Konferensi Nasional Ilmu Komputer (KONIK) 2020 ISSN : 23 38 - 2899 1 Pengembangan Penelitian Tindakan Kelas Pemrograman pada Kelas Virtual di Tengah Masa Pandemi Subur Anugerah, S.T., M.Eng.1 1 Program Studi Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Mulia Email Correspondent Author:
[email protected] Abstract - Corona virus outbreaks occur on five continents around the world. In Indonesia, President Joko Widodo asked the people, one of them, to Learning from Home (LFH) to prevent outbreaks. Distance learning or virtual learning, both synchronous and asynchronous, is carried out in almost all educational institutions, especially in tertiary institutions. Problems arise when looking at learning and assessment results. Learners copy-paste learning outcomes, or plagiarize due to the difficulty of being monitored directly and closely by educators. For that we need tools or applications that help overcome this problem by creating applications. From observations during one semester of implementation last year, the application was able to help the authors conduct Action Research to improve and enhance online learning. Keyword - Online Learning, Action Research ABSTRAK - Pandemi atau wabah virus Corona terjadi di lima benua di seluruh dunia. Di Indonesia, Presiden Joko Widodo meminta masyarakat, salah satunya, belajar dari rumah (Learning from Home) untuk mencegah meluasnya wabah. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam sebuah kelas virtual, baik singkron maupun asingkron, dilaksanakan di hampir seluruh lembaga pendidikan, terutama pada perguruan tinggi. Masalah muncul ketika melihat hasil pembelajaran dan assessment. Peserta didik melakukan copy-paste hasil pembelajaran, atau melakukan plagiasi akibat sulitnya dipantau secara langsung dan ketat oleh pendidik. Untuk itu diperlukan alat bantu atau aplikasi yang membantu mengatasi persoalan ini dengan membuat aplikasi. Dari hasil pengamatan selama satu semester pelaksanaan, aplikasi mampu membantu penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas untuk memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran daring. Kata kunci – Pembelajaran Daring, Penelitian Tindakan I. PENDAHULUAN Di akhir tahun 2019 beredar kabar virus misterius muncul di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan munculnya varian baru virus Corona dari Wuhan yang sangat cepat menjangkiti banyak orang. WHO kemudian menyatakan terjadi pandemi virus Corona dan memberi nama Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19. [1] Dalam waktu singkat pandemi terjadi di lima benua di seluruh dunia. Di Indonesia, Presiden Joko Widodo yang didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan kasus pertama positif virus Corona. Presiden meminta masyarakat bekerja dari rumah (Work from Home), belajar dari rumah (Learning from Home), dan beribadah di rumah sebagai upaya mencegah meluasnya pandemi. [2] Seluruh daerah di Indonesia kemudian menutup kegiatan belajar mengajar (KBM), baik di sekolah, pondok pesantren, hingga perguruan tinggi. KBM kemudian beralih di rumah, Learning from Home (LFH) dengan sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dalam sebuah kelas virtual menggunakan Internet. Namun demikian, pelaksanaan kelas virtual untuk bidang tertentu yang membutuhkan praktikum dan kerja kelompok memerlukan cara dan metode sendiri. Di perguruan tinggi misalnya, materi pemrograman sangat mudah dipaparkan melalui video tutorial, baik di Google Classroom dalam bentuk singkron, maupun di YouTube sebagai pelengkap asingkron. Kesulitan muncul pada tataran assessment. Hampir di seluruh kelas pembelajaran yang penulis asuh ditemukan peserta didik copy-paste kode program. Begitu pula dengan hasil pembelajaran kelompok. Tercatat satu kelompok dengan kelompok lain yang melakukan plagiasi dan karya yang bukan sebenarnya. Hal ini terjadi mengingat sulitnya memantau secara langsung pada pembelajaran daring. Untuk itulah, berdasarkan pengamatan langsung melaksanakan pembelajaran daring semester sebelumnya, penulis menyusun program aplikasi berbasis web untuk memudahkan pembelajaran pemrograman dan assessment. Aplikasi disusun dengan menggunakan metode yang ditemukan Stephen Kemmis dan Robin McTaggard