Asmaul husna Sebagai Sumber Etika Islam serta Implementasinya dalam Kehidupan
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Asmaul husna Sebagai Sumber (Muhammad Isrha, dkk.) | 185-189 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 10, November 2025, P. 185-189 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17999399 Asmaul husna Sebagai Sumber Etika Islam serta Implementasinya dalam Kehidupan 1Muhammad Isrha, 2Hamzah Harun, 3Indo santalia Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Email: 1Isrhamuham[email protected], 2Hamzahh[email protected], [email protected] Abstrak Dalam pemabahsan ini menginggung tentang Asmaul Husna sebagai sumber etika Islam serta implementasinya dalam kehidupan, termasuk pada pengertian asmaul husna itu sendiri, Asmaul Husna sebgai Sember pedoman pada etika dalam Islam, dan Bagaimana iMplementasinya ddalam Kehidupan. Dasar dari pada etika dalam islam berpedoman pada nama-nama Asmaul Husna dengan memiliki Arta yang mencakup semua perilaku manusia. Asmaul Husna berfungsi sebagai pedoman moral dan etika, memberikan nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah kajian pustaka yang mendalam, dengan menganalisis teks-teks klasik dan kontemporer terkait Asmaul Husna. Kesimpulan dari pembahasan ini menunjukkan bahwa pemahaman yang mendalam tentang Asmaul Husna tidak hanya penting untuk memperkuat iman, tetapi juga krusial dalam membentuk karakter yang kuat dan beretika. Di tengah tantangan modern, seperti sekularisme dan relativisme. Kata Kunci: Asmaul husna, Etika Islam, Kehidupan Abstract This discussion addresses Asmaul Husna as a source of Islamic ethics and its implementation in life, including the meaning of Asmaul Husna itself, Asmaul Husna as a source of guidance for ethics in Islam, and how it is implemented in daily life. The foundation of ethics in Islam is guided by the names of Asmaul Husna, which possess meanings that encompass all human behavior. Asmaul Husna functions as a moral and ethical guide, providing values that can be applied in everyday life. The method used in this article is an in-depth literature review, analyzing classical and contemporary texts related to Asmaul Husna. The conclusion of this discussion shows that a deep understanding of Asmaul Husna is not only important for strengthening faith, but also crucial in shaping strong and ethical character, especially amid modern challenges such as secularism and relativism. Keywords: Asmaul Husna, Islamic Ethics, Life Article Info Received date: 25 Oktober 2025 Revised date: 15 November 2025 Accepted date: 25 November 2025 PENDAHULUAN Dalam beberapa konsep islam yang menjadi ajaran inti adalah tauhid yang berfungsi sebgai pengakluan terhadap Allah, tetapi sebagai landasan semua aspek kehidupan muslim. Dalam tauhid meliputi dimensi spritual moral sosial dan epistemologi yang membentuk pandangan hidup umat islam. Sebagai dasar utama adalah keimanan, tauhid atau keyakinan itu sendiri yang mengarahkan pada individu untuk memahami dan menghayati hubungan mereka dengan Allah serta perannya dalam masyarakat. Salah satu aspek penting dari tauhid adalah pengenalan terhadap Asmaul Husna, yaitu namanama Allah yang indah dan mulia. Asmaul Husna bukan hanya sekadar identitas ilahiah; mereka juga berfungsi sebagai pedoman etika dan prinsip pembentukan karakter. Dengan memahami dan menginternalisasi Asmaul Husna, seorang Muslim dapat mengaplikasikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam nama-nama tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Konsep rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat memaparkan keterkaitan manusia dengan Tuhannya dalam berbagai dimensi kehidupan. Rububiyah mencakup pengakuan akan keberadaan dan pengaturan Allah atas semesta. Ini mengajarkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah ciptaan Allah, yang menunjukkan kuasa dan kebijaksanaan-Nya. Uluhiyah menekankan hak eksklusif Allah dalam penyembahan, yang mengajarkan
