Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Upaya Membangun Karakter pada Siswa-Siswi di Sekolah Dasar Plus Al-Ghifari
Full text
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 89-98 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17927118 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Upaya Membangun Karakter pada Siswa-Siswi di Sekolah Dasar Plus Al-Ghifari Safitri Nuraini1, Fadia Syaira Nur Ambia2, Lina Nuraeni Rahmawati3, Asifa Nurul Fadilla4, Siti Nur Khasanah5, Falah Haikal Abdillah6, Yasa Revaldi7, Dhafin Al Ibrahim8, Citra Khoirunnisa9, Andri Setiawan10, Dian Herdiana11, Cecep Ali Jamal12 1-11Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung 12SD Plus Al-Ghifari Bandung Email: [email protected]1, [email protected]2, linanuraeni1411@gmail,com3, [email protected]4, [email protected]5, [email protected]6, yasarevaldi66[email protected]7, [email protected]8, [email protected]9, [email protected]10, [email protected]11, [email protected]12 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang diaktualisasikan melalui program intervensi singkat (satu hari) kepada siswa SD Plus Al-Ghifari. Studi ini berlatar belakang program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan dalam kurun waktu terbatas. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, berfokus pada evaluasi pradan pasca-kegiatan satu hari tersebut. Data dikumpulkan melalui observasi langsung selama pelaksanaan program dan refleksi dari tenaga pendidik. Hasil kegiatan singkat ini menunjukkan bahwa nilai Ketuhanan diinternalisasikan melalui sesi edukasi berbasis keagamaan dan toleransi yang dikemas secara interaktif. Sementara itu, nilai Kemanusiaan diaktualisasikan melalui simulasi permainan edukatif yang menekankan pentingnya kejujuran, keadilan, dan empati antar siswa. Meskipun program berlangsung singkat (satu hari), ditemukan adanya peningkatan antusiasme dan pemahaman awal siswa terhadap nilai-nilai tersebut, yang menjadi fondasi awal penting bagi pembentukan karakter. Kata kunci: Aktualisasi, Nilai Ketuhanan, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab Abstract This study aims to analyze the effectiveness and implementation of Pancasila values, particularly Belief in the One Almighty God and Just and Civilized Humanity, which were actualized through a short (one-day) intervention program for students at Al-Ghifari Elementary School. This study is based on a community service program implemented over a limited period. The method used is descriptive qualitative, focusing on preand postevaluation of the one-day activity. Data were collected through direct observation during the program implementation and reflections from educators. The results of this short activity indicate that the values of Belief in the One Almighty God were internalized through interactive education sessions based on religion and tolerance. Meanwhile, the values of Humanity were actualized through educational game simulations that emphasize the importance of honesty, justice, and empathy among students. Despite the short (one-day) program, there was an increase in students' enthusiasm and initial understanding of these values, which are important foundations for character building. Keywords: actualization, divine values, just and civilized humanity Article Info Received date: 20 November 2025 Revised date: 30November 2025 Accepted date: 13 Desember 2025 PENDAHULUAN Pendidikan dipahami sebagai sebuah usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mengembangkan seluruh potensi yang telah melekat pada diri manusia, baik yang bersifat jasmani maupun rohani. Upaya ini tidak hanya berfokus pada pengembangan kemampuan individu semata, tetapi juga bertujuan untuk menanamkan serta meneruskan nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat kepada generasi berikutnya. Oleh karena itu, pendidikan menjadi proses yang sangat mendasar bagi keberlangsungan dan pengembangan kehidupan manusia (Sutrisno, 2016). Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pengembangan potensi tersebut mencakup aspek kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia, serta berbagai keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Ismail, 2018). Dalam konteks kehidupan berbangsa di Indonesia, Pancasila menempati posisi yang sangat penting sebagai dasar negara sekaligus sumber dari segala sumber hukum. Nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila berperan besar dalam pembentukan dan pengembangan kepribadian warga negara. Lebih dari itu, Pancasila menjadi acuan utama dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari bidang politik, ekonomi, sosial budaya, hingga pertahanan dan keamanan (Fauzi, 2017). Sebagai ideologi bangsa, Pancasila bersumber dari nilai-nilai luhur yang telah tumbuh dan berkembang sejak masa awal peradaban di Nusantara. Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara, masyarakat telah meyakini bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan. Keyakinan tersebut kemudian melahirkan pandangan bahwa sistem pemerintahan dan kedaulatan negara harus berlandaskan pada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial, yang menjadi inti dari nilainilai Pancasila (Suyitno, 2015). Pendidikan Pancasila merupakan bagian penting dalam mencerdaskan anak bangsa, kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan yang tidak hanya berpaku pada kecerdasan intelektual melainkan kecerdasan yang menyeluruh dan mampu dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sendiri (Wahyu Ariyani & Prasetyo, 2021). Hal ini juga sesuai dengan tujuan pendidikan nasionalIndonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945. Sedangkan dalam tujuan pendidikan nasional juga memuat karakter berakhlak mulia sebagai bukti bahwa Indonesia mengharapkan jati diri bangsanya sesuai dengan norma-norma yang telah diterapkan. Karakter yang cerdas Adalah landasan berpikir yang memungkinkan manusia dapat hidup baik lebih baik, rukun, dan sejahtera serta bermanfaat tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain (Manalu et al., 2022). Namun kenyataannya saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral akibat kurangnya pemikiran yang cerdas khususnya di lingkungan sekolah. Beberapa masalahyang umum terjadi di lingkungan sekolah antara lain bullying, pergaulan bebas, bolos, tidak jujur, dan rendahnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru. Hal tersebut menujukkan bahwa apa yang mereka pelajari di sekolah belum membuahkan hasil, apalagi pendidikan karakter dan bimbingan orang tua serta guru belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, guru sebagai pengajar harus mengambil tindakan yang tepat untuk membentuk anak bangsa yang kreatif, intelektual dan berakhlak mulia (Resmana & Dewi, 2021). Oleh karena itu, langkah yang perlu dilakukan adalah memperkenalkan pendidikan karakter berdasarkan Pancasila harus ditanamkan kepada siswa sejak sekolah dasar. Bagi siswa SD pengajaran nilai-nilai Pancasila menjadi lebih mudah dipahami, karena pada tahap ini siswa mempunyai potensi yang besar dalam mencerna apa yang telah diajarkan oleh guru. Penelitian ini sesuai dengan penelitian Sianturi & Dewi (2021) yang mengatakan bahwa penanaman dan penerapan nilai-nilai Pancasila sangat penting bagi pembentukan karakter pribadi warga negara pada generasi ini, sehingga generasi ini dapat menjungjung tinggi perdamaian dan moralitas,hidup dan bersaing dalam bidang. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mempunyai banyak makna dalam kehidupan sehari-hari seperti agama, mengemukakan pendapat, dan lain-lain, maka pendidikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan dampak posistif bagi masyarakat agar masyarakat mengikuti dan taat pada nilai-nilai Pancasila.