Mengungkap Kajian Makna dalam Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di Kawasan Masjid Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Issue 5, December 2025, P. 312-321 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17939608 *Corresponding Author Email: [email protected], [email protected], [email protected] Mengungkap Kajian Makna dalam Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di Kawasan Masjid Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang Dariel Ramadhan Sahari, M. Daffa Amri 1,2 Prodi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang A B S T R A K Penelitian ini bertujuan untuk menyingkap makna simbolik serta nilai sosial-keagamaan yang terkandung dalam Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di wilayah Masjid Kauman, Semarang, sekaligus menganalisis peranannya dalam membentuk perilaku dan solidaritas keagamaan masyarakat. Penelitian ini juga berfokus pada bagaimana bahasa dan simbol dalam Pawai Kirab Maulid di kawasan Kauman membangun identitas keagamaan warga serta mencerminkan hubungan historis antara budaya Jawa, Arab, dan Cina. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan landasan teoretis dari etnolinguistik. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan sumber utama berupa wawancara langsung. Jenis data yang dianalisis mencakup data verbal (tuturan, selawat, istilah linguistik) dan data non-verbal (prosesi, simbol budaya) yang muncul selama rangkaian pawai. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pawai Kirab Maulid memiliki fungsi lebih dari sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai alat komunikasi budaya yang kompleks. Secara etnolinguistik, pawai ini berperan dalam menyampaikan nilai-nilai sosial dan spiritual melalui perpaduan bahasa, simbol. Esensi utama dari tradisi ini adalah ekspresi kecintaan kepada Rasulullah Saw dan upaya untuk menyiarkan ajaran agama agar Nabi Muhammad Saw selalu dikenang sebagai teladan terbaik (uswatun hasanah). Pawai KKQ juga berperan dalam memperkuat solidaritas sosial dan berfungsi sebagai sarana pelestarian tradisi budaya lokal, yang menunjukkan adanya akulturasi antara budaya Arab, Jawa, Cina yang serupa dengan simbol budaya. Oleh karena itu, pawai ini merefleksikan identitas sosial-keagamaan masyarakat Kauman yang dinamis dan berkomitmen pada nilai Islam Nusantara. A B S T R A C T This study aims to reveal the symbolic meanings and socio-religious values embedded in the Maulid Prophet Muhammad Saw Parade Tradition in the Kauman Mosque area of Semarang, as well as to analyze its important role in shaping community religious behavior and solidarity. The research also seeks to identify how language and symbols used in the Maulid Parade construct the community’s religious identity and reflect the historical relationship between Javanese, Arab, and Chinese cultures. This study employs a qualitative descriptive approach supported by a theoretical framework grounded in ethnolinguistics. Data were collected through observation, interviews, and documentation, with the primary sources obtained from direct interviews. The data consist of verbal elements (utterances, salawat, linguistic terms) and non-verbal elements (processions, cultural symbols) found throughout the event. Content analysis was used as the data analysis method. The results indicate that the Maulid Parade functions not only as a religious tradition but also as a complex form of cultural communication. From an ethnolinguistic perspective, the parade conveys social and spiritual values through a fusion of language and symbolic expressions. The essence of this tradition lies in expressing love for the Prophet Muhammad Saw and disseminating religious teachings so that he continues to be remembered as the best role model (uswatun hasanah). The KKQ Parade also strengthens social solidarity and serves as a medium for preserving local cultural traditions, illustrating an acculturation of Arab, Javanese, and Chinese cultures similar to the symbolic. Thus, the parade reflects the dynamic socioreligious identity of the Kauman community and its commitment to the values of Islam Nusantara. PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat yang terbentuk dari susunan bunyi yang dihasilkan oleh organ vokal manusia. Pengertian ini mencakup dua aspek penting. A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 Kata Kunci: Pawai, Maulid, Masjid Kauman, etnolinguistik Keywords: parade, Maulid, Kauman Mosque, ethnolinguistics. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Socius E-ISSN: 3025-6704 Pertama, bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap beserta makna atau tafsiran yang terkandung dalam pola bunyi tersebut. Bunyi itu sendiri merupakan gelombang yang ditangkap oleh indera pendengaran. Kedua, makna yang melekat pada pola bunyi, yakni isi atau pesan yang memunculkan respons tertentu ketika didengar. Bahasa dapat dikaji melalui dua perspektif, yaitu hakikat dan fungsinya. Dari sisi hakikatnya, para ahli melihat bahasa sebagai suatu sistem tanda (semiotik) yang tersusun dari berbagai simbol dan hubungan antarelemen di dalamnya. Sementara dari sisi fungsinya, bahasa terutama berperan sebagai alat komunikasi yang memungkinkan terjadinya interaksi dan hubungan antar manusia. Kehadiran komunikasi inilah yang membuat sistem sosial atau masyarakat dapat terbentuk; tanpa komunikasi, keberadaan masyarakat tidak mungkin terwujud (Rina Devianty, 2017). Dalam Wikipedia Indonesia (2007) dikatakan bahwa komunikasi adalah suatu mekanisme untuk menyampaikan informasi menggunakan sistem simbol yang sama. Komunikasi juga merupakan salah satu cabang ilmu untuk saling tukar-menukar informasi, emosi, gagasan, dan pemikiran dari satu individu ke individu lain atau ke sekelompok orang. Pada umumnya, komunikasi berlangsung melalui ucapan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Namun, jika tidak ada bahasa lisan yang sama-sama dipahami, komunikasi tetap bisa dilakukan menggunakan gerak tubuh, mimik wajah, atau melalui tindakan yang menunjukan maksud tertentu (Rachmayani A. N., 2015). Budaya merupakan sebuah konsep penting yang sering menjadi fokus kajian. Dalam pengertian formal, budaya mencakup pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai, makna, sistem sosial, agama, pandangan tentang waktu, pola peran masyarakat, hubungan manusia dengan lingkungan, perspektif tentang alam semesta, serta berbagai artefak dan hasil budaya yang diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Wujud budaya dapat dilihat melalui bahasa, pola tindakan, dan perilaku yang menjadi acuan bagi individu dalam beradaptasi, berinteraksi, dan berkomunikasi. Keseluruhan unsur tersebut membantu seseorang untuk dapat hidup, berfungsi, dan menjadi bagian dari komunitas tertentu sesuai konteks geografis, tingkat perkembangan teknologi, dan kondisi waktu yang melingkupinya (Sobarudin, 2019). Pemahaman mengenai komunikasi dan budaya melahirkan konsep komunikasi antarbudaya. Komunikasi antarbudaya berarti adanya interaksi antara individu yang memiliki latar belakang budaya yang beragam, baik perbedaan ras, etnis, maupun kondisi sosial ekonomi. Liliweri menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya adalah suatu proses menyalurkan informasi oleh seseorang melalui suatu media kepada orang lain yang berasal dari budaya berbeda, sehingga menghasilkan pengaruh tertentu. Sementara itu, Dodd melihat komunikasi lintas budaya sebagai bentuk interaksi yang terjadi pada tingkat individu, hubungan antarpersonal, maupun kelompok, di mana perbedaan latar budaya para peserta menjadi faktor penting yang membentuk cara mereka berkomunikasi (Hamad, 2020). Agama adalah suatu fenomena yang bisa diperoleh pengetahuan, dimengerti, serta dialami, bahkan dapat diterapkan. (Arif, 2018). Islam adalah sebuah keyakinan yang fundamental menjadi acuan hidup bagi manusia di dunia ini. Hadirnya Agama Islam dalam kehidupan membawa kesempurnaan bagi seluruh struktur umat manusia baik dalam aspek kehidupan pribadi maupun kolektif. Oleh karena itu, sebagai agama yang utuh, Islam diharapkan bisa menyelesaikan persoalan di luar komunitas Muslim (Sibaweh et al., 2023). Islam sebagai sistem kepercayaan monoteistik yang menegaskan keberadaan satu Tuhan, tidak hanya mempeljari agama saja, tetapi juga sebagai ajaran yang menekankan pentingnya kehidupan sosial. Islam mampu membaca realitas budaya setempat sekaligus memahami dinamika antara teks keagamaan dan kondisi nyata masyarakat. Peradaban Arab-Islam sendiri tumbuh dengan fondasi tekstual; teks menjadi acuan utama dalam memahami berbagai persoalan,
