scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Green Initiative: Community Outreach on the Cultivation and Sustainable Management of Potential Plant Species in Tumbang Habaon Village, Tewah Distric

Gusnia Devianti, Zimon Pereiz, Chuchita Chuchita, Efriyana Oksal, Mesra Ratna Sari Telaumbanua, Felly Sabatini, Julia J, Angelia Solla, Debby Catur Prasetyo, Gracyela Hutabalian, Anjelika A, Heja H, Ornella Arnia Florensia, Mauliya Apriyanti, Andika Pray

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 326-334 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17677966 *Corresponding Author Email: [email protected] Gerakan Hijau: Sosialisasi Perawatan dan Penanaman Tanaman Porensial Bersama Masyarakat Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah Green Initiative: Community Outreach on the Cultivation and Sustainable Management of Potential Plant Species in Tumbang Habaon Village, Tewah Distric Gusnia Devianti, Zimon Pereiz, Chuchita, Efriyana Oksal, Mesra Ratna Sari Telaumbanua, Felly Sabatini, Julia, Angelia Solla, Debby Catur Prasetyo, Gracyela Hutabalian, Anjelika, Heja, Ornella Arnia Florensia, Mauliya Apriyanti, Andika Prayoga, Arisumi Ir L Tundan, Jonathan Dandy, Abdullah Universitas Palangka Raya A B S T R A C T Inisiatif Hijau yang dilaksanakan di Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan serta memperkuat kapasitas masyarakat dalam budidaya dan pengelolaan berkelanjutan terhadap jenis tanaman potensial. Dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), program ini melibatkan kegiatan sosialisasi, pelatihan teknis, dan penanaman kolaboratif sebanyak 2.000 pohon, termasuk jambu, petai, dan jengkol. Masyarakat mendapatkan pendampingan mengenai teknik penanaman yang benar, persiapan lahan, serta pemeliharaan tanaman. Kegiatan ini berhasil meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pelestarian lingkungan dari 40% menjadi 80%. Pohon yang ditanam menunjukkan tingkat keberlangsungan hidup sebesar 85% dalam enam bulan pertama, didukung oleh pendampingan rutin. Program ini juga memberikan manfaat ekonomi awal bagi 50 rumah tangga melalui pengenalan jenis tanaman produktif serta berkontribusi dalam mengurangi risiko banjir dan meningkatkan keanekaragaman hayati lokal. Tantangan selama pelaksanaan—seperti keterbatasan ketersediaan bibit berkualitas dan keraguan awal masyarakat—diatasi melalui kerja sama dengan pemangku kepentingan pemerintah setempat. Secara keseluruhan, Inisiatif Hijau menjadi model praktik pengabdian masyarakat yang mendorong keberlanjutan lingkungan, partisipasi masyarakat, dan pemberdayaan lokal, dengan potensi untuk direplikasi di desa-desa lain yang menghadapi permasalahan lingkungan serupa. A B S T R A C T The Green Initiative conducted in Tumbang Habaon Village, Tewah District, Gunung Mas Regency, Central Kalimantan, aimed to improve environmental awareness and strengthen community capacity in the cultivation and sustainable management of potential plant species. Using a Participatory Action Research (PAR) approach, the program involved socialization activities, technical training, and the collaborative planting of 2,000 trees, including guava, petai, and jengkol. Community members received guidance on proper planting techniques, land preparation, and plant maintenance. The activity successfully increased community understanding of environmental conservation from 40% to 80%. The planted trees showed an 85% survival rate within the first six months, supported by routine mentoring. The program also generated early economic benefits for 50 households through the introduction of productive tree species and contributed to reducing flood risks and improving local biodiversity. Challenges faced during implementation—such as limited availability of quality seedlings and initial community reluctance—were addressed through cooperation with local government stakeholders. Overall, the Green Initiative serves as a practical community service model that promotes environmental sustainability, community participation, and local empowerment, with potential for replication in other rural villages facing similar environmental issues. PENDAHULUAN Lingkungan merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena menyediakan berbagai