scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

DARAH KERBAU DI TANAH LELUHUR: MAKNA SAKRAL KURBAN DALAM TRADISI DETUNGGALI

Fransiskus Saverius, Minggu; Yulianus, Kian; Jefrianus Ulu, Manek; Kornelia Valentina, Nona; Magdalena Yuliani Nona, Afni; Yohanes, Dju

Abstract

Tradisi kurban kerbau di Tana Persekutuan Detunggali merupakan ekspresi budaya dan spiritual yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Meskipun mayoritas masyarakat Detunggali telah memeluk agama Katolik, ritus kurban ini tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan wujud rasa syukur atas kehidupan. Artikel ini bertujuan untuk menggali makna sakral dari ritus kurban kerbau dalam konteks adat Lio, mengungkap perjumpaan iman Katolik dengan tradisi lokal, serta menelaah peran Gereja dalam menjaga keseimbangan antara adat dan iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus kurban kerbau bukan sekadar persembahan simbolik, tetapi juga sarana komunikasi spiritual dengan leluhur serta media pemersatu sosial dalam masyarakat. Dalam konteks umat Katolik, ritus ini dipahami sebagai bentuk inkulturasi iman, di mana nilai-nilai Kristiani berakar dan berbuah di dalam budaya lokal tanpa menghapus jati diri adat. Dengan demikian, tradisi kurban di Detunggali memperlihatkan bagaimana harmoni antara agama dan budaya dapat dijaga melalui penghargaan terhadap nilai-nilai leluhur dan pendampingan pastoral Gereja. The buffalo sacrifice tradition in the Federation Land of Detunggali is a cultural and spiritual expression that reflects a harmonious relationship between humans, nature, and ancestors. Although the majority of Detunggali’s community has embraced the Catholic faith, this sacrificial rite continues to be practiced as a form of respect for ancestral heritage and as an expression of gratitude for life. This article aims to explore the sacred meaning of the buffalo sacrifice rite within the context of Lio customs, to reveal the encounter between the Catholic faith and local tradition, and to examine the role of the Church in maintaining the balance between tradition and belief. The findings show that the buffalo sacrifice rite is not merely a symbolic offering but also serves as a medium for spiritual communication with ancestors as well as a unifying force within the community. For Catholic believers, the rite is understood as a form of faith inculturation, wherein Christian values take root and flourish within the local culture without erasing the identity of the tradition. Thus, the sacrificial tradition in Detunggali illustrates how harmony between religion and culture can be preserved through respect for ancestral values and pastoral accompaniment by the Church.

Full text

1 DARAH KERBAU DI TANAH LELUHUR: MAKNA SAKRAL KURBAN DALAM TRADISI DETUNGGALI Fransiskus Saverius Minggu 1 , Yulianus Kian 2 , Jefrianus Ulu Manek 3 , Kornelia Valentina Nona 4 , Magdalena Yuliani Nona Afni 5 , Yohanes Dju 6 Abstrak: Tradisi kurban kerbau di Tana Persekutuan Detunggali merupakan ekspresi budaya dan spiritual yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur. Meskipun mayoritas masyarakat Detunggali telah memeluk agama Katolik, ritus kurban ini tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan wujud rasa syukur atas kehidupan. Artikel ini bertujuan untuk menggali makna sakral dari ritus kurban kerbau dalam konteks adat Lio, mengungkap perjumpaan iman Katolik dengan tradisi lokal, serta menelaah peran Gereja dalam menjaga keseimbangan antara adat dan iman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritus kurban kerbau bukan sekadar persembahan simbolik, tetapi juga sarana komunikasi spiritual dengan leluhur serta media pemersatu sosial dalam masyarakat. Dalam konteks umat Katolik, ritus ini dipahami sebagai bentuk inkulturasi iman, di mana nilai-nilai Kristiani berakar dan berbuah di dalam budaya lokal tanpa menghapus jati diri adat. Dengan demikian, tradisi kurban di Detunggali memperlihatkan bagaimana harmoni antara agama dan budaya dapat dijaga melalui penghargaan terhadap nilai-nilai leluhur dan pendampingan pastoral Gereja. Kata Kunci: Tradisi Kurban, Detunggali, Inkulturasi, Iman Katolik, Budaya Lio. Abstract: The buffalo sacrifice tradition in the Federation Land of Detunggali is a cultural and spiritual expression that reflects a harmonious relationship between humans, nature, and ancestors. Although