The Relationship Between Friendship Quality and Subjective Well-Being Among Students Of X Senior High School, South Tambun
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Nomor 5, December 2025, P. 40-56 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17802852 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected], tugimin.supr[email protected]arajaya.ac.id, [email protected] Hubungan Antara Kualitas Pertemanan dengan Subjective Well-Being Pada Siswa SMA X Tambun Selatan The Relationship Between Friendship Quality and Subjective Well-Being Among Students Of X Senior High School, South Tambun Novita Ananda Trisnawati1, Rijal Abdillah2, Tugimin Supriyadi3, Hema Dayita4 1-4 Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Bhayangkara Jakarta Raya A B S T R A C T This study aims to examine the relationship between friendship quality and subjective well-being among students of SMA X Tambun Selatan. Adolescence is a developmental stage characterized by a strong need for peer support, making friendship quality an important factor that may influence adolescents’ psychological well-being. This research employed a quantitative approach using a correlational method. The participants consisted of 130 tenthand eleventh-grade students selected through purposive sampling. The instruments used in this study included a friendship quality scale based on Parker & Asher’s (1993) theory and a subjective well-being scale adapted from Diener’s (1984) concept. Descriptive analysis indicated that most students had friendship quality within the moderate to high categories. Meanwhile, their subjective wellbeing levels fell within the moderate category. Pearson correlation analysis showed a strong and significant positive relationship between friendship quality and subjective well-being (r = 0.718, p < 0.001). These findings suggest that the higher the friendship quality students experience, the higher their level of subjective well-being. Overall, this study highlights that positive and supportive friendships play an important role in enhancing adolescents’ psychological well-being. The results of this research may serve as a basis for schools, parents, and counselors to foster environments that support the development of healthy social relationships among students. A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pertemanan dengan subjective wellbeing pada siswa SMA X Tambun Selatan. Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan kebutuhan kuat akan dukungan teman sebaya, sehingga kualitas pertemanan diduga memiliki pengaruh penting terhadap kesejahteraan psikologis remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Jumlah responden dalam penelitian ini adalah 130 siswa kelas X dan XI yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi skala kualitas pertemanan yang disusun berdasarkan teori Parker & Asher (1993) dan skala subjective wellbeing yang merujuk pada teori Diener (1984). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kualitas pertemanan pada kategori sedang hingga tinggi. Sementara itu, subjective wellbeing siswa berada pada kategori sedang. Uji korelasi Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat dan signifikan antara kualitas pertemanan dan subjective well-being (r = 0,718, p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik kualitas pertemanan yang dimiliki siswa, semakin tinggi pula tingkat subjective well-being mereka. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa hubungan pertemanan yang positif dan suportif berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis remaja. Penelitian ini dapat dijadikan dasar bagi sekolah, orang tua, serta konselor untuk menciptakan lingkungan yang mendorong terbangunnya relasi sosial yang sehat di kalangan siswa. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan salah satu fase perkembangan yang paling krusial dalam kehidupan manusia. Pada tahap ini, individu mengalami berbagai perubahan signifikan secara fisik, kognitif, emosional, dan sosial. Remaja menghadapi berbagai tantangan dalam menemukan A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 01 December 2025 Keywords kualitas pertemanan, subjective wellbeing, remaja, hubungan sosial. Keywords friendship quality, subjective wellbeing, adolescents, social relationships. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Socius E-ISSN: 3025-6704 identitas diri, penyesuaian diri dengan lingkungan sosial, dan membangun hubungan interpersonal yang sehat (Aprillia et al., 2024). Dalam psikologi perkembangan, fase ini sering disebut sebagai masa storm and stress, karena ketidakstabilan emosi dan pencarian jati diri yang intens terjadi selama periode ini (Santrock et al., 2003). Masa remaja juga memegang peranan penting dalam mendukung perkembangan psikososial individu. Dalam konteks hubungan pertemanan siswa yang merupakan bagian dari fase perkembangan remaja memegang peranan yang penting dalam membangun hubungan pertemanan (Rahmat & Samarinda, 2014). Namun demikian masih banyak ditemui siswa yang mengalami kesulitan dalam menjalin kedekatan emosional, merasa tidak nyaman untuk terbuka kepada teman, atau justru mengalami konflik dan pengkhianatan dalam hubungan sosial mereka. Permasalahan ini berdampak langsung pada aspek kesejahteraan subjektif (SWB), yang mencakup kepuasan hidup, emosi positif, dan rendahnya emosi negatif (Xaverius et al., 2025). Di lingkungan sekolah, beberapa siswa tampak memiliki kualitas pertemanan yang erat dan suportif, yang membuat mereka tampak lebih percaya diri, bahagia, dan termotivasi dalam kegiatan akademik maupun sosial (Farida & Hamka, 2021). Padahal, siswa yang kurang memiliki teman dekat dan mengalami hubungan pertemanan yang tidak sehat sering kali menunjukkan gejala psikologis seperti kecemasan, kesepian, menarik diri dari lingkungan sosial, dan memiliki tingkat kepuasan hidup yang rendah (Damayanti & Haryanto, 2019). Pernyataan Lubis (2019), menegaskan permasalahan di atas bahwa masa remaja merupakan periode perkembangan di mana kemampuan individu dalam memahami aspek sosial meningkat secara signifikan (Saputro, 2018). Akan tetapi, peningkatan pemahaman ini seringkali diiringi oleh tekanan sosial yang semakin kompleks, sehingga remaja menjadi kelompok yang rentan mengalami berbagai permasalahan psikologis dan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, kebahagiaan menjadi faktor penting yang dapat berfungsi sebagai penangkal terhadap munculnya berbagai masalah tersebut. Diener (1984) menyatakan bahwa kebahagiaan dapat bertindak sebagai anteseden atau pemicu munculnya berbagai manfaat psikologis dan sosial lainnya, seperti peningkatan motivasi, ketahanan emosional, serta kualitas hubungan interpersonal (Diener, 1984). Selanjutnya, Listian dan Alhamdu (2016) menjelaskan bahwa kebahagiaan dan SWB sering digunakan secara bergantian karena keduanya memiliki kedekatan konsep (Selan et al., 2020). Subjective well-being (SWB) merupakan salah satu konstruk utama dalam psikologi positif yang mencerminkan evaluasi individu terhadap kehidupannya, baik secara kognitif maupun afektif. SWB mencakup perasaan bahagia dan kepuasan hidup yang dirasakan seseorang dalam berbagai aspek kehidupan (Salsabila & Maryatmi, 2019). Dolors Navarro et al. (2017) menambahkan bahwa SWB merujuk pada bagaimana individu menilai kualitas hidupnya secara keseluruhan berdasarkan berbagai aspek penting seperti hubungan pertemanan, kehangatan keluarga, waktu luang yang bermakna, serta dukungan sosial yang diterima (Navarro et al., 2017). SWB bergantung pada evaluasi kognitif dan afektif seseorang terhadap kehidupannya, yang meliputi reaksi emosional terhadap peristiwa serta penilaian kognitif terhadap kepuasan dan pemenuhan (Ramadhayanti et al., 2024). Dengan demikian, pemahaman terhadap SWB menjadi penting dalam menjelaskan bagaimana remaja dapat mempertahankan kesehatan psikologis mereka di tengah tuntutan sosial yang semakin besar. Salah satu aspek yang turut memengaruhi tingkat SWB seseorang adalah lingkungan sosial tempat individu tersebut berada. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian Untari (2021) yang menunjukkan bahwa individu yang mampu menjalin relasi positif dengan orang-orang di sekitarnya serta merasa puas terhadap kondisi dirinya, cenderung memiliki tingkat SWB yang lebih tinggi . Dalam konteks remaja, Dolors Navarro et al. (2017) menekankan bahwa kehadiran
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Novita Ananda Trisnawati, et., al/ Hubungan Antara Kualitas teman memainkan peran penting dalam membentuk kesejahteraan subjektif. Selanjutnya, menurut Salsabila dan Maryatmi (2019), pertemanan merupakan bentuk hubungan interpersonal antara dua orang atau lebih yang ditandai dengan frekuensi interaksi yang tinggi, kedekatan emosional, serta kecenderungan untuk menghabiskan waktu bersama, sehingga sering diidentifikasi sebagai bentuk persahabatan yang erat (Salsabila & Maryatmi, 2019). Dengan demikian, remaja yang memiliki SWB tinggi umumnya tampil lebih optimis, merasa puas dengan pencapaian hidupnya, serta didominasi oleh pengalaman emosi positif. Kondisi ini membuat mereka lebih tangguh dan mampu menyesuaikan