scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Analisis Proses Kreatif dan Unsur Musikal Aransemen Lagu Jempling Peuting Gaya Kacapi Inovatif Karya Yadi Piteuk

Furi, Eka Santya Kanya; Sutanto, Toni Setiawan; Tila, Rita; Maulana, Hasan Irfanul'Alim

Abstract

Penelitian ini merupakan studi interpretatif yang mengkaji proses kreatif Yadi Piteuk dalam mengaransemen lagu Jempling Peuting karya Ubun Kubarsah, yang sebelumnya hadir dalam dua versi tradisional, yaitu kliningan (2002) dan celempungan (2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tahapan proses kreatif yang dilalui, mengidentifikasi unsur-unsur musikal yang diolah, serta mendeskripsikan bentuk hasil akhir aransemennya. Latar belakang penelitian didasarkan pada kebutuhan menghadirkan inovasi dalam musik tradisional Sunda agar tetap relevan di era modern tanpa menghilangkan identitas budayanya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang dianalisis secara deskriptif dengan triangulasi sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif Yadi Piteuk mencakup tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi, dengan perubahan menonjol pada tempo awal lagu, penerapan harmoni berbasis scoring yang lebih fleksibel, serta modifikasi tekstur instrumen melodis menjadi fill-in untuk memperkuat dominasi vokal. Hasil akhir menunjukkan bahwa inovasi tersebut berhasil menciptakan nuansa musikal yang segar, menarik minat generasi muda, dan tetap mempertahankan karakter khas musik Sunda. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam kajian musikologi, khususnya sebagai referensi pengembangan aransemen musik tradisi secara kreatif dan kontekstual.

Full text

Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Vol. 1, No. 1, Juni 2025, pp. 13-25 ISSN-, E-ISSNhttps://ostinato.silatene.org/index.php/index/en Analisis Proses Kreatif dan Unsur Musikal Aransemen Lagu Jempling Peuting Gaya Kacapi Inovatif Karya Yadi Piteuk Eka Santya Kanya Furi1, Toni Setiawan Sutanto2, Rita Tila3, Hasan Irfanul’Alim Maulana4 1,2,3,4 Musik, Fakultas Pendidikan Seni & Desain, Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia Article Info ABSTRAK Article history: Received: Apr 9, 2025 Revised: Mei 29, 2025 Accepted: Jun 30, 2025 Penelitian ini merupakan studi interpretatif yang mengkaji proses kreatif Yadi Piteuk dalam mengaransemen lagu Jempling Peuting karya Ubun Kubarsah, yang sebelumnya hadir dalam dua versi tradisional, yaitu kliningan (2002) dan celempungan (2010). Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tahapan proses kreatif yang dilalui, mengidentifikasi unsur-unsur musikal yang diolah, serta mendeskripsikan bentuk hasil akhir aransemennya. Latar belakang penelitian didasarkan pada kebutuhan menghadirkan inovasi dalam musik tradisional Sunda agar tetap relevan di era modern tanpa menghilangkan identitas budayanya. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang dianalisis secara deskriptif dengan triangulasi sumber. Temuan penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif Yadi Piteuk mencakup tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi, dengan perubahan menonjol pada tempo awal lagu, penerapan harmoni berbasis scoring yang lebih fleksibel, serta modifikasi tekstur instrumen melodis menjadi fill-in untuk memperkuat dominasi vokal. Hasil akhir menunjukkan bahwa inovasi tersebut berhasil menciptakan nuansa musikal yang segar, menarik minat generasi muda, dan tetap mempertahankan karakter khas musik Sunda. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam kajian musikologi, khususnya sebagai referensi pengembangan aransemen musik tradisi secara kreatif dan kontekstual. Kata Kunci: Proses Kreatif Aransemen Musik Karawitan Sunda Jempling Peuting This is an open access article under the CC BY-NC license. Penulis Koresponden: Hasan Irfanul’Alim Maulana, Program Studi Musik, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Dr. Setiabudi No.229, Isola, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154, Email: hasanymt3[email protected] 1. PENDAHULUAN 14 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Pada ranah musik tradisi, praktik aransemen dianggap penting untuk menghidupkan kembali karya yang telah ada. Menurut Kennedy & Kennedy (2007), aransemen didefinisikan sebagai proses adaptasi sebuah karya musik ke bentuk atau media yang berbeda. Proses ini bisa melibatkan perubahan instrumentasi serta transformasi gaya dan genre musik, sehingga sebuah karya lama dapat diinterpretasi ulang tanpa kehilangan ciri khasnya (Saragih, dkk., 2024). Dengan demikian, aransemen menjadi ekspresi kreativitas yang menjembatani tradisi dan inovasi: arranger memadukan unsur-unsur musik seperti melodi, harmoni, dan ritme untuk menghasilkan karya baru yang tetap berakar pada originalitas (Kusumawati dalam Kristerika & Susetyo, 2020). Inovasi kreatif semacam ini semakin relevan dalam konteks karawitan Sunda, di mana kelangsungan budaya tradisional di era modern menuntut adaptasi agar tetap menarik bagi publik masa kini (Rudiana, 2017). Lagu Jempling Peuting karya Ubun Kubarsah menjadi kasus menarik dalam konteks ini. Lagu ini awalnya hadir dalam dua format tradisional Sunda, yakni versi kliningan (2002) dan celempungan (2010) yang keduanya sepenuhnya mengandalkan instrumen gamelan, rebab, kecapi, dan gambang tradisional. Namun pada 2017, seorang seniman karawitan Sunda Yadi Cahyadi (Yadi Piteuk) menghadirkan aransemen baru dengan gaya kacapi inovatif. Ia memadukan kecapi dan kendang Sunda dengan biola dan perkusi barat, menciptakan warna bunyi kolaboratif yang unik. Yadi, yang memiliki latar belakang mendalam dalam karawitan Sunda sekaligus aktif di musik modern, menyatakan bahwa aransemen tersebut lahir dari keprihatinannya atas menurunnya minat generasi muda terhadap musik tradisional. Menurutnya, identitas budaya tidak harus statis namun dapat berevolusi agar tetap relevan. Inovasi teknisnya terlihat pada penerapan variasi tempo, sisipan nada-nada baru, dan penataan tekstur berbeda dalam aransemen Jempling Peuting, sehingga menciptakan karakter musik yang lebih dinamis dibanding versi-versi sebelumnya. Kasus aransemen lagu Jempling Peuting menegaskan pentingnya kreativitas dan inovasi dalam musik tradisional sebagai strategi adaptasi terhadap dinamika sosial dan estetika zaman. Sumarsono & Sukotjo (2024) menekankan bahwa kreativitas dalam musik tradisional bukan hanya berkaitan dengan penciptaan bentuk baru, tetapi juga merupakan kemampuan untuk menafsirkan kembali elemen-elemen lama dengan pendekatan yang kontekstual dan komunikatif. Hal ini diperkuat oleh Hernandi (2022) yang menyatakan bahwa inovasi dalam karya tradisi harus mampu menjaga kesinambungan nilai budaya sambil memperluas cakrawala ekspresi musikal agar tetap relevan bagi audiens masa kini. Lebih jauh, pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ruswandi (2016) yang menyatakan bahwa karya seni lahir dari kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat. Menurutnya, seniman yang kreatif adalah mereka yang mampu membaca perkembangan sosial dan meresponsnya secara sadar melalui karya yang sesuai dengan selera dan kebutuhan publik masa kini. Dengan demikian, kreativitas dalam musik tradisional tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan kultural tempat karya itu berproses, ia menjadi refleksi dari respons artistik yang sadar terhadap zaman. Pendekatan seperti ini sangat penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi musikal yang hidup dan diterima lintas generasi. Dalam khazanah karawitan Sunda, instrumentasi dan timbre memiliki kedudukan penting sebagai pembentuk identitas musikal dan pembawa makna kultural. Montagu (2007) menjelaskan bahwa instrumentasi tidak sekadar menyusun alat musik berdasarkan fungsi akustiknya, tetapi juga merepresentasikan struktur sosial dan estetika masyarakat yang melahirkannya. Setiap instrumen memiliki peran simbolik yang saling melengkapi dalam membangun keseimbangan bunyi, di mana timbre berfungsi sebagai penanda karakter dan nuansa