the majority of Detunggali’s community has embraced the Catholic faith, this sacrificial rite continues to be practiced as a form of respect for ancestral heritage and as an expression of gratitude for life. This article aims to explore the sacred meaning of the buffalo sacrifice rite within the context of Lio customs, to reveal the encounter between the Catholic faith and local tradition, and to examine the role of the Church in maintaining the balance between tradition and belief. The findings show that the buffalo sacrifice rite is not merely a symbolic offering but also serves as a medium for spiritual communication with ancestors as well as a unifying force within the community. For Catholic believers, the rite is understood as a form of faith inculturation, wherein Christian values take root and flourish within the local culture without erasing the identity of the tradition. Thus, the sacrificial tradition in Detunggali illustrates how harmony between religion and culture can be preserved through respect for ancestral values and pastoral accompaniment by the Church. Keywords: Sacrificial Tradition, Detunggali, Inculturation, Catholic Faith, Lio Culture. PENDAHULUAN Secara teoritis, isu mengenai kurban tetap menjadi topik yang hangat untuk didiskusikan dalam banyak diskusi akademis, baik dalam bidang studi agama, antropologi, etnologi, maupun teologi. Di sisi lain, dalam praktik, ada berbagai ritus kurban yang masih dikenal luas, dengan banyak individu yang terus menjalankan tradisi tersebut, baik dalam bentuk kurban yang bersifat tradisional dari budaya dan agama lokal maupun dalam konteks agama modern. Demikian pula, dalam kehidupan iman umat Kristen saat ini, banyak dari praktik keagamaan mereka terinspirasi dan berakar pada pemikiran tentang kurban. Sepanjang sejarah peradaban manusia, konsep kurban telah menjadi bagian penting dan mendalam dalam kehidupan manusia; pelaksanaan kurban telah menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam kehidupan Jurnal Penelitian Ilmu Humaniora JPIH, 8 (11), November 2025 ISSN: 21155640 Darah Kerbau Di Tanah Leluhur: Makna Sakral Kurban Dalam Tradisi Detunggali 2 sosial-religius masyarakat, sehingga ide dan praktik kurban sulit untuk dihilangkan dari kehidupan dan budaya manusia. 1 Dalam bingkai tindakan ritual atau tindakan religius, kurban dimengerti sebagai suatu tindakan atau perbuatan, yang melaluinya suatu persembahan dibawakan kepada suatu wujud ilahi atau kekuatan supranatural. Persembahan dimaksud bisa saja berupa bahan makanan atau sesajian dan minuman, makhluk hidup (binatang atau tumbuhan), atau benda-benda lain seperti lilin, uang, emas dan perak. Benda-benda ini dipersembahkan seturut tujuan dan maksud dari orang yang membawakan kurban itu, sebagai sarana untuk masuk dalam kontak atau komunikasi dengan wujud yang mengatasi manusia, wujud spiritual atau ilahi atau supranatural. 2 Hal ini juga tampak nyata di Tana Persekutuan Detunggali, sebuah wilayah adat yang berada di tengah budaya Lio, di mana ritus kurban kerbau menjadi wujud konkret dari keterikatan antara manusia, leluhur, dan kekuatan ilahi. Melalui ritus kurban kerbau, masyarakat tidak hanya menegaskan identitas budaya mereka, tetapi juga memelihara harmoni sosial serta spiritual yang diwariskan secara turun-temurun. Ritus ini tidak dilakukan setiap tahun, melainkan dalam siklus tiga tahunan, yang disebut nggua ria. Siklus ini bukan hanya sekadar jadwal, tetapi juga memiliki makna agama dan kosmologi. Masyarakat percaya bahwa waktu pelaksanaan sudah ditentukan oleh leluhur, jadi tidak boleh diganti semau hati. Ketepatan waktu dianggap mampu menjaga keseimbangan antara manusia, tanah, dan roh penjaga kampung. Pandangan ini menegaskan bahwa kehidupan manusia selalu terkait dengan keseimbangan alam semesta. 3 Kerbau yang menjadi pokok dalam ritus ini memiliki makna yang sangat penting. 