scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Iman Membimbing, Musyawarah Menyatukan

Cilsyla Ayu Oktaviani, Yulia Y, Indana Zulfa, Clara Siti Sadiah, Refa Putri Fauzia, Yusuf firmansyah, Fahd Ilham, Ilham irfandi, Daud Hasan, Fitrahudin, Dian Herdiana, Rahmat Solihin

Full text

2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 81-88 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17926267 Iman Membimbing, Musyawarah Menyatukan Cilsyla Ayu Oktaviani 1, Yulia2, Indana Zulfa3, Clara Siti Sadiah4, Refa Putri fauzia5, Yusuf firmansyah6, Fahd ilham7, Ilham irfandi8, Daud Hasan9, Fitrahudin10, Dian Herdiana11, Rahmat Solihin12 1-12Program Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung Email: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], fahd[email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] , [email protected] Abstract The application of Pancasila values, particularly the First Principle of “Belief in One God” and the Fourth Principle of “Democracy guided by the wisdom of deliberation among representatives,” is important to be implemented from an early age so that students have behavior based on faith and are able to deliberate wisely. This actualization activity was carried out by the Pancasila Education Course Group at UIN Sunan Gunung Djati Bandung at MTs Ar-Rosyidiah, Pasir Batu, on October 30, 2005. The purpose of this activity was to provide an understanding of the importance of faith, manners as part of divine character, and the ethics of deliberation. The activity was carried out using the Classroom Action Research (CAR) method through the stages of planning, action, observation, and reflection. The results of the activity showed an increase in students' ability to express their opinions politely, respect their friends' opinions, and understand that deliberation must be based on faith. Games, light discussions, and rewards helped increase student participation and awareness of manners. This activity proves that connecting the values of faith and deliberation can strengthen positive habits in learning and interacting. Keywords: God, deliberation, Pancasila, manners, classroom action Abstrak Penerapan nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Sila Keempat “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”, penting dilakukan sejak usia dini agar peserta didik memiliki perilaku yang berlandaskan iman dan mampu bermusyawarah dengan bijaksana. Kegiatan aktualisasi ini dilakukan oleh Kelompok Mata Kuliah Pendidikan Pancasila UIN Sunan Gunung Djati Bandung di MTs Ar-Rosyidiah, Pasir Batu, pada 30 Oktober 005. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang pentingnya iman, sopan santun sebagai bagian dari akhlak ketuhanan, serta etika bermusyawarah. Kegiatan dilaksanakan dengan metode tindakan kelas (Classroom Action Research/CAR) melalui tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menyampaikan pendapat dengan sopan, menghargai pendapat teman, dan memahami bahwa musyawarah harus dilakukan dengan dasar keimanan. Metode permainan, diskusi ringan, dan pemberian reward membantu meningkatkan partisipasi dan kesadaran sopan santun siswa. Kegiatan ini membuktikan bahwa menghubungkan nilai iman dan musyawarah dapat memperkuat kebiasaan positif dalam belajar dan berinteraksi.. Kata Kunci: Ketuhanan, musyawarah, Pancasila, sopan santun, tindakan kelas Article Info Received date: 10 November 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 10 Desember 2025 PENDAHULUAN Iman dan musyawarah adalah dua konsep yang sangat penting dalam Islam. Iman merupakan dasar dari segala kegiatan manusia, sedangkan musyawarah merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan secara bersama-sama. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, iman dan musyawarah dapat menjadi faktor yang sangat penting dalam mencapai kesatuan dan kesepakatan. Dalam Islam, iman dianggap sebagai pondasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Iman dapat mempengaruhi perilaku dan tindakan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sementara itu, musyawarah merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan secara bersama-sama, yang dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan kesepakatan dalam masyarakat. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 Namun, dalam praktiknya, iman dan musyawarah seringkali tidak berjalan secara harmonis. Iman yang kuat dapat menjadi faktor yang dapat mempengaruhi keputusan dalam musyawarah, namun dapat juga menjadi faktor yang dapat menyebabkan perbedaan pendapat dan konflik. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam tentang bagaimana iman dapat mempengaruhi musyawarah dan bagaimana musyawarah dapat menjadi sarana untuk mencapai kesepakatan dan kesatuan dalam masyarakat. Dalam jurnal ini, akan dibahas tentang bagaimana iman dapat mempengaruhi musyawarah dan bagaimana musyawarah dapat menjadi sarana untuk mencapai kesepakatan dan kesatuan dalam masyarakat. Jurnal ini akan membahas tentang konsep iman dan musyawarah dalam Islam, serta bagaimana kedua konsep ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Secara definisi, iman dalam Islam merujuk pada keyakinan yang kuat dan tulus terhadap Tuhan Yang Maha Esa, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab suci, hari kiamat, malaikat, dan takdir. Iman ini tidak hanya menjadi keyakinan pribadi tetapi juga tercermin dalam perilaku, termasuk dalam cara berinteraksi dan berdiskusi dalam musyawarah. Misalnya, iman kepada rasulullah SAW mendorong umat untuk mencontoh akhlak beliau yang penuh kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan terhadap pendapat orang lain. Di sisi lain, musyawarah dalam Islam adalah prinsip fundamental yang didasarkan pada Al-Qur'an dan Sunnah, yang menekankan dialog, penghormatan, dan pengambilan keputusan kolektif untuk kemaslahatan bersama. Ayat Al-Qur'an surah Ali Imran (3): 159 menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk bermusyawarah dengan para sahabat sebelum mengambil keputusan. Hal ini menunjukkan bahwa musyawarah bukan sekadar proses formal tetapi ajaran yang wajib dijalankan dengan rasa taat kepada Allah. Menurut penelitian Wiyanto dan Abu Bakar (2024), nilai-nilai ilahiyah dalam musyawarah seperti kejujuran, keadilan, dan keterbukaan—yang berasal dari iman—dapat menjadi solusi efektif dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk konflik sosial dan ketimpangan kekuasaan. Implementasi musyawarah yang didasari iman juga mampu meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan menghasilkan keputusan yang lebih adil serta dapat diterima oleh semua pihak. Tantangan dalam penerapan harmonis antara iman dan musyawarah antara lain dominasi kelompok tertentu, kurangnya kesadaran partisipasi, dan pengaruh budaya individualistik yang semakin kuat. Untuk mengatasinya, diperlukan upaya penguatan pendidikan nilai-nilai iman dan musyawarah di berbagai lini kehidupan, sehingga kedua konsep ini tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi. Mengingat relevansi yang tinggi kedua konsep ini dalam kehidupan bermasyarakat modern, jurnal ini bertujuan untuk memberikan wawasan tentang bagaimana iman dapat benar-benar menjadi pedoman dalam musyawarah dan bagaimana musyawarah dapat menjadi sarana untuk mempererat persatuan. Melalui analisis referensi agama dan penelitian empiris, diharapkan jurnal ini dapat berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang penerapan iman dan musyawarah dalam mengatasi permasalahan masyarakat. METODE Tahapan Metode yang digunakan dalam makalah ini menggunakan Pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR), yaitu peneliti tidak hanya bertindak sebagai pengamat tetapi terlibat langsung , karena kami perlu memahami secara langsung masalah yang muncul selama proses pembelajaran. Sebagai pengganti guru, PTK membantu kami mengevaluasi efektifitas metode yang kami gunakan, pendekatan PTK dilakukan melalui rangkaian siklus yang meliputi penyampaian materi, fun game dan ice breaking, pemberian hadiah untuk memotivasi siswa, kegiatan ini disesuaikan dengan kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam penerapan sila pertama dan keempat. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 Tindakan dilakukan dengan melalui sesi penyampaian materi menggunakan metode yang interaktif, melalui penyampaian dengan menggunakan PPT agar siswa lebih mudah memahami isi pembelajaran. Setelah pemaparan materi disampaikan, dilanjutkan dengan fun game sebagai bentuk ice breaking untuk menciptakan suasana kelas yang lebih aktif, menyenangkan dan menghibur. Selama kegiatan berlangsung, kami melakukan observasi terhadap partisipasi siswa, antusiasme dalam mengikuti fun game, serta perubahan sikap setelah pemberian hadiah. Observasi ini bertujuan untuk melihat apakah kegiatan ini efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkuat nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan belajar Hasil refleksi menunjukkan bahwa kombinasi antara penyampaian materi, fun game, dan pemberian hadiah mampu menciptakan suasana belajar yang lebih hidup. Refleksi ini menyempurnakan tindakan pada siklus berikutnya, terutama dalam menyesuaikan jenis fun game/ ice breaking dan bentuk reward agar semakin relevan dengan kebutuhan kelas. Kami melakukan aktualisasi nilai Pancasila sila pertamadan keempat ini di satu tempat yang sama, yaitu bertempat di MTs Ar-rosyidiyah Kec cibiru Kota Bandung Ilham dan Daud, bertugas membuka acara, membimbing dan menertib kan anak-anak ketika pemaparan materi dikelas 9c. Yulia, bertugas memaparkan materi mengenai iman membimbing, Clara bertugas memaparkan materi musyawarah menyatukan. Cilsyla bertugas mengadakan ice breaking yang menarik untuk anak-anak. Fadh bertugas membuka acara dikelas 9d Refa bertugas memaparkan materi iman membimbing, Yusuf bertugas memaparkan materi musyawarah menyatukan, indana menguji pemahaman anak-anakdari materi iman membimbing musyawarah menyatukan . Fitra bertugas mendokumentasikan kegiatan belajar mengajar. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan serta pembahasan dalam makalah ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran berfokus pada pengenalan dasar-dasar ajaran Islam kepada peserta didik. Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang tauhid sebagai inti keyakinan seorang Muslim, di mana peserta diajak menyadari bahwa seluruh aspek kehidupan harus berpijak pada keyakinan akan keesaan Allah. Selain itu, kegiatan juga membahas makna syahadat tidak hanya sebagai ucapan lisan, tetapi sebagai bentuk komitmen yang harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan pengenalan konsep musyawarah, yang mengarahkan peserta untuk membiasakan diri berdiskusi, menghargai pendapat orang lain, serta mencari keputusan terbaik secara bersama. Tidak kalah penting, materi adab kepada sesama juga disampaikan untuk menanamkan nilai sopan santun, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta pembiasaan akhlak mulia dalam pergaulan. Seluruh materi tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam kegiatan belajar mengajar melalui metode penjelasan, diskusi, dan praktik langsung sehingga peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan pemahaman menyeluruh mengenai ajaran dasar Islam sekaligus membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai syariat Gambaran Umum Pancasila adalah dasar serta landasan ideologi Bangsa Indonesia. Hal itu berarti setiap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila wajib dijadikan landasan hidup berbanga dan bernegara dalam landasan kehidupan sehari-hari. Pancasila merupakan buah pikiran, musyawarah, dan mufakat yang dilakukan oleh tokoh-tokoh penting di masa perjuangan kemerdekaan juga Bangsa Indonesia pada saat ini. Nama Pancasila berasal dari Bahasa Sanskerta yang terdiri dari dua kata, yaitu ‘panca’ yang berarti lima dan ‘sila’ yang berarti prinsip atau asas. Melalui pengertian tersebut, berarti ada lima pedoman yang perlu diterapkan rakyat Indonesia dalam hidup berbangsa dan bernegara (Susanto, 2016). Adapun lima sila Pancasila tersebut ialah Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, Keadilan sosoal bagi seluruh rakyat Indonesia (Sopyanita et al., 2022) Pada kesempatan kali ini, kami menggunakan