scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Menangkal Stunting dari Desa : Edukasi Gizi dan Pemberdayaan Tanaman Kelakai sebagai Pangan Fungsional Tinggi Zat Besi

Angelia Solla, Zimon Pereiz, Chuchita, Efriyana Oksal, Julia, Mesra Ratna Sari, Debby Catur, Gracyela Hutabalian, Anjelika, Heja, Ornella Arnia, Gusnia Devianti, Felly Sabatini, Apriyanti, Andika Prayoga, Arisumi Ir L Tundan, Abdullah, Jonathan Dandy

Full text

2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 26-33 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17873590 Menangkal Stunting dari Desa : Edukasi Gizi dan Pemberdayaan Tanaman Kelakai sebagai Pangan Fungsional Tinggi Zat Besi Angelia Solla1*, Zimon Pereiz1, Chuchita1, Efriyana Oksal1, Julia1, Mesra Ratna Sari1, Debby Catur1, Gracyela Hutabalian1, Anjelika1, Heja1, Ornella Arnia1, Gusnia Devianti1, Felly Sabatini1, Mauliya Apriyanti1, Andika Prayoga1, Arisumi Ir L Tundan1, Abdullah1, Jonathan Dandy1 Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia1 *Email: [email protected] Abstrak Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Masalah ini menjadi isu kesehatan gizi global yang berdampak jangka panjang pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan promotif dan preventif, salah satunya melalui edukasi kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mencegah dan menangani stunting melalui sosialisasi edukasi dan pendampingan pemanfaatan tanaman kelakai (Stenochlaena palustris) menjadi pengan fungsional tinggi zat besi. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan interaktif dengan media digital berupa presentasi visual dan banner edukatif, serta pendampingan langsung kepada masyarakat dalam pemanfaatan tanaman kelakai. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 87,71% yang termasuk dalam kategori baik. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya gizi dan pemanfaatan tanaman lokal dalam pencegahan stunting. Kesimpulannya, program pengabrian ini memberikan kontribusi positif sebagai strategi penurunan angka stunting di provinsi Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Gunung Mas, Melalui peningkatan pengetahuan, kesadaran dan pemanfaatan pangan tanaman lokal bergizi tinggi. Kata Kunci: Stunting, Gizi, Kelakai, Edukasi Abstract Stunting is a condition of impaired growth in children caused by chronic malnutrition, particularly during the first 1,000 days of life. This issue has become a major global nutrition and health concern with long-term impacts on human resource quality. Therefore, promotive and preventive approaches are essential, one of which is community education. This community service activity aimed to improve knowledge and encourage behavioral changes in preventing and managing stunting through educational outreach and assistance in utilizing kelakai (Stenochlaena palustris) as an iron-rich functional food. The methods included interactive counseling using digital media such as visual presentations and educational banners, as well as direct community assistance in processing kelakai. Evaluation was conducted using pretest and posttest questionnaires to measure participants’ knowledge improvement. The results showed an 87.71% increase in knowledge, categorized as good. This program proved effective in enhancing community understanding of the importance of nutrition and the utilization of local food sources for stunting prevention. In conclusion, this community service initiative provides a positive contribution as a strategy to reduce stunting rates in Central Kalimantan, particularly in Gunung Mas, through improved knowledge, awareness, and the use of nutrient-dense local food resources. Keywords: Stunting, Nutrition, Kelakai, Education Article Info Received date: 10 November 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 1 Desember 2025 PENDAHULUAN Anak-anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik, kognitif maupun sosial. Sebagai calon pemimpin di masa depan, petumbuhan dan perkembangan anak sudah seharusnya mendapat perhatian yang serius dari semua pihak terutama keluarga dan lingkungan sekitar . Pertumbuhan mengacu pada peningkatan ukuran tubuh, jumlah sel serta jaringan (Pereiz, Pebriyanto, et al., 