diri ketika menghadapi tekanan sosial dan beban akademik. (Hidayat & Suprihatin, 2021). Kondisi ini semakin memprihatinkan mengingat bahwa remaja berada pada fase perkembangan yang penuh tantangan, baik secara emosional maupun sosial. Di sinilah pentingnya peran kualitas pertemanan teman sebaya. Teman sebaya yang memiliki hubungan yang positif dan mendalam dapat membantu remaja dalam mengelola stres, memberikan rasa diterima, serta memperkuat penilaian positif terhadap kehidupan mereka (Bakalım & Karçkay, 2016). Hal ini sesuai dengan temuan Herdiati, Rawita, Hakim, dan Suta (2025) yang menekankan bahwa kualitas pertemanan yang baik dapat menjadi salah satu penopang penting bagi kesejahteraan subjektif remaja, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan hidup dengan lebih resilient (Herdiati et al., 2025). Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas pertemanan memiliki hubungan yang signifikan dengan SWB, khususnya pada remaja dan dewasa muda. Penelitian Bakalım dan Taşdelen Karçkay (2016) menemukan bahwa kualitas pertemanan berkontribusi terhadap kesejahteraan subjektif melalui peran mediasi dukungan sosial, yang memberikan rasa aman secara emosional (Bakalım & Karçkay, 2016). Istiqomah dan Alwi (2022) juga melaporkan bahwa siswa SMA yang memiliki pertemanan berkualitas menunjukkan tingkat afek positif yang tinggi dan afek negatif yang rendah, yang mencerminkan kesejahteraan psikologis yang baik (Istiqomah & Alwi, 2022). Riset dari Baidun (2020) juga menunjukkan bahwa kualitas pertemanan yang baik berkorelasi dengan meningkatnya hardiness dan kesejahteraan subjektif (Istiqomah & Alwi, 2022). Sementara itu, Damayanti dan Purwantini (2025) meneliti remaja akhir di Kota Makassar dan menyimpulkan bahwa hubungan pertemanan yang sehat berdampak positif pada perasaan bahagia dan puas terhadap kehidupan (Damayanti & Purwantini, 2025). Di sisi lain, penelitian oleh Dungga dan Zainuddin (2024) pada remaja akhir menunjukkan bahwa keterbukaan diri dan pertemanan yang suportif berkontribusi terhadap SWB (Dungga et al., 2024). Secara keseluruhan, studi-studi ini menegaskan pentingnya kualitas relasi sosial dengan teman sebaya sebagai faktor pelindung dan pendukung utama dalam pengembangan kesejahteraan subjektif remaja. SWB yang rendah pada remaja dapat membawa dampak serius dalam kehidupan seharihari, seperti munculnya rasa tidak berdaya, rendahnya motivasi belajar, serta meningkatnya risiko perilaku menyimpang (Ramadhani & Rista, 2025). Remaja yang merasa tidak puas dengan kehidupannya cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan menjalin relasi interpersonal, dan mengalami kesulitan dalam mengelola emosi negatif. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang berkontribusi terhadap subjective well-being agar dapat dilakukan upaya pencegahan dan intervensi secara dini (Vierdiana, 2024). Fenomena subjective well-being yang rendah muncul ketika individu merasa hidupnya kurang bermakna, tidak memuaskan, atau jauh dari rasa bahagia. Situasi ini biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal, seperti regulasi emosi dan persepsi diri serta faktor eksternal, termasuk hubungan sosial dan lingkungan. (Farida & Hamka, 2021). Beberapa faktor yang dapat
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Socius E-ISSN: 3025-6704 menyebabkan rendahnya SWB antara lain stres dan tekanan hidup akibat pekerjaan, pendidikan, atau masalah pribadi, kekurangan dukungan sosial yang mengurangi rasa aman dan kebahagiaan, isolasi sosial yang berhubungan dengan kesepian, masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan yang memengaruhi kemampuan untuk menikmati hidup, ketidakmampuan mencapai tujuan hidup atau merasa tidak berhasil, kondisi sosial ekonomi yang tidak stabil, serta kesehatan fisik yang buruk akibat gangguan atau penyakit kronis (Ramadhani & Rista, 2025). Oleh karena itu faktor-faktor ini saling terkait dan dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang, dengan dampak yang bervariasi tergantung pada pengalaman dan konteks hidup masing-masing individu (Lee, 2022). Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa hubungan sosial, terutama pertemanan, merupakan faktor penting dalam meningkatkan SWB remaja. Ruaidah (2023) mengungkapkan bahwa kualitas pertemanan yang buruk, seperti rendahnya kepercayaan, konflik tidak terselesaikan, dan kurangnya keterbukaan, berkorelasi dengan meningkatnya kecemasan dan kesepian. Sebaliknya, pertemanan yang berkualitas tinggi mampu meningkatkan frekuensi afek positif dan mengurangi afek negatif (Ruaidah, 2023). Riset dari Salsabila dan Maryatmi (2019) juga menemukan bahwa siswa dengan relasi sosial yang baik cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dan menunjukkan partisipasi yang aktif dalam kegiatan sekolah. Mereka memiliki motivasi belajar yang lebih tinggi serta lebih cepat pulih dari tekanan psikologis. Dalam konteks ini, kualitas pertemanan tidak hanya berdampak pada kehidupan pribadi, tetapi juga pada prestasi akademik dan keterlibatan sosial remaja di lingkungan sekolah (Salsabila & Maryatmi, 2019). Di Indonesia, masih terbatas penelitian yang mengkaji hubungan kualitas pertemanan dan SWB secara mendalam, khususnya pada remaja di kawasan pinggiran kota (Matitaputty et al., 2021). Padahal, remaja di daerah ini menghadapi tantangan tersendiri, seperti keterbatasan akses terhadap fasilitas psikososial, tekanan akademik yang tetap tinggi, serta perubahan sosial yang cepat akibat kemajuan teknologi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan studi kontekstual guna melihat bagaimana dinamika pertemanan memengaruhi SWB dalam lingkungan yang unik ini (Ilhamsyah & Borualogo, 2021). Merujuk pada hasil observasi awal yang dilakukan di SMA X Tambun Selatan pada bulan Agustus 2025 melalui wawancara dengan guru Bimbingan Konseling (BK), serta pengamatan non-partisipan di lingkungan sekolah (kantin, kelas, dan kegiatan ekstrakurikuler). Tujuan dari observasi ini adalah untuk memperoleh gambaran awal mengenai kondisi kualitas pertemanan dan kesejahteraan subjektif SWB siswa. Berdasarkan wawancara dengan guru BK, beberapa siswa menunjukkan adanya masalah dalam menjalin hubungan pertemanan, seperti kurang terbuka dalam berbagi perasaan, munculnya konflik kecil antar teman, hingga kecenderungan menarik diri dari kelompok sosial. Hal ini sejalan dengan temuan wawancara dan informasi lapangan yang mengindikasikan bahwa tidak semua interaksi antarsiswa berlangsung secara positif. Wawancara singkat dengan beberapa siswa menunjukkan bahwa dinamika pertemanan di sekolah cukup beragam. Dari 15 siswa yang diwawancarai, sebanyak 8 siswa mengaku kesulitan menemukan teman yang dapat dipercaya untuk berbagi masalah pribadi. Selain itu, 3 siswa menyatakan sering merasa ditinggalkan dalam kegiatan kelompok, sementara hanya 4 siswa yang memiliki teman dekat yang konsisten memberikan dukungan emosional. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian siswa belum memiliki hubungan pertemanan yang suportif, sehingga dapat berdampak pada kondisi psikologis mereka. Temuan ini mengindikasikan bahwa aspek negatif dalam pertemanan relatif lebih menonjol dibandingkan aspek positif. Kondisi ini dapat berdampak pada kesejahteraan subjektif
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Novita Ananda Trisnawati, et., al/ Hubungan Antara Kualitas siswa, terutama pada aspek afek negatif (negative affect), seperti perasaan cemas, sedih, dan tidak puas terhadap lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pertemanan dengan subjective well-being siswa secara lebih mendalam dan terukur (Sutia & Santoso, 2022). Dalam konteks ini, kualitas pertemanan memainkan peran krusial sebagai penopang kesejahteraan subjektif remaja. Hubungan pertemanan yang positif tidak hanya menyediakan dukungan emosional dan validasi diri, tetapi juga menciptakan rasa aman secara psikologis yang memungkinkan remaja berkembang secara optimal (Riansyah, 2024). Sebaliknya, pertemanan yang renggang atau penuh konflik dapat memperburuk kondisi emosional remaja dan menghambat terbentuknya well-being secara menyeluruh. Sehingga individu membutuhkan SWB dimana SWB sebagai variabel terikat merujuk pada teori Diener (1984), yang menegaskan bahwa hubungan sosial yang berkualitas, termasuk pertemanan, memiliki peran sentral dalam membentuk persepsi individu terhadap kebahagiaan dan kepuasan hidup. Penelitian Istiqomah dan Alwi (2022) menunjukkan bahwa siswa dengan pertemanan yang kuat memiliki kepuasan hidup lebih tinggi dan lebih jarang mengalami emosi negatif (Istiqomah & Alwi, 2022). Perbandingan antara hasil penelitian di luar negeri dan di Indonesia juga menunjukkan adanya perbedaan konteks yang signifikan. Misalnya, penelitian Demir dan Weitekamp (2007) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa dimensi intimate exchange dan conflict resolution adalah prediktor terkuat bagi kebahagiaan remaja. Namun, studi di Indonesia (Istiqomah & Alwi, 2022) justru menemukan bahwa aspek validation and caring lebih dominan. Hal ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan faktor budaya dan sosial dalam meneliti hubungan kualitas pertemanan