scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

INTEGRASI KOSAKATA LOKAL TERNATE DALAM PEMBELAJARAN TEKS PROSEDUR MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA SMA

Nurbaya

Abstract

Pembelajaran Bahasa Indonesia menuntut siswa memahami berbagai jenis teks, salah satunya adalah teks prosedur yang berfungsi menjelaskan langkah-langkah melakukan suatu kegiatan. Namun, pembelajaran teks prosedur di sekolah sering kurang terkait dengan konteks budaya lokal sehingga tidak memberikan pengalaman belajar yang relevan bagi siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan integrasi kosakata lokal Ternate ke dalam pembelajaran teks prosedur pada siswa SMA serta menganalisis dampaknya terhadap pemahaman teks dan apresiasi budaya siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi kelas, analisis tugas siswa, dan wawancara guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi kosakata lokal, terutama yang berkaitan dengan kuliner, alat tradisional, dan aktivitas budaya, meningkatkan keterlibatan siswa, memperkaya kosakata, serta memperkuat pemahaman struktur teks prosedur. Selain itu, pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal berkontribusi terhadap pelestarian bahasa daerah dan identitas budaya siswa Ternate. Penelitian ini menegaskan urgensi pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Full text

Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 106 INTEGRASI KOSAKATA LOKAL TERNATE DALAM PEMBELAJARAN TEKS PROSEDUR MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA SISWA SMA Nurbaya Institut Sains dan Kependidikan (ISDIK) Kie Raha Maluku Utara Email: nurbayaby199gmail.com ABSTRAK Pembelajaran Bahasa Indonesia menuntut siswa memahami berbagai jenis teks, salah satunya adalah teks prosedur yang berfungsi menjelaskan langkah-langkah melakukan suatu kegiatan. Namun, pembelajaran teks prosedur di sekolah sering kurang terkait dengan konteks budaya lokal sehingga tidak memberikan pengalaman belajar yang relevan bagi siswa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan integrasi kosakata lokal Ternate ke dalam pembelajaran teks prosedur pada siswa SMA serta menganalisis dampaknya terhadap pemahaman teks dan apresiasi budaya siswa. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi kelas, analisis tugas siswa, dan wawancara guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi kosakata lokal, terutama yang berkaitan dengan kuliner, alat tradisional, dan aktivitas budaya, meningkatkan keterlibatan siswa, memperkaya kosakata, serta memperkuat pemahaman struktur teks prosedur. Selain itu, pembelajaran kontekstual berbasis budaya lokal berkontribusi terhadap pelestarian bahasa daerah dan identitas budaya siswa Ternate. Penelitian ini menegaskan urgensi pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Kata Kunci: Kosakata lokal; Ternate; Teks Prosedur; Pembelajaran Bahasa Indonesia; Etnopedagogi. ABSTRACT Learning Indonesian requires students to understand various types of texts, one of which is procedural texts, which explain the steps for carrying out an activity. However, procedural text learning in schools is often poorly connected to the local cultural context, thus not providing a relevant learning experience for students. This study aims to describe the integration of local Ternate vocabulary into procedural text learning for high school students and analyze its impact on text comprehension and cultural appreciation. The method used is descriptive qualitative research through classroom observations, student assignment analysis, and teacher interviews. The results show that the integration of local vocabulary, especially those related to culinary arts, traditional tools, and cultural activities, increases student engagement, enriches vocabulary, and strengthens understanding of procedural text structures. In addition, contextual learning based on local culture contributes to the preservation of regional languages and the cultural identity of Ternate students. This study emphasizes the urgency of an ethnopedagogical approach in Indonesian language learning. Keywords: Local Vocabulary; Ternate; Procedure Text; Indonesian Language Learning; Ethnopedagogy. Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 107 PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak hanya bertujuan mengembangkan keterampilan berbahasa, melainkan juga menumbuhkan wawasan kebudayaan dan identitas bangsa. Salah satu jenis teks yang menjadi fokus pembelajaran adalah teks prosedur, teks yang berfungsi memberi petunjuk atau instruksi langkah demi langkah untuk mencapai suatu tujuan tertentu, atau teks yang menjelaskan langkah-langkah membuat sesuatu (Harsiati, dkk; 2017). Meskipun struktur dan kebahasaan teks prosedur relatif sistematis, efektivitas pembelajaran seringkali bergantung pada keterkaitan materi dengan pengalaman sosialkultural peserta didik. Di sinilah peran integrasi kearifan lokal menjadi penting: mengaitkan materi akademik dengan lingkungan budaya siswa dapat meningkatkan relevansi, motivasi, dan pemahaman konseptual (Tilus, 2020). Kota Ternate, dengan warisan budaya yang kaya meliputi makanan tradisional, istilah peralatan, ritual adat, dan tradisi lisan dapat menjadi sumber daya linguistik yang amat potensial untuk dijadikan sebagai bahan ajar. Kosakata lokal Ternate seperti lalampa, agi guraci (kuah kuning), halua kenari (kue kenari), dabu-dabu roa (sambal ikan), atau istilah kegiatan adat mencerminkan praktik budaya yang memiliki makna fungsional dan simbolis. Ketika kosakata tersebut dimasukkan ke dalam teks prosedur yang dipelajari siswa misalnya “Cara Membuat Lalampa” atau “Langkah Menyiapkan Hidangan untuk kuah kuning” proses belajar tidak lagi bersifat abstrak; melainkan kontekstual, pengalaman nyata, dan mudah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Secara pedagogis, integrasi kosakata lokal dalam pembelajaran teks prosedur sejalan dengan prinsip etnopedagogi dan Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran kontekstual, bermakna, dan berakar pada budaya local (Suryadi, 2021). Pendekatan ini tidak sekadar menambah bank kata siswa, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis melalui analisis struktur teks, memilih kosakata yang tepat sesuai fungsi, serta menyusun instruksi yang komunikatif dan koheren. Selain itu, pengenalan istilah-istilah lokal dalam konteks akademik membantu melestarikan bahasa daerah dan memupuk rasa kebanggaan identitas budaya di kalangan generasi muda. Namun demikian, praktik integrasi tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan bahan ajar resmi yang memuat kosakata lokal masih terbatas, sementara kompetensi guru dalam mengembangkan materi berbasis kearifan lokal membutuhkan peningkatan melalui pelatihan dan kolaborasi dengan pelaku budaya (Tobias, 2022). Perbedaan latar belakang budaya siswa, khususnya pada sekolah dengan populasi heterogen juga menuntut adaptasi agar materi tetap inklusif dan tidak eksklusif. Oleh karena itu, strategi implementasi harus disertai desain pembelajaran yang fleksibel, misalnya melalui proyek berbasis komunitas, demonstrasi praktik, serta dokumentasi lisan dan tertulis yang melibatkan tokoh lokal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model integrasi kosakata lokal Ternate ke dalam pembelajaran teks prosedur di SMA, menganalisis dampaknya terhadap penguasaan struktur dan kebahasaan teks, serta mengidentifikasi hambatan dan rekomendasi praktis bagi guru. Dengan fokus pada keterkaitan antara bahasa, budaya, dan pembelajaran, penelitian ini diharapkan menyumbang bukti empiris bagi pengembangan kurikulum yang lebih responsif terhadap konteks lokal serta memberikan panduan bagi pendidik dalam merancang bahan ajar yang kontekstual, informatif, dan berkelanjutan untuk pelestarian warisan budaya Ternate. Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 108 KAJIAN TEORI Kajian teori ini membahas tiga landasan utama yang relevan dalam penelitian: (1) konsep teks prosedur dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, (2) teori integrasi budaya dan etnopedagogi, serta (3) peran kosakata lokal Ternate dalam konteks linguistik dan pembelajaran. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi teoritik bagi pelaksanaan pembelajaran yang kontekstual, komunikatif, dan berbasis kearifan lokal. Teks Prosedur dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Teks prosedur merupakan jenis teks yang bertujuan menyampaikan langkahlangkah atau instruksi untuk melakukan sesuatu secara sistematis (Lubis, 2018). Menurut teori wacana fungsional, teks prosedur memiliki struktur utama berupa tujuan, bahan atau alat, dan langkah-langkah . Secara kebahasaan, teks prosedur ditandai oleh penggunaan kata kerja imperatif, konjungsi kronologis, kata kerja aktif, serta perincian urutan tindakan. Dalam Kurikulum Merdeka maupun Kurikulum 2013, kompetensi memahami dan memproduksi teks prosedur dianggap penting untuk meningkatkan kemampuan literasi fungsional siswa, sebab siswa dilatih menyusun teks yang jelas, logis, dan dapat diikuti oleh pembaca. Pembelajaran teks prosedur tidak dapat dilepaskan dari konteks nyata; oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran dipengaruhi oleh relevansi tema dengan kehidupan siswa. Ketika materi yang digunakan dekat dengan pengalaman budaya, pengetahuan rumah tangga, atau lingkungan lokal siswa, pemahaman struktur dan kebahasaan teks prosedur menjadi lebih mudah. Teori konstruktivisme menekankan bahwa siswa membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung, sehingga penggunaan konteks budaya lokal dapat memperkuat makna dan memfasilitasi pembelajaran mandiri (Fosnot, 2005). Integrasi Budaya Lokal dan Etnopedagogi Etnopedagogi adalah pendekatan pendidikan yang memanfaatkan nilai, kearifan lokal, dan praktik budaya masyarakat sebagai sumber belajar (Suryadi, 2021). Dalam perspektif etnopedagogi, pembelajaran bukan hanya transmisi pengetahuan tetapi juga sarana pelestarian budaya, penguatan karakter, dan pembentukan identitas (Zuchdi, 2010). Menurut teori ini, budaya lokal tidak boleh dipisahkan dari praktik pendidikan karena budaya adalah bagian dari lingkungan hidup siswa. Integrasi budaya dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi, rasa memiliki, serta memperluas pengalaman linguistik siswa. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, integrasi budaya lokal sangat sejalan dengan prinsip berdiferensiasi, projek berbasis lingkungan, dan pembelajaran kontekstual. Kurikulum memberi ruang bagi guru untuk mengaitkan materi dengan budaya setempat. Penggunaan kosakata lokal dalam teks prosedur adalah bentuk strategi pedagogis yang menempatkan budaya lokal sebagai medium pembelajaran. Pendekatan ini menciptakan hubungan antara pengetahuan akademis dan kehidupan sehari-hari siswa sehingga meningkatkan kreativitas, kolaborasi, dan literasi budaya (Yamin & Syahrir, 2020). Kosakata Lokal Ternate sebagai Sumber Lingustik dan Budaya Bahasa Ternate memiliki kekayaan kosakata yang mencerminkan praktik budaya, kuliner, peralatan tradisional, dan aktivitas sosial masyarakat. Contoh kosakata Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 109 seperti halua kenari, saloi, lalampa, atau dabu-dabu roa tidak hanya menunjukkan objek tertentu, tetapi juga mengandung nilai historis, simbolis, dan identitas masyarakat Ternate. Dari perspektif linguistik sosiokultural, bahasa lokal adalah penanda identitas etnis dan sarana pewarisan kearifan local (Abdullah, 2018). Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, kosakata lokal dapat dijadikan sumber autentik untuk meningkatkan kemampuan pemahaman teks, analisis struktur, dan penggunaan kebahasaan (Wahid, 2017). Ketika siswa menulis teks prosedur dengan menggunakan kosakata lokal, mereka tidak hanya mempraktikkan kemampuan linguistik, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan budaya, aktifitas berkebun, tradisi memasak, dan aktivitas adat yang mungkin mulai jarang dilakukan. Dengan demikian, integrasi kosakata lokal memiliki dimensi kognitif, afektif, dan kultural sekaligus. Keseluruhan teori-teori ini menunjukkan bahwa integrasi kosakata lokal Ternate dalam teks prosedur bukan sekadar variasi materi ajar, tetapi merupakan pendekatan pedagogis yang efektif dan bermakna untuk meningkatkan keterampilan berbahasa sekaligus melestarikan warisan budaya lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan menggambarkan secara mendalam proses integrasi kosakata lokal Ternate dalam pembelajaran teks prosedur pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SMA. Pendekatan kualitatif dipilih karena memungkinkan peneliti memahami fenomena pembelajaran secara natural, holistik, dan kontekstual, terutama terkait praktik pedagogis guru dan respons siswa terhadap penggunaan kosakata lokal dalam pembelajaran (Creswell, 2014). Subjek penelitian terdiri atas guru Bahasa Indonesia dan siswa kelas XI SMA 6 di Kota Ternate. Pemilihan kelas XI didasarkan pada kurikulum yang menempatkan teks prosedur sebagai kompetensi dasar pada jenjang tersebut. Lokasi penelitian dipilih secara purposive, yaitu sekolah yang telah atau berpotensi menerapkan pembelajaran berbasis kearifan lokal, sehingga relevan dengan tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan desain etnografis (Denzin, 1997), sederhana yang berfokus pada pengamatan praktik budaya dalam konteks pembelajaran. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi bentuk-bentuk kosakata lokal Ternate, cara penggunaannya dalam teks prosedur, serta dinamika interaksi antara guru, siswa, dan bahan ajar yang digunakan. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama yakni observasi kelas yang meliputi pengamatan secara langsung proses pembelajaran teks prosedur, termasuk interaksi guru dan siswa, penggunaan kosakata lokal, penjelasan guru, dan aktivitas menulis siswa. Observasi dilakukan secara non-partisipatif dengan lembar observasi terstruktur. Kedua wawancara mendalam yang dilakukan dengan guru Bahasa Indonesia dan beberapa siswa. Wawancara menggali pengalaman guru saat menggunakan kosakata lokal, persepsi siswa tentang relevansi materi, serta tantangan dalam pembelajaran. Dan analisis dokumen seperti RPP. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman (2014) yang terdiri dari yakni reduksi data meliputi menyeleksi, mengategorikan, dan merangkum data dari observasi, wawancara, dan dokumen. Penyajian data yakni menyajikan temuan dalam bentuk deskripsi naratif. Verifikasi dan Penarikan Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 110 Kesimpulan yakni memastikan temuan sesuai data lapangan dan menarik kesimpulan terkait efektivitas integrasi kosakata lokal. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bentuk Kosakata Lokal Ternate yang Muncul dalam Pembelajaran Hasil observasi menunjukkan bahwa terdapat beragam kosakata lokal Ternate yang dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran teks prosedur. Kosakata tersebut umumnya berasal dari ranah kuliner, aktivitas tradisional, alat domestik, serta istilah budaya lokal yang dekat dengan kehidupan siswa. Beberapa contoh kosakata yang ditemukan antara lain halua kenari (kue tradisional), saloi (alat pertanian tradisional/kerajinan), popaco (kue tradisional), popeda (makanan khas Ternate), dan dabu-dabu roa (sambal khas). Kosakata ini sering disebutkan siswa saat diminta menceritakan kegiatan memasak atau membuat sesuatu yang berasal dari kebudayaan lokal. Guru juga secara sengaja memasukkan kosakata lokal tersebut dalam bahan ajar dan contoh teks prosedur. Misalnya, guru memberikan contoh teks prosedur mengenai “Cara Membuat Halua Kenari” atau “Langkah-Langkah Membuat Lalampa Tradisional”. Integrasi ini membuat siswa lebih mudah memahami konteks, karena mereka telah mengenal objek-objek budaya tersebut sejak kecil. Respons dan Keterlibatan Siswa terhadap Pembelajaran Wawancara menunjukkan bahwa siswa merespons positif penggunaan kosakata lokal Ternate dalam pembelajaran. Mayoritas siswa mengaku merasa lebih tertarik dan bersemangat saat materi pembelajaran berhubungan dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka. Siswa juga lebih mudah memahami teks prosedur karena konteksnya nyata, sehingga mereka mampu memvisualisasikan langkah-langkah yang terdapat dalam teks. Integrasi kosakata lokal membuat suasana kelas lebih hidup. Siswa sering berbagi pengetahuan tentang cara pembuatan makanan tradisional yang mereka lihat di rumah sehingga pembelajaran menjadi kolaboratif. Keberadaan kosakata lokal menjadi pemantik diskusi dan memperkuat hubungan siswa dengan identitas budaya mereka. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis kearifan lokal mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan kedalaman pemahaman siswa. Pengaruh Integrasi Kosakata Lokal terhadap Kemampuan Menulis Teks Prosedur Analisis terhadap hasil tulisan siswa menunjukkan peningkatan kualitas teks prosedur, khususnya dalam aspek struktur dan kebahasaan. Siswa lebih mampu menyusun teks secara runtut mulai dari tujuan, bahan, hingga langkah-langkah. Mereka juga cenderung menggunakan kata kerja imperatif dan konjungsi kronologis secara tepat, misalnya kemudian, selanjutnya, setelah itu, dan terakhir. Penelitian menemukan bahwa penggunaan kosakata lokal membantu siswa lebih fokus pada isi teks karena mereka tidak kesulitan memahami objek yang ditulis. Kosakata lokal memberi “jangkar makna” sehingga siswa dapat memusatkan perhatian pada teknik penyusunan teks, bukan pada pemahaman istilah asing. Selain itu, siswa tampak lebih kreatif dan ekspresif ketika menulis teks tentang makanan atau aktivitas budaya yang mereka kenal. Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 111 Tantangan dalam Integrasi Kosakata Lokal Ternate Beberapa tantangan juga ditemukan dalam proses pembelajaran. Pertama, tidak semua guru memiliki pemahaman mendalam tentang kosakata lokal dan sejarah budaya yang terkait. Hal ini menyebabkan guru terkadang kesulitan menyediakan contoh teks prosedur yang kaya muatan budaya. Kedua, sebagian siswa kurang mengetahui istilah lokal tertentu karena pergeseran budaya akibat pengaruh modernisasi. Ketiga, ketersediaan modul atau buku ajar berbasis kearifan lokal masih terbatas, sehingga guru perlu menyusun sendiri bahan ajarnya. Meskipun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi dengan pelatihan guru, pelibatan tokoh budaya, dan pengembangan bahan ajar lokal yang lebih sistematis. Integrasi kosakata lokal tetap memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembahasan Temuan dalam Perspektif Teori Hasil penelitian ini mendukung teori konstruktivisme yang menekankan bahwa pembelajaran terbaik terjadi ketika siswa membangun pengetahuan dari pengalaman nyata. Kosakata lokal Ternate memberi konteks aktual yang membantu siswa mengonstruksi makna dalam teks prosedur. Temuan ini juga sejalan dengan prinsip etnopedagogi, yakni menjadikan budaya lokal sebagai sumber belajar. Integrasi kosakata lokal tidak hanya memperkaya kompetensi kebahasaan, tetapi juga berfungsi untuk melestarikan budaya daerah melalui pendidikan. Dengan demikian, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal dapat memperkuat identitas budaya siswa sekaligus meningkatkan kompetensi literasi mereka. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi kosakata lokal Ternate dalam pembelajaran teks prosedur pada mata pelajaran Bahasa Indonesia siswa SMA memberikan dampak positif baik terhadap aspek linguistik maupun aspek kultural. Integrasi kosakata lokal membuat pembelajaran lebih kontekstual, bermakna, dan dekat dengan pengalaman hidup siswa. Kosakata seperti lalampa, halua kenari, dabu-dabu roa, dan istilah lokal lainnya menjadi pintu masuk yang efektif untuk meningkatkan pemahaman struktur teks prosedur serta kemampuan menulis siswa. Siswa menunjukkan respon antusias, lebih termotivasi, dan lebih aktif berdiskusi ketika materi pembelajaran berkaitan dengan budaya lokal yang mereka kenal. Penggunaan kosakata lokal juga memperkaya kreativitas siswa dalam menyusun teks prosedur, meningkatkan koherensi paragraf, serta membuat instruksi yang disusun lebih jelas dan mudah diikuti. Guru