scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Bahasa Humor dalam Tradisi Guyon Jawa: Kajian Etnolinguistik tentang Identitas dan Solidaritas Sosial

Esa Futuh Handa, Mohammad Sofwan Azizi, Imam Baehaqie

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Issue 5, December 2025, P. 250-256 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17909095 *Corresponding Author Email: [email protected] Bahasa Humor dalam Tradisi Guyon Jawa: Kajian Etnolinguistik tentang Identitas dan Solidaritas Sosial Humor Language in Javanese Guyon Tradition: An Ethnolinguistic Study of Identity and Social Solidarity Esa Futuh Handa, Mohammad Sofwan Azizi, Imam Baehaqie Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang A B S T R A C T This study examines Javanese humor through an ethnolinguistic approach to understand the relationship between humorous forms, cultural values, and communicative practices within Javanese society. It combines ethnolinguistic and sociolinguistic perspectives and employs a descriptive qualitative method. Data were collected from humorous interactions in traditional market transactions, interviews, and documentation of Jula Juli performances and digital content. The findings reveal that Javanese humor serves to maintain social harmony, strengthen interpersonal relationships, and convey criticism in subtle ways. The use of wordplay, semantic shifts, and distinctive humorous patterns demonstrates both linguistic creativity and social sensitivity. In everyday contexts, humor functions as a medium that reinforces solidarity, while in performances and digital spaces, it affirms cultural identity and reflects the community’s adaptation to changing times. This study highlights that Javanese humor is an essential part of intangible cultural heritage, embodying the values of rukun, tepa selira, and nrima. A B S T R A K Penelitian ini mengkaji humor Jawa melalui pendekatan etnolinguistik untuk memahami keterkaitan antara bentuk humor, nilai budaya, dan praktik komunikasi masyarakat Jawa. Penelitian ini merupakan kajian etnolimguistik dan sosiolinguistik. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, data diperoleh dari interaksi guyon dalam perdagangan tradisional, wawancara, serta dokumentasi pertunjukan Jula Juli dan konten digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor Jawa berfungsi sebagai sarana menjaga harmoni sosial, mempererat hubungan, dan menyampaikan kritik secara halus. Penggunaan plesetan, pergeseran makna, serta pola humor khas memperlihatkan kecerdasan linguistik dan kepekaan sosial. Dalam konteks seharihari, humor menjadi media yang memperkuat solidaritas, sementara dalam pertunjukan dan ruang digital, humor menegaskan identitas budaya dan adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman. Penelitian ini menegaskan bahwa humor Jawa merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda yang mencerminkan nilai rukun, tepa selira, dan sikap nrima. PENDAHULUAN Bahasa dan komunikasi adalah dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan, karena dalam berinteraksi manusia selalu menggunakan bahasa untuk dalam berkomunikasi untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta membangun relasi sosial. Komunikasi yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya melibatkan penyampaian pesan, tetapi juga melibatkan proses penyesuaian bahasa sesuai situasi, partisipan, dan tujuan yang ingin disampaikan. Dewi & Dora (2022) menegaskan bahwa komunikasi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan dalam konteks tertentu yang dipengaruhi oleh hambatan serta membuka peluang terjadinya umpan balik. Kompleksitas proses ini menunjukkan bahwa keberhasilan proses komunikasi tidak hanya ditentukan oleh penguasaan bahasa, melainkan juga pemahaman terhadap konteks sosial yang melingkupinya. Oleh karena itu, sosiolinguistik memiliki peran penting dalam membantu individu memilih kode bahasa yang tepat agar komunikasi berlangsung efektif dan terhindar dari kesalahpahaman. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai perilaku sosial yang selalu dipengaruhi oleh faktor budaya, norma, identitas kelompok, serta struktur sosial (Hasnitah et al., 2023). Melalui A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 Keywords humor Jawa, etnolinguistik, komunikasi budaya, guyon, nilai budaya Keywords: Javanese humor, ethnolinguistics, cultural communication, guyon, cultural values This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 250-256 Socius E-ISSN: 3025-6704 perspektif ini, setiap pilihan bahasa dipahami sebagai respons terhadap situasi tutur yang dihadapi penutur. Dengan demikian, sosiolinguistik tidak sekadar mengkaji bentuk bahasa, tetapi juga menelusuri fungsi sosial dan nilai-nilai budaya di balik penggunaannya. Pendekatan ini menjadi landasan penting untuk memahami praktik komunikasi yang lebih kompleks, termasuk humor. Humor dalam komunikasi berperan lebih dari sekadar pemicu tawa, ia merupakan medium untuk menciptakan suasana harmonis, menjalin kedekatan emosional, menyampaikan sindiran secara halus, bahkan menjadi alat kritik sosial (Ayu Ningrum & Nurhadi, 2023). Fungsifungsi tersebut memperlihatkan bahwa humor adalah bagian integral dari dinamika sosial yang terus dibangun dan dinegosiasikan oleh anggota masyarakat. Kehadiran humor menjadikan interaksi sosial terasa lebih cair dan adaptif, sehingga memungkinkan anggota masyarakat untuk menegosiasikan nilai, norma, maupun ketegangan yang muncul di dalam relasi sosial. Dalam konteks tertentu, humor bahkan menjadi sarana penting untuk meredakan konflik dan menyalurkan aspirasi tanpa harus memicu konfrontasi. Peran yang begitu kompleks inilah yang membuat humor tidak dapat dilepaskan dari dinamika budaya suatu masyarakat, termasuk juga masyarakat Jawa, yang menempatkan humor pada kedudukan khusus dalam kehidupan seharihari. Menurut Rahayu (2019) dalam masyarakat Jawa, humor memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Bentuk-bentuk seperti guyon, plesetan, parikan, dan lawakan merupakan praktik budaya yang lahir dari tradisi interaksi masyarakat Jawa. Guyon tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai mekanisme menjaga harmoni sosial, menyampaikan pesan moral, mengatasi ketegangan, dan mengungkap ketimpangan secara santai serta tidak konfrontatif. Kekuatan humor Jawa terletak pada kemampuannya menampilkan realitas sosial dengan cara yang ringan namun bermakna, sehingga mampu diterima dalam berbagai situasi. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, humor Jawa tetap bertahan dan bahkan bertransformasi keruang media sosial, tanpa kehilangan ciri khas dan identitas budaya yang melekat (Firmansyah, 2016). Hal ini menunjukkan bahwa humor Jawa memiliki fleksibilitas budaya yang tinggi dan relevansi yang terus hidup dalam masyarakat kontemporer. Meskipun demikian, kajian tentang humor Jawa hingga saat ini masih cenderung terfokus pada aspek linguistik, seperti implikatur, ambiguitas fonetis, permainan bunyi, atau struktur kalimat (Purbosari & Suhandano, 2025). Penelitian-penelitian tersebut memang memberikan kontribusi terhadap pemahaman mekanisme bahasa humor, namun belum sepenuhnya menggali keterkaitan antara humor, budaya, dan fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat Jawa. Hoogervorst (2024) menjelaskan bahwa humor tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya yang melahirkannya. Humor selalu berkait dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat, relasi kekuasaan, norma sosial, serta identitas kelompok. Di sinilah pendekatan etnolinguistik menjadi sangat relevan, karena etnolinguistik memandang