2023)(Segah et al., 2024). Pertumbuhan mengacu pada peningkatan ukuran tubuh, jumlah sel serta jaringan intraseluler yang ditandai dengan 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 bertambahnya tinggi badan dan berat badan. Sementara itu, perkembangan mencerminkan peningkatan fungsi dan struktur tubuh yang lebih kompleks, termasuk kemampuan motorik kasar dan halus, bahasa, sosial dan kemandirian anak (Nasitoh et al., 2024)(Pereiz, 2024). Secara global, permasalahan pertumbuhan anak masih menjadi isu utama dalam bidang kesehatan. Berdasarkan World Health Organization (WHO., 2022), tercatat sekitar 149,2 juta balita mengalami stunting, 45,4 juta anak mengalami wasting (berat badan kurang) dan 38,9 juta mengalami kelebihan berat badan (overweight)(Pereiz, Chuchita, et al., 2023). Kondisi ini menunjukkan terdapat permasalahan gizi yang kompleks dan memerlukan penanganan segera dari berbagai sektor (Nafisah, Rahman, et al., 2023)(Oktaviani et al., 2022). Anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dengan pemenuhan gizi yang harus diperhatikan sejak dini, bahkan sejak sebelum kehamilan terjadi (Pereiz et al., 2024)(Lingkungan et al., 2025). Proses ini mencakup perencanaan asupan gizi calon ibu, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang sesuai dengan tahapan usia anak (Pereiz, Oksal, Ratna, et al., 2025)(Oksal et al., 2025). Apabila asupan gizi anak tidak tercukupi, anak berisiko mengalami gangguan pertumbuhan seperti stunting, kekurangan gizi, gizi buruk, defisiensi vitamin A (KVA) dan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBRL) (Pereiz, Oksal, Sylvani, et al., 2025)(Rusmil et al., 2019). Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis, terutama dalam periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai penyakit, keterlambatan perkembangan motorik dan penurunan kapasitas intelektual akibat kerusakan otak (Beladona et al., 2023). Dalam jangka panjang, hal ini akan berdampak pada rendahnya produktivitas dan daya saing sumber daya manusia. Oleh karena itu, 1.000 HPK menjadi periode yang sangat krusial dalam penentuan kualitas hidup anak di masa mendatang (Kementerian Kesehatan., 2024; Kemeterian Kesejahterahan Rakyat., 2013). Stunting tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga menjadi tantangan nasional yang dapat menghambat pencapaian target pembangunan, termasuk bonus demografi tahun 2023 dan visi Indonesia Emas 2024. Apabila tidak ditangani dengan serius, stunting akan membebani negara dengan peningkatan biaya kesehatan dan penurunan kualitas sumber daya manusia yang kompetitif. Dalam komteks global, stunting masuk dalam target Sustainable development Goals (SDGs), khususnya dalam tujuan pembangunan berkelanjutan nomor dua, yaitu mengakhiri kelaparan pada tahun 2030. Di Indonesia, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting nasional mencapai 19,8% dimana ini menunjukan penurunan dibandingkan tahun 2023 sebesar 21,5%. Meskipun terjadi penurunan, angka ini masih tergolong tinggi dan memerlukan intervensi yang berkelanjutan (United Nations., 2015; Kementerian Kesehatan RI., 2025). Kalimantan tengah merupakan salah satu provinsi dengan prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan Monitoring Pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Intervensi Penurunan Stunting Terintergrasi oleh Direktorat Jendral Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri Tahun 2024, Kalimantan Tengah menempati peringat keempat dengan angka prevalensi tertinggi sebesar 11,1% (Apriyanti et al., 2025)(Ayuchecaria et al., 2024). Dari total 113.911 balita, tercatat sebanyak 9.480 balita mengalami stunting (pendek) dan 3.114 balita mengalami stunting sangat pendek. Data ini menegaskan bahwa Kalimantan Tengah masih memerlukan perhatian khusus dalam penanggulangan stunting (Kementerian Dalam Negeri RI., 2024). Salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang mengalami prevalensi stunting cukup tinggi adalah Kabupaten Gunung Mas. Berdasarkan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota yang diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2024, tiga kabupaten dengan prevalensi tertinggi balita pendek dan sangat pendek adalah Kotawaringin Timur (22,2%), Seruyan (21,4%) dan Gunung Mas (20,1%). Kabupaten Gunung Mas terdiri dari dua belas kecamatan dan berdasarkan data e-PPGBM tahun 2024, Kecamatan Tewah tercatat sebagai kecamatan dengan prevalensi stunting tertinggi kedua, yaitu sebesar 14,84%. Data ini menunjukkan urgensi yang lebih terfokus dan berkelanjutan di wilayah tersebut (Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah., 2024)(Devianti et al., 2025). 