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Dariel Ramadhan Sahari, at., al/ Mengungkap Kajian Makna dan Al-Qur’an sebagai kumpulan wahyu berfungsi sebagai panduan hidup bagi manusia, terutama bagi umat Islam. Di dalamnya terkandung beragam penafsiran ilmiah yang menghubungkan wahyu dengan konteks sosial-historis pada masa turunnya. Ketika Islam masuk ke Nusantara, agama ini tidak hadir di tengah masyarakat tanpa budaya. Sebaliknya, tradisi lokal justru diterima, diadaptasi, dan diselaraskan dengan ajaran Islam. Islam tidak merusak atau menghapus praktik budaya yang telah mengakar, melainkan hadir untuk meluruskan keyakinan, sekaligus memperkaya, memberikan makna baru, dan memperkuat nilai budaya yang sudah lama hidup di tengah masyarakat tempat dakwah dilakukan (Darmoko, 2018). Dalam prinsip-prinsip ajaran Islam, kita menyepakati bahwa, Islam telah memperkenalkan konsep dan ajaran yang mendatangkan kebaikan bagi seluruh ciptaan. Saat kita meneliti agama ini sebagai suatu sistem nilai dan ajaran, Islam tampil sebagai sebuah pengajaran yang mengedepankan prinsip-prinsip etis dan sangat unggul dalam mengakui serta menghargai nilainilai kemanusiaan sebagai individu dan bagian dari masyarakat (Muthi et al., 2025). Budaya atau sering disebut sebagai kebudayaan adalah peninggalan dari leluhur yang masih ada hingga sekarang. Sebuah bangsa tidak akan mempunyai identitas yang unik tanpa adanya kebudayaan yang dimilikinya. Kebudayaan tersebut juga beradaptasi seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih (Bauto & Monto Laode, 2014). Dalam sebuah komunitas, kebudayaan merupakan sekumpulan nilai khas yang dijadikan pedoman hidup oleh para anggotanya. Karena berfungsi sebagai dasar dalam menentukan tindakan dan perilaku, kebudayaan biasanya berkembang menjadi tradisi yang mengakar kuat. Tradisi ini sulit diubah karena sudah melebur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang menjalaninya. Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kebudayaan memiliki terdapat tujuh unsur pokok, yakni bahasa, teknologi, sistem ekonomi, struktur sosial, pengetahuan, kepercayaan atau agama, serta kesenian. Dengan demikian, kebudayaan pada dasarnya adalah sebuah sistem yang mengatur dan menata kehidupan sebuah komunitas (Syamaun, 2019). Berbicara tentang tradisi, bukan hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Tradisi merupakan kebiasaan yang telah diwariskan oleh leluhur dan masih dipertahankan serta dilaksanakan oleh komunitas, yang mencakup pandangan bahwa metode yang sudah ada adalah yang terbaik dan paling benar. Dengan menggali lebih dalam, makna tradisi bisa dipahami sebagai hasil karya atau penciptaan yang diciptakan oleh manusia, baik berupa keyakinan maupun peristiwa yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi ini mencakup berbagai adat, seni, serta aktivitas lainnya (Saiffuddin & Nahdiyah, 2021). Islam Nusantara adalah gagasan yang menggambarkan cara Islam berinteraksi serta beradaptasi dengan kebudayaan setempat di kawasan Nusantara untuk menciptakan bentuk Islam yang khas dan berbeda melalui penggabungan nilai-nilai agama dengan seni, tradisi, dan nilai-nilai lokal. Perayaan Maulid Nabi adalah contoh konkret dari konsep ini. Pelaksanaan Pawai Maulid Nabi adalah salah satu bentuk ekspresi budaya yang muncul dari kombinasi antara nilainilai keagamaan (perayaan kelahiran Nabi Muhammad Saw) dan pelurusan budaya lokal yang beragam. Ini dapat dilihat dari elemen-elemen yang terlibat dalam pelaksanaannya yang tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga melibatkan pemakaian busana tradisional, pertunjukan musik lokal yang khas seperti rebana atau mawaris, serta dekorasi yang mencerminkan kekayaan budaya setempat (Ansari, 2024). Maulid Nabi merupakan istilah yang berakar dari kata walada–yulidu, yang berarti melahirkan. Jika walada dimaknai sebagai kelahiran, maka maulid merujuk pada waktu atau tempat terjadinya kelahiran seseorang. Tradisi peringatan Maulid Nabi mulai tumbuh dan menyebar di kalangan umat Islam setelah Nabi Muhammad Saw meninggal dunia. Secara keseluruhan, peringatan ini menjadi bentuk ungkapan syukur, kegembiraan, dan penghormatan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Socius E-ISSN: 3025-6704 umat kepada Rasulullah Saw. Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, Maulid Nabi atau yang dikenal sebagai Muludan dimanfaatkan oleh Walisongo sebagai salah satu metode dakwah. Berbagai kegiatan yang mereka adakan berhasil menarik perhatian masyarakat, sehingga mendorong mereka untuk mengucapkan syahadat sebagai tanda bahwa mereka menerima serta memeluk ajaran Islam (Hasan, 2015). Perayaan Maulid Nabi adalah salah satu momen penting bagi umat Islam. Hampir di setiap sudut kota Semarang, masyarakat selalu merayakan Maulid Nabi dengan penuh semangat. Tak jarang juga diadakan berbagai lomba yang berkaitan dengan agama, seperti lomba adzan, lomba membaca terjemahan Al-Quran, dan yang lebih sedikit dilaksanakan adalah pawai Maulid Nabi. Salah satu wilayah yang dikenal dengan perayaan maulidnya adalah