bahasa sebagai bagian dari praktik budaya dan melihat bagaimana pemilihan kata, gaya bahasa, serta struktur tuturan mencerminkan nilai, norma, dan pandangan hidup masyarakat (Abdullah, 2013). Pendekatan etnolinguistik memungkinkan humor dipahami tidak hanya sebagai permainan linguistik, tetapi sebagai representasi budaya Jawa yang sarat makna. Humor dapat menjadi medium untuk mempertahankan identitas budaya, menyampaikan kritik terhadap ketimpangan sosial, mencerminkan pola pikir kolektif, serta merepresentasikan cara masyarakat Jawa merespons realitas. Dengan demikian, kajian humor dari perspektif ini dapat mengungkap aspek-aspek budaya yang mungkin tidak tampak dalam analisis linguistik semata. Berdasarkan pemaparan tersebut, penelitian ini merumuskan dua masalah utama. Pertama, bagaimana humor Jawa dapat dipahami melalui perspektif etnolinguistik. Kedua, nilai sosial-budaya apa saja yang tercermin dalam humor Jawa. Humor juga sering memuat pesan yang mencerminkan pola relasi, tata krama, etika, maupun kritik sosial dalam masyarakat. Tujuan penelitian pun sejalan dengan rumusan masalah, yaitu mendeskripsikan bentuk humor Jawa dan menganalisis fungsi sosial-budayanya dalam kehidupan masyarakat. Melalui penelitian ini, diharapkan diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai humor sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang berperan dalam menjaga keharmonisan sosial, memperkuat identitas, serta mempertahankan nilai budaya masyarakat Jawa di tengah perubahan zaman. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 250-256 Esa Futuh Handa, et., al / Bahasa Humor dalam Tradisi METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena fenomena bahasa humor dalam tradisi guyon Jawa lebih tepat dipahami melalui eksplorasi makna, konteks budaya, dan interaksi sosial yang melingkupinya. Pendekatan ini memungkinkan peneliti menelaah makna simbolik di balik praktik humor, sebagaimana dijelaskan Waruwu (2024) bahwa penelitian kualitatif merupakan aktivitas untuk mengamati, mempelajari fenomena secara alamiah, serta menafsirkannya melalui proses deskripsi, penerjemahan, dan pemahaman konteks secara natural. Dalam kerangka tersebut, guyon Jawa dipandang tidak sekadar sebagai permainan bahasa, tetapi sebagai sarana ekspresif untuk menyampaikan nilai budaya serta membangun solidaritas sosial. Dengan demikian, pendekatan ini digunakan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna humor dalam guyon Jawa sesuai konteks sosial-budaya yang melahirkannya. Secara teoretis, penelitian ini memadukan dua perspektif utama, yaitu etnolinguistik dan sosiolinguistik. Etnolinguistik memandang bahasa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. Bahasa menjadi data utama yang dikaji karena pilihan leksikal dalam suatu masyarakat selalu terkait dengan nilai, simbol, dan praktik budaya tertentu. Sebaliknya, budaya juga memengaruhi cara masyarakat menggunakan bahasa (Sam’un, 2021). Perspektif ini relevan untuk mengungkap makna yang tersembunyi di balik ungkapan humor Jawa. Adapun sosiolinguistik, menurut Abdurrahman (2008) digunakan untuk menelaah bagaimana bahasa humor berfungsi dalam interaksi sosial, khususnya dalam membangun identitas dan solidaritas masyarakat Jawa. Data penelitian diperoleh dari dua sumber utama. Pertama, tuturan guyon yang muncul dalam interaksi masyarakat, khususnya percakapan sehari-hari. Kedua, dokumentasi berupa teks dan video humor Jawa yang mencerminkan praktik guyon dalam berbagai konteks. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dua cara: (1) wawancara mendalam dengan informan untuk menggali makna, fungsi, serta pandangan mereka mengenai humor Jawa, dan (2) dokumentasi berupa pengumpulan teks, rekaman audio, maupun video yang relevan. Analisis data dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama, reduksi data, yaitu menyeleksi data humor yang sesuai dengan fokus penelitian. Kedua, klasifikasi bentuk humor berdasarkan kategori tertentu. Ketiga, interpretasi makna dengan menafsirkan hubungan antara bentuk humor, nilai budaya, serta fungsinya dalam identitas dan solidaritas sosial. Keempat, penarikan kesimpulan berdasarkan integrasi analisis etnolinguistik dan sosiolinguistik. Penyajian data dilakukan dengan menampilkan contoh tuturan humor dalam bentuk kutipan asli, baik dari percakapan maupun dokumentasi multimedia. Setiap data disajikan bersama konteks situasionalnya, misalnya siapa penuturnya, kepada siapa tuturan diarahkan, kapan peristiwa terjadi, serta kondisi sosial yang melatarbelakanginya. Penyajian data ini bertujuan untuk memberikan gambaran konkret mengenai realisasi humor Jawa dalam praktik sehari-hari sekaligus memudahkan proses analisis berikutnya. Verifikasi temuan melalui triangulasi dengan pendapat informan atau data pembanding untuk memastikan akurasi penafsiran. Penarikan kesimpulan dengan mengintegrasikan analisis etnolinguistik dan sosiolinguistik untuk merumuskan pola umum penggunaan humor Jawa dalam kehidupan masyarakat. Secara keseluruhan, metode penelitian ini dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai praktik humor Jawa dalam kehidupan masyarakat. Pemilihan sumber data yang berasal dari tuturan langsung dan dokumentasi memungkinkan penelitian menangkap variasi bentuk humor yang muncul secara natural maupun yang terekam dalam media. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dan dokumentasi mendukung penggalian informasi yang mendalam mengenai makna, fungsi, serta nilai budaya yang melandasi tuturan humor tersebut. Dengan demikian, metode penelitian ini tidak hanya memfasilitasi pengumpulan dan analisis data secara komprehensif, tetapi juga memberikan landasan yang kuat bagi pembahasan pada bab selanjutnya, sehingga temuan penelitian dapat dihasilkan secara valid, tajam, dan sesuai dengan tujuan penelitian. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 250-256 Socius E-ISSN: 3025-6704 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa humor memiliki peran yang sangat signifikan dalam komunikasi masyarakat Jawa, baik dalam interaksi sehari-hari maupun dalam praktik budaya yang lebih formal seperti kesenian tradisional. Data utama penelitian berasal dari tuturan seorang pedagang rujak di Pasar Banaran, Gunungpati, yaitu Bapak Ari Ariyadi yang telah berjualan sejak tahun 1991. Dalam pengamatan lapangan, ia tampak secara konsisten menggunakan humor dalam aktivitas jual beli. Beliau bukan hanya menambahkan unsur guyonan untuk mencairkan suasana, tetapi menjadikan humor sebagai bagian dari strategi komunikasi yang melekat dan dipraktikkan secara alami selama berinteraksi dengan pembeli. Hal ini terlihat dari tuturannya yang mengatakan: “rileks wae, manut pembeline, yen pembeline guyon kene ya melu guyon.” Pernyataan ini menegaskan bahwa humor tidak digunakan secara sembarangan, melainkan berdasarkan sensitivitas terhadap situasi tutur dan karakter sosial pembeli. Dalam interaksi yang direkam dan dicatat, bentuk humor yang muncul bervariasi mulai dari plesetan, pergeseran makna, hingga hiperbola ringan. Percakapan seperti: Pembeli : “Sing manis opo sing pedes ya, Pak?” Pak Ariyadi : “Sing manis wae. Soale seng pedes iku omongane tangga!” Percakapan tersebut menunjukkan kemampuan penutur memanfaatkan asosiasi sosial yang familiar bagi masyarakat Jawa. Lelucon ini sebenarnya sederhana, namun kekuatannya terletak pada kedekatannya dengan realitas sosial dan pengalaman bersama. Pendengar memahami bahwa “omongane tangga” sering dianggap sebagai hal yang tajam atau menyakitkan, sehingga ketika dikontraskan dengan permintaan rujak manis–pedas, muncul efek komik yang natural. Temuan