Peningkatan Pengetahuan Sanitasi dan Pola Hidup Bersih Melalui Kegiatan Sosialisasi
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Wina Mustikaati,, dkk) | 12-17 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, December 2025, P. 12-17 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17864956 Peningkatan Pengetahuan Sanitasi dan Pola Hidup Bersih Melalui Kegiatan Sosialisasi Wina Mustikaati¹, Adinda Dhea Pratiwi², Fairuz Andalusia³, Syalsabila Eka Andini⁴ ¹²³⁴Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indonesia Email: win[email protected]u¹, ad[email protected]u², [email protected]⁴, [email protected]⁴ Abstrak Kesehatan dan kebersihan lingkungan sekolah merupakan aspek penting untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Namun, studi menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa sekolah dasar mengenai sanitasi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), khususnya praktik mencuci tangan, masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dampak pelaksanaan sosialisasi sanitasi layak berbasis praktik pada siswa SDN 1 Nagri Kidul Purwakarta. Kegiatan dilaksanakan menggunakan pendekatan edukatif yang terstruktur, demonstratif, dan partisipatif, didukung oleh penyediaan fasilitas cuci tangan portabel oleh mahasiswa P3K UPI. Metode ini menjadikan demonstrasi langkah mencuci tangan sebagai titik fokus kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan berbasis praktik secara signifikan meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa, terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah. Siswa yang awalnya hanya membilas tangan kini mampu mempraktikkan langkah mencuci tangan yang benar dengan sabun, serta menyadari pentingnya fasilitas sanitasi yang layak. Dengan demikian, kegiatan sosialisasi ini berhasil menumbuhkan kebiasaan mencuci tangan yang benar, meningkatkan pengetahuan siswa tentang sanitasi, dan menanamkan pemahaman akan pentingnya fasilitas yang memadai. Keberlanjutan kebiasaan positif ini memerlukan dukungan fasilitas, pendampingan, dan komitmen dari pihak sekolah. Kata Kunci: Sanitasi Sekolah, Cuci Tangan, Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Sosialisasi, Pendidikan Kesehatan. Abstrac School environment health and hygiene are crucial aspects for instilling healthy living habits from an early age. However, studies indicate that the level of understanding among primary school students regarding sanitation and Clean and Healthy Lifestyle (PHBS), especially handwashing practice, remains low. This research aims to describe the impact of implementing sanitation socialization based on practical activities for students at SDN 1 Nagri Kidul Purwakarta. The activities were conducted using a structured, demonstrative, and participatory educational approach, supported by the provision of portable handwashing facilities by UPI P3K students. This method placed the demonstration of correct handwashing steps as the central focus of the activity. The results show that the practical-based approach significantly improved students' understanding and skills, proving more effective than the lecture method. Students who initially only rinsed their hands are now able to correctly practice the steps of washing hands with soap, and they realize the importance of proper sanitation facilities. Thus, this socialization activity successfully cultivated the habit of correct handwashing, enhanced students' sanitation knowledge, and instilled an understanding of the necessity of adequate facilities. The sustainability of these positive habits requires facility support, ongoing guidance, and commitment from the school. Keywords: School Sanitation, Handwashing, Clean and Healthy Lifestyle (PHBS), Socialization, Health Education. Article Info Received date: 15 November 202 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 05 December 2025 PENDAHULUAN Kesehatan dan kebersihan lingkungan sekolah merupakan aspek penting dalam mendukung proses belajar yang optimal. Sekolah menjadi ruang paling strategis untuk menanamkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Menurut Ningsih (2020) pendidikan kesehatan di sekolah dapat membentuk pola perilaku sadar sanitasi yang bertahan hingga dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi edukasi sanitasi di lingkungan sekolah berpotensi memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan peserta didik. (Kusumanti, 2020)
