scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Strategi Keberlanjutan Usaha Produk Sabun Padat Serai Melalui Pendekatan SWOT, HPP dan BMC bagi Usaha Rintisan

Siti Nur Roslina, Riana Septiani, Susanti Sundari

Full text

Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 148-161 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17766373 Strategi Keberlanjutan Usaha Produk Sabun Padat Serai Melalui Pendekatan SWOT, HPP dan BMC bagi Usaha Rintisan Siti Nur Roslina1, Riana Septiani2, Susanti Sundari3 Prodi Teknik Industri Universitas Tulang Bawang Jl. Gajah Mada No.34, Kota Baru Bandar Lampung *Email korespondesi: [email protected] Abstrak Transformasi sebuah usaha rintisan untuk produk sabun serai menuntut riset mendalam demi daya saing dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan usaha pemula sabun mandi padat berbahan serai serta strategi keberlanjutannya di KWT X. Pendekatan yang digunakan meliputi analisis SWOT, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), dan Business Model Canvas (BMC) untuk menilai kekuatan internal, peluang eksternal, efisiensi biaya produksi, serta rancangan model bisnis yang berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis strategi kuantitatif (Matriks IE/SWOT) menempatkan posisi KWT X pada koordinat (1.65 ; 1.15), yang jatuh pada Kuadran I (agresif). Posisi ini mengindikasikan bahwa usaha memiliki kekuatan internal yang kuat (Skor X: 1.65 > 0) dan berada di tengah peluang eksternal yang besar (Skor Y: 1.15 > 0). Jadi usaha KWT X berada dalam kondisi yang sangat menguntungkan. Hasil perhitungan HPP menunjukkan biaya produksi per unit sebesar Rp9.000, dengan harga jual ideal Rp12.500–Rp13.000 per unit agar kompetitif di pasaran. Selain itu, penerapan sembilan elemen BMC menegaskan bahwa KWT X telah memiliki pondasi bisnis yang kuat melalui kemitraan strategis, diversifikasi produk, dan pemasaran digital. Inovasi produk, efisiensi biaya, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci bagi keberlanjutan usaha sabun herbal berbasis serai. Kata Kunci: BMC, HPP, SWOT, Sabun Serai Abstract The transformation of a start-up business for lemongrass soap products requires in-depth research for competitiveness and sustainability. This study aims to analyze the development of a start-up business producing lemongrass-based solid bath soap and its sustainability strategy in women's farmer group X. The approach used includes SWOT analysis, calculation of Cost of Goods Sold (COGS), and Business Model Canvas (BMC) to assess internal strengths, external opportunities, production cost efficiency, and the design of a sustainable business model. The results of the study show that the quantitative strategy analysis (IE/SWOT Matrix) places KWT X at coordinates (1.65; 1.15), which falls in Quadrant I (Aggressive). This position indicates that the company or business (KWT) has strong internal strengths (X Score: 1.65 > 0) and is in the midst of large external opportunities (Y Score: 1.15 > 0). So, KWT X's business is in a very favorable condition. The COGS calculation results show a production cost per unit of Rp9,000, with an ideal selling price of Rp12,500–Rp13,000 per unit to be competitive in the market. In addition, the implementation of the nine BMC elements confirms that KWT X has a strong business foundation through strategic partnerships, product diversification, and digital marketing. Product innovation, cost efficiency, and strengthening human resource capacity are key factors for the sustainability of the lemongrass-based herbal soap business. Keywords: BMC, HPP, SWOT, Lemongrass Soap Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 25 November 2025 PENDAHULUAN Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan telah mendorong pergeseran minat dari produk perawatan diri berbahan kimia sintetis ke produk natural atau herbal. Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Sabun padat, sebagai produk esensial kebersihan diri, kini banyak dikembangkan dengan memanfaatkan bahan-bahan alami. Salah satu komoditas alami Indonesia yang memiliki potensi besar adalah serai (serai wangi, Cymbopogon nardus L.), yang dikenal kaya akan minyak atsiri dengan kandungan utama sitronelal dan geraniol (Rahmi, E., 2024). Senyawa-senyawa ini tidak hanya memberikan aroma yang khas dan menyegarkan, tetapi juga memiliki fungsi penting sebagai antimikroba dan antijamur, menjadikannya bahan baku ideal untuk formulasi sabun herbal yang fungsional dan ramah lingkungan. Inovasi dalam pembuatan sabun saat ini banyak mengarah pada pemanfaatan bahan alami dan herbal untuk memberikan nilai tambah pada fungsi pembersihannya. Serai wangi (Cymbopogon nardus) atau serai dapur (Cymbopogon citratus) adalah salah satu komoditas herbal unggulan yang memiliki potensi besar dalam formulasi sabun (Sari et al., 2022). Usaha pembuatan sabun padat serai sebagai usaha rintisan di KWT X termasuk dalam kategori usaha pemula atau rintisan yang masih memerlukan pendampingan dan strategi pengembangan yang terarah. Tantangan utama yang dihadapi mencakup aspek produksi, kualitas produk, pemasaran, serta keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Di sisi lain, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap penggunaan produk alami dan ramah lingkungan memberikan peluang besar bagi pengembangan produk sabun herbal berbasis bahan lokal. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis mendalam mengenai strategi pengembangan dan keberlanjutan usaha agar KWT X mampu bertahan dan berkembang secara mandiri di tengah dinamika pasar yang kompetitif. (Marliani et al., 2023) Gambar 1. Produk sabun serai Sumber : peneliti, 2025 Pengembangan usaha pemula atau rintisan seperti ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pemberdayaan perempuan pedesaan. Melalui kegiatan produksi sabun padat serai, anggota KWT X memperoleh keterampilan baru, memperluas jejaring kerja, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya inovasi dalam kewirausahaan. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan strategi pemasaran yang efektif, serta penerapan prinsip keberlanjutan menjadi kunci utama agar usaha ini dapat berkembang secara konsisten dan memberikan dampak sosial ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar Industri sabun mandi padat tidak berhenti berinovasi. Salah satu terobosan paling menarik adalah pengembangan sabun padat serai. Inovasi ini melampaui sabun serai tradisional yang umumnya berwarna keruh atau opak. Dengan menggunakan teknik formulasi khusus, produsen berhasil menciptakan sabun yang tidak hanya mempertahankan semua khasiat minyak atsiri serai seperti sifat antiseptik alami, aroma yang menenangkan (aroma terapi), dan kemampuan mengusir serangga, tetapi juga menawarkan nilai estetika tinggi. Penelitian terdahulu dalam riset (Sukanda, D. N., et al 2022) tentang strategi pemasaran sabun padat menggunakan metode SWOT dihasilkan strategi pemasaran optimal melalui kolaborasi, Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline pelatihan, diversifikasi, digitalisasi, kualitas, dan komitmen. Hasil penelitian (Evarini, N. K., et al 2021) tentang strategi pemasaran produk minuman serai menyimpulkan bahwa penguatan kualitas produk, peningkatan promosi digital, perbaikan manajemen, dan perluasan pasar menjadi strategi utama yang perlu diterapkan dari analisis SWOT. Dari penelitian (Laisa, D. D., et al, 2013) dalam strategi pengembangan olahan ikan teri dan menghitung HPP nya di dapatkan bahwa HPP ikan teri nasi variabel terendah saat musim timur (Rp31.180,36), dan tertinggi saat musim barat. Dan pioritas pengembangannya menurut SWOT adalah adopsi teknologi, pelatihan, dan pembukuan. Hasil penelitian (Sartika, D., et al 2023) tentang analisis penentuan HPP dengan metode Full Costing dalam produksi sabun disimpulkan bahwa HPP sabun daun babadotan sebesar Rp13.202, dihitung dari pembagian total biaya produksi bulanan. Kesimpulan riset oleh (Pelealu, A. J., et al, 2018) tentang analisis HPP merekomendasikan agar perusahaan menaikkan harga jual produk abon ikan roa kemasan 100 gram, dimana kenaikan harga dari harga awal Rp 50.000 per kemasan menjadi kisaran Rp 52.000 – Rp 55.000 per kemasan. Menurut penelitian (Setiawati, I.,et al 2022) tentang pengembangan model bisnis berbasis B2C dan B2B menjadi strategi untuk memperluas pasar nasional. Menurut riset (Tuju, N. N., et al 2024) hasil penelitian menunjukkan bahwa enam elemen Business Model Canvas perlu disempurnakan, yaitu