Kecamatan Semarang Tengah, yang berada di Kota Semarang. Warga Semarang di sana sangat bersemangat menyambut Maulid Nabi (Khaerunnisa et al., 2019). Salah satu lokasi di Semarang yang menonjol dalam perayaan Maulid Nabi adalah area Masjid Kauman, Semarang Tengah, di Kota Semarang. Masjid Kauman menjadi salah satu tempat di mana penduduknya masih menjaga tradisi budaya mereka. Komunitas di sana memiliki cara yang khas untuk merayakan Maulid Nabi, di mana terdapat prosesi serta acara yang diselenggarakan seolah-olah sebuah festival lengkap dengan alunan musik. Keistimewaan ini mencerminkan adanya transformasi budaya dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad (Khaerunnisa et al., 2019). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan serta mendeskripsikan peran tradisi Maulid Nabi Muhammad Saw dalam memengaruhi praktik agama dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka dan analisis isi, diperoleh temuan bahwa perayaan Maulid Nabi menjalankan berbagai fungsi penting. Pertama, tradisi ini menjadi sarana untuk mengingat serta memuliakan. Perjalanan hidup serta ajaran Nabi Muhammad Saw. Melalui peringatan Maulid, umat Islam kembali menegaskan pentingnya meneladani nilai dan prinsip yang diajarkan Nabi sebagai pedoman utama dalam kehidupan beragama. Kedua, Perayaan Maulid Nabi berkontribusi dalam memperkuat hubungan sosial serta menumbuhkan solidaritas antarumat Muslim. Kegiatan ini membangun nuansa kebersamaan dan kecintaan kepada Nabi, sehingga ikatan persaudaraan dalam masyarakat semakin kokoh. Selain itu, tradisi Maulid menjadi momentum penting bagi pendidikan keagamaan. Melalui perayaan ini, masyarakat dapat kembali mempelajari kehidupan dan ajaran Nabi Muhammad Saw, sehingga pemahaman mereka mengenai ajaran Islam kian mendalam (Rohmah, 2015). Manfaat dari penelitian ini sangat beragam, baik dari aspek akademis maupun bagi masyarakat. Dari perspektif teori, penelitian ini menambah wawasan dalam kajian etnolinguistik di Indonesia dengan memungkinkan kita memahami bagaimana bahasa, simbol-simbol, serta praktik dalam tradisi Pawai Maulid di Kauman berperan sebagai cara bagi masyarakat untuk menunjukkan identitas dan nilai-nilai keagamaan mereka. Tradisi ini mengisyaratkan bahwa bahasa berfungsi lebih dari sekadar sarana komunikasi, melainkan sebagai alat untuk mengkomunikasikan nilai-nilai sosial dan spiritual (Sam’un, 2021). Di samping itu, kajian ini menegaskan bahwa budaya di komunitas Jawa pesisir, termasuk di kawasan Kauman, merupakan hasil interaksi antara elemen Arab dan Jawa yang saling melengkapi dan memperkaya. Dari sisi praktis, penelitian ini memiliki nilai dalam upaya melestarikan warisan budaya dan bahasa lokal agar tidak lenyap akibat modernisasi. Temuan dari penelitian ini juga dapat dimanfaatkan sebagai materi pembelajaran dalam bidang bahasa, budaya, dan agama, dengan tujuan mengenalkan kearifan lokal kepada generasi muda. Lebih dari itu, penelitian ini berpotensi memperkuat solidaritas antaranggota masyarakat, khususnya dalam konteks komunitas multietnis di Kauman, lantaran tradisi Pawai Maulid memainkan peran sebagai sarana untuk mempererat ikatan sosial
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Dariel Ramadhan Sahari, at., al/ Mengungkap Kajian Makna dan memperkuat identitas keislaman. Dengan demikian, penelitian ini membawa manfaat tidak hanya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga keharmonisan sosial, memperkuat nilai-nilai budaya, dan mendorong masyarakat agar tetap bangga terhadap tradisi keagamaan yang mereka anut. Meskipun tradisi Maulid Nabi telah banyak dikaji dari sudut pandang teologi, sosial, maupun budaya, kajian mengenai makna simbolik dan fungsi etnolinguistik dalam konteks Pawai Maulid di kawasan Masjid Kauman Semarang masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menekankan pada perubahan fungsi perayaan Maulid (Khaerunnisa et al., 2019), nilai pendidikan dalam tradisi Maulid (Hasan, 2015), atau dinamika sosial dan festivalisasi kegiatan keagamaan (Utami & Kalijaga, 2024). Namun, penelitian-penelitian tersebut belum mengkaji bagaimana bahasa, simbol, dan bentuk ritual dalam Pawai Maulid Kauman membangun identitas keagamaan masyarakat serta merefleksikan hubungan historis antara budaya Jawa, Arab, dan lokal pesisir Semarang. Selain itu, penelitian tentang tradisi Dugderan atau simbol Warak Ngendog menunjukkan bahwa simbol budaya di Semarang memiliki makna sosial yang kompleks. Namun, belum ada penelitian yang secara spesifik menghubungkan simbol-simbol tersebut dengan praktik Pawai Maulid