4 Dalam pandangan masyarakat Lio, kerbau bukan hanya hewan bernilai ekonomi, tetapi juga makhluk yang dipersembahkan dan dianggap sangat mulia. Pengorbanan kerbau melambangkan penghargaan tertinggi terhadap leluhur, sekaligus sarana komunikasi antara dunia manusia dan dunia roh. Prosesnya diatur dengan sangat ketat dan hanya bisa dilakukan oleh mosa laki tokoh adat yang berwenang secara spiritual dan telah menjalani puasa serta doa. Kerbau yang dikurbankan bukan milik seseorang, tetapi hasil donasi bersama masyarakat adat. Dengan demikian, ritual ini bukan hanya tindakan keagamaan, tetapi juga simbol persatuan dan hubungan sosial yang memperkuat identitas masyarakat Detunggali sebagai satu kesatuan. Menariknya, tradisi kurban ini masih hidup meskipun sebagian besar masyarakat Detunggali kini beragama Katolik. Bukan hanya diabaikan, tetapi dijaga dengan baik bersama ajaran Gereja. Banyak umat Katolik setempat menganggap tradisi kurban bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan iman, tetapi bentuk penghormatan kepada warisan budaya leluhur. Prinsip “agama bisa berubah, tetapi adat tetap dijaga” sering diungkapkan untuk menunjukkan sikap ini. Di sini terlihat bentuk inkulturasi iman yang khas: iman Kristen tidak menggantikan seluruh adat, tetapi menemui dan bersikap dialog dengan nilai-nilai budaya setempat. 5 Ritus kurban kerbau pun menjadi 1 Puplius Meinrad Buru, Kurban Yang Berkenan Kepada Allah: Kurban Dalam Tradisi Gereja Dan Diskursus Teologi (Maumere: Penerbit Ledalero, 2025), hlm. 1. 2 Ibid., hlm. 11-12. 3 Kosmas Minggu, “PATI KA TII SEPA: Ritus Korban Masyarakat Adat Ende-Lio di Kabupaten Ende”, Media Bina Ilmiah, 17:8 (Ende: Maret 2023), hlm. 2. 4 Tyas Wening, “Selalu Ada dalam Upacara Pemakaman Budaya Toraja, Mengapa Kerbau Penting untuk Masyarakat Toraja?” dalam Bobo id, Mei, 16, 2020, https://bobo.grid.id/read/082153547/selaluada-dalam-upacara-pemakaman-budaya-toraja-mengapa-kerbau-penting-untuk-masyarakattoraja?page=all, diakses pada 20 Oktober 2025. 5 Yohanes Berchmans W. Ngutra, Inkulturasi Iman dalam Konteks Budaya Flores-Lio, (Penerbit Ledalero, Maumere, 2019), hlm. 32. 3 jembatan antara keyakinan lama dan kepercayaan baru, antara dunia roh leluhur dan penghayatan akan Allah yang hidup dalam komunitas Katolik lokal. 6 Lebih lanjut, upacara ini memiliki fungsi sosial yang kuat. Tidak ada seseorang yang bisa melakukan sendirian, karena seluruh warga desa terlibat. Ada yang mempersiapkan bahan makanan, ada yang membantu tenaga, dan ada pula yang hadir bersama-sama. Momen ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan memperkuat rasa persatuan di tengah masyarakat. Menurut mereka, penyembelihan kerbau tidak hanya membawa berkah bagi desa dan ladang, tetapi juga memperbarui hubungan antarwarga serta hubungan manusia dengan alam. Selain itu, upacara ini juga memiliki unsur estetika dan simbolik seperti tarian tradisional, nyanyian, tenunan, dan senjata tradisional yang digunakan sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan keindahan yang lahir dari kepercayaan budaya. Dengan cara ini, masyarakat Detunggali terus menjaga keseimbangan antara warisan leluhur, keyakinan religius, dan identitas budaya di tengah arus modernisasi yang semakin cepat. 7 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan dua pendekatan utama, yaitu wawancara mendalam dan studi kepustakaan. Metode Wawancara Wawancara dilakukan dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, dan umat Katolik di wilayah Tana Persekutuan Detunggali, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende. Informan utama meliputi mosa laki (pemimpin adat), tokoh masyarakat senior, dan beberapa umat Katolik aktif yang terlibat langsung dalam ritus kurban. Melalui wawancara ini diperoleh pemahaman mendalam tentang makna simbolik, tata laksana ritual, serta pandangan masyarakat terhadap relasi antara adat dan iman. Metode Kepustakaan Kajian pustaka dilakukan untuk memperkuat analisis dengan landasan teoritis dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, dan tulisan etnografi tentang budaya Lio, konsep kurban dalam masyarakat tradisional, serta teologi inkulturasi dalam Gereja Katolik. Metode ini membantu menafsirkan temuan lapangan secara kontekstual dan ilmiah. Data yang diperoleh dari kedua metode tersebut dianalisis secara kualitatif interpretatif, dengan menekankan makna, nilai, dan fungsi sosial-ritual dari tradisi kurban kerbau. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami praktik adat bukan hanya sebagai fenomena budaya, tetapi juga sebagai ekspresi teologis dan sosial yang hidup dalam komunitas Katolik lokal. HASIL DAN PEMBAHASAN Makna Sakral Kurban Kerbau dalam Tradisi Detunggali Penjelasan Adat dan Konteks Ritual Tana Persekutuan Detunggali terletak di Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Wilayah adat ini mencakup beberapa desa, seperti Aendoko, Ekolea, Sokoria, dan Fataatu, serta pusat adatnya berada di Kampung Lewumbangga. Di sini terdapat rumah adat dan tubu musu mase ruang suci bagi leluhur dan tempat kehidupan mereka. Bagi masyarakat Detunggali, tanah bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga bentuk roh kehidupan yang diwariskan oleh leluhur. Karena itu, setiap 6 Puplius Meinrad Buru, Teologi Fundamental: Sebuah Pengantar Umum (Materi Kuliah, IFTK Ledalero, 2020), hlm. 109. 