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Asmaul husna Sebagai Sumber (Muhammad Isrha, dkk.) | 185-189 pentingnya pengabdian hanya kepada-Nya dan menjauhkan diri dari penyembahan kepada selain-Nya. Sementara itu, asma wa sifat menyoroti kesempurnaan sifat-sifat Allah, yang menjadi panutan bagi umat Islam dalam menegakkan etika dan moral. 1 Namun, tantangan zaman modern membawa dampak signifikan terhadap pemahaman dan pengamalan tauhid. Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi, nilai-nilai ketauhidan sering tergerus oleh sekularisme, hedonisme, dan relativisme moral. Fenomena ini mengakibatkan banyak individu mengalami krisis identitas spiritual dan kehilangan arah dalam menentukan nilai hidup . Berbagai nilai yang seharusnya menjadi pegangan hidup, seperti keadilan (Al ‘Adl), kasih sayang (ArRahman), dan kejujuran (As-Shadiq), sering kali terabaikan dalam praktik sehari-hari. Dalam menyelesaikan tantangan ini, penting untuk meneguyhkan kembali tauhiod sebagai prinsip utama berperan dalam membentuk karakter dan etika kepada Allah, Kepada Manusia dan Kepada Lingkungan. Dengan mengimplementasikan konsep nilai pada ajarah Asmaul Husnah. METODE Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai Asmaul Husna serta implementasinya dalam kehidupan. Data pada penelitian ini diperoleh dengan metode penelitian studi literatur. Penelitian mengumpul;kan seliuruih data dalam proses penelitian melalui sebgai sumber yang ada untuk memperoleh berbagai informasi yang relevan dengan masalah yang ingin dipecahkan atau data yang diinginkan melaluyi Teknik yang sistematis. nformasi atau data tersebut dapat bersumber dari buku, jurnal, artikel ataupun dari internet atau website resmi yang sudah terindeks dan terakreditasi. Adapun langkah-langkah studi literatur atau studi pustaka menurut adalah: (1) tahap persiapan; (2) menyusun catatan yang digunakan mengenai sumber utama data; (3) mengatur jadwal penelitian dengan menetukan waktu yang tepat dalam pengumpulan data; (4) membaca, menganilisis serta membuat catatan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Asmaul Husna Asmaul Husna secara sederhana dapat diartikan sebagai nama-nama yang terbaik. Secara bahasa, istilah tersebut terdiri dari dua kata, Asma’ (أسماء) dan Husna (حسنى). Asma’ merupakan bentuk jamak dari kata ism ( اسم) yang bisa diartikan sebagai nama. Kata ini berakar dari kata sumuww ( سمو) yang berarti ketinggian atau simah (سمة) yang berarti tanda. Sedangkan kata Husna (حسنى) merupakan bentuk muannats/feminin dari kata Ahsan (أحسن) yang berarti terbaik. 2 Dalam Al-Husna merupakan bentuk muannats/feminin dari kata Ahsan yang berarti terbaik. Dengan demikian, kata Husna menunjukkan bahwa namanama Allah adalah nama-nama yang amat sempurna, tidak sedikitpun tercemar oleh kekurangan. 3 Dalam hal itu al-Asmâ dapat diartikan sebagai nama-nama terbaik yang dimiliki Allah. Sebagai contoh, sifat Pengasih adalah baik dan dapat disandang oleh makhluk manusia, tetapi karena bagi Allah, nama yang terbaik, maka sifat kasih-Nya melebihi sifat kasih makhluk, baik dalam kapasitas maupun substansinya. Di sisi lain, sifat pemberani merupakan sifat yang baik untuk manusia, tetapi tidak wajar disandang oleh Allah karena keberanian memiliki kaitan dengan hal-hal jasmani, sehingga tidak mungkin disandangkan kepada-Nya. Ini berbeda dengan sifat kasih, pemurah, dan adil. Manusia dianggap sempurna jika memiliki keturunan, tetapi sifat kesempurnaan ini tidak mungkin disandang oleh Allah karena akan menciptakan kesamaan dengan yang lain, serta menunjukkan kebutuhan yang 1 Muhammad Sendy Pratama and Rosyida Nurul Anwar, “Tauhid Dan Asmaul Husna Dalam Pembentukan Karakter Individu Muslim Di Era Globalisasi,” Kalamizu 1, no. 3 (2025): 310–24. 