scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Fenomena Perilaku Masyarakat Dalam Tradisi Malam Selawe di Makam Sunan Giri, Gresik

Moh. Dava Adhitya Mahesa

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 407-418 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17971882 Fenomena Perilaku Masyarakat Dalam Tradisi Malam Selawe di Makam Sunan Giri, Gresik The phenomenon of community behavior in the tradition of malam selawe at the Grave of sunan giri, gresik Moh. Dava Adhitya Mahesa 1Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Email: [email protected] Abstrak Tradisi Malam Selawe merupakan salah satu praktik budaya keagamaan yang hidup di masyarakat Gresik dan masih bertahan di tengah derasnya arus modernitas. Penelitian bertujuan untuk memahami pelaksanaan, interaksi sosial, motif perilaku masyarakat, serta pengaruh media sosial terhadap keberlangsungan tradisi. Penelitian menggunakan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Malam Selawe sebagai ajang ritual keagamaan sekaligus sebagai ruang sosial yang memperkuat kohesi dan solidaritas masyarakat. Interaksi yang terjadi selama tradisi mencerminkan habitus kolektif yang diturunkan secara kultural. Motif keikutsertaan masyarakat sangat beragam, mulai dari nilai religius, kebiasaan, hingga alasan afektif dan praktis. Media sosial memainkan peran penting dalam transformasi dan pelestarian tradisi ini, khususnya di kalangan generasi muda. Keterlibatan mereka dalam tradisi mencakup kehadiran fisik dan ekspresi digital melalui berbagai platform media sosial. Mereka menggunakan media ini untuk berbagi pengalaman, menyampaikan pesan spiritual, serta memperluas jangkauan tradisi ke khalayak yang lebih luas. Tradisi terbukti menjadi wadah yang lentur dan adaptif, yang tetap menjaga nilai spiritual sekaligus terbuka terhadap bentuk partisipasi baru. Terus hidup sebagai ruang aktualisasi nilai keagamaan dan sosial yang relevan dengan perkembangan zaman. Kata kunci : Tradisi Malam Selawe, masyarakat Gresik, tindakan sosial, media sosial, pelestarian budaya. Abstract The Malam Selawe tradition is one of the religious cultural practices that lives in Gresik society and still survives amid the swift flow of modernity. The research aims to understand the implementation, social interaction, motives for community behavior, and the influence of social media on the sustainability of the tradition. The research used descriptive qualitative. The results showed that the implementation of Malam Selawe as a religious ritual event as well as a social space that strengthens community cohesion and solidarity. The interactions that occur during the tradition reflect a culturally derived collective habitus. The motives for community participation are very diverse, ranging from religious values, habits, to affective and practical reasons. Social media plays an important role in the transformation and preservation of this tradition, especially among the younger generation. Their involvement in the tradition includes both physical presence and digital expression through various social media platforms. They use these media to share their experiences, convey spiritual messages and extend the reach of the tradition to a wider audience. Tradition has proven to be a flexible and adaptive platform that maintains spiritual values while being open to new forms of participation. It continues to live as a space for the actualization of religious and social values that are relevant to the times. Keyword : Malam Selawe Tradition, Gresik Society, Social Action, Social Media, Cultural Preservation Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 12 December 2025 PENDAHULUAN Tradisi merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat karena mengandung perpaduan antara sejarah, nilai, dan keyakinan yang diwariskan lintas generasi (Koentjaraningrat, 2009). Di Indonesia, tradisi tidak semata berupa adat warisan leluhur, melainkan juga mencakup nilainilai religius yang telah menyatu secara utuh. Salah satu tradisi Islam di Jawa Timur adalah Tradisi Malam Selawe di kawasan Makam Sunan Giri, Gresik. Tradisi yang digelar setiap malam ke-25 Ramadan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk memperkuat ikatan spiritual dan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 sosial. Pada malam itu, alunan suara tahlil dan dzikir bergema, mengundang ribuan peziarah untuk berkumpul di lereng Bukit Giri. Tradisi menjadi ajang silaturahmi, mempertemukan