7 Wilfridus F. Muda, Adat, Iman, dan Solidaritas Sosial di Flores Timur (Ledalero Press, Maumere, 2021), hlm. 45-67. Darah Kerbau Di Tanah Leluhur: Makna Sakral Kurban Dalam Tradisi Detunggali 4 upacara adat adalah cara mereka menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan roh penjaga kampung 8 . Ritual kurban kerbau menjadi salah satu cara untuk menunjukkan kesetiaan komunitas terhadap warisan leluhur dan menghormati Sang Pemberi Hidup yang disangka selalu menyertai mereka melalui tanda-tanda alam. Ritual ini telah berlangsung sejak zaman nenek moyang dan tetap terjaga meski ada berbagai perubahan sosial dan agama yang masuk ke wilayah Ende-Lio. Setiap tiga tahun, masyarakat Detunggali mengadakan upacara nggua ria, acara besar yang juga melibatkan renovasi rumah adat. Hewan yang dikurbankan bervariasi, seperti babi, anjing, atau ayam. Namun kerbau lebih tinggi maknanya karena melambangkan kekuatan, kesuburan, dan kehormatan. Menurut Gregorius Neonbasu, di banyak masyarakat Flores, hewan kurban berfungsi sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia roh, juga sebagai sarana komunikasi spiritual untuk memperkuat kesetiaan kepada leluhur. 9 Keyakinan ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Lio, kurban bukan cuma tindakan simbolik, tetapi juga bentuk iman yang diwariskan melalui adat. Pelaksanaan ritual dimulai dengan musyawarah adat untuk memutuskan waktu acara sesuai petunjuk leluhur. Selanjutnya, masyarakat mengumpulkan uang atau iuran bersama. Para mosa laki tokoh adat laki-laki lalu menjalani masa puasa dan doa untuk menyucikan diri. Pada hari upacara, seluruh masyarakat berkumpul di kawa (tanah pusat kampung), tempat leluhur diyakini hadir. Di sana dilakukan doa adat, lalu penyembelihan kerbau oleh mosa laki utama. Darah kerbau dipercikkan ke tanah sebagai simbol kesuburan dan pemulihan keseimbangan alam. 10 Daging kerbau diramu dan dimakan bersama di tempat ritual sebagai tanda persaudaraan dan tanggung jawab bersama. Upacara ditutup dengan tarian gawi adat yang menjadi ungkapan rasa syukur atas perlindungan leluhur dan berkat kehidupan yang terus berlanjut. Wawancara Tokoh Adat dan Masyarakat Dalam wawancara dengan Bapa David Mboi, selaku mosa laki yang memimpin pelaksanaan ritus kurban di Kampung Lewumbangga, ia menjelaskan bahwa makna kurban kerbau bagi komunitas Detunggali terletak pada kesetiaan manusia terhadap leluhur dan tanah tempat berpijak. “Kerbau itu bukan sekadar hewan, tapi lambang penghubung kami dengan para arwah penjaga kampung,” ujarnya tenang sambil menunjuk ke arah tubu musu mase, tempat suci di tengah kampung. Menurutnya, setiap darah yang menetes di tanah menjadi tanda bahwa manusia masih ingat asal-usulnya dan tidak melupakan doa yang diwariskan nenek moyang. Bapa David juga menegaskan bahwa kurban bukan hanya untuk memohon berkat panen atau keselamatan, tetapi juga untuk memperbarui hubungan kasih antara manusia dan roh pelindung kampung. “Kalau kami tidak lagi mempersembahkan kurban,” katanya, “itu sama artinya kami menutup pintu bagi leluhur yang selalu menjaga kami.” 11 Sementara itu, Bapa Sebastianus Roni, tokoh masyarakat tertua di Fataatu Timur, memandang kurban kerbau sebagai lambang kerja keras dan ketulusan hati. Ia mengatakan, “Kerbau itu lambang kesetiaan, tidak pernah berhenti bekerja dan tidak menolak beban. Itulah sebabnya dia paling layak dijadikan persembahan.” Baginya, 8 Robert Lawang, Kebudayaan dan Religi Orang Flores: Suatu Kajian Antropologis (Yogyakarta: Kanisius, 2017), hlm. 102 9 Gregorius Neonbasu, Kebudayaan dan Spiritualitas di Nusa Tenggara Timur: Sebuah Pendekatan TeoAntropologis (Maumere: Ledalero Press, 2016), hlm. 88. 10 Donatus R. Duka, Adat dan Relasi Kosmos: Studi tentang Ritus Persembahan di Flores Tengah (Maumere: Penerbit Ledalero, 2020), hlm. 55 11 Hasil wawancara dengan Bapa David Mboi, Mosalaki Tana Persekutuan Detunggali, Via WhatsApp, di Wairpelit, pada 21 Oktober 2025. 