seperti ini menunjukkan kecerdasan linguistik masyarakat Jawa dalam mengaitkan konteks sosial dengan permainan bahasa, sehingga humor menjadi media penyampaian makna yang lebih kaya daripada percakapan literal. Analisis menunjukkan bahwa humor yang digunakan dalam konteks jual beli tidak hanya memperlancar dalam komunikasi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antara pedagang dan pembeli. Keakraban yang terbangun melalui guyonan membuat transaksi berlangsung tidak sekadar sebagai pertukaran ekonomi, melainkan sebagai interaksi sosial yang sarat akan nilai budaya. Hal ini sejalan dengan konsep kerukunan dan tepa selira dalam budaya Jawa, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis dalam kehidupan sehari-hari. Sa’adah et al. (2025) menegaskan bahwa nilai-nilai adat Jawa, seperti rukun, tepa selira, gotong royong, sabar, eling, dan adil, memiliki hubungan untuk memperkuat ikatan sosial. Hal ini menunjukan bahwa humor menjadi sarana untuk menegosiasikan potensi ketegangan dalam interaksi publik, sekaligus menciptakan ruang komunikasi yang lebih egaliter antara pedagang dan pembeli. Selain itu, penelitian juga mencatat bahwa humor dalam perdagangan tradisional berfungsi sebagai modal sosial yang meningkatkan kualitas pengalaman berbelanja. Banyak pembeli kembali ke lapak Pak Ariyadi bukan semata-mata karena cita rasa rujaknya, tetapi karena pengalaman interaktif yang menyenangkan. Interaksi semacam ini secara tidak langsung memperlihatkan peran humor dalam membangun kepercayaan sosial di pasar tradisional. Dengan demikian, humor memiliki kontribusi nyata dalam memperkuat jaringan sosial ekonomi masyarakat setempat. Sejalan dengan temuan Putri et al. (2024) menjelaskan bahwa hubungan antara penjual dan pembeli di pasar konvensional didasarkan pada konsep modal sosial yang mengenal satu sama lain, serta unsur kepercayaan, jaringan sosial, dan nilai norma antar pelaku ekonomi. Di luar konteks perdagangan, penelitian juga menganalisis humor dalam seni pertunjukan melalui video berjudul “Jula Juli Jawa Timuran – Cak Yudho Bakiak – Sekar Budaya” yang diunggah pada tahun 2020 pada kanal Youtube Budaya Kita. Dalam pertunjukan tersebut, humor menjadi unsur dominan yang membentuk struktur keseluruhan pementasan. Teknik utama yang digunakan adalah pola tanya-jawab “Kenek opo… mergo…” yang mengalir seperti rantai komedi. Setiap jawaban menjadi landasan bagi pertanyaan berikutnya, menciptakan ritme humor yang cepat, intens, dan penuh kejutan. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 250-256 Esa Futuh Handa, et., al / Bahasa Humor dalam Tradisi Bahasa yang digunakan dalam pertunjukan tersebut, mulai dari dialek khas, intonasi tegas, hingga diksi sehari-hari, memperlihatkan bahwa humor adalah bagian identitas budaya yang kuat. Penonton bukan hanya menikmati kelucuannya, tetapi juga merasakan kedekatan emosional melalui bahasa daerah yang diterapkan secara kreatif. Beberapa bentuk guyonan bernuansa saru ringan, terutama dalam sindiran tentang dinamika rumah tangga, memperlihatkan keberanian humor Jawa dalam menyentuh realitas sosial yang sensitif, namun tetap diterima publik karena disampaikan dengan gaya yang tidak mengancam. Kehadiran plesetan, hiperbola, dan sindiran sosial dalam pertunjukan tersebut menunjukkan bahwa humor berfungsi sebagai media refleksi sosial. Melalui kelakar, masyarakat dapat menyampaikan kritik terhadap kehidupan sehari-hari, relasi kekuasaan, atau ketimpangan sosial secara aman dan dapat diterima. Hal ini selaras dengan pandangan Hoogervorst (2024) bahwa humor tidak dapat dilepaskan dari struktur budaya yang melahirkannya, serta berfungsi sebagai ruang negosiasi sosial antara individu dan komunitas. Apabila dibandingkan dengan interaksi jual beli, humor dalam seni pertunjukan memiliki intensitas dan struktur