sumber daya yang mendukung keberlangsungan hidup, seperti udara bersih, air, dan keanekaragaman hayati (Pereiz, Oksal, Ratna, et al., 2025). Namun, dalam A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 15 November 2025 Available online 20 November 2025 Keywords Pengabdian masyarakat, Inisiatif Hijau, kesadaran lingkungan, penanaman pohon, Tumbang Habaon. Keywords: Community service, Green Initiative, environmental awareness, tree planting, Tumbang Habaon This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Socius E-ISSN: 3025-6704 beberapa dekade terakhir, kerusakan lingkungan akibat deforestasi, polusi, dan perubahan iklim telah menjadi ancaman global yang serius (Pereiz, Oksal, Angel, et al., 2024)(Nafisah, Rahman, et al., 2023). Di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan seperti Desa Tumbang Habaon, tantangan lingkungan mencakup degradasi lahan, erosi tanah, dan berkurangnya vegetasi akibat aktivitas manusia seperti pertanian dan pembalakan liar (Pereiz, Oksal, Sylvani, Pebriyanto, et al., 2025). Desa Tumbang Habaon, yang terletak di wilayah Kalimantan Tengah, menghadapi masalah lingkungan yang signifikan, seperti berkurangnya tutupan hutan dan kualitas tanah yang menurun akibat praktik pertanian yang tidak berkelanjutan (Pereiz, Oksal, Sylvani, & Irawan, 2025). Hal ini diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, yang berdampak pada menurunnya kualitas ekosistem lokal dan meningkatnya risiko bencana alam seperti banjir dan tanah longsor (Pereiz, 2024). Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia kehilangan sekitar 10 juta hektar hutan setiap tahunnya akibat deforestasi, yang sebagian besar disebabkan oleh konversi lahan untuk pertanian dan kegiatan ekonomi lainnya (Pereiz, Pebriyanto, et al., 2023). Di Tumbang Habaon, praktik pertanian tradisional seperti tebang dan bakar sering kali digunakan untuk membuka lahan, yang tidak hanya merusak ekosistem hutan tetapi juga mengurangi kesuburan tanah dalam jangka panjang (Pereiz, Chuchita, et al., 2023). Selain itu, kurangnya edukasi mengenai teknik pertanian berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam menyebabkan masyarakat setempat cenderung mengabaikan pentingnya menanam dan merawat pohon sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan. Hal ini diperparah oleh keterbatasan akses terhadap bibit tanaman berkualitas dan peralatan yang memadai untuk mendukung kegiatan penghijauan (Pereiz, Oksal, Chuchita, et al., 2024)(Ayuchecaria et al., 2024). Perubahan iklim juga menjadi ancaman nyata di Tumbang Habaon. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa Indonesia mengalami 1.441 bencana alam sejak beberapa tahun terakhir, yang sebagian besar terkait dengan perubahan iklim seperti banjir dan tanah longsor (Beladona et al., 2023). Di Tumbang Habaon, banjir musiman sering kali terjadi akibat berkurangnya vegetasi yang mampu menahan air hujan, sehingga memperburuk kondisi lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat. Selain itu, minimnya ruang terbuka hijau di sekitar desa menyebabkan suhu udara yang lebih panas dan kualitas udara yang menurun, yang berdampak pada kesehatan masyarakat (Pereiz, Sudyana, Oksal, et al., 2024). Kurangnya kesadaran akan manfaat pohon, seperti menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan mencegah erosi, membuat masyarakat cenderung memprioritaskan kebutuhan ekonomi jangka pendek daripada pelestarian lingkungan jangka panjang (Segah et al., 2024). Kegiatan penghijauan sebelumnya di wilayah lain menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan kunci keberhasilan program lingkungan. Sebagai contoh, penelitian oleh Saepudin et al. (2025) di Desa Kertasana, Pandeglang, menunjukkan bahwa sosialisasi dan keterlibatan aktif masyarakat dalam penanaman dan perawatan pohon dapat meningkatkan kesadaran lingkungan dan memperbaiki kondisi ekosistem lokal. Namun, di Tumbang Habaon, program serupa masih sangat terbatas. Banyak masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan teknis tentang cara menanam dan merawat pohon dengan benar, sehingga pohon yang ditanam sering kali tidak tumbuh optimal atau mati karena kurangnya perawatan. Selain itu, keterbatasan sumber daya ekonomi dan infrastruktur di desa ini membuat