Implementing Active Learning Strategies to Reduce Learning Fatigue and Enhance Student Engagement in Akidah Akhlak Instruction at MAN Purwakarta
Full text
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 4, Oktober 2025, P. 103-111 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17614559 Penerapan Strategi Active Learning untuk Mengatasi Kejenuhan dan Meningkatkan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Akidah Akhlak di MAN Purwakarta Implementing Active Learning Strategies to Reduce Learning Fatigue and Enhance Student Engagement in Akidah Akhlak Instruction at MAN Purwakarta Enan Kusnandar1, Elma Muslimah2 1,2STAI Dr.KHEZ Muttaqien Email: Enanku[email protected], Elmam[email protected]m Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik melalui penerapan strategi Active Learning pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam di kelas XI Medis MAN Purwakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan selama kegiatan Praktik Profesi Lapangan (PPL) semester ganjil tahun pelajaran 2025/2026. Prosedur penelitian mengikuti model Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahap: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kuantitatif sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi Active Learning dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik secara signifikan. Siswa menjadi lebih berani mengemukakan pendapat, aktif berdiskusi, dan antusias mengikuti pembelajaran meskipun berada pada jam pelajaran terakhir. Pembelajaran yang semula pasif dan monoton berubah menjadi lebih hidup, komunikatif, dan menyenangkan. Selain itu, strategi Active Learning juga menurunkan kejenuhan belajar, memperkuat kerja sama antar siswa, serta meningkatkan profesionalisme guru dalam mengelola pembelajaran. Dengan demikian, strategi Active Learning efektif diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak karena mampu menumbuhkan partisipasi aktif, berpikir kritis, dan sikap religius peserta didik. Kata kunci: Active Learning, Keaktifan Belajar, Akidah Akhlak, Ilmu Kalam, MAN Purwakarta Abstract This study aims to improve students’ learning activeness through the implementation of the Active Learning strategy in the Islamic Creed and Ethics subject, specifically on the topic of Schools of Islamic Theology (Ilmu Kalam), among grade XI Medical Science students at MAN Purwakarta. The research employed a Classroom Action Research (CAR) approach conducted during the Teaching Practice Program (PPL) in the first semester of the 2025/2026 academic year. The procedure followed the Kemmis and McTaggart model consisting of four stages: planning, action, observation, and reflection. Data were collected through observation, interviews, tests, and documentation, and analyzed using descriptive qualitative and simple quantitative techniques. The results indicated that the application of the Active Learning strategy significantly enhanced students’ learning participation. Students became more confident in expressing opinions, engaged actively in discussions, and maintained enthusiasm even during the final class hours. The learning atmosphere transformed from passive and monotonous into an active, communicative, and enjoyable environment. Furthermore, the strategy reduced learning boredom, strengthened peer collaboration, and improved teachers’ professionalism in classroom management. Therefore, the Active Learning strategy is effective in Islamic Creed and Ethics learning as it fosters active participation, critical thinking, and religious values among students. Keywords: Active Learning, Learning Activeness, Islamic Creed and Ethics, Ilmu Kalam, MAN Purwakarta Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 27 Oktober 2025 Accepted date: 12 November 2025 PENDAHULUAN Pendidikan agama Islam memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian dan karakter peserta didik agar berlandaskan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Melalui pembelajaran Akidah Akhlak, siswa diharapkan tidak hanya memahami ajaran Islam secara teoritis, tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Nata (2016), tujuan utama