sebagai bentuk ekspresi keagamaan yang dipengaruhi oleh interaksi multietnis. Dalam konteks Kauman, tradisi Pawai Maulid bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga medium komunikasi budaya yang memadukan bahasa, nyanyian religius, gerak ritual, visual simbolik, serta artefak budaya lokal. Celah penelitian ini menunjukkan bahwa diperlukan kajian yang tidak hanya mendeskripsikan prosesi pawai, tetapi juga mengungkap makna linguistik-simbolik yang terkandung di dalamnya melalui pendekatan etnolinguistik. Dengan demikian, gap penelitian terletak pada minimnya kajian yang mengintegrasikan analisis bahasa, simbol budaya, dan praktik ritual dalam Tradisi Pawai Maulid di Kauman. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan mengungkap bagaimana simbol-simbol budaya, tuturan religius, dan praktik ritual dalam pawai membentuk identitas sosial-keagamaan masyarakat Kauman sekaligus berfungsi sebagai sarana pelestarian nilai budaya Islam Nusantara. METODE PENELITIAN Penelitian ini memakai metode deskriptif kualitatif dengan tujuan memaparkan, memahami, dan menafsirkan makna simbolis serta nilai-nilai sosial keagamaan yang terdapat dalam Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di kawasan Masjid Kauman, Semarang Tengah. Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa bahasa merupakan sistem tanda (semiotik) yang terdiri dari elemen-elemen simbolis dan keterkaitan di antaranya (Rina Devianty, 2017). Pendekatan teoretis yang digunakan mengacu pada etnolinguistik, yang memandang bahasa dan simbol sebagai bagian integral dari sistem budaya, serta teori komunikasi budaya yang menjelaskan bagaimana pesan, nilai, dan identitas disampaikan melalui praktik budaya. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap relasi antara bahasa, simbol, dan struktur budaya yang hidup dalam komunitas, serta memberikan pijakan analitis yang kuat dalam memahami konteks sosial dan religius tradisi pawai. Data penelitian terdiri atas data verbal dan nonverbal. Data verbal meliputi tuturan masyarakat, bacaan selawat, penjelasan narasumber, serta istilah atau simbol linguistik yang muncul dalam rangkaian pawai. Data nonverbal mencakup bentuk prosesi, penggunaan simbolsimbol budaya seperti Warak Ngendog, busana peserta pawai, dekorasi, rute kirab, serta tindakan ritual yang dilakukan masyarakat selama perayaan. Relevansi data nonverbal ini merujuk pada pernyataan bahwa simbol, baik verbal maupun non-verbal, digunakan sebagai sarana komunikasi untuk mengekspresikan kebahagiaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Socius E-ISSN: 3025-6704 (Puspitasari, 2019). Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung terhadap penyelenggaraan pawai serta wawancara mendalam dengan informan yang memahami tradisi tersebut, termasuk Bapak M. S. Muhaimin, S.Sos. Sementara itu, data sekunder berasal dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen lain yang berkaitan dengan kajian Maulid Nabi, tradisi Kauman, simbol budaya di Semarang, serta teori etnolinguistik. Data dikumpulkan dengan tiga teknik utama, yakni observasi, wawancara mendalam, dan telaah dokumentasi. Observasi digunakan untuk mencatat berbagai fenomena budaya yang terlihat, seperti susunan pawai, penggunaan simbol-simbol, serta bentuk keterlibatan masyarakat. Sementara itu, wawancara mendalam digunakan untuk memperoleh informasi mengenai sejarah tradisi, makna simbolik yang terkandung di dalamnya, fungsi sosial dan keagamaan, serta pandangan masyarakat terhadap pelaksanaan pawai. Studi dokumentasi dilakukan dengan menelaah arsip, foto, rekaman, serta literatur pendukung untuk memberikan landasan teoritis dan memperkuat temuan lapangan. Data dianalisis menggunakan metode analisis isi yang memungkinkan peneliti menafsirkan makna yang terkandung dalam simbol, bahasa, dan praktik budaya. Metode ini relevan dengan pendekatan interaksi simbolik yang menjelaskan bahwa makna budaya dibentuk dan dipertahankan melalui interaksi sosial berdasarkan simbol yang disepakati bersama (Cahyono, 2018). Proses analisis data dilakukan melalui tiga langkah, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi, peneliti memilah serta mengorganisasi data yang berkaitan dengan fokus penelitian. Tahap selanjutnya adalah penyajian data, di mana informasi disusun secara sistematis agar memudahkan proses interpretasi. Terakhir, pada tahap penarikan kesimpulan, peneliti menghubungkan temuan lapangan dengan konsep-konsep etnolinguistik. dan komunikasi budaya untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh tentang fungsi simbolik