An Analysis of the Relevance of Humanistic Learning Theory within the Context of Islamic Education
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 271-275 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17646273 *Coresponding Author Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Menganalisis Relevansi Teori Belajar Humanisme Dengan Pendidikan Islam An Analysis of the Relevance of Humanistic Learning Theory within the Context of Islamic Education Saprin, Mustari, M Firdaus, Surdi Pabbe 1-4Prodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar A B S T R A C T This study aims to analyze the relevance of humanist learning theory to Islamic education. Humanist learning theory focuses on optimally developing human potential through freedom of learning and meaningful experiences. Meanwhile, Islamic education emphasizes the formation of the whole person (insan kamil) based on the values of monotheism, morality, and human nature. This study used a qualitative method with a library research approach sourced from educational psychology books and scientific works in the field of Islamic education. The results show that humanist learning theory aligns with the principles of Islamic education in terms of respect for student potential, the role of teachers as guides, and student-centered learning. However, there are fundamental differences in philosophical aspects: humanist theory is oriented towards humans (anthropocentric), while Islamic education is centered on divine values (theocentric). Thus, the application of humanist theory in Islamic education needs to be directed at strengthening spiritual values so that the educational process does not lose its divine dimension. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi teori belajar humanisme dengan pendidikan Islam. Teori belajar humanisme berfokus pada pengembangan potensi manusia secara optimal melalui kebebasan belajar dan pengalaman bermakna. Sementara itu, pendidikan Islam menekankan pembentukan manusia seutuhnya (insan kamil) berdasarkan nilai-nilai tauhid, moral, dan fitrah manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) yang bersumber dari buku-buku psikologi pendidikan dan karya ilmiah dalam bidang pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori belajar humanisme memiliki kesesuaian dengan prinsip pendidikan Islam dalam hal penghargaan terhadap potensi peserta didik, peran guru sebagai pembimbing, dan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Namun, terdapat perbedaan mendasar dalam aspek filosofis: teori humanisme berorientasi pada manusia (antroposentris), sedangkan pendidikan Islam berpusat pada nilai ketuhanan (teosentris). Dengan demikian, penerapan teori humanisme dalam pendidikan Islam perlu diarahkan pada penguatan nilai spiritual agar proses pendidikan tidak kehilangan dimensi ilahiah. PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan modern, teori belajar memegang peran penting dalam menentukan arah dan strategi pembelajaran. Salah satu teori yang berpengaruh besar adalah teori belajar humanisme, yang menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses belajar. Teori ini menolak pandangan behavioristik yang menekankan stimulus-respons, serta mengkritik pendekatan psikoanalisis yang terlalu fokus pada konflik batin. Humanisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya baik dan memiliki potensi untuk berkembang menuju kesempurnaan dirinya. 1 Sementara itu, pendidikan Islam memiliki pandangan yang seimbang tentang manusia. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi fisik, akal, dan ruhani yang 1 Carl R. Rogers, Freedom to Learn, Ohio: Charles Merrill Publishing, 1983, hlm. 106. A R T I C L E I N F O Article history: Received Oktober 24, 2025 Revised 25 Oktober 2025 Accepted 31 Oktober 2025 Available online 18 November 2025 Kata Kunci: Humanisme, Teori Belajar, Pendidikan Islam, Fitrah Manusia Keywords: Humanism, Learning Theory, Islamic Education, Human Nature This is an open access article under the CC BYSA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 271-275 Socius E-ISSN: 3025-6704 perlu dikembangkan secara harmonis untuk mencapai tujuan penciptaannya, yakni beribadah kepada Allah Swt. Dengan demikian, penelitian ini berupaya menganalisis relevansi teori belajar humanisme dengan pendidikan Islam, guna menemukan titik temu sekaligus batas perbedaan keduanya sebagai dasar bagi praktik pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan dan nilai-nilai keislaman. 2 METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research). Studi pustaka dipilih karena penelitian ini berfokus pada analisis teoritis terhadap konsep teori belajar humanisme dan relevansinya dengan pendidikan Islam. Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber literatur seperti buku-buku psikologi pendidikan, karya ilmiah tentang pendidikan Islam, artikel jurnal, serta referensi yang membahas tokoh-tokoh humanisme seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers. Proses pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran, pencatatan, dan pengelompokan literatur yang relevan dengan topik penelitian. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis), yaitu proses memahami, menginterpretasi, dan mengkaji kesesuaian gagasan humanistik dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Analisis dilakukan dengan membandingkan konsep utama teori humanisme dengan nilai-nilai dasar pendidikan Islam untuk menemukan titik temu serta batas perbedaannya. Dengan demikian, metode ini memungkinkan peneliti menyimpulkan relevansi teori humanisme dalam pengembangan praktik pendidikan Islam secara komprehensif dan mendalam. HASIL DAN PEMBAHASAN Teori Belajar Humanisme Teori belajar humanisme berangkat dari pandangan bahwa setiap individu memiliki potensi positif yang harus dikembangkan secara bebas dan optimal. Fokus utama teori ini adalah pada manusia sebagai pribadi yang utuh, bukan sekadar makhluk yang berpikir (kognitif) atau bertingkah laku (behavioristik), melainkan manusia dengan perasaan, nilai, dan motivasi batiniah yang kompleks. 