scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Analisis Sejarah Sosial Masyarakat Batubara Serta Dinamika Etnis dalam 'Mission to The East Coast of Sumatra' oleh John Anderson (Abad Ke-19)

Imran Maulana, Yusra Dewi Siregar, Kasron Muhsin Nasution

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 349-359 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17679815 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected], kasronnasut[email protected]c.id Analisis Sejarah Sosial Masyarakat Batubara Serta Dinamika Etnis dalam 'Mission to The East Coast of Sumatra' oleh John Anderson (Abad Ke-19) An Analysis of the Social History of the Batubara Community and Ethnic Dynamics in John Anderson’s Mission to the East Coast of Sumatra (19th Century) Imran Maulana1, Yusra Dewi Siregar2, Kasron Muhsin Nasution3 Universitas islam Negeri Sumatera Utara A B S T R A C T Masyarakat Batubara di Pesisir timur Sumatra memiliki kekayaan budaya dan struktur sosial yang unik, namun masih minim dikaji dalam perspektif sejarah sosial. Catatan perjalanan John Anderson dalam Mission to the East Coast of Sumatra (1823) memberikan gambaran penting mengenai kehidupan sosial, kepemimpinan adat, serta dinamika antar etnis di Batubara pada awal abad ke-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah sosial masyarakat Batubara serta pola dinamika etnis yang terjadi dalam konteks kolonial dan regional sebagaimana tergambar dalam karya Anderson. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis isi terhadap teks kolonial sebagai sumber primer, serta didukung oleh data sekunder berupa wawancara dengan tokoh lokal dan dokumentasi sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur sosial masyarakat Batubara terbentuk atas dasar sistem Kedatukan yang dipimpin oleh Datuk Empat Suku, yang tidak hanya memiliki peran adat, tetapi juga fungsi politis dan religius. Di sisi lain, dinamika etnis di Batubara berlangsung melalui interaksi antara Melayu,,Batak, yang menciptakan akulturasi budaya, kolaborasi ekonomi, serta munculnya ketegangan sosial yang disikapi melalui strategi diplomatik lokal. Representasi Anderson atas masyarakat Batubara memperlihatkan perspektif kolonial yang cenderung bias, namun tetap menyimpan nilai etnografis yang penting untuk mengkaji ulang sejarah lokal. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan sejarah sosial mampu merekonstruksi identitas kolektif dan relasi antar kelompok dalam konteks kolonialisme di Sumatra Timur. A B S T R A C T The Batubara community on the east coast of Sumatra possesses a unique cultural heritage and social structure, yet it remains insufficiently examined from a social-historical perspective. John Anderson’s travel account in Mission to the East Coast of Sumatra (1823) provides important insights into social life, traditional leadership, and interethnic dynamics in Batubara during the early 19th century. This study aims to uncover the social history of the Batubara community and to analyze patterns of ethnic dynamics that occurred within colonial and regional contexts as reflected in Anderson’s work. This research employs a qualitative method with a content-analysis approach to colonial texts as primary sources, supported by secondary data such as interviews with local figures and historical documentation. The findings show that the social structure of the Batubara community was built upon the Kedatukan system led by the Datuk Empat Suku, who held not only customary authority but also political and religious functions. Furthermore, ethnic dynamics in Batubara unfolded through interactions among Malay, Batak, and other groups, which fostered cultural acculturation, economic collaboration, and occasional social tensions that were addressed through local diplomatic strategies. Anderson’s representation of Batubara reveals a colonial perspective that tends to be biased, yet still offers significant ethnographic value for reassessing local history. Thus, this study affirms that a social-historical approach can effectively reconstruct collective identity and intergroup relations within the context of colonialism in East Sumatra. PENDAHULUAN Struktur sosial dan interaksi antar etnis di Batubara, sebagaimana tergambar dalam "Mission To The East Coast Of Sumatra," menunjukkan adanya pengaruh kuat dari nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi makan bersama berhadap-hadapan, misalnya, tidak hanya sebagai aktivitas sosial tetapi juga sebagai sarana memperkuat ikatan persaudaraan dan A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 