5 dalam setiap penyembelihan, ada pesan moral bahwa manusia harus belajar dari kerbau: kuat, sabar, dan setia kepada tanah serta komunitasnya. 12 Dalam pandangan ini, ritus kurban tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mengandung nilai pendidikan moral bagi generasi muda. Ibu Kristina Natalia Eka, yang aktif dalam kegiatan adat perempuan, menambahkan bahwa prosesi kurban juga memperlihatkan rasa kebersamaan. Menurutnya, setelah kerbau dikurbankan, semua warga tanpa kecuali bersama sama menikmati jamuan dari daging kerbau tersebut. “Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah,” katanya lembut, “karena berkat leluhur adalah milik semua.” 13 Sementara Bapa Geradus Pake, tokoh masyarakat lainnya, menyoroti makna kurban dari sisi keseimbangan alam dan kehidupan bersama. Ia menyampaikan keyakinan bahwa jika ritus ini tidak dilaksanakan pada waktunya, keseimbangan kampung bisa terganggu. “Kami tidak bilang kutukan,” ujarnya, “tapi hidup akan terasa tidak beres bisa panen gagal, ternak sakit, atau tanah jadi kering.” Ia meyakini bahwa ritus kurban merupakan cara leluhur mengajarkan manusia untuk selalu bersyukur dan menjaga alam. 14 Tanpa kurban, manusia mudah lupa pada sumber hidupnya. Bagi masyarakat Detunggali, pelaksanaan ritus kurban kerbau bukan hanya tentang mempertahankan tradisi, tetapi juga tentang menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan arwah leluhur. Ritus ini menjadi jantung kehidupan adat menghidupkan nilai persaudaraan, kesetiaan, dan rasa hormat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. Umat Katolik dan Partisipasi dalam Ritus Kurban Siapa Yang Terlibat dalam Ritus? Ritus kurban kerbau di Tana Persekutuan Detunggali menjadi peristiwa sosial dan spiritual yang merangkul seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan agama. Umat Katolik yang mendominasi wilayah ini turut berpartisipasi penuh, bersama dengan beberapa warga Muslim yang juga hadir sebagai bagian dari komunitas. Bagi mereka, ritus ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan atas kehidupan dan hasil bumi, serta bentuk penghormatan terhadap leluhur yang telah mewariskan tanah dan tradisi. Partisipasi umat Katolik bukan semata karena kewajiban adat, melainkan karena keyakinan bahwa iman sejati juga hidup di dalam kebersamaan dan penghargaan terhadap warisan budaya. Dalam pelaksanaan ritus, setiap orang memiliki peran yang jelas. Para bapa terlibat langsung dalam mempersiapkan kerbau kurban, menata tempat upacara, dan membantu tokoh adat seperti Bapak David Mboi, yang memimpin jalannya ritual dengan doa dan ucapan adat. Para ibu bertanggung jawab memasak bersama di dapur umum, menyediakan hidangan bagi seluruh peserta, dan menjaga semangat kebersamaan di tengah kesibukan. Sementara itu, anak-anak muda menjadi pelayan adat membantu membawa air, menyiapkan perlengkapan, dan mengatur jalannya prosesi. Tidak ada yang hanya menjadi penonton; semua terlibat karena mereka memaknai ritus ini sebagai pesta iman dan budaya. Melalui keikutsertaan yang menyeluruh ini, umat Katolik menunjukkan wajah iman yang berpadu dengan nilai-nilai lokal. Bagi mereka, ritus kurban bukanlah hal 12 Hasil wawancara dengan Bapa Sebatianus Roni, masyarakat adat tana persekutuan detunggali, Via WhatsApp, di Wairpelit, pada 21 Oktober 2025. 13 Hasil Wawancara dengan Ibu Kristina Natalia Eka, masyarakat adat tana persekutuan detunggali, Via Whatsupp, di WhatsApp, pada 21 Oktober 2025 14 Hasil wawancara dengan Bapak Geradus Pake, masyarakat adat tana persekutuan detunggali, Via WhatsApp, di Wairpelit, pada 21 Oktober 2025 Darah Kerbau Di Tanah Leluhur: Makna Sakral Kurban Dalam Tradisi Detunggali 6 yang bertentangan dengan ajaran Gereja, melainkan sarana untuk mengungkapkan rasa syukur dan memelihara harmoni hidup. Mereka percaya bahwa Tuhan hadir juga dalam adat, dalam tanah yang subur, dan dalam persekutuan yang hangat antarwarga. Dalam suasana demikian, batas antara “iman” dan “adat” tidak lagi menjadi dinding pemisah, tetapi jembatan yang meneguhkan identitas bersama sebagai umat beriman dan anak budaya. Wawancara dengan Umat Katolik dan Tokoh Masyarakat Dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat dan umat Katolik, tampak bahwa alasan mereka tetap mengikuti ritus kurban adalah karena keyakinan bahwa adat merupakan bagian dari kehidupan iman yang utuh. Bapak Sebastianus Roni, salah satu tokoh masyarakat, menegaskan bahwa mengikuti ritus bukan berarti meninggalkan iman Katolik, tetapi menghormati warisan yang sudah dijaga oleh nenek moyang. “Kami percaya kepada Allah, tetapi kami juga tidak bisa melupakan tanah dan leluhur kami,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh hormat. Bagi beliau, ritus kurban menjadi cara nyata untuk menjaga keseimbangan antara iman dan budaya yang menghidupi komunitas Detunggali. 