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 pendidikan agama adalah membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah. Namun, dalam praktik di lapangan, pembelajaran Akidah Akhlak sering kali mengalami kendala karena dianggap monoton dan membosankan. Hal ini terutama terjadi ketika guru masih menggunakan metode ceramah konvensional yang membuat siswa pasif dan kurang antusias mengikuti pelajaran. Fenomena kejenuhan belajar sering muncul dalam konteks pembelajaran yang tidak melibatkan siswa secara aktif. Suryabrata (2012) menjelaskan bahwa kejenuhan belajar merupakan kondisi psikologis di mana siswa kehilangan motivasi dan minat terhadap kegiatan belajar akibat proses pembelajaran yang kurang variatif. Dalam kondisi seperti ini, siswa cenderung mengantuk, tidak fokus, dan kurang terlibat dalam interaksi kelas. Hal tersebut juga terjadi di kelas XI Medis MAN Purwakarta, terutama pada jam belajar siang hari (pukul 14.00–15.00), ketika tingkat konsentrasi siswa menurun karena kelelahan fisik dan mental setelah mengikuti pelajaran sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya inovasi dalam pembelajaran agar siswa tetap termotivasi dan aktif. Salah satu pendekatan yang relevan adalah strategi Active Learning. Menurut Bonwell dan Eison (1991), Active Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menuntut siswa untuk melakukan aktivitas belajar yang bermakna seperti berdiskusi, bertanya, mengamati, menalar, dan memecahkan masalah. Pendekatan ini menekankan keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran sehingga mereka tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi turut membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar yang interaktif. Penerapan Active Learning sejalan dengan pandangan Piaget (dalam Slavin, 2011) yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat sekadar dipindahkan dari guru ke siswa, melainkan harus dikonstruksi sendiri oleh siswa melalui interaksi dengan lingkungan belajar. Dengan kata lain, siswa menjadi subjek aktif yang mengembangkan pengetahuan melalui eksplorasi dan refleksi. Prinsip ini sangat sesuai diterapkan dalam pembelajaran Akidah Akhlak, di mana penguasaan materi tidak cukup hanya dengan mendengar penjelasan, tetapi harus dipahami, direnungkan, dan diinternalisasi. Dalam konteks materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam, pembelajaran aktif dapat memberikan ruang bagi siswa untuk memahami berbagai aliran teologis Islam dengan cara yang lebih kritis dan kontekstual. Misalnya, siswa dapat diajak untuk melakukan diskusi kelompok, debat akademik ringan, atau permainan peran (role play) yang melibatkan perbandingan pandangan antaraliran. Menurut Silberman (2006), kegiatan semacam itu membantu siswa mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata, menumbuhkan rasa ingin tahu, serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Dengan demikian, pembelajaran Akidah Akhlak tidak hanya menjadi transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap dan nilai. Selain meningkatkan pemahaman, strategi Active Learning juga berkontribusi terhadap peningkatan motivasi belajar. Menurut Sardiman (2014), motivasi belajar yang tinggi muncul ketika siswa merasa terlibat dan memiliki peran penting dalam pembelajaran. Ketika mereka berpartisipasi aktif, mereka akan merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Hal ini dapat mengurangi kejenuhan sekaligus meningkatkan semangat belajar, terutama pada jam-jam kritis seperti siang hari. Dengan demikian, Active Learning tidak hanya efektif dalam konteks kognitif, tetapi juga afektif dan sosial. Namun, keberhasilan penerapan Active Learning tentu membutuhkan kesiapan guru dan siswa. Guru perlu memiliki kreativitas dalam merancang aktivitas yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan kondisi kelas. Sementara itu, siswa perlu dibiasakan untuk aktif, berani mengemukakan pendapat, dan bekerja sama dalam kelompok. Menurut Sanjaya (2013), keberhasilan pembelajaran aktif sangat bergantung pada kemampuan guru menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, terbuka, dan menghargai perbedaan. Oleh karena itu, guru Akidah Akhlak perlu berperan sebagai fasilitator, motivator, sekaligus pembimbing yang mampu menumbuhkan semangat belajar siswa.