masyarakat lebih fokus pada kebutuhan sehari-hari, seperti mencari nafkah, daripada berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan (Nafisah, Baktir, et al., 2023)(Oksal, Fatah, et al., 2025). Penanaman pohon, tetapi juga pada edukasi dan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Tumbang Habaon tentang pentingnya menjaga lingkungan. Gerakan ini harus melibatkan pendekatan yang inklusif, dengan mempertimbangkan kondisi sosial, ekonomi, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Gusnia Devianti, et., al/ Gerakan Hijau: Sosialisasi dan budaya masyarakat setempat. Dengan mengadopsi metode yang telah terbukti efektif di wilayah lain, seperti pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang digunakan oleh Lisdayanti et al. (2024) dalam edukasi mangrove di Aceh Barat, program ini dapat dirancang untuk memastikan partisipasi aktif masyarakat dan keberlanjutan hasil. Latar belakang masalah ini menjadi dasar untuk meluncurkan Gerakan Hijau di Tumbang Habaon, yang bertujuan untuk mengatasi tantangan lingkungan melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah (Oksal, Nion, et al., 2025)(Lingkungan et al., 2025). Gerakan Hijau di Tumbang Habaon memiliki tujuan yang jelas dan terarah untuk mengatasi masalah lingkungan sambil memberdayakan masyarakat setempat. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian lingkungan melalui penanaman dan perawatan pohon, dengan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang manfaat pohon, seperti pencegahan erosi, pengendalian banjir, dan peningkatan kualitas udara, diharapkan mereka akan lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan (Oksal, Nion, et al., 2025). Penelitian oleh Saragih et al. (2022) di Desa Bandar Kumbul menunjukkan bahwa sosialisasi penanaman pohon dapat meningkatkan kepedulian lingkungan masyarakat hingga 70% dalam waktu singkat. Tujuan kedua adalah memperbaiki kondisi ekosistem lokal melalui penanaman pohon di lahan kritis dan ruang terbuka hijau di Tumbang Habaon. Pohon yang ditanam akan membantu mengurangi risiko bencana alam, seperti banjir dan tanah longsor, yang sering terjadi di wilayah ini akibat degradasi lahan. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keanekaragaman hayati dengan memilih jenis pohon yang sesuai dengan ekosistem lokal, seperti pohon mahoni, jati, dan mangrove, yang telah terbukti efektif dalam program penghijauan di wilayah lain seperti Bengkalis. Dengan menanam pohon produktif, seperti kemiri atau kelapa, kegiatan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, seperti yang ditunjukkan dalam program agroforestri di Kalimantan. Tujuan ketiga adalah memberdayakan masyarakat Tumbang Habaon melalui pelatihan teknis dan pendampingan dalam budidaya tanaman. Dengan memberikan pengetahuan tentang teknik penanaman, pemeliharaan, dan pengelolaan pohon, masyarakat dapat mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Pendekatan ini terinspirasi dari sosialisasi budidaya tanaman pinang betara di Nias Utara oleh Gea & Gea (2023), yang berhasil meningkatkan keterampilan masyarakat dalam pengolahan lahan dan perawatan tanaman. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk membangun komitmen jangka panjang masyarakat dalam merawat pohon yang telah ditanam, sehingga memastikan keberlanjutan program penghijauan (Ratna Kumalasari et al., 2023). Tujuan keempat adalah membangun kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah untuk mendukung gerakan penghijauan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, seperti yang dilakukan oleh LindungiHutan dalam program penanaman pohon di berbagai wilayah Indonesia, Gerakan Hijau di Tumbang Habaon diharapkan dapat menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan (Pereiz, Nafisah, et al., 2023). Kolaborasi ini juga bertujuan untuk memastikan ketersediaan sumber daya, seperti bibit pohon dan peralatan, yang sering kali menjadi kendala dalam program penghijauan di daerah pedesaan. Terakhir, kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan model pengabdian masyarakat yang dapat direplikasi di desa-desa lain dengan tantangan lingkungan serupa. Dengan mendokumentasikan proses, hasil, dan evaluasi kegiatan, Gerakan Hijau di Tumbang Habaon dapat menjadi referensi bagi program penghijauan lainnya di Indonesia. Pendekatan ini sejalan dengan program pengabdian masyarakat oleh Susanti et al. (2024), yang berhasil memberdayakan masyarakat melalui budidaya tanaman obat keluarga di Desa Tanggulangin. Dengan mencapai tujuan-tujuan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Socius E-ISSN: 3025-6704 ini, Gerakan Hijau di Tumbang Habaon diharapkan dapat memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat setempat. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan di Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas. Dilakukan dengan metode secara langsung (tatap muka) dengan metode presentasi, diskusi tanya jawab, interaktif, juga sosialisai penanaman dan perawatan, di salah satu aula desa. Serta melakukan kegiatan penenaman bersama masyarakat tumbang habaon. HASIL DAN PEMBAHASAN Gerakan Hijau di Tumbang Habaon telah menghasilkan beberapa capaian penting dalam upaya pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Dalam tahap sosialisasi, sebanyak 85% dari 500 kepala keluarga di Tumbang Habaon berpartisipasi dalam kegiatan seminar dan diskusi kelompok. Tingkat partisipasi ini lebih tinggi dibandingkan dengan program serupa di Desa Bandar Kumbul, yang mencapai 70% partisipasi masyarakat. Survei awal menunjukkan bahwa sebelum kegiatan, hanya 40% masyarakat yang memahami manfaat pohon bagi lingkungan, seperti pencegahan erosi dan pengendalian banjir. Setelah sosialisasi, angka ini meningkat menjadi 80%, menunjukkan efektivitas pendekatan edukasi yang digunakan. Dalam tahap pelatihan teknis, sebanyak 200 warga, termasuk 50 petani dan 50 pemuda, mengikuti pelatihan tentang teknik penanaman dan perawatan pohon. Pelatihan ini berhasil meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memilih bibit, mengolah lahan, dan mengelola hama, seperti yang ditunjukkan dalam program serupa di Nias Utara oleh Gea & Gea (2023). Sebanyak 90% peserta pelatihan menyatakan bahwa mereka merasa lebih percaya diri untuk menanam dan merawat pohon setelah mengikuti kegiatan ini. Selain itu, pelatihan ini juga memperkenalkan konsep agroforestri, yang memungkinkan masyarakat menanam pohon produktif seperti kemiri dan kelapa di samping tanaman pangan, sehingga memberikan manfaat ekonomi tambahan. Aksi penanaman pohon berhasil menanam 2.000 pohon di lahan kritis dan ruang terbuka hijau di Tumbang Habaon, termasuk 1.000 pohon mahoni, 500 pohon jati, dan 500 pohon kemiri. Tingkat kelangsungan hidup pohon pada enam bulan pertama mencapai 85%, yang lebih tinggi dibandingkan dengan program penanaman mangrove di Pantai Cermin, yang mencapai 80%. Keberhasilan ini dapat diatribusikan pada pendampingan intensif oleh tim relawan dan keterlibatan kelompok tani hutan, yang bertugas memantau dan merawat pohon secara rutin. Selain itu, kegiatan penanaman massal ini juga mempererat solidaritas sosial, dengan masyarakat bekerja sama dalam suasana gotong royong. Survei pasca-kegiatan menunjukkan bahwa 90% masyarakat merasa puas dengan manfaat Gerakan Hijau, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi. Pohon kemiri yang ditanam mulai menghasilkan panen setelah satu tahun, memberikan pendapatan tambahan bagi 50 keluarga petani. Selain itu, vegetasi yang meningkat di sekitar Sungai Manuhing membantu mengurangi intensitas banjir musiman, yang sebelumnya merusak 20% lahan pertanian setiap tahun. Peningkatan keanekaragaman hayati juga terlihat, dengan kembalinya beberapa spesies burung lokal yang sebelumnya menghilang akibat deforestasi. Namun, beberapa tantangan juga dihadapi selama pelaksanaan kegiatan. Kurangnya akses terhadap bibit berkualitas dan peralatan pertanian menjadi kendala utama, terutama bagi masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Selain itu, sekitar 10% masyarakat masih menunjukkan sikap apatis terhadap kegiatan penghijauan, karena mereka lebih Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Gusnia Devianti, et., al/ Gerakan Hijau: Sosialisasi memprioritaskan kebutuhan ekonomi jangka pendek. Untuk mengatasi tantangan ini, tim Gerakan Hijau bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyediakan bibit gratis dan peralatan sederhana, serta meningkatkan edukasi tentang manfaat jangka panjang penghijauan Gambar 1. Sosialisasi Penanaman