sebagai salah satu metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Action Research. [3] Tujuan PTK adalah melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas dan layanan pembelajaran. Dalam hal ini PTK dilakukan dosen menangani proses pembelajaran di kelas tersebut. PTK dilakukan dengan cara melakukan refleksi untuk menganalisis kondisi, kemudian menyusun secara terstruktur model pembelajaran pemrograman daring yang tepat di masa pandemi Covid-19. II. METODOLOGI PTK adalah salah satu langkah penelitian di kelas yang dirancang untuk menanggulangi masalah nyata pendidik dengan peserta didik di kelas tersebut. Dengan demikian,
Subur Anugerah, S.T., M.Eng. IJCCSISSN 2 data yang diperoleh sepenuhnya diambil dari kelas tersebut, diawali dari pengumpulan data, analisis, penafsiran, pemaknaan, perolehan temuan, dan penerapan temuan. Kurt Lewin (1946) adalah orang yang pertama kali dianggap sebagai penemu PTK. Lewin menggambarkan PTK dalam bentuk siklus langkah-langkah perencanaan perubahan, memasukkan rencana ke dalam tindakan, mengamati apa yang terjadi, dan merumuskan ulang rencana berdasarkan apa yang telah terjadi. [4] PTK ini kemudian dipopulerkan Kemmis dan McTaggart yang kemudian dikenal dengan sebutan 'spiral reflektif diri'. Proses PTK dijelaskan dengan langkah-langkah yang menggambarkan spiral siklus refleksi diri sebagai berikut. - merencanakan perubahan (planning a change), - bertindak dan mengamati proses dan konsekuensi dari perubahan (acting and observing the process and consequences of the change), - refleksi proses dan konsekuensi ini, dan kemudian (reflecting on these processes and consequences, and then), - perencanaan ulang (re-planning), - bertindak dan mengamati (acting and observing), - refleksi, dan seterusnya (reflecting, and so on). Gambar 1. Penelitian Tindakan Spiral menurut Kemmis dan McTaggart Saat ini banyak orang mengenal penelitian tindakan spiral ini. Tetapi yang penting adalah kriteria keberhasilan bukanlah dinilai dari apakah peserta didik telah mengikuti langkah-langkah pembelajaran dengan tertib, melainkan peserta didik mengalami pengembangan diri kemudian berevolusi dalam proses pembelajaran, memahami praktik belajar, dan bagaimana peserta didik meningkatkan diri dengan terus berlatih. III. HASIL PEMBAHASAN Sebelum menerapkan langkah-langkah dalam metodologi, pada proses pembelajaran ini dibedakan pembelajaran yang dilakukan secara individu dan pembelajaran yang dilakukan peserta didik dalam kelompok belajar. A. Pembelajaran Secara Individu Langkah-langkah pembelajaran secara individu mengikuti langkah-langkah mekanis PTK, antara lain. 1. Merencanakan Perubahan Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya, masalah yang terjadi adalah ditemukan mahasiswa copy-paste kode program pembelajaran. Begitu pula dengan pembelajaran kelompok ditemukan satu kelompok dengan kelompok lain yang melakukan plagiasi dan karya yang bukan sebenarnya. Hal ini terjadi mengingat sulitnya memantau secara langsung mahasiswa pada saat pembelajaran daring berlangsung. Untuk itu diperlukan perencanaan untuk menyelesaikan masalah dan melakukan perubahan pembelajaran. Kebutuhan diidentifikasi dari hasil pembelajaran sebelumnya yang disusun dalam sebuah tabel dengan status Create (C) jika belum tersedia, Read (R) jika sudah tersedia dan siap digunakan, Update (U) jika perlu diperbaiki, dan Delete (D) jika sudah tidak diperlukan atau dibutuhkan. Tabel 1. Spesifikasi Kebutuhan untuk Pembelajaran No Spesifikasi Kebutuhan Status 1 Aplikasi harus mampu membantu mengoreksi dan menilai hasil ujian dengan teliti, mudah, dan cepat. C 2 Aplikasi harus mampu berjalan baik di jaringan lokal atau Internet dan cocok dengan infrastruktur yang sudah ada di laboratorium. C 3 Aplikasi harus mudah diakses tanpa menginstal apapun kecuali software yang sudah terpasang di komputer laboratorium. C 4 Aplikasi harus memiliki bank soal dan memberikan soal acak kepada masingmasing peserta ujian. Hal ini untuk meminimalisir kerjasama di antara peserta ujian. C 5 Aplikasi harus mampu membaca jawaban peserta ujian sekaligus mengoreksi berdasarkan kunci jawaban. Meski demikian, mengingat jawaban berupa sebuah program yang terdiri dari baris-baris kode program, bukan jawaban pilihan a/b/c/d (multiplechoice), maka kecocokan dengan kunci jawaban tidak selalu menjadi tolok ukur atau substansi. Bisa saja baris-baris kode buatan peserta memiliki gaya (style) pengkodean yang berbeda, tetapi setidaknya baris-baris kode mereka mudah dibaca jelas dan hasil luaran (output) yang benar. C
