Full text
1 SENI RUPA KONTEMPORER: REFLEKSI NILAI LOKAL - GLOBAL1 I Wayan Karja Latar Belakang Kehadiran seni rupa kontemporer dalam era globalisasi merupakan moment yang sangat bagus bagi seni rupa Bali dalam mengembangkan sayap ke dunia international. Karena perkembangan seni rupa di Bali dari jaman ke jaman selalu mencerminkan akarakar “kontemporer” terutama dalam instalasi, kolaborasi dan pertunjukan. Kolaborasi dan interdisiplin dalam berkesenian ciri seniman Bali dalam mengabungkan multi-talentanya yang disebut nyeraki. Dalam era sekarang pembinaan dan pengembangan seni tradisi, modern dan postmodern sudah saatnya dimantapkan dengan paradigma yang baru kontemporer. Meramu kesenian dalam wujud kontemporer sebagai upaya menciptakan konsep baru yang berakar konsep sebelumnya untuk mengadapi persaingan global. Artikel ini berupaya menjelaskan akar-akar seni rupa kontemporer Bali, dan korelasinya dengan persaingan dan kolaborasi global. Merubah dan menyesuaikan struktur seni rupa merupakan suatu keharusan dalam ikut meramaikan wacana seni rupa internasional. Keluwesan dan kelenturan konsep berkesenian penting dilakukan untuk melihat link-link yang ada di luar negeri. “Tradisionalisasi” dan “internasionalisasi” secara bersamaan dilakukan untuk menggali nilai-nilai lokal-global yang padu. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah pentingnya pengembangan kegiatankegiatan yang interdisipliner antar sesama cabang-cabang seni rupa dan cabang seni lainnya. Tujuannya untuk memperkaya penciptaan dan keilmuan dibidang seni rupa, dan akan menjadi ciri khas seni rupa Bali kontemporer. Pengkajian dibidang seni rupa penting digalakan sehingga wacana seni rupa kontemporer Bali bisa go-internasional. Perpaduan antara penciptaan dan pengkajian yang padu akan berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer yang kuat, berakar lokal, berwawasan global. Dengan demikian karya1 Makalah ini telah direvisi, judul aslinya Penciptaan Seni Rupa Dalam Menuju Dunia Kesejagatan, disampaikan dalam Forum Pengkajian Seni STSI Denpasar, 23 Nopember 2001.
2 karya inventif, inovatif akan semakin banyak lahir di masa sekarang dan yang akan datang. Keberuntungan menjadi seniman Bali sudah jelas ditentukan dengan banyak faktor, utamanya kepercayaan yang dianutnya, akar budaya, dan pariwisata. Walaupun penting diingat bahwa jangan terlena dengan komsumsi dan komoditi pariwisata saja, agar seni rupa tidak berhenti di level “barang souvenir.” Seniman Bali perlu membina kemandirian dan idealisme dalam berkarya seni rupa agar tetap eksis. Pengertian Seni Rupa Kontemporer Istilah ‘kontemporer’ berarti 1) sewaktu; semasa; pada waktu atau masa yang sama; 2) pada masa kini, dewasa ini, misalnya: pameran seni lukis kontemporer.5 Penggunaan kata ‘kontemporer’ dalam masyarakat termasuk kalangan masyarakat seni rupa kadang masih rancu. Ada yang menggunakan istilah ‘seni lukis masa kini’ atau tanpa suatu batas yang berarti antara ‘seni lukis modern’ dengan ‘seni lukis kontemporer’. Sumartono menjelaskan, ada dua pengertian “seni rupa kontemporer” yang berlaku di Indonesia: 1) pengertian yang beredar secara luas di masyarakat, ‘seni rupa kontemporer’ bisa berarti seni rupa kontemporer’ bisa berarti seni rupa modern dan seni rupa alternatif, seperti: instalasi, happenings, dan performance art, yang berkembang di masa sekarang. Instalasi adalah karya seni rupa yang diciptakan dengan menggabungkan berbagai media, dengan membentuk kesatuan baru, dan menawarkan makna baru. Karya instalasi tampil secara bebas, tidak menghiraukan pengkotakan cabang-cabang seni menjadi ‘seni lukis’, ‘seni patung’, ‘seni grafis’, dan lain-lain. Instalasi bisa saja mengandung kritik, sindiran, atau keprihatinan. 