dan SWB. Dalam konteks psikologi indigenous, siswa di kawasan Tambun Selatan, yang merupakan bagian dari daerah pinggiran perkotaan, menjadi kelompok yang menarik untuk dikaji. Lingkungan sosial yang cenderung heterogen, tekanan akademik dari persaingan sekolah negeri dan swasta, pengaruh rendahnya kualitas pertemanan yang tinggi menjadi faktor-faktor yang memengaruhi dinamika pertemanan dan kondisi psikologis siswa (Herdiati et al., 2025). Dengan memahami hubungan antara kedua variabel ini, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan program intervensi psikologis yang mendorong terbentuknya pertemanan sehat, serta meningkatkan kesejahteraan subjektif di kalangan remaja, khususnya di wilayah pinggiran kota. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X dan XI pada SMA X Tambun Selatan. Berdasarkan data dari bagian kesiswaan, populasi siswa kelas X dan XI adalah sebanyak 300 siswa. Sampel dalam penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian (Creswell, 2014). Sampel yang dipilih harus memenuhi kriteria tertentu untuk memastikan relevansi dan validitas data yang dikumpulkan. Adapun Jumlah Sampel yang akan diambil sekitar 100–150 siswa dari kelas X dan XI. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Teknik ini dipilih karena peneliti menentukan sampel berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini, kriteria sampel yang ditetapkan adalah sebagai berikut: a) Siswa aktif di SMA X Tambun Selatan.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Socius E-ISSN: 3025-6704 b) Berada pada jenjang kelas X dan XI. c) Bersedia menjadi responden penelitian. d) Kurangnya kualitas pertemanan pada siswa sehingga berdampak pada SWB nya. Analisis dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pertemanan dan kesejahteraan subjektif (SWB) pada siswa SMA di Tambun Selatan. Berdasarkan metodologi yang dijelaskan, analisis ini menggunakan metode kuantitatif korelasional untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara kualitas pertemanan (yang diukur melalui dimensi-dimensi seperti companionship, validation, intimate exchange, conflict resolution, help and guidance, dan conflict and betrayal menurut Parker & Asher (1993), dengan kesejahteraan subjektif (yang diukur melalui life satisfaction, positive affect, dan negative affect) menurut Diener (1984). Analisis hubungan antar variabel dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson, mengingat data yang digunakan memiliki skala interval dan memenuhi asumsi normalitas. Uji ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara dua variabel tersebut, yaitu kualitas pertemanan dan kesejahteraan subject dengan mempertimbangkan sifat data yang memenuhi kriteria tersebut. Selain itu, uji linearitas digunakan untuk memastikan apakah terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel kualitas pertemanan dan SWB, untuk mengevaluasi apakah hubungan antara kedua variabel tersebut dapat digambarkan dengan model linier yang tepat. Seluruh proses analisis data dilakukan menggunakan software JASP versi 0.193.3, yang dirancang untuk memudahkan pemrosesan statistik dan memastikan keakuratan hasil analisis. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini sangat penting, mengingat hipotesis yang diajukan masih berupa dugaan awal yang perlu dibuktikan secara statistik untuk memastikan validitas dan reliabilitasnya.oleh karena itu, pelaksanaan uji hipotesis bertujuan untuk memperoleh kesimpulan yang valid dan signifikan, serta untuk memperkuat dasar teoritis mengenai hubungan antara kualitas pertemanan dengan SWB pada siswa SMA X Tambun Selatan. Hasil pengujian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan mendalam mengenai pengaruh kualitas pertemanan terhadap kesejahteraan psikologis siswa, yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Validitas Alat Ukur Penelitian Tabel 1. Validitas Skala Kualitas Pertemanan Aspek Sebelum Uji Coba Setelah Uji Coba Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable Total Companionship & Recreation 1, 2, 3 – 1, 2, 3 – 3 Validation & Caring 4, 5, 6 – 4, 5, 6 – 3 Intimate Exchange 7, 8, 9 – 7, 8, 9 – 3 Conflict Resolution 10, 11, 12 – 10, 11, 12 – 3 Help and Guidance 13, 14, 15 – 13, 14, 15 – 3 Conflict and Betrayal – 16, 17, 18, 19, 20 – 16, 17, 18, 19*, 20 4 Jumlah 5 15 4 19