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Wina Mustikaati,, dkk) | 12-17 Paramita (2021) menyebutkan bahwa salah satu pendekatan yang sering diterapkan adalah edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). PHBS mencakup berbagai praktik seperti mencuci tangan, kebersihan pribadi, pengelolaan sampah, serta pemeliharaan sanitasi lingkungan. Menurut Ernida (2020), penerapan PHBS yang konsisten di sekolah mampu menurunkan risiko penyakit berbasis lingkungan hingga lebih dari 40%. Dengan demikian, pembiasaan pola hidup bersih pada anak usia sekolah menjadi investasi kesehatan yang sangat penting. (Aprianturi, 2022) Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa sekolah dasar tentang sanitasi dan PHBS masih tergolong rendah sebelum dilakukan intervensi. Menurut Ganefati (2022) rendahnya pemahaman ini disebabkan oleh minimnya sosialisasi terstruktur dan kurangnya akses terhadap materi edukasi kesehatan yang menarik bagi anak. Hal ini menjadi alasan mengapa program sosialisasi berbasis kegiatan langsung sangat dibutuhkan. (Wijayanti, 2022) Selain pemahaman siswa, penyediaan fasilitas sanitasi di sekolah juga masih belum optimal. Hasil kajian nasional menunjukkan bahwa banyak sekolah di Indonesia memiliki sarana cuci tangan dan WASH yang kurang diberdayakan (Wulandhani, 2023). Menurut Pratama (2020), fasilitas sanitasi yang tersedia tidak akan efektif apabila tidak didukung perilaku pemanfaatan yang baik. Kondisi ini sering ditemukan di sekolah dasar, khususnya pada area terkait kebersihan diri siswa. Menurut Hijriani (2023) permasalahan yang juga terjadi di lapangan adalah kurangnya pemberdayaan dan pemanfaatan tempat kebersihan di area wastafel. Banyak siswa yang belum membiasakan diri mencuci tangan pada waktu-waktu penting, atau fasilitas yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal. Rendahnya penggunaan wastafel oleh siswa dipengaruhi oleh minimnya edukasi praktik serta kurangnya pengawasan. Penyebab lain adalah tidak adanya budaya yang menekankan pentingnya sanitasi secara konsisten. (Putranto, 2023) Jewarut (2023) mengungkapkan bahwa kondisi sanitasi yang tidak terjaga pada fasilitas seperti wastafel dan area cuci tangan dapat berdampak langsung terhadap kebersihan lingkungan sekolah. Menurut (2024) perilaku kebersihan siswa sangat dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas yang bersih serta edukasi berulang dari pihak sekolah. Ketika fasilitas tidak digunakan sebagaimana mestinya, lingkungan sekolah sulit mencapai kategori sanitasi baik. Intervensi pendidikan kesehatan melalui kegiatan sosialisasi menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku siswa (Rosdiana, 2021). Menurut Fitri (2022) metode demonstrasi dan praktik langsung dalam edukasi kesehatan terbukti meningkatkan pemahaman anak mengenai perilaku hidup bersih. Oleh karena itu, kegiatan sosialisasi yang terstruktur, melibatkan siswa, serta memberikan contoh nyata kebiasaan sanitasi menjadi pendekatan yang relevan. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat mengenai “Peningkatan Pengetahuan Sanitasi dan Pola Hidup Bersih melalui Kegiatan Sosialisasi” menjadi penting untuk dilaksanakan di sekolah dasar (Pramesti, 2020). Menurut Kusumanti (2020) edukasi yang dilakukan dalam bentuk kegiatan partisipatif dapat membangun budaya sehat yang berkelanjutan di lingkungan sekolah. Melalui sosialisasi ini, siswa diharapkan mampu memahami pentingnya sanitasi, memanfaatkan wastafel dan fasilitas kebersihan secara optimal, serta mengembangkan pola hidup bersih sebagai kebiasaan sehari-hari. (Ernida, 2020). METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan tujuan menggambarkan secara mendalam pelaksanaan sosialisasi kesehatan dan sanitasi layak yang dilakukan di SDN 1 Nagri Kidul Purwakarta. Menurut Yuliani, W (2018) deskriptif kualitatif adalah suatu metode penelitian yang bergerak pada pendekatan kualitatif sederhana dengan alur induktif. Alur induktif ini maksudnya penelitian deskriptif kualitatif diawali dengan proses atau peristiwa penjelas yang akhirnya dapat ditarik suatu generalisasi yang merupakan sebuat kesimpulan dari proses atau peristiwa tersebut. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman langsung terkait proses