yang berbeda, tetapi keduanya berbagi fungsi sosial yang sama: menjaga harmoni, mempererat hubungan, dan menjadi medium ekspresi nilai budaya. Dalam kedua konteks tersebut, humor hadir sebagai bentuk komunikasi yang tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun identitas. Suprayuni & Juwariyah (2019) menegaskan bahwa penggunaan humor dalam komunikasi menjadi sesuatu hal yang penting untuk menunjukan identitas. Dalam perdagangan, identitas yang muncul adalah identitas sosial sebagai individu yang ramah, adaptif, dan terbuka. Dalam pertunjukan, identitas yang ditunjukkan adalah identitas kolektif masyarakat Jawa yang kreatif, kritis, dan penuh daya hidup. Kajian etnolinguistik terhadap kedua data tersebut memperlihatkan bahwa humor tidak hanya menjadi permainan kata, tetapi juga representasi nilai budaya seperti kesantunan, harmoni, keakraban, dan cara masyarakat Jawa memandang kehidupan. Sementara itu, pendekatan sosiolinguistik menjelaskan bahwa pilihan bahasa dalam humor sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, relasi antarpenutur, dan tujuan interaksi. Perpaduan kedua perspektif ini menghasilkan pemahaman bahwa humor adalah fenomena linguistik sekaligus budaya yang dinamis dan adaptif. Kedua temuan ini juga sejalan dengan temuan Purbosari & Suhandano (2025) yang memperlihatkan bahwa humor dalam masyarakat Jawa merepresentasikan wujud humor yang berfungsi sebagai komunikasi harmoni sosial dan memperkuat rasa kebersamaan. Hal ini juga sejalan dengan pandangan Aji (2024) yang memaknai humor Jawa sebagai sarana memahami pemikiran seseorang untuk mendalami suatu masalah dengan gagasan yang disampaikan melalui humor seseorang, sehingga mampu membuka pemikiran bersama untuk menerima suatu keadaan tertentu. Namun, penelitian ini memperluas konteks dengan menempatkan humor tidak hanya dalam ranah pertunjukan atau karya sastra, tetapi juga dalam praktik ekonomi rakyat dan ekspresi digital masyarakat modern. Penelitian ini akhirnya menunjukkan bahwa humor di masyarakat Jawa memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar hiburan. Humor adalah mekanisme komunikasi yang menjaga keseimbangan sosial, wadah penyampaian kritik yang halus, strategi membangun keakraban, serta sarana memperkuat identitas budaya di tengah perubahan zaman. Baik dalam aktivitas ekonomi rakyat maupun dalam ranah seni pertunjukan, humor menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri untuk menghadapi realitas hidup: dengan tawa yang penuh makna, kebijaksanaan, dan kedalaman budaya. SIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa humor Jawa merupakan praktik kebahasaan yang berakar kuat pada pengalaman budaya masyarakatnya. Melalui pendekatan etnolinguistik, humor tidak hanya tampak sebagai permainan bahasa yang mengandalkan ambiguitas atau keluwesan fonologis, tetapi juga sebagai mekanisme sosial yang mencerminkan nilai-nilai hidup orang Jawa seperti harmoni, keselarasan, penghormatan terhadap hierarki, serta cara halus menyampaikan kritik. Berbagai bentuk humor, baik guyon, plesetan, parikan, maupun lawakan yang menunjukkan keterkaitan erat antara struktur linguistik, konteks situasional, dan pandangan hidup masyarakat. Temuan penelitian mengungkap bahwa humor berfungsi sebagai Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 250-256 Socius E-ISSN: 3025-6704 sarana menjaga keakraban, meredakan ketegangan, menegosiasi relasi sosial, serta menyampaikan kritik tanpa menciptakan konflik terbuka, terutama dalam budaya yang menjunjung prinsip tepa selira dan rukun. Transformasi humor Jawa ke ruang digital juga memperlihatkan bahwa identitas budaya tetap terpelihara meski terjadi adaptasi terhadap media baru. Secara keseluruhan, penelitian ini berkontribusi pada penguatan kajian bahasa dan budaya dengan menunjukkan bahwa humor adalah bagian dari warisan budaya tak benda yang memainkan peran penting dalam mempertahankan dinamika sosial masyarakat Jawa serta merefleksikan kearifan lokal yang terus hidup di tengah perubahan zaman. SARAN 1. Penelitian selanjutnya dapat memperluas cakupan informan dari berbagai wilayah Jawa untuk memperoleh gambaran humor yang lebih beragam. 