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 Berdasarkan uraian tersebut, penulis memandang pentingnya melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk mengkaji efektivitas penerapan strategi Active Learning dalam mengatasi kejenuhan dan meningkatkan keaktifan siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam di kelas XI Medis MAN Purwakarta. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat ditemukan model pembelajaran yang lebih inovatif, partisipatif, dan menyenangkan sehingga tujuan pembelajaran Akidah Akhlak dapat tercapai secara optimal. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi guru lain dalam mengembangkan strategi pembelajaran aktif yang sesuai dengan konteks dan karakteristik peserta didik di madrasah. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) (Classroom Action Research). Menurut Suharsimi Arikunto (2019:3), penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari praktik-praktik pendidikan yang dilakukan, serta memperdalam pemahaman terhadap praktik-praktik tersebut. Sementara itu, Kemmis dan McTaggart (1988) menjelaskan bahwa PTK adalah suatu kegiatan penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Dengan demikian, metode ini menekankan keterlibatan langsung guru atau peneliti dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung, bukan hanya sebagai pengamat tetapi juga sebagai pelaku utama perubahan. Penelitian ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan Praktik Profesi Lapangan (PPL), di mana peneliti berperan sebagai guru yang terjun langsung dalam proses pembelajaran di kelas. Melalui keterlibatan langsung tersebut, peneliti memiliki kesempatan untuk mengidentifikasi permasalahan nyata yang terjadi selama kegiatan belajar mengajar, seperti rendahnya partisipasi siswa, kejenuhan belajar, serta kurangnya variasi metode pengajaran. Melalui pendekatan PTK, peneliti dapat merancang tindakan yang relevan untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan menerapkan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centred learning), khususnya pendekatan Active Learning. Keterlibatan langsung ini menjadikan penelitian lebih autentik dan kontekstual, karena data yang diperoleh bersumber dari pengalaman empiris selama proses pembelajaran berlangsung. Selain itu, penelitian tindakan kelas bersifat siklis dan berulang, yang berarti setiap tindakan pembelajaran akan diikuti dengan tahap refleksi untuk menilai efektivitasnya. Refleksi ini menjadi dasar untuk merancang tindakan berikutnya agar pembelajaran dapat terus ditingkatkan secara berkesinambungan. Melalui penerapan metode ini, peneliti tidak hanya mengumpulkan data untuk keperluan akademik, tetapi juga berkontribusi langsung dalam peningkatan mutu pembelajaran Akidah Akhlak di MAN Purwakarta. Dengan demikian, PTK bukan sekadar metode penelitian, tetapi juga merupakan sarana pengembangan profesional bagi calon pendidik agar mampu berpikir kritis, reflektif, dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hakikat Strategi Active Learning Strategi Active Learning atau pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar. Pendekatan ini berorientasi pada keterlibatan siswa secara penuh dalam proses berpikir, berdiskusi, dan menemukan pengetahuan. Menurut Huda (2016), pembelajaran aktif adalah strategi yang menuntut siswa untuk berperan aktif dalam membangun pemahaman melalui aktivitas yang menantang, menarik, dan relevan dengan kehidupan nyata. Guru dalam hal ini berperan sebagai fasilitator yang membimbing jalannya proses belajar, bukan sebagai satu-satunya sumber informasi. Dengan demikian, pembelajaran aktif menekankan pentingnya
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 partisipasi siswa baik secara fisik maupun mental agar tercipta suasana kelas yang dinamis dan bermakna. Pendekatan Active Learning sejalan dengan paradigma pendidikan modern yang menempatkan siswa sebagai subjek, bukan objek pembelajaran. Sani (2019) menyatakan bahwa Active Learning merupakan penerapan konkret dari konsep student-centered learning, di mana proses belajar tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pada siswa sebagai individu yang memiliki pengalaman, kebutuhan, dan gaya belajar yang berbeda. Dalam pembelajaran aktif, siswa didorong untuk berpartisipasi melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, eksperimen, simulasi, presentasi, maupun kerja kelompok. Proses ini membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama — kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Lebih lanjut, pembelajaran aktif juga memiliki relevansi dengan prinsip pendidikan