berperan penting dalam mengarahkan penggunaan kosakata lokal sebagai instrumen pedagogis dalam pembelajaran. Meskipun terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan wawasan guru terhadap kosakata lokal dan keterbatasan bahan ajar yang berbasis kearifan lokal, hasil penelitian ini menegaskan bahwa integrasi kosakata lokal Ternate merupakan strategi pembelajaran yang relevan untuk mendukung Kurikulum Merdeka, meningkatkan literasi budaya, serta memperkuat identitas lokal siswa. Secara keseluruhan, pembelajaran Bahasa Indonesia yang mengintegrasikan kosakata lokal terbukti meningkatkan kemampuan akademik sekaligus membangun kesadaran budaya siswa dalam konteks sosial mereka. Dengan demikian, pendekatan ini sangat layak untuk diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut. Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 112 SARAN Guru dianjurkan untuk lebih sering memanfaatkan kosakata lokal dalam penyusunan modul ajar, contoh teks, maupun kegiatan menulis. Guru juga perlu memperluas pemahaman tentang istilah budaya Ternate melalui penelitian kecil atau eksplorasi bahan bacaan lokal. Siswa diharapkan lebih aktif menggali kosakata lokal dari lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar. Keterlibatan siswa dalam menceritakan tradisi, makanan, atau aktivitas lokal akan membantu memperkuat kemampuan menulis sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah. Sekolah dapat memfasilitasi program pembelajaran berbasis kearifan lokal, seperti proyek budaya, lomba menulis teks prosedur bertema lokal. Diperlukan pengembangan modul atau buku ajar yang memasukkan lebih banyak konten budaya lokal Ternate agar guru memiliki acuan yang memadai. Integrasi budaya lokal dalam kurikulum juga perlu diperkuat agar pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan siswa. Penelitian lanjutan dapat memperluas fokus pada keterampilan berbahasa lainnya seperti membaca atau berbicara berbasis kosakata lokal. Penelitian kuantitatif juga dapat dilakukan untuk mengukur pengaruh signifikan penggunaan kosakata lokal terhadap hasil belajar siswa. . DAFTAR PUSTAKA Abdullah, I. (2018). Etnografi Indonesia Timur: Bahasa, Budaya, dan Identitas. Makassar: Ininnawa Press. Aminuddin. (2015). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Barakati, A. (2016). Kosakata kuliner tradisional Ternate: Kajian linguistik budaya. Jurnal Bahasa dan Tradisi, 4(1), 55–68. Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Thousand Oaks: Sage Publications. Denzin, N. K. (1997). Interpretive Ethnography: Ethnographic Practices for the 21st Century. Thousand Oaks, CA: Sage Publications. Djumala, A. (2019). Bahasa Daerah dan Pelestariannya. Jakarta: Pustaka Nusantara. Fosnot, C. T. (Ed.). (2005). Constructivism: Theory, Perspectives, and Practice (2nd ed.). New York: Teachers College Press. Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2012). How to Design and Evaluate Research in Education. New York: McGraw-Hill. Harsiati, T., dkk. (2017). Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Kemdikbud. Jurnal Pendidikan dan Ekonomi (JUPEK) 10.5281/ zenodo.17851239 E-ISSN : 2746 – 1092 Vol. 7 No. 1. Desember 2025 113 Lubis, L. (2018). “Teks Prosedur dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia.” Jurnal Literasi Nusantara, 7(1), 45–53. Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook. Thousand Oaks: Sage Publications. Suryadi, D. (2021). “Implementasi Etnopedagogi dalam Pembelajaran.” Jurnal Pendidikan Karakter, 8(3), 233–242. Tilus, M. (2020). “Pembelajaran Berbasis Budaya untuk Penguatan Identitas Lokal.” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Budaya, 5(2), 110–122. Tobias, F. (2022). Pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal di SMA. Jurnal Inovasi Pembelajaran, 13(2), 112–124. Wahid, I. (2017). Integrasi budaya lokal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa, 9(2), 89–101. Yamin, M., & Syahrir. (2020). Desain Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka. Jakarta: Prenadamedia Group