3 Dalam teori ini, belajar dipandang sebagai proses untuk mencapai aktualisasi diri, yaitu upaya seseorang untuk mewujudkan potensi tertinggi yang dimilikinya. Tokoh utama teori humanisme adalah Abraham Maslow dengan konsep hierarki kebutuhan yang terdiri dari lima tingkatan: kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, harga diri, dan aktualisasi diri sebagai puncak tertinggi. 4 Menurut Maslow, seseorang baru dapat belajar secara optimal ketika kebutuhan dasarnya terpenuhi. Selain Maslow, Carl Rogers juga berperan besar dalam mengembangkan teori humanisme. Ia menekankan pentingnya student-centered learning atau pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. 5 Dalam pandangan Rogers, guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar yang hangat, penuh penerimaan, dan menghargai perbedaan individu. Pembelajaran tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik menemukan makna dalam pengalaman belajar mereka. Tujuan utama pembelajaran menurut teori humanisme adalah membentuk individu yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, dan memiliki kesadaran diri tinggi. Pembelajaran tidak 2 Abuddin Nata, Perspektif Islam tentang Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2012, hlm. 45. 3 Suparno, P. (2012). Filsafat Pendidikan untuk Indonesia. Yogyakarta: Kanisius. 4 Maslow, A. H. (1970). Motivation and Personality (2nd ed.). New York: Harper & Row. 5 Rogers, C. R. (1983). Freedom to Learn for the 80s. Columbus: Charles E. Merrill Publishing.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 271-275 Saprin, et., al/ Menganalisis Relevansi Teori diukur hanya dari capaian akademik, tetapi juga dari perkembangan kepribadian dan kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sosial secara positif. 6 Dengan demikian, teori humanisme memberikan landasan penting bagi pendidikan, khususnya dalam menciptakan proses pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik, menghargai potensi dan keunikan mereka, serta mendorong pertumbuhan pribadi menuju kemandirian dan kematangan spiritual maupun sosial. Konsep Pendidikan Islam Pendidikan Islam adalah proses sadar untuk mengembangkan seluruh potensi manusia (fitrah) agar mampu menjalankan fungsi kekhalifahan dan pengabdian kepada Allah Swt. Tujuan pendidikan Islam bukan hanya untuk mencerdaskan akal, tetapi juga untuk membentuk akhlak mulia dan kedekatan spiritual kepada Allah. 7 Menurut Hasan Langgulung, pendidikan Islam merupakan usaha mengaktualisasikan seluruh potensi manusia—baik spiritual, intelektual, maupun sosial—dalam kerangka pengabdian kepada Sang Pencipta.¹⁰ Guru dalam pendidikan Islam bukan sekadar pengajar (mu‘allim), tetapi juga pendidik moral (murabbi) yang menuntun peserta didik menuju kesempurnaan iman dan amal. 8 Prinsip-prinsip pendidikan Islam mencakup: 1. Pengakuan terhadap fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. 2. Keseimbangan antara aspek duniawi dan ukhrawi. 3. Kasih sayang, keadilan, dan tanggung jawab dalam proses pendidikan. 4. Tujuan akhir pendidikan adalah taqarrub ilallah (kedekatan kepada Allah). Menganalisis Relevansi Teori Humanisme dengan Pendidikan Islam Teori humanisme memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi, kebebasan, dan kemampuan untuk berkembang secara utuh — baik dari aspek intelektual, emosional, maupun spiritual. Dalam konteks pendidikan, teori ini menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang memanusiakan peserta didik, menghargai keunikan individu, dan menumbuhkan kesadaran diri untuk mencapai aktualisasi diri. Prinsip utama teori ini adalah bahwa belajar bukan sekadar proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga perjalanan untuk menjadi manusia seutuhnya. 9 Jika dikaitkan dengan pendidikan Islam, nilai-nilai dalam teori humanisme memiliki relevansi yang kuat. Pendidikan Islam pada dasarnya juga bertujuan membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dalam Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah dan kemampuan berpikir yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan. Hal ini sejalan dengan pandangan humanistik yang menekankan pentingnya mengembangkan potensi manusia secara menyeluruh — meliputi aspek spiritual, intelektual, dan sosial. Dalam praktiknya, pembelajaran berbasis humanisme dapat diterapkan dalam pendidikan Islam dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, penuh kasih sayang, dan menghargai kebebasan berpikir peserta didik. Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa menemukan makna belajar dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar sebagai penyampai informasi. Pembelajaran seperti ini sejalan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin, di mana pendidikan Islam bertujuan melahirkan generasi yang berkarakter, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi sesama. 6 Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia. 7 M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2014), 47. 8 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), 65. 9 Rogers, C. R. (1983). Freedom to Learn for the 80s. Columbus: Charles E. Merrill Publishing.