scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Strategi Guru BK Mengoptimalkan Layanan Dengan Keterbatasan Sarana & Prasarana di SMPN 3 Tigo Nagari

Irma Julita, Neviyarni, Yarmis Syukur

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 4, November 2025, P. 466-474 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17766840 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected], yarmissyu[email protected].ac.id Strategi Guru BK Mengoptimalkan Layanan Dengan Keterbatasan Sarana & Prasarana di SMPN 3 Tigo Nagari Guidance and Counseling Teachers' Strategies for Optimizing Services with Limited Facilities and Infrastructure at SMPN 3 Tigo Nagari Irma Julita, Neviyarni, Yarmis Syukur Proram Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Padang A B S T R A C T This study aims to describe the strategies of Guidance and Counseling (BK) teachers in optimizing services at SMPN 3 Tigo Nagari, which faces limited facilities and infrastructure. The school does not have individual or group counseling rooms and does not provide standard assessment instruments such as General AUM, PTSDL AUM, and psychological tests. Using a descriptive qualitative approach, data was obtained through interviews with BK teachers, observations of BK facilities, and field documentation. Analysis was conducted through data reduction, presentation, and conclusion drawing using the Miles, Huberman, and Saldaña model. The results indicate that BK services continue to operate through four main service components, despite very limited facilities. BK teachers implement five strategies: the use of digital technology, the use of the living room as a counseling room, the implementation of classroom services, collaboration with homeroom teachers and subject teachers, and the use of simple media. The study concludes that BK teachers' creativity and adaptability play a significant role in maintaining service effectiveness in conditions of limited facilities. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan menggambarkan strategi guru Bimbingan dan Konseling (BK) dalam mengoptimalkan layanan di SMPN 3 Tigo Nagari yang mengalami keterbatasan sarana dan prasarana. Sekolah belum memiliki ruang konseling individual maupun kelompok serta tidak menyediakan instrumen asesmen baku seperti AUM Umum, AUM PTSDL, dan tes psikologis. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui wawancara dengan guru BK, observasi fasilitas BK, dan dokumentasi lapangan. Analisis dilakukan melalui proses reduksi data, penyajian, serta penarikan kesimpulan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan BK tetap berlangsung melalui empat komponen layanan utama, meskipun fasilitas sangat terbatas. Guru BK menerapkan lima strategi, yaitu pemanfaatan teknologi digital, penggunaan ruang tamu sebagai ruang konseling, pelaksanaan layanan klasikal, kolaborasi dengan wali kelas dan guru mata pelajaran, serta penggunaan media sederhana. Penelitian menyimpulkan bahwa kreativitas dan kemampuan adaptasi guru BK berperan besar dalam menjaga efektivitas layanan pada kondisi sarana yang minim. A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 15 November 2025 Available online 28 November. 2025 Keywords Strategi, Guru BK, Sarana, Prasarana Keywords: Strategy, Guidance and Counseling Teacher, Facilities, infrastructure This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK PENDAHULUAN Layanan Bimbingan dan Konseling merupakan elemen fundamental dalam lingkungan sekolah yang berfungsi mendukung perkembangan akademik, sosial, emosional, dan karier peserta didik (Gysbers & Henderson, 2012). Efektivitas layanan BK sangat dipengaruhi oleh dukungan sarana dan prasarana yang memadai, seperti ruang konseling yang privat, instrumen asesmen standar, dan media layanan yang relevan (Prayitno & Amti, 2013). Di Indonesia, Standar Sarana dan Prasarana BK telah diatur dalam berbagai regulasi, namun realitas di lapangan sering menunjukkan adanya kesenjangan antara standar dan kondisi aktual. SMPN 3 Tigo Nagari merupakan contoh nyata sekolah yang menghadapi keterbatasan tersebut. Berdasarkan temuan awal, sekolah ini belum memiliki ruang konseling individual dan kelompok, serta tidak memiliki alat asesmen baku yang seharusnya digunakan dalam kegiatan