emosional dari keseluruhan ansambel. Sementara itu, Suparli (2010) menekankan bahwa dalam konteks karawitan Sunda, instrumentasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah atau jenis waditra (alat musik), tetapi juga oleh hubungan fungsional antar unsur bunyi, seperti dialog antara kendang, kacapi, dan rebab yang menciptakan tekstur khas dalam setiap gending. Oleh sebab itu, perubahan atau inovasi dalam instrumentasi tidak dapat dilepaskan dari konsekuensi timbral yang ditimbulkannya. Pergeseran waditra tradisional menuju waditra baru berarti menggeser lapisan makna, struktur bunyi, dan bahkan persepsi estetis yang diterima pendengar. Dalam kerangka ini, setiap bentuk aransemen modern perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pelestarian identitas timbral dan eksplorasi bunyi baru agar transformasi musik tradisional tetap berakar pada nilai-nilai budaya yang mendasarinya. Setiap karya inovatif lahir dari proses kreatif yang kompleks. Dalam musik, proses kreatif melibatkan tahapan mulai dari ide awal, eksplorasi, hingga realisasi bentuk bunyi akhir yang dapat dinikmati (Hidayatullah, 2020). Proses ini sangat personal, dipengaruhi oleh imajinasi, pengalaman, 15 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music dan pemahaman mendalam sang seniman terhadap unsur-unsur musikal (Sudibyo dkk., 2014). Untuk menelaah proses kreatif Yadi Piteuk, penelitian ini menggunakan kerangka konseptual model proses kreatif Graham Wallas (1926), yang mengidentifikasi empat tahapan utama: persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi. Kerangka ini relevan untuk memahami bagaimana ide-ide aransemen berkembang melalui riset awal, refleksi, pencerahan, dan evaluasi kritis sebelum menjadi karya akhir (lihat Figur 1). Figur 1. Model tahapan proses kreatif (Sumber: Wallas, 1926) Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses kreatif Yadi Piteuk dalam mengaransemen lagu Jempling Peuting serta menganalisis perubahan-unsur musik yang terjadi. Pendekatan analitis ini diharapkan memberikan dokumentasi akademis yang jelas tentang strategi transformasi warisan tradisi menjadi inovasi musikal. Secara teoritis, hasil penelitian diharapkan memperkaya kajian musikologi melalui konsep transformasi musikal yang memadukan unsur tradisi dan modern. Secara praktis, temuan ini dapat menjadi inspirasi bagi musisi dan arranger untuk terus menginovasi dalam pelestarian warisan budaya melalui medium musik. Ke depan, studi lanjutan dapat menerapkan model proses kreatif ini dalam konteks lain dan mengevaluasi pengaruh aransemen inovatif terhadap penerimaan publik generasi muda. 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang bertujuan untuk memahami secara mendalam proses kreatif seorang pengaransemen dalam mengolah karya musik tradisional ke dalam bentuk baru. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti menafsirkan fenomena artistik melalui pengumpulan data kontekstual yang kaya, baik berupa wawancara, observasi, maupun analisis dokumen (Siregar & Murhayati, 2022). Sebagai studi kasus, penelitian ini berfokus pada satu objek utama, yaitu proses kreatif Yadi Piteuk dalam mengaransemen lagu Jempling Peuting, yang dipelajari secara komprehensif untuk memahami hubungan antara faktor teknis, artistik, dan ideologis yang membentuk hasil karyanya (Mulatiningsih & Rindrayani, 2013; Prayogi, 2024). Pendekatan ini relevan karena studi kasus memungkinkan penggalian makna di balik keputusan musikal yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui analisis teknis partitur, tetapi juga melalui pemahaman terhadap pengalaman kreatif dan konteks budaya yang melatarinya. Data utama penelitian diperoleh dari wawancara mendalam dengan Yadi Piteuk sebagai informan kunci. Wawancara dilakukan secara tatap muka di salah satu tempat makan di Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 21, Lengkong, Bandung, dalam suasana santai yang memungkinkan pengaransemen menjelaskan latar ide, proses berpikir, dan langkah-langkah