Customer Relationships, Channels, Key Partnerships, Key Resources, Revenue Streams, dan Value Proposition. Pada penelitian (Ramadhan, F., et al 2022) tentang penerapan desain E-Commerce pada Surya Timur Collection, dapat meningkatkan efisiensi penjualan serta memperkuat daya saing dengan bisnis sejenis yang telah memanfaatkan teknologi modern. Menurut riset (Jamira, A., et al 2024) penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode BMC mampu mengembangkan pola pikir kewirausahaan mahasiswa, sehingga metode ini layak diterapkan dan diajarkan dalam mata kuliah kewirausahaan. Menurut riset (Kurniawati, R., et al 2023) tentang strategi pengembangan bisnis, berdasarkan hasil pengolahan data, strategi yang terpilih adalah strategi penetrasi dikarenakan hasil pengolahan data menunjukan Total Attractiveness Scores (TAS) tertinggi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan holistik dan terintegrasi yang secara spesifik diterapkan pada KWT X yang berada dalam fase transisi kritis sebagai usaha rintisan, dimana sebagian besar penelitian terdahulu cenderung berfokus pada salah satu metode sebagai alat analisis. METODE Metode penelitian yang digunakan di riset ini adalah metode SWOT serta perhitungan harga pokok penjualan (HPP) dan BMC. Ketiganya saling terkait sebagai alat perencanaan dan pengambilan keputusan bisnis. SWOT mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman untuk menetapkan strategi tepat. HPP memastikan strategi dapat dijalankan secara finansial, mendukung penetapan harga jual kompetitif dan stabilitas keuntungan. BMC memetakan model bisnis secara menyeluruh, mengintegrasikan proposisi nilai, segmen pelanggan, distribusi, biaya, dan pendapatan. Ketiga metode saling melengkapi: SWOT menentukan arah, HPP menjamin kelayakan biaya, dan BMC menyusun model bisnis yang praktis dan berkelanjutan (Sumara, R. 2024). Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Gambar 2. Flowchart Penelitian Sumber : Peneliti, 2025 Metodologi analisis SWOT dimulai dengan tahap evaluasi menggunakan Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE) dan Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE). Matriks IFE menilai kekuatan dan kelemahan internal KWT berdasarkan bobot dan rating untuk memahami efektivitas respons internal; skor totalnya menentukan posisi kompetitif internal perusahaan. Sementara itu, Matriks EFE mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal melalui evaluasi faktor-faktor makro lingkungan (ekonomi, sosial, teknologi, dll.). Skor totalnya menentukan daya tarik industri dan efektivitas strategi respon eksternal saat ini. Kedua skor total IFE dan EFE (skor X dan Y) kemudian menjadi input utama untuk memetakan posisi strategis usaha dalam matriks Internal-Eksternal (IE). Selanjutnya, faktor-faktor inti (S-W-O-T) dicocokkan untuk menghasilkan empat set alternatif strategi murni (SO, WO, ST, WT) dalam matriks kecocokan SWOT, yang menjadi dasar perumusan rekomendasi strategi akhir (gambar 3). Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Gambar 3. Matriks SWOT Sumber : https://arshave24.blogspot.com/2018/02/analisis-swot.html Analisis Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP) merupakan proses untuk menentukan total biaya yang dikeluarkan dalam menghasilkan satu unit produk. HPP menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan penentuan harga jual, pengendalian biaya, serta penilaian efisiensi produksi. Rumus Umum Perhitungan HPP Total biaya produksi = Bahan baku + Tenaga kerja + Overhead HPP = Total Biaya Produk Produksi Jumlah Produk Jadi Analisis BMC Business Model Canvas (BMC) merupakan alat populer di bidang kewirausahaan karena mampu merangkum semua elemen penting bisnis secara ringkas dalam satu halaman kanvas (Coyanda, 2020). Analisis Business Model Canvas (BMC) adalah kerangka kerja strategis yang digunakan untuk mendeskripsikan, memvisualisasikan, menilai, dan mengubah model bisnis suatu organisasi atau produk baru. Dikembangkan oleh Alexander Osterwalder dan Yves Pigneur, BMC menyajikan cetak biru bisnis yang ringkas dalam satu halaman, terbagi menjadi sembilan blok bangunan (building blocks) yang saling terhubung. Sembilan elemen ini bekerja sama untuk menjelaskan bagaimana suatu organisasi menciptakan, menghantarkan, dan menangkap nilai (uang). Berbeda dengan rencana bisnis tradisional yang panjang, BMC berfokus pada hubungan antar komponen utama, memungkinkannya digunakan sebagai alat visual yang dinamis untuk perencanaan, brainstorming, dan komunikasi strategi. Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Gambar 4. Komponen Business Model Canvas (BMC) Sumber: https://www.dewaweb.com/blog/apa-itu-business-model-canvas/ Model ini terdiri dari sembilan komponen utama yang menjelaskan bagaimana suatu perusahaan merancang strategi untuk memperoleh pendapatan. Komponen-komponen tersebut mencakup elemen-elemen penting seperti segmen pelanggan, penawaran produk atau layanan, infrastruktur, serta aspek keuangan 1. Segmen Pelanggan (Customer Segments) Menentukan target pasar menjadi aspek penting bagi UMKM. Pelaku usaha perlu memahami karakteristik dan kebutuhan konsumen agar produk yang ditawarkan tepat sasaran dan memberikan solusi yang efektif. 2. Proposisi Nilai (Value Propositions) Menunjukkan bagaimana produk atau layanan menyelesaikan masalah konsumen dan memenuhi kebutuhan mereka, sekaligus menghadirkan keunggulan nilai yang berbeda dan lebih baik dibandingkan pesaing di pasar. 3. Saluran (Channels) Merupakan cara menyampaikan proposisi nilai kepada pelanggan melalui berbagai jalur distribusi dan komunikasi, seperti penjualan online, toko fisik, penjualan grosir, dan mitra kerja sama. Setiap saluran mencakup tahap-tahap dari kesadaran hingga pembelian dan pengiriman. 4. Hubungan Pelanggan (Customer Relationships) Interaksi yang dibangun dengan segmen pelanggan untuk menjaga hubungan jangka panjang dan mendorong loyalitas, termasuk dukungan yang dapat meningkatkan penjualan. 5. Arus Pendapatan (Revenue Streams) Pendapatan yang diperoleh dari nilai yang diberikan kepada pelanggan, mencakup transaksi B2B, B2C, dan C2C, baik untuk pembelian grosir maupun ritel langsung. 6. Sumber Daya Kunci (Key Resources) Aset yang diperlukan untuk menghadirkan dan menjalankan proposisi nilai, termasuk sumber daya fisik, intelektual, manusia, dan finansial. 7. Aktivitas Kunci (Key Activities) Kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan, menyampaikan, dan memelihara proposisi nilai, mencakup produksi, pemecahan masalah, serta pengelolaan platform atau jaringan. 8. Kemitraan Kunci (Key Partnerships) Hubungan strategis dengan pihak luar yang membantu memperoleh sumber daya, mengembangkan bisnis baru, atau menjamin pasokan, termasuk kerja sama dengan pesaing, pemasok, dan mitra bisnis. Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline 9. Struktur Biaya (Cost Structure) Analisis biaya operasional yang meliputi biaya tetap, biaya variabel, efisiensi skala, dan prinsip keuntungan ekonomi untuk menjaga keberlanjutan bisnis HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis SWOT Pengembangan sabun mandi padat berbahan serai di KWT X berada pada posisi usaha yang cukup kuat. Analisis SWOT menunjukkan bahwa kemampuan anggota, ketersediaan bahan baku, dan dukungan kelompok menjadi kekuatan utama untuk memanfaatkan peluang pasar produk herbal. Namun, keterbatasan modal dan pemasaran masih perlu diperbaiki agar mampu bersaing dan menghadapi fluktuasi harga bahan baku. Secara keseluruhan, hasil analisis ini menjadi dasar penting dalam merumuskan strategi pengembangan usaha yang berkelanjutan dan kompetitif. Tabel 1. Metode SWOT Strengths (Kekuatan) 1. Produk sabun alami memiliki nilai tambah dan tren pasar yang meningkat (ecofriendly). 2. Produksi dilakukan oleh KWT X, menunjukkan kerja sama dan semangat pemberdayaan perempuan. 3. D ukungan dari instansi pemerintah/pendampingan perguruan tinggi untuk pengembangan UMKM dan produk herbal. 4. Kualitas produk dapat dikontrol dengan baik karena skala produksi kecil. Weaknesses (Kelemahan) 1. Pengetahuan anggota KWT tentang manajemen bisnis, pemasaran digital, dan keuangan masih terbatas 2. Produksi masih manual, belum efisien untuk permintaan besar. 3. Kesulitan dalam mendapatkan perizinan usaha (PIRT, halal, BPOM). Opportunities (Peluang) 1. Potensi pasar di toko organik, marketplace, dan kegiatan pameran UMKM cukup besar. 2. Dukungan dari pemerintah daerah untuk program ekonomi kreatif berbasis pertanian. 