scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

The Role of Islamic Education Policies in Improving Teacher Quality at Madrasah Aliyah

Tengku Darmansah, Mia Sri Dwi Yanti, Zahara Salma, Hadi Purnomo

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Peran Kebijakan Pendidikan (Tengku Darmansah, et., al) | 199-203 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 199-203 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17892073 Peran Kebijakan Pendidikan Islam dalam Meningkatkan Kualitas Guru di Madrasah Aliyah The Role of Islamic Education Policies in Improving Teacher Quality at Madrasah Aliyah Tengku Darmansah 1, Mia Sri Dwi Yanti2, Zahara Salma3, Hadi Purnomo4 1,2,3,4Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Email: tengkudarman[email protected], yan[email protected], zahar[email protected] hadi.n[email protected] Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran kebijakan pendidikan Islam dalam meningkatkan kualitas guru melalui integrasi program tahfizh Al-Quran sebagai kurikulum terpadu, dalam meningkatkan kebutuhan penguatan pendidikan karakter Islami berbasis hafalan yang selaras dengan kurikulum Kemenag dan SKB 3 Menteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan kelembagaan seperti penjadwalan hafalan, metode tasmi, takrir, serta murojaah, pengawasan disiplin, pembinaan guru melalui supervisi harian, dan evaluasi berkala. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, yang pengumpulan datanya dilakukan dengan wawancara mendalam dengan wakil kepala madrasah bidang kurikulum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator keberhasilan berupa budaya murojaah harian, ujian hafalan rutin, pemberian sertifikat tahfizh, dukungan motivasi dari orang tua dan lingkungan syar'i kondusif, serta kolaborasi ekosistem madrasah yang memperkuat mutu hafalan santri dan kompetensi guru secara holistik. Kebijakan Pendidikan ini berhasil membentuk pendidikan Islam terpadu yang mengikat akademik formal dengan ruhani, sehingga direkomendasikan replikasi di madrasah lain untuk optimalisasi kualitas pendidik. Kata Kunci: Kebijakan Pendidikan Islam, Kualitas Guru Abstract This study is grounded in the role of Islamic education policies in improving teacher quality through the integration of a tahfizh Al-Qur’an program as a comprehensive curriculum, aimed at strengthening Islamic character education based on memorization in alignment with the Ministry of Religious Affairs curriculum and the Joint Decree of Three Ministers (SKB 3 Menteri). The purpose of this research is to analyze institutional policies such as memorization scheduling, the methods of tasmi, takrir, and murojaah, discipline monitoring, teacher development through daily supervision, and periodic evaluation. The research employed a qualitative approach, with data collected through in-depth interviews with the vice principal for curriculum affairs. The findings show that indicators of success include the cultivation of a daily murojaah culture, regular memorization examinations, the awarding of tahfizh certificates, motivational support from parents, a conducive Sharia-based environment, and collaborative efforts within the madrasa ecosystem. These elements collectively strengthen students’ memorization quality and enhance teachers’ competence holistically. This educational policy has successfully shaped an integrated Islamic education model that harmonizes formal academics with spiritual development and is therefore recommended for replication in other madrasas to optimize educator quality. Keywords: Islamic Education Policy, Teacher Quality Article Info Received date: 31 Oktober 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 05 December 2025 PENDAHULUAN Kebijakan pendidikan di Indonesia merupakan sebuah proses dinamis yang telah berlangsung sejak awal kemerdekaan. Setiap periode pemerintahan, mulai dari era Orde Lama hingga era Reformasi saat ini, menampilkan corak dan arah kebijakan yang berbeda,yang seringkali merefleksikan konstelasi politik, sosial,dan ekonomi yang melingkupinya. Meskipun terjadi berbagai perubahan dan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Peran Kebijakan Pendidikan (Tengku Darmansah, et., al) | 199-203 penyesuaian, semangat utama yang mendasari setiap kebijakan tersebut adalah cita-cita luhur untuk memajukan bangsa dan mencerdaskan kehidupan