karakter. Musfiqon dan Nurdyansyah (2017) menegaskan bahwa pembelajaran aktif tidak hanya berorientasi pada hasil kognitif, tetapi juga berfungsi membentuk karakter seperti tanggung jawab, disiplin, dan rasa percaya diri. Melalui aktivitas yang melibatkan interaksi dan refleksi, siswa belajar untuk menghargai pendapat orang lain, berani mengemukakan ide, dan bekerja sama secara etis. Oleh karena itu, strategi Active Learning tidak hanya berperan dalam meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga dalam membangun kepribadian peserta didik yang berkarakter dan berakhlak mulia. Dari perspektif pendidikan Islam, penerapan Active Learning memiliki nilai penting karena sesuai dengan prinsip ta’lim (transfer ilmu) dan tarbiyah (pembinaan diri). Syah (2020) menjelaskan bahwa proses belajar dalam Islam harus mendorong peserta didik untuk berpikir aktif dan kritis terhadap fenomena kehidupan agar dapat mengaitkannya dengan nilai-nilai keimanan. Dengan demikian, pembelajaran Akidah Akhlak yang menggunakan pendekatan aktif membantu siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai keagamaan melalui pengalaman langsung. Pembelajaran yang aktif memungkinkan terjadinya dialog, perenungan, dan refleksi, yang pada akhirnya menumbuhkan kesadaran spiritual sekaligus kecerdasan sosial. Selain itu, pembelajaran aktif merupakan sarana efektif untuk mengatasi kejenuhan belajar yang sering muncul akibat metode ceramah konvensional. Mulyasa (2021) menekankan bahwa siswa akan mudah bosan jika proses belajar bersifat satu arah, monoton, dan tidak memberi ruang bagi mereka untuk berekspresi. Melalui Active Learning, siswa terlibat secara emosional dan intelektual sehingga suasana belajar menjadi lebih hidup. Guru dapat menggunakan berbagai model seperti Think Pair Share, Gallery Walk, Role Play, atau Problem Based Learning untuk menumbuhkan semangat belajar dan rasa ingin tahu. Dengan demikian, strategi Active Learning tidak hanya meningkatkan keaktifan siswa, tetapi juga membangun iklim pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, dan sesuai dengan semangat Merdeka Belajar yang dicanangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pembelajaran Akidah Akhlak pada Materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam Pembelajaran Akidah Akhlak merupakan salah satu komponen penting dalam pendidikan agama Islam di madrasah yang berfungsi untuk membentuk keimanan yang kuat, moral yang mulia, dan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Menurut Nata (2018), tujuan utama pembelajaran Akidah Akhlak adalah menanamkan keimanan yang benar kepada Allah SWT sekaligus menumbuhkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pembelajaran Akidah Akhlak tidak cukup hanya berorientasi pada aspek pengetahuan, tetapi harus menyentuh aspek afektif dan psikomotorik agar peserta didik mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai keimanan dalam perilaku nyata. Dalam konteks pendidikan di madrasah, guru Akidah Akhlak memiliki peran ganda, yakni sebagai pengajar dan pembimbing moral. Menurut Daradjat (2019), keberhasilan pendidikan agama sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam menciptakan suasana belajar yang hidup dan
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 menyentuh hati siswa. Oleh sebab itu, guru harus mampu memilih metode pembelajaran yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual dan sosial. Di sinilah pentingnya penggunaan strategi pembelajaran yang aktif, partisipatif, dan kontekstual agar pembelajaran Akidah Akhlak tidak monoton dan membosankan. Salah satu materi yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan reflektif adalah Aliran-Aliran Ilmu Kalam. Materi ini membahas berbagai pandangan teologis dalam Islam, seperti pandangan kelompok Jabariyah, Qadariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Menurut Syaifuddin (2021), Ilmu Kalam merupakan kajian yang membahas pokok-pokok keimanan Islam dengan pendekatan rasional dan filosofis. Materi ini memerlukan pemahaman mendalam, kemampuan menganalisis argumentasi, serta keterampilan membandingkan berbagai pandangan teologis yang muncul sepanjang sejarah Islam. Karena sifatnya yang abstrak dan konseptual, pembelajaran Ilmu Kalam sering kali dianggap sulit oleh peserta didik apabila disampaikan hanya melalui metode ceramah. Berdasarkan hasil observasi dan refleksi selama pelaksanaan PPL di MAN Purwakarta, ditemukan bahwa sebagian besar siswa kelas XI Medis mengalami kesulitan memahami materi ini karena metode pengajaran yang digunakan masih berpusat pada guru. Siswa cenderung pasif, hanya mendengarkan