Subur Anugerah, S.T., M.Eng. IJCCSISSN 3 6 Aplikasi menggunakan metode koreksi perbandingan, yakni membandingkan baris perbaris jawaban antar peserta ujian untuk mendeteksi adanya kesamaan atau kemiripan baris-baris kode program. Kemudian memberikan label pada setiap peserta yang memiliki kecocokan jawaban, mirip, atau serupa dalam bentuk persentase, catatan komentar, dan memberi nilai. C 2. Bertindak dan Mengamati Proses dan Konsekuensi dari Perubahan Tahap ini mengembangkan aplikasi sesuai perencanaan. Aplikasi digunakan untuk membantu pelaksanaan kelas virtual pemrograman berdasar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Learning-Outcomes. 2.1. Mengembangkan aplikasi. Pengembangan aplikasi yang dibuat oleh dosen pemrograman tentu saja sangat membantu. Hal ini akan berbeda jika dilakukan oleh dosen bukan pemrograman. Ada beberapa Model Proses Pengembangan Perangkat Lunak seperti Waterfall, Prototyping, [5] atau Agile dapat digunakan sesuai dengan masalah yang dihadapi dan kebutuhan pengembangan. Tetapi dalam hal ini, penulis menggunakan Waterfall Incremental mengingat sudah tersedia rencana pembelajaran yang tersusun dalam RPP dan Learning-Outcomes Gambar 2. Tata Tertib dan Panduan Misal, aplikasi dibuat berdasarkan skenario evaluasi pembelajaran sebagai berikut. a. Dosen membuat tata tertib dan panduan bagaimana mahasiswa mengikuti evaluasi pembelajaran. b. Dosen membuat bank soal pemrograman yang bervariasi, baik isi maupun bobot soal. c. Dosen memasukkan soal evaluasi. d. Sistem menentukan tanggal evaluasi, waktu dibuka, dan batas waktu berakhir. Gambar 3. Sistem Mencatat Waktu Assessment Individual e. Dosen mendaftarkan nama mahasiswa ke dalam sistem agar hanya mahasiswa yang terdaftar saja yang akan mengikuti assessment. f. Sistem mengacak urutan maupun jenis soal. g. Mahasiswa mendaftarkan diri pada aplikasi. Jika tidak terdaftar mengikuti assessment pada saat itu, maka mahasiswa menunggu sesuai dengan waktunya. h. Mahasiswa login, mengikuti panduan tahapan menyelesaikan assessment. i. Aplikasi berakhir sesuai batas waktu berakhir. Skenario di atas ini bisa saja berubah sesuai dengan masalah maupun kebutuhan masing-masing dosen pemrograman. Gambar 4. Soal Latihan dan Assessment Gambar 5. Jawaban Pemrograman Dibaca Baris perbaris oleh Sistem
Subur Anugerah, S.T., M.Eng. IJCCSISSN 4 2.2. Mengamati proses pembelajaran dengan bantuan aplikasi dan mengamati perubahan. Adapun skenarionya adalah sebagai berikut. a. Dosen login pada aplikasi. b. Dosen menuju menu List untuk melihat hasil pekerjaan mahasiswa. c. Dosen melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan mahasiswa. d. Sistem membaca jawaban, membandingkan baris perbaris jawaban antar peserta ujian untuk mendeteksi adanya kesamaan atau kemiripan baris-baris kode program. Gambar 6. Membandingkan Kemiripan Jawaban e. Dosen memberikan label pada setiap peserta yang memiliki kecocokan jawaban, mirip, atau serupa dalam bentuk persentase, memberi catatan komentar, dan memberi nilai. Skenario di atas ini bisa saja berubah sesuai dengan masalah maupun kebutuhan masing-masing dosen pemrograman. 3. Refleksi Proses dan Konsekuensi Pada tahap ini dilakukan Refleksi atau melihat kembali apakah pembelajaran mahasiswa di dalam memahami pembelajaran pemrograman pada tahapan sebelumnya telah berjalan sesuai harapan. Apabila hasil assessment diketahui lebih banyak kemiripan atau kekurangan belajar di bawah 50% misalnya, maka langkah berikutnya adalah memperbaiki kualitas pembelajaran. Beberapa cara untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di antaranya adalah koasistensi atau bimbingan kepada mahasiswa semester di atasnya yang telah berhasil mendapat nilai minimal B. Tetapi dalam masa pandemi saat ini, koasistensi yang berhubungan langsung antar mahasiswa akan bertentangan dengan protokol kesehatan. Untuk itu, strategi pembelajaran juga menggunakan belajar kelompok