teknis selama menggarap aransemen Jempling Peuting. Selain wawancara, data sekunder dikumpulkan dari dokumentasi partitur versi kacapi inovatif dan versi celempungan, rekaman audio/video hasil aransemen, serta sumber publik seperti YouTube yang menampilkan versi pertunjukan tradisional lagu tersebut. Setiap sumber data berfungsi saling melengkapi satu sama lain di mana wawancara memberikan konteks personal dan artistik, partitur merekam keputusan teknis, sedangkan rekaman menghadirkan dimensi auditif yang membantu analisis timbre, tempo, dan tekstur. Kombinasi berbagai jenis data ini digunakan sebagai strategi triangulasi sumber untuk memastikan keabsahan hasil analisis (Siregar & Murhayati, 2022). 16 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Instrumen penelitian terdiri atas pedoman wawancara semi-terstruktur dan lembar observasi analisis partitur. Pedoman wawancara dirancang dengan mempertimbangkan teori proses kreatif Wallas: persiapan (preparation), inkubasi (incubation), iluminasi (illumination), dan verifikasi (verification) yang berfungsi sebagai kerangka eksploratif untuk memahami tahapan berpikir kreatif pengaransemen. Sementara itu, lembar observasi digunakan untuk mencatat perbedaan unsur musikal antara versi celempungan dan versi kacapi inovatif, meliputi aspek timbre, struktur, tempo, harmoni, serta fungsi instrumen. Analisis partitur dilakukan dengan metode perbandingan (comparative scoring) guna mengidentifikasi pola perubahan dan strategi musikal yang digunakan Yadi Piteuk. Prosedur ini disertai dengan catatan lapangan yang merekam observasi selama wawancara maupun selama proses mendengarkan rekaman audio. Pendekatan ini mengikuti praktik umum penelitian kualitatif yang memadukan data naratif dengan data musikal dalam satu kesatuan kerangka analisis (Mulatiningsih & Rindrayani, 2013; Ardiansyah, dkk., 2023). Alur penelitian berlangsung secara bertahap dan bersifat iteratif, artinya proses pengumpulan dan analisis data dilakukan secara berulang untuk memperoleh kedalaman interpretasi. Tahapan dimulai dengan persiapan dan penyusunan instrumen penelitian, diikuti oleh proses pengumpulan data primer (wawancara dan verifikasi partitur) serta data sekunder (rekaman audio dan notasi publik). Selanjutnya dilakukan tahap analisis aural dan analisis partitur secara paralel, di mana kedua pendekatan saling menguatkan: analisis aural difokuskan pada pengamatan timbre, tempo, dan tekstur bunyi, sementara analisis partitur digunakan untuk menelusuri struktur, progresi harmoni, dan fungsi waditra. Hasil dari dua bentuk analisis tersebut kemudian dibandingkan untuk menemukan kesesuaian dan perbedaan yang signifikan. Setelah itu dilakukan triangulasi antar-sumber dan member checking kepada narasumber untuk memastikan bahwa interpretasi peneliti tidak menyimpang dari maksud pengaransemen. Tahap terakhir adalah reduksi data dan penyusunan narasi temuan yang memadukan data deskriptif, analisis teknis, dan refleksi konseptual. Analisis data dilakukan secara deskriptif-sintesis dengan mengikuti model Miles dan Huberman (1994), yang mencakup tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih informasi yang relevan dari transkrip wawancara dan partitur untuk difokuskan pada tema utama, yaitu proses kreatif dan perubahan unsur musikal. Penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi interpretatif yang disertai tabel perbandingan dan contoh notasi, sedangkan penarikan kesimpulan dilakukan melalui sintesis antara data empiris dan teori proses kreatif. Validitas hasil analisis diperkuat dengan triangulasi teknik menggabungkan analisis aural dan analisis partitur, serta triangulasi sumber dengan membandingkan hasil wawancara dan observasi dokumen. Untuk memastikan reliabilitas, peneliti menyusun audit trail berupa catatan keputusan analisis dan revisi partitur, serta melakukan member checking dengan narasumber pada tahap akhir interpretasi. Prinsip-prinsip trustworthiness (credibility, transferability, dependability, dan confirmability) digunakan sebagai tolok ukur kualitas penelitian (Mulatiningsih & Rindrayani, 2013). Selain aspek teknis, penelitian ini juga memperhatikan etika akademik. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti memperoleh informed consent dari narasumber dan memberikan hak kepada pengaransemen untuk meninjau kembali kutipan yang mengandung pernyataannya. Semua dokumen dan rekaman disimpan secara aman dan hanya digunakan untuk keperluan akademik. Informasi sensitif yang bersifat pribadi tidak dipublikasikan tanpa persetujuan tertulis. Prinsip-prinsip etika ini diterapkan agar penelitian berjalan dengan menghormati hak cipta, privasi, dan integritas artistik pengaransemen, sejalan dengan pedoman etika penelitian kualitatif dalam bidang seni dan humaniora (Prayogi, 2024). Secara keseluruhan, metode penelitian ini tidak hanya memungkinkan deskripsi yang kaya tentang tahapan proses kreatif Yadi Piteuk, tetapi juga memberikan justifikasi ilmiah terhadap perubahan unsur-unsur musikal dalam aransemen Jempling Peuting. Melalui perpaduan wawancara, analisis partitur, dan observasi auditif, penelitian ini menghasilkan potret yang utuh tentang bagaimana tradisi dan inovasi berinteraksi di dalam praktik aransemen kontemporer. Kombinasi metodologis yang digunakan menegaskan relevansi studi ini bagi musikologi modern, yakni bahwa pemahaman terhadap karya musik tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap proses penciptaannya, konteks sosialnya, dan kesadaran estetis senimannya. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 17 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music 3.1. Temuan Utama: Tahapan Proses Kreatif Analisis data (wawancara, partitur, dan rekaman) menunjukkan bahwa proses kreatif Yadi Piteuk dalam mengaransemen Jempling Peuting mengikuti rangka tahapan klasik yang sejalan dengan model Wallas: persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi, namun dengan manifestasi teknis yang khas pada praktik aransemen karawitan Sunda. Pada tahap persiapan, Yadi terlibat dalam kajian versi terdahulu (kliningan dan celempungan), mengumpulkan referensi musikal dan observasi soal penerimaan audiens. Tahap inkubasi terjadi ketika ide-ide dikembangkan secara implisit sebelum diuji. Tahap iluminasi memunculkan gagasan utama seperti pemisahan peran vokal dan peran fill-in violin. Tahapan verifikasi terealisasi melalui uji coba di studio/performa dan revisi partitur hingga bentuk final tercapai. Diskusi. Tahapan tersebut menegaskan bahwa proses kreatif arranger bukan sekadar keputusan teknis, tetapi terhubung dengan sensitivitas sosial, yakni keinginan menjembatani preferensi generasi muda dengan tradisi. Hal ini sejalan dengan temuan Ruswandi (2016) tentang kreativitas yang lahir dari kebutuhan masyarakat, Hernandi (2022) di mana inovasi dalam karya tradisi harus mampu menjaga kesinambungan nilai budaya sambil memperluas cakrawala ekspresi musikal agar tetap relevan bagi audiens masa kini, dan Sumarsono & Sukotjo (2024) mengenai kreativitas sebagai cara memaknai ulang elemen yang ada. Dengan demikian, proses kreatif di sini bersifat dialogis: artistik ↔ sosial. 3.2. Unsur-unsur Musik yang Berubah dan Implikasinya Di bawah ini saya jabarkan temuan per-unsur (hasil) dan kemudian membahas signifikansinya (diskusi). Untuk setiap sub-bagian saya sertakan rujukan ke tabel/notasi/gambar di draf yang nanti Anda lampirkan secara manual. 