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Novita Ananda Trisnawati, et., al/ Hubungan Antara Kualitas Skala kualitas pertemanan disusun berdasarkan enam dimensi dari Parker & Asher (1993), yaitu companionship and recreation, validation and caring, intimate exchange, help and guidance, conflict resolution, dan conflict and betrayal. Uji validitas dilakukan dengan teknik korelasi item-total, dengan kriteria item dinyatakan valid apabila memiliki nilai korelasi ≥ 0,30 dan p < 0,05. Berdasarkan hasil uji validitas, terdapat beberapa item yang memiliki nilai korelasi di bawah batas tersebut, sehingga dinyatakan tidak valid dan telah dihapus dari instrumen. Itemitem yang gugur ditandai dengan tanda (*) pada lampiran. Selain itu, terdapat beberapa item yang memiliki nilai korelasi negatif. Item tersebut merupakan item berarah negatif (unfavorable) sehingga tetap dipertahankan tetapi dilakukan reverse scoring agar arah penilaiannya konsisten dengan item lainnya. Setelah item tidak valid dihapus dan item negatif di-reverse scoring, jumlah item final skala kualitas pertemanan adalah 19 item. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar α = 0,821, yang berarti skala memiliki konsistensi internal yang baik dan layak digunakan sebagai alat ukur penelitian. Tabel 2 Validitas Skala Subjective Well-Being Aspek Sebelum Uji Coba Setelah Uji Coba Favorable Unfavorable Favorable Unfavorable Total Life Satisfaction 1, 2, 3, 4, 5 – 1, 2, 3*, 4, 5 – 4 Positive Affect 6, 7, 8, 9, 10 – 6, 7, 8, 9, 10 – 5 Negative Affect – 11, 12, 13, 14, 15 – 11, 12, 13*, 14*, 15 3 Jumlah 10 5 9 3 12 Skala SWB disusun berdasarkan teori Diener (1984), yang terdiri dari tiga komponen utama yaitu life satisfaction, positive affect, dan negative affect. Proses uji validitas dilakukan menggunakan teknik korelasi item-total. Item dengan nilai korelasi < 0,30 dinyatakan tidak valid dan telah dihapus dari instrumen, yang ditandai dengan tanda (*) pada lampiran. Item yang memiliki korelasi signifikan namun bernilai negatif dikategorikan sebagai item berarah negatif, sehingga tetap dipertahankan tetapi dilakukan reverse scoring agar interpretasi skor tetap searah dengan konstruk SWB. Setelah revisi terhadap item tidak valid dan penerapan reverse scoring, skala SWB juga dinyatakan layak digunakan sebagai alat ukur. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar α = 0,857, yang termasuk kategori reliabilitas tinggi, sehingga skala ini konsisten dalam mengukur subjective well-being pada siswa SMA. Reliabilitas Alat Ukur Penelitian Skor reliabilitas kedua skala dapat digambarkan pada table dibawah ini: Tabel 3 Reliabilitas Skala Penelitian Point estimate 0.801 95% CI lower bound 0.762 95% CI upper bound 0.836
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Socius E-ISSN: 3025-6704 Berdasarkan hasil uji reliabilitas, diperoleh nilai point estimate sebesar 0,801. Nilai ini menunjukkan bahwa instrumen penelitian memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi, sehingga item-item dalam skala tersebut bekerja secara konsisten dalam mengukur konstruk yang ingin diteliti. Hasil ini juga diperkuat oleh interval kepercayaan 95%, dengan batas bawah sebesar 0,762 dan batas atas sebesar 0,836. Rentang tersebut menggambarkan bahwa meskipun terdapat kemungkinan variasi dalam estimasi reliabilitas, seluruh nilai yang mungkin muncul tetap berada pada kategori yang baik dan dapat diterima. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa instrumen yang digunakan memiliki konsistensi internal yang memadai, sehingga dapat dipercaya untuk mengukur variabel penelitian secara stabil dan akurat. Dengan demikian, instrumen tersebut layak digunakan dalam tahap analisis selanjutnya. HASIL Profil Demografis Penelitian ini melibatkan 150 siswa dari SMA X Tambun Selatan sebagai responden. Para responden terdiri dari siswa kelas X dan XI yang secara sukarela bersedia mengisi kuesioner yang diberikan. Berdasarkan karakteristik demografisnya, responden dalam penelitian ini didominasi oleh perempuan sebesar 66,2%, sedangkan laki-laki berjumlah 33,8%. Komposisi ini memberikan gambaran yang cukup representatif mengenai persepsi siswa di lingkungan sekolah tersebut. Hal tersebut dapat digambarka dalam table dibawah ini: Tabel 4. Uji Statistik Deskriptif X Y Valid 130 130 Missing 0 0 Mean 56.154 34.315 Median 58.000 35.000 Std. Deviation 5.711 2.815 Minimum 34.000 22.000 Maximum 67.000 38.000 Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif pada Tabel 4.5, diketahui bahwa jumlah data yang digunakan pada kedua variabel, baik X (Kualitas pertemanan) maupun Y (Subjective wellbeing), adalah 130 responden tanpa adanya data yang hilang (missing = 0). Hal ini menunjukkan bahwa keseluruhan data dapat dianalisis secara utuh. Pada variabel X, nilai mean sebesar 56,154 menunjukkan rata-rata skor responden berada pada