Dan Perawatan Kegiatan Gerakan Hijau di Tumbang Habaon menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas dapat secara signifikan meningkatkan kesadaran lingkungan di kalangan masyarakat pedesaan. Sosialisasi yang dilakukan melalui seminar dan diskusi kelompok berhasil mengubah persepsi masyarakat terhadap pentingnya menanam pohon, dengan 80% peserta menyatakan pemahaman baru tentang manfaat ekologis seperti pencegahan erosi dan pengendalian banjir. Pendekatan ini sejalan dengan temuan Saepudin et al. (2025), yang menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan lingkungan. Keterlibatan tokoh adat dan pemuka agama dalam sosialisasi memperkuat legitimasi kegiatan, sehingga masyarakat lebih antusias untuk terlibat. Selain itu, penggunaan media visual seperti poster dan video membantu menyampaikan informasi secara efektif, terutama bagi masyarakat dengan tingkat pendidikan rendah. Data survei menunjukkan bahwa sebelum kegiatan, hanya 40% warga yang memahami hubungan antara vegetasi dan pengendalian bencana alam. Setelah sosialisasi, angka ini meningkat tajam, mencerminkan efektivitas metode komunikasi yang digunakan. Keberhasilan ini juga didukung oleh budaya gotong royong yang kuat di Tumbang Habaon, yang memungkinkan mobilisasi masyarakat secara cepat. Namun, tantangan seperti keterbatasan literasi lingkungan pada beberapa kelompok usia tetap memerlukan pendekatan yang lebih intensif. Secara keseluruhan, sosialisasi menjadi fondasi penting untuk keberlanjutan program penghijauan ini (Saepudin et al., 2025). Pelatihan teknis yang diberikan kepada masyarakat Tumbang Habaon memainkan peran krusial dalam meningkatkan keterampilan praktis dalam budidaya tanaman. Sebanyak 200 warga, termasuk petani dan pemuda, dilatih untuk memilih bibit berkualitas, mengolah lahan, dan merawat pohon dengan teknik yang benar. Pelatihan ini mengadopsi pendekatan langsung di lapangan, seperti yang dilakukan oleh Gea & Gea (2023) dalam budidaya pinang betara di Nias Utara. Peserta pelatihan menyatakan bahwa mereka kini lebih memahami pentingnya pemupukan dan pengendalian hama untuk memastikan pertumbuhan pohon yang optimal. Pendampingan oleh ahli pertanian selama pelatihan memungkinkan masyarakat untuk bertanya langsung dan menyelesaikan masalah teknis secara real-time. Sebanyak 90% peserta melaporkan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Socius E-ISSN: 3025-6704 peningkatan kepercayaan diri dalam menanam pohon setelah mengikuti pelatihan. Hal ini penting karena banyak pohon yang ditanam dalam program sebelumnya gagal tumbuh akibat kurangnya pengetahuan teknis. Pelatihan juga memperkenalkan konsep agroforestri, yang memungkinkan integrasi pohon produktif dengan tanaman pangan. Namun, keterbatasan akses terhadap peralatan modern menjadi kendala bagi beberapa peserta. Oleh karena itu, pelatihan di masa depan perlu menyediakan solusi praktis untuk mengatasi Tumbang Habaon. Vegetasi baru dan peningkatan keanekaragaman hayati menciptakan pemandangan yang menarik bagi wisatawan. Menurut Lisdayanti et al. (2024), ekowisata berbasis konservasi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 20%. Masyarakat mulai merencanakan pengembangan jalur wisata alam di sekitar lahan penanaman pohon. Pemuda desa juga mengusulkan pembuatan area edukasi lingkungan untuk pengunjung, seperti taman botani sederhana. Namun, kurangnya infrastruktur, seperti jalan dan fasilitas penginapan, menjadi tantangan utama. Untuk mengatasi ini, tim Gerakan Hijau mengusulkan kerja sama dengan dinas pariwisata setempat. Potensi ekowisata ini juga meningkatkan motivasi masyarakat untuk terus merawat pohon. Dengan demikian, Gerakan Hijau membuka peluang baru untuk pembangunan ekonomi berbasis lingkungan. Program ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat menjadi katalis untuk inovasi ekonomi lokal (Lisdayanti et al., 2024). Keberlanjutan Gerakan Hijau di Tumbang Habaon bergantung pada komitmen jangka panjang masyarakat dan dukungan eksternal. Pembentukan kelompok tani hutan dan keterlibatan pemuda memberikan fondasi yang kuat untuk kelanjutan program. Menurut Samah et al. (2021), program penghijauan yang melibatkan masyarakat memiliki peluang keberhasilan 70% lebih tinggi dibandingkan program top-down. Masyarakat Tumbang Habaon kini memiliki keterampilan dan motivasi untuk melanjutkan penanaman dan perawatan pohon secara mandiri. Namun, keterbatasan dana untuk bibit dan peralatan tetap menjadi tantangan. Untuk mengatasi ini, tim Gerakan Hijau merencanakan penggalangan dana melalui donatur dan LSM. Selain itu, edukasi berkelanjutan diperlukan untuk menjaga kesadaran lingkungan masyarakat. Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis komunitas adalah kunci untuk pelestarian lingkungan yang berkelanjutan. Dengan demikian, Gerakan Hijau menjadi model yang dapat direplikasi di desa-desa lain di Indonesia. Program ini membuktikan bahwa keterlibatan masyarakat adalah jantung dari keberhasilan pelestarian lingkungan (Samah et al., 2021). Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, kabupaten Gunung Mas ini. Dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Juli 2025, pukul 13.00 – 16.00 WIB. Bertempat diaula desa tumbang Habaon. Dengan pesertanya adalah Ibu-ibu, bapak-bapak, dan mahasisawa KKN. Pengabdian tersebut dilakukan dengan cara melakukan sosialisasi penanaman dan perawatan pohon jambu biji, pete, jengkol. Latar belakang tujuan kami melaksanakan kegiatan ini adalah sebagai langkah strategis untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola tanaman secara baik dan berkelanjutan melalui kegiatan sosialisasi penanaman dan perawatan tanaman di Desa Tumbang Habaon. Sebagai desa yang memiliki potensi lahan cukup luas, pemanfaatan lingkungan secara produktif sebenarnya dapat memberikan manfaat besar bagi warga, baik dari segi ketersediaan pangan, peningkatan ekonomi, maupun pelestarian lingkungan. Namun pada kenyataannya, sebagian besar masyarakat masih menghadapi berbagai kendala dalam praktik budidaya, seperti pemilihan bibit yang kurang tepat, teknik tanam yang belum sesuai kaidah, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Gusnia Devianti, et., al/ Gerakan Hijau: Sosialisasi serta minimnya pemahaman tentang cara merawat tanaman agar tumbuh sehat dan berproduksi maksimal. Kurangnya informasi dan pendampingan teknis menyebabkan banyak tanaman tidak berkembang dengan baik, sehingga upaya penghijauan maupun pertanian skala kecil kurang memberikan hasil yang optimal. Selain itu, ancaman hama dan penyakit tanaman sering kali tidak ditangani dengan metode yang benar sehingga menghambat pertumbuhan tanaman dan menurunkan kualitas hasil panen. Di sisi lain, pemanfaatan pekarangan rumah dan lahan kosong di desa juga belum dimaksimalkan sebagai ruang tanam yang produktif. Melalui kegiatan sosialisasi ini, masyarakat diberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai cara memilih bibit berkualitas, pengolahan tanah yang tepat, teknik penanaman sesuai jenis tanaman, serta metode perawatan yang meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan, hingga pengendalian hama secara aman dan ramah lingkungan. Sosialisasi ini tidak hanya memberi pengetahuan teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan demonstrasi langsung agar peserta dapat mempraktikkan teknik yang diajarkan. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat tentang budidaya tanaman, diharapkan kegiatan ini dapat mendorong warga untuk lebih mandiri dalam mengelola tanaman, memanfaatkan lahan secara optimal, dan mengembangkan potensi pertanian lokal. Selain itu, sosialisasi ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan desa yang lebih hijau, bersih, dan produktif sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Desa Tumbang Habaon. SIMPULAN Kegiatan penyuluhan hukum dengan tema “Ibu Melek Hukum: Jangan Diam Saja Saat Anak Dilecehkan” yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKM Kelompok 40 Universitas Bina Bangsa. Di kampung Kalicaah, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang. Menunjukkan bahwa edukasi bidang hukum ke masyarakat ini termasuk ke dalam peran penting meningkatkan kesadaran dan pemahaman hukum dikalangan perempuan. Berdasarkan hasil penyuluhan, bisa disimpulkan bahwa pengetahuan hukum mengenai pelecehan dan kekerasan seksual di masyarakat masih bisa terbilang minim. Terutama bagi perempuan, anak-anak dan ibu rumah tangga. Sedangkan pada kenyataannya, negara telah memberikan perlindungan payung hukum mengenai hal