serta nilai-nilai keagamaan dalam tradisi pawai. Hasil analisis data disajikan menggunakan metode deskriptif analitis, yaitu dengan memaparkan temuan secara naratif dan menjelaskan hubungan antara data empiris dengan konsep teoretis yang digunakan. Metode ini sejalan dengan pandangan bahwa bahasa dan simbol dalam tradisi berfungsi sebagai alat menyampaikan nilai sosial dan spiritual (Saiffuddin & Nahdiyah, 2021). Penyajian ini bertujuan memberikan gambaran yang runtut, logis, dan akurat mengenai struktur tradisi, makna simbolik, serta peranan pawai sebagai praktik budaya dan keagamaan di masyarakat Kauman Semarang. Melalui metode ini, hasil penelitian dapat disampaikan secara sistematis dan sesuai dengan kaidah penulisan akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam ranah komunikasi sosial dan keagamaan, seperti yang terjadi dalam Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid Kauman Semarang, fungsi bahasa melampaui sekadar menjadi alat interaksi, tetapi juga berperan sebagai sistem simbol yang mengandung dan menyebarkan nilai-nilai budaya. Sebuah sistem tanda, termasuk bahasa, akan beroperasi dengan baik jika makna, ide, dan konsep yang diwakilinya disepakati serta dipahami bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam komunikasi. Perayaan Maulid Nabi adalah kesempatan yang signifikan bagi umat Islam yang ditandai dengan beragam kegiatan bernuansa agama. Di Semarang, khususnya di area Masjid Kauman, tradisi ini dilaksanakan dengan menjaga secara kuat nilai-nilai religius dan budaya setempat. Dalam tradisi ini, simbol-simbol baik verbal maupun melalui praktik ritual non-verbal digunakan sebagai sarana komunikasi untuk mengekspresikan kebahagiaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw (Puspitasari, 2019). Maulid Nabi ini sudah diperingati sejak lama oleh masyarakat Masjid Agung Kauman Semarang, dengan peringatan yang selalu dibuat spesial karena Nabi Muhammad Saw. Merupakan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Dariel Ramadhan Sahari, at., al/ Mengungkap Kajian Makna sosok yang mulia, rangkaian tersebut diadakan sebagai bentuk kegembiraan untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Karena perasaan gembira atas kelahiran Nabi Muhammad Saw, yang dapat memberikan manfaat. Husna et al., (2025) menjelaskan dalam cerita singkat tentang Abu Lahab yang memperoleh keringanan hukuman setiap hari Senin karena ketika Nabi Muhammad Saw lahir merasa gembira. Tradisi Maulid Nabi Muhammad Saw memberi manfaat yang baik bagi masyarakat sekitar Masjid Agung Kauman Semarang, dengan praktik yang terbuka dan transparan, tanpa merusak atau menyepelekan tradisi dan budaya yang telah ada. Kegiatan ini menjadi sarana promosi bagi suatu daerah atau kota, menarik kunjungan wisatawan, dan memperkaya khazanah budaya sehingga dapat menunjang perkembangan masyarakat secara menyeluruh. Perayaan tersebut dilaksanakan dengan rasa kegembiraan sebagai bukti cinta kepada Nabi Muhammad Saw, hal ini terlihat dari antusiasme dan semangat masyarakat sekitar Masjid Kauman Semarang saat perayaan (Umam, 2024). Berdasarkan informasi wawancara dari Bapak M.S. Muhaimin S.sos, Masjid Agung Kauman Semarang setiap tahun menyelenggarakan tiga jenis pawai. Pertama, pawai Dugderan, Tradisi Dugderan diwarnai dengan lambang-lambang dari keagamaan serta budaya masyarakat Semarang. Dalam perspektif etnolinguistik, Warak Ngendog dipandang sebagai simbol budaya yang merepresentasikan terjadinya integrasi sosial antara tiga kelompok etnis di Semarang, terdapat interaksi sosial di antara etnis Jawa, Cina, dan Arab. Tradisi Dugderan, yang berakar dari budaya pesisir Jawa dan bernuansa Islam, telah berkembang menjadi perayaan kolektif bagi masyarakat kota ini. Hal ini mencerminkan cara masyarakat menafsirkan tradisi tersebut, terhadap Warak Ngendog menjadikan figur ini sebagai ikon utama dalam tradisi Dugderan dan sebagai unsur penting yang membentuk identitas budaya lokal yang dibentuk melalui pemaknaan terhadap simbol-simbol di lingkungan mereka serta melalui interaksi sosial (Cahyono, 2018). Sejalan dengan itu Puspitasari., (2019) menegaskan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam kebudayaan karena menjadi unsur dominan dalam perkembangan budaya. Bahasa menempati posisi penting dalam kehidupan manusia, sehingga bahasa dan budaya tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling berkaitan erat dan saling memengaruhi dalam membentuk cara pandang serta praktik hidup masyarakat. Dan Warak Ngendong adalah hasil kombinasi tiga hewan; kepala naga (dari