Tradisi Fotu Nina Dalam Pembentukan Moral Keluarga ( Studi Tradisi Masyarakat Didesa Sisobawino II Kecamatan Lolofitu Moi Kabupaten Nias Barat)
Full text
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Issue 5, December 2025, P. 332-343 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17964691 *Corresponding Author Email: forniagulovina[email protected]om, [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected]. Tradisi Fotu Nina Dalam Pembentukan Moral Keluarga ( Studi Tradisi Masyarakat Didesa Sisobawino II Kecamatan Lolofitu Moi Kabupaten Nias Barat) Vinal Fornia Gulo1, Besti Zebua2, Ferti SJuwita Zai3, Selmanto Gulo⁴, Agnes Monica Waruwu⁵, Kurniawan Aprilyadin Waruwu⁶, Rintis Mei Ampuni Zebua⁷, Rivaldo Sastriawan Gulo⁸ 1-8Universitas Nias, Indonesia A B S T R A K Tradisi Fotu Nina merupakan salah satu budaya luhur masyarakat Nias yang berperan penting dalam pembentukan moral keluarga. Sebagai bentuk pendidikan moral, Fotu Nina adalah nasihat atau petuah yang disampaikan oleh orang tua atau tokoh adat kepada anak-anak mereka, terutama dalam situasi penting seperti menjelang pernikahan, merantau, atau menghadapi masa dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan peran Fotu Nina dalam pembentukan karakter dan moral anak di dalam keluarga Nias. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif, penelitian ini menemukan bahwa tradisi Fotu Nina mengandung nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat kepada orang tua, kerja keras, dan solidaritas. Nilai-nilai tersebut diyakini memiliki dampak signifikan dalam membentuk perilaku dan kepribadian anak-anak dalam keluarga. Meskipun menghadapi tantangan seperti pengaruh budaya modern dan minimnya waktu interaksi antara orang tua dan anak, Fotu Nina tetap relevan sebagai model pendidikan karakter yang berbasis pada kearifan lokal. Penelitian ini menyarankan pentingnya revitalisasi tradisi Fotu Nina sebagai bagian dari pendidikan karakter di era globalisasi, agar tetap dapat menguatkan moral generasi muda dan keluarga Nias. A B S T R A C T The Fotu Nina tradition is a noble cultural tradition of the Nias people that plays a crucial role in shaping family morals. As a form of moral education, Fotu Nina is advice or guidance imparted by parents or traditional leaders to their children, especially in important situations such as approaching marriage, migrating from one's home, or entering adulthood. This study aims to analyze the meaning and role of Fotu Nina in shaping the character and morals of children within Nias families. Using a qualitative approach through in-depth interviews and participant observation, this study found that the Fotu Nina tradition embodies values such as honesty, responsibility, respect for parents, hard work, and solidarity. These values are believed to have a significant impact on shaping the behavior and personality of children within the family. Despite facing challenges such as the influence of modern culture and limited interaction time between parents and children, Fotu Nina remains relevant as a model of character education based on local wisdom. This study suggests the importance of revitalizing the Fotu Nina tradition as part of character education in the era of globalization, so that it can continue to strengthen the morals of the younger generation and Nias families. PENDAHULUAN Tradisi merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat, karena melalui tradisi setiap nilai, norma, dan pola perilaku diturunkan dari generasi ke generasi. Pada masyarakat Nias, salah satu tradisi yang berfungsi dalam pembentukan moral keluarga adalah A R T I C L E I N F O Article history: Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 Accepted 25 November 2025 Available online 06 December 2025 Kata Kunci: Fotu Nina, Moral keluarga Keywords: Fotu Nina, Family Morals This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2023 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Socius E-ISSN: 3025-6704 fotu nina, yaitu nasihat yang diberikan oleh orang tua kepada anak dalam berbagai situasi penting seperti sebelum merantau, sebelum menikah, atau ketika anak melakukan kesalahan. Tradisi ini bukan hanya bentuk komunikasi keluarga, tetapi menjadi sarana pendidikan moral yang menekankan nilai tanggung jawab, kejujuran, penghormatan kepada orang tua, serta kewajiban menjaga martabat keluarga. Dalam konteks masyarakat Desa Sisobawino II Kecamatan Lolofitu Moi Kabupaten Nias Barat, fotu nina masih dipraktikkan, meskipun mengalami perubahan intensitas dan cara penyampaian seiring dengan perkembangan sosial, budaya, dan teknologi yang mempengaruhi pola asuh keluarga. Sejumlah