstual kepada masyarakat nelayan. Integrasi Nilai Keagamaan Melalui Interaksi Sosial dan Budaya Lokal Dalam komunitas nelayan, kegiatan keagamaan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial mereka. Kehidupan nelayan yang sering kali berkutat dengan aktivitas melaut dan kerja keras di laut, menjadikan pengintegrasian nilai keagamaan sebagai bagian dari rutinitas mereka sangat penting. Seperti yang ditemukan dalam studi sebelumnya tentang komunitas nelayan di Prigi (Jawa Timur), di mana ritual-ritual keagamaan, seperti “Nadran”, berperan penting dalam menghubungkan masyarakat 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 dengan kepercayaan mereka melalui budaya laut dan aktivitas sehari-hari(Palanjuta & Ruja, 2022). Ritual ini menunjukkan bagaimana agama diterima bukan hanya dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam interaksi sosial dan budaya yang lebih luas, seperti yang ditemukan dalam kegiatan melaut dan tradisi yang ada di masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan komprehensif yang mengandalkan kurikulum dan materi pengajaran yang terstruktur perlu disesuaikan dengan cara masyarakat nelayan berinteraksi dan menjalani kehidupan mereka. Oleh karena itu, pendekatan simpatik-sugestif yang lebih fleksibel dan berbasis pada kegiatan sosial informal, seperti pengajian yang diadakan setelah waktu melaut atau pertemuan ringan di pinggir dermaga, akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Pendekatan ini mengakui bahwa agama tidak hanya dapat dipelajari di masjid atau ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari yang saling terhubung dengan budaya lokal. Selain itu, penting untuk mencatat bahwa pendekatan sosiokultural dalam pembinaan keagamaan ini juga harus mampu mengakomodasi pluralitas internal dalam komunitas nelayan itu sendiri. Meskipun mayoritas masyarakat di Kelurahan Camba Berua beragama Islam, mereka tetap hidup dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh adat istiadat dan tradisi lokal yang kuat. Oleh karena itu, pembinaan keagamaan tidak dapat sepenuhnya berbentuk instruksi yang tegas, tetapi lebih kepada dialog dan adaptasi budaya. Menggunakan media yang akrab dengan masyarakat, seperti cerita rakyat atau ritual adat yang diintegrasikan dengan nilai-nilai agama, dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap program ini. Interaksi sosial dalam bentuk ini memungkinkan masyarakat untuk lebih mudah menyesuaikan ajaran agama dengan konteks sosial dan budaya mereka, yang pada akhirnya membuat nilai keagamaan lebih mengakar dalam kehidupan mereka(Fikri et al., 2024). Penting untuk menyadari bahwa pembinaan agama dalam konteks masyarakat nelayan juga dapat berperan sebagai jembatan dalam memperkuat kesadaran sosial dan solidaritas antaranggota komunitas. Nilai-nilai keagamaan yang diintegrasikan dengan kegiatan budaya lokal tidak hanya memperkaya spiritualitas individu, tetapi juga meningkatkan kebersamaan dalam komunitas. Dengan cara ini, agama dapat menjadi alat pemberdayaan sosial yang menghubungkan antara keyakinan pribadi dan keharmonisan sosial, memperkuat ikatan antarindividu, serta membantu masyarakat nelayan menghadapi tantangan kehidupan dengan lebih resilien. Pendekatan ini juga membuka peluang untuk menyelaraskan ajaran agama dengan kebutuhan praktis masyarakat, menciptakan hubungan yang lebih harmonis antara spiritualitas dan aktivitas sehari-hari mereka. Peran Modal Sosial dalam Memperkuat Internalisasi Nilai Keagamaan Selain pendekatan yang digunakan, faktor lain yang tidak kalah penting adalah peran modal sosial yang dimiliki oleh komunitas nelayan. Modal sosial, seperti kepercayaan antar-warga, jaringan sosial yang terbentuk antara nelayan, tokoh agama, dan perangkat kelurahan, sangat berpengaruh dalam keberhasilan pembinaan keagamaan. Penelitian yang dilakukan di berbagai komunitas pesisir menunjukkan bahwa norma bersama, saling percaya, dan gotong royong memiliki peran penting dalam memperkuat program-program sosial, termasuk di dalamnya pembinaan keagamaan(Akbar et al., 2023). Misalnya, dalam komunitas nelayan di Sulawesi Selatan, norma sosial yang