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Wina Mustikaati,, dkk) | 12-17 edukasi, interaksi siswa, serta perubahan perilaku yang muncul tanpa melakukan manipulasi variabel. Subjek penelitian terdiri dari siswa yang mengikuti kegiatan serta mahasiswa pelaksana program yang berperan sebagai fasilitator. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk melihat keterlibatan siswa, kemampuan mereka dalam mempraktikkan tujuh langkah mencuci tangan, dan respons terhadap fasilitas cuci tangan yang disediakan mahasiswa. Sementara itu, dokumentasi berupa foto, video, dan catatan lapangan digunakan sebagai bukti pendukung pelaksanaan kegiatan. Teknik pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui metode presentasi dan praktik langsung dalam bentuk sosialisasi. Presentasi digunakan untuk menyampaikan materi kesehatan dan sanitasi layak secara sistematis menggunakan media sederhana agar mudah dipahami oleh siswa. Selanjutnya, praktik langsung dilakukan melalui kegiatan mencuci tangan menggunakan sabun dengan langkah yang benar. Dalam kegiatan ini, mahasiswa menyediakan alat cuci tangan sebagai sarana pendukung agar siswa dapat mempraktikkan secara langsung materi yang telah disampaikan. Melalui teknik ini, siswa tidak hanya menerima informasi secara teori, tetapi juga mengalami langsung penerapan sanitasi layak dalam kehidupan sehari-hari. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan sosialisasi mengenai kesehatan dan sanitasi layak di SDN 1 Nagri Kidul Purwakarta memberikan gambaran bahwa edukasi berbasis praktik memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan pemahaman siswa, khususnya terkait pentingnya mencuci tangan sebagai salah satu langkah dasar menjaga kesehatan. Materi mengenai sanitasi layak disampaikan dengan pendekatan yang sederhana namun relevan, sehingga siswa dapat dengan mudah memahami hubungan antara kebersihan tangan, penularan penyakit, dan kualitas kesehatan mereka sehari-hari. Antusiasme siswa terlihat sejak awal kegiatan, terutama ketika diperkenalkan pada contoh pencemaran bakteri di tangan dan risiko penyakit seperti diare, cacingan, influenza, serta infeksi kulit akibat kurangnya kebersihan diri. Menurut Saragih, S (2019) Perilaku mencuci tangan dengan benar lebih efektif untuk menghilangkan kotoran dan debu dari permukaan kulit dan dapat mengurangi mikroorganisme penyebab penyakit seperti virus, bakteri, kuman, dan parasit di permukaan kulit, kuku, dan jari-jari pada tangan. Salah satu aspek yang memberikan dampak kuat dalam kegiatan ini adalah penyediaan alat cuci tangan yang dibawa dan disiapkan langsung oleh mahasiswa P3K UPI. Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan siswa untuk melihat dan melakukan praktik mencuci tangan secara langsung sesuai prosedur yang benar. Demonstrasi langkah mencuci tangan menjadi titik fokus kegiatan, di mana siswa tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga mempraktikkan setiap tahapan secara mandiri. Pendekatan praktik langsung ini terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah, karena siswa dapat mengalami sendiri proses dan manfaat dari mencuci tangan secara benar. Banyak siswa yang awalnya belum mengetahui langkah-langkah mencuci tangan yang tepat, seperti menggosok sela-sela jari dan bagian punggung tangan, kini mampu mengulangi langkah tersebut tanpa arahan.