scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Optimalisasi Sarana dan Prasarana BK Dalam Mendukung Kegiatan Manajemen Bimbingan Konseling yang Efektif di SMA Negeri 2 Palembayan

Halimahtun Syaddiyah, Neviyarni S, Yarmis Syukur

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 165-171 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17866459 Optimalisasi Sarana dan Prasarana BK Dalam Mendukung Kegiatan Manajemen Bimbingan Konseling yang Efektif di SMA Negeri 2 Palembayan Halimahtun Syaddiyah, Neviyarni S, Yarmis Syukur Program Studi S2 Bimbingan dn Konseling, Universitas Negeri Padang Email : [email protected] Abstract The focus of this study is to optimize guidance and counseling facilities and infrastructure to support effective G&C service management at SMA Negeri 2 Palembayan. Facilities and infrastructure are important components that influence service quality, counselor capabilities, and the successful achievement of student development goals. This study aims to describe the role of facilities and infrastructure in supporting effective counseling management in schools and the forms of optimization that can be carried out. The method used is a literature study with a descriptive-qualitative approach through a review of various literature sources in the form of books, scientific journals, and education regulations. The results of the study show that the optimization of guidance and counseling facilities and infrastructure can improve service quality, ensure counseling confidentiality, strengthen administration, and enhance the professionalism of guidance and counseling teachers. Thus, the optimal management of guidance and counseling facilities and infrastructure is an important requirement in realizing effective and quality guidance and counseling services at SMA Negeri 2 Palembayan. Keywords: Facilities and Infrastructure, Management, Service Effectiveness Abstrak Fokus penelitian ini adalah mengoptimalkan sarana dan prasarana Bimbingan dan Konseling (BK) untuk mendukung proses manajemen layanan BK yang efektif di di SMA Negeri 2 Palembayan. Sarana dan prasarana adalah komponen penting yang memengaruhi kualitas layanan, kemampuan konselor, dan keberhasilan pencapaian tujuan perkembangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran sarana dan prasarana dalam mendukung manajemen bimbingan konseling yang efektif di sekolah serta bentuk-bentuk optimalisasi yang dapat dilakukan. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui kajian berbagai sumber literatur berupa buku, jurnal ilmiah, dan regulasi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa optimalisasi sarana dan prasarana BK mampu meningkatkan kualitas layanan, menjamin kerahasiaan konseling, memperkuat administrasi, serta meningkatkan profesionalitas guru BK. Dengan demikian, pengelolaan sarana dan prasarana BK secara optimal menjadi kebutuhan penting dalam mewujudkan layanan bimbingan konseling yang efektif dan berkualitas di SMA Negeri 2 Palembayan. Kata Kunci: Sarana Prasarana, Manajemen, Efektivitas Layanan Article Info Received date: 31 Oktober 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 05 December 2025 PENDAHULUAN Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembinaan aspek kepribadian, sosial, emosional, dan moral peserta didik. Dalam konteks tersebut, layanan bimbingan dan konseling (BK) memiliki peran strategis dalam mendukung perkembangan peserta didik secara optimal. Layanan BK membantu peserta didik dalam memahami diri, mengembangkan potensi, mengatasi masalah pribadi, sosial, belajar, serta mempersiapkan masa depan karier. Prasarana dan sarana BK sangat penting untuk menyediakan layanan bimbingan dan konseling yang menyeluruh. Dalam kenyataannya, fasilitas yang memadai tidak hanya terdiri dari ruang fisik; itu juga melibatkan ketersediaan alat asesmen, media layanan, dokumentasi, dan dukungan sistem sekolah. Standar administrasi BK menjadi salah satu elemen yang paling sering didiskusikan dalam literatur. Agar proses konseling dapat berjalan dengan baik, guru BK membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, dan terpisah. Selain itu, fasilitas yang baik membantu guru BK melakukan tugas manajemen, 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi layanan secara terstruktur dan sistematis. Studi menunjukkan bahwa sekolah dengan fasilitas BK yang lengkap cenderung memberikan layanan yang lebih baik dan lebih responsif terhadap kebutuhan siswa. Ini sejalan dengan prinsip manajemen pendidikan yang menekankan pencapaian tujuan pelayanan berkualitas tinggi melalui optimalisasi sumber daya Fitria et al.