Cina), tubuh burak atau unta (dari Arab), dan kaki kambing (dari Jawa), bukan sekedar sebagai representasi visual, melainkan juga sebuah simbol linguistik yang dikonstruksi secara kolektif dan dianggap melambangkan persatuan antara tiga mayoritas tersebut. Mengacu pada teori interaksi simbolik Mead, makna Warak Ngendog dibentuk dan dipertahankan melalui interaksi sosial masyarakat Semarang. Interprestasi bersama bahwa Warak Ngendog melambangkan persatuan ketiga etnis tersebut, serta maknanya yang dikaitkan dengan sesuatu pahala kesucian di akhir Ramadhan (ngendog melambangkan pahala), menunjukkan adanya pemahaman bersama terhadap simbol yang mempengaruhi perilaku dan praktik budaya. Warak Ngendong digambarkan sebagai makhluk dengan bulu keriting yang beraneka warna, mencerminkan kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat Semarang. Warak Ngendong membawa maknanya adalah bahwa setiap orang yang mampu menjaga kesucian selama bulan Ramadhan akan memperoleh pahala ketika bulan tersebut berakhir. (Rachma & Satriya, 2025). Tradisi kedua adalah Pawai Takbiran Keliling. Kegiatan ini merupakan praktik yang sering dilakukan masyarakat Muslim di Indonesia, termasuk masyarakat sekitar Masjid Agung Kauman Semarang. Pawai takbir dilaksanakan pada malam Idulfitri dan juga pada malam Iduladha. Tradisi ini juga menjadikan bahasa sebagai alat informasi dan menyatukan, menguatkan identitas Muslim dalam ruang publik. Dasar religius dari tradisi tersebut merujuk pada Q.S. Al-Baqarah ayat 185,
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Socius E-ISSN: 3025-6704 yang menegaskan perintah untuk mengagungkan Allah SWT setelah umat Islam menuntaskan ibadah puasa, yang berarti agar umat Muslim menyempurnakan bilangan puasanya dan membesarkan nama Allah sebagai bentuk rasa syukur atas petunjuk-Nya. Seiring perkembangan teknologi, masyarakat Masjid Agung Kauman Semarang menunjukkan kreativitas yang semakin tinggi dalam menghadirkan arak-arakan atau miniatur tematik untuk memeriahkan perayaan tersebut (Utami & Kalijaga, 2024). Tradisi ketiga adalah Pawai Kirab Maulid, yang juga dikenal sebagai Pawai KKQ (Kampung Qur’an Kauman). Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kirab Merupakan aktivitas yang dijalankan secara kolektif dan berurutan dari depan ke belakang, umumnya dalam konteks upacara adat, perayaan keagamaan, atau acara sejenis (Saputra et al., 2023). Bahasa berperan penting dalam kegiatan kirab karena berfungsi sebagai sarana penyampaian dan simbol identitas budaya yang krusial. Menurut Bapak M. S. Muhaimin, S.Sos., Pawai KKQ adalah agenda terbesar dalam rangkaian Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di Masjid Agung Kauman. Rangkaian kegiatan Maulid dimulai sejak 1 Rabiulawal melalui pengajian rutin setiap selesai salat Asar. Puncak peringatan, yaitu Takhtim Maulid, diselenggarakan pada 12 Rabiulawal dan berlangsung dari selepas Dzuhur hingga malam hari. Adapun Pawai Kirab Maulid sebagai bentuk syiar sekaligus penutup rangkaian kegiatan dilaksanakan pada malam 13 Rabiul Awwal setelah salat Maghrib. Pawai Kirab Maulid memiliki rute yang cukup ikonik, dimulai dari masjid, kemudian melintasi Jalan Kauman, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Gajah Mada, Jalan Pemuda, melewati kawasan Kota Lama, dan berakhir di Alun-alun Masjid Kauman. Meskipun tidak ada tema khusus yang diwajibkan, esensi dari pawai ini sangat dijunjung tinggi. Pawai ini mengandung dua makna utama: pertama, sebagai ekspresi kecintaan kepada Rasulullah Saw, dan kedua, sebagai upaya mensyiarkan Maulid Nabi agar masyarakat selalu mengingat Nabi Muhammad Saw dan menjadikan beliau sebagai teladan terbaik (uswatun hasanah). Selama pawai berlangsung, inti dari kegiatan ini adalah mengajak masyarakat dan peserta untuk memperbanyak membaca selawat di sepanjang rute perjalanan, menjadikannya sebuah momen syiar masal untuk menyebarkan kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. Jadi dengan diselenggarakanya pawai tahunan ini, penyelenggara berharap agar masyarakat di sekitar masjid Kauman ini dapat terus hidup dengan cinta kepada nabi, dengan mengikuti sunah dan ajaranajarannya. Terkait penelitian ini, terdapat beberapa studi terdahulu yang memiliki keterkaitan. Salah satunya membahas kegiatan keagamaan Islam yang mengikuti Rukun Islam dan berpusat di Masjid Agung Kauman Semarang. Berbagai aktivitas tersebut umumnya diselenggarakan oleh Takmir Masjid Agung dan mengikuti tradisi yang telah diturunkan secara turun-temurun. Kondisi lingkungan di sekitar Kampung Kauman juga memberi