Exploring the Author's Worldview on Social Inequality in Lan Fang's Lelakon
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P 185-192 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17596829 *Corresponding Author Email: [email protected] Pandangan Dunia Pengarang Tentang Kesenjangan Sosial Dalam Novel Lelakon Karya Lan Fang Exploring the Author’s Worldview on Social Inequality in Lan Fang’s Lelakon Husnul Hamidah1, Siti Rohmatul Ummah2 Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Bangil A B S T R A C T Penelitian ini bertujuan mengungkap pandangan dunia pengarang dalam novel Lelakon karya Lan Fang menggunakan teori strukturalismegenetik Lucien Goldmann yang memandang karya sastra sebagai ekspresi pandangan dunia kolektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode dialektik strukturalisme-genetik. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi dengan fokus pada struktur novel, lingkungan sosial, dan pandangan dunia pengarang. Penelitian mengungkapkan bahwa Lan Fang mengekspresikan pandangan dunia tentang kesenjangan sosial dalam dua dimensi utama: pertama, kesenjangan ekonomi antara masyarakat kaya (borjuis) dan miskin (proletar); kedua, kesenjangan gender antara dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan. Struktur novel memperlihatkan oposisi kultural antara perumahan elit-pinggiran, majikan-pembantu, dan dongeng-kenyataan yang membingkai tema sentral kesenjangan sosial. Novel Lelakon merepresentasikan pandangan dunia kelas sosial bawah yang mengalami penindasan dari kelas borjuis. Lan Fang, sebagai novelis berdarah Tionghoa di Surabaya, mengekspresikan kritik sosial terhadap hegemoni ekonomi dan patriarki melalui tokoh-tokoh yang mengalami transformasi moral dalam menghadapi realitas sosial yang timpang. A B S T R A C T This study aims to reveal the author's worldview in Lan Fang's novel Lelakon using Lucien Goldmann's geneticstructuralism theory, which views literary works as expressions of collective worldview. This research employs a qualitative approach with genetic-structuralism dialectical method. Data were collected through reading and note-taking techniques, then analyzed using content analysis focusing on novel structure, social environment, and author's worldview. The study reveals that Lan Fang expresses a worldview on social inequality in two main dimensions: first, economic inequality between the wealthy (bourgeoisie) and the poor (proletariat); second, gender inequality between male dominance and female subordination. The novel's structure demonstrates cultural oppositions between elite-marginal housing, employer-servant, and fantasyreality that frame the central theme of social inequality. The novel Lelakon represents the worldview of lower social classes experiencing oppression from the bourgeois class. Lan Fang, as a Chinese-Indonesian novelist in Surabaya, expresses social criticism of economic hegemony and patriarchy through characters who undergo moral transformation in facing unbalanced social reality. PENDAHULUAN Karya sastra tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial yang melingkupinya. Sebagai produk budaya, sastra merekam dan merepresentasikan dinamika masyarakat pada masa tertentu (Wellek & Warren, 1994). Dalam khazanah sastra Indonesia kontemporer, novel Lelakon karya Lan Fang menawarkan perspektif kritis terhadap realitas sosial urban melalui narasi yang kaya metafor dan simbolisme. kajian sosiologi sastra ke dalam tiga tipe: sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra, dan sosiologi pembaca. Penelitian ini mengadopsi pendekatan sosiologi karya sastra yang memusatkan perhatian pada isi karya, aspek tersirat, dan kaitan dengan permasalahan sosial. Pendekatan ini memandang karya sastra sebagai dokumen sosial atau potret kenyataan sosial. Teeuw (1988) menjelaskan hubungan dialektis antara sastra dan A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 24, 2025 Revised 25 Oktober 2025 Accepted 31 Oktober 2025 Available online 12 November. 