rakyat (Mustakim, 2019). Dinamika ini menunjukkan adanya upaya berkelanjutan dari negara untuk menemukan formula sistem pendidikan yang paling relevan dan efektif bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Namun,dalam perjalanan panjang ini, posisi dan peran Pendidikan Islam tidak selalu mendapatkan tempat yang proporsional, seringkali mengalami pasang surut tergantung pada orientasi dan prioritas rezim yang berkuasa pada masanya (Handayani & Khori, 2025). Kebijakan pendidikan merupakan instrumen strategis yang dirancang sebagai rangkaian keputusan dan tindakan untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam sistem pendidikan, yang dampaknya dirasakan secara langsung oleh warga negara (Tilaar, 2009). Di Indonesia Kebijakan pendidikan Islam, sebagai bagian integral dari kebijakan Pendidikan nasional, memegang peranan yang tidak kalah pentingnya (Muhaimin, 2012). Sebuah kebijakan yang baik harus mampu menciptakan ekosistem yang kondusif bagi peningkatan mutu secara menyeluruh. Salah satu aspek paling krusial adalah pengembangan sumber daya manusia, yakni para guru sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran (Suyanto, 2018). Kebijakan pendidikan Islam harus memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi para guru untuk terus berkembang, tidak hanya dari segi kuantitas atau pemenuhan formasi, tetapi yang lebih utama adalah dari segi kualitas, kompetensi, dan profesionalisme. Sebab, kualitas seorang guru merupakan faktor penentu utama yang akan melahirkan peserta didik yang berkualitas pula. Inilah urgensi yang mendorong penulis untuk melakukan kajian mendalam mengenai pengaruh kualitas sistem pendidikan Islam terhadap kualitas para pendidiknya. Kebijakan pendidikan Islam memainkan peran sentral dalam meningkatkan kualitas guru melalui penguatan kompetensi profesional, pedagogik, dan nilai-nilai Islami, seperti yang diterapkan melalui program pelatihan, sertifikasi, dan manajemen berbasis Islam. Manajemen pendidikan Islam yang efektif dapat meningkatkan kualitas guru terutama guru PAI melalui kepemimpinan berbasis nilai Islam, pembinaan berkelanjutan, dan budaya akademik Islami, yang terbukti dari studi kasus di sekolah berbasis Islam. Kebijakan pemerintah, seperti PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, mengatur standar mutu guru pendidikan agama Islam melalui penyediaan pelatihan dan sertifikasi profesi (Pemerintah Republik Indonesia, 2005). Peningkatan kualitas guru di Indonesia melalui program pemerintah seperti Pendidikan Profesi Guru (PPG), Guru Penggerak, dan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) yang berfokus pada sertifikasi, pelatihan dan kolaborasi komunitas (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2020, 2021; Direktorat Jenderal GTK,2019). Selain itu, untuk mengembangkan Tingkat professional guru pemerintah membuat startegi dengan membuat program kelompok kerja guru (KKG), musyawarah guru mata Pelajaran (MGMP) dan pusat kegiatan guru (PKG) memfasilitasi pembinaan mandiri dan kolaboratif antar guru. Program-program diatas menargetkan peningkatan kompetensi pedagogic, penguasaan mata Pelajaran serta keterampilan kritis melalui workshop, microteaching dan pengalaman lapangan (Kemendiknas, 2008,2010). Penguatan sumber daya manusia guru juga diterapkan untuk meningkatkan sikap profesionalisme guru melalui kurikulum pengembangan, pemanfaatan teknologi, dan pendidikan karakter berbasis Islam untuk generasi berakhlak mulia (Zarkasyi, H.2018). Partisipasi masyarakat dalam kebijakan pendidikan Islam memberikan dukungan finansial dan moral guna memperkuat kualitas pendidik secara berkelanjutan (Suyatno.2019). Dalam hasil wawancara penelitian di MA ISLAMIC CENTER terlihat bahwa kebijakan pendidikan Islam di MA Islamic Center Medan untuk meningkatkan kualitas guru melalui integrasi program tahfizh Al-Quran sebagai kurikulum inti yang terpadu dengan regulasi Kementerian Agama RI, Kurikulum MAN, dan SKB 3 Menteri. Di tengah tantangan pendidikan karakter Islami, madrasah ini menerapkan kebijakan inovatif seperti penjadwalan hafalan pagi setelah subuh dan sore sebelum maghrib, metode tasmi, takrir, serta 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Peran Kebijakan Pendidikan (Tengku Darmansah, et., al) | 199-203 murojaah, beserta pengawasan disiplin oleh guru muhafizh untuk mencapai target hafalan 15 