keluarga, tetangga, bahkan sesama peziarah dari berbagai daerah. Pelaksanaan tradisi menunjukkan fenomena yang menarik keragaman motif dan perilaku masyarakat dalam berpartisipasi (Susanto & Asih, 2021). Sebagian hadir karena religius untuk mencari berkah, beritikaf, atau mengharapkan malam Lailatul Qadar. Sebagian lain hadir karena sosial, seperti berkumpul bersama keluarga atau mengikuti kebiasaan turun-temurun. Ada yang datang karena tertarik pada keramaian, budaya populer, atau sekadar mengikuti tren. Fenomena memperlihatkan bahwa makna tradisi terbentuk melalui pengalaman dan motivasi yang beragam. Setiap elemen dalam ritual menyimpan simbolisme mendalam. Pembacaan Surat Al-Ikhlas sebanyak seribu kali, misalnya, tidak sekadar membuktikan ketekunan spiritual, tetapi juga menegaskan keyakinan akan keesaan Tuhan. i’tikâf di Masjid, yang menawarkan ruang refleksi di tengah keramaian, sekaligus menegaskan kebersamaan dalam ibadah. Makna simbolik penting dipertahankan karena menjadi sarana internalisasi nilai Islam melalui bentuk yang akrab secara budaya. Pasar malam di sekeliling makam menambahkan nuansa unik, namun keberadaannya lebih tepat dipandang sebagai latar sosial yang mendukung tradisi. Tradisi Malam Selawe terus mengalami adaptasi. Teknologi informasi seperti penyebaran pamflet event melalui media sosial memperluas jangkauan partisipasi (Anista, 2023). Tidak jarang, peziarah datang setelah melihat dokumentasi foto dan video. Menunjukkan bahwa media bisa menjadi alat pelestarian tradisi, bukan ancaman. Pemanfaatan teknologi, contohnya menyajikan pengajian secara live streaming, menjadi langkah adaptif agar aktivitas keagamaan lebih relevan. Diperlukan pendekatan yang lebih cermat untuk merancang partisipasi yang menarik tanpa mengabaikan dimensi spiritual dari tradisi yang diwariskan. Teori Max Weber dan Pierre Bourdieu menjadi kerangka utama dalam memahami fenomena Tradisi. Max Weber, mengembangkan konsep "Tipe Tindakan Sosial" sebagai dasar dalam menganalisis perilaku individu dalam konteks sosial (Weber, 1978). Weber mengklasifikasikan tindakan sosial ke dalam empat tipe utama: tindakan rasional dengan tujuan (zweckrational), tindakan yang didorong oleh nilai (wertrational), tindakan afektif, dan tindakan tradisional. Tindakan sosial Weber membantu memahami keragaman motivasi dan makna yang dibawa oleh masing-masing individu dalam mengikuti tradisi. Bourdieu menekankan konsep habitus dan modal (Bourdieu & Richardson, 1986). Partisipasi dalam mencerminkan kebiasaan ("habitus") yang terbentuk dalam masyarakat, sekaligus menjadi cara untuk mengakumulasi modal yang beragam. Kehadiran dalam tradisi dapat meningkatkan status sosial melalui hubungan jaringan (social capital), dan partisipasi aktif menunjukkan modal yang berharga dalam komunitas. Tradisi seperti Malam Selawe dapat dipahami sebagai bentuk pengabdian religius kepada Tuhan dan sebagai mekanisme sosial yang efektif untuk membina rasa kebersamaan, identitas kolektif, serta kontinuitas budaya. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan, baik secara langsung sebagai pelaku maupun tidak sebagai pendukung, menunjukkan adanya keterikatan emosional dan komitmen sosial terhadap warisan budaya Islam (Destiana dkk., 2020). Pelaksanaan dapat dimaknai sebagai bentuk reproduksi struktur sosial masyarakat yang didasarkan pada nilai-nilai religius dan solidaritas komunitas yang kuat (Giddens, 1984). − Kajian terdahulu yang telah membahas aspek-aspek dari tradisi Malam Selawe dan konteks sosial budaya Gresik. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Nur Fariha Novianti (2023) dalam bentuk skripsi berjudul Tradisi Malam Selawe di Desa Giri, yang mengangkat aspek pelaksanaan dan makna living hadits dari tradisi ini. Dalam penelitiannya, Novianti menjelaskan bahwa masyarakat sebagai bentuk ekspresi syukur dan kecintaan terhadap peninggalan para wali (Puteri, 2023). Ia menyebut bahwa pembacaan tahlil dan dzikir sebagai bentuk pemaknaan spiritual terhadap ajaran Rasulullah SAW yang dimodifikasi dalam bingkai budaya. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 − Artikel dalam jurnal Ma’mal oleh Moch. Chanif Hendi Wijaya dkk. (2024) menelaah tradisi ini dari perspektif ʿurf (kebiasaan sosial yang diterima dalam Islam). Pendekatan memperkuat argumentasi bahwa praktik keagamaan lokal tidak bisa langsung dianggap menyimpang, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai pokok dalam Islam (Chanif dkk., 2024). Menyimpulkan bahwa tradisi Malam Selawe mencerminkan nilai-nilai luhur seperti rasa syukur, keberkahan, dan semangat kebersamaan, serta menjadi ruang dakwah kultural yang relevan dengan konteks masyarakat Gresik. − Artikel dalam jurnal MARTABE yang ditulis oleh Mohammad Ahyan Yusuf Sya’bani dkk. (2020) mengangkat pentingnya pelestarian budaya Islam lokal di tengah gelombang urbanisasi dan modernisasi. Mereka menekankan bahwa Tradisi Malam Selawe merupakan salah satu bentuk resistensi budaya yang digunakan oleh masyarakat untuk mempertahankan identitasnya (Ahyan dkk., 2020). Tradisi menjadi simbol perjuangan masyarakat dalam menjaga harmoni antara nilainilai Islam dan budaya lokal, meskipun tekanan dari gaya hidup modern terus meningkat. − Budi Santosa dkk. (2014) dalam jurnal el Harakah memberikan kontribusi melalui perspektif arsitektural dan spasial(Santosa dkk., 2014). Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ziarah dan ritual seperti Malam Selawe telah mentransformasikan ruang fisik di kawasan Makam Sunan Giri dari yang awalnya bersifat sakral dan tenang, menjadi tempat yang dinamis dan interaktif. Perubahan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk adaptasi sosial yang memungkinkan partisipasi lebih luas dari masyarakat lintas kelas dan usia, bukan semata sebagai bentuk komersialisasi ruang religi. Dari keempat kajian ini memberikan dasar konseptual dan empiris yang kuat untuk memahami Tradisi Malam Selawe. Mereka menjelaskan bentuk ritual dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta mengaitkan tradisi dengan realitas sosial, kultural, dan arsitektural masyarakat Gresik masa kini. Bahwa tradisi bukan sekadar peristiwa tahunan yang bersifat seremonial, melainkan representasi dari jalinan nilai, identitas, dan memori kolektif yang terus diperbarui. Pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana pelaksanaan Tradisi Malam Selawe di kawasan Makam Sunan Giri sebagai wadah aktivitas keagamaan dan sosial?, Bagaimana interaksi sosial terbentuk di antara peserta tradisi, serta kontribusinya terhadap kohesi komunitas lokal?, Bagaimana bentuk perilaku masyarakat selama tradisi berlangsung dan apa saja motif yang melatarbelakangi partisipasi mereka?, Bagaimana pengaruh media sosial dan perkembangan teknologi terhadap partisipasi masyarakat dalam Malam Selawe? Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan Tradisi Malam Selawe sebagai warisan budaya Islam serta menjelaskan makna sosial dan spiritual yang dikandungnya. Penelitian untuk mengungkap bagaimana tradisi mampu bertahan di tengah perubahan sosial serta bagaimana masyarakat memainkan peran penting dalam mentransmisikan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi. Diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman mengenai dinamika pelestarian tradisi Islam di masyarakat Jawa, sekaligus menjadi landasan bagi upaya konservasi tradisi keagamaan yang inklusif dan adaptif. Ruang lingkup difokuskan pada praktik Tradisi Malam Selawe yang berlangsung di Makam Sunan Giri, dengan titik perhatian pada perilaku masyarakat yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam ritual. Fokus utama berada pada motif keikutsertaan, bentuk partisipasi, dan variasi makna yang muncul dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Lokasi pelaksanaan mencakup masjid, kompleks makam, dan area sekitar jalur ziarah yang menjadi titik temu antara ruang sakral dan ruang sosial. Penelitian akan menelaah perbedaan generasi, pengaruh media sosial, serta keterlibatan elemen masyarakat dalam menjadikan tradisi ini tetap hidup dan bermakna lintas waktu dan konteks. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 METODE Penelitian menggunakan kualitatif jenis deskriptif. Pendekatan dipilih karena bertujuan untuk memahami fenomena perilaku masyarakat dalam mengikuti Tradisi di kawasan Makam Sunan Giri, Gresik. Peneliti dapat menggambarkan bagaimana tradisi dijalankan serta bagaimana masyarakat memaknai partisipasi mereka dalam kegiatan. Keterlibatan langsung di lapangan diperolehnya pemahaman atas pengalaman sosial, nilai-nilai budaya, dan dinamika interaksi masyarakat (Sulistiyo, 2023). Malam Selawe dimaknai sebagai aktivitas keagamaan sekaligus menjadi bagian dari kehidupan sosial, tempat berbagai tujuan spiritual dan budaya terjalin. Dalam momen tersebut, masyarakat berinteraksi lintas usia dan latar belakang, memperkuat solidaritas, dan mewariskan memori kolektif dari generasi ke generasi. Lokasi penelitian berada