2) Membatasi seni rupa kontemporer hanya saja pada seni rupa alternatif, seperti instalasi, happenings, performance art, dan karya-karya lain yang menggunakan kecendrungan bertentangan dengan seni rupa modern. Menurut pengertian ini, seni rupa kontemporer adalah penolakan terhadap seni rupa modern. Perkembangan seni rupa kontemporer mulai sejak tahun 1970-an bersamaan dengan terjadinya krisis seni rupa modern.6 Dalam artikel ini, istilah kontemporer cenderung mengarah untuk seni rupa kontemporer dalam pengertian yang kedua ‘anti-modernisme’. Seni instalasi, happenings, performance art, dan karya-karya lain yang mengandung sindiran, kritik, atau keprihatinan sebagai perkembangan seni rupa paling mutakhir. Seni rupa ini dekat kepada 5 Poerwadarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Diolah Kembali oleh: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, 2002, hal.521. 6 Sumatono, “Peran Kekuasaan Dalam Seni Rupa Kontemporer Yogyakarta,” Outlet: Yogya Dalam Peta Seni Rupa Kontemporer Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, April 2000
3 masyarakat. Tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat menyentuh berbagai aspek kehidupan dengan media dan teknik terbatas. Kontemporer dalam hal ini identik dengan masa kini, atau istilah kerennya, postmodern Seni rupa post-modern awalnya berkembang di negara maju (post-industri) yang merupakan refleksi dari post-modernitas masyarakatnya. Globalisasi menggelinding sebagai keperluan perluasan pasar bagi negara-negara maju. Peristiwa yang terjadi dinegara maju dengan cepat terjadi dinegara berkembang. Budaya konsumtif mendunia, akibat keberhasilan negara maju dalam memperluas pemasaran produknya. Gaya hidup menjadi hal yang sangat penting. Kekuasaan hegemoni Barat mulai luluh, blok Barat dan Timur mencair, dunia seolah memetakan dirinya dalam berbagai bentuk regional berdasarkan rumpun-rumpun kebudayaannya. Dalam seni rupa kontemporer setiap negara memiliki cara pandangnya sendirisendiri dalam menghadapi globalisasi berlandaskan etnisitas masing-masing. Karena seni rupa kontemporer bukan gerakan atau aliran, bukan mengejar identitas, tetapi merupakan refleksi masa transisi. Selain membawa titik pencerahan bagi negara-negara berkembang, juga membuka peluang untuk pengembangan emosi, intuisi, fantasi, kontemplasi, mistikisme, dan bahkan majik dalam bahasa rupa kontemporer. Nilai-Nilai Lokal Dalam Kontemporer Sebelum pendidikan formal seni rupa berkembang seperti sekarang, para calon perupa muda belajar seni rupa dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Pengenalan kreativitas seni rupa di Bali mulai dari usia dini. Di daerah pusat-pusat pengembangan seni dan kerajinan, aktivitas berkesenian tumbuh dengan baik, dan membantu generasi berikutnya. Kehidupan berkesenian kolektif menjadi aktivitas biasa bagi orang Bali. Ketika perupa berkarya di halaman rumah (studio terbuka) anak-anak dapat melihat langsung proses pembuatan karya seni. Interaksi ini secara langsung dapat merangsang anak-anak belajar berkarya seni. Kadangkala para perupa berkarya sambil bernyanyi atau mendengarkan musik/gamelan untuk meningkatkan sumber daya kreasinya. Gambaran kepekaan perupa terhadap lingkungannya ini merupakan cika bakal ‘seni multi-media’ bagi seniman Bali. Fenomena lain terlihat dalam proses mengerjaan lukisan di pedesaan sering dilakukan berkejasama antara pelukis senior yang memberikan rancangan (sketsa), dengan pelukis pemula atau karir menengah memberikan warna; dan terakhir perupa senior melakukan finishing hingga menghasilkan karya seni rupa. Aktivitas seperti ini