identifikasi masalah siswa. Salah satu Guru BK yaitu ibu Fiki Kurnia, S.Pd menyatakan dalam wawancara pada tanggal 29 November 2025 bahwa “kami belum bisa menggunakan alat asesmen seperti AUM Umum, AUM PTSDL, maupun tes psikologis lainnya karena memang fasilitasnya tidak tersedia di sekolah.” Observasi lapangan juga menunjukkan bahwa ruangan BK pada sekolah SMPN 3 Tigo Nagari hanya berupa sebuah ruang tamu kecil yang digunakan untuk konsultasi, administrasi, dan penyimpanan arsip, tanpa adanya ruang yang dirancang khusus untuk menjamin kerahasiaan dan kenyamanan konseling siswa. Kondisi seperti ini berbeda jauh dari standar minimal fasilitas BK yang ideal yang mensyaratkan ruang konsultasi yang privat, aman, dan kondusif agar siswa merasa nyaman untuk berbagi permasalahan pribadi (Zakki et al., 2023). Meski menghadapi berbagai keterbatasan tersebut, guru BK di sekolah SMPN 3 Tigo Nagari tetap menunjukkan komitmen tinggi dan kreativitas profesional. Mereka berupaya beradaptasi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal dengan menggunakan media sederhana, memodifikasi fungsi ruang yang ada, serta melakukan pendekatan layanan yang fleksibel. Pendekatan ini menggarisbawahi bahwa profesionalisme seorang konselor tidak semata diukur dari kelengkapan fasilitas, melainkan juga dari kemampuan berinovasi, beradaptasi, dan menjalankan layanan sesuai konteks realitas sekolah (Corey, 2016). Dengan demikian, meskipun terdapat kekurangan pada aspek sarana, prasarana, dan alat asesmen, layanan BK di SMPN 3 Tigo Nagari tetap bisa berjalan berkat dedikasi guru BK serta strategi adaptif yang diterapkan. Kondisi ini menunjukkan urgensi bagi pengelola pendidikan untuk mengakui bahwa kualitas layanan BK juga sangat ditentukan oleh manajemen sumber daya dan kreativitas layanan, tidak hanya oleh standar fisik semata. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yaitu pendekatan yang bertujuan menggambarkan suatu fenomena secara mendalam, komprehensif, dan sesuai dengan konteks alamiah tempat fenomena tersebut terjadi. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus memahami pengalaman langsung guru BK dalam menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana, sekaligus menelusuri strategi adaptif yang mereka gunakan dalam menjalankan layanan BK. Menurut Creswell (2018), penelitian kualitatif memungkinkan peneliti menangkap makna, persepsi, dan proses yang dialami subjek secara lebih holistik. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah Guru BK SMPN 3 Tigo Nagari, yang memiliki pengalaman langsung dalam mengelola layanan BK di tengah keterbatasan fasilitas. Guru BK menjadi informan kunci karena memahami kondisi faktual sekolah serta strategi yang diterapkan dalam kegiatan layanan. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan data observasi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK ruang BK dan fasilitas yang tersedia di sekolah untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi sarana-prasarana yang digunakan dalam layanan. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik. Pertama, wawancara mendalam dilakukan dengan format pertanyaan terbuka agar guru BK dapat menjelaskan secara bebas terkait kendala dalam pelaksanaan layanan BK, strategi yang digunakan untuk menyiasati keterbatasan fasilitas, serta metode kreatif dalam asesmen dan konseling. Teknik ini penting karena wawancara memungkinkan peneliti menggali informasi detail mengenai pengalaman personal dan profesional informan (Kvale & Brinkmann, 2015). Kedua, peneliti melakukan observasi langsung terhadap kondisi sarana dan prasarana layanan BK, termasuk ruang konseling, fasilitas pendukung, serta pemanfaatan ruang yang ada. Observasi memberikan data nyata yang memperkuat hasil wawancara dan memvalidasi gambaran situasi lapangan. Ketiga, penelitian juga menggunakan dokumentasi, berupa catatan lapangan, foto kondisi ruang, serta dokumen sekolah yang relevan. Dokumentasi berfungsi memperkaya dan memperkuat temuan penelitian (Bowen, 2009). Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana (2014), yang terdiri atas tiga tahapan utama: 1. Reduksi data, yaitu proses memilah, menyederhanakan, dan mengorganisasi data mentah agar fokus pada informasi yang relevan. 