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Wina Mustikaati,, dkk) | 12-17 Gambar 1. Kegiatan Penyampaian Materi Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan praktik ini juga menumbuhkan kesadaran siswa mengenai pentingnya air bersih dan fasilitas sanitasi layak di lingkungan sekolah. Sebelum kegiatan berlangsung, sebagian siswa masih menganggap bahwa mencuci tangan sekadar membasahi tangan dengan air. Namun, setelah melihat demonstrasi menggunakan sabun dan mengikuti penjelasan mengenai bagaimana kuman berpindah dari tangan ke makanan atau benda yang disentuh, pemahaman mereka menjadi lebih komprehensif. Penggunaan sabun cair dan wadah cuci tangan portabel yang disediakan mahasiswa membantu siswa menyadari bahwa fasilitas sanitasi yang layak harus memenuhi unsur kebersihan, kelayakan air, dan pemeliharaan yang baik. Gambar 2. Kegiatan Penyampaian Materi Dampak kegiatan ini juga terlihat dari perubahan perilaku siswa setelah sesi praktik. Guru melaporkan bahwa siswa mulai terbiasa mencuci tangan sebelum makan dan setelah menggunakan sabun. Siswa juga mulai memperhatikan kebersihan alat makan serta air yang digunakan untuk mencuci tangan. Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa sosialisasi tidak hanya memberikan peningkatan pengetahuan, tetapi juga menghasilkan perubahan sikap dan praktik kebersihan yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan kesehatan anak, yaitu bahwa pembelajaran berbasis pengalaman langsung memiliki efektivitas tinggi dalam membentuk kebiasaan jangka panjang. Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas sanitasi yang memadai menjadi faktor pendukung utama dalam menjaga kesehatan siswa. Dengan adanya alat cuci tangan yang disediakan mahasiswa P3K UPI, siswa dapat melakukan praktik lebih mudah dan tertib. Fasilitas cuci
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Wina Mustikaati,, dkk) | 12-17 tangan yang ditempatkan di lokasi strategis selama kegiatan memperlihatkan kepada siswa dan pihak sekolah bahwa ketersediaan sarana sanitasi dapat meningkatkan kenyamanan dan ketertiban selama proses mencuci tangan. Temuan ini memberikan masukan penting bagi pihak sekolah mengenai perlunya menambah fasilitas sanitasi agar perilaku mencuci tangan dapat dilakukan secara rutin tanpa hambatan. Namun demikian, sosialisasi ini juga menemukan beberapa tantangan. Salah satunya adalah masih adanya beberapa siswa yang membutuhkan pengulangan dalam memahami alasan mengapa mencuci tangan itu penting. Selain itu, sebagian siswa belum terbiasa menggunakan sabun karena fasilitas di rumah terbatas. Tantangan lainnya adalah jumlah fasilitas cuci tangan di sekolah yang masih minim, sehingga diperlukan usaha lebih lanjut dari pihak sekolah untuk meningkatkan jumlah titik air dan sabun agar kebiasaan yang telah terbentuk dapat dipertahankan. Secara keseluruhan, kegiatan sosialisasi kesehatan dan sanitasi layak ini memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan praktik kebersihan siswa di SDN 1 Nagri Kidul Purwakarta. Penyediaan fasilitas cuci tangan oleh mahasiswa P3K UPI tidak hanya membantu kelancaran kegiatan, tetapi juga memberi contoh nyata tentang pentingnya dukungan sarana dalam pelaksanaan perilaku hidup bersih. Dengan pendekatan edukatif yang terstruktur, demonstratif, dan melibatkan aktivitas partisipatif, kegiatan ini berhasil menumbuhkan kebiasaan mencuci tangan yang benar dan membuka wawasan siswa mengenai pentingnya sanitasi layak dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dengan dukungan fasilitas, pendampingan berkelanjutan, dan komitmen dari pihak sekolah, pengetahuan dan kebiasaan sanitasi yang baik dapat menjadi budaya positif yang bertahan lama di lingkungan sekolah. SIMPULAN Kegiatan sosialisasi mengenai peningkatan pengetahuan sanitasi dan pola hidup bersih yang dilaksanakan di SDN 1 Nagri Kidul Purwakarta dengan pendekatan edukatif yang terstruktur, partisipatif, dan berbasis praktik terbukti berhasil memberikan dampak signifikan. Kegiatan ini secara efektif meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya sanitasi dan kesehatan, serta berhasil menumbuhkan perubahan perilaku nyata berupa kebiasaan mencuci tangan yang benar menggunakan sabun. Selain itu, penyediaan fasilitas cuci tangan dan demonstrasi langsung terbukti lebih efektif dibandingkan ceramah, yang pada akhirnya menanamkan kesadaran akan pentingnya ketersediaan fasilitas sanitasi layak di sekolah. Keberlanjutan pembentukan budaya positif sanitasi ini sangat bergantung pada komitmen dan dukungan berkelanjutan dari pihak sekolah, baik dari segi pendampingan maupun penyediaan fasilitas yang memadai. REFERENSI Ningsih, A. P., Amir M., & Indirwan, D. (2020). Upaya Peningkatan Pengetahuan Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak SD Melalui Penyuluhan Kesehatan. BANTENESE: Jurnal Pengabdian Masyarakat. Kusumanti, I., Sitindaon, H. M., Nurfatharani, F., & Istiqomah, A. (2020). Peningkatan Implementasi Sanitasi Lingkungan melalui Pelatihan bagi Siswa Sekolah Dasar di Bogor. Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat. Ernida, E., Navianti, D., & Damanik, H. (2020). Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun Pada Siswa di Sekolah Dasar Negeri 7 Kota Prabumulih Tahun 2020. Jurnal Sanitasi Lingkungan. Paramita, I. D. A. Y., Rismawan, M., & Maha Putra, I. N. A. (2021). Gambaran Fasilitas Mencuci Tangan Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Kerambitan pada Masa Pandemi COVID-19. Jurnal Riset Kesehatan Nasional.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Wina Mustikaati,, dkk) | 12-17 Aprianturi, W. S., Utary, D., & Yumna, N. (2022). Hubungan Lingkungan Sekolah dan Tingkat Pengetahuan Siswa SD Kelas IV–VI dengan Cara Mencuci Tangan terhadap Kejadian Diare di SDN 10 Taliwang. Nusantara Hasana Journal. Ganefati, S. P., Rubaya, A. K., & Suyanto, A. (2022). Pemicuan Sanitasi Sekolah Sehat melalui Desinfeksi Ruang Kelas Sekolah Dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Gamping II. Jurnal Pengabdian Mandiri. Wijayanti & Febriyanti, K. (2022). Peningkatan Pemahaman dan Keterampilan PHBS pada Siswa Kelas IV SDN Petoran. Daarul Ilmi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. Wulandhani, S., Misnarliah, M., & Hartati, H. (2023). Edukasi Kesehatan Cara Mencuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) pada Anak Usia Sekolah Dasar. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa. Hijriani, H., Agustini, A., Kurniawan, W., Wahyuni, S., & Nuramalia, N. (2023). Edukasi Hand Hygiene untuk Peningkatan Kemampuan Mencuci Tangan pada Anak Sekolah Dasar (SD Negeri Mekarwangi, Majalengka). Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa. Putranto, P. D. J., & Raharjo, B. B. (2023). Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Praktik Sanitasi dan Higiene Perorangan pada Siswa SMK. Indonesian Journal of Public Health and Nutrition. Jewarut, S., Dinata, M. D. A., Sumarni, M. L., Firgia, L (2023). Analisis Habituasi Sanitasi Sekolah Pasca Covid-19: Adaptasi Kebiasaan CTPS dan Metode 3R Sampah pada Sekolah Dasar di Daerah Perbatasan. EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran. Santi, R. V., Thohari, I., Rusmiati, R., & Sulistio, I. (2024). Upaya Peningkatan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun untuk Pencegahan Diare. PREPOTIF: Jurnal Kesehatan Masyarakat. Rosdiana, R., & Pannyiwi, R. (2021). Hubungan PHBS dengan Kejadian Penyakit Diare di Lingkungan Masyarakat. Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan. Fitri, R., Safitri, R. P., Syamdarniati (2022). Upaya Peningkatan Kemandirian Anak Usia Sekolah melalui Edukasi Kebersihan Tangan (Hand Hygiene). Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO). Pramesti, A. P., & Amir, B. (2020). Penyuluhan Kesehatan untuk Peningkatan PHBS di Sekolah Dasar. BANTENESE. Kusumanti, I., Sitindaon, H., Nurfatharani, F., Istiqomah, A. (2020). Pelatihan Sanitasi Lingkungan di Sekolah Dasar Bogor. Agrokreatif. Ernida, E., Navianti, D., Damanik, H. (2020). CTPS dan Sanitasi di Sekolah Dasar Negeri 7 Prabumulih. Jurnal Sanitasi Lingkungan. Saragih, S. (2019). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Cuci Tangan Terhadap Tingkat Pengetahuan Cuci Tangan Siswa/I Kelas V Di Sd Negeri 060971 Kemenangan Tani Kec. Medan Tuntungan Tahun 2018. Excellent Midwifery Journal, 2(1), 19-28. Yuliani, W. (2018). Metode penelitian deskriptif kualitatif dalam perspektif bimbingan dan konseling. QUANTA: Jurnal Kajian Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan, 2(2), 83-91