15 November 2025 Available online 20 November 2025 Keywords Sejarah Sosial, Dinamika Etnis, Batubara, John Anderson, Kolonialisme Keywords: Social History, Ethnic Dynamics, Batubara, John Anderson, Colonialism This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Socius E-ISSN: 3025-6704 komunikasi antar anggota masyarakat (Sundari & Harahap, 2024). Interaksi sosial ini juga dipengaruhi oleh penelitilturasi budaya, seperti yang terjadi antara komunitas Jawa dan Melayu Batubara, yang menghasilkan fenomena linguistik dan nilai kepercayaan yang saling mempengaruhi (Sutikno et al., 2024). Budaya, tradisi, dan kepercayaan masyarakat Batubara dalam "Mission To The East Coast Of Sumatra" direpresentasikan melalui berbagai praktik lokal yang mencerminkan kearifan lokal dan nilai-nilai sosial. Tradisi makan bersama berhadap-hadapan mencerminkan prinsip gotong royong dan kebersamaan yang menjadi dasar kehidupan sosial masyarakat Melayu Batubara (Sundari & Harahap, 2024). Selain itu, interaksi budaya antara etnis yang berbeda, seperti antara etnis Tionghoa dan Hindu di Bali, menunjukkan pentingnya toleransi dan saling menghormati dalam menjaga harmoni sosial (Chandra et al., 2024). Struktur sosial dan interaksi antar etnis di Batubara sangat dipengaruhi oleh tradisi dan nilai-nilai Islam, sementara representasi budaya dan kepercayaan mencerminkan kearifan lokal dan pentingnya toleransi antar etnis. Tradisi seperti makan bersama dan penelitilturasi budaya menunjukkan bagaimana masyarakat Batubara menjaga harmoni sosial dan budaya di tengah keragaman etnis. Dengan keragaman etnik dan budaya, Batubara adalah wilayah di pantai timur Sumatera, Indonesia. Mayoritas penduduknya adalah orang Melayu, tetapi ada juga orang Jawa , batak dan Tionghoa. Identitas budaya mereka tercermin dalam bahasa, adat istiadat, dan simbol-simbol budaya yang masih hidup. Sejarah dan kekayaan budaya Batubara membentuk pola interaksi sosial yang unik, dengan budaya Melayu mendominasi tradisi dan pemerintahan. Sebagai simbol budaya, kain songket Batubara digunakan dalam berbagai acara adat dan resmi. Meskipun memiliki perbedaan etnik, masyarakat Batubara hidup bersama. Kehidupan yang inklusif ditunjukkan oleh interaksi sosial yang saling bergantung. Kebijakan pemerintah daerah yang mendukung pelestarian budaya, seperti penggunaan pakaian adat dan penguatan tradisi untuk mempertahankan identitas budaya Melayu Batubara, memperkuat pergeseran ini. (Khairuddin and Azhari 2017). Perjalanan John Anderson menjadi sumber penting yang memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat Melayu Batubara pada masa itu. Catatan perjalanan seperti yang dibuat oleh Anderson di dalam buku yang berjudul Mission To The East Coast Of Sumatra ,sering kali memberikan informasi yang tidak hanya dokumenter tetapi juga interpretatif, memberikan gambaran tentang interaksi antara berbagai budaya dan masyarakat. Misalnya, catatan perjalanan dapat menunjukkan bagaimana masyarakat lokal beradaptasi dengan pengaruh asing dan bagaimana identitas budaya mereka terbentuk dan dipertahankan (Abdullah 2017). memberikan wawasan yang cukup mendalam mengenai dinamika hubungan antar etnis, kondisi sosial dan ekonomi, serta bagaimana masyarakat lokal menyikapi kehadiran orang luar. Karena perbedaan budaya, tradisi, dan kepentingan yang saling berhadapan, interaksi antara John Anderson dan masyarakat Melayu Batubara menjadi menarik. John Anderson bertemu dengan banyak orang dari masyarakat Batubara selama perjalanan tersebut, termasuk para Datuk Batubara, yang berperan penting dalam kehidupan sosial dan politik setempat . Ketika melihat Berbagai dari Datuk Batubara, penting untuk melihat bagaimana masyarakat lokal melihat kedatangan orang asing dan apa yang mendorong sikap mereka, baik itu dalam kerangka perdagangan, diplomasi, atau bahkan ketegangan budaya (Anderson 1823). Situasi sosial dan ekonomi masyarakat Batubara saat kunjungan Anderson juga sangat penting. Pelabuhan yang ramai menunjukkan aktivitas perdagangan yang cukup berkembang, yang menunjukkan bagaimana mata pencaharian masyarakat berkembang dan bagaimana ekonomi luar Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Imran Maulana, et., al/ Analisis Sejarah Sosial Masyarakat mempengaruhi kehidupan mereka. Selain itu, konflik antara masyarakat Melayu dan Batak yang sempat tercatat dalam perjalanan Anderson juga menunjukkan betapa pentingnya masalah ini. LANDASAN TEORI Teori Antropologi Salah satu antropolog yang paling berpengaruh, Clifford Geertz dikenal karena pendekatannya dalam memahami