2025 Keywords pandangan dunia, strukturalismegenetik, Lucien Goldmann, kesenjangan sosial, novel Lelakon Keywords: : worldview, genetic-structuralism, Lucien Goldmann, social inequality, Lelakon novel This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Socius E-ISSN: 3025-6704 realitas: karya sastra lahir dari peneladanan terhadap kenyataan, sekaligus menjadi model kenyataan. Dalam konteks ini, novel Lelakon tidak sekadar meniru realitas sosial, tetapi juga menawarkan kritik dan alternatif terhadap kondisi sosial yang digambarkannya. Penelitian terhadap novel Lelakon menjadi signifikan karena beberapa alasan. Pertama, novel ini menggunakan gaya bahasa metaforis semi-surealisme yang membedakannya dari karya sastra realis konvensional. Kedua, tokoh-tokoh dalam novel ini tidak dikonstruksi secara dikotomis protagonis-antagonis, melainkan sebagai manusia kompleks yang dapat berbuat baik dan jahat bergantung situasi. Ketiga, novel ini mengangkat isu kesenjangan sosial yang relevan dengan konteks Indonesia kontemporer. Lan Fang, sebagai novelis berdarah Tionghoa yang berdomisili di Surabaya, memiliki perspektif unik dalam mengamati dinamika sosial masyarakat urban. Pengalaman hidupnya sebagai minoritas etnis di kota metropolitan besar memberikan sensitivitas khusus terhadap isu-isu kesenjangan dan marginalisasi sosial.Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini merumuskan tiga pertanyaan utama: (1) Bagaimana struktur novel Lelakon karya Lan Fang?; (2) Bagaimana lingkungan sosial masyarakat yang digambarkan dalam novel Lelakon?; (3) Bagaimana pandangan dunia pengarang tentang kesenjangan sosial dalam novel Lelakon? Penelitian ini bertujuan mengungkap pandangan dunia pengarang tentang kesenjangan sosial dalam novel Lelakon melalui analisis strukturalismegenetik. Teori Lucien Goldmann dipilih karena kemampuannya menghubungkan struktur karya sastra dengan struktur sosial masyarakat yang melatarbelakanginya. KAJIAN PUSTAKA Strukturalisme-Genetik Lucien Goldmann Strukturalisme-genetik merupakan pendekatan yang menggabungkan analisis struktural dengan perspektif sosiologis. Goldmann (1977) berpendapat bahwa karya sastra adalah ekspresi pandangan dunia (vision du monde) yang lahir dari kondisi sosial-historis tertentu. Berbeda dengan strukturalisme murni yang mengabaikan konteks, strukturalisme-genetik memandang struktur karya sastra sebagai homolog dengan struktur sosial masyarakatnya. Faruk (2012) menjelaskan bahwa strukturalisme-genetik mengintegrasikan Marxisme dengan teori psikologi struktural Piaget. Pendekatan ini memahami karya sastra sebagai struktur bermakna yang mengekspresikan kebutuhan kelas sosial dan hubungannya dengan lingkungan sekitar. Pandangan dunia bukanlah pandangan individual pengarang, melainkan kecenderungan mental kolektif yang implisit dari kelas sosial tertentu. Konsep Pandangan Dunia Pandangan dunia (worldview) dalam strukturalisme-genetik merujuk pada cara pemahaman dan pengalaman kolektif suatu kelas sosial terhadap lingkungannya (Faruk, 2012). Cara pemahaman ini menjadi pengikat yang mempersatukan anggota kelas