2. Penyajian data, yaitu proses menyusun data dalam bentuk narasi, tabel, atau pola temuan sehingga mudah dipahami dan dianalisis lebih lanjut. 3. Penarikan kesimpulan, yaitu proses interpretasi makna data untuk menghasilkan temuan akhir penelitian. Model analisis ini dipilih karena memberikan alur kerja yang sistematis dan memungkinkan peneliti menafsirkan data secara berkesinambungan sejak awal proses pengumpulan data hingga tahap akhir interpretasi. Untuk menjamin kredibilitas temuan penelitian, peneliti menerapkan triangulasi teknik, yaitu membandingkan hasil wawancara dengan data observasi dan dokumentasi. Triangulasi membuat data lebih kuat dan mengurangi bias peneliti (Patton, 2015). Selain itu, peneliti juga melakukan member checking, yakni meminta informan memeriksa kembali hasil temuan sementara untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti sesuai dengan pengalaman informan. Teknik ini merupakan langkah penting dalam menjaga keakuratan dan keabsahan data kualitatif. HASIL PENELITIAN 1. Keterbatasan Sarana dan Prasarana Hasil observasi di SMPN 3 Tigo Nagari mengungkap bahwa fasilitas layanan BK masih jauh dari ideal. Tidak ditemukan ruang konseling individual maupun ruang bimbingan kelompok, seluruh layanan dilaksanakan di sebuah ruang tamu kecil yang juga dipakai sebagai area administrasi dan penyimpanan arsip. Selain itu, instrumen asesmen standar seperti AUM umum, AUM PTSDL, maupun tes psikologis sama sekali tidak tersedia. Media layanan pun terbatas hanya pada peralatan sederhana. Guru BK mengonfirmasi keadaan ini dengan menyatakan bahwa “memang kami belum punya alat asesmen seperti AUM atau tes psikologi, jadi proses identifikasi dilakukan dengan cara lain.” Keterbatasan fasilitas semacam ini bukanlah fenomena unik, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurangnya sarana-prasarana BK secara signifikan menghambat efektivitas layanan konseling di sekolah (Almaliyah & Suherman, 2024). Sebagai contoh, dalam survei terhadap sekolah menengah di Jakarta Barat, seluruh sekolah menunjukkan ketidaktersediaan ruang BK standar. Penelitian lain menegaskan bahwa ruangan konseling Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK ideal seharusnya menjamin privasi, kenyamanan, dan kerahasiaan siswa agar mereka merasa aman dalam menyampaikan masalah pribadi. Ketiadaan instrumen asesmen baku juga berimplikasi pada kualitas identifikasi kebutuhan siswa. Tanpa alat baku, konselor terpaksa menggunakan pendekatan alternatif seperti observasi informal atau wawancara bebas, yang meskipun dapat membantu, memiliki keterbatasan validitas dan reliabilitas data. Literatur konseling menekankan bahwa instrumen dan fasilitas yang memadai termasuk ruang konseling dan alat asesmen merupakan komponen penting untuk program BK yang efektif dan profesional. Dengan demikian, kondisi di SMPN 3 Tigo Nagari yakni minim ruang, alat, dan media perlu mendapat perhatian serius. Penelitian empiris menunjukkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana mendukung kelancaran layanan BK serta meningkatkan kualitas layanan bagi siswa. 2. Layanan BK Tetap Berjalan Meskipun fasilitas BK di SMPN 3 Tigo Nagari tergolong terbatas, layanan BK tetap berjalan dengan mengakomodasi keempat komponen utama layanan sesuai kerangka resmi. Keempat komponen itu meliputi: layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual, dan dukungan sistem. a. Layanan dasar mencakup kegiatan rutin yang ditujukan kepada seluruh siswa, tanpa membedakan kelas atau latar belakang misalnya kegiatan bimbingan klasikal, orientasi, penyampaian informasi, atau bimbingan kelompok. Bentuk layanan ini dirancang untuk membantu siswa mengembangkan aspek pribadi, sosial, belajar, dan karier secara holistik. b. Layanan responsif ditujukan pada siswa yang membutuhkan bantuan segera, misalnya ketika menghadapi masalah pribadi, sosial, akademik, atau krisis tertentu. Dalam kondisi terbatasnya ruang dan fasilitas, guru BK tetap menjalankan layanan ini, meskipun secara informal misalnya lewat konsultasi singkat, kunjungan spontan, atau pendampingan individual saat dibutuhkan. Komponen ini penting agar hambatan yang dialami siswa tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar. c. Perencanaan individual dijalankan untuk membantu setiap