agama dan budaya sebagai sistem makna. Karyanya betapa pentingnya memahami fenomena sosial dan budaya melalui interpretasi simbolik, terutama dalam konteks masyarakat tradisional. Geertz melihat agama sebagai struktur budaya yang menawarkan solusi budaya untuk masalah makna universal. Dia melihat agama sebagai sistem kepercayaan dan cara untuk memahami dan mengatur pengalaman hidup manusia dalam konteks sosial tertentu (Atkinson, 1983; Morgan, 1978). Dalam pendekatan interpretatif Geertz, ia menyebut “deskripsi tebal” simbol dan makna yang terkandung dalam praktik budaya dan keagamaan (Riady, 2021; Hasanov, 2014). Menurut Geertz, agama dan budaya merupakan sistem makna yang saling berkaitan. Dia menekankan bahwa agama harus dipahami dalam konteks sosial dan budayanya. Akibatnya, agama dipandang sebagai bagian penting dari sistem budaya yang lebih besar, bukan hanya sebuah entitas itu sendiri (Chhikara, 2022; Morgan, 1978). Selain itu, Geertz menekankan bagaimana agama dapat berfungsi sebagai alat untuk memahami dan mengatasi ketegangan sosial dan politik yang ada di masyarakat (Geertz, 2000; Hofstee, 1985). Teori Etnografi Teori etnografi menekankan pentingnya memahami kebudayaan manusia melalui maknamakna yang terkandung dalam tindakan dan bahasa masyarakat yang diteliti. Bahasa menjadi aspek utama dalam penelitian etnografi karena melalui bahasa, makna-makna kebudayaan dapat diungkap dan dipahami secara mendalam. Dalam praktiknya, seorang etnografer menggunakan berbagai pendekatan seperti observasi partisipatif, wawancara etnografis, serta pengumpulan kisah kehidupan untuk memperoleh pemahaman mengenai kehidupan sosial dan budaya masyarakat tertentu (Mohammad Siddiq 2019) . Pada awalnya, penelitian etnografi dilakukan oleh masyarakat Barat terhadap masyarakat non-Barat, sehingga pembelajaran bahasa penduduk asli menjadi prioritas utama dalam penelitian lapangan. Hal ini bertujuan untuk memahami kebudayaan dalam batasannya sendiri, bukan berdasarkan perspektif luar yang bisa menghasilkan bias. Namun, dalam perkembangannya, etnografi juga dilakukan di dalam masyarakatnya sendiri, sehingga penggunaan bahasa yang sama antara etnografer dan subjek penelitian menjadi lebih umum. Meskipun demikian, perbedaan semantik tetap ada, dan dapat memengaruhi interpretasi dalam penelitian. Teori Sosiologi Menurut teori sosiologi Bourdieu, habitus menggambarkan bagaimana individu menginternalisasi struktur sosial dan budaya yang ada, yang kemudian mempengaruhi tindakan dan persepsi mereka. Habitus memungkinkan individu untuk menavigasi dunia sosial dengan cara yang tampaknya alami dan otomatis, tetapi sebenarnya dipengaruhi oleh struktur sosial yang lebih luas (Bourdieu & Nice, 2020; Sulkunen, 1982; Huang, 2019). Habitus muncul sebagai hasil dari proses sosialisasi yang kompleks, Oleh karena itu orang mengembangkan disposisi yang mencerminkan posisi sosial mereka (Nair, 2024; Lizardo, 2004). Teori ini menekankan bahwa konflik dapat memiliki efek positif, seperti membangun struktur sosial dan mendorong perubahan sosial. Menurut Coser, konflik memiliki peran penting dalam memperkuat solidaritas di dalam suatu kelompok serta membantu proses integrasi sosial. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Socius E-ISSN: 3025-6704 Dalam situasi konflik, anggota kelompok cenderung meningkatkan rasa kebersamaan dan kesetiaan terhadap kelompoknya. Hal ini terjadi karena konflik sering kali memunculkan kesadaran kolektif terhadap identitas kelompok serta batas-batas sosial yang membedakan kelompok mereka dengan kelompok lain. Selain itu, konflik juga dapat menjadi pemicu terjadinya perubahan dalam struktur sosial yang lebih adaptif, sehingga kelompok dapat berkembang dan semakin solid dalam menghadapi tantangan eksternal. Dengan demikian, konflik tidak selalu bersifat negatif, tetapi justru dapat memberikan manfaat bagi penguatan dan integrasi suatu kelompok dalam masyarakat (Hong-Kun, 2008; Shafei & Kebangsaan, 2020). METODE PENELITIAN Analisis isi adalah teknik penelitian yang digunakan untuk menilai isi informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Metode ini biasanya digunakan dalam penelitian kualitatif. Teknik koding simbol, yang melibatkan pencatatan lambang atau pesan secara sistematis untuk kemudian diberikan interpretasi, adalah apa yang membuat Harold D. Lasswell dikenal sebagai pelopor dalam bidang ini. Analisis isi dapat didefinisikan sebagai metode yang memeriksa setiap aspek teks. Namun, analisis isi juga merujuk pada pendekatan analisis yang lebih khusus. Analisis isi, menurutHolsti, adalah