4 sangat dirindukan para seniman modern barat yang cenderung kerja individu dan selalu mengabaikan kerjasama dan kolaborasi. Baru setelah memasuki era postmodern dan kontemporer seniman Barat melihat bahwa betapa pentingnya kolaborasi multi kultural, multimedia hingga memanfaatkan audience sebagai bagian ciptaannya. Sedangkan di Bali dalam kerja seni gotong royong “ngayah” dalam upacara keagamaan dan aktivitas masyarakat lainnya telah muncul bibit-bibit seni rupa kontemporer. Mengenai cara kerja kolektif seniman Bali, Miguel Covarrubias seniman asal Mexico mengilustrasikan dalam tulisannya: ‘The artist ini Bali essentially a craftsman and at same time an amteur, cassual and anonymous, who uses his talent knowing that no one will care to record his name for posterity”.1 Pernyataan yang ditulis Covarubias tersebut melukiskan betapa sikap kolektif itu penting sehingga peniruan nama... Pembuatan perlengkapan upacara ngaben, upacara piodalan dengan berbagai bentuk instalasi dan dekorasi digarap bersama-sama sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing. Dalam masyarakat Bali, seni rupa kolektif dalam posisi ‘stabilatas’ tinggi, lebih menonjol daripada kemampuan perorangan, “artistic property can not exit in the communal Balinese culture; if an artist invents or copies something that is an interisting novelty, soon all the others are reproducingthe new find.”2 Stabilitas seni rupa Bali terusik ketika kehidupan berkesenian dimasuki cara-cara berkesenian ala Barat (Eropa–Amerika Serikat). Pengaruh dari kepariwisataan dan sistem pendidikan yang cenderung menggunakan referensi Barat. Kolektivisme diambil alih cara-cara individual. Mencipta di ruang terbuka dialihkan ke dalam studio tertutup. Takut ditiru, hingga muncul gaya perorangan. Hak cipta mulai dibicarakan. Apa yang terjadi di Barat merambah dengan cepat ke tata cara berkesenian Bali. Perkembangan seni rupa berkiblat ke Barat. Seni rupa Barat seolah menjadi barometer seni rupa dunia, pelecehan terhadap seni etnis non-Barat terjadi, dominasi hegemoni Barat kadang berlebihan. Karya seni rupa Bali dipamerkan dimuseum natural history, etnografi atau antropologi, bukan museum seni rupa, hanya dengan pertimbangan seni etnis di luar mainstream. Dalam kehidupan seni rupa timbul ‘instabilitas’, sebagai peluang dan tantangan dalam konservasi, pelestarian, pengembangan, revitalisasi folk art atau seni rakyat. Sebaliknya fenomena stabilitas dan instabilitas dalam gelombang kreasi adalah modal besar bagi seni rupa Bali dalam mengembangkan seni rupa kontemporer lokal-global. 1 Covarrubias, Miguel, Island of Bali, New York: Alfred A Knopf, 1965. 2 Ibid
5 Dunia Informatika Dunia informatika dominasi teknologi komputer bergerak dengan sangat cepat. Perkembngan seni rupa kontemporer sebagai seni rupa kesejagatan dengan instant memasuki seluruh pelosok dunia, tak terkecuali Bali. Informasi seni rupa di Bali bersumber dari beberapa jalur, seperti jalur – jalur pendidikan formal, pergaulan antar bangsa, pertukaran dan residensi perupa di tingkat nasional dan interasional. Teknoinformasi komputer, dunia seolah-olah berada di depan mata kita. Dengan menggunakan internet kita bisa akses informasi mengenai seni rupa dari berbagai belahan dunia lain. Akibat