scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Peningkatan Pengetahuan Keselamatan Pasien Praoperatif Melalui Edukasi Prinsip 3p Berbasis Fgd

Sirajudin Noor, Silvi Yana Aswadiah, Luna Rafhifah Aziz, Syalwa Dwi Novianti, Nita Oktaviani, Naula Ajri Hauna

Full text

2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Sirajudin Noor, dkk.) |105-110 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 105-110 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17950046 Peningkatan Pengetahuan Keselamatan Pasien Praoperatif Melalui Edukasi Prinsip 3p Berbasis Fgd Enhancing Preoperative Patient Safety Knowledge Through FGD-Based 3P Principle Education Sirajudin Noor1, Silvi Yana Aswadiah2*, Luna Rafhifah Aziz3, Syalwa Dwi Novianti4, Nita Oktaviani5, Naula Ajri Hauna6 Keperawatan Program Sarjana, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Email: [email protected], [email protected]nvj.ac.id2*, [email protected]nvj.ac.id3, 231071[email protected]pnvj.ac.id4, 231071[email protected]j.ac.id5, 231071[email protected]pnvj.ac.id6 Abstrak Keselamatan pasien pada fase praoperasi merupakan aspek yang sangat penting dalam mencegah kesalahan terkait verifikasi identitas pasien, lokasi tindakan, serta prosedur pembedahan. Masyarakat sebagai mitra dalam program ini masih menunjukkan pemahaman yang terbatas mengenai prinsip 3P (Tepat Pasien, Tepat Lokasi, Tepat Prosedur). Pengabdian ini menggunakan pendekatan desain pre-eksperimental one-group pretest–posttest dengan melibatkan 10 anggota masyarakat yang belum pernah menerima edukasi keselamatan praoperasi. Edukasi dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang dilengkapi dengan leaflet dan materi presentasi, serta pengisian kuesioner terkait prinsip 3P. Hasil menunjukkan peningkatan skor pemahaman dari rata-rata 5,6 pada saat pretest menjadi 9,7 pada posttest, atau meningkat sebesar 73,21%. Seluruh peserta mengalami peningkatan pengetahuan terkait keselamatan praoperatif. Program ini membuktikan bahwa edukasi berbasis FGD efektif dan berpotensi diterapkan sebagai bagian dari edukasi standar untuk memperkuat budaya keselamatan. Kata kunci: Keselamatan Pasien; Edukasi Praoperasi; FGD; Prinsip 3P. Abstract Patient safety in the preoperative phase is a critical aspect in preventing errors related to patient identity verification, surgical site, and procedural preparation. The community targeted in this program demonstrated limited understanding of the 3P principles (Right Patient, Right Site, Right Procedure). This community service activity employed a pre-experimental one-group pretest–posttest design involving 10 participants who had never received education on preoperative safety. Education was delivered through a Focus Group Discussion (FGD) complemented with leaflets and presentation materials, along with a questionnaire assessing participants’ knowledge of the 3P principles. The results showed a substantial increase in knowledge scores, from an average of 5.6 during the pretest to 9.7 in the posttest, reflecting a 73.21% improvement. All participants experienced an increase in understanding related to preoperative patient safety. This program demonstrates that FGD-based education is effective and has the potential to be integrated as a standard component of community health education to strengthen patient safety culture. Keywords: Patient Safety; Preoperative Education; FGD; 3P Principles. Article Info Received date: 20 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 13 Desember 2025 PENDAHULUAN Keselamatan pasien di fase praoperasi tetap menjadi tantangan besar di tingkat global dan nasional. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa insiden yang tidak diinginkan selama operasi menyumbang sekitar 50% dari kasus keselamatan pasien di rumah sakit di seluruh dunia (Handaya & Werdana, 2019). Situasi ini juga terlihat di Indonesia, di mana penerapan program keselamatan pasien bervariasi antar fasilitas kesehatan dan sering terhambat oleh rendahnya tingkat literasi kesehatan pasien, kesalahpahaman, serta kurangnya partisipasi keluarga dalam proses praoperasi (Insyah et al., 2022). Analisis kondisi menunjukkan bahwa masyarakat yang terlibat, yaitu pasien dan keluarga yang akan menjalani pembedahan, mengalami kesulitan dalam memahami pentingnya mereka 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Sirajudin Noor, dkk.) |105-110 dalam proses verifikasi identitas, penandaan lokasi, dan konfirmasi prosedur sebelum operasi dilakukan. Rendahnya pemahaman dan kurangnya kesempatan bagi pasien untuk bertanya menyebabkan proses praoperasi cenderung berjalan secara searah tanpa partisipasi aktif (Listiowati et al., 2023). Berbagai penelitian mendukung bahwa ketidakaturan dalam proses praoperasi dapat meningkatkan risiko klinis. Sebagai contoh, beberapa penelitian menemukan bahwa kurangnya edukasi yang efektif berkontribusi pada ketidakseragaman dalam penerapan prinsip 3P (Tepat Pasien, Tepat Prosedur, Tepat Lokasi) (Adelia et al., 2024). Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa pelaksanaan daftar periksa keselamatan bedah dengan baik dapat menurunkan frekuensi infeksi luka operasi dan durasi rawat inap (Amiruddin et al., 2018). Di sisi lain, intervensi pendidikan praoperasi telah terbukti secara signifikan mengurangi kecemasan pasien, menggambarkan bahwa kesiapan mental berkontribusi terhadap keberhasilan tindakan operasi (Pramono et al., 2024). Dari perspektif etika dan hukum medis, masih ada masalah miskomunikasi yang terjadi dalam proses persetujuan terinformasi, sehingga menjadi kendala dalam menjamin keselamatan pasien dan menghindari kesalahan sebelum operasi (Sutarno & Maryati, 2021). Bahkan, beberapa studi menunjukkan bahwa isu teknis seperti pengendalian infeksi, kebersihan alat, serta kepatuhan tim medis berkontribusi pada risiko insiden setelah operasi yang memerlukan perhatian yang lebih serius (Supriyatin et al., 2025). Setelah menganalisis situasi ini, ditemukan bahwa masalah utama bagi masyarakat mitra adalah minimnya pemahaman dan partisipasi dalam aspek keselamatan sebelum operasi, khususnya yang berhubungan dengan prinsip 3P. Padahal, fase sebelum operasi adalah momen penting di mana kesalahan dapat menyebabkan risiko klinis, menyebabkan kecemasan pada pasien, hingga meningkatkan kemungkinan terjadinya malpraktik. Untuk itu, dibutuhkan solusi yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak hanya menghadirkan edukasi, tetapi juga memastikan interaksi dua arah yang meningkatkan pemahaman pasien serta keluarganya. Program ini menawarkan pendekatan berupa pendidikan yang memakai metode Focus Group Discussion (FGD) terkait prinsip 3P dan keselamatan sebelum operasi. FGD dipilih karena dapat memfasilitasi diskusi interaktif, pertukaran pengalaman, serta klarifikasi informasi secara langsung antara fasilitator dengan pasien dan keluarganya. Proses yang akan dilaksanakan mencakup: pemetaan kebutuhan edukasi masyarakat mitra, penyusunan materi 3P berdasarkan bukti dari penelitian, pelaksanaan FGD terstruktur dengan teknik tanya jawab dan simulasi, serta evaluasi pemahaman peserta mengenai proses praoperasi. Diharapkan keikutsertaan pasien dan keluarga bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai partisipan aktif yang memberikan umpan balik, berbagi pengalaman, serta berkontribusi dalam proses verifikasi yang bersifat simulatif. Luaran yang diinginkan dari aktivitas ini mencakup peningkatan wawasan dan partisipasi pasien serta keluarga dalam tahap praoperasi, penyusunan modul pendidikan berbasis FGD mengenai prinsip 3P, serta penguatan budaya keselamatan bagi pasien di tempat layanan kesehatan. Melalui metode pendidikan yang kolaboratif dan didukung oleh bukti-bukti ilmiah dari berbagai riset sebelumnya, program ini diharapkan dapat menawarkan solusi nyata untuk meningkatkan mutu keselamatan praoperasi serta meminimalisir kemungkinan risiko yang muncul selama operasi. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 2 November 2025 berlokasi di Jl. Raya Cantex No. 27, RT 07/RW 03, Ciracas, Jakarta Timur. Mitra kegiatan adalah masyarakat umum yang berdomisili di sekitar lokasi pelaksanaan dengan jumlah peserta 10 orang. Seluruh peserta yang dipilih merupakan masyarakat yang belum pernah mendapatkan edukasi mengenai keselamatan pasien praoperasi, sehingga peserta memberikan persetujuan mengikuti edukasi secara sukarela untuk meningkatkan pemahaman mereka terkait prinsip 3P. Kegiatan ini melibatkan sepuluh mahasiswa 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Sirajudin Noor, dkk.) |105-110 Program Studi S1 Keperawatan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta sebagai fasilitator lapangan dan pendukung teknis pelaksanaan program. Metode kegiatan yang digunakan adalah pendidikan kesehatan dan penyadaran masyarakat yang dipadukan dengan teknik Focus Group Discussion (FGD) sebagai media utama penyampaian edukasi. Proses pelaksanaan menggunakan beberapa alat bantu, antara lain laptop, tablet, PowerPoint, leaflet edukasi, serta kuesioner pretest-posttest yang disusun dalam bentuk Google Forms. Pelaksanaan kegiatan dibagi ke dalam beberapa tahap terstruktur untuk memastikan edukasi dapat diterapkan secara efektif pada mitra. Tahap kegiatan ini meliputi: 1. Tahap Persiapan Tim pelaksana melakukan koordinasi dengan mitra terkait pemetaan kebutuhan edukasi, penyusunan materi mengenai prinsip 3P (Tepat Pasien, Tepat Lokasi, Tepat Prosedur). Pada tahap ini turut dipersiapkan media edukasi berupa PowerPoint, leaflet, serta kuesioner pretest– posttest. 2. Registrasi Peserta dan Pengisian Pretest Peserta melakukan registrasi yaitu mengisi daftar hadir, kemudian peserta diarahkan untuk mengisi kuesioner pretest yang terdiri dari 10 pertanyaan mengenai prinsip 3P untuk mengukur tingkat pengetahuan awal mereka. 3. Penyampaian Edukasi dan Sesi Diskusi Fasilitator memberikan edukasi mengenai keselamatan pasien praoperasi, prinsip 3P (Tepat Pasien, Tepat Lokasi, Tepat Prosedur), peran pasien dan keluarga dalam verifikasi identitas, serta pentingnya komunikasi sebelum tindakan operasi. Edukasi diberikan dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) yang memungkinkan terjadinya diskusi interaktif serta klarifikasi terhadap pertanyaan yang diajukan peserta. Seluruh peserta diberikan leaflet sebagai media pembelajaran tambahan. 4. Pengisian Posttest dan Evaluasi Setelah seluruh rangkaian edukasi dan diskusi selesai, peserta akan diarahkan untuk mengisi kuesioner posttest untuk menilai peningkatan pengetahuan. Tim kemudian melakukan analisis perbandingan antara skor pretest dan posttest sebagai bahan evaluasi kegiatan pengabdian. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan secara tatap muka. Mahasiswa berperan aktif dalam memandu diskusi, mengoperasikan alat edukasi, membantu distribusi materi pembelajaran, serta mendukung proses evaluasi. HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK Hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini diperoleh melalui pretest dan posttest. Tabel 1 menunjukkan karakteristik dari responden. Kuisioner yang telah disiapkan diisi oleh 10 orang responden yaitu mayoritas oleh perempuan sebanyak 6 orang atau 60%, diikuti dengan laki laki sebanyak 4 orang atau 40%. Pada kategori kelompok usia, responden mayoritas merupakan dewasa (1859 tahun) sebanyak 8 orang atau 80% dari keseluruhan responden. Tabel 1. Karakteristik responden kegiatan Variabel N % Jenis Kelamin Perempuan 6 60 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Sirajudin Noor, dkk.) |105-110 Laki-laki 4 40 Usia Remaja (10-18 tahun) 2 20 