2 Muhammad Quraish Shihab, Tafsîr Al-Mishbâẖ. 7, Ed. rev (Tangerang: Lentera Hati, 2015), 216. 3 M. 2005 Quraishihab, Menyikap Tabir Ilahi “. N. Shihab, Ed (Lentera AtTamimi, M. B. K. 2000. “Mu’taqad Ahl as-Sunnah Wal Jama’ah Fi Al-Asma WaasSifat” 1st ed, 2000).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Asmaul husna Sebagai Sumber (Muhammad Isrha, dkk.) | 185-189 tidak mungkin bagi-Nya. Oleh karena itu, kata Husna menegaskan bahwa nama-nama-Nya adalah yang sangat sempurna, tidak tercemar oleh kekurangan sedikitpun. Dalam makna dari Asmaul husna yang dapat kita pahami sebagai nama-nama yang terbaik. Dalam penggunaannya, istilah tersebut disematkan kepada Allah SWT. Sehingga Asmaul Husna dapat di tarik pengertian sebagai nama-nama yang baik seerta indah bagi Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surah Al-Isra, 17:110 ِ لُقِِاوُعْداِِ هٰ اللِِّ وهاِاوُعْداِِ هنٰ مْحَّرلاِاًّيهاِِاَّمِا ْ وُعْدهتُِِههلهفِِ ُءۤاهمْسهْ لْاِِ ىٰنْسُحْلاِِه لْهوِِْ رههْجهتِِهك ته لَهص بِِه لْهوِِْت فاهخُتِاهه بِِ غهتْبا هوِِهنْيهبِِهك لٰذًِِ لَْي بهسِ “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Serulah ‘Allah’ atau serulah ‘Ar-Raḥmān’! Nama mana saja yang kamu seru, (maka itu baik) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!” 4 Menurut Quraish Shihab, penyifatan nama-nama Allah tersebut dengan kata yang berbentuk superlatif (husna) bukan saja berarti baik, namun juga yang terbaik bila dibandingkan dengan yang baik lainnya, yang dapat disandang-Nya atau baik hanya untuk selain-Nya saja tetapi tidak baik untuk-Nya. Dalam hal ini, misalnya Sifat Pengasih adalah baik. Sifat tersebut dapat disandang oleh makhluk/manusia, tetapi karena Asmaul Husna hanya milik Allah semata pastilah sifat kasih-Nya melebihi sifat kasih yang dimiliki oleh makhluk, baik dalam kapasitas maupun substansinya, tentulah berbeda. Di lain sisi, misalnya sifat pemberani merupakan sifat yang disandang oleh manusia, namun sifat tersebut tidak layak dan tidak mungkin disandangkan pada-Nya karena keberanian mengandung kiatan dalam substansi jasmani dan mental. Ini berbeda dengan sifat kasih, pemurah, adil, dan sebagainya. Demikianlah Asmaul Husna bagi Allah yang menunjukkan kesempurnaan bagi-Nya dan tidak sedikit pun tercemari oleh kekurangan, nama yang hanya milik-Nya semata. 5 Asmaul Husna sebagai Etika Islam Asmaul Husna pada dasarnya merupakan suatu yang penting untuk diketahui oleh umat Islam. Asmaul Husna merupakan pilar penting dalam akidah karena inti dari pada agama adalah mengenal Allah SWT. Asmaul Husna menjadi penghapus dahaga para ahli tauhid, selalu melekat di lisan para ahli dzikir dan menjadi bekal utama para pendaki jalan kemuliaan. Menurut Ibn al-Qayyim (sebagaimana dikutip oleh Menurut Muhammad Ratib al-Nablusi) bahwa mengetahui nama-nama Allah dan mempelajarinya adalalh akar semua ilmu. Barang siapa mempelajari nama-nama-Nya dengan saksama berarti ia telah menemui dasar semua ilmu. Sebab semua pengetahuan merupakan efek darinya dan selalu terikat dengannya. 6 Sesuatu yang menjadi dasar dari agama adalah mengenal Allah SWT. Melalui Asmaul Husna seseorang akan dapat mengenal Allah dengan sebaik-baiknya. Ilmu yang mendalam tentang Asmaul Husna dapat menjadi suatu perantara untuk mengagungkan Allah Yang Maha Menyelamatkan manusia dari siksa-Nya, menjadi jalan yang dapat membebaskan seorang hamba dari cengkraman hambahamba-Nya yang lain, menjadi pembangkit kekuatan untuk bertaubat serta menjadi sebab kebahagiaan dunia akhirat. 