metode untuk mencapai kesimpulan dengan secara sistematis, objektif, dan generalis menemukan fitur khusus dalam suatu pesan (ASFAR 2019). Sumber primer penelitian ini adalah buku John Anderson Mission to the East Coast of Sumatra, yang memuat catatan langsung mengenai kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di pesisir timur Sumatra abad ke-19, termasuk Batubara, serta menggambarkan interaksi penduduk lokal dengan pedagang asing, penguasa kolonial, dan berbagai dinamika konflik akibat persaingan dagang dan perebutan sumber daya. Adapun sumber sekunder terdiri dari buku dan jurnal akademik yang membahas sejarah sosial, struktur ekonomi, perdagangan, serta dinamika etnis di Sumatera Timur, ditambah wawancara dengan sejarawan, budayawan, dan tokoh masyarakat Batubara untuk memperoleh perspektif lokal yang melengkapi dan memperkuat interpretasi terhadap temuan dalam sumber primer. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejarah Sosial Masyarakat Batubara Dalam 'Mission To The East Coast Of Sumatra, In 1823 Sejarah sosial merupakan cabang historiografi yang berupaya menelusuri dinamika kehidupan masyarakat biasa, termasuk kelompok yang selama ini terpinggirkan dari narasi sejarah arus utama seperti petani, buruh, dan komunitas adat. Berbeda dari sejarah politik yang menonjolkan elite dan kekuasaan, sejarah sosial hadir untuk menggambarkan struktur, relasi, dan pengalaman keseharian masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu dengan pendekatan interdisipliner (Saimima, 2014). Secara umum, struktur sosial dapat dimaknai sebagai suatu konsep yang menggambarkan pola interaksi yang berlangsung secara konsisten dan berulang di antara dua individu atau lebih (Benjamin, Susetyo, and Mulyaningsih 2020). Struktur sosial awal masyarakat Batubara, yang menunjukkan sistem kepemimpinan khas dan terorganisir berdasarkan pembagian suku. Masyarakat Batubara terbagi ke dalam 4 suku utama: Suku Tanah Datar, Suku Pesisir, Suku Lima Puluh, Suku Lima Laras, Tiap suku dipimpin oleh seorang Datuk, kecuali Suku Lima Laras yang berada di bawah satu kepemimpinan bersama. Keempat Datuk ini dikenal sebagai Datuk Empat Suku atau Datuk Barampek, dan masing-masing memegang gelar adat yang menegaskan peran serta kedudukannya dalam struktur sosial: Datuk Lima Puluh bergelar Sri Bijuangsa, Datuk Tanah Datar bergelar Sri Pekerma Raja, Datuk Pesisir bergelar Maharaja Semu Wangsa, serta Datuk Lima Laras dan (Putra 2023). Di antara 4 Kedatukan tadi terpecah menjadi beberapa Kedatukan lagi di antaranya Kedatukan Tanah Datar Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Imran Maulana, et., al/ Analisis Sejarah Sosial Masyarakat terpecah menjadi Kedatukan bogak raja pertamanya Datuk Muhammad Husain, Pangakalan Pesisir terpecah lagi menjadi satu Kedatukan lagi yakni Kedatukan Pagurawan, ada Kedatukan baru muncul yakni Kedatukan Tanjung Limau Purut, dan Tanjung Kasau datang lagi rombongan dari Minang yang di pimpim oleh Datuk Sultan Palamina yang mendirikan Kedatukan Sipare Pare, di anatara 9 Kedatukan tadi hanya ada 4 suku utama yang telah di sampaikan di atas. 8 Kedatukan di bawah tangan Siak hanya Kedatukan tanjumg Kasau yang berlindung ke Aceh. Susunan kepemimpinan ini mencerminkan sistem sosial yang terstruktur, setiap unsur masyarakat menjalankan fungsinya secara terkoordinasi demi menjaga keteraturan dan kesinambungan sosial budaya masyarakat Batubara(Morna 2025). Keempat Datuk ini tidak hanya memegang otoritas adat, tetapi juga memiliki peran politik yang signifikan karena dilantik langsung oleh Sultan Siak. Hubungan antara Batubara dan Kesultanan Siak ini tercermin dalam berbagai peristiwa resmi, termasuk kehadiran para Datuk dalam upacara penghormatan terhadap surat dari Gubernur Pinang. Keterlibatan langsung mereka dalam misi diplomatik serta penghormatan yang diberikan kepada otoritas luar menunjukkan bahwa peran mereka melampaui pengelolaan internal suku, menjadi penghubung penting antara Kerajaan dan kekuatan politik regional lainnya (Anderson 1823). Istilah Datuk Empat Suku dalam konteks masyarakat Batubara pada awalnya merujuk kepada para kepala wilayah yang memimpin daerahnya masing-masing. Penggunaan istilah "suku" di sini bukanlah menunjuk pada nama wilayah administratif, melainkan merujuk pada kelompok sosial masyarakat yang mengikuti pola pembagian kekerabatan sebagaimana terdapat dalam sistem sosial masyarakat Minangkabau. Menurut tradisi lisan setempat, pembentukan struktur empat suku ini bermula dari kedatangan Datuk Belambangan, seorang bangsawan yang diyakini