ini. Terbukti dalam adanya UU TPKS, UU Perlindungan Anak, KUHP. Tetapi karena pengetahuan hukum dan minimnya edukasi ke masyarakat menjadi salah satu faktor penghambat dalam menegakkan hak-hak dan melindungi korban. Maka dari itu, penyuluhan seperti ini terbukti efektif dalam menjembatani pemahaman masyarakat terhadap hukum, juga mendorong keberanian agar bisa mengambil tindakan dan melapor ketika menghadapi kasus pelecehan seksual, bukannnya hanya diam saja. Dalam rangka mencegah maupun menangani kasus pelecehan, kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan perlu kerja sama antar beberapa pihak, tidak bisa hanya diberatkan ke salah satu pihak saja. Diperlukan sinergi kerja sama antar pemerintah, masyarakat, dan yang paling utama yaitu dari lingkungan keluarga khususnya para ibu. Agar dapat terlaksana dengan seharusnya. REFERENSI Amalia, R., Suhariyanti, E., & Aliva, M. (2021). Peningkatan kesehatan masyarakat melalui sosialisasi penggunaan Tanaman Obat Keluarga (Toga) di lingkungan Bandung. AS-SYIFA: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan. Masyarakat, 2(1), 31-36. Ayuchecaria, N., Oksal, E., Sri Martani, N., Kartika Komara, N., & Pereiz, Z. (2024). SKRINING FITOKIMIA DAN UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN HANJUANG MERAH Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Socius E-ISSN: 3025-6704 (Cordyline fruticose) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 7(1), 86–94. https://doi.org/10.36387/jifi.v7i1.1683 Beladona, S. U. M., Pereiz, Z., & Nugroho, W. (2023). Sosialisasi Pembuatan Sabun Padat dengan Penambahan Minyak Atsiri dari Kopi di SMAN 4 Palangka Raya Socialization on Making Solid Soap from Coffee Essential Oil in SMAN 4 Palangka Raya. Nawasena: Journal of Community Service, 01(01), 13–19. https://e-journal.upr.ac.id/index.php/JCS/index Efriyeldi, E., Mulyadi, A., Siregar, Y. I., Ananda, F., Taufik, H., Fuadi, I., ... & Lee, S. H. (2023). Sosialisasi peranan ekosistem mangrove dan aksi penanaman di desa teluk papal kecamatan bantan kabupaten bengkalis. Journal of Rural and Urban Community Empowerment, 5(1), 24-30. Gea, K., & Gea, N. (2023). SOSIALISASI BUDIDAYA TANAMAN PINANG BETARA (ARECA CATECHU L) (PENGOLAHAN LAHAN, PEMELIHARAAN DAN PANEN) DI DESA OMBOLATA KECAMATAN AFULU KABUPATEN NIAS UTARA. Haga: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), 105-110. Hardiansyah, M. A., Kurniasih, S., Naim, M., & Nulhakim, L. (2023). Pemberdayaan masyarakat Desa Kemanisan melalui sosialisasi pemanfaatan barang bekas Lingkungan, J. B., Neneng, L., Ngazizah, F. N., Oksal, E., & Pereiz, Z. (2025). BioLink THE EFFECT OF ORGANIC BIOFERTILIZER FROM BSF LARVAE ( Hermetia illucens ) AND LOCAL MICROORGANISM ON THE GROWTH OF CAISIM MUSTARD PLANTS. 11(2), 117–126. https://doi.org/10.31289/biolink.v11i2.13289 Lisdayanti, E., Najmi, N., Rahmawati, R., Wahyuni, S., Hasdanita, F., & Masrura, D.(2024). Edukasi pembibitan propagule mangrove berbasis konservasi sebagai peluang usaha masyarakat Peunaga Cut Ujong, Aceh Barat. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 9(2), 499-508. Maisarah, M., Dian, R., Ginting, M. S., Siregar, R. M., Barus, F. A., & Aznur, T. Z. (2024). Sosialisasi teknis dan peningkatan pemeliharaan kelapa sawit pada wilayah petani sawit rakyat Kelurahan Namu Ukur Selatan. Jurnal Pengabdian Masyarakat: Pemberdayaan, Inovasi dan Perubahan, 4(4). Nafisah, Z., Baktir, A., & Pereiz, Z. (2023). Konstruksi Pustaka Metagenom Prokariot Dari Permukaan Eucheuma Cottonii Untuk Mencari Gen Penyandi Κ-Karaginase. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 4(4), 497–507. https://doi.org/10.59141/jist.v4i4.613 Nafisah, Z., Rahman, S., Pereiz, Z., & Ratna Kumalasari, M. (2023). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Edukasi Pemanfaatan Limbah Cair Tempe Menjadi Biogas di Desa Habaring Hurung. Journal of Approriate Technology for Community Services, 5(1), 24–32. https://doi.org/10.20885/jattec.vol5.iss1.art4 Oksal, E., Fatah, A. H., Pereiz, Z., Fauzi, M. Z. L., Komara, N. K., & Pangestika, I. (2025). PELATIHAN PEMBUATAN LILIN AROMATERAPI DALAM PENINGKATAN KREATIVITAS SISWA SMAN 1 KASONGAN. 