di Kompleks Makam Sunan Giri, Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Lokasi dipilih karena merupakan pusat kegiatan Tradisi Malam Selawe. Kawasan yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat lintas daerah yang secara kolektif memaknai malam ke-25 Ramadan sebagai waktu yang penuh makna. Waktu penelitian berlangsung selama bulan Ramadan 1445 H, dengan fokus pada rangkaian kegiatan yang dimulai sejak masa persiapan, puncak pelaksanaan, hingga kondisi pasca tradisi. Pemilihan waktu bertujuan menangkap dinamika masyarakat secara utuh, baik dalam aspek ritual keagamaan maupun bentuk interaksi sosial yang menyertainya. Sumber data dalam penelitian terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer mencakup hasil wawancara dan observasi langsung selama pelaksanaannya (Achjar dkk., 2023: 72). Wawancara dilakukan terhadap informan yang memiliki keterlibatan langsung dengan tradisi, seperti tokoh agama, panitia kegiatan, warga sekitar, dan peziarah. Informasi yang dikumpulkan berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan, nilai yang terkandung, serta dinamika sosial selama tradisi berlangsung. Untuk menjaga etika penelitian, seluruh identitas informan disamarkan menggunakan inisial. Data sekunder diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, artikel, dan skripsi yang relevan (Achjar dkk., 2023: 7). Teknik pengumpulan data mencakup observasi partisipatif dan wawancara semi-terstruktur. Observasi partisipatif memungkinkan peneliti terlibat langsung dalam kegiatan (Achjar dkk., 2023: 16). Kehadiran peneliti secara langsung untuk mengamati interaksi sosial, ekspresi keagamaan, serta dinamika perilaku masyarakat selama kegiatan berlangsung. Wawancara semi-terstruktur digunakan untuk menggali informasi secara mendalam dari berbagai informan, dengan pendekatan yang fleksibel menyesuaikan respons mereka (Achjar dkk., 2023: 47). Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman. Pertama, reduksi data, yaitu memilah informasi relevan dari hasil observasi dan wawancara. Kedua, penyajian data dalam bentuk narasi tematik agar memudahkan proses interpretasi. Ketiga, penarikan kesimpulan dan verifikasi, di mana pola-pola makna yang muncul dianalisis dan dicocokkan kembali dengan data awal untuk menjaga validitas . Hasil analisis kemudian dikaitkan dengan rumusan masalah dan kerangka teori sosial yang digunakan. Untuk menjamin keabsahan data, digunakan teknik triangulasi dari segi sumber, metode, dan waktu. Hasil observasi dibandingkan dengan wawancara untuk memperoleh keutuhan data. Validasi data juga dilakukan melalui member checking kepada beberapa narasumber untuk memastikan bahwa interpretasi sesuai dengan pengalaman dan pandangan mereka terhadap tradisi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Tradisi Malam Selawe Tradisi Malam Selawe merupakan bentuk penguatan aspek spiritual umat Islam, khususnya dalam menyambut sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Kegiatan seperti tahlil, i’tikaf, dzikir, dan pembacaan Surat Al-Ikhlas sebanyak seribu kali menjadi bagian dari suasana religius yang mengisi malam tersebut. Tradisi ini mempertemukan ribuan jamjaah dalam satu ruang spiritual, menumbuhkan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 kesadaran religius individu sekaligus memperkuat solidaritas keagamaan. Pelaksanaan amalan bersama ini menciptakan ruang reflektif yang mendekatkan diri kepada Allah SWT., sebagaimana diyakini para peserta. Suasana sakral yang tercipta turut memunculkan perasaan damai dan ketenteraman batin dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi sarana pembentukan karakter religius yang berakar dari praktik nyata (Arlina dkk., 2024). Gambar 2. Suasana ramai pada gerbang masum Makam Sunan Giri. “Kami datang ke sini untuk ziarah dan berharap mendapatkan malam yang penuh keberkahan. Ada harapan bisa memperoleh Lailatul Qadar,” ujar UH, pada 24 Maret 2025. Pernyataan ini menunjukkan bahwa motivasi spiritual menjadi penggerak utama keikutsertaan masyarakat dalam tradisi tersebut. HT, “Tahlil dan pembacaan Al-Ikhlas seribu kali adalah bentuk amal sederhana namun kuat secara makna. Meskipun baru dilaksanakan tahun ini, semangatnya tetap sejalan dengan tradisi doa dan dzikir yang telah lama dijalankan oleh masyarakat.” menambahkan bahwa amalan-amalan tersebut telah dijalankan secara turun-temurun dan diyakini membawa keutamaan. Bagi masyarakat Gresik, malam ke-25 Ramadan memiliki nilai religius yang tinggi dan