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 METODE Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang dilakukan oleh pendidik secara langsung di dalam kelas untuk memperbaiki, meningkatkan, dan memahami praktik pembelajaran. Dalam PTK, peneliti melakukan tindakan secara berulang (siklus) melalui proses perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi untuk melihat perubahan perilaku, kemampuan, serta respons peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran. Penggunaan metode PTK dalam penelitian ini bertujuan untuk memahami gejala yang muncul pada peserta didik dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila pertama, sekaligus menganalisis, mendeskripsikan, mencatat, dan menginterpretasikan perubahan yang terjadi setelah tindakan diberikan. Metode PTK dinilai sesuai karena bersifat langsung, reflektif, dan mampu menyesuaikan tindakan dengan kondisi nyata peserta didik selama proses pembelajaran. Kami melakukan aktualisasi nilai Pancasila sila pertama dan kedua ini di satu tempat yang sama, yaitu bertempat SD Plus Al Ghifari Cisaranten Kulon, Kec. Arcamanik, Kota Bandung. Dengan jumlah anggota 10 orang yaitu terdiri dari : Tabel 1. Pelaksanaan PKM No Nama Tugas Sasaran 1 -Fadia Syaira Nur Ambia -Lina Nurani Rahmawati Membuka Acara dan Memimpin Ice Breaking Gerakan Pancasila Siswa/i SD Plus Al-Ghifari kelas 6 2 -Asifa Nurul Fadilla - Safitri Nuraini Menyampaikan Materi Sila Pertama Siswa/i SD Plus Al-Ghifari kelas 6 3 Falah Haikal Memimpin Permainan Kuis Siswa/i SD Plus Al-Ghifari kelas 6 4 -Citra Khoirunnisa -Siti Nur Khasanah Memimpin Ice Breaking Tebak Kata Kebaikan Siswa/i SD Plus Al-Ghifari kelas 6 5 Dafin Al Ibrahim Menyampaikan Materi Sila Kedua Siswa/i SD Plus Al-Ghifari kelas 6 6 Yasa Revaldi Memimpin kegiatan pengamalan sila kedua dalam permainan kotak kebaikan dan pembagian hadiah. Siswa/i SD Plus Al-Ghifari kelas 6 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil kegiatan dan pembahasan dalam makalah ini berupa deskripsi mengenai makna ketuhanan dan menjelaskan penerapan dari ciri-ciri manusia yang beradab, pembahasan tentang melalui kegiatan belajar mengajar. A. Gambaran Umum Pancasila diambil dari bahasa sansakerta yang memiliki arti prinsip atau asas dari kehidupan bernegara. Menurut Muhammad yamin, Pancasila memilki dua arti yaitu “panca”
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 yang artinya lima dan “sila” yang berarti “berbatu sendi yang lima. Pancasila didalamnya terdapat bagian-bagian yaitu sila-sila Pancasila, masing-masing sila memiliki prinsip dan fungsi masing-masing, tetapi secara keseluruhan membentuk satu kesatuan yang sistematis(Sari & Najicha, 2022). Di kesempatan kali ini, kami menggunakan sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa” dan sila kedua yang berbunyi “Kemanusiaan yang adil dan beradab” sebagai materi penerapan nilai-nilai Pancasila dikehidupan sehari-hari. Sila pertama memiliki makna bahwa setiap manusia senantiasa harus percaya terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai sang pencipta. Akan tetapi, apabila dalam mencoba membahas dari bahasa lain, misalnya Bahasa Sansekerta. Kata “Maha” dapat berarti mulia. Sedangkan kata “Esa” yang berarti keberadaan yang mutlak. Sedangkan Sila kedua memiliki makna bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang pada dasar nya tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan bantuan orang lain, maka dari itu kita sebagai manusia harus tidak egois dengan mementingkan orang lain dan harus bersikap adil baik terhadap diri sendiri, orang lain, bangsa, negara, serta adil terhadap lingkungan sekitar,dan adil terhadap Tuhan yang maha Esa (Sari & Najicha, 2022). SD Plus Al-Ghifari adalah tempat kami melaksanakan penelitian atau kegiatan aktualisasi ini, Dalam proses pembelajarannya menggunakan kurikulum nasional dan pimpinan pusat persatuan islam di bidang tarbiyah serta ditambah muatan lokal berupa hafalan Al-Qur’an. Kami melakukan aktualisasi nilai-nilai Pancasila dengan memfokuskan pada siswa kelas 6 yang jumlah keseluruhannya sekitar 100 siswa. Proses aktualisasi nilai-nilai Pancasila di laksanakan di SD Plus Al-Ghifari Yang berada di Jl. Cisaranten Kulon, Kec.Arcamanik, Kota bandung, Jawa Barat 40293. Sekolah ini merupakan salah satu sekolah islam yang menyediakan kebutuhan Pendidikan bagi Masyarakat, Baik Masyarakat di sekitar wilayah arcamanik maupun di luar dareah. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada jumat, tanggal 7 november 2025, pada pukul 08.00 – 11.20 WIB. B. Mekanisme Kegiatan belajar mengajar di SD plus al ghifari melibatkan beberapa komponen, yaitu peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, metode mengajar, media dan lainnya. Mekanisme kegiatan belajar mengajar ini dilakukan dalam empat metode yaitu : 1. Metode Ceramah Menurut Abuddin Nata (Nurhaliza et al., 2021) metode ceramah adalah penyampaian pelajaran yang dilakukan oleh guru dengan penuturan atau penjelasan lisan secara langsung di hadapan peserta didik. Dalam metode ini kami menyampaikan materi aktualisasi nilai-nilai pancasila secara langsung secara lisan hal ini dilakukan karena menyesuaikan jumlah siswa yang banyak dan untuk mengefsiensi kan waktu 2. Metode Tanya Jawab Menurut Abudinnata dalam buku Syahraini Tambak (yang dikutip oleh Moalina & Delpi, 2018) Metode Tanya Jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang dikemukakan oleh guru yang harus dijawab oleh peserta didik. E..Mulyasa (dalam Moalina & Delpi, 2018) Mengatakan Metode Tanya Jawab adalah cara menyajikan bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan. Selain itu Nana Sudjana (dalam Moalina & Delpi, 2018) juga menjelaskan bahwa metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat two way traffic sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa. Guru bertanya siswa
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 menjawab, atau siswa bertanya guru menjawab. Dalam komunikasi ini terlihat adanya hubungan timbal balik secara langsung antara guru dengan siswa. Metode ini bertujuan untuk merangsang siswa untuk berpikir kritis dan aktif berpartisipasi dalam pelajaran, selain itu untuk melatih keberanian siswa dalam menyatakan pendapat dan idenya. 3. Metode Demontrasi Menurut Abdul Rachman Shaleh (dalam Moalina & Delpi, 2018), metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukan sesuatu. Dalam metode demonstrasi peserta didik dituntut untuk memperhatikan suatu objek atau proses yang didemonstrasikan oleh guru. Dalam metode ini kami mempertunjukkan kejadiankejadian yang merupakan contoh dari penerapan sila sila pancasila. Hal ini dilakukan agar siswa menjadi lebih mudah memahami materi karena di praktek kan secara langsung. 4. Metode Belajar Sambil Bermain Metode belajar sambil bermain adalah pendekatan yang menggabungkan kegiatan belajar dengan permainan untuk membuat proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan efektif. Menurut Piaget “Bermain merupakan wahana yang penting yang dibutuhkan untuk perkembangan berpikir anak. Salah satu fungsi penting bermain adalah memberikan kesempatan pada anak untuk mengasimilasi kenyataan terhadap dirinya dan dirinya terhadap kenyataan. "Bermain juga menjadi cara bagi anak untuk menguasai lingkungan dan konsep secara nyata. Sebagai implikasi dari beberapa konsep tentang pentinnya bermain terhadap pembelajaran di Sekolah Dasar adalah mnciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan anak dapat belajar sambil bermain secara efektif. Dengan bermain, kemampuan dan potensi pada anak dapat berkembang secara optimal (Aminah et al., 2022) C. Kegiatan Pembelajaran Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa mekanisme yang kami terapkan adalah metode ceramah, tanya jawab, dan belajar sambil bermain. Didasari pada hal tersebut, kami membuat proses pembelajaran yang mengakomodasikan hal tersebut seperti: 1. Ice Breaking Kegiatan aktualisasi pancasila di mulai dengan sesi ice breaking yang dipandu oleh Fadia dan Lina. Tujuan dari sesi ini adalah untuk mencairkan suasana, menumbuhkan semangat peserta, serta mempersiapkan mereka agar lebih fokus mengikuti kegiatan inti. Ice breaking yang di bawakan berupa permainan “Gerakan Pancasila”, di mana siswa diminta menyebutkan sila sesuai angka yang disebutkan sambil melakukan gerakan tertentu. Kegiatan berlangsung selama kurang lebih sepuluh menit dan diikuti dengan sangat antusias oleh seluruh siswa-siswi kelas 6. Anak-anak tampak senang, tertawa, dan bersemangat mengikuti setiap instruksi. Suasana menjadi lebih hidup dan interaktif. Secara keseluruhan, sesi ice breaking berjalan dengan lancar dan berhasil menciptakan suasana yang menyenangkan. Anak-anak menjadi lebih aktif dan siap menerima materi selanjutnya. Kegiatan ini juga membuat suasana aktualisasi pancasila terasa lebih hangat dan tidak membosankan.