penelitian sebelumnya membahas peran tradisi dan nilai budaya dalam pembentukan karakter anak, namun kajian yang secara khusus menyoroti praktik fotu nina sebagai instrumen pendidikan moral dalam keluarga Nias masih sangat terbatas. Sebagian penelitian hanya memfokuskan pada aspek budaya secara umum tanpa menggali proses, makna, dan relevansi fotu nina dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Kondisi ini menunjukkan adanya gap penelitian yang penting untuk diisi, terutama karena perubahan sosial modern berpotensi melemahkan fungsi tradisi dalam membentuk identitas dan moral keluarga. Oleh karena itu, penelitian tentang fotu nina memiliki urgensi untuk dilakukan, baik sebagai upaya pelestarian nilai budaya lokal maupun sebagai kajian akademik yang dapat memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana tradisi dapat berperan dalam membangun kualitas moral generasi muda. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan tradisi fotu nina dalam keluarga di Desa Sisobawino II, menganalisis peran tradisi ini dalam pembentukan moral anak dan keluarga, serta mengungkap relevansi dan tantangan fotu nina dalam kehidupan masyarakat Nias pada masa sekarang. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian budaya lokal sekaligus memperkaya literatur tentang pendidikan moral berbasis tradisi masyarakat. Masyarakat Nias memiliki berbagai tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan masih dipertahankan hingga kini. Salah satu tradisi yang memiliki kedudukan penting dalam ranah pendidikan moral adalah Fotu Nina, yaitu pemberian nasihat atau petuah oleh orang tua kepada anak. Tradisi ini dilakukan dalam berbagai situasi, terutama ketika anak memasuki fase kehidupan baru seperti pernikahan, merantau, atau mengambil keputusan penting.Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, peran keluarga sebagai pendidik moral utama sering mengalami pelemahan. Banyak nilai-nilai tradisional tergeser oleh budaya populer dan teknologi. Oleh karena itu, tradisi Fotu Nina menjadi relevan sebagai mekanisme pembentukan karakter yang bersifat personal, emosional, dan berbasis nilai budaya. Penelitian ini mengkaji bagaimana Fotu Nina diterapkan dalam keluarga Nias serta pengaruhnya terhadap pembentukan moral generasi muda. Kajian ini penting dilakukan mengingat nilai-nilai budaya lokal memiliki potensi besar sebagai sumber pendidikan karakter. KAJIAN TEORITIS Pegertian moral dalam kamus pikologi (Chaplin,2006) dituliskan bahwa moral mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial, atau menyangkut hukum atau adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. Pengertian moral dalam Hurlock ( edisi ke-6,1990), mengatur bahwa perilaku moral adalah perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Moral sediri berat tata cra, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral dikendalikan konsep-konsep moral atau peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya. Menurut dewey. Mengatakan bahwa asal masalah moral yang berkaitan dengan nila-nilai moral. Pembentukan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Vinal Fornia Gulo, at., al/ Tradisi Fotu Nina Dalam moral dalam keluarga pada dasarnya dipengaruhi oleh proses internalisasi nilai, keteladanan, dan komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak. Menurut teori perkembangan moral Kohlberg, moralitas berkembang melalui tahapan bertingkat, di mana pengalaman sosial dan bimbingan orang dewasa menjadi faktor penting dalam menentukan kematangan moral individu. Sementara itu, teori belajar sosial Bandura menegaskan bahwa anak belajar perilaku moral melalui observasi, imitasi, dan penguatan yang diberikan oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga. Dalam konteks masyarakat tradisional, nilai-nilai moral sering disampaikan melalui simbol, ajaran lisan, dan praktik budaya yang diwariskan turun-temurun. Hal ini sejalan dengan pandangan Durkheim yang menyatakan bahwa moralitas lahir dari kesepakatan sosial yang ditanamkan melalui norma dan adat yang berlaku dalam suatu komunitas. Tradisi fotu nina pada masyarakat Nias dapat dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan moral dalam keluarga, karena berfungsi sebagai sarana penyampaian nasihat, aturan hidup, dan tanggung jawab sosial yang harus dijunjung oleh setiap anggota keluarga. Melalui nasihat tersebut, anak memperoleh pemahaman tentang kewajiban menjaga martabat diri dan keluarga, menghormati orang tua, bersikap jujur, dan menghindari perilaku yang merugikan. Secara teoretis, praktik fotu nina sejalan dengan konsep pendidikan karakter berbasis budaya lokal, di mana nilai-nilai adat digunakan