kuat membantu memperkuat program pembinaan berbasis agama, karena masyarakat sudah saling mengenal dan memiliki kedekatan personal yang tinggi. Dalam konteks Kelurahan Camba Berua, pembinaan keagamaan yang berhasil adalah yang memanfaatkan modal sosial ini. Tokoh agama lokal yang dihormati dan diterima oleh masyarakat memiliki peran yang sangat strategis. Mereka tidak hanya berbicara sebagai figur agama, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang memiliki pengalaman dan pemahaman yang sama tentang kehidupan nelayan. Oleh karena itu, pendekatan simpatik-sugestif yang melibatkan tokoh agama atau pemimpin komunitas dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan menjadi sangat relevan(Utami, 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 2019). Selain itu, kegiatan keagamaan yang diadakan dalam forum-forum sosial informal, seperti arisan nelayan atau pertemuan kelompok kecil, memungkinkan partisipasi yang lebih luas dan aktif dari anggota komunitas. Modal sosial yang kuat tidak hanya meningkatkan keberhasilan pembinaan keagamaan, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat nelayan. Dalam komunitas yang sangat bergantung pada hubungan antar individu untuk kelangsungan hidup sosial dan ekonomi mereka, seperti nelayan, nilai-nilai agama yang disampaikan melalui jaringan sosial akan lebih mudah diterima dan dipraktikkan. Kegiatan keagamaan yang dilakukan dalam konteks sosial ini, misalnya melalui kegiatan gotong royong atau pertemuan mingguan antar warga, memperkuat ikatan sosial sekaligus menginternalisasi nilai-nilai agama. Dalam penelitian ini, terbukti bahwa partisipasi aktif dalam kegiatan sosial menjadi salah satu indikator penting dari keberhasilan program pembinaan keagamaan. Ini menunjukkan bahwa keaktifan sosial dan kepercayaan antar warga dapat memfasilitasi keberhasilan internalisasi nilai agama lebih efektif dibandingkan hanya dengan penyampaian materi agama secara formal. Tantangan Modernisasi dan Perubahan Sosial pada Komunitas Nelayan Namun, tantangan terbesar dalam pembinaan keagamaan di Kelurahan Camba Berua adalah pengaruh modernisasi dan perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat nelayan. Seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup nelayan yang semakin bergantung pada alat-alat modern dan jam kerja yang lebih panjang, tradisi dan ritual keagamaan yang semula menjadi bagian dari budaya nelayan mulai tergerus. Salah satu contoh nyata adalah penurunan partisipasi masyarakat dalam ritual-ritual adat dan keagamaan yang melibatkan waktu bersama komunitas akibat perubahan rutinitas kerja yang semakin padat dan dipengaruhi oleh faktor ekonomi(Putra & Ratmanto, 2019). Begitu pula dengan masyarakat nelayan di Camba Berua, yang mengalami kesulitan untuk mengikutsertakan diri dalam kegiatan keagamaan yang memerlukan waktu khusus. Rutinitas melaut yang semakin lama, serta kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk kegiatan pengajian atau pelatihan agama, menghambat kelangsungan kegiatan keagamaan tersebut. Oleh karena itu, penting untuk menyusun jadwal yang lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi kehidupan nelayan. Misalnya, mengadakan pertemuan pada waktu yang tidak mengganggu jadwal melaut atau menggunakan teknologi untuk menyelenggarakan kegiatan keagamaan secara daring. Perubahan sosial yang disebabkan oleh modernisasi dan pergeseran gaya hidup nelayan turut mempengaruhi efektivitas pendekatan yang diterapkan. Misalnya, penggunaan teknologi baru dalam peralatan melaut dan perubahan pola distribusi hasil laut dapat menciptakan ketergantungan pada waktu yang semakin sempit untuk kegiatan-kegiatan sosial, termasuk keagamaan. Penelitian di beberapa daerah pesisir menunjukkan bahwa semakin modern cara kerja nelayan, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang terjadwal. Oleh karena itu, tantangan terbesar adalah bagaimana mengintegrasikan kegiatan keagamaan dengan jadwal kerja yang padat tanpa menambah beban pada nelayan. Pendekatan yang lebih fleksibel dan menggunakan teknologi dapat menjadi solusi efektif, seperti aplikasi untuk mengingatkan jadwal