(2023).. Sarana dan prasarana BK tidak hanya berfungsi sebagai pendukung administratif, namun menjadi instrumen kunci dalam membangun relasi konseling yang kondusif. Konselor membutuhkan ruang yang aman, nyaman, dan privat agar proses konseling berlangsung efektif. Selain itu, ketersediaan instrumen asesmen membantu konselor mengidentifikasi kebutuhan peserta didik secara lebih objektif. Media layanan yang menarik dan modern juga meningkatkan minat peserta didik untuk terlibat dalam layanan BK. Dengan demikian, investasi pada fasilitas BK merupakan bagian integral dari penguatan mutu layanan pendidikan secara keseluruhan. Sarana dan prasarana BK tidak hanya berfungsi sebagai pendukung administratif, namun menjadi instrumen kunci dalam membangun relasi konseling yang kondusif. Konselor membutuhkan ruang yang aman, nyaman, dan privat agar proses konseling berlangsung efektif. Selain itu, ketersediaan instrumen asesmen membantu konselor mengidentifikasi kebutuhan peserta didik secara lebih objektif Lianti,et al. (2023). Keberhasilan penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling di sekolah sangat bergantung pada bagaimana manajemen BK dijalankan. Manajemen BK mencakup proses merencanakan, mengatur, melaksanakan, hingga menilai seluruh aktivitas layanan konseling. Salah satu unsur penting yang menunjang keberhasilan tersebut adalah tersedianya sarana dan prasarana yang memadai. Dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia pendidikan, manajemen memegang peran yang sangat strategis. James A.F. Stoner menjelaskan bahwa manajemen merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, serta pengendalian anggota organisasi dan sumber daya lainnya agar tujuan organisasi dapat tercapai. Untuk meningkatkan mutu pendidikan secara optimal, diperlukan pengelolaan yang tepat. Dalam konteks sekolah, manajemen bimbingan dan konseling berfungsi mendukung perkembangan peserta didik secara menyeluruh, baik aspek akademik, pribadi, sosial, maupun karier. Kegiatan ini mencakup perancangan program BK, pelaksanaan layanan, serta evaluasi terhadap efektivitas program yang berjalan. Selain itu, manajemen BK juga memastikan bahwa program tersusun dengan baik serta sumber daya yang diperlukan tersedia dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Pengelolaan seluruh layanan BK secara terarah dan sistematis disebut sebagai manajemen bimbingan dan konseling. Pelaksanaannya harus dirancang secara komprehensif, mencakup penyusunan program, pemetaan kebutuhan siswa, unit layanan, serta fungsi-fungsi bimbingan. Hal ini menjadi salah satu indikator kinerja guru BK atau konselor. Menurut Prayitno & Amti, E. (2013), manajemen BK merupakan upaya perencanaan, pelaksanaan, dan pemberian layanan bimbingan dan konseling dengan memanfaatkan sumber daya manusia di sekolah melalui koordinasi serta kerja sama antara kepala sekolah, guru BK, dan tenaga kependidikan lainnya. Efektivitas layanan BK di sekolah dinilai dari ketercapaian tujuan, seperti meningkatnya prestasi belajar, berkurangnya masalah kedisiplinan, dan tumbuhnya kesiapan karier siswa. Indikator penting dalam penilaian ini meliputi kemampuan siswa mengenali masalah, adanya rencana tindak lanjut, serta pengalaman positif setelah menerima layanan. Suatu layanan dikatakan efektif apabila mampu melibatkan siswa secara aktif, memenuhi prosedur, dan diberikan tepat waktu. Efektivitas biasanya diukur menggunakan skala interval, dengan rata-rata skor 3,41–3,88 pada layanan tatap muka maupun daring. Depdiknas (2008) menegaskan bahwa penilaian terhadap program, proses layanan, serta hasilnya, ditambah kolaborasi yang baik antara guru BK dan pihak sekolah, dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan BK. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 Indikator utama adalah penurunan jumlah kasus disiplin dan peningkatan tingkat kenyamanan siswa saat mengakses layanan. Peningkatan minat dan pemahaman siswa tentang jenjang pendidikan lanjutan. Persepsi siswa tentang kinerja guru BK dan partisipasi mereka dalam kegiatan Faktor Pendukung dan Penghambat: Faktor internal termasuk profesionalitas guru BK, kemampuan, dan semangat untuk bekerja, sedangkan faktor eksternal termasuk anggaran evaluasi, fasilitas ruang konseling, dan rasio guru BK-siswa. Strategi pelaporan dan tindak lanjut rutin dapat membantu mengatasi masalah umum seperti keterampilan evaluasi yang buruk dan beban kerja yang berlebihan. Studi kasus di sekolah menengah menunjukkan bahwa layanan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa, seperti konsultasi dengan staf setelah layanan, dapat berhasil Bhakti, C. P. (2016). Dalam strategi peningkatan evaluasi yang menyeluruh, hal-hal seperti program (kesesuaian dengan kebutuhan), proses (efektivitas pelaksanaan), dan hasil (dampak jangka panjang) dibahas, bersama dengan saran untuk pengembangan yang berkelanjutan. Menurut penelitian terbaru, kolaborasi antar stakeholder dan norma lokal sesuai dengan konteks Indonesia. Ini sesuai dengan teori konseling karier Anda. Untuk mengetahui seberapa efektif suatu program berjalan, maka dapat mengacu pada elemen yang menjadi dalam menilai bagaimana program bimbingan dan konseling dilaksanakan. Tiga komponen terlibat dalam pelaksanaan evaluasi bimbingan dan konseling, menurut Hiebert (1997). Mereka adalah faktor intervensi, faktor agensi, dan faktor komunikasi Winkel et al. (2004). METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitiatif deskriptif, dan lokasi penelitian adalah SMA Negeri 2 Palembayan. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara. Observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi subjek penelitian, dan wawancara dilakukan dengan guru BK di SMA Negeri 2 Palembayan. Wawancara ini mendukung data observasi (Firman, 2018). Pola yang dikembangkan oleh Miles, M.B. dan Huberman (1992) digunakan untuk menganalisis data. Tahap pelaksanaannya meliputi (1) pengurangan data, (2) penampilan data, (3) menarik kesimpulan dan verifikasi, (4) mengembangkan kesimpulan, dan (5) membuat laporan hasil penelitian. Saat proses penelitian berlangsung, data dikumpulkan dan dianalisis. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Pengertian Sarana dan Prasarana BK Sarana bimbingan dan konseling mencakup semua alat dan media yang digunakan secara langsung selama proses pelayanan BK, seperti alat tes psikologi, media bimbingan, komputer, dan perangkat presentasi. Prasarana BK juga mencakup fasilitas pendukung yang tidak digunakan secara langsung, seperti ruang konseling, ruang tunggu, lemari arsip, dan jaringan internet. Kedua komponen ini bekerja sama untuk mendukung pelaksanaan layanan BK secara profesional. Setiap alat, media, atau perlengkapan yang digunakan secara langsung dalam pelaksanaan layanan BK di sekolah disebut sarana bimbingan dan konseling. Sarana ini membantu kegiatan konseling agar komunikasi, asesmen, dan layanan menjadi efektif, nyaman, dan mudah dipahami siswa. Prasarana Bimbingan dan Konseling adalah tempat penting untuk mendukung penyelenggaraan layanan BK dalam jangka panjang. Prasarana ini lebih permanen dan berfungsi sebagai wadah kegiatan bimbingan dan konseling yang berlangsung. Seluruh fasilitas yang digunakan untuk mendukung layanan konseling termasuk ruang, peralatan, instrumen, dan media informasi. Menurut Winkel dan Hastuti (2004), sarpras BK harus memenuhi aspek kenyamanan, kelayakan, dan privasi agar proses konseling aman dan mendukung keterbukaan konseli. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 Menurut Fitria et al. (2023), fasilitas ideal termasuk ruang konseling individu dan kelompok, ruang tamu atau ruang tunggu siswa, meja administrasi dan dokumen layanan, dan instrumen asesmen seperti inventaris, angket, dan tes psikologi. Penelitian Lianti et al. (2023) menemukan bahwa optimalisasi fasilitas BK adalah komponen penting dalam meningkatkan kualitas interaksi antara konselor dan siswa. Ini termasuk teknologi pendukung seperti komputer, internet, dan database media visual dan informasi karier. Sarana BK termasuk ruang konseling (ukuran ideal 8x9 m untuk umum dan 3x3 m untuk individu), peralatan tes, dan dokumen program, sementara prasarana termasuk fasilitas pendukung seperti taman sekolah dan infrastruktur umum. Semuanya terintegrasi dalam siklus manajemen BK: perencanaan (inventasi kebutuhan), pengorganisasian (pembagian tugas), pelaksanaan (pemanfaatan efektif), dan evaluasi (pemantauan standar). Ketidaklengkapan, seperti ruang tidak kedap suara atau kurangnya referensi buku, mengganggu kerahasiaan dan kenyamanan konseling, menghambat perkembangan siswa secara keseluruhan. Untuk optimalisasi, sekolah harus bekerja sama dengan stakeholder dalam pengadaan dan pemeliharaan, termasuk penggunaan teknologi konseling online untuk meningkatkan layanan BK sesuai dengan peraturan nasional. 2. Manajemen BK Proses merancang, mengatur, menjalankan, serta menilai berbagai aktivitas layanan bimbingan merupakan bagian dari manajemen BK (Prayitno, 2017). Contohnya, tahap perencanaan memerlukan data yang tersusun rapi dalam arsip, tahap pelaksanaan membutuhkan ruang layanan serta perangkat yang sesuai, sementara evaluasi menuntut dokumentasi yang lengkap dan valid. Zakki et al. (2023) menegaskan bahwa layanan BK perlu mendapat dukungan optimal di era Society 5.0. Agar layanan BK dapat berfungsi secara efektif dan efisien, manajemen bimbingan dan konseling harus melalui beberapa tahap, yaitu penyusunan rencana program, pengaturan personel, pelaksanaan layanan, serta evaluasi dan tindak lanjut. Pengelolaan yang baik menghasilkan layanan BK yang sistematis, terarah, dan berkesinambungan (Winkel et al., 2004). Pengaturan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi semua layanan BK di sekolah dengan tujuan agar layanan berjalan tepat sasaran, efektif, efisien, dan sesuai kebutuhan siswa disebut manajemen BK. Melalui manajemen BK, seluruh layanan—baik layanan dasar, layanan responsif, perencanaan individual, maupun dukungan sistem—dapat diberikan secara profesional dengan memanfaatkan sarana, prasarana, dan sumber daya yang tersedia. Adapun komponen utama dalam manajemen bimbingan dan konseling mencakup hal-hal berikut: a. Perencanaan yakni menetapkan tujuan BK, jenis program, kebutuhan layanan, jadwal kegiatan, serta strategi pelaksanaannya. Tahap ini meliputi analisis kebutuhan peserta didik, penyusunan program tahunan, semesteran, dan mingguan, serta penjadwalan layanan individu, kelompok, dan klasikal. b. Pengorganisasian (Organisasi) Mengatur struktur kerja BK, pembagian tugas, dan alur koordinasi antara guru BK, wali kelas, kepala sekolah, dan pihak lain. Ini mencakup pembentukan tim BK, pembagian peran dan tanggung jawab, dan penataan sarana dan prasarana BK. c. Pelaksanaan (Actuating/Implementing): Proses menjalankan berbagai layanan BK yang terkait dengan program, seperti orientasi, informasi, konsultasi individu, kelompok, mediasi, konsultasi, dan penggunaan instrumen asesmen. d. Evaluasi (Evaluasi) Proses menilai efisiensi dan kualitas layanan BK. Ini termasuk evaluasi hasil layanan, evaluasi program, evaluasi proses, evaluasi tindak lanjut (follow-up), dan pelaporan. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 3. Peran Sarana dan Prasrana dalam Efektivitas Layanan BK Salah satu sarana dan prasarana yang berkontribusi pada peningkatan efisiensi layanan BK adalah sebagai berikut Winkel et al. (2004).: a. Menjamin kenyamanan dan kerahasiaan konseli melalui ruang konseling yang layak. b. Meningkatkan akurasi layanan melalui penggunaan alat tes yang valid. c. Mendukung administrasi dan dokumentasi kegiatan BK. d. Meningkatkan kepercayaan peserta didik terhadap layanan konselor. e. Mempermudah pelaksanaan layanan berbasis teknologi. f. Peran Prasarana dan Sarana dalam Kinerja Layanan BK Sarana dan prasarana sangat penting untuk