pengaruh terhadap kegiatan keagamaan tersebut, terutama karena lokasinya yang berdekatan dengan kawasan perdagangan Pasar Johar. Keberadaan pusat perdagangan itu bahkan turut membentuk dinamika sosial dan religius masyarakat di sekitar masjid, kegiatan Islami seperti Maulid Nabi, Pengajian Ahad pagi dan lain sebagainya, membuat kampung Kauman menjadi lebih beragam yang dibuktikan atas kerjasama antara kampung Kauman dengan Pasar Johar (Sandri D, & Wahyono H, 2013). Dengan temuan keberlangsungan Islami ini memudahkan penelitian kami mengkaji tentang adanya makna dalam Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di Kawasan Masjid Kauman. Pada penelitian kami, bertujuan untuk mengungkap makna simbolik dan nilai-nilai keagamaan yang tersirat dalam tradisi peringatan Maulid Nabi di Kawasan Masjid Agung Kauman Semarang, serta menganalisis peranan penting dalam membentuk perilaku dan solidaritas keagamaan masyarakat. Dan menjelaskan tentang pentingnya memperkuat hubungan sosial, rasa solidaritas di kalangan Muslim dan berfungsi sebagai sarana pendidikan agama, pelestarian budaya yang ada.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 312-321 Dariel Ramadhan Sahari, at., al/ Mengungkap Kajian Makna SIMPULAN Tradisi Pawai Maulid Nabi Muhammad Saw di kawasan Masjid Kauman, Semarang Tengah, yang puncaknya diwujudkan dalam Pawai Kirab Maulid (KKQ) pada malam ke-13 Rabiul Awal, bukan hanya berfungsi sebagai ritual keagamaan, melainkan juga sebagai medium komunikasi budaya yang kompleks. Secara etnolinguistik, pawai ini berperan sentral dalam menyampaikan nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat Kauman melalui perpaduan bahasa, simbol, dan praktik ritual. Esensi utama dari tradisi ini adalah ekspresi kecintaan kepada Rasulullah Saw dan upaya untuk menyiarkan ajaran agama agar Nabi Muhammad Saw selalu dikenang sebagai teladan terbaik (uswatun hasanah). Selain itu, Pawai KKQ memainkan peran vital dalam memperkuat solidaritas sosial di kalangan komunitas Muslim dan berfungsi sebagai sarana pelestarian tradisi budaya lokal, yang menunjukkan adanya akulturasi antara budaya Arab dan Jawa, serupa dengan simbol budaya Warak Ngendog yang melambangkan persatuan tiga etnis (Jawa, Cina, Arab). Dengan demikian, pawai ini merefleksikan identitas sosialkeagamaan masyarakat Kauman yang dinamis dan berkomitmen pada nilai Islam Nusantara. SARAN Untuk memastikan keberlanjutan tradisi yang kaya makna ini, disarankan agar semua pihak yang terlibat terutama generasi muda dan lembaga lokal terus berkolaborasi secara aktif dalam menjaga dan melestarikan Tradisi Pawai Maulid. Keterlibatan ini krusial untuk mencegah warisan budaya dan nilai keislaman lokal ini hilang akibat arus modernisasi, serta untuk memperkuat solidaritas sosial di tengah keberagaman komunitas Kauman. Selain itu, secara akademis, temuan dari penelitian ini sangat disarankan untuk diintegrasikan sebagai bahan ajar dalam disiplin ilmu bahasa, budaya, dan agama, yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menanamkan kearifan lokal kepada generasi muda. Langkah ini akan memastikan bahwa makna etnolinguistik dan nilai akulturasi Islam Nusantara yang terkandung dalam Pawai Kirab Maulid dapat diwariskan dengan bangga dan berkelanjutan. REFERENSI Ansari, A. (2024). Islam Nusantara: Keanekaragaman Budaya Dan Tradisi. LISAN AL-HAL: Jurnal PengembanganPemikiran Dan Kebudayaan, 18(2), 226–247. https://doi.org/10.35316/lisanalhal.v18i2.226-247 Arif, M. dan yuli darwati. (2018). Interaksi Agama Dan Budaya. Empirisma, 27(1), 55–64. Asiva Noor Rachmayani. (2015). Memahami Ilmu Komunikasi. March, 6. Bauto, & Monto Laode. (2014). Perspektif Agama Dan Kebudayaan Dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 23(2), 11-25. Cahyono, C. (2018). WARAK NGENDOG DALAM TRADISI DUGDERAN SEBAGAI REPRESENTASI IDENTITAS MUSLIM URBAN DI KOTA SEMARANG. Jurnal Theologia, 29(2), 339– 362. https://doi.org/10.21580/teo.2018.29.2.2937 Darmoko, M. (2018). Lesbian Gay Bisexual Transgender (Lgbt) Sebagai Cosmopolitan Paradox Life Style Dan Penanganannya Melalui Pendidikan Tinggi. Khazanah: Jurnal Studi Islam Dan Humaniora, 16(2), 177. https://doi.org/10.18592/khazanah.v16i2.2324 Devianty, R. (2017). Bahasa sebagai cermin kebudayaan. Jurnal Tarbiyah, 24(2). Hamad, I. (2020). Komunikasi dan Budaya Populer. Jurnal Peurawi, 1(1), 1–19. Hasan, M. (2015b). Nilai‐nilai Pendidikan Islam dalam Maulid Nabi Muhammad Saw. Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman, 1(1), 180–213. https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v1i1.3347