dianggap sebagai malam puncak penuh harapan. Tradisi ini menjadi wujud kebersamaan dalam ekspresi spiritual yang menyatukan ibadah individu dan kebersamaan dalam satu momentum. AG, menyampaikan “berbeda dari masjid biasa, karena semua orang seperti punya niat yang sama untuk mendekat kepada Tuhan. Orang-orang datang ke sini dengan batin dan kerinduan yang tulus untuk merasakan suasana spiritual yang khas, bukan karena semata-mata menjalankan kewajiban.” Ini menegaskan bahwa Malam Selawe menjadi ruang spiritual yang nyata bagi individu dalam memperbarui niat dan menyucikan hati. RW mengungkapkan, "Awalnya saya ikut karena diajak orang tua. Tapi setelah beberapa kali, saya datang karena saya sendiri ingin, bukan hanya ikut-ikutan." menunjukkan adanya proses personalisasi makna spiritual di kalangan generasi muda. Mereka meneruskan tradisi sambil membentuk makna baru yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka masing-masing. Tindakan masyarakat dalam mengikuti Tradisi dapat dipahami melalui kerangka tindakan sosial yang membagi tindakan ke dalam empat tipe: tindakan rasional (zweckrational), tindakan nilai (wertrational), tindakan afektif, dan tindakan tradisional (Weber, 1978). Sebagian besar masyarakat menunjukkan tindakan nilai, keikutsertaan berdasarkan keyakinan agama dan pencarian makna spiritual. Sebagian mencerminkan tindakan afektif, dorongan emosional seperti kerinduan terhadap suasana religius, nostalgia terhadap masa kecil, atau keterikatan dengan keluarga. Tindakan tradisional terlihat dalam pola partisipasi yang berlangsung karena kebiasaan turun-temurun, tanpa pertimbangan rasional tertentu. Tindakan rasional, misalnya ketika individu hadir untuk memperluas jaringan sosial atau memanfaatkan momen untuk berdagang. Keempat seringkali muncul bersamaan, menunjukkan bahwa perilaku keagamaan dalam tradisi ini adalah hasil dari kombinasi motivasi yang kompleks. Pierre Bourdieu melengkapi analisis melalui konsep habitus dan modal (Bourdieu & Richardson, 1986). Partisipasi dalam tradisi terjadi dipengaruhi oleh kebiasaan yang sudah mengakar 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 dan struktur sosial yang membentuk pola pikir serta perilaku masyarakat. Individu yang aktif dan memahami makna spiritual memiliki modal yang diakui secara simbolik dalam komunitas. Aktivitas seperti memimpin doa, menjadi panitia, atau dikenal sebagai sosok religius menunjukkan adanya modal yang berperan dalam menentukan posisi sosial seseorang dalam ruang keagamaan. Tradisi mencerminkan bagaimana agama berfungsi sebagai sistem keyakinan sekaligus praktik sosial yang hidup dan berkembang (Hafid, 2013). Spiritualitas dalam tradisi ini bersifat inklusif dan terbuka; semua kalangan, tanpa memandang usia atau asal daerah, memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan kedekatan spiritual. Pembagian makanan, sedekah, dan ibadah bersama menunjukkan bahwa spiritualitas dalam tradisi ini melekat dalam praktik sosial sehari-hari. Konsistensi pelaksanaan tradisi dari tahun ke tahun juga memperkuat memori kolektif masyarakat. Anak-anak yang ikut serta bersama orang tua mereka menyerap nilai religius dari pengalaman langsung. Menjadi bagian dari internalisasi nilai yang berkontribusi pada keberlanjutan spiritualitas lokal, terutama di tengah tekanan budaya populer (Indrawati & Sari, 2024). Interaksi Sosial dalam Praktik Tradisi Malam Selawe, penting bagi masyarakat Gresik untuk menjalin dan mempererat hubungan sosial. Tradisi menghadirkan momentum tahunan yang mengundang partisipasi luas dari warga lokal maupun peziarah luar daerah. Ribuan orang berkumpul dalam suasana religius yang menyatu dengan makna sosial. Kerumunan yang terbentuk mencerminkan lebih dari sekadar keramaian menjadi gambaran hidup dari nilai-nilai sosial yang dijalankan masyarakat. Warga menyambut tamu dengan menyediakan tempat beristirahat, konsumsi ringan, serta berbagi informasi seputar pelaksanaan tradisi. Menunjukkan adanya solidaritas sosial yang dibentuk oleh pengalaman kolektif dan kebiasaan yang tertanam secara turun-temurun. Gambar 3. Keramaian pada gerbang masuk makam. Sumber: dokumentasi pribadi. Interaksi sosial dalam tradisi membentang dari ruang publik ke ruang domestik. Keluargakeluarga menjadikan malam sebagai reuni atau pertemuan, mempererat relasi anggota keluarga maupun dengan warga. Situasi memperlihatkan dua bentuk interaksi sosial yang memperkuat hubungan masyarakat, yang berlangsung di ruang ibadah dan yang