angka tersebut. Sementara itu, nilai median sebesar 58,000 mengindikasikan bahwa setengah dari responden memiliki skor di atas 58 dan setengahnya lagi di bawah 58. Nilai standar deviasi (SD) sebesar 5,711 menunjukkan adanya variasi data yang cukup moderat. Rentang skor pada variabel X berada pada 34,000 sebagai nilai minimum dan 67,000 sebagai nilai maksimum. Untuk variabel Y, diperoleh nilai mean sebesar 34,315, yang berarti rata-rata skor responden pada variabel ini berada di sekitar angka tersebut. Nilai median sebesar 35,000 menunjukkan distribusi data yang relatif seimbang. Standar deviasi variabel Y sebesar 2,815, menandakan bahwa sebaran data variabel Y lebih kecil dibandingkan variabel X, sehingga skor responden pada variabel Y cenderung lebih homogen. Adapun rentang skor variabel Y berada antara 22,000 sebagai nilai minimum dan 38,000 sebagai nilai maksimum.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Novita Ananda Trisnawati, et., al/ Hubungan Antara Kualitas Tabel 5. Uji Statistik Deskriptif Berdasarkan hasil pada Tabel 5, dilakukan analisis deskriptif untuk melihat perbedaan skor Kualitas Pertemanan dan Subjective Well-Being berdasarkan jenis kelamin dan kelas. 1. Berdasarkan Jenis Kelamin a) Untuk variabel Kualitas Pertemanan, responden laki-laki memiliki nilai mean sebesar 56.92 dengan standar deviasi 5.98, sedangkan perempuan memiliki mean 56.19 dengan standar deviasi 6.25. Perbedaan skor antara laki-laki dan perempuan terlihat sangat kecil. Nilai signifikansi sebesar 0.214 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kualitas pertemanan berdasarkan jenis kelamin. b) Pada variabel Subjective Well-Being, laki-laki memiliki mean 38.77, sedangkan perempuan memiliki mean 38.50. Sama seperti variabel sebelumnya, perbedaan mean antara kedua kelompok sangat tipis. Nilai signifikansi sebesar 0.321 juga mengindikasikan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan terkait subjective well-being. 2. Berdasarkan Kelas a) Pada variabel Kualitas Pertemanan, siswa kelas X memiliki mean 56.67 dengan standar deviasi 6.04, sedangkan kelas XI memiliki mean 56.00 dengan standar deviasi 6.40. Nilai signifikansi 0.463 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam kualitas pertemanan antara siswa kelas X dan XI. b) Untuk variabel Subjective Well-Being, mean siswa kelas X adalah 38.73, sedangkan kelas XI memiliki mean 38.33. Nilai signifikansi sebesar 0.518 menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Uji asumsi penelitian Uji Normalitas Tabel 6 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Variabel p-value Kualitas pertemanan 0.067 Subjective well-being 0.120 Karakteristik Responden Kualitas Pertemanan Subjective Well-Being Mean SD Sig. Mean SD Sig. Jenis Kelamin Laki-laki 56.92 5.98 0.214 38.77 3.45 0.321 Perempuan 56.19 6.25 38.50 3.12 Kelas X 56.67 6.04 0.463 38.73 3.29 0.518 XI 56.00 6.40 38.33 3.11
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Socius E-ISSN: 3025-6704 Diener, ED. (1984). Subjective Well-Being. Psychological Bulletin, Vol. 95, pp. 542–575. https://doi.org/https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/0033-2909.95.3.542 Dungga, S. A., & Zainuddin, K. (2024). Kualitas Pertemanan dan Subjective Well-Being Remaja Akhir. Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa, 4(2), 1–9. https://doi.org/https://doi.org/10.26858/jtm.v4i2.65930 Herdiati, A. P., Rawita, K., Hakim, R. A., & Suta, R. (2025). Hubungan Dukungan Sosial dengan Tingkat Kebahagiaan pada Mahasiswa Perantau Psikologi Universitas Negeri Padang. Medika Nusantara, 3(2020), 20–36. https://doi.org/doi.org/10.59680/medika.v3i1.1617 Hidayat, Z., & Suprihatin, T. (2021). Hubungan Antara Dukungan Sosial Dan Optimisme Terhadap Subjective Well-being Pada Remaja Di Panti Asuhan At-Taqwa Tembalang. Konstelasi Ilmiah Mahasiswa Unissula (Kimu) 5, 138–144, 136–144. Ilhamsyah, D. Y., & Borualogo, I. S. (2021). Pengaruh Kepuasan Pertemanan terhadap Subjective Well-Being Remaja Panti Asuhan. (August 2020). https://doi.org/10.29313/.v6i2.22387 Istiqomah, N., & Alwi, M. A. (2022). Seӏf-Esteem dan Subjective Weӏӏ-Being pada Siswa SMA. Jurnal Psikologi Talenta Mahasiswa, 2(2), 22–32. Keyes, C. L. M. (2006). Subjective well-being in mental health and human development research worldwide: An introduction. Social Indicators Research, 77(1), 1–10. https://doi.org/10.1007/s11205-005-5550-3 Lee, Y., & Wu, J. (2022). subjective Well-Being : parental support , peer support , and anxiety. 1601– 1629. https://doi.org/10.1007/s12187-022-09937-1 Farida, M., & Tjiptorini, S. (2021). Pengaruh kualitas friendship terhadap subjective well-being pada usia dewasa awal. Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris, 8(1), 1–12. https://doi.org/https://doi.org/10.22236/jippuhamka.v7i1.9272 Matitaputty, J. S., & Rozali, Y. A. (2021). Gambaran kualitas persahabatan pada remaja. Jurnal Psikologi, 2(2), 221–229. Navarro, D., Montserrat, C., Malo, S., González, M., Casas, F., & Crous, G. (2017). Subjective wellbeing: what do adolescents say? Child and Family Social Work, 22(1), 175–184. https://doi.org/10.1111/cfs.12215 Oti Aprillia, N. G., & Yarni, L. (2024). Perkembangan Masa Puber. Guruku: Jurnal Pendidikan Dan Sosial Humaniora, 2(3), 261–275. https://doi.org/10.59061/guruku.v2i3.730 Parker, J. G., & Asher, S. R. (1993). Friendship and Friendship Quality in Middle Childhood: Links With Peer Group Acceptance and Feelings of Loneliness and Social Dissatisfaction. Developmental Psychology, 29(4), 611–621. https://doi.org/10.1037/0012-1649.29.4.611 Rahmat, W. (2014). Pengaruh Tipe Kepribadian dan Kualitas Persahabatan dengan Kepercayaan pada Remaja Akhir. Jurnal Ilmiah Psikologi, 2(1), 41–47. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.30872/psikoborneo.v2i1.3572 Ramadhani, C., & Rista, K. (2025). Fear of Missing Out dengan Sujective Well-Being pada Remaja. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9, 4778–4783. Ramadhayanti, N., Pramesti, R. K., Oktavira, A. C., & Firdaus, A. (2024). Pengaruh Kesadaran Lingkungan terhadap Subjective Well Being dalam Pengelolaan Sampah di Dalam Kelas pada Siswa Sekolah Menengah. 4, 765–774. Riansyah, I. R. (2024). Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kesejahteraan Psikologi Pada Mahasiswa. Indonesian Journal of Business Innovation, 1(1), 403. Ruaidah, N. H., & Zulhendri. (2023). Pengaruh Teman Sebaya Terhadap Psikososial Remaja. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Indonesia, 2(2), 146–152. Retrieved from https://jpion.org./indek.php/jpi
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 40-56 Novita Ananda Trisnawati, et., al/ Hubungan Antara Kualitas Salsabila, A. R., Hermina, C., & Julaibib, J. (2024). Kualitas Pertemanan Dan Kesejarteraan Psikologis: Prespektif Mahasiswa. Jurnal Psikologi Wijaya Putra (Psikowipa), 5(1), 12–22. https://doi.org/10.38156/psikowipa.v5i1.131 Salsabila, S. M., & Maryatmi, A. S. (2019). Hubungan kualitas pertemanan dan self disclosure dengan subjective well-being pada remaja putri kelas xii di sma negeri ‘x’ kota bekas. Self Disclosure Jurnal IKRA-ITH Humaniora, 3(3), 71–82. Santrock, R. D. (2003). Osteochondral lesions of the talus. Foot and Ankle Clinics, 8(1), 73–90. https://doi.org/10.1016/S1083-7515(03)00007-X Saputro, K. Z. (2018). Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja. Aplikasia: Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama, 17(1), 25. https://doi.org/10.14421/aplikasia.v17i1.1362 Savchenko, O., & Kaliuk, O. (2021). The structure of studentsʼ subjective well-being. Організаційна Психологія Економічна Психологія, 4(24), 61–67. https://doi.org/10.31108/2.2021.4.24.8 Selan, M. T., Nabuasa, E., & Damayanti, Y. (2020). Subjective Well-Being pada Wanita Dewasa Awal yang Belum Menikah. Journal of Health and Behavioral Science, 2(3), 213–226. https://doi.org/10.35508/jhbs.v2i3.2719 Sutia, N., & Santoso, G. (2022). Pengaruh Pendidikan Karakter Terhadap Perkembangan Sosial dan Emosional Siswa di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Transformatif (Jupetra), 01(02), 1– 10. Šutić, L., van Roekel, E., & Novak, M. (2025). Quality of friendships and well-being in adolescence: daily life study. International Journal of Adolescence and Youth, 30(1). https://doi.org/10.1080/02673843.2025.2467112 Vierdiana, D. (2024). Analisis FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kesehatan Mental di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi. Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 7(Jil. 7 Nomor 1 (2024) : Jilid 7 Nomor 1 Tahun 2024), 1553–1558. Retrieved from https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jrpp/article/view/25352 Wardah, N. A., & Jannah, M. (2022). Representasi Subjective Well-Being pada Dewasa Awal Representation Of Subjective Well-Being in Early Adulthood Nadia. Character: Jurnal Pendidikan Psikologi, 10(02), 232–242. https://doi.org/https://doi.org/10.26740/cjpp.v10i2.53199 Xaverius, F., Roosdyanto, D., & Fahlevi, R. (2025). Kesejahteraan subjektif pada mahasiswa universitas x jakarta. Provitae Jurnal Psikologi Pendidikan, 18(1), 50–59. https://doi.org/https://doi.org/10.24912/provitae.v18i1.33731