juz dalam 3 tahun, yang belum banyak dieksplorasi dalam studi sebelumnya. Disisi lain,Kebijakan pembinaan guru tahfizh di MA ISLAMIC CENTER menjadi sorotan utama, melibatkan pendampingan setoran, supervisi harian, dan kontrol kualitas hafalan santri untuk memastikan profesionalisme. Dukungan motivasi dari orang tua, lingkungan Islami, dan kolaborasi ekosistem madrasah memperkuat implementasi, dengan indikator keberhasilan seperti konsistensi murojaah dan sertifikasi internal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana peran kebijakan Pendidikan islam di MA ISLAMIC CENTER untuk meningkatkan kualitas guru,dan menganalisis indikator keberhasilan seperti konsistensi murojaah, ujian berkala, dan sertifikasi internal, termasuk,Pembinaa guru melalui supervisi harian, Evaluasi Tajwid, Kelancaran Setoran, Dukungan Motivasi Dari Orang Tua Serta Lingkungan Syar'i Kondusif Berkontribusi Terhadap Kompetensi Holistik Pendidik, METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena mampu menganalisis kebijakan Pendidikan islam di Madrasah Aliyah Tahfidzil Qur’an (MATQ) Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara. Data diperoleh melalui penjelasan verbal, pengamatan langsung, serta dokumentasi yang berkaitan dengan kebijakan Pendidikan islama dalam meningkatkan kualitas guru. Sumber data berasal dari wawancara mendalam dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum Madrasah Aliyah Tahfidzil Qur’an (MATQ) Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Tahfidzil Qur’an (MATQ) Yayasan Islamic Centre Sumatera Utara, yang beralamat di Jl. Selamat Ketaren, Medan Estate, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Instrumen utama penelitian adalah peneliti sendiri, yang berperan dalam merancang, mengumpulkan, dan menganalisis data. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semiterstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Proses analisis data menggunakan secara deskriptif dengan tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan triangulasi Teknik, sumber dan waktu, dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumen. Etika penelitian dijaga dengan menghormati kerahasiaan identitas partisipan serta memastikan bahwa seluruh data digunakan hanya untuk kepentingan akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini menemukan bahwa Program tahfizh di MA Islamic Centre ditetapkan sebagai kurikulum inti yang terintegrasi dengan pembelajaran formal, bukan sekadar kegiatan tambahan. Integrasi ini diwujudkan melalui jadwal setoran, target hafalan, serta sistem pembinaan yang dikuatkan oleh penugasan guru muhafizh dan regulasi internal agar selaras dengan kurikulum Kementerian Agama. Aktivitas santri dalam proses hafalan diatur melalui kewajiban setoran, muroja’ah harian, serta pengulangan hafalan yang terlaksana secara disiplin dan terawasi langsung oleh guru setiap hari. Pada aspek metode, lembaga menetapkan tiga pendekatan utama, yaitu tasmi’, takrir, dan muroja’ah, yang distandarisasi untuk menjamin keseragaman proses dan kemudahan evaluasi. Mutu hafalan dijaga melalui standar ketat mencakup ketepatan tajwid, kelancaran bacaan, konsistensi setoran, serta evaluasi berkala melalui tes hafalan dan tasmi’, yang pada akhirnya diwujudkan dalam pemberian sertifikat tahfizh bagi santri yang memenuhi standar. Guru muhafizh menjadi aktor sentral dalam pembinaan tahfizh dan menjalankan supervisi harian, pemeriksaan tajwid, pendampingan setoran, serta kontrol kualitas hafalan santri. Pendukung kebijakan ini ialah penempatan jadwal tahfizh pada waktu strategis pagi setelah Subuh dan sore sebelum 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Peran Kebijakan Pendidikan (Tengku Darmansah, et., al) | 199-203 Magrib agar tidak berbenturan dengan jam akademik serta memanfaatkan waktu terbaik bagi konsentrasi. Faktor motivasi juga diakomodasi melalui dukungan orang tua, guru, dan lingkungan Islami madrasah yang bersama-sama menciptakan dorongan eksternal yang konsisten. Lingkungan syar’i dibangun melalui pembiasaan adab Qur’ani, kedisiplinan ibadah, dan suasana ruhani yang mendukung terbentuknya karakter Qur’ani. Evaluasi tahfizh yang dilakukan mencakup aspek hafalan, kelancaran tasmi’, ketepatan tajwid, dan konsistensi muroja’ah, yang tidak hanya bernilai akademik tetapi juga mengandung dimensi ruhani. Indikator keberhasilan tahfizh dirumuskan secara komprehensif, mencakup target 15 juz, pelaksanaan tasmi’ rutin, ujian berkala, efektivitas pembinaan guru, budaya muroja’ah, dan motivasi santri. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan Islam terpadu yang mengintegrasikan kurikulum Kementerian Agama, dirosah Islamiyah, dan program tahfizh dalam satu sistem pendidikan terpadu. Target hafalan yang ditetapkan 15 juz dalam tiga tahun dipandang realistis sekaligus menantang, sehingga santri terdorong mencapai hafalan signifikan sebelum lulus. Secara regulatif, MA Islamic Centre tetap berpegang pada kurikulum nasional namun memperkuatnya dengan identitas khas melalui kebijakan internal tahfizh. Dalam struktur pembelajaran harian, slot tahfizh pagi difokuskan pada hafalan baru, sementara slot sore diarahkan untuk muroja’ah sehingga proses berlangsung sistematis. Pengawasan utama berada di tangan guru muhafizh yang bertanggung jawab pada setoran, tajwid, takrir, dan ujian tahfizh. Penjaminan mutu dilakukan melalui standar tajwid, kelancaran, dan konsistensi hafalan sebelum santri menerima sertifikasi. Lingkungan syar’i yang dibangun lembaga semakin menguatkan kultur Qur’ani yang mendukung aktivitas hafalan. Orang tua turut dilibatkan sebagai bagian dari motivasi eksternal sehingga keberlanjutan hafalan dapat tetap terjaga di luar madrasah. Keseluruhan kebijakan ini menempatkan program tahfizh sebagai inti identitas kelembagaan MA Islamic Centre, tercermin dari jadwal wajib, evaluasi rutin, pembinaan guru, serta sistem sertifikasi internal yang mengikat dan terstruktur. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang kebijakan Pendidikan islam dalam meningkatkan kualitas guru di MA Islamic Centre terdapat program tahfizh yang merupakan komponen inti dalam sistem pendidikan terpadu yang dirancang secara sistematis, terstruktur, dan berorientasi pada mutu. Integrasi tahfizh dengan kurikulum formal didukung oleh metode pembelajaran baku, jadwal strategis, serta pembinaan intensif oleh guru muhafizh yang berperan sebagai pengawas utama kualitas hafalan. Mutu hafalan santri dijaga melalui standar tajwid, kelancaran, konsistensi muroja’ah, dan evaluasi berkala yang bermuara pada sertifikasi tahfizh sebagai bukti kompetensi. Lingkungan syar’i dan keterlibatan orang tua turut memperkuat motivasi santri serta menciptakan suasana yang kondusif bagi lahirnya karakter Qur’ani. Dengan target hafalan 15 juz dalam tiga tahun dan dukungan regulasi yang sesuai dengan kurikulum nasional, MA Islamic Centre berhasil menempatkan tahfizh sebagai identitas utama lembaga sekaligus pilar pendidikan Islam terpadu yang menyatukan aspek akademik, spiritual, dan pembinaan karakter. REFERENSI Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. (2019). Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB). Jakarta: Kemendikbud. Handayani, D. & Khori, Q. (2025). Transformas pendidikan islam dalam cengkeraman kekuasaan orde baru. MANAJERIAL Jurnal Inovasi Manajemen Dan Supervisi 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Peran Kebijakan Pendidikan (Tengku Darmansah, et., al) | 199-203 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2020). Kebijakan Pendidikan Nasional Untuk Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia. Jakarta: Kemendikbud. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2020). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Jakarta: Kemendikbudristek. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Pedoman Program Guru Penggerak. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Muhaimin. (2012). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam: Teori dan praktik. Rajawali Press. Mustakim, Z. (2019). Managing islamic education curriculum in indonesian schools: Best Pemerintah Republik Indonesia. (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41. Pendidikan, 5(2), 277 Suyanto, K. (2018). Profesionalisme guru sebagai kunci peningkatan mutu pendidikan. Jurnal Pendidikan Nasional, 12(2), 145–158. Suyatno. (2019). Partisipasi masyarakat dalam mendukung mutu pendidikan Islam. Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 4(1), 55–70. Tilaar, H. A. R. (2009). Kebijakan Pendidikan: Pengantar Untuk Memahami Kebijakan Pendidikan Dan Kebijakan Publik. Rineka Cipta. Zarkasyi, H. (2018). Integrasi pendidikan karakter Islam dalam kurikulum sekolah. Jurnal Pendidikan Islam, 7(2), 145–162.