pengaruh teknologi ini, pembendaharaan seni rupa Bali semakin beranekaragam. Suatu fenomena yang sangat mengembirakan. Terbukanya kesempatan bagi perupa Bali untuk berkiprah dalam seni rupa kesejagatan dengan bekal keunikan nilai-nilai lokal. Wacana seni rupa seirama dengan perkembangan seni rupa dunia. Walaupun dalam skala yang terbatas pulau, populasi dan komunitas yang kecil, Bali memiliki kekuatan nilai-nilai etnisitas yang khas dan unik. Kiprah seni rupa Bali menunjukan arah seni rupa kontemporer sejagat. Kekayaan dan keragaman nilai lokal semakin bertambah bentuk dan isinya. Wacana seni rupa tidak hanya terbatas dengan seni rupa tradisional, namun juga seni rupa modern dan kontemporer. Kebesaran seni rupa etnis tidak hanya menjadi kebanggaan untuk ‘direproduksi’ tetapi menjadi inspirasi dan revitalisasi pengembangan seni rupa kontemporer. Derasnya arus informasi seni rupa kontemporer berdampak pada desakralisasi yang terjadi di seantero jagat, tak terkecuali Bali. Tarik menarik antar dua kutub, sakralprovan terjadi dalam realitas seni rupa dewasa ini. Fenomena ini memposisikan seni rupa Bali dalam posisi ‘metasibiltas’ harus menunjukan sikap ‘independensi’ tidak terlalu stabiltas dan tidak pula instabiltas tetapi bergerak dinamis terintegrasi, continuities and change, namun tidak keluar dari poros akar budaya.3 Kolaborasi Kolaborasi sebagai salah satu esensi berkesenian di Bali sangat penting dibangkitkan ‘rohnya’ dalam menginstalasi berbagai bentuk kesenian dalam satu wadah multimedia seni rupa kontemporer. Nilai ‘warna lokal’ dengan olah rupa restrukturisasi, rekombinasi, dalam wacana seni rupa perlu digalakkan. Ngayah bekerjasama 3 Lihat, I Wayan Karja, Idealitas dan Realitas:Seni Rupa Bali Dalam Masa Transisi, Pidato Ilmiah Pada Dies Natalis XXXV Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar, Senin, 28 Januari 2002.
6 mewujudkan suatu tujuan dalam upacara keagamaan menjadi suatu inspirasi bentuk kolaborasi berbagai ketrampilan menghasilkan karya kolosal. Tradisi bekerja bersamasama ini juga menjadi ciri seni rupa kontemporer yang pluralisme, mendekatkan seni dengan masyarakat, sehingga berkembang public art. Seni rupa kontemporer lebih banyak memperhatikan berbagai bentuk keragaman etinisitas. Bukan seperti seni rupa modern yang lebih bersifat individu, untuk para elit, selalu mengagungkan seni rupa Barat dan mengabaikan seni rupa non-Barat. Dalam seni rupa kontemporer pluralisme diakui tanpa banyak menghiraukan limit termasuk media, disiplin ilmu, dan batas-batas kesenian antar bangsa. Seni rupa kontemporer lebih tajam mengungkap masalah-masalah sosial, ekonomi, politik, seksualitas/genre, keprihatinan, holistik dan merakyat. Kantong dan basis seni rupa kontemporer di Bali cukup beragam, terutama aktivitas kehidupan sosio-masyarakat sehari-hari. Dalam seni rupa kontemporer, meskipun banyak mengungkapkan kepincangan sosial dan politik atau juga permasalahan lingkungan hidup, nilai-nilai keagmaan masih tetap menyertainya.4 Namun perlu dicermati, bahwa ada batasan antara ‘seni rupa kontemporer’ dengan ‘aktivitas seni rupa penunjang kegiatan keagamaan’terutama dalam seni kontemporer jelas titik berat sasarannya pada seni, sedangkan aktivitas keagamaan teentu pada tujuan simbolis dan kepentingan agama. Disni perlu dilihat dengan tegas, pemisahan antara sarana upacara sebagai inspirasi karya seni rupa kontemporer, dengan karya seni rupa sebagai sarana/prasarana upacara keagamaan. Karena Bali telah lama mengenal bentuk-bentuk instalasi sebagai