2. Kajian multimodal diperlukan untuk menganalisis humor Jawa di media digital yang memadukan teks, suara, dan visual. 3. Pendidik dan pelaku budaya dapat memanfaatkan temuan ini untuk mengembangkan materi literasi budaya dan media pembelajaran berbasis humor Jawa. 4. Komunitas kreatif dan pengelola media digital perlu dilibatkan dalam upaya pelestarian humor Jawa agar tetap relevan bagi generasi muda. 5. Dokumentasi humor dalam konteks perdagangan tradisional dan pertunjukan rakyat perlu ditingkatkan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan budaya. REFERENSI Abdullah, W. (2013). Etnolinguistik: Teori, metode, dan aplikasinya. Universitas Sebelas Maret Surakarta: Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Dan Seni Rupa. Abdurrahman, A. (2008). Sosiolinguistik: Teori, peran, dan fungsinya terhadap kajian bahasa sastra. LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa Dan Sastra, 3(1). Aji, W. (2024). Humor untuk Mengatasi Ketegangan Teologis dan Potensi Konflik di Media Sosial. JURNAL SYNTAX IMPERATIF: Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan, 5(4), 725–743. Ayu Ningrum, S., & Nurhadi, D. (2023). EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Teknik Humor Bahasa pada Pertunjukan Konto GRUP KOMEDIAN 東京 03 (TOKYO ZERO SAN). 4(2), 2629–2648. http://jurnaledukasia.org Dewi, R., & Dora, C. (2022). PEMAHAMAN KOMUNIKASI: Mengartikan Pesan Dengan Tepat. Padang: Get Press Indonesia. Firmansyah, M. B. (2016). Representasi bahasa humor dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV. KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 2(2), 195–202. Hasnitah, A., Kuntarto, E., Pendidikan, M. H., Olahraga, K., Olahraga, F., & Kesehatan, D. (2023). Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa. In Sastra Indonesia dan Daerah (Vol. 13, Issue 2). Hoogervorst, T. (2024). Humour, irreverence, and plurilingualism in East Javanese parikan. In Oral Traditions in Insular Southeast Asia: Lokaswara Nusantara (pp. 28–51). Purbosari, R., & Suhandano, S. (2025). Bahasa Vulgar dalam Humor pada Dhagelan Jawa Timur Dialek Mataraman. Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, Dan Sastra, 11(3), 3582–3604. Putri, M. S. A., Azizah, P., & Amallia, D. (2024). Analisis Modal Sosial Pedagang Di Pasar Tradisional Di Desa Tanggul Wetan, Kec. Tanggul, Kab. Jember. Jurnal Ekonomi Dan Pembangunan Indonesia, 2(2), 272–277. Rahayu, I. K. (2019). Penyebab implikatur percakapan wacana humor berbahasa Jawa pada rubrik Thengil di majalah Ancas. Jubindo: Jurnal Ilmu Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 4(1), 26–37. Sa’adah, V., Handini, R. E., Langmui, S. A., Sari, D. P., Diani, N. P., Sunita, L. D., & Setyaputri, N. Y. (2025). Nilai-Nilai Adat Jawa Sebagai Landasan Untuk Menyelesaikan Konflik Antar Siswa di Sekolah. Prosiding Konseling Kearifan Nusantara (KKN), 4, 831–837. Sam’un, A. (2021). Belajar dan Budaya, Objek Nyata sebagai Media untuk Mempertahankan Bahasa dalam Kebudayaan. Jurnal Inovasi Penelitian, 2(6), 1787–1798. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 250-256 Esa Futuh Handa, et., al / Bahasa Humor dalam Tradisi Suprayuni, D., & Juwariyah, A. (2019). Humor dan satire kartun media massa sebagai komunikasi visual di era disrupsi. Avant Garde, 7(2), 187–202. Waruwu, M. (2024). Pendekatan penelitian kualitatif: Konsep, prosedur, kelebihan dan peran di bidang pendidikan. Afeksi: Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 5(2), 198–211.