sila pertama sebagai penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Adapun kata ‘maha’ berasal dari kata Sanskerta atau Pali. Makna kata ‘maha’ dalam sila pertama Pancasila yaitu mulia. Atau besar. Kata ‘esa’ memiliki makna keberadaan yang mutlak. Sila pertama memiliki makna bahwa bangsa Indonesia mempunyai kebebasan untuk menganut agama dan menjalankan ibadah yang sesuai dengan ajaran agamanya, mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi dan seimbang antar sesama manusia, antar bangsa, maupun dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya (Agustriani et al., 2022; Widiatama, Mahmud. & Suparwi. 2020). Sementara itu, sila ke-4, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,” menegaskan bahwa kekuasaan negara berasal dari rakyat dan dijalankan melalui proses yang bijaksana. Dalam sila ini, setiap keputusan yang menyangkut kepentingan bersama harus dilahirkan melalui musyawarah, bukan paksaan ataupun kepentingan pribadi. Musyawarah menjadi jalan utama untuk mencari kesepakatan yang adil memalui pendapat yang bebas, terbuka, dan penuh penghargaan antaranggota. Dalam kehidupan sehari-hari, sila ke-4 mengajarkan kita untuk berdiskusi dalam menyelesaikan masalah, menghargai pendapat orang lain, tidak memaksakan kehendak, serta menerima hasil keputusan bersama. Melalui sikap-sikap inilah nilai demokrasi yang beradab dapat terwujud dalam perilaku nyata. Sila ke-4 tentang musyawarah dan perwakilan tidak dapat dipisahkan dari sila ke-1, Ketuhanan yang Maha Esa. Musyawarah yang dijalankan dalam kehidupan berbangsa harus berlandaskan nilai ketuhanan, yaitu kejujuran, keadilan, dan rasa tanggung jawab moral. Dengan demikian, setiap keputusan bersama bukan hanya mengutamakan suara terbanyak,tetapi juga mempertimbangkan kebenaran, etika, dan nilai-nilai luhur yang diajarkan agama. Ketika musyawarah dijalankan dengan hati yang beriman dan menjunjung nilai ketuhanan, maka kepentingan rakyat dapat diwujudkan secara adil, bjaksana, dan beradab. Madrasah Ibtidaiyah tempat kami melaksanakan penelitian atau kegiatan aktualisasi ini, dalam proses pembelajarannya kita menggunakan sistem presentasi, tentunya di selipkan beberapa quiz dan ice breaking untuk mengasah kemampuan pemahaman daya tangkap peserta didik dengan jumlah 30 siswa serta tenaga pengajar berjumlah 10 orang. Adapun kisaran usia para siswa yakni 14-15 tahun. Penlitian ini dilakukan di Madrasah Ibtidaiyah AR-Rosyidiyah Jl. Cikuda No.001 RT.01/RW.11 Pasir Biru Kec. Cibiru, Kota Bndung Jawa Barat 40615. Madrasa Ibtidaiyah ini merupakan salah satu sekolah islam yang menyediakan kebutuhan pendidikan bagi masyarakat, baik masyarakat di sekitar wilayah Cikuda maupundi luar daerah. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada jum’at, 30 Oktober 202 pukul 07.00-12.00. Mekanisme Kegiatan belajar mengajar pendidikan agama islam melibatkan beberapa komponen yaitu peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, metode mengajar, medi dan lainnya. Selain itu perenan seorang guru pendidikan agama Islam juga tidak kalah penting untuk bisa mengembangkan potensi kegiatan pengajaran dan potensi peserta didiknya dalam rangka mentransfer ilmu pengetahuan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Ceramah dari aspek bahasa adalah penuturan atau penerangan secara lisan oleh guru pendidikan agama islam terhadap peserta didiknya di dalam kelas alat interaksi yang terutama dalam hal ini adalah "berbicara" Dalam ceramahnya memungkinkan guru menyelipkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan materi pendidikan agama islam yang diajarkan. Sementara kegiatan belajar pada peserta didik yang paling utama adalah mendengarkan dengan teliti dan mencatat pokok-pokok penting yang dikemukakan oleh guru. Guru juga dalam hal ini bisa saja mengabaikan pertanyaan-pertanyaan 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 peserta didik karna metode ceramah bukanlah tanya jawab walau kadang muncul pertanyaan dari peserta didik, namun bukan itu pelaksanaan yang sebenarnya (Asriadi & masni, 2021). Metode ceramah dari aspek istilah, menurut armai