dengan membentuk tim kecil di antara mahasiswa dalam satu kelas pembelajaran tersebut. Tim kecil terdiri dari atas maksimal empat orang anggota dan minimal dua orang anggota. Tujuan pembatasan jumlah kelompok ini agar tim dapat berbagi tugas dan mendiskusikan materi atau tugas (Student Projects and Presentations) yang diberikan dosen. Ketua tim dipilih berdasarkan kemampuan di antara mereka sendiri yang dianggap mampu. Dari kerja kelompok ini diharapkan mahasiswa yang tertinggal dalam pemrograman dapat mengikuti materi pembelajaran dengan baik. B. Pembelajaran Secara Berkelompok Tahapan ini melanjutkan tahapan Pembelajaran Secara Individu setelah dilakukan refleksi proses dan konsekuensi diri. Dengan demikian, langkah yang pertama dilakukan diawali dari Perencanaan Ulang (Re-planning). Dengan demikian, langkah-langkahnya sebagai berikut. 1. Perencanaan Ulang Evaluasi pembelajaran pemrograman secara individual memberi gambaran kepada dosen agar dapat memetakan kemampuan masing-masing mahasiswa. Untuk itu, diberikan tugas (Projects) yang dikerjakan secara tim atau berkelompok dengan tujuan mendiskusikan tugas tersebut dan saling belajar. Tugas ini selain membuat program aplikasi yang bertujuan mengasah kemampuan pemrograman, juga harus dipresentasikan (Presentations) secara terbuka dan transparan. Presentasi diawali bagaimana mereka mengambil atau mencari data, menganalisis data tersebut, merancang, dan menyusun program serta mengujinya (Self-Assessment). Masing-masing anggota diberikan kesempatan untuk mempresentasikan apa yang sudah dikerjakan dalam mewujudkan proyek akhir. 2. Bertindak dan Mengamati Tahap ini mengembangkan aplikasi sesuai perencanaan ulang, yakni membuat aplikasi untuk pengguna kelompok. Aplikasi harus mampu digunakan untuk membantu pelaksanaan kelas virtual pemrograman berdasar Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Learning-Outcomes. Gambar 7. Assessment Kerja Kelompok
Subur Anugerah, S.T., M.Eng. IJCCSISSN 5 3. Refleksi. Pada tahap ini dilakukan Refleksi atau melihat kembali apakah pembelajaran mahasiswa di dalam memahami pembelajaran pemrograman pada tahapan sebelumnya telah berjalan sesuai harapan. Diharapkan hasil assessment kerja kelompok membantu memperbaiki kualitas pembelajaran individual. VII. KESIMPULAN Penelitian Tindakan (Action Research) umumnya dipelajari dalam bidang ilmu pendidikan. Namun demikian, saat ini ilmu pendidikan diterapkan dan dimanfaatkan di hamper seluruh bidang disiplin ilmu, termasuk dosen pada perguruan tinggi memberikan pendidikan kepada mahasiswanya. Khusus pada disiplin ilmu teknik maupun rekayasa perangkat lunak ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu dosen memberikan pemahaman kepada mahasiswanya. Apalagi saat ini masuk pada masa terjadinya pandemi global yang memungkinkan pendidikan harus dijalankan di media daring atau virtual, tanpa meninggalkan kualitas pembelajaran. Dengan menerapkan PTK untuk bidang pemrograman, terbukti dosen pada akhirnya terbantu dalam melaksanakan pembelajaran di kelas virtual sekaligus memberikan assessment. Mahasiswa juga terbantu mengikuti pembelajaran. Terbukti dosen dan mahasiswa melaksanakan kerja bersama selama proses pembelajaran pada tahap analisis, evaluasi, dan menciptakan. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Dr Agung Sakti Pribadi, SH, MH Rektor Universitas Mulia yang telah memberikan kesempatan belajar kepada penulis. Dr Eddy Rachmad M.Pd atas diskusinya terkait PTK. Istriku dan anak-anak yang dengan suka cita selalu mendampingi dan memberikan dukungan. Teman-teman dan semua kolega yang tidak mungkin disebut di sini satu persatu. DAFTAR ACUAN [1] World Health Organization (WHO). Naming the coronavirus disease (COVID-19) and the virus that causes it. Available: https://www.who.int/. [2] CNN Indonesia. Jokowi Umumkan Dua WNI Positif Corona di Indonesia. Available: https://www.cnnindonesia.com/. [3] Kemmis, Stephen. McTaggart, Robin. The Action Research Planner. Deakin University, 1988. [4] Kemmis, Stephen. McTaggart, Robin. Nixon, Rhonda. The Action Research Planner: Doing Critical Participatory Action Research, Singapore: Springer, 2014. [5] Sommerville, Ian. Software Engineering. Rekayasa Perangkat Lunak. Erlangga, 2003.