sebagai instrumen pembentukan perilaku positif. Hal ini juga sesuai dengan prinsip etnopedagogi yang memandang budaya lokal sebagai sumber belajar yang efektif dalam membangun karakter dan moralitas generasi muda. Penelitian terdahulu yang membahas pendidikan moral dalam masyarakat tradisional menunjukkan bahwa praktik nasihat budaya memiliki pengaruh signifikan terhadap pembentukan karakter anak. Beberapa studi tentang budaya Nias menegaskan bahwa tradisi lisan, termasuk nasihat orang tua, memegang peran penting dalam menjaga nilai-nilai adat dan membentuk kepribadian anak, meskipun perkembangan teknologi dan perubahan sosial memengaruhi pola pelaksanaannya. Namun, penelitian yang secara khusus meneliti fotu nina masih terbatas, sehingga kajian mengenai proses penyampaian, nilai yang terkandung, dan relevansinya terhadap pembentukan moral keluarga menjadi penting untuk dilakukan. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut sekaligus memberikan pemahaman ilmiah mengenai bagaimana tradisi fotu nina tetap berperan dalam kehidupan masyarakat Desa Sisobawino II pada masa kini. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data meliputi: Tradisi Fotu Nina merupakan salah satu instrumen pendidikan moral yang sangat penting dalam masyarakat Nias. Tradisi ini mengandung nilai kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat, solidaritas, dan kerja keras yang relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter modern. Pelaksanaannya yang personal dan penuh makna menjadikan Fotu Nina efektif membentuk moral anak serta memperkuat ketahanan keluarga. Diperlukan upaya pelestarian dan integrasi nilainilai Fotu Nina dalam pendidikan formal maupun informal agar tradisi ini tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter generasi Nias di masa depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Tradisi Fotu Nina dalam Keluarga Nias Fotu Nina biasanya dilakukan pada momen tertentu seperti: 1. saat anak akan menikah Keluarga merupakan sekelompok individu yang memiliki keterikatan kekeluaga diawali dengan pernikahan. Keluarga disebut unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala rumah tangga dan orang-orang yang hidup bersama dalam satu atap yang saling membutuhkan,
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Socius E-ISSN: 3025-6704 melengkapi dan saling bergantung satu sama lain. ( Rizqi Alvian Fabanyo, 2023) Bagi suku Nias, keluarga tidak hanya dilihat sebagai unit terkecil dalam masyarakat, tetapi juga sebagai inti dari kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual. Keluarga suku Nias merujuk pada kelompok sosial yang terdiri dari individu-individu yang terikat oleh hubungan pernikahan atau ikatan sosial lainnya. Tidak hanya mencakup orang tua dan anak, tetapi juga anggota keluarga yang lebih luas, seperti kakek, nenek, dan saudara yang lain. Masyarakat suku Nias melihat keluarga itu sebagai sesuatu yang sangat penting yang memiliki ikatan kekeluargaan yang erat, setiap anggota mampu saling mendukung, merangkul satu sama lain. Keluarga merupakan tempat yang nyaman, tidak bisa digantikan oleh apapun. Didalam keluarga kita bisa merasakan kebahagiaan, dimana kita bisa melampiaskan perasaan sedih, perasaan marah, dan bahkan emosi apapun itu tempat berakhir selalu keluarga. Keluarga adalah tempat bernaung atau tempat berlindung bagi seluruh anggota dan tempat untuk menumbuhkan rasa aman serta kehangatan. Saling melidungi, keluarga menjadi tempat yang aman nyaman, dan menetramkan semua anggotanya. (Herman Didipu, 2017) Sehingga masyarakat suku Nias sebuah keluarga tentu benar-benar diperhatikan. Sebab mereka berfikir bahwa pernikahan itu penuh makna, bukan hanya sebagai pengikatan dua individu, tetapi juga sebagai penyatuan dua keluarga besar. Suku Nias menikah hanya dilakukan sekali, pantang bagi mereka melakukan perpisahan. Pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan, dan perceraian sangat dilarang. Bagi mereka, tidak ada yang dapat memisahkan hubungan keluarga selain kematian, karena mereka menginginkan hubungan keluarga yang abadi. Untuk menghindari perpisahan dalam berumah tangga, maka orang Nias selalu mempersiapkan orang-orang yang mau menikah atau membangun sebuah keluarga. Hal ini sangat penting bagi mereka, dimana diperlukan persiapan betul dalam berumah tangga, sebab ketika sudah berkeluarga kehidupan akan sangat berbeda ketika sebelum dan sesudah menikah. Kebudayaan suku Nias dalam mendiirikan keluarga memiliki beberapa tradisi yang harus dilakukan guna mempersiapkan pasangan dalam membangun keluarga. Tradisi yang dilakukan dalam mempersiapkan perempuan untuk mengenali pernikahan yaitu tradisi famotu.