tanpa banyak berinteraksi. Hal ini mengakibatkan menurunnya minat belajar, terutama pada jam pelajaran terakhir. Menurut Sanjaya (2020), pembelajaran yang didominasi oleh guru membuat siswa tidak memiliki ruang untuk berpikir dan berpartisipasi, sehingga keaktifan dan daya kritis mereka tidak berkembang. Oleh karena itu, dibutuhkan model pembelajaran yang mampu menghidupkan kelas dan melibatkan siswa secara aktif, seperti melalui strategi Active Learning. Untuk memperkuat kualitas pembelajaran Akidah Akhlak pada materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam, perlu diterapkan pendekatan yang mampu menghubungkan pengetahuan teoretis dengan pengalaman belajar yang nyata. Beberapa strategi pembelajaran aktif yang efektif digunakan dalam konteks ini antara lain: 1. Diskusi kelompok terarah, di mana siswa diberi topik aliran tertentu untuk dianalisis berdasarkan dalil dan argumentasi rasionalnya, kemudian mempresentasikan hasilnya di depan kelas. 2. Debat akademik Islami, yang melatih siswa untuk berargumentasi secara logis namun tetap beretika, sesuai dengan adab berdiskusi dalam Islam. 3. Simulasi dan peran tokoh (role play), misalnya dengan memerankan tokoh-tokoh dari berbagai aliran untuk memahami cara berpikir mereka secara kontekstual. 4. Studi kasus dan refleksi nilai, dengan mengaitkan isu-isu kontemporer seperti kebebasan berpendapat, takdir, dan keadilan Tuhan dalam sudut pandang Ilmu Kalam. Melalui strategi tersebut, siswa akan lebih aktif, kreatif, dan termotivasi untuk memahami konsep teologi secara mendalam dan aplikatif. Selain menumbuhkan keaktifan belajar, pembelajaran Akidah Akhlak juga berfungsi memperkuat pembentukan karakter religius. Menurut Abdullah (2022), pembelajaran agama harus diarahkan untuk membentuk pribadi yang beriman, berakhlak, dan memiliki kesadaran moral yang tinggi. Dengan mengenal perbedaan pandangan dalam Ilmu Kalam, siswa belajar untuk bersikap toleran, menghargai perbedaan, dan berpikir terbuka tanpa kehilangan pegangan akidah. Hal ini penting untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Dalam perspektif pedagogik Islam, pembelajaran Akidah Akhlak pada hakikatnya adalah upaya menanamkan nilai-nilai keimanan melalui proses pembiasaan dan internalisasi. Suharjo (2020) menegaskan bahwa pembelajaran nilai harus dilakukan secara kontekstual, dengan memberikan pengalaman langsung yang menyentuh hati siswa. Ketika materi Ilmu Kalam disampaikan dengan metode yang aktif dan dialogis, siswa bukan hanya memahami konsep-konsep teologi, tetapi juga merasakan nilai-nilai keimanan yang terkandung di dalamnya. Mereka belajar bagaimana berpikir
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 rasional tanpa meninggalkan spiritualitas, sehingga keseimbangan antara akal dan iman dapat terwujud dalam diri peserta didik. Oleh karena itu, pembelajaran Akidah Akhlak yang inovatif pada materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam harus diarahkan untuk mencapai dua hal utama: (1) pencapaian kompetensi akademik, yakni kemampuan memahami dan menjelaskan berbagai aliran pemikiran Islam secara argumentatif; dan (2) penguatan kompetensi spiritual dan karakter, yakni kemampuan meneladani nilai-nilai iman dan akhlak dari pemikiran para tokoh Islam klasik. Dengan menggabungkan dua tujuan tersebut, guru tidak hanya membantu siswa memahami konsep teologi Islam, tetapi juga membentuk mereka menjadi individu yang berpikir logis, berakhlak, dan memiliki keimanan yang kokoh Penerapan Strategi Active Learning di Kelas XI Medis MAN Purwakarta Penerapan strategi Active Learning di kelas XI Medis MAN Purwakarta dilaksanakan dalam konteks pembelajaran Akidah Akhlak sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan dan partisipasi siswa selama kegiatan belajar mengajar. Dalam praktiknya, guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan menuntun siswa agar terlibat secara langsung dalam proses menemukan pengetahuan. Setiap tahapan pembelajaran dirancang agar siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku utama dalam eksplorasi konsep, diskusi, dan pemecahan masalah. Menurut Sani (2019), pembelajaran aktif menuntut siswa untuk berpikir kritis dan berpartisipasi dalam mengonstruksi pengetahuan, sehingga proses belajar menjadi pengalaman yang bermakna. Pada tahap pelaksanaan, strategi Active Learning diterapkan dengan memanfaatkan berbagai model yang relevan dengan karakteristik siswa dan jam belajar siang hari yang cenderung menurunkan fokus. Guru menggunakan aktivitas yang melibatkan gerak, komunikasi, dan kolaborasi agar siswa tetap berenergi dan termotivasi. Kegiatan