sebagai putra dari Raja Pagaruyung. Ia memimpin rombongan migrasi dari Minangkabau dan kemudian membentuk empat kelompok sosial utama di Batubara, yakni: Suku Lima Puluh (berasal dari wilayah Lima Puluh Koto), Suku Pesisir (berasal dari kawasan Pesisir Sumatera Barat), Suku Tanah Datar (berasal dari Tanah Datar), dan Suku Lima Laras (berasal dari kelompok Limo Lareh di Minangkabau). Struktur empat suku ini tidak bertahan lama. Melemahnya pengaruh budaya dan politik Minangkabau di wilayah Batubara, serta menguatnya dominasi Kesultanan Siak di bawah pemerintahan raja kecil berasil menakluki Batubara(Sinar 1990) , menyebabkan transformasi sosial yang signifikan. Dalam proses ini, konsep "suku" yang sebelumnya merepresentasikan kelompok sosial kekerabatan lambat laun berubah menjadi sekadar penanda wilayah administratif. Akibatnya, istilah suku dalam konteks ini lebih sering dipahami sebagai nama daerah daripada sebagai identitas sosial berbasis kekerabatan (Morna & Anwardi 2017) Struktur Sosial dalam pemerintahan Batubara terdiri dari dewan yang di pilih oleh datuk kepalah suku Batubara: a. Seorang syahbandar dari suku Tanah Datar b. Mata mata dari suku Lima Laras c. Juruh tulis dari suku Lima Puluh d. Penghulu batangan dari suku Pesisir (Sinar 1990). Setiap suku yang ada di Batubara memperoleh bagian dalam struktur pemerintahan adat, sebagai bentuk nyata dari prinsip keadilan dan kesetaraan antar suku dalam pengambilan keputusan dan pembagian jabatan. Masing-masing suku memiliki peran dan tanggung jawab yang diakui secara adat, dan diberikan kesempatan yang seimbang dalam mengisi jabatan-jabatan penting di lingkungan pemerintahan tradisional. Selain itu, para datuk dari empat suku di Batubara memiliki kewenangan penuh dalam menentukan berbagai keputusan adat dan kebijakan di wilayah kekuasaannya masing-masing. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Socius E-ISSN: 3025-6704 Pembacaan surat dari Gubernur Jenderal Penang, Sir Thomas Stamford Raffles, di hadapan sekitar 500 orang warga oleh Anderson menjadi peristiwa yang sarat makna. Meski tampaknya disambut dengan sukacita oleh masyarakat dan para datuk, respons tersebut perlu dibaca secara lebih kritis. Kegembiraan mereka mungkin lebih mencerminkan harapan terhadap akses dagang dan perlindungan dari Inggris, namun bisa juga merupakan bentuk kompromi politik dalam menghadapi tekanan geopolitik yang meningkat dari berbagai pihak, termasuk Belanda dan sisasisa pengaruh Kesultanan Siak. Timbul beberapa pertanyaan, kenapa Jhon Anderson datang ke Batubara? apakah hanya tentang perluasan ekonomi atau awal dari takluknya Batubara dari Inggris? Atau memang sudah ada pengaruh Inggris di Batubara?. Itu menjadi tanda tanya besar menganai kedatangan Jhon Anderson di Batubara. Ketika membaca narasi yang di tulis Jhon Anderson megenai samputan 4 suku ia dianggap sebagai pembawa berita gembira dari gubernur penang. Namun menurut tafsairan peneliti bahwa itu bukan sambutan dengan rasa gembira tapi sekedar menghargai kedatangannya saja. Kalau kita tarik kebelakang lagi tidak mungkin suku melayu Batubara menyambut kedatangan seorang orang asing yang menjajah saudara sebangsa di peneng. Menurut Buyung Morna dalam wawancara ia mengatakan bahwa 4 datuk yang datang tersebut hanya datuk yang kekuasaanya dekat dengan bogak dan aliran sungai disebabkan Jhon Anderson hanya datang di kawasan dekat sungai dan Pesisir pantai saja ( Wawamcara dengan Buyung Morna Pada senin 26 Mei 2025 Jam 09.30) Pernyataan tersebut bertolak belakang dari pernyataan di atas. Tapi yang tentu kedatangan Jhon Anderson di sambut gembira oleh para masyarakat Batubara menurut Anderson sendiri. Terlepas dari mana yang benar atau salah peneliti mengambil titik tengah bahwa 4 datuk yang hadir adalah 4 datuk utama yaitu Lima Laras, Tanah Datar, limah puluh dan Pesisir. Peran Para Datuk Para Datuk di Batubara memiliki kedudukan sentral dalam struktur pemerintahan dan sosial masyarakat Melayu di kawasan Pesisir timur Sumatra pada abad ke-19. Peran mereka bukan hanya sebagai kepala suku adat, tetapi juga sebagai tokoh administratif, politis, dan religius yang menjadi jembatan antara Kerajaan lokal, Kesultanan Siak, dan kekuatan kolonial asing seperti Inggris maupun Belanda. Keempat Datuk utama dari Suku Tanah Datar, Lima Puluh, Pesisir, dan Lima Laras memegang gelar adat yang menandakan status serta otoritas mereka di dalam sistem pemerintahan konfederatif Batubara. Datuk Tanah Datar, misalnya, bergelar Sri Pekerma Raja, sementara Datuk Lima Laras memegang gelar Datuk Maharaja Sri Indra