sosial dan membedakan mereka dari kelas lain. Pandangan dunia merupakan skema ideologis yang menstrukturisasikan bangunan dunia imajiner dalam karya sastra. Goldmann (1977) menekankan bahwa tidak semua anggota kelas sosial menyadari pandangan dunia mereka. Pengaranglah yang mampu mengekspresikan pandangan dunia kolektif dengan tingkat koherensi tinggi melalui karya sastra. Dengan demikian, karya sastra menjadi medium artikulasi kesadaran kolektif yang tidak terartikulasikan dalam kehidupan sehari-hari. Metodologi Strukturalisme-Genetik Secara metodologis, objek formal strukturalisme-genetik adalah struktur karya sastra yang dipahami sebagai semesta imajiner. Semesta imajiner terbangun dari tokoh-tokoh beserta lingkungan alamiah, kultural, sosial, dan ideologis serta relasi di antara elemen-elemen tersebut
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Husnul Hamidah, et., al/ Pandangan Dunia Pengarang (Faruk, 2012). Analisis strukturalisme-genetik dilakukan melalui tiga tahap: (1) analisis struktur internal karya sastra; (2) pengungkapan pandangan dunia yang terekspresi dalam struktur tersebut; (3) penghubungan pandangan dunia dengan kondisi sosial-historis yang melatarbelakanginya. Metode dialektik digunakan untuk mengungkap kontradiksi dan transformasi dalam struktur karya. Kesenjangan Sosial dalam Sastra Indonesia Tema kesenjangan sosial telah menjadi bagian penting dalam tradisi sastra Indonesia modern. Sejak era Balai Pustaka hingga kontemporer, pengarang Indonesia mengangkat isu ketimpangan ekonomi, stratifikasi sosial, dan konflik kelas (Damono, 1978). Novel-novel seperti Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer), Ronggeng Dukuh Paruk (Ahmad Tohari), dan Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan) merepresentasikan pergulatan kelas sosial bawah dalam menghadapi dominasi kelas atas. Dalam konteks sastra Indonesia kontemporer, kesenjangan sosial tidak hanya dimaknai dalam dimensi ekonomi, tetapi juga gender, etnis, dan budaya. Lan Fang, melalui karya-karyanya, konsisten mengangkat isu subordinasi perempuan dan marginalisasi sosial dengan gaya naratif yang khas. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data primer adalah novel Lelakon karya Lan Fang yang diterbitkan tahun 2012. Data sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan sumber relevan lainnya yang mendukung analisis. Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat (close reading). Peneliti membaca novel secara menyeluruh dan berulang untuk mengidentifikasi elemen-elemen struktur naratif, tokoh dan penokohan, latar sosial, serta tema. Kutipan-kutipan penting dicatat dan dikategorisasi berdasarkan relevansinya dengan tujuan penelitian. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan melalui tahapan berikut: 1. Analisis Struktural: Mengidentifikasi struktur internal novel meliputi tokoh, latar, alur, dan tema. Analisis ini mengungkap semesta imajiner yang terbangun dalam novel. 2. Analisis Dialektik: Mengidentifikasi oposisi-oposisi biner dalam struktur novel (kayamiskin, laki-laki-perempuan, borjuis-proletar) dan dinamika kontradiksi di antara oposisi tersebut. 3. Interpretasi Pandangan Dunia: Menghubungkan struktur novel dengan pandangan dunia pengarang tentang kesenjangan sosial. Interpretasi dilakukan dengan mempertimbangkan konteks sosial-historis Lan Fang sebagai novelis Tionghoa di Surabaya. 4. Triangulasi: Membandingkan temuan dengan penelitian sejenis dan teori strukturalisme-genetik untuk memastikan validitas interpretasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Novel Lelakon Tokoh dan Penokohan Novel Lelakon menampilkan tokoh-tokoh dengan nama-nama alegoris yang mencerminkan karakter mereka: Mon (perempuan berhutang mantan penjaga kasino), Buang (lelaki agresif), Ratu Demit (istri mengerikan), Fantasi (perempuan terperangkap dalam bola kristal), Marbuat (lelaki lemah), Tongki (penipu profesional), Bulan (perempuan kaya yang bosan), Angin Puyuh (lelaki malas), dan lain-lain. Tokoh-tokoh ini tidak dikonstruksi secara