keberhasilan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Tanpa fasilitas yang memadai, proses konseling mungkin tidak berjalan dengan baik atau bahkan dapat menghambat pencapaian tujuan layanan. Ini adalah peran sarana dan prasarana dalam efektivitas layanan bimbingan dan konseling, sebagai berikut ini Zakki et al. (2023): a. Mendukung Kenyamanan dan Privasi Layanan BK: Ruang konseling yang nyaman, kedap suara, dan tertata rapi sangat penting untuk menciptakan suasana yang aman bagi peserta didik, menumbuhkan kepercayaan saat mengungkapkan masalah, mengurangi kecanggungan dan tekanan siswa, dan menjamin kerahasiaan informasi konseling. Privasi adalah hal penting dalam praktik konseling. Hubungan konselor-konseli dapat menurun jika tidak ada fasilitas yang mendukung. b. Memudahkan Proses Komunikasi Konseling: Alat seperti kursi yang nyaman, meja, papan tulis, proyektor, dan media visual membantu konselor menjelaskan informasi dengan lebih jelas. Media seperti gambar untuk memahami emosi, video edukatif untuk layanan klasik, dan kartu konseling saat asesmen masalah membantu peserta didik memahami materi layanan. c. Menjamin Efisiensi Pelaksanaan Program BK: Sarana dan prasarana yang lengkap memudahkan guru BK untuk menyediakan berbagai layanan, seperti konseling individu, konseling kelompok, referal, informasi, mediasi, dan layanan mediasi. Ruang khusus konseling, alat dokumentasi, komputer, dan lemari arsip semuanya membuat administrasi BK teratur, sistematis, dan aman. d. Mendukung Profesionalitas Guru BK: Guru BK dengan fasilitas yang memadai dapat menunjukkan kinerja yang lebih profesional, mengelola data konseling dengan aman, melaksanakan layanan berbasis teknologi, meningkatkan kualitas layanan, dan bertanggung jawab. e. Meningkatkan Partisipasi dan Motivasi Siswa: Media konseling yang interaktif, ruang BK yang menarik, dan perangkat digital kontemporer membuat siswa lebih termotivasi dan tidak takut untuk pergi ke BK. Sarana BK yang ramah siswa juga membuat layanan lebih dekat dengan kehidupan mereka. 4. Optimalisasi Sarana dan Prasarana BK Salah satu cara untuk mengoptimalkan sarana dan prasarana BK adalah melalui tahapan sebagai berikut ini: a. Pengadaan fasilitas secara bertahap sesuai kebutuhan prioritas. b. Pemanfaatan teknologi informasi untuk layanan BK digital. c. Pengelolaan dan perawatan fasilitas yang berkelanjutan. d. Kerja sama antara sekolah dan pihak eksternal seperti dinas pendidikan dan lembaga psikologi. e. Evaluasi berkala terhadap efektivitas penggunaan sarana dan prasarana BK. Optimalisasi dapat dicapai dengan menggunakan cara sebagai berikut ini untuk mengoptimalkannya Depdiknas. (2008): 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 a. Perencanaan berbasis kebutuhan (penilaian kebutuhan): Guru BK memilih layanan apa yang dibutuhkan fasilitas berdasarkan jumlah siswa, jenis layanan, dan program kerja. b. Kolaborasi dengan pihak sekolah dan komite sekolah: Anggaran dan fasilitas dapat dibuat oleh kepala sekolah dan komite sekolah. c. Penggunaan teknologi digital melalui penggunaan aplikasi konseling online, database digital siswa, dan media layanan berbasis internet. d. Membuat media kreatif dan instruksional: Guru BK dapat menggunakan modul, brosur, video instruksional, dan poster sebagai media layanan. e. Pemeliharaan dan evaluasi sarana-prasarana: Evaluasi rutin diperlukan untuk memastikan bahwa semua fasilitas tetap layak digunakan. Proses memaksimalkan fungsi, penggunaan, pengelolaan, dan pengembangan fasilitas BK untuk memastikan bahwa seluruh layanan bimbingan dan konseling dapat berjalan dengan efektif, efisien, profesional, dan sesuai kebutuhan peserta didik dikenal sebagai optimalisasi sarana dan prasarana BK. Optimalisasi adalah tujuan utama untuk memastikan bahwa prasarana dan sarana tidak hanya tersedia, tetapi juga dimanfaatkan sepenuhnya untuk mendukung layanan kualitas BK Tohirin. (2014). 5. Dampak Optimalisasi Sarana dan Prasarana Terhadap Manajemen BK Optimalisasi sarana dan prasarana bermanfaat bagi: Peningkatan layanan bimbingan dan konseling, penyelesaian masalah yang efektif bagi siswa, guru BK yang lebih berpengalaman, lingkungan sekolah yang lebih baik, dan kesejahteraan psikologis siswa. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas yang memadai sangat penting untuk menjalankan bimbingan dan konseling dengan baik di sekolah Bhakti, C. P. (2016). Optimalisasi sarana dan prasarana BK bukan sekadar menyediakan fasilitas, tetapi memastikan bahwa seluruh fasilitas dikelola, digunakan, dikembangkan, dan dievaluasi secara maksimal. Ketika optimalisasi ini berjalan baik, maka akan memberikan dampak besar terhadap kualitas manajemen BK di sekolah. Dampak tersebut dapat dilihat pada empat fungsi utama manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi Christiana et al. (2025). Menurut (Prayitno 2013) Keterbatasan fasilitas di sekolah dapat berdampak pada hal-hal berikut: a. Kurang Konseling Maksimal Jika tidak ada privasi, siswa ragu untuk membahas masalah pribadi secara menyeluruh. Hal ini sejalan dengan temuan Bhakti (2016) bahwa ruang konseling yang tidak nyaman menghalangi siswa untuk menjadi terbuka. b. Manajemen dan Dokumentasi yang Tidak Efektif Ketika arsip manual hilang, proses evaluasi layanan menjadi tidak akurat. Sebagaimana disebutkan Prayitno (2017), hal ini menghambat pengendalian BK secara menyeluruh. c. Penggunaan Teknologi Belum Ideal Di era Society 5.0, layanan konseling idealnya menggunakan digitalisasi data, e-konseling, dan media interaktif. Namun, ada keterbatasan pada perangkat dan internet yang membuat penggunaan layanan digital sulit. d. Layanan Karier yang Kurang Komprehensif Tidak adanya media informasi karier menghambat siswa dalam menentukan minat mereka dan merencanakan masa depan mereka. Bahan informasi karir sangat penting untuk layanan BK, menurut Fitria et al. (2023). SIMPULAN Untuk meningkatkan kualitas manajemen layanan BK di SMA Negeri 2 Palembayan, optimalisasi sarana dan prasarana BK adalah bagian penting. Artikel ini menunjukkan bahwa, meskipun beberapa fasilitas sudah tersedia, masih ada keterbatasan yang mempengaruhi kualitas layanan, terutama dalam hal privasi ruang, instrumen untuk penilaian, digitalisasi layanan, dan media informasi. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Optimalisasi Sarana dan Prasarana (Halimahtun, et., al) | 165-171 Layanan BK di SMA Negeri 2 Palembayan dapat menjadi lebih efisien, profesional, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan siswa dengan memperkuat kebijakan sekolah, penggunaan teknologi digital, dan penyediaan instrumen asesmen. REFERENSI Bhakti, C. P. (2016). Ketersediaan Sarana dan Prasarana Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Kabupaten Gunungkidul. Jurnal Pendidikan: Teori dan Praktik, 2(2). Christiana, E., Prasetyo, A., Hakiki, I., & Purnama, F. (2025). Optimalisasi Manajemen Layanan BK melalui Analisis Kebutuhan dan Kolaborasi Staf Sekolah. Tsaqofah, 5(1), 497–511. Depdiknas. (2008). Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Depdiknas. Fitria, L., Neviyarni, S., Syukur, Y., & Ahmad, R. (2023). Sarana dan Prasarana sebagai Penunjang Kegiatan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Kejuruan. Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling. Lianti, A., Neviyarni, S., & Sukur, Y. (2023). Optimization of Guidance and Counseling Facilities and Infrastructure in Schools. Quality: Journal of Education, Arabic and Islamic Studies. Prayitno & Amti, E. (2013). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta. Prayitno. (2017). Layanan Bimbingan dan Konseling Komprehensif. Jakarta: Rajawali. Santika, A. N., Ridho, A., Safira, A. R., & Nurfadila, A. (2024). Dampak dari Kurangnya Sarana yang Memadai bagi Guru BK dalam Pelaksanaan Pelayanan Konseling di Sekolah. Menara Ilmu. Sukardi, D. K. (2011). Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Tohirin. (2014). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Winkel, W. S., & Hastuti, S. (2004). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi. Zakki, A., Neviyarni, S., Firman, F., & Amat, M. A. B. C. (2023). Facilities and Infrastructure to Support the Success of Counseling Services in the Society 5.0 Era. Jurnal Basicedu, 7(4).