Dewasa (19-59 tahun) 8 80 Gambar 1. Diagram Karakteristik Responden Perolehan poin pada pretest dan posttest menunjukkan level pengetahuan responden mengenai keselamatan pasien praoperasi. Hasil pada pretest yang diberikan sebelum penyuluhan materi menunjukkan bahwa 50% responden memiliki nilai kurang dengan nilai rata-rata sebesar 5.6. Dan hasil dari posttest untuk menilai tingkat pengetahuan setelah diberikan materi menunjukkan bahwa 100% responden memiliki nilai dengan kategori tinggi dan nilai rata-rata sebesar 9.7. Berdasarkan hasil tersebut, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan dengan rata-rata sebesar 4.1 atau kenaikan 73,21%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang bermakna antara nilai pretest dan posttest. Tabel 2. Tingkat pengetahuan responden berdasarkan hasil pre-post dan posttest Tingkat Pengetahuan Pretest Posttest N % N % Rendah (1-4) 4 40 0 0 Sedang (5-7) 6 60 0 0 Tinggi (8-10) 0 0 10 100 Total 10 100 10 100 Rata-rata 5.6 9.7 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Sirajudin Noor, dkk.) |105-110 Gambar 2. Perbandingan perolehan nilai pretest dan posttest Hasil kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta mengenai keselamatan pasien praoperasi setelah dilaksanakannya edukasi berbasis FGD. Skor rata-rata responden pada tes praedukasi adalah 5,6, dan meningkat menjasi 9,7 setelah intervensi edukasi. Peningkatan sebesar 4,1 poin ini menggambarkan bahwa metode penyampaian edukasi yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini efektif dalam memingkatkan pemahaman masyarakat. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa pendidikan kesehatan praoperasi dapat memperkuat pemahaman responden tentang langkah-langkah keselamatan pasien sebelum operasi. Hasil ini sejalan dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa edukasi praoperasi dapat meningkatkan pengetahuan, kesiapan, dan interaksi pasien dalam proses keselamatan praoperasi (Arif et al., 2022; Habibillah et al., 2025). Ketika dilihat berdasarkan karakteristik responden, mayoritas peserta merupakan kelompok usia dewasa, yang dalam berbagai literatur disebut memiliki kapasitas kognitif yang lebih stabil dan kemampuan memahami informasi kesehatan dengan lebih baik. Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung keberhasilan edukasi pada kegiatan ini. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas pendidikan praoperasi (Atomsa et al., 2024). Secara umum, edukasi praoperasi memberikan manfaat penting, seperti pemahaman tentang verifikasi identitas, penandaan lokasi operasi, protokol puasa, penggunaan alat steril, serta komunikasi efektif dengan tenaga medis. Temuan ini juga didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa program edukasi struktur CERMAT-OP dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap prosedur praoperasi hingga 77,78% (Yuriasti et al., 2025). Meskipun demikian, kegiatan ini memiliki keterbatasan seperti jumlah responden yang sedikit dan tidak adanya kelompok pembanding. Namun, sebagai kegiatan penyabdian masyarakat, hasil yang dicapai sudah mampu menunjukkan indikasi keberhasilan program edukasi dalam meningkatkan pengetahuan mitra sasaran. SIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan edukasi berbasis FGD serta pemberian materi informasi terbukti berperan efektif dalam meningkatkan pengetahuan peserta mengenai keselamatan pasien praoperasi. Kenaikan skor posttest yang signifikan dibandingkan pretest menunjukkan bahwa penyampaian edukasi yang terstruktur mampu memperkuat pemahaman, kesiapan, dan kesadaran peserta sebelum menjalani prosedur operasi. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi kegiatan edukasi kesehatan sebagai bagian dari pelayanan praoperasi standar, sehingga mampu mendorong penerapan prosedur bedah yang lebih aman dan mendukung peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Keterbatasan kegiatan ini, yaitu jumlah peserta yang hanya 10 orang, menunjukkan bahwa pelaksanaan pengabdian selanjutnya perlu melibatkan jumlah peserta yang lebih besar dan beragam agar hasil yang diperoleh lebih representatif 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Peningkatan Pengetahuan (Sirajudin Noor, dkk.) |105-110 dan mampu memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kebutuhan edukasi praoperasi di masyarakat. REFERENSI Adelia, N., Resmalita, N. A., Girsang, E., Lestari, S., Nasyushan, R., Kedokteran, F., Gigi, K., & Kesehatan, I. (2024). Analysis of The Implementation Of Patient Safety Targets In Professional Health Care at 3M Plus Tembilahan Hospital. Journal of Universal Studies, 4(11). http://eduvest.greenvest.co.id Amiruddin, A., Emilia, O., Prawitasari, S., & Prawirodihardjo, L. (2018). Hubungan Kepatuhan Tim Bedah dalam Penerapan Surgery Safety Checklist dengan Infeksi Luka Operasi dan Lama Rawat Inap pada Pasien Seksio Sesarea di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Barru. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 5(3), 145. https://doi.org/10.22146/jkr.39666 Arif, T., Fauziyah, M. N., & Astuti, N. S. (2022). PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PERSIAPAN PRE OPERATIF MELALUI MULTIMEDIA VIDEO TERHADAP KECEMASAN PASIEN PRE OPERASI ELEKTIF. Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada, 11(2), 174–181. https://ojs.widyagamahusada.ac.id Atomsa, L., Temesgen, S., Dechasa, A., Ayana, M., Amena, N., Teklehymanot, D., & Regea, F. (2024). Preoperative patient teaching practices and associated factors among nurses working at hospitals in West Shoa Zone, Ethiopia, 2022: a cross-sectional study. Frontiers in Public Health, 12. https://doi.org/10.3389/fpubh.2024.1498406 Habibillah, S. D., Jerau, E. E., & Setyawati, M. B. (2025). Edukasi Puasa Pre Operatif dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan Pasien General Anestesi. SEWAGATI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia, 4(4), 295–311. https://doi.org/10.56910/sewagati.v4i4.3398 Handaya, A. Y., & Werdana, V. A. P. (2019). Adherence to preoperative hand hygiene and sterile gowning technique among consultant surgeons, surgical residents, and nurses: A pilot study at an academic medical center in Indonesia. Patient Safety in Surgery, 13(1). https://doi.org/10.1186/s13037-019-0193-5 Insyah, M. S., Suryani, E., & Noamperani, S. R. (2022). THE RELATIONSHIP BETWEEN THE USE OF WHO SURGICAL SAFETY CHECKLIST AND IMPLEMENTATION OF SURGERY PATIENT SAFETY. https://doi.org/10.37287/ijghr.v5i4.1340 Listiowati, E., Sjaaf, A. C., Achadi, A., Bachtiar, A., & Arini, M. (2023). ENGAGING PATIENTS FOR PATIENT SAFETY: A QUALITATIVE STUDY ON HEALTHCARE RECIPIENTS’ PERSPECTIVES. Indonesian Journal of Health Administration, 11(1), 67–80. https://doi.org/10.20473/jaki.v11i1.2023.67-80 Pramono, C., Jumaiyah, W., Natashia, D., & Sofiani, Y. (2024). The Effect of Pre-Operative Education on Anxiety in Patients Undergoing Percutaneous Coronary Intervention. Indonesian Journal of Global Health Research, 6(S5), 625. https://doi.org/10.37287/ijghr.v6iS5.4694 Supriyatin, D., Irianti, S., Anwar, A. D., Permadi, W., Sukarsa, M. R. A., & Susiarno, H. (2025). PREOPERATIVE RISK FACTORS FOR SURGICAL SITE INFECTION FOLLOWING CESAREAN SECTION: A CASE-CONTROL STUDY. Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 35(3), 1058–1068. https://doi.org/10.34011/jmp2k.v35i3.3337 Sutarno, & Maryati. (2021). sutarno. Yustisia Jurnal Hukum, 10(2), 269–290. https://doi.org/10.20961/yustisia.v10i2.52132 Yuriasti, E., Wahyuni, N., A’la, M. Z., & Thoyyibah, D. (2025). CERMAT-OP (CHECKLIST EDUKASI DAN RESPONS MENTORING AMAN TINDAKAN OPERASI): INOVASI EDUKASI PREOPERATIF UNTUK PENINGKATAN KESELAMATAN PASIEN DI RSUD PROVINSI NTB. 19. https://doi.org/10.5455/mnj.v1i2.644