bagian aktivitas adat dan agama, namun baru mengenal seni instalasi yang menggunakan aktivitas tersebut sebabagai inspirasi. Makna Dalam Seni Rupa Kontemporer Pada masa-masa yang lalu makna dalam karya seni rupa selalu sebagai sesuatu yang spesifik, pasti. Perupa merancang narasi, suasana, perasaan dan sebagainya dalam bahasa rupa pribadi. Penggunaan simbul, gaya, elemen seni rupa seperti: garis, bidang, warna, ruang, disusun untuk menyatakan suatu makna. Walaupun beragam makna telah dijelajahi namun perlu diingat bahwa otoritas sejarahwan seni rupa dan kritikus seni rupa penting pengaruhnya dalam menafsirkan makna dalam karya seni. Kadangkala dalam menafsirkan karya cenderung menggunakan kronologis seni yang berdasarkan ‘tradisi; 4 Lihat, ungkapan Setiawan Sabana dalam “Spiritulitas Dalam Seni Rupa Kontemporer” Seplemen Pikiran Rakyat Khusus Budaya, Kamis, 23 Januari 2003 (http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0103/23/khazanah/lainnya05.htm)
13 Nilai – Nilai Lokal – Global Walaupun masih sangat sulit diamati secara spesifik bahwa pada intinya seni rupa kontemporer dapat mengembalikan nilai – nilai lokal seni rupa di Bali. Namun ada beberapa point pokok yang dapat dijadikan bahan pertimbangan mengenai akar – akar budaya lokal dalam aktivitas seni rupa kontemporer global. Aktivitas upacara ngaben, piodalan, instalasi petani dalam menghalau burung dengan ‘lelakut’ (penakut) semuanya bersifat sementara. Bagaimanapun indahnya instalasi pada: bade, petulangan lembu, gajah, ikan dan bentuk petualanganlainnya, bila saatnya tiba semua dibersihkan dan dibakar. Lenyap! Hanya tinggal kenangan, bayangan dalam setiap individu. Karyanya hilang dalam wujud fisik tetapi nilainya tetap dikenang. Bentuk seni rupa kontemporer bukan hanya pada jenis lukisan atau patung, tetapi jauh lebih banyak dan kompleks, lintas batas seni dan disiplin ilmu, semua bercampur dalam wadah “multiple”. Seperti dalam pertunjukan wayang kulit Bali (musik, suara filsafat, rupa dan lain-lain). Untuk menilai seni rupa kontemporer diperlukan pengertian yang sungguhsungguh atas suasana kesementaraan ‘temporary’ yang meliputinya. Kehadiran yang menyiratkan ketakhadiran atau bayangan yang khas itu tercermin pada karya yang ditawarkan memakai suatu media temporer. Mengangkat tema-tema historis-filosofis dari budaya-budaya Barat dan Timur, lalu memadukannya secara visual. Seni rupa kontemporer juga terkait dengan dengan pemahaman kosmik secara holistik. Berikut sekilas refleksi komponen lokal – global dari seni rupa tradisi, modern, dan kontemporer Seni Rupa Tradisional (Bali) Seni Rupa Modern Seni Rupa Kontemporer Kolektif singular plural Kelompok subjektif/ekspresi pribadi inter-subjektif Defendensi indefendensi inter-defedensi hirarki, tata jenjang unity diversity/kebinekaan mitologi, hiroikisme essensialis kontekstual kepercayaan (bhakti) existensialisme post-structuralisme Repetisi progresif adaptatif Mentradisi diakronik sinkronik
14 Mistis humanisme kesadaran ekologi Anonim kompetisi kolaborasi me-“taksu” genius rekombinasi, refilterisasi lokal universalitas multiple Kebersamaan avant garde terbukalebar/luas Aristokrasi elitisme populisme dogmatis, batas terpola batas-batas jelas mengkaburkan batas-batas Ceritra bentuk isi ajaran moral/etika transenden memutar kerajaan, kedaerahan hegemoni barat multikultural, internasional narasi, simbol, ikon karya teks kontur, detail, ornamentika bentuk, ruang, bidang, metapora,tanda berjejer, dekoratif terpusat, fokus tentatif equilibrium non-fokus