tumbuh dalam suasana kekeluargaan di lingkungan terdekat. Partisipasi dapat dipahami sebagai tindakan afektif dan tradisional, karena dilandasi oleh perasaan kebersamaan dan kebiasaan yang diwariskan. Pola keterlibatan menunjukkan bagaimana habitus yang terbentuk dalam komunitas berperan dalam mendorong masyarakat bertindak sesuai nilai yang telah tertanam, membentuk akumulasi modal berupa rasa hormat dan kepercayaan di lingkungan sosial mereka. Interaksi sosial dalam tradisi, mencakup ruang publik seperti makam dan masjid serta meluas hingga ke ruang domestik. Beberapa keluarga menjadikannya sebagai momen untuk reuni dan mempererat silaturahmi keluarga besar. Tradisi sebagai bagian dari kehidupan sosial yang dilandasi oleh relasi interpersonal yang telah tumbuh kuat dalam keseharian masyarakat. RW, menyampaikan bahwa “kami terkadang menyiapkan air minum dan jajanan ringan untuk siapa pun yang lewat. dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun.” Pernyataan menunjukkan tindakan sosial yang didorong oleh kebiasaan dan afeksi. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 Interaksi sosial yang terjadi dalam tradisi ini menunjukkan adanya jaringan sosial yang terbentuk melalui praktik kolektif yang berulang dan hubungan timbal balik antarwarga, dan terus terpelihara dari tahun ke tahun (Novia & Safitri, 2023) yang saling bertukar kabar bahkan di luar bulan Ramadan. Tradisi menjadi wadah penguatan jejaring sosial yang memfasilitasi pertukaran sosial dan simbolik dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat, baik sebagai panitia maupun pelaksana, memperlihatkan akumulasi modal dalam bentuk pengakuan simbolik dan keterlibatan kolektif yang memperkuat posisi sosial mereka. Gotong royong selama persiapan acara menunjukkan koordinasi fungsional yang kompleks melibatkan berbagai elemen masyarakat (Munsyid & Sudarto, 2024). Anak muda ikut terlibat menjaga ketertiban dan kebersihan. Panitia bekerja sama dengan pengurus masjid, aparat keamanan, dan pemerintah desa. TJE menyampaikan bahwa “kami bentuk posko pengamanan bersama yang dijaga bergilir antara warga dan aparat.” IA, mengatakan bahwa “semangat kerjanya luar biasa. Semua unsur masyarakat ingin acara ini berjalan lancar, karena sudah menjadi bagian dari identitas.” bagaimana habitus kolektif dan nilai sosial yang diwariskan secara turun-temurun menciptakan rasa tanggung jawab bersama. Tradisi memperkuat identitas bersama masyarakat melalui partisipasi sukarela yang berlangsung secara konsisten dan dihidupi oleh praktik sosial yang berulang dari tahun ke tahun. Interaksi yang terbentuk selama pelaksanaan Malam Selawe menampilkan relasi sosial yang sarat makna, di mana kehadiran masyarakat mencakup keterlibatan secara fisik, emosional, dan simbolik dalam tradisi. Fenomena mencerminkan perpaduan antara tindakan afektif, tindakan nilai, dan tindakan tradisional. Banyak peserta yang hadir karena dorongan emosional, keyakinan agama, serta kebiasaan yang telah tertanam sejak lama dalam keluarga dan lingkungan mereka. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan dapat dipahami sebagai bentuk dari habitus yang terbentuk dan diwariskan dalam struktur sosial masyarakat Gresik. Nilai kolektif seperti gotong royong, penghormatan terhadap tradisi, dan komitmen terhadap nilai religius telah membentuk kerangka tindakan masyarakat. Modal yang diperoleh baik berupa kepercayaan, penghormatan, atau kedekatan dengan komunitas menguatkan posisi sosial individu dalam konteks budaya keagamaan. Malam Selawe berperan sebagai ajang ritual keagamaan sekaligus menjadi ruang sosial yang memfasilitasi pertukaran makna, pengakuan sosial, dan pelestarian nilai Islam yang terus hidup di tengah masyarakat modern. Motif dan Perilaku Masyarakat Motif masyarakat dalam mengikuti tradisi menggambarkan keragaman dimensi makna yang melampaui sekadar ritual keagamaan. Sebagian besar masyarakat datang dengan niat ibadah yang kuat, mengharapkan keberkahan hidup, dan berharap mendapatkan keutamaan malam ganjil Ramadan, termasuk kemungkinan meraih malam Lailatul Qadar (Saputro dkk., 2023). Kehadiran masyarakat dipengaruhi oleh aspek religius serta dinamika sosial, budaya, dan emosional yang melekat dalam tradisi. Kegiatan yang telah menjadi bagian dari siklus tahunan masyarakat, semacam perjalanan religi tahunan dengan suasana kekeluargaan dan mempererat tali silaturahmi. Momen seperti ini menjadi satu kesempatan dalam setahun untuk berkumpul bersama keluarga, berbagi