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 Gambar 1: kegiatan Ice Breaking Gerakan Pancsila 2. Materi Sila Pertama Pancasila Kegiatan berikutnya dilakukan dengan penyampain materi mengenai pancasila sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang disampaikan oleh Safitri dan Asifa. Pada kegiatan pembelajaran sila pertama, anak-anak diajak membaca Surah AlIkhlas bersama untuk mengenalkan konsep keesaan Allah. Setelah itu diberikan penjelasan singkat tentang makna Ketuhanan Yang Maha Esa, lalu anak-anak diminta menyebutkan contoh perilaku baik seperti shalat, membantu orang tua, dan berkata jujur sebagai wujud cinta kepada Allah. Kegiatan ini ditutup dengan ajakan agar anakanak membiasakan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Gambar 2: Penyampaian Materi Sila Pertama 3. Kegiatan Kuis Pada kegiatan berikut nya dilaksanakan oleh Falah Haikal Abdillah. Yaitu dengan melakukan kuis yang dibuat dengan format tanya jawab,dan pertanyaan berupa "siapa tuhan kita?", "Kalau cinta allah, kita harus rajin apa", "Allah suka anak yang seperti apa", dan yang terakhir "kalau ada teman jatuh kita harus gimana?". Sebelum menjawab pertanyaan para siswa diminta untuk mengangkat tangan nya terlebih dahulu, Kemudian kami menunjuk beberapa orang dari mereka yang mengangkat tangannya terlebih dahulu. Bagi mereka yang terpilih maka mendapatkan poin berupa bintang. Kegiatan ini diikuti oleh para siswa dengan sangat antusias dan mereka berebutan untuk menjawab pertanyaan, yang membuat suasana kelas menjadi hidup.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 Gambar 3: Kegiatan Kuis 4. Ice Breaking Tebak Kata Kebaikan Kegiatan selanjutnya adalah ice breaking kedua yang dipandu oleh Citra Khoerunnisa dan Siti Nur Khasanah melalui permainan "Tebak Kata Kebaikan". Pada sesi ini, pemateri memperagakan beberapa kata yang berkaitan dengan perilaku positif, seperti menolong, ramah, pemaaf, penyayang, dan berbakti. Para siswa diminta menebak kata yang sedang diperagakan dengan memperhatikan gerakan yang ditunjukkan. Permainan ini mendapat respons yang sangat antusias dari para siswa. Mereka terlihat bersemangat dan cepat dalam menebak setiap kata, bahkan beberapa gerakan membuat suasana kelas menjadi lebih hidup dan penuh tawa. Ice breaking ini dinilai efektif karena mampu mencairkan suasana, meningkatkan fokus siswa, serta mempersiapkan mereka untuk mengikuti rangkaian kegiatan selanjutnya dengan lebih bersemangat. Gambar 4: Tebak Kata Kebaikan 5. Materi Sila Kedua Pancasila Pada kegiatan selanjutnya dilaksanakan oleh Dhafin Al Ibrahim dengan penyampaian materi mengenai Sila Kedua Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 Beradab. Pemateri menjelaskan makna sila kedua dengan menekankan pentingnya sikap saling menghargai, bersikap sopan, serta tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti orang lain, seperti mengejek atau melakukan perundungan (bullying). Untuk membantu siswa memahami materi, pemateri menyampaikan sebuah cerita singkat tentang seorang anak yang menunjukkan sikap peduli dan empati terhadap temannya yang mengalami kesulitan. Cerita ini digunakan sebagai contoh dari perilaku beradab yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selama penyampaian materi, para siswa terlihat memperhatikan dengan baik dan memberikan tanggapan saat diminta menjawab pertanyaan. Sesi ini berlangsung interaktif dan komunikatif, sehingga nilai-nilai kemanusiaan dapat