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Socius E-ISSN: 3025-6704 hitam-putih protagonis-antagonis. Mereka adalah manusia kompleks yang dapat berbuat baik dan jahat bergantung situasi. Konstruksi penokohan ini sejalan dengan filosofi judul novel: lelakon (lakon/peran) mengimplikasikan bahwa setiap manusia memilih peran hidupnya sendiri, dan peran tersebut dapat berubah sesuai konteks. Karakteristik penting dari tokoh-tokoh adalah ketidaksempurnaan mereka. Lan Fang bahkan menggunakan tokoh-tokoh pewayangan (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) untuk dipermalukan dengan mengungkap kelemahan seksual mereka. Dekonstruksi tokoh perkasa pewayangan ini merupakan strategi naratif untuk menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, termasuk mereka yang dianggap heroik dalam mitologi. Latar Sosial Latar sosial novel terbagi menjadi dua ruang kontras: perumahan elit dan perkampungan pinggiran. Kontras spasial ini merepresentasikan stratifikasi sosial dan kesenjangan ekonomi. Mon, tokoh sentral, tinggal di rumah kontrakan kumuh yang berbatasan dengan perumahan mewah. Tembok pemisah menjadi simbol barrier sosial antara kelas atas dan bawah. Deskripsi kehidupan di perumahan elit mencerminkan kemewahan borjuis urban: "...mereka keluar masuk pintu gerbang dengan mobil mewah melalui sistem one way gate yang dijaga satpam selama dua puluh empat jam nonstop. Bahkan Mon melihat anak-anak mereka yang masih berusia empat tahun dan masih duduk di playgroup, sudah diantar sopir dengan mobil mewah dan ditemani pengasuh yang membawa tas dan botol minumannya." (Fang, 2012:35) Sementara kehidupan Mon digambarkan penuh kesulitan ekonomi: "...ia jadi teringat kantongnya sendiri yang hanya memiliki uang untuk makan esok hari. Padahal pembayaran cicilan rumah sudah menunggak tiga bulan. Minggu depan memasuki bulan keempat." (Fang, 2012:34) Kontras ini mengungkapkan realitas kesenjangan yang mencolok dalam masyarakat urban Indonesia kontemporer. Tema dan Struktur Naratif Tema sentral novel adalah kesenjangan sosial dan ketidaksempurnaan manusia. Tema ini dikembangkan melalui berbagai sub-tema: kemiskinan dan hutang, ambisi menjadi kaya, penipuan dan parasitisme, konflik gender, dan pencarian identitas. Struktur naratif novel bersifat episodik dengan berbagai cerita tokoh yang kemudian bertemu dan saling bersilangan. Teknik naratif ini mencerminkan kompleksitas kehidupan sosial di mana nasib individu saling terkait dalam jaringan relasi sosial-ekonomi. Oposisi dalam Struktur Novel Analisis dialektik mengungkap berbagai oposisi biner yang membentuk struktur novel: Oposisi Kultural 1. Dongeng vs. kenyataan 2. Perumahan elit vs. perkampungan pinggiran 3. Ibu rumah tangga vs. perempuan pekerja 4. Majikan vs. pembantu Oposisi-oposisi ini dibingkai oleh oposisi fundamental: masyarakat kaya vs. masyarakat miskin. Oposisi Tokoh 1. Bulan (kaya, bosan) vs. Angin Puyuh (malas, parasit) 2. Mon (miskin, berjuang) vs. Bulan (kaya, jenuh) 3. Mon (pekerja) vs. Pak Lolok (penjudi kaya) 4. Untung (penagih hutang) vs. Tongki (penipu)