pengajian atau penggunaan platform online untuk diskusi keagamaan yang dapat diakses kapan saja oleh nelayan yang tidak bisa hadir secara langsung. Implikasi untuk Desain Program Pembinaan Keagamaan Berdasarkan hasil temuan di lapangan dan teori yang telah dibahas, beberapa rekomendasi praktis dapat diambil untuk merancang program pembinaan keagamaan yang lebih efektif. Program ini harus dapat memanfaatkan forum yang sudah ada, seperti pertemuan di rumah warga, kelompok arisan nelayan, atau kegiatan malam yang sering dilakukan di sekitar dermaga. Selain itu, sangat penting untuk melibatkan tokoh agama lokal atau pemimpin komunitas yang dihormati, karena mereka memiliki pengaruh yang lebih besar dalam menggerakkan masyarakat. 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 Pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis pada kegiatan sosial informal, seperti diskusi ringan, cerita kelompok, atau berbagi pengalaman seputar kehidupan nelayan, akan meningkatkan partisipasi dan kedekatan emosional antara masyarakat dan program pembinaan(Abdulloh, 2025). Program juga harus disesuaikan dengan ritme kehidupan nelayan, dengan menyediakan alternatif jadwal atau sesi singkat yang tidak mengganggu rutinitas mereka. Dengan cara ini, pembinaan keagamaan akan lebih mudah diterima dan lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat nelayan. Pendekatan ini akan memberikan ruang bagi mereka untuk menginternalisasi nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan mereka, tanpa merasa tertekan oleh rutinitas yang ada. Dengan demikian, pembinaan keagamaan akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sosial dan budaya mereka, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas spiritual dan sosial komunitas nelayan di Kelurahan Camba Berua. Desain program pembinaan keagamaan harus mempertimbangkan tidak hanya konten keagamaan, tetapi juga faktor-faktor sosial dan kultural yang mempengaruhi gaya hidup masyarakat nelayan. Sebagai contoh, program pembinaan yang berbasis modul interaktif dengan menggunakan media lokal yang relevan seperti video atau cerita pendek bisa menjadi pilihan yang lebih menarik daripada ceramah formal. Program ini juga harus berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga penggerak program. Melibatkan tokoh agama lokal untuk memberikan bimbingan kepada warga agar mereka bisa menjadi fasilitator dalam kelompok-kelompok kecil di tingkat RT atau kelompok nelayan sangat penting untuk memastikan keberlangsungan kegiatan. Dengan desain seperti ini, program pembinaan tidak hanya efektif dalam waktu singkat, tetapi juga berkelanjutan dan memberdayakan masyarakat nelayan untuk terus mengembangkan aktivitas keagamaan mereka. Pembinaan keagamaan di komunitas nelayan Kelurahan Camba Berua memerlukan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kehidupan sosial dan budaya setempat. Melalui pendekatan sosiokultural yang memperhitungkan konteks lokal, pembinaan keagamaan akan lebih relevan dan berkelanjutan. Pendekatan yang fleksibel dan berbasis pada modal sosial komunitas akan memperkuat internalisasi nilai-nilai agama, serta membantu menjaga keterlibatan dan partisipasi masyarakat nelayan dalam kegiatan keagamaan. Program pembinaan yang memanfaatkan jaringan sosial yang ada serta menyesuaikan dengan rutinitas kerja nelayan akan lebih efektif dan berdampak langsung dalam meningkatkan kualitas spiritual dan sosial komunitas tersebut. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembinaan Keagamaan Pelaksanaan program pembinaan keagamaan pada komunitas nelayan Camba Berua terdapat beberapa faktor pendukung diantaranya: adanya dukungan dari unsur pemerintah setempat (Camat, Lurah, Babinsa dan lain-lain), adanya dukungan kebijakan dari Kemenag dengan menempatkan penyuluh agama di Camba Berua, terjalinnya koordinasi yang baik antara pemuka agama dan tokoh masyarakat komunitas nelayan, adanya modul dan paket program yang menjadi panduan dalam pembinaan masyarakat/komunitas nelayan, adanya motivasi yang kuat dari komunitas nelayan untuk mengikuti program pembinaan Sedang faktor penghambat dalam pembinaan keagamaan komunitas nelayan Camba Berua, diantaranya; belum tersedianya sarana dan prasarana yang memadai (hanya terdapat satu buah masjid relatif kecil), tidak adanya pekerjaan tetap yang kadang mengharuskan masyarakat bekerja sampai malam sehingga mengganggu program pembinaan (bagi yang profesi kuli), banyaknya nelayan yang berlayar mencari ikan sampai 2-3 hari di laut, kurangnya media pembelajaran (buku-buku agama) yang membuat program pembinaan berjalan kurang efektif, pada kondisi cuaca hujan lebat dan air laut yang pasang, kondisi jalanan dan pemukiman nelayan sulit dilalui oleh kendaraan. 