3.2.1. Timbre dan Instrumentasi (Hasil) Hasil inventarisasi menunjukkan perbedaan instrumentasi yang signifikan: versi celempungan menggunakan gambang, celempung, rebab, kacapi, kacapi rincik, kendang, dan vokal; versi kacapi inovatif mempertahankan kacapi (kacapi indung & rincik) dan kendang, tetapi menggantikan rebab/gambang/celempung dengan violin dan perkusi modern. Tabel 1 merangkum perbandingan ini. Tabel 1 Perbedaan instrumentasi versi celempungan dengan versi kacapi inovatif Instrumentasi Celempungan Instrumentasi Kacapi Inovatif Vokal Wanita Vokal Wanita Vokal Pria Vokal Pria Kacapi Kacapi Kacapi Rincik Kacapi Rincik Rebab Violin Kendang Kendang Celempung Perkusi Gambang - 18 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Sumber: (Furi, 2025) Pergeseran instrumentasi mengubah palet timbre secara eksplisit. Violin memberi warna suara yang lebih “bersinar” dibanding rebab, sedangkan perkusi modern menambah nuansa ritmis yang terasa dekat dengan idiom populer. Namun, keberadaan kacapi dan kendang menjaga kontinuitas identitas Sunda, sehingga inovasi bersifat aditif dan selektif, bukan substitusi total. Strategi ini sesuai dengan praktik revitalisasi tradisi yang menyarankan pengaturan ulang fungsi instrumen daripada penghapusan (Montagu, 2007; Suparli, 2010). 3.2.2. Struktur Lagu Analisis partitur menunjukkan bahwa versi kacapi inovatif terstruktur lebih terperinci. Tersusun dalam 139 bar dengan pembagian segmen jelas (intro; song A, B, C; bridge; interlude; beragam bagian song D; outro) sebagaimana tertera pada tabel 2, struktur ini membuka ruang untuk variasi motif dan dramaturgi yang lebih berkembang dibanding versi celempungan yang cenderung repetitif. Tabel 2 Struktur bagan lagu versi kacapi inovatif No. Bagan Letak Bar 1 Intro 1-19 2 Song A(a) 20-26 3 Song B(a) 26-36 4 Bridge Instrumental A(a) 36-39 5 Song C(a) 39-43 6 Song D1 45-51 7 Song D2 53-59 8 Song D3 62-67 9 Song D4(a) 68-76 10 Bridge Instrumental B 75-78 11 Song D5 79-84 12 Song D6 86-93 13 Song D7 94-100 14 Song D4(b) 101-108 15 Interlude 108-112 16 Song A(b) 113-119 19 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music 17 Song B(b) 119-129 18 Bridge Instrumental 129-132 19 Song C(b)/Outro 132-139 Sumber: (Furi, 2025) Pengorganisasian bentuk yang lebih kompleks memungkinkan narasi musikal yang lebih bertahap. Sebuah strategi aransemen agar pendengar modern dapat mengikuti perkembangan emosional lagu (mis. kontras dinamik antara bagian cepat dan bagian melankolis). Dari perspektif teori bentuk, struktur baru ini memperlihatkan adaptasi bentuk tradisional ke format lebih linear yang sering ditemui pada aransemen pop. 3.2.3. Tempo Pengukuran tempo pada rekaman menampilkan variasi signifikan: bagian awal cenderung lebih cepat (90 BPM) untuk kesan dinamis, sedangkan bagian D (melankolis) diperlambat (66 BPM). Sebaliknya, versi celempungan menunjukkan tempo stabil (sekitar 78 BPM). Perbedaan ini dapat dilihat pada notasi 1–3 yang ditandai dengan kotak merah berikut. Notasi 1 Tempo pada bagan intro aransemen Yadi Piteuk (Sumber: Furi, 2025) 20 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Notasi 2 Tempo pada bagan song D1 aransemen Yadi Piteuk (Sumber: Furi, 2025) Notasi 3 Tempo pada bagan intro versi celempungan (Sumber: Furi, 2025) Variasi tempo berfungsi dramaturgis, memperkuat kontras emosional dan memperluas daya ekspresif lagu. Pendekatan ini memanfaatkan tempo sebagai alat naratif, bukan sekadar parameter metronomik; praktik serupa direkomendasikan dalam aransemen yang ingin menjangkau audiens modern tanpa mereduksi karakter melankolis tradisional. 3.2.4. Harmoni dan Melodi 21 Proses Kreatif Yadi Piteuk Dalam Mengaransemen Lagu Jempling Peuting (Eka Santya Kanya Furi) Ostinato: Journal of Education, Study, Research and Creation of Music Analisis perbandingan partitur menunjukkan peralihan dari praktik harmonisasi horizontal/heterofonik khas karawitan Sunda menuju penerapan scoring/akor vertikal (progresi Em, Am7, dll.) dalam versi Yadi. Meski demikian, melodi utama tetap mempertahankan kontur laras Sunda sehingga tidak hilang identitas melodisnya. Notasi 4 dan 5 menggambarkan konstruksi harmoni pada kedua versi. Notasi 4 Harmoni pada bagan intro aransemen Yadi Piteuk (Sumber: Furi, 2025) Notasi 5 Harmoni pada bagan intro versi celempungan (Sumber: Furi, 2025) Integrasi sistem harmoni Barat memperluas pilihan rubuhan nada dan warna progresi sehingga memungkinkan frasa vokal “rubuh” ke nada-nada berbeda sesuai fungsi akor. Ini memberi fleksibilitas ekspresif yang tidak tersedia pada model harmonik tradisional yang lebih “kaku”.