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Husnul Hamidah, et., al/ Pandangan Dunia Pengarang 5. Perempuan vs. laki-laki Narator berposisi di tengah sebagai pengamat serba tahu yang menyaksikan dinamika oposisi-oposisi tersebut. Lingkungan Sosial dalam Novel Lelakon Stratifikasi Sosial Novel menggambarkan masyarakat yang terstratifikasi tajam. Di puncak hierarki adalah kelas borjuis (Pak Lolok, Bulan, penghuni perumahan elit) yang memiliki kekuasaan ekonomi. Di bawah adalah kelas proletar (Mon, Marbuat, Fantasi) yang berjuang mempertahankan hidup. Kekayaan Pak Lolok digambarkan hiperbolis: "Memang pak Lolok kaya raya. Pak Lolok bahkan lebih kaya daripada Tuan Tumini. Mon tahu berapa ratus juta yang dihamburkan Pak Lolok diatas meja judi. Berapapun uangnya habis, kantongnya tidak pernah kering." (Fang, 2012:49) Kontras dengan kondisi Mon yang harus kehilangan televisi karena gagal membayar hutang. Stratifikasi ini bukan hanya perbedaan kuantitatif kekayaan, tetapi juga perbedaan kualitatif dalam akses terhadap sumber daya, kekuasaan, dan martabat sosial. Relasi Kelas Sosial Relasi antarkelas ditandai oleh eksploitasi dan subordinasi. Tokoh Untung, sebagai penagih hutang, menjadi agen eksploitasi kelas atas terhadap kelas bawah. Sistem hutang rentenir menjerat Mon dalam siklus kemiskinan yang sulit diputus. Namun, novel juga menggambarkan kompleksitas relasi kelas. Tokoh Tongki, meskipun dari kelas bawah, berhasil memperkaya diri melalui penipuan dan manipulasi. Ini menunjukkan bahwa kesenjangan sosial tidak hanya ditentukan oleh struktur ekonomi, tetapi juga oleh agensi individual dan moral. Kesenjangan Gender Selain kesenjangan kelas, novel mengangkat isu kesenjangan gender. Tokoh laki-laki dalam novel cenderung digambarkan negatif: Angin Puyuh yang malas, Tongki yang penipu, Marbuat yang lemah, Buang yang agresif. Gambaran ini merupakan kritik terhadap maskulinitas toxic dalam masyarakat patriarkal. Sebaliknya, tokoh perempuan meskipun mengalami subordinasi, menunjukkan ketahanan dan agensi. Mon, meski miskin dan berhutang, terus berjuang dan mengalami transformasi moral. Fantasi menemukan ketimpangan di luar bola kristalnya dan mengembangkan kesadaran kritis. Pandangan Dunia Pengarang tentang Kesenjangan Sosial Kesenjangan Ekonomi: Kritik terhadap Kapitalisme Urban Lan Fang mengekspresikan pandangan dunia kelas sosial bawah yang mengalami penindasan struktural dalam masyarakat kapitalis urban. Kesenjangan ekonomi tidak digambarkan sebagai takdir alamiah, melainkan hasil dari sistem sosial-ekonomi yang timpang. Novel mengungkap mekanisme eksploitasi: sistem hutang rentenir, penyitaan aset, ketiadaan jaring pengaman sosial. Mon terjerat dalam siklus hutang yang membuatnya semakin miskin. Sementara kelas atas (Pak Lolok, Bulan) menikmati kemewahan tanpa bekerja keras. Kutipan berikut menggambarkan kesadaran akan ketimpangan: "Fantasi menemukan banyak yang timpang di luar bola kristal... Tentang si kaya dan si miskin, si cantik dan si jelek, si tua dan si muda... Tetapi begitulah semua diciptakan berpasangan dengan adil untuk saling melengkapi seperti adanya siang untuk malam, gelap untuk terang, putih untuk hitam." (Fang, 2012:157)