2023 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Pembinaan Keagamaan Melalui (Muchtar, et., al) | 89-98 SIMPULAN Komunitas nelayan di Kelurahan Camba Berua, Kec. Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulsel didominasi warga dari suku Makassar sendiri yang hidup dan menetap secara turun-temurun. Umumnya pekerjaan utama masyarakat adalah nelayan. Pembinaan keagamaan melalui pendekatan sosiokultural dinilai tepat digunakan pada masyarakat kumuh karena bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek substansial keagamaan. Terdapat dua macam pendekatan sosiokultural yang digunakan dalam pembinaan keagamaan pada komunitas nelayan Camba Berua, yaitu pendekatan komprehensif dan pendekatan simpatik sugestif. Pendekatan komprehensif mengindikasikan bahwa proses internalisasi nilai-nilai agama dalam masyarakat seyogyanya mempertimbangkan nilai-nilai sosial dan budaya masyarakat. Sedang pendekatan simpatik sugestif adalah pengutamaan suasana yang dapat menimbulkan rasa nyaman dan terhindar dari perasaan terancam bagi anggota komunitas. REFERENSI ’Ibaad, I., Triyana, F., & Sukriyanto, R. (2022). Pendekatan Pendidikan Multikultural Sebagai Resolusi Konflik Di Indonesia. EDUSOSHUM: Journal of Islamic Education and Social Humanities, 2(1), 139–149. https://doi.org/10.52366/edusoshum.v2i1.31 Abdin, M., & Tuharea, J. (2023). Pendidikan Multikultural: Membangun Kesatuan Dalam Keanekaragaman. Jurnal Kewarganegaraan, 7(1), 1148–1153. https://journal.upy.ac.id/index.php/pkn/article/view/5219 Abdulloh, M. H. (2025). Pendekatan Inklusif dalam Mengatasi Konflik Budaya Masyarakat Multikultural. Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia, 2(2), 449–452. Akbar, R. A., Fauzan, M., Arsyad, A. A. J., Barki, K., & Alamsyah. (2023). Implementasi Pendekatan Community Empowerment Untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat Melalui Pembangunan Ekonomi Berbasis Potensi Daerah. Journal of Scientech Research and Development, 5(1), 65–76. https://doi.org/10.56670/jsrd.v5i1.95 Astoro, A. B., Suresman, E., & Faqihuddin, A. (2024). Strategi Membangun Literasi Keagamaan Melalui Pendidikan Agama Islam Strategy for Building Religious Literacy Through Islamic Religious Education. Al-Riwayah, 30. Fatimah Sari, H. (2023). Pembinaan Keagamaan: Urgensi dan Dampaknya Terhadap Religiusitas dan Etos Kerja Civitas Akademika IAIN Sorong. Al-Riwayah: Jurnal Kependidikan, 15(02), 188–208. https://e-jurnal.iainsorong.ac.id/index.php/Al-Riwayah Fikri, M., Abbas, Muchtar, M. I., Darlius, & Al-Amin, D. (2024). Emergence of Digital Matrimony: Exploring Islamic Legal Responses to Metaverse Marriages. Journal of Islamic Thought and Civilization, 14(2), 246–262. https://doi.org/10.32350/jitc.142.15 Iriani. (2017). FISHERMAN ACTIVITIES IN THE VILLAGE OF GUSUNG, SUBDISTRICT OF UJUNG TANAH, CITY OF MAKASSAR. WALASUJI Journal, 8(01), 45–55. Ishak, R. A., Wikantari, R., & Amri, N. (2018). Implementasi Perencanaan Ruang Bermain Anak yang Kreatif dan Edukatif di Kelurahan Cambaya Kota Makassar. TEPAT Jurnal Teknologi Terapan Untuk Pengabdian Masyarakat, 1(2), 169–178. Mcleod, S. (2025). Vygotsky’s Theory of Cognitive Development. Simply Psychology. https://doi.org/DOI:10.5281/zenodo.15680745 Mu’in, A. (2018). Educational Leadership Model Towards a Better Education. Fikrotuna, 7(1), 777– 788. https://doi.org/10.32806/jf.v7i1.3177 Muchtar, M. I. (2022). Paradigma Pembinaan Keagamaan melalui Sociocultural Approach pada Masyarakat Kumuh di Kota Makassar. In A. F. Ihsan (Ed.), Prosiding SEMINAR ILMIAH MASJID