(Alo Liliweri) Tradisi ini melambangkan restu serta harapan baik dari keluarga dan masyarakat kepada pasangan pengantin.Tradisi famotu dalam budaya suku Nias berarti “berupa nasehat atau wejangan” yang dilakukan bagi kedua mempelai yang akan membangun sebuah keluarga. Jadi pengertian fotu nina adalah serangkaian kegiatan menyampaikan nasehat-nasehat oleh orangtua, keluarga besar serta para pembesar adat dilingkungan tersebut yang ditujukan kepada pengantin baru terkhususnya kepada mempelai perempuan yang dilaksanakan sebelum maupun sesudah pernikahan. (Elifasi Baene, 2023) Selain kata famotu ada kata untuk menegaskan yaitu fotu ono nihalo yang sama-sama saling terkaitan dalam menegaskna nasehatnasehat kepada pengantin. Bukti terlaksananya tradisi famotu dalam pernikahan Nias dapat dilihat melalui beberapa aspek yang terwujud dalam pelaksanaan upacara pernikahan, yaitu pengantin perempuan baru diperbolehkan ke rumah pengantin laki-laki setelah semua adat istiadat terlaksana. Dan juga Salah satu bukti terlaksananya tradisi famotu adalah keterlibatan tokoh adat yang berperan penting dalam memberi nasehat. Raja adat atau kepala suku, bersama dengan beberapa tetua yang terpilih, memiliki kewenangan untuk memberikan nasehat kepada pasangan pengantin. Proses ini tidak dilakukan oleh sembarang orang, melainkan mereka yang sudah ditentukan dan dianggap memiliki pemahaman yang dalam tentang adat dan nilainilai budaya Nias. Pada dasarnya pelaksanaan tradisi famotu pada pernikahan tradisi suku Nias tentunya tidak disampaikan hanya sebagai nasehat biasa saja. Namun, nasehat yang diberikan kepada mempelai perempuan selalu dikaitkan dengan nats-nats Alkitab yang memberikan dasar rohani dalam
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Vinal Fornia Gulo, at., al/ Tradisi Fotu Nina Dalam kehidupan rumah tangga.Tradisi Fotu Nina merupakan salah satu bagian penting dalam adat masyarakat Nias, khususnya di wilayah Nias Utara dan Nias Barat. Tradisi ini dilaksanakan oleh keluarga untuk memberikan nasihat, wejangan adat, dan restu kepada anak yang akan memasuki kehidupan rumah tangga. Fotu Nina tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap adat, tetapi juga menjadi momen pengukuhan restu keluarga besar bagi calon pengantin.Pelaksanaan Fotu Nina biasanya dilakukan menjelang hari pernikahan, baik pada malam sebelum pesta atau satu hingga dua hari sebelumnya. Acara ini dilaksanakan di rumah keluarga calon pengantin dalam suasana yang tenang, khidmat, dan penuh kekeluargaan. Para peserta yang hadir terdiri dari orang tua calon pengantin, saudara kandung, paman dan bibi (saohagölö), serta beberapa tokoh adat atau tetua keluarga yang dianggap memiliki kewenangan dalam menyampaikan nasihat adat.Acara dimulai dengan pembukaan oleh kepala keluarga, biasanya ayah atau perwakilan keluarga lain yang dituakan. Dalam pembukaan ini dijelaskan bahwa Fotu Nina dilaksanakan sebagai bentuk kasih dan tanggung jawab keluarga dalam mempersiapkan anak memasuki tahapan baru kehidupannya. Pembukaan juga diiringi dengan ungkapan syukur dan harapan agar seluruh proses pernikahan berjalan lancar. Setelah pembukaan, acara memasuki bagian inti, yaitu penyampaian nasihat (nina). Nasihat pertama biasanya disampaikan oleh kedua orang tua. Orang tua memberikan petuah mengenai pentingnya hidup rukun, saling menghormati, menjaga kesetiaan, serta memelihara keharmonisan rumah tangga. Orang tua juga menekankan pentingnya kerja keras, kejujuran, dan saling memahami dalam menjalani kehidupan pernikahan. Nasihat ini dianggap sebagai petuah paling berharga karena berasal dari orang yang telah membesarkan anak sejak kecil.Setelah orang tua, giliran saohagölö (paman dan bibi) menyampaikan nasihat. Mereka menekankan aspek-aspek adat, seperti kewajiban menjaga nama baik keluarga, cara berperilaku dalam komunitas, dan peran suami atau istri dalam keluarga besar. Nasihat dari saohagölö memiliki makna khusus karena dalam adat Nias, mereka adalah pihak yang mempunyai posisi penting terkait hubungan sosial dan garis keturunan. Selanjutnya, tokoh adat atau tetua keluarga turut memberikan nasehat yang berkaitan dengan fondrakö (aturan adat Nias). Tetua adat menekankan bahwa pernikahan bukan hanya penyatuan dua individu, tetapi juga dua keluarga besar. Oleh karena itu, calon pengantin diingatkan untuk menjaga hubungan baik, menghindari pertikaian, dan menjunjung tinggi nilai adat yang telah diwariskan oleh leluhur. Setelah semua nasihat disampaikan, acara dilanjutkan dengan pemberian berkat dan doa. Dalam beberapa keluarga, doa dipimpin oleh orang tua atau tokoh adat, sementara dalam keluarga yang beragama Kristen, doa dapat dipimpin