Pura, yang menandai hubungan istimewa dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura (Faishal 2020). Peran strategis para Datuk dalam hubungan luar negeri tercermin pula dari aktivitas diplomasi mereka dengan pihak kolonial dan Kerajaan tetangga. Dalam hal ini, para Datuk bukan sekadar pelaksana adat, melainkan juga aktor politik yang memainkan peran aktif dalam mempertahankan otonomi politik Batubara. Sikap hati-hati dalam menyambut John Anderson meski dicatat sebagai sambutan meriah perlu dibaca dalam konteks kehati-hatian elite lokal terhadap potensi ekspansi pengaruh Inggris. Sementara narasi lokal menekankan bahwa keempat Datuk yang hadir adalah mereka yang berada dekat dengan aliran sungai dan wilayah Bogak, hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan Datuk juga sangat bergantung pada letak geografis dan urgensi strategis masing-masing Kedatukan(LUTHFIAH 2021). Posisi para Datuk tidak dapat dilepaskan dari struktur konfederatif Kedatukan yang memungkinkan terciptanya keseimbangan antara kekuasaan lokal dan suprastruktur Kerajaan. Dalam konteks tersebut, setiap Datuk memiliki kekuasaan tersendiri yang dibingkai oleh adat, namun tetap dalam ikatan spiritual dan administratif dengan Kesultanan. Hal ini menunjukkan adanya sistem pemerintahan tradisional yang canggih dan adaptif. Lebih dari itu, para Datuk juga Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Imran Maulana, et., al/ Analisis Sejarah Sosial Masyarakat menjadi aktor kultural dan religius yang mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam ke dalam kerangka adat lokal. Mereka menggunakan jalur tarekat, institusi masjid, serta kegiatan perdagangan dan diplomasi sebagai media untuk menguatkan identitas keislaman dan kemelayuan masyarakat Batubara Dinamika Antar Etnis Masyarakat Batubara Dalam 'Mission To The East Coast Of Sumatra, in 1823 Catatan perjalanan John Anderson dalam Mission to the East Coast of Sumatra, in 1823 memberikan dokumentasi awal yang berharga mengenai bentuk-bentuk interaksi sosial antar etnis di wilayah Batubara. Dalam laporannya, Anderson mencatat keberadaan komunitas multietnis yang terdiri dari Melayu, Batak, dan kelompok pendatang lainnya seperti Tionghoa dan India, yang semuanya berperan dalam jejaring perdagangan dan struktur kekuasaan lokal. Anderson mencatat bagaimana para penguasa lokal seperti para Datuk dan Syahbandar menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan pihak luar secara aktif dan strategis, termasuk dengan Inggris dan Belanda. Interaksi semacam ini tidak berlangsung secara sepihak, melainkan terjadi dalam suasana negosiasi dan diplomasi yang menunjukkan daya adaptasi masyarakat Melayu Batubara terhadap dinamika regional dan internasional (Anderson 1823). Buku Antropologi Melayu oleh Thamrin (2018) turut menegaskan bahwa keterbukaan orang Melayu terhadap pendatang merupakan bagian dari nilai dasar budaya mereka. Orang Melayu dikenal ramah, menjunjung tinggi musyawarah, dan menjadikan agama serta adat sebagai landasan dalam berinteraksi sosial. Nilai-nilai ini membuat interaksi antar etnis di Batubara berlangsung dalam suasana kohesi sosial dan saling menghormati. Bahkan, orang luar yang masuk ke dalam komunitas Melayu melalui jalur perkawinan, perdagangan, atau konversi agama sering kali dianggap “masuk Melayu”, sebagaimana ditegaskan dalam pepatah adat, “siapa memakai syara', maka ia masuk Melayu.” Dengan demikian, interaksi sosial antar etnis di Batubara pada abad ke19 merupakan cerminan dari masyarakat Pesisir yang inklusif dan kosmopolit, yang tetap menjaga identitasnya di tengah arus globalisasi awal kolonialisme (Thamrin 2018). Interaksi Batak Dengan Melayu di Batubara Kawasan wilayah Kedatukan Batubara tidak hanya di duduki suku melayu aja namun ada suku pendatang dari batak toba yang sudah lama menepati kawasan Batubara. Interaksi melayu dan batak tercatat di catatan Anderson. Dalam sepenggal catatan Anderson: “I obtained considerable information from the shabundar and tumungong, relative to the horrid practice of cannibalism, which exists in the interior of Batubara. The Battas here are a particularly ferocious race, and cannot be persuaded to give their attention to agriculture, or the quiet pursuits of commerce, being constantly engaged in warfare with each other. Both the tumungong and the Sri Maharaja had lived a long time in the Batta country, and were married, one to the daughter of the rajah of Seantar, the other to the daughter of the Rajah Tanah Jawa, two principal cannibal chiefs. A stout ferocious looking fellow, with