siswa merumuskan dan memantau rencana akademik, karier, dan perkembangan pribadi sesuai kemampuan dan minat mereka. Meskipun tidak didukung alat asesmen formal, guru BK tetap berusaha mendampingi siswa secara personal agar mereka bisa mengenali potensi dan pilihan masa depan mereka, serta membuat keputusan dengan pertimbangan matang. d. Dukungan sistem turut diupayakan agar layanan BK bisa terus berjalan. Meskipun infrastruktur terbatas, guru BK tetap melakukan manajemen layanan merancang jadwal, mendokumentasikan kegiatan, serta menjaga koordinasi dengan guru lain, wali kelas, atau orang tua siswa. Dengan demikian, layanan BK tetap terselenggara secara terstruktur meskipun dalam kondisi minimal. Dengan menerapkan keempat komponen tersebut secara simultan meskipun dalam keterbatasan sekolah tetap berfungsi sebagai lingkungan pendukung bagi perkembangan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa esensi layanan BK bukan hanya pada kelengkapan fisik, tetapi lebih pada keberlanjutan layanan dan komitmen profesional guru BK dalam memenuhi kebutuhan siswa secara konsisten. 3. Strategi Guru BK dalam Menyiasati Keterbatasan Sarana dan Prasarana Walaupun kondisi sarana dan prasarana di SMPN 3 Tigo Nagari masih jauh dari standar ideal, guru BK tetap mampu mempertahankan keberlangsungan layanan melalui berbagai langkah kreatif dan penyesuaian yang terencana. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK terdapat lima strategi utama yang diterapkan untuk memastikan layanan BK tetap berjalan efektif di tengah keterbatasan. a. Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Mendukung Asesmen dan Komunikasi Ketiadaan instrumen asesmen baku seperti AUM Umum, AUM PTSDL, maupun tes psikologi standar membuat guru BK beralih ke penggunaan platform digital sebagai alternatif pengumpulan data. Berbagai aplikasi seperti Google Form, WhatsApp, dan media survei daring dipakai untuk menelusuri permasalahan siswa secara lebih praktis dan terstruktur. Guru BK menuturkan “Karena tidak tersedia AUM atau alat tes psikologi, saya menggunakan Google Form untuk mengidentifikasi masalah siswa. Cara ini lebih mudah dan bisa menjangkau seluruh peserta didik.” Strategi ini sejalan dengan temuan Nurhayati et al. (2023) yang menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi dapat mengambil alih sebagian fungsi asesmen tradisional dan mendukung layanan BK berbasis informasi, terutama pada sekolah dengan fasilitas terbatas. b. Pemanfaatan Ruang Tamu sebagai Ruang Konseling Multifungsi Tidak adanya ruang khusus untuk konseling individual maupun kelompok membuat guru BK mengadaptasi sebuah ruang tamu kecil sebagai pusat kegiatan layanan. Ruangan ini berfungsi ganda sebagai tempat administrasi, konsultasi, dan penyimpanan arsip. Untuk menjaga kenyamanan dan privasi, guru BK mengatur tata ruang, menyesuaikan jadwal konseling, serta menutup ruangan selama sesi berlangsung. Catatan lapangan menunjukkan “Ruang BK berupa ruang tamu kecil yang berisi meja, beberapa kursi, dan lemari arsip. Semua kegiatan layanan dilakukan di ruang ini secara bergantian.” Hasil ini konsisten dengan kajian Syamsih (2024) yang mengungkapkan bahwa konselor sekolah kerap menyesuaikan ruangan yang tersedia dan menjadikannya ruang multifungsi demi mempertahankan kelangsungan layanan. c. Mengalihkan Layanan Kelompok menjadi Layanan Klasikal di Kelas Ketidaktersediaan ruang konseling kelompok mendorong guru BK untuk melakukan layanan kelompok dalam bentuk layanan klasikal secara langsung di kelas. Melalui layanan ini, guru BK memberikan materi tentang motivasi belajar, pengembangan diri, pengelolaan stres, dan kemampuan interpersonal. Pendekatan ini selaras dengan temuan Auliyah & Sulistiana (2022) yang menyatakan bahwa layanan klasikal dapat menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau seluruh siswa ketika fasilitas penunjang terbatas. d. Memperkuat Kolaborasi dengan Wali Kelas dan Guru Mata Pelajaran Dalam menghadapi keterbatasan fasilitas, kerja sama antarpendidik menjadi strategi yang sangat penting. Guru BK menjalin komunikasi intensif dengan wali kelas maupun guru mata pelajaran untuk memperoleh informasi mengenai siswa yang mengalami masalah akademik, perilaku, atau emosional. Guru BK menjelaskan “Jika ada