oleh seorang rohaniawan atau anggota keluarga yang dituakan. Doa ini melambangkan penyerahan anak kepada Tuhan agar diberikan kehidupan rumah tangga yang bahagia, panjang umur, dan penuh keberkahan.Pada bagian akhir, orang tua biasanya memberikan pesan khusus atau hadiah simbolis kepada anak, seperti kain, perhiasan, atau barang adat tertentu. Pemberian ini melambangkan restu dan kasih yang menyertai anak saat memulai hidup barunya. Acara kemudian ditutup dengan ucapan selamat dari seluruh keluarga besar, disertai harapan agar calon pengantin dapat membangun keluarga yang harmonis sesuai adat dan ajaran yang telah diberikan dalam Fotu Nina. Secara keseluruhan, tradisi Fotu Nina memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat Nias. Tradisi ini bukan sekadar seremonial, tetapi juga merupakan bentuk penguatan nilai moral, adat, dan spiritual bagi calon pengantin. Melalui Fotu Nina, keluarga memberikan bekal penting berupa nasihat kehidupan, restu, dan doa agar anak dapat menjalani pernikahan dengan bijaksana, penuh tanggung jawab, dan selalu menjaga kehormatan keluarga. 2. sebelum anak merantau
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Socius E-ISSN: 3025-6704 Fotu Nina adalah salah satu tradisi lisan penting dalam masyarakat Nias yang digunakan sebagai sarana penanaman nilai-nilai moral dan etika dalam keluarga. Sebelum seorang anakterutama perempuan-merantau atau meninggalkan kampung asalnya, orang tua dan kerabat besar akan memberikan fotu berupa nasihat bijaksana mengenai bagaimana menjalani kehidupan dewasa, menjaga kehormatan keluarga, dan mempertahankan adat istiadat. Melalui fotu ini, para tetua keluarga menyampaikan harapan-harapan moral -seperti rasa hormat kepada orang tua, tanggung jawab sosial, kerja keras, serta etika dalam pergaulan-agar generasi muda tetap berakar pada kearifan lokal meskipun mereka akan hidup di lingkungan yang berbeda.Pelaksanaan tradisi ini tidak sekadar ritual simbolis, melainkan bagian dari pendidikan moral tidak formal yang terstruktur: nasihat disampaikan secara langsung dalam bentuk dialog antar generasi, dengan tokoh adat atau orang tua sebagai pemberi fotu, dan anak sebagai penerima. Dalam banyak kasus, tradisi fotu nina juga berkaitan erat dengan momen-momen penting hidup seperti pernikahan atau saat anak bersiap untuk meninggalkan rumah orang tua, karena saat-saat ini dianggap sangat krusial untuk mentransfer nilai budaya dan norma sosial agar identitas budaya Nias tetap terpelihara di perantauan. Pentingnya tradisi ini tercermin dalam penelitian etnografi yang menyebut bahwa Fotu Nina memiliki fungsi preventif dan formativ: mencegah perilaku menyimpang dan membentuk karakter moral yang kuat pada anak-anak Nias. Penelitian oleh Baene, Tatema, dan Harefa (2024) di Desa Orahua, Nias Selatan, misalnya, menunjukkan bahwa fotu nina diberikan secara berulang dan menjadi kebiasaan sebelum anak membentuk rumah tangga baru. Selain itu, tradisi famotu (nasihat adat) secara umum dalam suku Nias dijelaskan sebagai bagian dari ritual pendidikan pra-pernikahan, yang memperkuat nilainilai adat dan tanggung jawab keluarga. Di samping itu, tradisi fotu nina menjadi salah satu strategi enkulturasi nilai budaya, terutama bagi anak-anak Nias yang nantinya akan hidup di luar pulau atau di komunitas perantauan. Sebuah studi terhadap keluarga Kristen Nias perantau menyebut bahwa nilai-nilai adat (termasuk fotu) terus ditanamkan agar generasi muda tetap menghargai identitas budaya leluhur meskipun jauh dari kampung halaman. Dalam budaya masyarakat Nias, Fotu Nina merupakan salah satu tradisi penting yang dilakukan oleh keluarga sebelum anak pergi merantau. Tradisi ini berfungsi sebagai momen pemberian nasihat, restu, dan penguatan moral kepada anak yang akan meninggalkan kampung halamannya. Fotu Nina tidak sekadar acara keluarga, tetapi memiliki nilai adat yang dalam sebagai bentuk perhatian dan kasih orang tua terhadap masa depan anaknya. Pelaksanaan Fotu Nina biasanya dilakukan sehari sebelum anak berangkat merantau, atau pada waktu yang dianggap baik oleh keluarga. Acara ini diadakan di rumah orang tua atau rumah salah satu anggota keluarga yang dituakan. Suasananya dibuat khidmat, hangat, dan penuh penghormatan, sebagai tanda bahwa perjalanan merantau adalah hal besar yang harus disiapkan dengan serius.Acara dimulai dengan pembukaan oleh orang tua, biasanya ayah atau ibu. Mereka menjelaskan maksud dari dilaksanakan Fotu Nina, yaitu untuk memberikan pesan dan doa kepada anak yang hendak pergi jauh. Pembukaan ini juga menjadi ungkapan rasa syukur dan harapan agar perjalanan dan kehidupan anak di perantauan berjalan lancar.Setelah pembukaan, acara memasuki tahap inti, yaitu penyampaian nasihat (nina). Dalam adat Nias, nasihat orang tua dianggap sebagai petuah sakral yang harus dihormati dan diingat. Orang tua memberikan nasihat mengenai cara menjaga diri, hidup mandiri, bekerja keras, dan tetap rendah hati di tempat baru. Mereka juga menekankan pentingnya menjaga sikap, menghormati orang lain, serta menjauhi segala hal yang dapat membawa masalah. Nasihat ini bukan hanya untuk keselamatan fisik, tetapi juga untuk menjaga martabat dan kehormatan keluarga. Selanjutnya, saudara-saudara, paman (saohagölö), dan anggota keluarga lainnya turut menyampaikan nasihat tambahan. Mereka menekankan