15 Hal senada disampaikan oleh Ibu Kristina Natalia Eka, seorang ibu Katolik yang juga aktif dalam kegiatan gereja dan adat. Ia menjelaskan bahwa ritus ini membuat warga semakin dekat satu sama lain dan memperkuat rasa tanggung jawab terhadap alam. “Kami ini orang Katolik, tapi juga orang kampung ini. Kalau tidak ikut, kami seperti kehilangan bagian dari diri kami sendiri,” tuturnya sambil tersenyum. Baginya, adat bukan hal yang bertentangan dengan iman, melainkan cerminan dari kasih dan penghargaan terhadap ciptaan Tuhan, yang juga diajarkan dalam Gereja. 16 Tidak ada pemisahan antara identitas religius dan kultural di Detunggali. Hal ini sejalan dengan ajaran misionaris Pastor Yoseph Smit, SVD, yang memperkenalkan konsep tiga A: Allah, Alam, dan Arwah. Ajaran ini menolong umat memahami bahwa iman tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya tempatnya tumbuh. Dengan demikian, kehadiran umat Katolik dalam ritus kurban bukanlah bentuk kompromi iman, tetapi kesaksian tentang bagaimana Injil dapat berakar dalam tanah dan budaya lokal menjadikan adat sebagai ruang perjumpaan antara manusia, leluhur, dan Allah. 17 Konsep inkulturasi dalam praktik lokal Bagi umat Katolik di Tana Persekutuan Detunggali, tradisi kurban kerbau tidak dianggap sebagai praktik yang berlawanan dengan ajaran Gereja, tetapi sebagai bentuk inkulturasi yang hidup dan nyata. Mereka telah lama memahami bahwa Allah dapat dijumpai dalam segala ciptaan di tanah, hewan, dan dalam kebersamaan manusia. Karena itu, penghormatan terhadap leluhur dan alam dilihat sebagai penghormatan terhadap karya Tuhan sendiri. Kepercayaan terhadap tiga A (Allah, Alam, dan Arwah) dipahami bukan sebagai sistem kepercayaan terpisah, melainkan sebagai cara lokal untuk mengekspresikan iman Katolik yang menyatu dengan budaya. Setiap kali ritus kurban akan dilaksanakan, umat Katolik mengawali kegiatan dengan Misa inkulturasi di gereja atau di halaman kampung. Dalam misa ini, bahasa lokal digunakan dalam doa, nyanyian, dan persembahan hasil bumi, sementara imam 15 Hasil wawancara dengan Bapa Sebatianus Roni, masyarakat adat tana persekutuan detunggali, Via WhatsApp 16 Hasil wawancara dengan Ibu Kristina Natalia Eka, masyarakat adat tana persekutuan detunggali, Via WhatsApp, di Wairpelit, pada 21 Oktober 2025 17 Hasil wawancara dengan Bapa David Mboi, Mosalaki Tana Persekutuan Detunggali, Via WhatsApp, di Wairpelit, pada 21 Oktober 2025. 7 memberikan berkat atas seluruh pelaksanaan adat. Setelah misa, umat bersama-sama menuju tempat suci untuk melanjutkan ritus adat. Perpaduan ini memperlihatkan bagaimana iman dan budaya dapat saling memperkaya: adat memberi warna lokal pada iman, dan iman memberi arah rohani bagi adat. Melalui praktik ini, umat Katolik Detunggali memaknai inkulturasi bukan hanya sebagai konsep teologis, tetapi sebagai kehidupan sehari-hari. Mereka hidup dalam dua dunia adat dan dunia Gereja namun keduanya berpadu dalam satu napas iman. Dalam darah kerbau yang tertumpah dan doa yang dinaikkan, mereka melihat tanda kesetiaan Allah yang terus menyertai kehidupan mereka. Ritus adat yang dulunya hanya simbol penghormatan kepada leluhur kini menjadi juga simbol pengharapan kepada Allah yang hadir dalam setiap unsur ciptaan. Itulah wajah iman Katolik yang tumbuh dari tanah Detunggali: sederhana, menyatu dengan budaya, namun tetap berakar pada kasih Tuhan. Iman, Konflik, dan Sikap Gereja Katolik Konflik iman: apakah terjadi? Dalam praktik kurban kerbau di Detunggali, umat Katolik tidak mengalami masalah keimanan. Mereka memahami dengan jelas bahwa kurban Yesus Kristus untuk keselamatan manusia telah dilakukan sekali untuk selamanya, jadi tidak perlu dilakukan kembali melalui penyembelihan hewan. Dalam konteks adat, kurban kerbau lebih dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan tanah tempat mereka tinggal, bukan sebagai pengganti ibadah kepada Tuhan. Dari wawancara dengan tokoh masyarakat dan