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 Gambar 1. Prevalensi Stunting di Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2024 Hal inilah yang menjadikan isu stunting sebagai salah satu subtema prioritas dalam pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Periode 1 Universitas Palangka Raya tahun 2025, dengan mengusung tema besar “Desa Bebas Stunting dan Kesehatan Masyarakat.” Melalui Program ini, mahasiswa diharapkan mampu menujukan kontribusi nyata dalam upaya menurunkan angka stunting, khususnya di Kalimantan Tengah melalui pendekatan promotif dan preventif. Peneliti dan tim menetapkan fokus program kerja di Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas (Nafisah, Baktir, et al., 2023). Program kerha yang diusung meliputi kegiatan edukasi terkait stunting, pemeriksaan status gizi melalui pengukuran astropometri, serta inovasi pemandaatan tanaman lokal kelakai (Stenochlaena palustris) sebagai pangan fungsional tinggi zat besi untuk mendukung pencegahan dan penanganan stunting (Pereiz, Nafisah, et al., 2023). Pemilihan tanaman kelakai sebagai bagian dari intervensi berbasis potensi lokal merupakan bentuk pendekatan kontekstual yang relevan dengan kondisi sumber daya alam dan kebiasaan masyarakat setempat. Dengan mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal, diharapkan program ini mampu memberikan dalmpak yang berkelanjutan bagi peningkatan status gizi masyarakat serta mendukung pencapaian target penurunan stunting secara nasional. METODE PELAKSANAAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 28 Juli 2025 bertempat di Aula Kantor Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki balita dan anak usia dini, terkait pencegahan stunting serta pemanfaatan tanaman lokal kelakai sebagai pangan fungsional tinggi zat besi. Tahapan awal pelaksanaan kegiatan dimulai dengan survei lapangan di Desa Tumbang Habaon untuk melakukan observasi awal dan pengumpulan informasi mengenai kondisi gizi masyarakat. Fokus utama survei adalah mengidentifikasi permasalahan stunting yang terjadi pada bayi dan balita. Survei dilaksanakan melalui diskusi langsung dengan Kepala Desa dan para kader posyandu untuk memperoleh data mengenai jumlah balita serta kondisi gizi yang menjadi permasalahan di desa. Berdasarkan hasil survei dan diskusi tersebut, disusun strategi program kerja yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan masyarakat setempat. Strategi ini kemudian dituangkan dalam bentuk proposal kegiatan yang diajukan secara resmi kepada Kepala Desa. Proposal memuat rencana pelaksanaan kegiatan berupa sosialisasi edukatif mengenai pencegahan stunting serta pemanfaatan tanaman lokal kelakai sebagai alternatif sumber zat besi. Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak desa, dilakukan persiapan teknis yang mencakup penyusunan materi edukasi, desain media visual, serta pengadaan logistik yang dibutuhkan. Kegiatan sosialisasi dilaksanakan dengan melibatkan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya sebagai narasumber. Materi disampaikan menggunakan metode ceramah interaktif yang didukung oleh media presentasi PowerPoint dan banner edukasi mengenai stunting dan gizi. Dalam penyampaian materi, pemateri menjelaskan secara komprehensif mengenai definisi, faktor risiko, tanda dan gejala, dampak jangka panjang, serta cara pencegahan stunting. Selain itu, dijelaskan pula kandungan gizi yang terdapat dalam tanaman kelakai serta cara pengolahannya menjadi makanan bergizi yang menarik, salah satunya berupa puding kelakai. Untuk memperdalam pemahaman peserta, kegiatan ini juga disertai dengan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, terutama oleh orang tua yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang kondisi 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 gizi anak mereka serta solusi yang dapat dilakukan. Tim pengabdian bersama pemateri memberikan penjelasan yang mendalam dan solutif sesuai dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat. Sebagai bentuk media edukatif berkelanjutan, tim pengabdian juga membuat poster/banner edukasi yang berisi informasi penting tentang pencegahan stunting dan pemanfaatan tanaman kelakai. Poster ini dirancang untuk ditempelkan di posyandu setempat agar pesan-pesan edukatif tetap dapat diakses oleh masyarakat setelah kegiatan selesai. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, dilakukan pengukuran tingkat pengetahuan peserta melalui metode pretest dan posttest menggunakan instrumen berupa kuesioner. Kuesioner terdiri dari 15 butir pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan tentang stunting serta manfaat tanaman kelakai. Pretest dilakukan sebelum kegiatan dimulai untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta, mengidentifikasi kebutuhan informasi, serta menyesuaikan pendekatan penyampaian materi agar lebih efektif. Posttest dilakukan setelah kegiatan untuk mengevaluasi sejauh mana peningkatan pemahaman dan pengetahuan peserta setelah menerima edukasi. Hasil pengisian kuesioner pretest dan posttest kemudian dianalisis menggunakan metode distribusi frekuensi untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah intervensi. Interpretasi hasil dilakukan dengan mengacu pada klasifikasi tingkat pengetahuan menurut Arikunto dalam (Wayan., 2019), yaitu: • Kategori Baik: persentase 76%–100% • Kategori Cukup: persentase 56%–75% • Kategori Kurang: persentase <56% Melalui metode ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas mengenai efektivitas program edukasi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pencegahan stunting dan pemanfaatan tanaman kelakai sebagai pangan lokal bergizi tinggi zat besi. Data ini juga menjadi dasar untuk pengembangan kegiatan serupa di masa yang akan datang. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil kuesioner pretest, diketahui bahwa sebagian besar peserta masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai stunting, upaya pencegahannya, serta manfaat tanaman kelakai dalam konteks gizi. Hasil pretest menunjukkan rata-rata tingkat pengetahuan peserta sebesar 47,56%, yang tergolong dalam kategori "Kurang" menurut klasifikasi tingkat pengetahuan berdasarkan Arikunto (Wayan., 2019). Hal ini mengindikasikan bahwa masih banyak masyarakat yang belum memahami secara menyeluruh tentang stunting, baik definisi, penyebab, dampak, maupun cara pencegahannya, termasuk belum mengetahui potensi tanaman lokal seperti kelakai sebagai pangan fungsional. Namun demikian, setelah diberikan edukasi secara komprehensif dan interaktif, serta pendampingan langsung dalam pembuatan olahan puding kelakai, terjadi peningkatan yang signifikan dalam tingkat pengetahuan peserta. Hasil posttest menunjukkan rata-rata skor sebesar 89,33%, yang masuk dalam kategori "Baik". Peningkatan ini mencerminkan keberhasilan metode edukasi yang diterapkan, baik dari sisi materi, media visual, maupun pendekatan partisipatif selama kegiatan berlangsung. Selisih antara skor pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan sebesar 87,81%. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berhasil menyampaikan informasi, tetapi juga mendorong terjadinya perubahan pemahaman peserta secara nyata. Sebagian besar peserta juga mampu menjawab kembali pertanyaan dalam kuesioner dengan benar, yang menunjukkan bahwa materi yang diberikan benar-benar dipahami. Gambar 2. Hasil Presentase Rata-Rata Skor 0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% Rata-Rata Skor Pre-test Rata-Rata Skor Post-test Rata-Rata Peningkatan Pengetahuan 47,56% 89,33% 87,81% Presentase Rata-Rata Skor 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 Tabel 1.1 Presentase Rata-Rata Skor Pretest dan Posttest Keterangan Presentase Rata-Rata Skor Pre-Test 47,56% Rata-Rata Skor Post-Test 89,33% Selain pengukuran melalui kuesioner, evaluasi kegiatan juga dilakukan secara kualitatif melalui wawancara dengan beberapa pihak, antara lain perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan kader posyandu. Mereka menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan wawasan baru dan sangat bermanfaat untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam upaya pencegahan stunting secara mandiri dan berbasis potensi lokal. Menariknya, selama diskusi dan sesi tanya jawab, peserta menunjukkan sikap yang lebih terbuka dalam membicarakan isu gizi dan kondisi kesehatan anak, termasuk stunting, yang sebelumnya dianggap sebagai hal sensitif atau bahkan tabu. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan juga berperan dalam mengubah paradigma masyarakat terhadap isu kesehatan. Gambar 3. Pengukuran Status Gizi (Antropometri) Berat Badan dan Tinggi Badan Balita dan Anak Usia Dini Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat dikatakan berhasil dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan stunting dan pemanfaatan tanaman lokal. Intervensi edukatif yang dirancang dengan pendekatan partisipatif dan berbasis potensi lokal terbukti efektif dalam mengedukasi masyarakat desa, sekaligus memberdayakan mereka untuk menjadi agen perubahan dalam meningkatkan status gizi anak di lingkungannya. Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian Kegiatan sosialisasi dan edukasi mengenai pencegahan stunting serta pemanfaatan tanaman lokal kelakai sebagai pangan alternatif tinggi zat besi telah dilaksanakan pada hari Senin, 28 Juli 2025, bertempat di Aula Kantor Desa Tumbang Habaon, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan ini berlangsung dengan sangat baik dan mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Antusiasme peserta terlihat sejak awal kegiatan, yang ditandai dengan kehadiran para orang tua yang memiliki balita dan anak usia dini. Selain masyarakat umum, kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Desa beserta perangkat desa lainnya serta para kader posyandu. Selama kegiatan berlangsung, masyarakat tidak hanya hadir sebagai peserta pasif, namun juga terlibat secara aktif. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan dengan serius, mulai dari mengisi kuesioner, menyimak materi edukasi dengan seksama, hingga ikut serta dalam praktik langsung pembuatan puding kelakai sebagai salah satu bentuk pemanfaatan tanaman lokal kaya zat besi dalam upaya pencegahan stunting. Fokus utama dari kegiatan ini adalah pada dua hal penting, yaitu pemberian edukasi mengenai 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 stunting dan cara pencegahannya, serta demonstrasi pemanfaatan tanaman kelakai yang diolah menjadi puding sebagai alternatif makanan tinggi zat besi. Sebagai bentuk apresiasi, kami sebagai penyelenggara memberikan susu dan pudding kelakai kepada orang tua, balita dan anak usia dini yang hadir sebagai bentuk terima kasih atas kehadiran, dukungan tempat dan fasilitas kegiatan. Gambar 4. Penyampaian Materi Gambar 5. Foto Bersama Peserta Sosialisasi dan Edukasi SIMPULAN Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa program sosialisasi dan edukasi mengenai pencegahan stunting dan pemanfaatan tanaman lokal kelakai sebagai pangan fungsional tinggi zat besi berjalan dengan baik dan efektif. Kegiatan ini berhasil menarik antusiasme masyarakat, khususnya para kader posyandu serta orang tua yang memiliki balita dan anak usia dini. Para peserta mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai stunting, baik dari aspek penyebab, dampak, hingga strategi pencegahannya, termasuk melalui pemanfaatan tanaman lokal sebagai sumber gizi yang mudah dijangkau. Proses pelaksanaan yang bersifat interaktif serta penggunaan media digital seperti presentasi visual dan banner edukatif turut membantu meningkatkan keterlibatan peserta dan mempermudah pemahaman materi. Metode ceramah yang disertai sesi tanya jawab mendorong peserta untuk aktif berdiskusi, mengaitkan materi dengan kondisi nyata di lingkungan mereka, dan memperoleh solusi praktis yang aplikatif. Evaluasi hasil kegiatan melalui pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, yaitu mencapai 87,81%, yang dikategorikan sebagai tingkat pengetahuan baik. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi yang diberikan telah efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait stunting serta pentingnya gizi yang optimal untuk tumbuh kembang anak. Dengan demikian, kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan kontribusi yang positif sebagai langkah strategis dalam upaya menurunkan angka stunting, khususnya di Provinsi Kalimantan Tengah, terutama di wilayah Kabupaten Gunung Mas. Program ini juga menunjukkan bahwa edukasi yang menyasar masyarakat secara langsung di tingkat desa dapat 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 menjadi intervensi yang sangat berdampak, terutama ketika memanfaatkan potensi lokal yang ada, seperti tanaman kelakai. Perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil, maka pemberdayaan masyarakat desa dalam memahami dan mencegah stunting merupakan fondasi penting dalam menciptakan perubahan jangka panjang. Melalui edukasi gizi dan pemanfaatan pangan lokal, diharapkan terbentuk generasi yang lebih sehat, cerdas, serta berdaya saing tinggi, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap terbentuknya sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas di masa depan. REFERENSI Aurelia, Y. (2024). 1000 HPK kunci cegah stunting. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Apriyanti, M., Pereiz, Z., Oksal, E., Ratna, M., Telaumbanua, S., Florensia, O. A., Devianti, G., Prayoga, A., Tundan, A. I. L., & Dandy, J. (2025). Sosialisasi dan Edukasi Pembuatan Slide Presentasi Menggunakan Aplikasi Canva bagi Siswa-Siswi di SMPN 4 Tewah , Kabupaten Gunung Mas. 4(8). Ayuchecaria, N., Oksal, E., Sri Martani, N., Kartika Komara, N., & Pereiz, Z. (2024). SKRINING FITOKIMIA DAN UJI ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN HANJUANG MERAH (Cordyline fruticose) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis. Jurnal Insan Farmasi Indonesia, 7(1), 86–94. https://doi.org/10.36387/jifi.v7i1.1683 Beladona, S. U. M., Pereiz, Z., & Nugroho, W. (2023). Sosialisasi Pembuatan Sabun Padat dengan Penambahan Minyak Atsiri dari Kopi di SMAN 4 Palangka Raya Socialization on Making Solid Soap from Coffee Essential Oil in SMAN 4 Palangka Raya. Nawasena: Journal of Community Service, 01(01), 13–19. https://e-journal.upr.ac.id/index.php/JCS/index Briawan, D. (2016). Ilmu gizi: Teori dan aplikasi. Jakarta: EGC Devianti, G., Pereiz, Z., Oksal, E., Ratna, M., Telaumbanua, S., Florensia, O. A., Apriyanti, M., Prayoga, A., Tundan, A. I. L., Dandy, J., & Raya, U. P. (2025). Gerakan Hijau : Sosialisasi Perawatan dan Penanaman Tanaman Porensial Bersama Masyarakat Tumbang Habaon , Kecamatan Tewah. 3(November), 326–334. Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2024). Monitoring pelaksanaan 8 aksi konvergensi intervensi penurunan stunting terintegrasi. Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K. (2015). Health behavior: Theory, research, and practice (5th ed.). Jossey-Bass Juliani, E., Saragih, B., & Syahrumsyah, H. (2019). Pengaruh formulasi daun kelakai (Stenochlaena palustris (Burm. f) Bedd) dan jahe (Zingiber officinale Rosc) terhadap sifat sensoris dan aktivitas antioksidan minuman herbal. Prosiding Seminar Nasional Ke-2 Tahun 2019 Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda, 53A–61A Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Survei Status Gizi Indonesia 2024 dalam angka. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesejahteraan Rakyat. (2013). Pedoman perencanaan program gerakan nasional percepatan perbaikan gizi dalam rangka seribu hari pertama kehidupan (Gerakan 1000 HPK) Lingkungan, J. B., Neneng, L., Ngazizah, F. N., Oksal, E., & Pereiz, Z. (2025). BioLink THE EFFECT OF ORGANIC BIOFERTILIZER FROM BSF LARVAE ( Hermetia illucens ) AND LOCAL MICROORGANISM ON THE GROWTH OF CAISIM MUSTARD PLANTS. 11(2), 117–126. https://doi.org/10.31289/biolink.v11i2.13289 Nafisah, Z., Baktir, A., & Pereiz, Z. (2023). Konstruksi Pustaka Metagenom Prokariot Dari Permukaan Eucheuma Cottonii Untuk Mencari Gen Penyandi Κ-Karaginase. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 4(4), 497–507. https://doi.org/10.59141/jist.v4i4.613 Nafisah, Z., Rahman, S., Pereiz, Z., & Ratna Kumalasari, M. (2023). Pemberdayaan Masyarakat Melalui Edukasi Pemanfaatan Limbah Cair Tempe Menjadi Biogas di Desa Habaring Hurung. Journal of Approriate Technology for Community Services, 5(1), 24–32. https://doi.org/10.20885/jattec.vol5.iss1.art4 Nasitoh, S., Handayani, Y., & Maribeth, A. L. (2024). Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak usia 0–2 tahun: Tinjauan literatur. Scientific Journal, 3(4), 221–231. Oksal, E., Nion, Y. A., Fatah, A. H., Pereiz, Z., Alfanaar, R., Zaki, A. M., Atviaputra, A. S., & Hasibuan, A. R. (2025). Peningkatan kemandirian petani melalui sosialisasi konversi biomassa pascapanen menjadi pupuk organik pada kelompok tani suka maju. 9(5), 6–9. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Menangkal Stunting dari Desa (Angelia Solla, dkk) | 26-33 Oktaviani, N. P. W., Lusiana, S. A., Sinaga, T. R., Simanjuntak, R. R., Louis, S. L., Andriani, R., ... & Faridi, A. (2022). Siaga stunting di Indonesia. Yayasan Kita Menulis Pereiz, Z. (2024). Analysis of Hexadecyltrimethoxysilane Nanosol Hybrids through optimization of Silica Nanosol Concentration and determining fabric types on Hydrophobicity Analysis of SilicaHexadecyltrimethoxysilane Nanosol Hybrids through optimization of Silica Nanosol C. 15(1), 195–210. Pereiz, Z., Chuchita, C., Kumalasari, M. R., & Nafisah, Z. (2023). ANALISIS ASPARTAM DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE SERTA OPTIMASI KONSENTRASI NINHIDRIN DAN APLIKASINYA UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN DALAM MINUMAN ENERGI Zimon. Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 4(4), 508–525. Pereiz, Z., Nafisah, Z., Rahman, S., Ratna Kumalasari, M., Studi Kimia, P., Palangka Raya, U., & Studi Farmasi, P. (2023). Mengurangi Emisi Gas (Zimon Pereiz dkk.) | 119 Nanggroe. Jurnal Pengabdian Cendikia, 2(6), 119–126. https://doi.org/10.5281/zenodo.8393970 Pereiz, Z., Oksal, E., Angel, J., Suma, A., & Afli, F. (2024). Teknik Pengelolaan Sanitasi Lingkungan untuk Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat. 7, 2–8. Pereiz, Z., Oksal, E., Ratna, M., Telaumbanua, S., Sabatini, F., Solla, A., Hutabalian, G., Arnia, O., Devianti, G., Apriyanti, M., Prayoga, A., Tundan, A. I. L., & Dandy, J. (2025). Sosialisasi dan Edukasi Bahaya Narkoba bagi Siswa-Siswi SMPN 4 Tewah , Kabupaten Gunung Mas , Provinsi Kalimantan Tengah. 4(4). Pereiz, Z., Oksal, E., Sylvani, M. M., & Irawan, A. (2025). The Potential of Ironwood as an Activated Carbon Adsorbent for Heavy Metal Mercury ( Hg ) using the Pyrolysis Method Potensi Kayu Ulin Sebagai Adsorben Karbon Aktif Untuk Logam Berat Merkuri ( Hg ) Menggunakan Metode Pirolisis. 19(1), 25–36. Pereiz, Z., Pebriyanto, Y., Naulita Turnip, O., Maya Sylvani, M., Karelius, K., Putra Ramdhani, E., Chuchita, C., Agnestisia, R., Horale Pasaribu, M., & Prasetya Toepak, E. (2023). Synthesis of MIL-100(Fe)@Fe3O4 from Magnetic Zircon Mining Waste Modified by CTAB for Naphthol Dye in Water Removal. BIO Web of Conferences, 79. https://doi.org/10.1051/bioconf/20237912005 Rusmil, V. K., Ikhsani, R., Dhamayanti, M., & Hafsah, T. (2019). Hubungan perilaku ibu dalam praktik pemberian makan pada anak usia 12–23 bulan dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Jatinangor. Sari Pediatri, 20(6), 366 Saragih, B. (2017). Potensi pangan dari lahan gambut: Bagian dari riset komoditi lokal potensial lahan gambut. Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mulawarman Segah, H., Oksal, E., Pereiz, Z., & Supriyati, W. (2024). PENGUJIAN KUALITAS ARANG DARI SERBUK ULIN DENGAN 2 METODE PENGERINGAN. 42(2). Tridjaja, B., Yuliarti, K., Sjarif, D. R., Gunardi, H., & Marsubrin, P. M. T. (2023). Petunjuk teknis berbasis bukti: Diagnosis dan tata laksana stunting secara komprehensif untuk dokter spesialis anak. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development Wayan, N. I., & Putri, E. R. A. (2019). Pengaruh pemberian edukasi dengan visual aids terhadap tingkat pengetahuan kader posyandu balita tentang stunting di Desa Singakerta. Wijaya, R. (2017). Perbandingan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut antara penyuluhan metode video dan bernyanyi pada anak usia 8–10 tahun di SD Methodist 2 Palembang (Skripsi). Universitas Sriwijaya, Palembang World Health Organization. (2006). WHO child growth standards: Length/height-for-age, weight-forage, weight-for-length, weight-for-height and body mass index-for-age. Geneva: World Health Organization