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Vinal Fornia Gulo, at., al/ Tradisi Fotu Nina Dalam pentingnya menjaga nama baik keluarga, tidak melupakan asal-usul, dan tetap menjunjung nilai adat Nias meskipun berada jauh dari kampung halaman. Dalam beberapa keluarga, nasihat ini disampaikan dengan cerita-cerita pengalaman atau perumpamaan yang menguatkan makna dari pesan tersebut. Selain nasihat, tokoh adat atau tetua keluarga biasanya menyampaikan wejangan adat (fondrakö). Mereka menekankan bahwa merantau bukan hanya mencari nafkah, tetapi juga membawa identitas adat yang harus dijaga. Anak diingatkan agar tetap menghormati adat, menjaga hubungan dengan keluarga, dan tidak melakukan perbuatan yang dapat mempermalukan marga atau nenek moyang. Setelah semua nasihat selesai, acara dilanjutkan dengan pemberian doa dan berkat. Dalam keluarga Kristen, doa biasanya dipimpin oleh orang tua atau tokoh rohani keluarga. Doa memohon perlindungan, keselamatan, dan kemudahan bagi anak selama berada di tanah perantauan. Bagi keluarga yang masih memegang tradisi adat yang kuat, doa bisa disertai dengan ungkapan adat yang menggambarkan restu dan pengharapan. Pada tahap terakhir, orang tua biasanya memberikan tanda kasih atau benda simbolis, seperti uang, pakaian, perhiasan, atau benda adat tertentu. Pemberian ini bukan sekadar bantuan materi, tetapi simbol cinta dan restu orang tua yang menyertai anak dalam perjalanannya. Setelah itu, seluruh anggota keluarga memberikan pelukan, ucapan semangat, dan harapan terbaik bagi masa depan sang anak. Secara keseluruhan, Fotu Nina sebelum anak merantau memiliki makna yang sangat dalam. Tradisi ini menjadi simbol restu, pesan moral, dan ikatan keluarga. Melalui Fotu Nina, orang tua meyakinkan anak bahwa meskipun ia pergi jauh, keluarga tetap menjadi sumber kekuatan dan doa yang menyertainya. Dengan menerima nasihat dan restu tersebut, anak diharapkan mampu menjalani kehidupan perantauan dengan bertanggung jawab, bijaksana, dan tetap menjaga kehormatan keluarga serta adat Nias. 3. Ketika anak melakukan kesalahan Dalam adat masyarakat Ono Niha (Suku Nias) khususnya yang merujuk pada sistem hukum adat yang disebut Fondrakö kesalahan, pelanggaran, atau perbuatan yang tidak sesuai dengan norma adat dilihat bukan sekadar sebagai kesalahan individu, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan sosial, kehormatan keluarga maupun marga, serta adat yang berlaku.Ketika seorang anak atau anggota masyarakat Ono Niha melakukan kesalahan misalnya melanggar ketentuan adat, norma kesopanan, atau aturan komunitas maka proses penyelesaian tidak hanya diarahkan pada hukuman individu tetapi melalui forum adat (Fondrakö) yang melibatkan tetua‑adat, keluarga, dan masyarakat. Dalam musyawarah ini ditekankan bahwa kesalahan tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi bisa menodai kehormatan keluarga, marga, ataupun kampung. Nilai‑nilai seperti ,(perbuatan baik), (sopan santun), dan (adil dan saling mengasihi) menjadi dasar. Setelah musyawarah adat, para pihak yang terlibat dapat menetapkan sanksi adat yang bersifat seperti kompensasi dalam bentuk denda (beras, babi, emas) atau pekerjaan sosial dalam kampungbukan semata menghukum. Tujuannya agar anak atau anggota yang melakukan kesalahan dapat kembali diterima secara sosial, memperbaiki hubungan dengan komunitas dan keluarga, serta mempertahankan keharmonisan bersama. Dalam adat masyarakat Nias, Fotu Nina tidak hanya dilakukan ketika anak hendak menikah atau akan merantau, tetapi juga dilaksanakan ketika anak melakukan kesalahan yang dianggap melanggar norma keluarga atau adat. Tradisi ini merupakan bentuk tanggung jawab orang tua dan keluarga besar untuk membimbing, menegur, dan memperbaiki perilaku anak agar kembali kepada nilai-nilai moral dan adat yang benar. Pelaksanaan Fotu Nina ketika anak berbuat salah biasanya dilakukan segera setelah keluarga mengetahui kesalahan tersebut, atau setelah seluruh keluarga berkumpul untuk membahas langkah yang tepat.