Turunan klasik relevansi,reproduksi Eksotika Sexis feminis feodal, prakolonial kolonial pos-kolonial Patriahat patriahat partnership pengabdian, ngayah problem proyek kesamaan kemiripan kebedaan Fantasi Alam budaya seni sakral, high culture High/low culture tidak ada high/low culture ekspresi kelompok ekspresi pribadi anyaman kontruksi budaya media alamiah karakter, esensi bahan multimedia identitas komunitas identitas pribadi identitas hibrida ‘brumbun’ Akar-akarnya: Kebudayaan Animisme, Hindu, Budha, Jawa, India dan china Akar-akarnya: Kebudayaan Barat, Kristen, Renaisance, Sedikit Asia, Pasifik, dan Afrika Akar-akarnya: kebudayaan Asia, “Negara Ketiga,” Dada, Pop, Feminimisme, konstruktif Penutup Dari uraian diatas dapat dilihat dan dikaji akar-akar perkembangan seni rupa kontemporer. Dalam perkembangan seni rupa modern, individulisme dijunjung tinggi, hegemony Barat dominan, segalanya bertitik tolak dari perkembangan seni rupa Barat. Barat sebagai barometer kualitas seni rupa dunia, namun seni rupa kontemporer memanfaatkan keberadaan etnisitas, keragaman dihargai sebagai ciri pluralisme, Kerja sama, gotong royang, ngayah dan kolaborasi dalam berkesenian kembali muncul sebagai
15 pernyataan dunia seni rupa kontemporer. Sikap dan hakekat berkesenian Bali yang asli dengan nilai – nilai lokal kembali mendapat peluang untuk berkembang dalam dunia yang lebih luas, bebas dan segar. Dengan kekuatan seni dan budaya etnis, Bali memiliki modal dasar yang sangat besar dalam melaju menuju seni rupa kontemporer. Seni rupa kontemporer tidak akan meninggalkan seni tradisional, karena akar-akar seni kontemporer bersumber dari seni tradisional. Transformasi dan revitalisasi nilai – nilai lokal atau seni tradisional dalam seni rupa intermedia merupakan bagian pengembangan seni rupa kontemporer di Bali. Keragaman menjadi sumber kekayaan, kegiatan adat lokal menjadi sumber ilham penciptaan seni rupa kontemporer global. Seni rupa kontemporer hadir dalam usaha ikut berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam pasar bebas dan bermain lebih cantik di arena internasional. Universalisasi bukan karena pemaksaan kehendak, atau agar kelihatan ‘Barat’. Bukan! Tetapi sebagai suatu kebutuhan jaman yang berubah mengikuti tingkat kejayaan informasi teknokomputer yang tak dapat dibendung. Selain bentuk konservasi seni tradisional, juga perlu dibangun strategi pengembangan budaya dengan sasaran dan cakrawala yang lebih luas. Keragaman dan kekayaan nilai budaya lokal Bali adalah lahan ‘empuk’ bagi dunia penciptaan seni rupa kontemporer global. Daftar Pustaka Adian, Donny Gahral, Arus Pemikiran Kontemporer, Yogyakarta: Jalasutra Offset, 2001. Arnason, H.H. History of Modern Art: Painting, Sculpture, Architecture, Photography. New Jersey New York: Third Edition. Prentice Hall, Englewood Cliffs; Harry N. Abarams, Inc., 1986. Belting, Hans, The End of History of Art? Chiccago and London: University of Chicago Press, 1987. Conrad, Peter, Modern Times, Modern Places, New York: Alfred A. Knopf, 1999. Couteau, Jean, “Wacana Seni Rupa Bali Modern,” Paradigma dan Pasar: Aspek-aspek Seni Visual Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2003. Covvarubias, Miquel, Island of Bali, New York: Alfred A. Knopf, 1965. Danto, Arthur C., After The End of Art, Princeton University Press, 1997. Eisemen, Fred B., Jr., Bali: Sekala and Niskala, Berkeley and Singapore: Periplus Editions, Volume I: ‘Essay on Religion Ritual and Art’; Volume II: ‘Essays on Society, Tradition and Craft’, 1980.