7 Pada prinsipnya Asmaul Husna Adalah produk dari Allah itu sendiri yang mengajarkan kepada makhluknya untuk bisa menjadikan pedoman dalam kehidupannya. Dalam konteks etika dalam islam pada dasarnya, berpedoman pada konsep Asmaul Husna yang menawarkan tentang akhlak yang mulia. Sumber dari akhlak manusia kepada Allah berada dalam kandungan Asmaul Husna dengan prinsip maha suci-Nya, asy-Syakur dan lain sebagainya. Sedangkan akhlak kepada sesama manusia dengan konsep maha penyayang-Nya dan maha pengasih-Nya, dan 4 Kementerian Agama RI Mushaf Al-Qur’an Tajwid dan Terjemahan, Terj. Yayasan Penerjemah Al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf AlQur’an. ( Solo:Abyan, 2014) 293 5 Muhammad Quraish Shihab, Tafsîr Al-Mishbâẖ. Hal. 382 6 Asep Syahrul Mubarok, Anis Hidayatul Imtihanah “NILAI ASMAUL HUSNA (AL QUDDUS) DALAM PENDIDIKAN ISLAM ERA SOCIETY 5.0,” El-Wasathiya 11, no. 2 (2023): 1–20. 7 Asep Syahrul Mubarok. NILAI ASMAUL HUSNA (AL QUDDUS) DALAM PENDIDIKAN ISLAM ERA SOCIETY 5.0, 6
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Asmaul husna Sebagai Sumber (Muhammad Isrha, dkk.) | 185-189 sedangkan akhlanya kepada lingkungan Atau Alam dengan konsep maha pemelihara dan maha pemberi makna. Asmaul Husna berfungsi untuk menanamkan rasa taqwa dan kedekatan dengan Allah. Dengan mengenal dan menghayati nama-nama-Nya, seorang Muslim dapat merasakan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupannya, yang pada gilirannya memperkuat ikatan spiritual dan meningkatkan kualitas ibadah. Misalnya, ketika seseorang memohon kepada Allah dengan nama Ar-Rahman, ia diingatkan akan kasih sayang dan rahmat Allah yang melimpah. 8 Asmaul Husna bukan hanya untuk diketahui semata namun juga didawamkan dalam dzikir dan doa serta diteladani dalam perilaku sehari-hari. “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menentukan jumlahnya (ahshaha) – atau memelajari dan mengamalkannya – niscaya ia masuk surga. 9 Allah memberikan nama-nama yang baik untuk diamalkan dan di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik melalui zikir, doa dan perbuatan. Implementasi Asmaul Husna Asmaul Husna tidak hanya berfungsi sebagai nama-nama Allah, tetapi juga sebagai panduan etika ilahiyah yang mengarahkan perilaku dan sikap individu. Setiap nama Allah mengandung makna yang mendalam dan bisa diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, membentuk karakter dan moralitas umat Islam. Al-‘Adl Asma Al-‘Adl mengajarkan pentingnya keadilan. Keadilan bukan hanya dalam konteks hukum, tetapi juga dalam interaksi sosial. Dengan menumbuhkan sikap adil terhadap diri sendiri dan orang lain, individu belajar untuk menghargai hak dan kewajiban. Sikap adil ini mendorong seseorang untuk tidak hanya memberikan hak kepada orang lain, tetapi juga mengambil tanggung jawab dalam setiap tindakan yang diambil. Dengan demikian, prinsip keadilan menjadi landasan bagi hubungan yang harmonis dalam masyarakat. Ar-Rahman Asma Ar-Rahman mendorong rasa empati dan kasih sayang. Ini mengajarkan umat Islam untuk menyebarkan cinta dan perhatian kepada sesama, baik kepada manusia maupun makhluk lainnya. Dengan menginternalisasi sifat kasih sayang Allah, individu akan lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan berusaha untuk membantu mereka. Rasa empati ini sangat penting dalam membangun solidaritas sosial, menciptakan lingkungan yang penuh kasih, dan mengurangi konflik di masyarakat. Al-Halim Asma Al-Halim mengajarkan kesabaran dan pengendalian diri. Dalam menghadapi berbagai tantangan dan ujian dalam hidup, sifat halim mengajak individu untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan yang bisa merugikan. Melatih kesabaran dan pengendalian diri membantu seseorang untuk bereaksi dengan bijaksana, bukan impulsif. Ini sangat penting dalam menjaga hubungan yang harmonis dengan orang lain, serta dalam mengatasi konflik dengan cara yang konstruktif. Dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Asmaul Husna, individu dapat membentuk karakter yang baik dan beretika. Ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan diri, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih adil, empatik, dan harmonis. Asmaul Husna sebagai panduan etika ilahiyah menjadi landasan yang kuat dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. 10 Adapun hubungan antara asmaul husna dengan perkembangan etika islam yaitu didalam pembiasaan ajaran agama yang dilakukan dengan menyebut naman ama Allah SWT atau disebut asmaul husna. Asmaul husna apabila dibaca dan dipelajari akan mendorong seseorang untuk meningkatkan 8 Pratama and Anwar, “Tauhid Dan Asmaul Husna Dalam Pembentukan Karakter Individu Muslim Di Era Globalisasi.” 316 9 Asep Syahrul Mubarok. "NILAI ASMAUL HUSNA (AL QUDDUS) DALAM PENDIDIKAN ISLAM ERA SOCIETY 5.0", 6. 10 Pratama and Anwar, “Tauhid Dan Asmaul Husna Dalam Pembentukan Karakter Individu Muslim Di Era Globalisasi.” 318
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 10 Asmaul husna Sebagai Sumber (Muhammad Isrha, dkk.) | 185-189 keimanan kepada Allah SWT. Kemudian apabila dihayati akan memotivasi seseorang untuk berbuat adil, rendah hati, penolong, bermurah hati, pemaaf, dermawan, penyabar dan penyayang. 11 SIMPULAN Asmaul Husna secara sederhana dapat diartikan sebagai nama-nama yang terbaik. Secara bahasa, istilah tersebut terdiri dari dua kata, Asma’ (أسماء) dan Husna (حسنى). Asma’ merupakan bentuk jamak dari kata ism ( اسم) yang bisa diartikan sebagai nama. Kata ini berakar dari kata sumuww ( سمو) yang berarti ketinggian atau simah (سمة) yang berarti tanda. Sedangkan kata Husna (حسنى) merupakan bentuk muannats/feminin dari kata Ahsan (أحسن) yang berarti terbaik. Asmaul Husna memiliki 99 nama yang memiliki nama menunjukkan sifat Allah yang kita harus pedomani Asmaul Husna pada dasarnya merupakan suatu yang penting untuk diketahui oleh umat Islam. Asmaul Husna merupakan pilar penting dalam akidah karena inti dari pada agama adalah mengenal Allah SWT. Asmaul Husna menjadi penghapus dahaga para ahli tauhid, selalu melekat di lisan para ahli dzikir dan menjadi bekal utama para pendaki jalan kemuliaan. Menurut Ibn al-Qayyim (sebagaimana dikutip oleh Menurut Muhammad Ratib al-Nablusi) bahwa mengetahui nama-nama Allah dan mempelajarinya adalalh akar semua ilmu. Barang siapa mempelajari nama-nama-Nya dengan saksama berarti ia telah menemui dasar semua ilmu. Sebab semua pengetahuan merupakan efek darinya dan selalu terikat dengannya. Asmaul Husna tidak hanya berfungsi sebagai nama-nama Allah, tetapi juga sebagai panduan etika ilahiyah yang mengarahkan perilaku dan sikap individu. Setiap nama Allah mengandung makna yang mendalam dan bisa diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, membentuk karakter dan moralitas umat Islam. REFERENSI asep Syahrul Mubarok, Anis Hidayatul Imtihanah. “Nilai Asmaul Husna (Al Quddus) Dalam Pendidikan Islam Era Society 5.0.” El-Wasathiya 11, No. 2 (2023): 1–20. Halim, Abdul. “Implementasi Pembacaan Asmaul Husna Dalam Membentuk Karakter Islami Pada Siswa Mts Al-Azhar Menganti Gresik.” Jurnal Pendidikan Agama Islam Miazhar 2, No. 2 (2023): 51–57. Pratama, Muhammad Sendy, And Rosyida Nurul Anwar. “Tauhid Dan Asmaul Husna Dalam Pembentukan Karakter Individu Muslim Di Era Globalisasi.” Kalamizu 1, No. 3 (2025). Muhammad Quraish Shihab, Tafsîr Al-Mishbâẖ. 7, Ed. Rev (Tangerang: Lentera Hati, 2015), 216. M. 2005 Quraishihab, Menyikap Tabir Ilahi “. N. Shihab, Ed (Lentera AtTamimi, M. B. K. 2000. “Mu’taqad Ahl As-Sunnah Wal Jama’ah Fi Al-Asma WaasSifat” 1st Ed, 2000). Kementerian Agama Ri Mushaf Al-Qur’an Tajwid Dan Terjemahan, Terj. Yayasan Penerjemah AlQur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. ( Solo:Abyan, 2014) 293 11 Abdul Halim, “implementasi pembacaan asmaul husna dalam membentuk karakter islami pada siswa mts al-azhar menganti gresiK,” Jurnal Pendidikan Agama Islam Miazhar 2, no. 2 (2023): 51–57.