3. Kolaborasi dengan pelaku pariwisata lokal (souvenir khas daerah). 4. Dapat mengembangkan varian produk lain seperti sabun cair, lotion, atau aroma terapi berbahan serai. Threats (Ancaman) 1. Persaingan dengan produk sabun herbal pabrikan dan UMKM lain yang lebih mapan. 2. Fluktuasi harga bahan baku (minyak nabati, esensial oil). 3. Keterbatasan distribusi dan logistik untuk memperluas pasar luar daerah. 4. Perubahan tren pasar yang cepat (produk baru, kemasan modern). Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Tabel 2. Matriks SWOT Strategi S–O (Strengths–Opportunities) Strategi W–O (Weaknesses–Opportunities) 1. Mengembangkan produk turunan berbahan serei seperti sabun cair, lotion, dan aroma terapi. 2. Mengombinasikan serei dengan bahan herbal lain (jahe, pandan, kopi) untuk menarik pasar baru. 3. Mengikuti pelatihan branding dan pemasaran digital yang difasilitasi instansi 4. Berpartisipasi dalam kegiatan pameran, bazar, dan lomba inovasi produk UMKM 5. Menjual produk melalui marketplace (Shopee, Tokopedia) dan media sosial (Instagram, TikTok). 1. Melibatkan mahasiswa magang atau pendamping dari perguruan tinggi untuk transfer pengetahuan. 2. Membentuk struktur organisasi KWT (divisi produksi, keuangan, dan pemasaran). 3. Memanfaatkan bantuan alat produksi dari program UMKM untuk mengurangi tenaga manual. 4. Mengurus izin PIRT dan label halal melalui dinas terkait. 5. Mengajukan sertifikasi BPOM sederhana untuk meningkatkan kepercayaan konsumen Strategi S–T (Strengths–Threats) Strategi W–T (Weaknesses–Threats) 1. Menetapkan SOP bahan baku dan proses agar mutu konsisten meskipun volume produksi meningkat. 2. Mendesain kemasan sabun modern, menarik, tetapi tetap ramah lingkungan. 3. Membuat kemasan edisi “souvenir khas daerah” untuk menarik wisatawan lokal (kerja sama dengan pengelola pariwisata). 4. Membentuk jaringan reseller antaranggota KWT dan kelompok wanita tani lain. 5. Menjual produk melalui koperasi desa dan toko oleh-oleh daerah 1. Mengatur stok bahan baku secara efisien untuk mengantisipasi fluktuasi harga. 2. Mengurus legalitas usaha agar aman dari risiko persaingan tidak sehat. 3. Mendaftarkan merek dagang lokal “KWT X” agar tidak ditiru pihak lain. 4. Melakukan survei pasar berkala untuk mengetahui tren kemasan dan aroma sabun yang disukai. 5. Menjaga komunikasi aktif dengan pelanggan untuk mendapatkan masukan produk. Berdasarkan matriks SWOT dari hasil wawancara, menyimpulkan bahwa strategi pengembangan KWT X harus memfokuskan pada penguatan internal (SDM dan legalitas) agar mampu memanfaatkan peluang pasar yang terbuka luas (terutama melalui marketplace dan kolaborasi pariwisata), sekaligus memitigasi risiko dari persaingan ketat dan masalah logistik. Analisis Faktor-Faktor Strategi Internal (IFAS) Analisis IFAS (Internal Factor Analysis Summary atau Matriks IFE) berfungsi sebagai alat untuk merangkum dan menilai kekuatan dan kelemahan utama dari berbagai aspek fungsional usaha sabun padat serai KWT X. Hasil analisis ini merepresentasikan kondisi internal yang dapat dikontrol oleh kelompok usaha. Matriks evaluasi faktor internal ini dapat dikembangkan dalam beberapa langkah, yaitu: 1. Untuk mencari nilai bobot dengan menggunakan nilai signifikan yaitu 1 sampai 3. Nilai 1 signifikan dan nilai 3 sangat signifikan 2. Tiap faktor diberi bobot sekitar 0,0 (tidak penting) sampai dengan 1,0 (sangat penting). Faktor yang dianggap penting diberi bobot yang tertinggi dan jumlah semua bobot sama dengan 1,00. 3. Memberi rating 1 sampai 5. Nilai 1 rendah/weakness dan nilai 5 tinggi/strength 4. Untuk mencari niali skor yaitu Mengalikan bobot setiap faktor dengan peringkatnya. Vol. 3 No. 10 Strategi Keberlanjutan Usaha (Roslina, dkk.) | 148-161 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline 5. Jumlahkan skor rata-rata tiap variabel. Tabel 3. Analisis Faktor Internal (IFAS) Total Skor Berbobot IFAS = 2.65 Skor IFAS sebesar 2.65 (di atas rata-rata 2.50) menunjukkan bahwa kekuatan internal yang dimiliki KWT X lebih dominan daripada kelemahan internalnya. Analisis Faktor Strategi Eksternal (EFAS) Analisis EFAS merangkum dan menilai kondisi eksternal (Peluang dan Ancaman) usaha sabun padat serai KWT X. Tabel 4. Analisis Faktor Strategi Eksternal (EFAS)