umat setempat, terungkap bahwa partisipasi mereka dalam ritual ini tidak menimbulkan masalah spiritual. Justru, kegiatan ini memperkuat nilai-nilai seperti tanggung jawab, kepedulian, dan persatuan antarwarga. Karena memahami makna ritual ini, umat dapat menjalankan tradisi adat dengan tenang dan harmonis, menyadari bahwa budaya dan iman dapat hidup berdampingan tanpa menyebabkan rasa bersalah atau tidak setia terhadap Allah. Ritus kurban juga menjadi cara untuk mengajarkan generasi muda akan pentingnya menjaga warisan budaya, memperkuat ikatan sosial, serta menghargai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, peran Gereja di Detunggali sangat penting dalam membimbing umat agar partisipasi mereka tetap sesuai dengan iman Katolik. Meski ada keterlambatan dalam penjelasan resmi tentang ritual ini, Gereja tetap mendukung praktik adat dengan pendekatan inkulturasi. Pendekatan ini menekankan bahwa kurban cukup untuk bersyukur atas tanah dan memohon doa dari leluhur demi kesejahteraan komunitas, sedangkan permohonan rohani kepada Tuhan dilakukan melalui liturgi resmi di gereja. Dengan demikian, umat belajar menyeimbangkan dua hal: menghormati leluhur dan tradisi tanpa mengorbankan keyakinan kepada Tuhan. Pendekatan ini membantu menjaga identitas religius umat sekaligus memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal. Ritual kurban kerbau menjadi simbol keharmonisan antara iman dan tradisi, menunjukkan bahwa agama dan adat bisa hidup berdampingan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang utuh dan bermakna. Pandangan Gereja Katolik lokal Gereja Katolik setempat, melalui Romo Fransiskus yang bertindak sebagai Pastor Kuasi Paroki, menganggap partisipasi umat dalam upacara kurban kerbau sebagai peluang penting untuk menerapkan prinsip inkulturasi. Pendekatan ini menekankan penghargaan terhadap budaya setempat tanpa mengurangi keaslian iman Katolik. 18 Meskipun penjelasan resmi mengenai upacara tersebut tersedia dengan 18 Hasil Wawancara dengan Romo Fransiskus Sama, Pastor Kuasi Paroki Santo Matius Lewumbangga, Via Darah Kerbau Di Tanah Leluhur: Makna Sakral Kurban Dalam Tradisi Detunggali 8 sedikit keterlambatan, Gereja memberi pemahaman kepada umat bahwa persembahan hewan bisa diartikan sebagai cara untuk menyampaikan rasa syukur atas tanah dan doa kepada leluhur demi kesejahteraan komunitas. Namun, segala permohonan spiritual kepada Tuhan harus tetap dilakukan melalui liturgi resmi di Gereja. Dengan pemahaman ini, umat dapat menjalani tradisi adat dengan tenang, memahami batasbatas makna spiritual dan adat, sehingga tidak menyebabkan kebingungan atau konflik dalam iman mereka. Pendekatan Gereja yang mendukung partisipasi umat juga diiringi oleh bimbingan pastoral. Dalam hal ini, Gereja menegaskan bahwa upacara kurban adat tidak bertentangan dengan ajaran Katolik. Batasan yang diberikan membantu umat memahami bahwa persembahan hewan hanya dilakukan untuk menjaga warisan leluhur dan kesejahteraan komunitas, bukan sebagai bentuk ibadah langsung kepada Tuhan. Dengan cara ini, Gereja mampu menjaga keimanan umat sekaligus memungkinkan mereka menghargai tradisi lokal, menciptakan keseimbangan antara praktik keagamaan dan budaya setempat. Pendekatan yang harmonis ini menunjukkan bagaimana Gereja dapat menjadi jembatan antara iman dan budaya, sehingga umat Katolik Detunggali dapat menjalankan upacara kurban dengan makna yang dalam, sekaligus tetap setia pada ajaran Gereja. Mandat dan rekomendasi dari Gereja Gereja menggarisbawahi bahwa inkulturasi adalah pendekatan resmi dalam menerima partisipasi masyarakat. Panduan yang diberikan menekankan bahwa persembahan kurban cukup untuk menyampaikan rasa syukur terhadap tanah dan meminta doa dari leluhur, sedangkan hal-hal yang ditujukan kepada Tuhan harus dilakukan melalui liturgi di Gereja. Dalam praktiknya, Gereja tetap memantau agar tradisi adat tidak mengalihkan perhatian dari fokus iman kepada Allah. Peran Gereja sangat penting dalam menjaga keseimbangan ini: memastikan umat tetap berakar pada iman Katolik sekaligus menghargai warisan budaya. Dengan pendekatan ini, umat memahami bahwa menghormati leluhur dan melestarikan adat tidak berarti mengorbankan keyakinan, justru memperkuat identitas ganda sebagai umat beriman dan sebagai bagian dari komunitas budaya. Keberadaan Gereja sebagai pembimbing dan mediator membuat ritus kurban menjadi jembatan