pembelajaran dibuka dengan ice breaking ringan, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas utama seperti diskusi kelompok terarah dan pembelajaran berbasis proyek mini (mini project). Dalam mini project ini, siswa diminta membuat poster ringkas pemikiran tokoh teologi yang dibahas, lalu mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Proses ini tidak hanya menumbuhkan keaktifan, tetapi juga kreativitas siswa dalam menyajikan gagasan secara visual dan verbal. Selama kegiatan berlangsung, guru memanfaatkan Active Questioning untuk menjaga fokus dan interaksi kelas. Teknik bertanya aktif ini dilakukan dengan memberikan pertanyaan pemantik seperti, “Bagaimana pandangan kalian jika aliran ini diterapkan dalam konteks kehidupan sekarang?” atau “Apa hikmah yang dapat diambil dari perbedaan pandangan ini?” Pertanyaan tersebut mendorong siswa berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Menurut Mulyasa (2021), keberhasilan pembelajaran aktif sangat ditentukan oleh kemampuan guru mengelola pertanyaan yang merangsang analisis, evaluasi, dan refleksi siswa. Dalam penerapan Active Learning, guru juga melakukan pendampingan individual dan kelompok untuk memastikan semua siswa berpartisipasi. Siswa yang biasanya pasif diberi peran kecil terlebih dahulu, seperti mencatat hasil diskusi atau membacakan kesimpulan kelompok. Secara bertahap, kepercayaan diri mereka meningkat, dan akhirnya berani mengemukakan pendapat di depan kelas. Hal ini menunjukkan adanya perubahan perilaku belajar yang positif. Berdasarkan catatan observasi selama PPL, tingkat partisipasi siswa meningkat dari waktu ke waktu — mereka tampak lebih fokus, aktif berdialog, dan mampu mempertahankan konsentrasi hingga akhir pembelajaran meskipun berada di jam terakhir. Selain meningkatkan keterlibatan individu, strategi Active Learning juga memperkuat dinamika sosial di dalam kelas. Aktivitas berbasis kelompok menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, saling menghargai, dan kerja sama yang harmonis antar siswa. Guru mendorong setiap kelompok untuk membuat kesepakatan belajar (learning agreement) agar setiap anggota berkontribusi secara adil. Menurut Fauzi dan Lestari (2020), pembelajaran aktif yang melibatkan kolaborasi dapat menumbuhkan
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 empati, kepemimpinan, dan kesadaran sosial siswa, yang merupakan bagian integral dari pendidikan karakter. Kondisi ini tampak di kelas XI Medis ketika siswa mulai saling memberi umpan balik positif dan membantu teman yang kesulitan memahami materi. Tahap refleksi dilakukan pada akhir setiap pertemuan dan akhir siklus pembelajaran. Guru bersama siswa mendiskusikan pengalaman belajar yang diperoleh, bagian mana yang paling menarik, serta kesulitan apa yang masih dialami. Refleksi ini menjadi dasar untuk memperbaiki strategi pembelajaran berikutnya. Proses ini sejalan dengan konsep pembelajaran reflektif yang dijelaskan oleh Arends (2020), bahwa refleksi merupakan jantung dari pembelajaran aktif karena membantu siswa menyadari proses berpikir dan pengalaman belajarnya. Melalui refleksi, siswa menyimpulkan sendiri nilai dan pelajaran yang mereka peroleh, bukan sekadar menerima hasil dari guru. Secara keseluruhan, penerapan strategi Active Learning di kelas XI Medis MAN Purwakarta berhasil menciptakan suasana pembelajaran yang dinamis, interaktif, dan menyenangkan. Siswa menunjukkan peningkatan keaktifan baik secara verbal (bertanya, menjawab, berdiskusi) maupun nonverbal (mencatat, memperhatikan, bekerja sama). Guru pun merasa lebih mudah mengelola kelas karena interaksi dua arah menciptakan energi positif yang berkelanjutan. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Musfiqon (2022) yang menyatakan bahwa Active Learning dapat meningkatkan motivasi belajar dan keterlibatan emosional siswa karena memberi ruang bagi mereka untuk berekspresi dan berpartisipasi aktif dalam setiap tahap pembelajaran. Dampak dan Urgensi Penerapan Active Learning terhadap Keaktifan dan Kejenuhan Siswa Penerapan strategi Active Learning di kelas XI Medis MAN Purwakarta membawa perubahan yang signifikan terhadap dinamika proses pembelajaran Akidah Akhlak. Sebelum tindakan dilakukan, siswa cenderung menunjukkan perilaku pasif, hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa partisipasi aktif. Namun, setelah strategi pembelajaran aktif diterapkan, terjadi peningkatan yang jelas dalam keaktifan siswa, baik dari segi keikutsertaan dalam diskusi maupun dalam mengemukakan pendapat. Menurut Zainuddin (2019), Active Learning dapat menciptakan suasana belajar yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan keterlibatan emosional, sehingga siswa lebih terdorong untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari meningkatnya interaksi dua arah antara guru dan siswa serta munculnya semangat baru dalam mengikuti kegiatan belajar. Dampak lain yang terlihat adalah berkurangnya tingkat kejenuhan belajar siswa, terutama pada jam pelajaran siang. Aktivitas yang menuntut gerak, komunikasi, dan kolaborasi membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Berdasarkan hasil refleksi, sebagian besar siswa menyatakan bahwa pembelajaran aktif membantu mereka tetap fokus meskipun belajar pada jam terakhir. Hasil ini sejalan dengan pandangan Mulyasa (2021) yang menyebutkan bahwa pembelajaran yang mengintegrasikan aktivitas fisik dan sosial mampu mengurangi kelelahan mental dan kejenuhan belajar karena siswa merasa memiliki peran dalam proses tersebut. Dengan demikian, Active Learning tidak hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga kesejahteraan psikologis siswa selama proses belajar mengajar. Keaktifan siswa yang meningkat juga berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar. Siswa yang aktif berdiskusi dan bertanya menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam. Hal ini sesuai dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang menegaskan bahwa pengetahuan akan lebih bermakna jika dibangun melalui pengalaman langsung. Sani (2019) menjelaskan bahwa ketika siswa terlibat dalam menemukan pengetahuan, mereka lebih mudah mengingat, memahami, dan menerapkan konsep yang dipelajari. Dalam konteks ini, strategi Active Learning menjadi sarana efektif untuk membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai teologis dan moral dari materi Akidah Akhlak, bukan sekadar menghafalnya. Dari aspek sosial dan afektif, penerapan Active Learning berhasil memperkuat kerja sama dan empati antar siswa. Dalam kegiatan kelompok, siswa belajar saling menghargai, mendengarkan
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 pendapat orang lain, dan mengambil keputusan bersama. Menurut Fauzi dan Lestari (2020), kerja sama yang terbangun dalam pembelajaran aktif berperan penting dalam menumbuhkan nilai-nilai karakter seperti tanggung jawab, kejujuran, dan sikap demokratis. Di kelas XI Medis, hal ini tampak ketika siswa mulai terbiasa membagi tugas secara adil dan membantu teman yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep. Pembelajaran Akidah Akhlak pun tidak hanya menjadi sarana kognitif, tetapi juga wahana pembentukan akhlak sosial. Selain manfaat langsung terhadap siswa, penerapan Active Learning juga memberikan dampak positif bagi guru. Guru menjadi lebih reflektif dan inovatif dalam menyusun rencana pembelajaran. Proses observasi dan refleksi selama penelitian mendorong guru untuk terus mengevaluasi pendekatan mengajarnya. Menurut Musfiqon (2022), guru yang menerapkan pembelajaran aktif akan memiliki pemahaman lebih mendalam tentang kebutuhan dan potensi peserta didiknya karena prosesnya menuntut interaksi intensif dan observasi berkelanjutan. Dengan demikian, penerapan strategi ini bukan hanya meningkatkan mutu pembelajaran, tetapi juga memperkuat profesionalisme guru. Dari sisi urgensi, penerapan Active Learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak sangat relevan dengan kebijakan pendidikan nasional yang menekankan pada paradigma Merdeka Belajar. Konsep ini menuntut siswa menjadi pembelajar yang mandiri, kreatif, dan kritis. Menurut Kemendikbudristek (2023), Merdeka Belajar mendorong guru untuk menciptakan pengalaman belajar yang berpusat pada siswa melalui kegiatan kolaboratif dan eksploratif. Dengan demikian, Active Learning tidak hanya selaras dengan tuntutan kurikulum, tetapi juga menjadi implementasi nyata dari filosofi pendidikan yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran. Urgensi penerapan strategi ini juga dapat dilihat dari kebutuhan dunia pendidikan Islam untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan perkembangan zaman. Nata (2020) menyatakan bahwa pendidikan Islam masa kini harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan pendekatan pedagogik modern agar dapat menjawab tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri keislaman. Dalam hal ini, Active Learning menawarkan jalan tengah antara rasionalitas dan spiritualitas, antara penguasaan ilmu dan pembentukan akhlak. Penerapannya di MAN Purwakarta membuktikan bahwa inovasi pedagogik dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai keagamaan. Secara keseluruhan, penerapan strategi Active Learning memberikan dampak positif yang komprehensif