muscular bandy legs, came in as I was conversing on the subject of cannibalism, and was pointed out to me as a celebrated marksman and man-eater. He had a most determined look, and my draughts man took a remarkably striking likeness of him. I made particular inquiries of him, and he gave me the following horrid details of cannibalism. He said that young men were soft, and their flesh watery. The most agreeable and delicate eating was that of a man whose hair had begun to turn grey.” Dalam sepengkal Catatan Anderson di atas memperlihatkan adanya interaksi sosial yang kompleks antara masyarakat Melayu Batubara dengan etnis Batak yang tinggal di pedalaman, dalam pandangan Anderson, masih menjalankan praktik kanibalisme. Menurut laporan Anderson, para pejabat penting Melayu seperti Shabandar, Tumungong, dan bahkan Sri Maharaja, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Socius E-ISSN: 3025-6704 menjalin hubungan keluarga dengan para pemimpin Batak yang disebut sebagai kepala suku kanibal seperti Raja Seantar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada jarak budaya dan nilai antara kedua kelompok, terdapat jalinan aliansi sosial dan politik melalui pernikahan antar etnis. Menurut Buyung Morna, tentang batak kanibal di Batubara, ia menganggapan bahwa orang Batak merupakan kanibal tampaknya tidak masuk akal dan cenderung mengada-ada. Ia menolak keras klaim tersebut dengan menegaskan bahwa kanibalisme yakni praktik memakan sesama manusia tidak sesuai dengan nilai-nilai dan martabat masyarakat Batak. Baginya, tuduhan seperti itu bukan hanya tidak berdasar, tetapi juga menyakitkan, karena melebihkan satu kelompok etnis dengan stigma kekejaman tanpa mempertimbangkan konteks sosial, budaya, dan sejarah yang lebih luas. Ia juga menyebut bahwa istilah "Bata" yang kerap digunakan secara kasar atau merendahkan justru mencerminkan prasangka kolonial yang keliru dalam memahami masyarakat pedalaman Sumatera. Narasi-narasi tentang kanibalisme yang beredar kemungkinan besar merupakan hasil dari pengamatan terbatas, salah tafsir budaya, atau bahkan propaganda kolonial yang bertujuan untuk mendiskreditkan dan melemahkan posisi masyarakat adat di mata dunia luar. Oleh karena itu, Buyung Morna mengajak agar masyarakat dan para peneliti melihat kembali catatan-catatan sejarah tersebut secara kritis dan tidak serta-merta mempercayai segala bentuk stereotip yang diwariskan oleh kolonialisme (Morna 2025). Menurut pandangan Datuk Taufik, narasi yang menyebutkan bahwa orang Batak di pedalaman Batubara adalah kanibal adalah keliru dan tidak sesuai dengan realitas sejarah lokal. Ia menegaskan bahwa hingga kini tidak pernah terdengar praktik kanibalisme dalam budaya masyarakat Batak yang berinteraksi dengan masyarakat Melayu Batubara. Sebaliknya, sejarah mencatat bahwa antara masyarakat Melayu dan Batak telah terjalin hubungan sosial yang erat melalui proses asimilasi budaya dan perkawinan antar etnis, seperti antara keturunan Kedatukan Tanah Datar dengan marga Sinaga, serta antara Kedatukan Kuala Gunung dengan marga Damanik (Morna 2025) Interaksi antara masyarakat Melayu Batubara dengan etnis Batak menunjukkan suatu dinamika sosial yang kompleks, namun harmonis, dengan pernikahan antaretnis sebagai strategi sosial dan politik yang signifikan. Berbagai sejarah lisan menyebutkan bahwa para Datuk Melayu, seperti Datuk Belambangan dan Datuk Alang, menikah dengan perempuan Batak, seperti boru Sinaga dan boru Saragi, yang kemudian melahirkan keturunan penguasa seperti Datuk Muhammad Yusuf dan Datuk Setiawangsa etnik (Morna 2025). Dalam kerangka teori interaksionisme simbolik ala George Herbert Mead, praktik pernikahan antaretnis ini merupakan bentuk komunikasi simbolik dan tafsir budaya yang mendalam: pernikahan tidak hanya dilihat sebagai relasi biologis, tetapi juga sebagai cara membangun koalisi kekuasaan dan integrasi sosial di tengah kemajemukan (Noer 2021). Masyarakat Melayu memposisikan diri sebagai pihak yang lebih dominan secara budaya dan politik, sementara masyarakat Batak pedalaman, yang pada masa itu belum sepenuhnya tersentuh modernisasi, dianggap sebagai kelompok subordinat yang tunduk melalui jalur kekerabatan (Morna 2025). Hal ini tercermin dalam praktik penyerahan budak oleh pihak Batak setiap kali terjadi pernikahan antaretnis, suatu realitas yang menegaskan hierarki sosial dan budaya masa itu. Namun, seiring waktu, interaksi ini turut membuka ruang transformasi budaya dan sosial, oleh karena itu masyarakat Batak mulai mendapatkan akses terhadap struktur kekuasaan dan kebudayaan Melayu