harmonis antara iman, adat, dan kehidupan sosial masyarakat. KESIMPULAN Tradisi kurban kerbau di Detunggali bukan sekadar praktik pemberian hewan, melainkan warisan sosial dan spiritual yang sarat makna. Melalui tradisi ini, masyarakat mengekspresikan rasa hormat kepada para leluhur sekaligus menjaga hubungan yang seimbang dengan alam dan komunitasnya. Bagi umat Katolik setempat, tindakan memberi hewan kurban tidak dimengerti sebagai pengganti ibadah kepada Tuhan, sebab mereka meyakini bahwa pengorbanan Yesus Kristus telah dilakukan satu kali untuk menebus dosa seluruh umat manusia. Dengan demikian, pemberian hewan dipahami sebagai ungkapan syukur atas tanah dan sebagai permohonan berkat bagi kesejahteraan komunitas, bukan sebagai tindakan kultis kepada leluhur. Dalam konteks ini, perjumpaan dialogis antara iman Katolik dan budaya lokal memegang peranan penting. Inkulturasi yakni upaya menyesuaikan penyampaian kebenaran wahyu dengan pola pikir dan mentalitas budaya setempat membantu WhatsApp, di Wairpelit, pada 21 Oktober 2025. 9 pewarta dan teolog memahami latar belakang suatu komunitas. Dengan mengenal cara hidup, sistem nilai, serta simbol-simbol budaya masyarakat, para pewarta lebih mampu menghadirkan Kabar Gembira secara relevan sehingga menjadi bagian integral dari kehidupan suku atau budaya tersebut. Proses ini memungkinkan komunitas-komunitas Kristen bertumbuh di atas “tanahnya sendiri” dan berakar kuat dalam kebudayaannya. Pada saat yang sama, nilai-nilai religius, norma, dan kearifan lokal memperkaya cara pandang Gereja terhadap Kitab Suci maupun dokumen-dokumen Gereja, sehingga memperkuat Gereja setempat sekaligus Gereja universal. 19 Tradisi kurban kerbau juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran moral dan sosial. Melalui tradisi tersebut, generasi muda diajarkan tentang tanggung jawab, kepedulian, persatuan, serta pentingnya menjaga relasi harmonis dalam komunitas. Nilai-nilai ini memperkuat identitas budaya yang diwariskan lintas generasi, sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat Detunggali. Gereja Katolik setempat, melalui Romo Fransiskus selaku Pastor Kuasi Paroki, memberikan pendampingan yang bijaksana terhadap praktik budaya ini. Gereja mendukung pelestarian tradisi dengan menetapkan batas yang jelas: pemberian hewan diperbolehkan sebagai ungkapan syukur atas tanah dan sebagai permohonan doa dari para leluhur, sedangkan segala permohonan rohani yang ditujukan kepada Tuhan harus dilakukan melalui liturgi resmi Gereja. Pendekatan ini menegaskan prinsip inkulturasi yang tidak hanya menjaga keutuhan iman Katolik, tetapi juga memelihara akar budaya masyarakat. Dengan demikian, tradisi kurban kerbau di Detunggali tidak menimbulkan konflik spiritual, melainkan memperkuat hubungan harmonis antara iman, adat, dan komunitas. Tradisi ini menjadi titik temu antara identitas sebagai pewaris budaya dan sebagai umat beriman, menghadirkan sebuah kesatuan yang saling memperkaya dan meneguhkan kehidupan masyarakat setempat. Refleksi pribadi kami menegaskan bahwa kurban kerbau bukan hanya ritual simbolik, tetapi juga sarana komunikasi spiritual dengan leluhur dan pemersatu komunitas. Ritus ini mengajarkan pentingnya keseimbangan antara menghormati tradisi lokal dan menjaga praktik keagamaan yang benar. Tantangan ke depan adalah bagaimana generasi muda dapat menjaga kelestarian adat tanpa kehilangan arah iman, sehingga harmoni antara budaya dan agama tetap terjaga. Seperti yang diungkapkan salah satu tokoh umat, “Kami tidak sedang menduakan iman, kami sedang meneruskan warisan leluhur yang bermakna,” sebuah pernyataan yang merangkum inti dari praktik kurban di Detunggali. Perspektif ini sejalan dengan pandangan Puplius Meinrad Buru bahwa pemahaman teologi kontekstual memungkinkan praktik religius menyesuaikan diri dengan realitas budaya lokal tanpa mengurangi kemurnian iman. 20 DAFTAR PUSTAKA I. BUKU Buru, Puplius Meinrad. Kurban Yang Berkenan Kepada Allah: Kurban Dalam Tradisi Gereja Dan Diskursus Teologi. Maumere: Penerbit Ledalero, 2025. Buru, Puplius Meinrad. Teologi Fundamental: Sebuah Pengantar Umum. Materi Kuliah, IFTK Ledalero, 2020. 19 Puplius Meinrad Buru, “Berteologi Dalam Konteks Indonesia Yang Multikultural”, Jurnal Ledalero, 19:1 (Ledalero: Juni 2020), hlm. 87. 20 Puplius Meinrad Buru, Teologi Kontekstual dan Dunia Ketiga (Ende: Nusa Indah Press, 2015), hlm. 88.