terhadap aspek kognitif, afektif, dan sosial siswa. Keaktifan meningkat, kejenuhan berkurang, dan suasana belajar menjadi lebih kondusif. Guru dan siswa sama-sama mengalami perubahan peran — guru sebagai fasilitator yang inspiratif, dan siswa sebagai pembelajar aktif yang bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri. Pembelajaran Akidah Akhlak yang sebelumnya dianggap membosankan kini menjadi lebih hidup, relevan, dan menyenangkan. Temuan ini menegaskan bahwa strategi Active Learning tidak hanya penting untuk meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menjadi kebutuhan mendesak dalam upaya mewujudkan pendidikan Islam yang adaptif, humanis, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara menyeluruh. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan di kelas XI Medis MAN Purwakarta, dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi Active Learning terbukti efektif dalam meningkatkan keaktifan belajar peserta didik pada mata pelajaran Akidah Akhlak, khususnya pada materi Aliran-Aliran Ilmu Kalam. Melalui penerapan berbagai bentuk kegiatan aktif seperti diskusi kelompok, role play, kuis interaktif, dan refleksi kelompok, siswa menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hal partisipasi, keberanian bertanya, serta kemampuan berargumentasi secara logis dan santun. Penerapan Active Learning juga berdampak positif terhadap suasana kelas yang semula pasif dan monoton menjadi lebih hidup, komunikatif, dan kolaboratif. Siswa yang sebelumnya kurang terlibat mulai menunjukkan semangat belajar yang tinggi dan mampu bekerja sama dalam kelompok secara
2025 Indonesian Journal of Educational Research Vol. 1 No. 4 Penerapan Strategi Active Learning (Enan Kusnandar, et., al) | 103-111 efektif. Aktivitas pembelajaran yang variatif terbukti mampu menurunkan tingkat kejenuhan siswa, terutama pada jam pelajaran siang hari. Hal ini menunjukkan bahwa Active Learning mampu mengatasi kendala psikologis dan lingkungan belajar yang sering menjadi hambatan dalam pencapaian tujuan pembelajaran Akidah Akhlak. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa guru mengalami peningkatan profesionalisme dalam mengelola pembelajaran. Guru menjadi lebih kreatif, reflektif, dan mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik peserta didik. Kolaborasi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan kontekstual. Dengan demikian, strategi Active Learning tidak hanya berfungsi sebagai metode pengajaran, tetapi juga sebagai pendekatan pembelajaran yang mampu menumbuhkan tanggung jawab, kreativitas, serta nilai-nilai sosial dan spiritual dalam diri siswa. REKOMENDASI 1. Bagi guru Akidah Akhlak, strategi Active Learning dapat dijadikan alternatif utama dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Guru perlu terus mengembangkan kreativitas dalam memilih model dan teknik pembelajaran aktif yang sesuai dengan karakter siswa serta konteks materi. 2. Bagi lembaga pendidikan (madrasah), penting untuk memberikan dukungan fasilitas dan pelatihan kepada guru agar mampu menerapkan pembelajaran aktif secara efektif dan berkelanjutan. 3. Bagi siswa, diharapkan dapat mempertahankan semangat belajar aktif yang telah terbentuk serta terus berlatih bekerja sama, berpikir kritis, dan menghargai pendapat orang lain dalam proses pembelajaran. 4. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengembangkan penelitian sejenis dengan fokus pada materi atau jenjang pendidikan yang berbeda guna memperkaya kajian penerapan Active Learning dalam pembelajaran pendidikan agama Islam. REFERENSI Abdullah, A. Pendidikan Agama Islam dan Pembentukan Karakter Siswa. Yogyakarta, Deepublish, 2022. Arends, and Richard I. Learning to Teach: Strategi Pembelajaran Efektif di Kelas Modern. Kencana Prenada Media Group., 2020. Daradjat, and Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. Bumi Aksara, 2019. Fauzi, Ahmad, and S. Lestari. Implementasi Active Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Deepublish Publisher, 2020. Huda, Miftahul. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran: Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis. Pustaka Pelajar, 2016. Kemendikbudristek RI. Panduan Pelaksanaan Merdeka Belajar dalam Pembelajaran Abad 21. 2023. Mulyasa, E. Menjadi Guru Penggerak: Mewujudkan Merdeka Belajar dan Sekolah Penggerak. 2021. Musfiqon. Inovasi Pembelajaran Abad 21: Strategi, Desain, dan Implementasi. 2022. Nata, Abuddin. Pendidikan Islam di Indonesia: Sejarah, Pemikiran, dan Kontribusinya dalam Membangun Bangsa. 2018. Zainuddin. Active Learning dalam Konteks Pendidikan Islam Kontemporer. 2019.