melalui jalur afinitas dan akulturasi(Morna 2025) Bandar Perniagaan Batubara Kawasan Batubara pada abad ke-19 telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan interregional. Temuan arkeologis di Kota Rentang dan kawasan Muara Belawan menunjukkan bahwa wilayah timur Sumatra, termasuk Batubara, merupakan bagian dari sistem pelabuhan besar sejak abad ke-12 hingga ke-16, yang terhubung ke jaringan perdagangan Asia seperti Cina Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 349-359 Imran Maulana, et., al/ Analisis Sejarah Sosial Masyarakat dan India melalui jalur maritim Selat Malaka. Hal ini menunjukkan kontinuitas aktivitas perdagangan yang kuat jauh sebelum ekspedisi Anderson dilakukan.(Harkantiningsih 2008) Studi Edi Sumarno dkk. (2018) juga menekankan bahwa sungai di Sumatra Timur tidak hanya menjadi penghubung geografis, tetapi juga kanal peradaban yang membentuk identitas Melayu. Komoditas dari hulu seperti rotan, kemenyan, hingga hasil hutan lainnya dibawa ke hilir untuk dijual, dan dalam prosesnya membentuk integrasi etnis dan budaya antara komunitas Batak di hulu dan komunitas Melayu di Pesisir seperti Batubara(Sumarno, Karina, and Setiana Ginting 2018) . Peran Batubara sebagai bandar perniagaan tidak dapat dilepaskan dari jenis dan volume komoditas yang diperdagangkan, serta struktur sosial yang menopang rantai niaga tersebut. Dalam laporan John Anderson (1826), disebutkan bahwa wilayah Batubara menghasilkan dan memperdagangkan barang-barang seperti beras, ikan kering, damar, serta hasil hutan lainnya. Ia juga mencatat bahwa Batubara menjadi titik distribusi penting bagi kuda dan bahan makanan yang didatangkan dari wilayah pedalaman (Anderson, 1826). Namun, Anderson mengabaikan keberadaan sistem ekonomi lokal yang lebih kompleks yang dikelola oleh para Datuk dan Syahbandar tokoh-tokoh sentral dalam sistem perniagaan Melayu Pesisir. Perdagangan di Batubara juga memperlihatkan pola interaksi antar etnis yang penting. Seperti ditunjukkan dalam studi Aisyiah Indah Permata (2020), kawasan Batubara mengalami pembauran antara etnis Melayu dan Batak. Interaksi ini melahirkan konfigurasi sosial yang lentur, Oleh karena itu etnis Batak yang bermigrasi ke Pesisir secara bertahap mengadopsi budaya Melayu melalui Islamisasi, penggunaan bahasa Melayu, dan partisipasi dalam aktivitas ekonomi local (Indah and Permata 2020). Hal ini membantah asumsi Anderson bahwa kelompok Batak sepenuhnya terisolasi dan tidak beradab. Bias Kolonial dalam catatan Jhon Anderson (‘Mission to the East Coast of Sumatra’) Bias kolonial Anderson juga terlihat dalam penggambarannya tentang struktur politik Batubara. Ia menyajikan para Datuk sebagai figur yang sepenuhnya tunduk kepada Kesultanan Siak dan bersikap pasif terhadap intervensi asing. Padahal, penelitian arsip lokal oleh Faishal (2020) mengungkapkan bahwa para Datuk justru menjalankan pemerintahan otonom berbasis hukum adat yang kompleks. Mereka mengontrol perdagangan, menyelesaikan sengketa, dan menjalin hubungan diplomatik dengan wilayah sekitarnya sebuah fakta yang sengaja diabaikan Anderson untuk menegaskan narasi tentang "keterbelakangan" masyarakat pribumi. Pengabaian ini sesuai dengan pola epistemic violence yang dikemukakan Spivak (1988), Oleh karena itu pengetahuan lokal sengaja dikesampingkan untuk mempertahankan hegemoni kolonial. Yang juga patut dikritik adalah metodologi Anderson yang sangat lemah secara akademik. Ia mengumpulkan informasi melalui perantara seperti syahbandar dan tumenggung tanpa pernah menyebut identitas atau kredibilitas sumber-sumber tersebut (Amir, 2022). Pendekatan ini membuat laporannya rentan terhadap distorsi dan bias kepentingan. Selain itu, Anderson sama sekali mengabaikan sistem budaya Melayu-Batak yang justru menjadi tulang punggung stabilitas sosial-ekonomi Batubara. Seperti dijelaskan Thamrin (2021), masyarakat Melayu Pesisir memiliki tradisi musyawarah, hukum adat maritim, dan ritual pelayaran yang sangat terstruktur semua ini tidak mendapat tempat dalam narasi Anderson yang lebih tertarik membangun dikotomi antara "Pesisir yang beradab" dan "pedalaman yang biadab". Dari perspektif ekonomi politik, laporan Anderson juga mengandung agenda terselubung. Dengan menggambarkan Batubara sebagai wilayah "tanpa tata kelola", ia membuka pembenaran bagi intervensi komersial Inggris. Padahal, temuan arkeologis dan arsip lokal menunjukkan bahwa Batubara telah lama terintegrasi dalam jaringan perdagangan regional yang rumit, dengan sistem logistik dan pertukaran komoditas yang sudah mapan (Drakard, 2020). Penggambaran