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Socius E-ISSN: 3025-6704 Acara ini biasanya berlangsung di ruang utama rumah keluarga, dalam suasana khidmat namun tetap penuh kasih sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan anak. Acara dimulai dengan pembukaan oleh orang tua atau anggota keluarga yang dituakan. Dalam pembukaan ini, dijelaskan maksud diadakannya Fotu Nina, yaitu untuk menegur kesalahan anak, memberikan nasihat yang benar, dan mengembalikan anak ke jalan yang baik. Pembukaan ini juga berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap anak adalah bagian dari keluarga dan marga, sehingga perbuatannya berdampak pada nama baik seluruh keluarga. Setelah pembukaan, acara memasuki bagian yang sangat penting, yaitu penjelasan mengenai kesalahan yang dilakukan anak. Pada tahap ini, orang tua atau tetua keluarga menjelaskan dengan jelas, tegas, namun tetap bijaksana, mengenai perilaku anak yang dianggap salah. Kesalahan bisa berupa pelanggaran moral, ketidaktaatan kepada orang tua, pergaulan yang tidak baik, hingga perbuatan yang mencoreng nama keluarga. Penjelasan ini dilakukan agar anak memahami sepenuhnya apa yang salah dan mengapa hal itu tidak boleh diulangi. Selanjutnya masuk ke bagian inti, yaitu pemberian nasihat (nina). Orang tua menyampaikan petuah yang menekankan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, penghormatan kepada keluarga, dan pentingnya menjaga sikap dalam masyarakat. Nasihat ini diberikan dengan tujuan membentuk kembali karakter anak, bukan sekadar memarahi. Orang tua juga mengingatkan bahwa setiap tindakan anak mencerminkan pendidikan keluarga dan warisan leluhur. Setelah orang tua, paman (saohagölö), bibi, dan saudara yang lebih tua ikut memberikan nasihat tambahan. Namun, meskipun disampaikan oleh beberapa anggota keluarga, Fotu Nina tetap menjaga prinsip bahwa teguran dilakukan secara terhormat, tanpa merendahkan anak. Saohagölö biasanya menekankan pentingnya menjunjung tinggi fondrakö—aturan adat Nias yang mengatur perilaku, kehormatan, dan hubungan sosial. Mereka juga menjelaskan bagaimana perbuatan yang salah bisa berdampak buruk terhadap hubungan sosial keluarga dalam masyarakat. Selain itu, tokoh adat atau tetua keluarga dapat memberikan wejangan adat sebagai penguatan. Mereka mengingatkan bahwa setiap anggota keluarga membawa nama baik marga, sehingga apa yang dilakukan satu orang dapat mempengaruhi kedudukan seluruh keluarga di mata masyarakat. Dengan demikian, Fotu Nina juga menjadi sarana untuk mengembalikan keharmonisan serta menjaga martabat keluarga. Setelah nasihat diberikan, acara dilanjutkan dengan penerimaan dan pengakuan dari anak. Dalam beberapa keluarga, anak diminta menyampaikan penyesalan, meminta maaf, dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. Tahap ini penting karena menjadi simbol bahwa anak menerima nasihat dan siap memperbaiki diri. Acara kemudian ditutup dengan pemberian doa dan restu. Orang tua berdoa agar anak diberikan kekuatan untuk berubah, dijauhkan dari pengaruh buruk, dan kembali menjadi pribadi yang baik di tengah keluarga dan masyarakat. Doa ini menggambarkan bahwa meskipun anak melakukan kesalahan, kasih keluarga tidak hilang. Secara keseluruhan, Fotu Nina ketika anak melakukan kesalahan memiliki makna mendalam. Tradisi ini bukan bertujuan untuk mempermalukan anak, tetapi menjadi proses pemulihan moral, pembentukan karakter, dan penguatan hubungan keluarga. Melalui Fotu Nina, anak diingatkan bahwa keluarga selalu menjadi tempat kembali, tempat belajar, dan tempat menerima bimbingan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Nilai-Nilai Moral dalam Fotu Nina Nilai-nilai moral yang utama dalam masyarakat nias salah satunya adalah Kejujuran Kami ajarkan anak-anak untuk selalu berkata jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kami tekankan bahwa kejujuran adalah landasan penting untuk membangun kepercayaan dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Tanggung jawab Kami ajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Kami bantu mereka memahami bahwa setiap
Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 5 Tahun 2025, P. 332-343 Vinal Fornia Gulo, at., al/ Tradisi Fotu Nina Dalam tindakan memiliki konsekuensi, dan mereka harus siap untuk menerima konsekuensi tersebut. Peduli: Kami ajarkan anak-anak untuk peduli terhadap orang lain, baik itu keluarga, teman, maupun orang yang tidak mereka kenal. Kami bantu mereka mengembangkan rasa empati dan kasih sayang, sehingga mereka tergerak untuk membantu orang lain yang membutuhkan. Lalu Bagaimana kami menanamkan nilai-nilai ini pada anak-anak? Kami menggunakan berbagai metode untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika pada anak-anak, di antaranya: 1. Pengajaran langsung: Kami ajarkan nilai-nilai moral dan etika melalui pelajaran di kelas, ceramah, dan diskusi. Contoh teladan: Kami menjadi contoh bagi anak-anak dengan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kami tanamkan. 2. Pemberian penghargaan: Kami berikan penghargaan kepada anak-anak yang menunjukkan perilaku yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kami tanamkan. 3. Konsekuensi: Kami berikan konsekuensi yang sesuai kepada anak-anak yang menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kami tanamkan. Lalu Mengapa nilai-nilai moral dan etika penting bagi anak-anak? Nilai-nilai moral dan etika penting bagi anak-anak karena: Membantu mereka membangun karakter yang kuat: Nilainilai moral dan etika membantu anak-anak untuk menjadi individu yang berintegritas, bertanggung jawab, dan peduli terhadap orang lain. Membantu mereka membuat keputusan yang baik: Nilai-nilai moral dan etika membantu anak-anak untuk membuat keputusan yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral yang benar. Membantu mereka membangun hubungan yang baik dengan orang lain: Nilai-nilai moral dan etika membantu anak-anak untuk membangun kepercayaan dan menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Membantu mereka menjadi individu yang sukses: Nilai-nilai moral dan etika merupakan kunci untuk mencapai kesuksesan di masa depan. Di Al Lathif Islamic School, kami berkomitmen untuk menanamkan nilai-nilai moral dan etika pada anak-anak. Kami percaya bahwa nilai-nilai ini sangat penting untuk membantu mereka menjadi individu yang sukses dan bermoral di masa depan. Bagaimana peran orang tua dapat membantu? Orang tua juga dapat membantu menanamkan nilai-nilai moral dan etika pada anak-anak dengan: Menjadi contoh teladan bagi anak-anak: Orang tua adalah contoh utama bagi anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ingin mereka tanamkan pada anak-anak. Berbicara dengan anak-anak tentang nilai-nilai moral dan etika: Orang tua dapat berbicara dengan anak-anak tentang pentingnya nilainilai moral dan etika, dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Memberikan anak-anak kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai moral dan etika: Orang tua dapat memberikan anak-anak kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai moral dan etika, seperti membantu orang lain, menyumbangkan ke amal, atau menjadi sukarelawan. Dengan bekerja sama, orang tua dan sekolah dapat membantu anak-anak untuk mengembangkan karakter yang kuat dan menjadi individu yang sukses dan bermoral di masa depan. Nilai-nilai ini sejalan dengan tujuan pendidikan karakter modern, sehingga tradisi ini relevan untuk dikembangkan dalam konteks pendidikan masa kini. Tradisi Fotu Nina merupakan salah satu bentuk nasihat atau wejangan yang diberikan oleh orang tua atau tokoh adat kepada anak-anak atau generasi muda. Melalui tradisi ini, masyarakat Nias menanamkan nilai moral yang diyakini dapat membentuk karakter yang kuat, beretika, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai moral yang diajarkan bukan hanya sebagai aturan, tetapi sebagai pedoman hidup yang harus dijalankan sepanjang masa. 1) Kejujuran (Öfaöfa / Honesty)