9(2), 1575–1583. Oksal, E., Nion, Y. A., Fatah, A. H., Pereiz, Z., Alfanaar, R., Zaki, A. M., Atviaputra, A. S., & Hasibuan, A. R. (2025). Peningkatan kemandirian petani melalui sosialisasi konversi biomassa pascapanen menjadi pupuk organik pada kelompok tani suka maju. 9(5), 6–9. Pereiz, Z. (2024). Analysis of Hexadecyltrimethoxysilane Nanosol Hybrids through optimization of Silica Nanosol Concentration and determining fabric types on Hydrophobicity Analysis of Silica-Hexadecyltrimethoxysilane Nanosol Hybrids through optimization of Silica Nanosol C. 15(1), 195–210. Pereiz, Z., Chuchita, C., Kumalasari, M. R., & Nafisah, Z. (2023). ANALISIS ASPARTAM DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE SERTA OPTIMASI KONSENTRASI NINHIDRIN DAN APLIKASINYA UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN DALAM MINUMAN ENERGI Zimon. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 326-334 Gusnia Devianti, et., al/ Gerakan Hijau: Sosialisasi Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 4(4), 508–525. Pereiz, Z., Nafisah, Z., Rahman, S., Ratna Kumalasari, M., Studi Kimia, P., Palangka Raya, U., & Studi Farmasi, P. (2023). Mengurangi Emisi Gas (Zimon Pereiz dkk.) | 119 Nanggroe. Jurnal Pengabdian Cendikia, 2(6), 119–126. https://doi.org/10.5281/zenodo.8393970 Pereiz, Z., Oksal, E., Angel, J., Suma, A., & Afli, F. (2024). Teknik Pengelolaan Sanitasi Lingkungan untuk Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat. 7, 2–8. Pereiz, Z., Oksal, E., Chuchita, C., Sylvani, M. M., & Kartika, N. (2024). Permen Buah Karamunting : Inovasi Pangan Lokal untuk Penanggulangan Stunting pada Anak ( Karamunting Fruit Candy : Local Food Innovation to Reduce Stunting in Children ). 4(4), 571–577. Pereiz, Z., Oksal, E., Ratna, M., Telaumbanua, S., Sabatini, F., Solla, A., Hutabalian, G., Arnia, O., Devianti, G., Apriyanti, M., Prayoga, A., Tundan, A. I. L., & Dandy, J. (2025). Sosialisasi dan Edukasi Bahaya Narkoba bagi Siswa-Siswi SMPN 4 Tewah , Kabupaten Gunung Mas , Provinsi Kalimantan Tengah. 4(4). Pereiz, Z., Oksal, E., Sylvani, M. M., & Irawan, A. (2025). The Potential of Ironwood as an Activated Carbon Adsorbent for Heavy Metal Mercury ( Hg ) using the Pyrolysis Method Potensi Kayu Ulin Sebagai Adsorben Karbon Aktif Untuk Logam Berat Merkuri ( Hg ) Menggunakan Metode Pirolisis. 19(1), 25–36. Pereiz, Z., Oksal, E., Sylvani, M. M., Pebriyanto, Y., Hairiah, R., Eka, A., Prastiti, J., Dasilva, C. B., Anatasya, V., & Prisnanda, R. (2025). Potential of Jackfruit Wood as Activated Carbon for Adsorption of Heavy Metal Mercury ( Hg ) through Pyrolysis Method. 35–46. https://doi.org/10.24252/al-kimia.v13i1.51876 Pereiz, Z., Pebriyanto, Y., Naulita Turnip, O., Maya Sylvani, M., Karelius, K., Putra Ramdhani, E., Chuchita, C., Agnestisia, R., Horale Pasaribu, M., & Prasetya Toepak, E. (2023). Synthesis of MIL-100(Fe)@Fe3O4 from Magnetic Zircon Mining Waste Modified by CTAB for Naphthol Dye in Water Removal. BIO Web of Conferences, 79. https://doi.org/10.1051/bioconf/20237912005 Pereiz, Z., Sudyana, I. N., Oksal, E., & Sylvani, M. M. (2024). Pelatihan Pembuatan Dodol dari Terong Ungu ( Solanum melongena ) pada Kelompok Tani Kelurahan Habaring Hurung. 6, 739–746. Ratna Kumalasari, M., Pereiz, Z., & Chuchita, C. (2023). Pengaruh pH Agen Pereduksi Serin Terhadap Sintesis Nanopartikel Emas. COMSERVA Indonesian Jurnal of Community Services and Development, 2(12), 2912–2918. https://doi.org/10.59141/comserva.v2i12.727 Saepudin, E. A., Yuliana, R., Adelio, R., Indriani, C. I., Muslimah, I., Wijaya, Y., & Yani, A. (2025). Sosialisasi Peduli Lingkungan: Dari Desa Tanam, Rawat, dan Lestarikan Bersama KKM 36 Desa Kertasana Pandeglang: Pengabdian. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(1), 4161-4167. Samah, E., Misdawati, M., Esther, J., Manullang, H., Rinanda, T., & Ismayani, I. (2021). Sosialisasi Penanaman Pohon Mangrove di Kawasan Tempat Wisata Pantai Cermin. Journal Liaison Academia and Society, 1(3), 1-8. Saragih, S. Z., Junita, J., Toni, T., Anjar, A., Adi, P. N., Tyas, A. D. A., ... & Putri, S. (2022). Sosialisasi Penanaman Pohon Sebagai Wujud Peduli Lingkungan di Desa Bandar Kumbul. Ika Bina En Pabolo: Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(1), 49-53. Segah, H., Oksal, E., Pereiz, Z., & Supriyati, W. (2024). PENGUJIAN KUALITAS ARANG DARI SERBUK ULIN DENGAN 2 METODE PENGERINGAN. 42(2).