siswa yang bermasalah, wali kelas biasanya memberi tahu saya terlebih dahulu, lalu saya tindak lanjuti melalui konseling atau kunjungan rumah jika diperlukan.”Penelitian Rahmawati & Laksmiwati (2020) menegaskan bahwa kolaborasi antarguru merupakan elemen penting dalam mendukung layanan BK, terutama ketika fasilitas tidak memadai. e. Penggunaan Media Sederhana sebagai Alternatif Media BK Dalam pelaksanaan layanan, guru BK memanfaatkan berbagai media sederhana seperti poster, lembar kerja, kartu konseling, gambar visual, serta materi edukatif dari Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK internet. Media tersebut dipilih karena mudah dibuat, murah, dan fleksibel untuk disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian Sari et al. (2023) yang menunjukkan bahwa kreativitas konselor dalam memanfaatkan media low-cost dapat meningkatkan efektivitas layanan meskipun fasilitas tidak lengkap. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kreativitas Guru BK sebagai Kunci Efektivitas Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak serta-merta mengurangi kualitas layanan BK di sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa efektivitas layanan lebih banyak dipengaruhi oleh sejauh mana guru BK mampu berinovasi, menyesuaikan strategi, serta memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal. Pemikiran ini sejalan dengan Corey (2016), yang menyatakan bahwa kualitas kerja konselor sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk bersikap kreatif, luwes, dan responsif terhadap situasi nyata, bukan hanya bergantung pada kelengkapan sarana. Di lapangan yang minim instrumen asesmen standar, guru BK melakukan berbagai penyesuaian dengan memanfaatkan media yang lebih mudah dijangkau. Misalnya, proses asesmen awal dialihkan menggunakan Google Form, disertai wawancara terbuka dan pengamatan langsung terhadap perilaku siswa. Keputusan ini mencerminkan penerapan prinsip counseling in context menurut Sue & Sue (2013), yaitu bahwa keberhasilan layanan terletak pada kemampuan konselor untuk menyesuaikan pendekatan dengan kondisi ekologis dan budaya sekolah, sekaligus mempertimbangkan ketersediaan fasilitas yang ada. Temuan ini juga sesuai dengan penelitian nasional, seperti yang dijelaskan oleh Nurhayati et al. (2023), di mana penggunaan media digital dapat berfungsi sebagai alternatif asesmen yang efektif, terutama di sekolah dengan keterbatasan fasilitas. Penelitian lain oleh Hidayat dan Rahayu (2022) menegaskan bahwa kreativitas guru BK dalam memanfaatkan sarana sederhana memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan layanan. Dengan demikian, strategi adaptif yang dilakukan guru BK bukan hanya bentuk improvisasi, tetapi juga merupakan tindakan profesional yang relevan dengan kebutuhan sekolah dan kondisi peserta didik. 2. Pemanfaatan Ruang Multifungsi Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru BK mampu memaksimalkan ruang tamu sekolah sebagai lokasi pelaksanaan konseling, meskipun ruangan tersebut bukan ruang layanan yang ideal. Pemanfaatan ruang yang bersifat multifungsi ini mencerminkan kemampuan guru BK untuk mengolah lingkungan fisik yang tersedia agar tetap mendukung proses konseling, terutama dalam kondisi sekolah yang belum memiliki ruang khusus untuk layanan individual maupun kelompok. Guru BK juga menerapkan sistem penjadwalan yang lebih fleksibel untuk menjaga kenyamanan serta memastikan kerahasiaan informasi siswa tetap terjaga selama proses konseling berlangsung. Strategi ini sekaligus menunjukkan bahwa kualitas layanan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan konselor menata ruang, mengelola waktu, dan menciptakan suasana aman bagi siswa. Pendekatan ini sejalan dengan konsep optimalisasi sarana dalam layanan BK sebagaimana dijelaskan oleh Winkel dan Hastuti (2006), yang menekankan bahwa dalam situasi terbatas, konselor tetap dapat menyelenggarakan layanan secara profesional dengan cara mengubah ruang apa pun menjadi ruang layanan alternatif selama aspek privasi, kenyamanan, dan etika konseling tetap dipenuhi. Selain itu, studi terbaru dari Hidayat dan Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK Rahayu (2022) memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa guru BK di berbagai sekolah Indonesia juga sering memodifikasi ruang umum menjadi ruang konseling demi memastikan layanan tetap berjalan secara berkelanjutan. 