cerita, serta menghidupkan kembali hubungan yang sempat renggang karena kesibukan kehidupan. Kehadiran masyarakat dipengaruhi oleh rasa memiliki terhadap tradisi dan identitas yang melekat kuat. Tradisi telah menjadi bagian dari siklus kehidupan sosial, dan keikutsertaan dalam tradisi ini menjadi bentuk ekspresi identitas kolektif yang diwariskan secara turun-temurun (Sibarani, 2015). Banyak keluarga mempersiapkan momen ini jauh hari sebelumnya, baik dalam bentuk seperti makanan dan tempat istirahat, maupun dalam bentuk spiritual melalui doa dan penguatan niat ibadah. Kehadiran dalam acara menjadi sarana untuk menyatukan kembali keterhubungan spiritual dan sosial yang mulai renggang dalam kehidupan sehari-hari yang sibuk. Pengalaman bersama di malam menumbuhkan rasa persaudaraan yang melintasi batas keluarga. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 Gambar 4. Warga turun dari makam. Sumber dokumentasi pribadi Motif masyarakat terbentuk dari hubungan antara nilai, kebiasaan, dan emosi yang menyatu. Partisipasi dalam tradisi mencerminkan tindakan nilai karena dorongan religius; tindakan tradisional karena dibentuk oleh kebiasaan turun-temurun; dan tindakan afektif karena didorong oleh keinginan untuk merasakan kembali suasana kebersamaan dan kehangatan emosional (Fahruddin, 2025). Tradisi dipandang sebagai ibadah sekaligus sebagai ruang publik religi yang menghadirkan rasa aman, pengakuan, dan kedekatan. Beragam bentuk keterlibatan masyarakat dalam tradisi memperlihatkan adanya sistem nilai sosial yang hidup dan terus dijaga melalui pengalaman bersama. Kehadiran masyarakat pada Malam Selawe mencerminkan partisipasi aktif dalam budaya religius lokal. Tradisi mengandung berbagai lapisan makna spiritual, sosial, dan simbolik yang terus dijalani dan diwariskan dari generasi ke generasi melalui pengalaman bersama yang mengikat secara emosional dan sosial. GY mengatakan, “Saya ke sini setiap tahun. Rasanya seperti kewajiban. Selain karena keyakinan bahwa malam ini penuh berkah, saya juga bisa bertemu saudara-saudara jauh yang biasanya hanya kumpul di malam ini.” Penuturan menunjukkan adanya campuran antara tindakan nilai dan tindakan tradisional. Motif spiritual hadir bersamaan dengan dorongan budaya dan kebiasaan yang berulang. PK menyampaikan, "Awalnya cuma ikut-ikutan teman, tapi setelah dua tahun ikut, sekarang malah jadi yang mengajak teman-teman untuk datang bareng. Kita saling jaga, salat bareng, habis itu cari makan sahur bareng. Seru.” Pengalaman yang mengandung kombinasi antara tindakan afektif dan nilai. Meski awalnya didorong oleh hubungan emosional dan sosial, dalam prosesnya ia menemukan nilai spiritual yang membuat keikutsertaannya lebih bermakna. Kini berinisiatif mengajak orang lain sebagai bentuk komitmen terhadap tradisi. NT mengatakan, “Bukan hanya momen berdagang. Banyak pembeli yang datang itu kenalan saya. Ntah itu yang tidak ada kirim kabar tiba-tiba ketemu atau yang memang sudah janjian akan mampir. Ada hubungan batin di sini.” Tindakan rasional dengan tujuan ekonomi, namun juga menunjukkan tindakan afektif yang memperkuat relasi sosial antara pedagang dan pelanggan. Membuktikan bahwa meskipun motivasi ekonomi hadir, praktik tersebut tidak lepas dari unsur sosial. Tradisi menjadi arena yang fleksibel dan terbuka terhadap beragam motif tanpa menghilangkan nilai utamanya. Perilaku masyarakat sangat beragam. Jamaah terlihat sangat khusyuk mengikuti dzikir dan tahlil, berdiam lama dalam masjid untuk i’tikaf dan membaca Al-Qur’an. Banyak pula yang lebih aktif di luar area utama, mengunjungi pasar malam, mendokumentasikan suasana, atau sekadar berswafoto. Fenomena tidak selalu dapat dikategorikan sebagai bentuk penyimpangan atau penurunan nilai spiritual. Sebaliknya, mencerminkan bagaimana tradisi menjadi ruang yang lentur dalam menampung keragaman cara masyarakat menghayati makna spiritual. Tradisi menunjukkan bahwa dalam satu momentum religius, berbagai tipe tindakan sosial dapat berlangsung bersamaan dan saling melengkapi. Orang bisa datang karena nilai, karena emosi, karena kebiasaan, atau karena tujuan praktis namun tetap berada dalam kerangka sosial yang sama. Situasi menggambarkan bagaimana habitus masyarakat membentuk pola-pola partisipasi, dan bagaimana modal sosial serta simbolik diperoleh melalui keterlibatan yang berulang dan diakui komunitas. Motif dan perilaku masyarakat dalam tradisi ini mencerminkan dinamika sosial yang kompleks. Partisipasi merupakan cerminan