arif (2002:135-136), adalah cara menyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada peserta didik . Pengertian ini mengarah dan mengantikan bahwa metode kami menggunakan metode bermain sambil belajar. Salah satu fungsi penting bermain menurut Piaget ialah memberikan kesempatan kepada anak untuk meng asimilasi kenyataan terhadap dirinya dan kenyataan. Sebagai implikasi dari beberapa konsep tentang pentingnya bermain terhadap pembelajaran di sekolah dasar adalah menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan anak dapat belajar sambil bermain secara efektif. Dengan bermain kemampuan dan potensi pada anak dapat berkembang secara optimal Kegiatan Pembelajaran Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah Pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK merupakan metode penelitian yang dilakukan secara langsung di dalam kelas dengan tujuan memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam konteks ini, peneliti tidak hanya menjadi pengamat, tetapi turut terlibat aktif dalam kegiatan. Dalam PTK, peneliti berperan sebagai pengganti guru (praktisi) yang menyampaikan materi. kami membuat proses pembelajaran yang mengakomodasikan hal tersebut seperti: 1. Menyampaikan materi dengan tema “Iman Membimbing, Musyawarah Menyatukan” Mempelajari “Iman Membimbing, Musyawarah Menyatukan” penting karena iman menjadi pedoman moral yang menuntun seseorang untuk bersikap jujur, adil, dan bertanggung jawab. Iman membentuk karakter yang kuat sehingga manusia mampu menghadapi perbedaan dan menjaga kerukunan. Sementara itu, musyawarah menjadi cara untuk menyatukan berbagai pendapat, mencari solusi terbaik, dan membangun kerja sama dalam kelompok. Dengan menggabungkan keduanya, terciptalah individu yang berakhlak serta masyarakat yang kompak, harmonis, dan dapat menyelesaikan masalah secara damai. Gambar 1. Pemaparan Materi Setelah pemaparan materi, kami mencoba untuk menguji pemahaman terkait materi yang sudah di paparkan oleh kami kepada siswa/siswi dengan meminta untuk maju kedepan dan menjelaskan materi yang sudah kami jelaskan. Kami juga memberi apresiasi berupa hadiah atas keberanian dan keberhasilan mereka dalam memaparkan kembali materi tentang “Iman membimbing, Musyawarah Menyatukan” 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 Gambar 2. Pemberian Hadiah 2. Kegiatan Ice Breaking Ketika pemaparan materi, kami juga mengadakan ice breaking (games). Ice breaking dapat menjadi jembatan untuk berpindah dari suasana serius ke santai, atau sebaliknya bertujuan untuk menghilangkan kecanggungan, rasa tegang, atau kebosanan agar peserta lebih rileks, dan Aktivitas ringan membuat peserta kembali segar, sehingga siap menerima materi atau melanjutkan kegiatan. Gambar 3. Kegiatan Ice Breaking Ice breaking ini bertujuan melatih fokus serta kekompakan anak-anak, sekaligus mengurangi rasa bosan selama proses pembelajaran. Selain permainan tersebut, kami juga menyiapkan berbagai games lain yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga mengharuskan anak-anak mengingat kembali materi yang telah disampaikan. Sebagai bentuk motivasi, kami memberikan hadiah untuk menambah semangat mereka dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Gambar 4. Pengetesan Pemahaman Mengenai Materi Untuk peserta yang tidak berhasil memenangkan permainan, diberikan tantangan edukatif berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang telah dibahas sebelumnya. Cara ini menjadi tolok ukur untuk melihat sejauh mana pemahaman mereka terhadap pelajaran yang sudah diberikan. Jika anak-anak mampu menjawab dengan benar, mereka memperoleh hadiah sebagai bentuk penghargaan. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 SIMPULAN Kami kelompok 2 dari Mata Kuliah Pendidikan Pncasila, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, telah melaksanakan tugas aktualisasi nilai-nilai Pancasila yaitu sila ke-1 “Ketuhanan yang Maha Esa” dan sila ke-4 “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Dalam bentuk kegiatan belajar mengajar di MTs Ar-Rosyidiah, Jl. Cikuda NO.001, RR. 01/RW.11. Pasir Biru Kec. Cibiru, Kota Bandung, 40615 Pada tanggal 30 Oktober 2025. Rangkaian kegiatan yang kami laksanakan meliputi: Pembukaan, perkenalan, pembahasan tema, penyampaian materi “Iman Membimbing, Musyawarah Menyatukan”, Implementasi nilai melalui contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan sekolah dan kelas, serta sesi Ice Breaking. Melalui permainan tersebut, kami mengajak para peserta didik merefleksikan kembali materi yang telah disampaikan, sekaligus memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang berhasil menjawab pertanyaan. Seluruh kegiatan diakhiri dengan penutupan. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai dalam sila pertama dan sila keempat secara sederhana, sekaligus mendorong mereka untuk mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kami ingin memperkenalkan pentingnya iman dalam kehidupan, memberikan pemahaman dasar mengenai keislaman, serta menanamkan sikap toleransi dalam proses musyawarah. Setelah seluruh rangkaian terlaksana, kami menyimpulkan bahwa kegiatan berjalan lancer dan sesuai rencana. Sambutan positif dari peserta didik dan tenaga pengajar menunjukan bahwa tujuan kegiatan tercapai. Pendekatan belajar sambal bermain ternyata jauh lebih efektif, menarik, dan mempu mengurangi kejenuhan, sehingga materi lebih mudah dipahami. Berdasaarkan pengalaman tersebut, kami menyarankan bagi pihak yang ingin melakukan kegiatan serupa untuk menyiapkan metode pembelajaran yang kreatif, tanpa mengurangi efektivitas pembelajaran materi. Pembelajaran perlu terus dikembangkan melalui berbagai inovasi agar peserta didik tetap antusias dan tujuan pembelajaran dapat tercapai sebagaimana yang direncanakan. UCAPAN TERIMA KASIH Dengan penuh hormat dan rasa syukur, kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila ini. Penghargaan khusus kami sampaikan kepada pihak MTs Ar-Rosyidiah, para guru, staf pengajar, serta siswa kelas 9C dan 9D yag telah berpartisipasi dengan semangat tinggi, juga kepada dosen pengampu Mata Kuliah Pendidikan Kewaranegaraan atas arahan dan bimbingannya, Tak lupa, kami mengapresiasi kerja sama dan tanggung jawab seluruh tim pelaksana yang telah berkontribusi secara maksimal. Semoga kegiatan ini memberikan dampak positif dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada generasi muda. REFERENSI Agustriani, L., Verdha, L., Fajar, M., Inshi, M., Farihin, M., Salman, M., Rama, M., Shofia, N., Silvia, N., Fathurrahman, N., & Herdiana, D. (2022). Sosialisasi nilai-nilai Pancasila melalui permainan kerjasama tim kepada anak-anak. Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 4(1), 150–158. Asriadi, M., & Masni, M. (2021). Penggunaan metode tanya jawab dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMA Dharmawirawan Pepabri Makassar. Jurnal Pendidikan Pembelajaran dan Pengabdian Tri Dharma Perguruan Tinggi, 1(2), 108–116. Baznas DIY. (2025, 3 September). Buah Iman kepada Rasul: 5 Perubahan Nyata dalam Perilaku Seorang Muslim. Diakses dari https://diy.baznas.go.id/berita/news-show/buah-iman-kepadarasul-5-perubahan-nyata-dalam-perilaku-seorang-muslim/27329 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Iman Membimbing, Musyawarah (Cilsyla, dkk.) | 81-88 Daarul Qur'an. (n.d.). Pengertian Iman Menurut Islam. Diakses dari https://kabardaqu.pppa.id/pengertian-iman-menurut-islam Susanto, A. (2016). Teori belajar dan pembelajaran di sekolah dasar. Jakarta: Prenada Media Group. Umi, C. (2019). Arif Cerdas untuk Sekolah Dasar Kelas 5. Jakarta: Erlangga. Widiatama, W., Mahmud, H., & Suparwi, S. (2020). Ideologi Pancasila sebagai dasar membangun negara hukum Indonesia. Jurnal USM Law Review, 3(2), 310–327. https://doi.org/10.26623/julr.v3i2.2774 Wiyanto, K., & Abu Bakar, A. (2024). Musyawarah dalam Islam: Implementasi Nilai-Nilai Ilahiyah di Kehidupan Modern. Jurnal Al-Mubarak: Jurnal Kajian Al-Qur'an dan Tafsir, 10(1), 1–15. https://doi.org/10.47435/al-mubarak.v10i1.3329 Yayasan Bakti Umat Nusantara. (n.d.). Mengapa Musyawarah Jadi Pertanda Hidup Rukun. Diakses dari https://yayasanbaktiumatnusantara.org/mengapa-musyawarah-jadi-pertanda-hidup-rukun/