tersampaikan dengan lebih mudah. Materi ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa agar lebih peduli, menghargai sesama, serta mampu menahan diri dari perilaku negatif terhadap teman-temannya. Gambar 5: Penyampaian Materi Sila Kedua 6. Kegiatan Kotak Kebaikan Dan Pembagian Hadiah kegiatan berikutnya dilanjutkan dengan membuat “Kotak Kebaikan”. Setiap siswa diberikan kertas kecil untuk menuliskan beberapa tindakan baik yang pernah mereka lakukan, seperti membantu orang tua, menolong teman, atau menunjukkan sikap sopan saat berinteraksi. Kegiatan ini bertujuan mengajak siswa mengenali dan mengingat kembali perilaku positif yang sudah mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada sesi berikutnya, kami menanyakan siapa yang bersedia menyimpulkan materi yang telah dipaparkan untuk dijelaskan kembali di depan kelas. Beberapa siswa dengan antusias mengangkat tangan dan maju ke depan untuk menyampaikan rangkuman singkat tentang makna Sila Pertama dan Sila Kedua. Sebagai bentuk apresiasi, siswa yang berani maju kedepan untuk menjelaskan kesimpulan yang telah kami paparkan maka diberikan hadiah. Selain itu, siswa yang sebelumnya berhasil mendapatkan bintang selama rangkaian kegiatan juga memperoleh hadiah. Pemberian hadiah ini bertujuan sebagai bentuk memotivasi siswa agar selalu bersemangat dan aktif dalam mengikuti pembelajaran.
2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila (Safitri, dkk.) | 89-98 Gambar 6: Kegiatan Pembagian Hadiah SIMPULAN Pemahaman dan penerapan Pancasila khususnya sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dapat ditanamkan secara efektif melalui pembelajaran kontekstual dan pendekatan yang sesuai dengan usia siswa. Siswa kelas 6 menunjukkan respons positif terhadap penyampaian materi, terutama ketika pemateri menggunakan metode cerita dan contoh konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu memahami bahwa keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa harus tercermin dalam sikap syukur, disiplin, dan perilaku yang baik. Selain itu, pemahaman mengenai nilai kemanusiaan semakin diperkuat melalui ajakan untuk saling menghargai, bersikap sopan, tidak melakukan perundungan, serta menumbuhkan empati terhadap orang lain. Secara keseluruhan, kegiatan ini berhasil memberikan wawasan dan pengalaman yang mendukung pembentukan karakter berakhlak dan beradab sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. UCAPAN TERIMAKASIH Dengan penuh rasa syukur, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam pelaksanaan kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila di SD Plus Al-Ghifari. Terima kasih kepada bapak Cecep Ali Jamal selaku wakil kepala sekolah SD Plus Al-Ghifari yang telah memberikan ijin kepada kami untuk bisa melaksanakan kegiatan aktualisasi pancasila ini, kemudian para wali kelas, kelas 6 yang telah bersedia memberikan waktu mengajarnya kepada kami, serta para siswa-siswi kelas 6 A, B, C, D, dan E SD Plus Al-Ghifari atas kerja sama, dukungan, serta partisipasi aktifnya. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat besar dalam membentuk karakter peserta didik yang berakhlak mulia dan berkepribadian sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Kami berharap program ini dapat terus berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. SARAN Pelaksanaan kegiatan aktualisasi nilai-nilai Pancasila di SD Plus Al-Ghifari diharapkan dapat menjadi program yang berkelanjutan sehingga pemahaman yang telah diberikan kepada siswa dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah perlu memperkuat pembiasaan sikap sesuai Pancasila melalui kegiatan yang variatif, seperti permainan edukatif, video pembelajaran, dan simulasi perilaku positif agar materi lebih mudah dipahami siswa. Selain itu, dukungan dan kolaborasi antara guru dan orang tua sangat penting agar nilai-nilai Pancasila tidak hanya diterapkan di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga. Evaluasi berkala terhadap perubahan sikap dan perilaku siswa juga perlu