16 Fischer, Joseph and Cooper Thomas, The Folk Art of Bali: The Narative Tradition, Kuala Lumpur: Oxpord University Press, 1998. Gambar, I Made, Buku Pengider-ideran (Bali dan Latin) dengan Gambar-gambar Dewata dan Jimat-jimatnya, Denpasar: Cempaka 2, tt. Hauser-Schaublin, Briggita; Nabholz-Kartaschoff, Marie Louise; and Ramseyer, Urs, Textiles in Bali, Singapore: Periplus Editions, 1991. Hofmann, Hans, Search For The Real, (Sara T. Weeks and Bartlett H. Hayes, Jr. Editor), Massachuseets: The M.I.T. Press, 1994. Holt, Claire, Indonesian Art: Continuities and Change, Ithaca: Cornell University Press, 1967. Jodog, I Made, The Role of Tradition in Contemporary Art Practices (unpublished paper) Art Department College of Visual Art, University of South Florida, 2002. Karja, I Wayan, Mensinergikan Peran Pendidik dan Seniman Dalam Memasuki Eara Kompetisi Global, Paper Semniar, Ubud: Museum Rudana, 2000. __________, Idealitas dan Realitas: Seni Rupa Bali dalam Masa Transisi. Denpasar: STSI Denpasar. 2002. Larsen, Mernet, Graduate Forum, (Unpublished paper), Tampa: University of South Florida, 1998. Mamannoor, Wacana Kritik Seni Rupa di Indonesia, Bandung: Nuansa, 2002. Modern Art-Ancient Icon, Melbourne: The Aboriginal Gallery of Dreamings, 1992. Poerwadarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Diolah Kembali oleh: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, 2002. “Spritualitas Dalam Seni Rupa Kontemporer”, Splemen Pikiran Rakyat Khusus Budaya, Kamis, 23 Januari 2003. Sumartono, “Peran Kekuasaan Dalam Seni Rupa Kontemporer Yogyakarta,” Outlet: Yogya Dalam Peta Seni Rupa Kontemporer Indonesia, Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, April 2000. Supangkat, Jim, “Seni Rupa Indonesia Dalam Peta Seni Rupa Dunia”, Seni, II/02, April 1992. Stiles, Kristine and Selz, Peter, Theories and Dokuments of Contemporary Art: A Sourcebook of Artist’ Writings, Berkeley: University California Press, 1996. Wright, David, Contemporary Thoughts, (Unpublished paper) Tampa: University of South Florida, 1998.
17 I WAYAN KARJA Lahir di Ubud, Gianyar, 1965. Sejak masa kanak-kanak aktif melukis “young artist” di Penestanan. Menyelesaikan pendidikan seni rupa di SMSR N Denpasar (1985); Kemudian Universitas Udayana (1990); dan University of South Florida, Amerika Serikat (1999) dengan thesis berjudul: “Pengider Bhuwana: The Color of Life.” Karja seorang praktisi seni rupa, telah melakukan lebih dari 23 pameran tunggal, dan lebih dari 70 pameran bersama di Indonesia, Hong Kong, Singapura, Jepang, Italia, Switzerland, Jerman, Australia, Brazil dan Amerika Serikat. Karja aktif meneliti dan menulis artikel tentang seni rupa, memberikan workshop, simposium seni rupa di Amerika Serikat, Australia, dan Jerman. Kiprahnya dalam kreativitas seni internasional, ia menerima penghargaan Nakasone Yasuhiro Award dari Jepang. Sejak 2003 hingga sekarang Karja sebagai anggota tim reviewer/ monev/ juri PIMNAS program DP2M DIKTI DIKNAS. Selain sebagai dosen mata kuliah Seni Lukis dan Sejarah Seni Rupa Barat, Karja juga menjabat Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Denpasar.