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Socius E-ISSN: 3025-6704 Ironi dalam kutipan ini tajam: ketimpangan digambarkan sebagai "pasangan yang adil" padahal realitasnya sangat tidak adil. Ini merupakan kritik terhadap ideologi yang menormalisasi kesenjangan sebagai kewajaran. Transformasi Moral: Penolakan terhadap Nilai Materialistis Bagian paling signifikan dalam novel adalah kisah Mon berguru kepada Tongki. Tongki mengajarkan cara menjadi kaya melalui penipuan dan parasitisme: bersikap diam agar orang lain membayar, meminta tanpa malu, memanfaatkan orang lain. Namun, Mon mengalami transformasi moral. Ketika mencoba menerapkan ajaran Tongki, ia menemukan bahwa nilai-nilai tersebut bertentangan dengan hati nuraninya: "Kenapa harus meminta bila bisa memberi? Bukankah lebih terhormat memberi daripada meminta? Dan ketika ia memberi, matanya melihat bahwa orang-orang tersenyum kepadanya... Selain itu ternyata dengan memberi ia tidak menjadi kekurangan malah menjadi kelimpahan." (Fang, 2012:180-181) Transformasi Mon merepresentasikan pandangan dunia pengarang: penolakan terhadap nilai-nilai materialistis dan kompetitif kapitalisme, dan afirmasi terhadap nilai-nilai komunal dan altruistik. Kebahagiaan sejati bukan dari akumulasi kekayaan, melainkan dari berbagi dan solidaritas. Pandangan ini mencerminkan kesadaran kolektif kelas sosial bawah yang mengutamakan gotong royong dan solidaritas sebagai strategi bertahan hidup. Dalam kondisi kemiskinan struktural, berbagi menjadi etika survival yang lebih efektif daripada kompetisi individualistis. Kesenjangan Gender: Kritik terhadap Patriarki Lan Fang secara konsisten mengkritik maskulinitas toxic dalam karya-karyanya. Dalam Lelakon, tokoh laki-laki digambarkan sebagai "brengsek dan pecundang": Angin Puyuh yang maunya dilayani, Tongki yang penipu, Marbuat yang lemah, Buang yang agresif. Lebih radikal lagi, Lan Fang mendekonstruksi tokoh heroik pewayangan dengan mengungkap kelemahan seksual mereka: Yudistira impoten, Bima ejakulasi dini, Arjuna menderita raja singa, Nakula dan Sadewa gay. Dekonstruksi ini merupakan kritik terhadap mitos kejantanan dan heroisme maskulin yang mendominasi narasi budaya Jawa. Pandangan dunia ini mencerminkan posisi Lan Fang sebagai perempuan pengarang dalam masyarakat patriarkal. Melalui karya sastra, ia mengekspresikan kritik terhadap dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan yang dialami oleh kelas sosialnya. Ambiguitas dan Kompleksitas Moral Berbeda dengan sastra realis sosialis yang cenderung dikotomis (penindas vs. tertindas, baik vs. jahat), Lelakon menampilkan kompleksitas moral. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya baik atau jahat. Setiap tokoh memiliki motivasi, kelemahan, dan kontradiksi. Mon, meski menjadi korban eksploitasi, juga pernah bekerja di kasino (simbol industri eksploitatif). Buang, meski agresif, juga mengalami trauma dan kekerasan. Ratu Demit, meski mengerikan, berbohong untuk melindungi suaminya dari rentenir. Ambiguitas ini merepresentasikan pandangan dunia yang menolak penyederhanaan moral. Kesenjangan sosial bukan semata-mata hasil dari kejahatan individual, melainkan produk sistem sosial yang kompleks. Setiap individu adalah korban sekaligus agen dalam sistem tersebut. Homologi Struktur: Novel dan Realitas Sosial Struktur novel Lelakon homolog dengan struktur sosial masyarakat urban Indonesia kontemporer. Oposisi kaya-miskin dalam novel merepresentasikan stratifikasi sosial-ekonomi dalam realitas. Tokoh-tokoh yang saling bersilangan nasibnya merepresentasikan jaringan relasi sosial-ekonomi yang kompleks.