dari keterlibatan yang terus 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Fenomena Perilaku Masyarakat (Moh. Dava Adhitya Mahesa) | 407-418 berkembang dan menyesuaikan diri dengan kondisi zaman, menjadikan tradisi tetap hidup, adaptif, dan bermakna di tengah arus modernitas. Pengaruh Media Sosial dan Adaptasi Modernitas Pelestarian Tradisi Malam Selawe menghadapi tantangan yang semakin, di tengah derasnya arus modernitas. Perubahan gaya hidup ke arah yang lebih praktis, maraknya budaya populer global, dan masifnya penggunaan teknologi digital telah menggeser perhatian masyarakat, terutama generasi muda, dari tradisi-tradisi lokal yang sarat makna spiritual. Tradisi yang dahulu menjadi ruang spiritual bersama kini kerap dianggap sekadar rutinitas tahunan, kehilangan daya tariknya karena kurang mampu berbicara dengan bahasa generasi baru. Pelestarian tidak cukup sekadar mengulang-ulang bentuk ritual, melainkan perlu memperkuat kembali makna, nilai, dan relevansi sosialnya (Wasngadiredja dkk., 2023). Pelestarian perlu diarahkan pada pendekatan yang kreatif dan partisipatif. Generasi muda perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pelestarian tradisi, dengan peran yang memungkinkan mereka menjadi bagian dari perumusan ulang bentuk dan makna tradisi. Mereka penggerak yang memahami dinamika zaman dan mampu menyampaikan nilai spiritual dalam cara yang relevan dengan kehidupan mereka. Tradisi Malam Selawe akan tetap hidup jika mampu menjadi ruang yang terbuka bagi interpretasi dan pengalaman baru, sambil tetap berpijak pada nilai-nilai dasar yang diwariskan. Peran media sosial menjadi salah satu alternatif baru dalam pelestarian. NP, mengatakan, “Kami sengaja membuat konten TikTok dan Instagram supaya teman-teman tertarik. Kadang pakai lagu biar masuk ke selera mereka.” Menunjukkan bahwa generasi muda perlu diberi ruang partisipasi yang lebih luas dalam tradisi. Mereka dapat menafsirkan ulang nilai-nilai tradisi melalui bahasa visual, media digital, dan pendekatan kreatif. Ditekankan bahwa tantangan terbesar justru berasal dari dalam komunitas, yaitu bagaimana menyampaikan ulang nilai tradisi agar tidak kehilangan makna spiritual dan sosialnya. Pendidikan menjadi jembatan utama untuk memperkuat pelestarian nilai. Integrasi nilai tradisi dalam pembelajaran agama dan kebudayaan. Pesantren, majelis, dan sekolah perlu aktif memperkenalkan sejarah dan tradisi. Dengan pembiasaan yang konsisten, anak-anak akan mengenal tradisi ini sebagai bagian dari jati diri mereka. Hal ini tampak dari munculnya bentuk partisipasi baru: mengikuti doa daring, membuat karya visual digital bertema tradisi, hingga membagikan pengalaman spiritual lewat media sosial. Bahwa modernisasi tidak selalu menjadi ancaman, justru bisa menjadi peluang jika diimbangi dengan niat edukatif dan dakwah (Tantowi, 2022). Modernisasi juga membawa dampak negatif. Sejumlah pengunjung mengungkapkan bahwa suasana spiritual terganggu oleh aktivitas ekonomi. Pengelolaan kawasan seperti Makam Sunan Giri perlu diatur agar tetap memprioritaskan nilai tradisi. Peran pemerintah, tokoh agama, dan komunitas lokal sangat krusial dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian dan komersialisasi. Tradisi memiliki peran lebih dari sekadar seremoni simbolik karena menjadi ruang aktualisasi nilai kolektif dan penguatan identitas keagamaan yang tumbuh dari pengalaman bersama dan partisipasi sosial (Ardhian dkk., 2023). Di tengah perubahan, tetap ada pelaku tradisi yang setia menjaga nilai-nilainya. Orang tua yang mengajak anak-anak ikut serta, guru yang mengaitkan materi pelajaran dengan nilai lokal, dan tokoh masyarakat yang menyampaikan makna historis tradisi. Kekuatan tradisi justru terletak pada regenerasi yang lahir dari kesadaran pelaku, bukan hanya struktur sosial (Anwar & Gusmail, 2021). Praktik sederhana seperti mengenakan pakaian muslim, membawa sajadah, dan menghormati waktu ibadah pada malam ke-25 menjadi bagian dari pendidikan nilai yang alami dan berkelanjutan. Malam Selawe dapat dimaknai sebagai proses kultural yang hidup dan terus tumbuh bersama dinamika zaman. Perayaan tahunan yang dijalankan sebagai bagian dari proses pembaruan sosial dan spiritual yang terus berlangsung. Nilai religi dan kebersamaan diuji oleh generasi yang hidup di masa kini. Malam Selawe menjadi ruang di mana makna lama dipertahankan dan makna baru dikembangkan, menjadikan tradisi hidup secara dinamis seiring perubahan zaman. Masyarakat terlibat dalam ruang