3. Layanan Klasikal sebagai Pengganti Ruang Kelompok Temuan penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan ruang khusus untuk konseling kelompok mendorong guru BK untuk mengalihkan kegiatan tersebut ke dalam bentuk layanan klasikal yang dilaksanakan langsung di kelas. Strategi ini bukan sekadar langkah mengganti ruang, tetapi merupakan bentuk adaptasi profesional dengan memanfaatkan ruang belajar sebagai arena penyelenggaraan layanan bimbingan. Pendekatan ini mencerminkan implementasi nyata dari konsep school-based guidance, di mana kelas diposisikan sebagai lingkungan yang strategis untuk memberikan layanan pengembangan diri, peningkatan keterampilan sosial, manajemen emosi, maupun pencegahan masalah perilaku. Dengan cara ini, guru BK tetap dapat menjangkau seluruh siswa secara efektif meskipun fasilitas fisik untuk layanan kelompok belum tersedia. Selain itu, pelaksanaan layanan dalam setting klasikal memungkinkan guru BK mengoptimalkan interaksi kelompok besar, memberikan edukasi secara merata, serta mengintegrasikan materi BK dengan dinamika pembelajaran sehari-hari. Praktik ini sejalan dengan temuan Auliyah & Sulistiana (2022) yang menegaskan bahwa layanan klasikal merupakan metode yang efisien dan relevan diterapkan di sekolah yang mengalami keterbatasan fasilitas. 4. Dukungan Sistem melalui Kolaborasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan sarana dan prasarana tidak menghambat keberlangsungan layanan BK karena guru BK mampu membangun kolaborasi yang kuat dengan wali kelas serta guru mata pelajaran. Kerja sama ini memungkinkan pertukaran informasi mengenai perkembangan perilaku, kesulitan belajar, maupun dinamika sosial siswa secara lebih cepat dan akurat. Dalam kondisi minim fasilitas, kolaborasi semacam ini menjadi mekanisme pendukung yang sangat penting karena memperluas jangkauan layanan serta membantu konselor mengambil keputusan intervensi yang lebih tepat. Pendekatan kolaboratif tersebut sejalan dengan pandangan Sink (2010) yang menekankan bahwa layanan bimbingan dan konseling akan lebih efektif apabila dijalankan melalui model sistemik, yaitu melibatkan berbagai elemen lingkungan sekolah dalam proses identifikasi, pencegahan, dan penanganan masalah siswa. Dengan kata lain, efektivitas BK tidak hanya bergantung pada peran konselor secara individual, tetapi juga pada dukungan struktur sosial sekolah. Penelitian nasional juga menguatkan temuan ini. Rahmawati & Laksmiwati (2020) menegaskan bahwa kolaborasi antara guru BK dan wali kelas berperan signifikan dalam membantu konselor memahami kondisi siswa secara menyeluruh dan mempercepat proses intervensi. Sementara itu, studi oleh Wahyuni (2021) menunjukkan bahwa kerja sama lintas guru dapat meningkatkan efektivitas layanan responsif dan mengurangi hambatan yang disebabkan oleh minimnya fasilitas fisik BK. Dengan demikian, kolaborasi bukan hanya pilihan strategis, tetapi juga menjadi komponen esensial dalam penyelenggaraan layanan BK yang adaptif, terutama di sekolah yang menghadapi keterbatasan sarana. 5. Media Sederhana sebagai Sarana Komunikasi Pesan BK Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru BK mampu memaksimalkan berbagai media sederhana seperti kertas karton, poster edukatif, lembar kerja siswa, dan video pembelajaran untuk menyampaikan pesan-pesan bimbingan. Langkah ini membuktikan bahwa keterbatasan sarana bukan menjadi alasan terhambatnya layanan, melainkan dapat memicu Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK munculnya solusi edukatif yang kreatif. Dengan memanfaatkan bahan-bahan murah dan mudah diperoleh, guru BK tetap dapat mengkomunikasikan materi terkait pengembangan diri, keterampilan sosial, dan regulasi emosi secara efektif kepada peserta didik. Strategi penggunaan media low-cost ini sejalan dengan temuan McLoughlin & Lee (2010), yang menjelaskan bahwa baik media digital maupun non-digital dapat berfungsi sebagai alat pendukung penting dalam penguatan pembelajaran sosial-emosional, terutama ketika sumber daya sekolah tidak memadai. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan penggunaan media lebih ditentukan oleh desain pembelajaran dan kreativitas guru, bukan oleh kecanggihan fasilitas. Penelitian nasional juga menunjukkan pola temuan serupa. Misalnya, Sari et al. (2023) menegaskan bahwa kreativitas guru BK dalam memanfaatkan media sederhana terbukti meningkatkan partisipasi siswa, memperjelas materi, dan membantu siswa memahami pesan BK secara lebih mendalam. Dengan demikian, penggunaan media sederhana bukan hanya alternatif praktis, tetapi juga bagian dari strategi pedagogis yang efektif dalam konteks sekolah dengan sarana terbatas. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun SMPN 3 Tigo Nagari menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana yang cukup signifikan, guru BK tetap mampu mempertahankan kualitas layanan melalui strategi-strategi kreatif dan adaptif. Pemanfaatan teknologi digital, penggunaan ruang multifungsi, layanan berbasis kelas, kolaborasi sekolah, serta penggunaan media sederhana menjadi strategi utama dalam mengatasi keterbatasan tersebut. Komitmen dan dedikasi guru BK terbukti menjadi faktor utama yang memungkinkan layanan BK tetap berjalan secara efektif. REFERENSI Almaliyah, S., & Suherman, U. (2024). Peran sarana dan prasarana dalam optimalisasi manajemen bimbingan dan konseling di sekolah. G-COUNS: Jurnal Bimbingan dan Konseling, 9(1), 11–20. Auliyah, A., & Sulistiana, E. (2022). Pelaksanaan layanan klasikal dalam meningkatkan keterampilan sosial siswa sekolah menengah. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 7(1), 45–54. Bhakti, C. P. (2017). Ketersediaan sarana dan prasarana bimbingan dan konseling di sekolah menengah di Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Pendidikan: Teori dan Praktik, 2(2), 100–104. Bowen, G. A. (2009). Document analysis as a qualitative research method. Qualitative Research Journal, 9(2), 27–40. Corey, G. (2016). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Cengage Learning. Creswell, J. W. (2018). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches. SAGE Publications. Gysbers, N. C., & Henderson, P. (2012). Developing and Managing Your School Guidance and Counseling Program. American Counseling Association. Hidayat, D. R., & Rahayu, S. (2022). Analisis ketersediaan sarana dan prasarana BK di sekolah dasar dan menengah. Jurnal Pendidikan & Konseling, 9(3), 215–227. Intishar, F., Chanum, I., & Badrujaman, A. (2015). Pemenuhan standar sarana dan prasarana bimbingan dan konseling: Survei sekolah menengah atas di Jakarta Barat. Insight: Jurnal Pendidikan dan Konseling, 1(1), 10–22. Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic Inquiry. SAGE Publications. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 4 Tahun 2025, P. 466-474 Irma Julita, et., al/ Strategi Guru BK Nurhayati, N., Latief, M., & Rahmawati, S. (2023). Pemanfaatan media digital dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 11(2), 120–132. Patton, M. Q. (2015). Qualitative Research & Evaluation Methods (4th ed.). SAGE Publications. Prayitno, & Amti, E. (2013). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta. Rahmawati, D., & Laksmiwati, H. (2020). Kolaborasi guru BK dan wali kelas dalam menangani permasalahan siswa. Jurnal Psikologi Pendidikan, 14(1), 33–42. Sari, N., Wulandari, R., & Fadhilah, S. (2023). Kreativitas konselor dalam menggunakan media sederhana untuk layanan BK. Jurnal Pengembangan Konseling, 5(2), 89–101. Situmorang, K. (2025). Studi literatur: Penataan ruangan BK dan dampaknya terhadap kualitas layanan. Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling, 8(1), 55–67. Sue, D. W., & Sue, D. (2013). Counseling the Culturally Diverse: Theory and Practice. Wiley. Syamsih, A. (2024). Manajemen layanan bimbingan dan konseling di sekolah dengan keterbatasan fasilitas. Jurnal Bimbingan dan Konseling Terapan, 12(1), 15–28. Wahyuni, S. (2021). Peran kolaboratif guru BK dan guru mata pelajaran dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Jurnal Konseling dan Pendidikan, 9(3), 145–154. Winkel, W. S., & Hastuti, S. (2006). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Gramedia. Zakki, A., Neviyarni, S., Firman, F., & Amat, M. A. B. C. (2023). Facilities and infrastructure to support the success of the counseling service program in the Society 5.0 era. Jurnal Basicedu, 7(4), 2058–2064.