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 271-275 Socius E-ISSN: 3025-6704 Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teori humanisme memiliki relevansi yang signifikan dengan pendidikan Islam. Keduanya sama-sama menempatkan manusia sebagai subjek utama dalam proses belajar, menekankan pentingnya pengembangan potensi diri, dan berorientasi pada pembentukan kepribadian yang utuh serta bermoral. 10 Implikasi Teori Humanisme dalam Praktik Pendidikan Islam Teori humanisme memiliki implikasi yang mendalam dalam praktik pendidikan Islam karena keduanya sama-sama menempatkan manusia sebagai pusat dari proses pendidikan. Dalam pandangan humanisme, peserta didik dipandang sebagai individu yang unik, memiliki potensi, dan berhak untuk berkembang sesuai kemampuan dan minatnya. Pandangan ini selaras dengan konsep fitrah manusia dalam Islam, yaitu bahwa setiap manusia dilahirkan dengan potensi bawaan yang harus dikembangkan melalui pendidikan. 11 Implikasi pertama dari teori humanisme dalam pendidikan Islam adalah pergeseran peran guru dari pusat pembelajaran menjadi fasilitator. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi lebih berperan sebagai pembimbing yang menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, penuh kasih sayang, dan menghargai kebebasan berpikir peserta didik. Dalam konteks pendidikan Islam, guru tidak hanya mentransfer ilmu agama, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai akhlak dan spiritualitas melalui keteladanan. Kedua, teori humanisme mendorong adanya pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pendekatan ini dapat diwujudkan melalui metode diskusi, refleksi, studi kasus, atau pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang memungkinkan peserta didik memahami makna nilai-nilai Islam secara kontekstual dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, teori ini menekankan pengembangan potensi manusia secara menyeluruh, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pendidikan Islam juga memiliki tujuan serupa, yakni membentuk insan kamil—manusia yang seimbang antara ilmu, iman, dan amal. Dengan demikian, penerapan teori humanisme dalam pendidikan Islam memperkuat tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu membentuk manusia yang berilmu dan berakhlak mulia. 12 Keempat, implikasi lainnya adalah pentingnya suasana belajar yang humanis dan religius. Guru hendaknya menciptakan interaksi pembelajaran yang saling menghargai, menghindari kekerasan verbal maupun fisik, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan pandangan dan perasaannya. Suasana seperti ini akan membantu menumbuhkan kepercayaan diri, kemandirian, dan tanggung jawab moral siswa sebagai bagian dari karakter islami. Dengan demikian, teori humanisme memberikan kontribusi besar terhadap praktik pendidikan Islam, terutama dalam hal pendekatan yang lebih empatik, dialogis, dan menumbuhkan kesadaran spiritual. Pendidikan Islam yang mengintegrasikan nilai-nilai humanistik akan lebih efektif dalam melahirkan peserta didik yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. SIMPULAN 10 Muhaimin. (2011). Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya. 12 Jalaluddin & Idi, A. (2012). Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 271-275 Saprin, et., al/ Menganalisis Relevansi Teori Berdasarkan pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Teori belajar humanisme menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses pendidikan. Teori ini menekankan bahwa tujuan utama pendidikan bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk mengembangkan potensi kemanusiaan secara menyeluruh, termasuk aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tokoh-tokoh seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers berpendapat bahwa setiap individu memiliki potensi bawaan yang positif dan kebutuhan untuk mencapai aktualisasi diri. Oleh karena itu, guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar yang kondusif, menghargai perbedaan individu, dan mendorong peserta didik agar belajar dengan kesadaran serta tanggung jawab pribadi. Dalam konteks pendidikan Islam, teori humanisme sangat relevan karena sejalan dengan prinsip bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang mulia dan memiliki tanggung jawab moral kepada Allah SWT. Pendidikan Islam bertujuan membentuk insan kamil — manusia paripurna yang seimbang antara potensi akal, hati, dan amal. Dengan penerapan pendekatan humanistik, proses pembelajaran PAI di madrasah tidak hanya menekankan hafalan materi agama, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, keikhlasan, dan pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teori humanisme memiliki kontribusi besar terhadap praktik pendidikan Islam, terutama dalam membentuk peserta didik yang mandiri, berakhlak mulia, dan memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Pendidikan bukan hanya proses mentransfer ilmu, tetapi juga membimbing manusia menjadi hamba Allah yang berilmu, beriman, dan beramal saleh. REFERENSI Abuddin Nata. Perspektif Islam tentang Pendidikan. Jakarta: Kencana, 2012. Arifin, M. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2014. Daradjat, Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2000. Hamdani. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia, 2011. Jalaluddin & Idi, Abdullah. Filsafat Pendidikan Islam: Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2012. Maslow, Abraham H. Motivation and Personality. 2nd ed. New York: Harper & Row, 1970. Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011. Rogers, Carl R. Freedom to Learn. Ohio: Charles Merrill Publishing, 1983. Rogers, Carl R. Freedom to Learn for the 80s. Columbus: Charles E. Merrill Publishing, 1983. Suparno, Paulus. Filsafat Pendidikan untuk Indonesia. Yogyakarta: Kanisius, 2012.