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Husnul Hamidah, et., al/ Pandangan Dunia Pengarang Penggunaan nama-nama alegoris (Mon, Buang, Ratu Demit, dll.) menciptakan efek estetis semi-surealisme: tokoh-tokoh ini "seperti dongeng yang nyata, nyata tetapi seperti dongeng." Efek ini mencerminkan pengalaman kelas sosial bawah yang realitas hidupnya terasa absurd dan surreal karena kesenjangan yang ekstrem. Sebagai novelis Tionghoa di Surabaya, Lan Fang memiliki posisi ganda: bagian dari minoritas etnis namun secara ekonomis mungkin lebih baik dari kelas proletar pribumi. Posisi liminal ini memberikan perspektif unik dalam mengamati kesenjangan sosial. Ia dapat berempati dengan kelas bawah namun juga mengamati dengan jarak kritis. Pandangan dunia yang terekspresi dalam Lelakon adalah pandangan dunia kelas menengah urban yang sadar akan ketimpangan sosial dan bersimpati kepada kelas bawah, namun tidak terlibat langsung dalam perjuangan kelas. Kritik sosial disuarakan melalui medium estetis (sastra) bukan aksi politik langsung. SIMPULAN Penelitian ini mengungkap pandangan dunia pengarang tentang kesenjangan sosial dalam novel Lelakon karya Lan Fang melalui analisis strukturalisme-genetik. Temuan utama penelitian adalah: Pertama, struktur novel Lelakon terbangun dari oposisi-oposisi biner: kayamiskin, borjuis-proletar, laki-laki-perempuan, dongeng-kenyataan, perumahan elit-pinggiran. Oposisi-oposisi ini membentuk semesta imajiner yang merepresentasikan stratifikasi dan kesenjangan dalam masyarakat urban. Kedua, lingkungan sosial dalam novel menggambarkan masyarakat yang terstratifikasi tajam dengan relasi eksploitatif antara kelas atas dan bawah. Mekanisme eksploitasi beroperasi melalui sistem hutang rentenir, ketimpangan akses terhadap sumber daya, dan subordinasi gender. Ketiga, pandangan dunia pengarang mengekspresikan kritik terhadap kesenjangan sosial dalam dua dimensi: kesenjangan ekonomi (kapitalisme eksploitatif) dan kesenjangan gender (patriarki). Namun, kritik ini tidak bersifat dikotomis melainkan mengakui kompleksitas dan ambiguitas moral dalam realitas sosial. Keempat, transformasi moral tokoh Mon merepresentasikan afirmasi terhadap nilai-nilai komunal dan altruistik sebagai alternatif terhadap nilai materialistis dan kompetitif. SARAN Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi beberapa aspek: (1) perbandingan pandangan dunia Lan Fang dalam berbagai karyanya untuk memetakan konsistensi dan perkembangan pemikirannya; (2) resepsi pembaca terhadap Lelakon untuk memahami bagaimana pandangan dunia pengarang diterima atau ditolak oleh pembaca dari kelas sosial berbeda; (3) analisis intertekstual antara Lelakon dengan karya-karya sastra Indonesia kontemporer lain yang mengangkat tema kesenjangan sosial. Bagi praktisi sastra, penelitian ini menunjukkan pentingnya perspektif sosiologis dalam memahami karya sastra. Kritikus dan pengajar sastra perlu mempertimbangkan konteks sosialhistoris dalam menginterpretasi dan mengapresiasi karya sastra. REFERENSI Damono, S. D. (1978). Sosiologi sastra: Sebuah pengantar ringkas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fang, L. (2012). Lelakon. Yogyakarta: Bentang Pustaka. Faruk. (2012). Metode penelitian sastra: Sebuah penjelajahan awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Goldmann, L. (1977). Towards a sociology of the novel. New York: Routledge, Chapman & Hall, Incorporated.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 185-192 Socius E-ISSN: 3025-6704 Teeuw, A. (1988). Sastra dan ilmu sastra: Pengantar teori sastra. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya. Wellek, R., & Warren, A. (1994). Teori kesusastraan (Terjemahan Melani Budianta). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Zulfahnur, Z. F., Sayuti, S. A., & Effendi, S. (1996). Teori sastra. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.