1 Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhakti Luhur Volume: 11, Nomor: 11, ISSN: 26217911 DIVERSIFIKASI OLAHAN IKAN LAUT OLEH KELOMPOK “WANITA MANDIRI” DESA BAJO MEDANG SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR Yadi Hartono1, Alia Wartingsih2, Yudi Ahdiansyah3, Heri Kusnayadi4 Universitas Samawa
[email protected],
[email protected],
[email protected],
[email protected] Abstrak Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan di Desa Bajo Medang, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kelompok “Wanita Mandiri” dalam mengolah hasil tangkapan ikan laut menjadi produk olahan bernilai tambah, seperti abon ikan dan nugget ikan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi tahap sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan yang dilaksanakan secara partisipatif pada bulan Oktober hingga November 2025. Kegiatan ini diawali dengan observasi dan koordinasi bersama pemerintah desa untuk mengidentifikasi potensi serta permasalahan mitra. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan peserta setelah mengikuti pelatihan, terutama dalam hal teknik pengolahan ikan, pengemasan produk, serta pengelolaan keuangan sederhana berbasis digital. Produk yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan ikan segar dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha mikro yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi terhadap pemberdayaan perempuan pesisir dan peningkatan ekonomi masyarakat melalui diversifikasi olahan hasil laut. Kata Kunci: Diversifikasi Olahan Ikan, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, Pelatihan, Ekonomi Rumah Tangga, Wanita Mandiri. Abstract The Community Partnership Program (PKM) was carried out in Bajo Medang Village, Labuhan Badas Subdistrict, Sumbawa Besar Regency, West Nusa Tenggara Province. The program aimed to enhance the capacity and skills of the “Wanita Mandiri” (Independent Women) group in processing marine fish catches into value-added products such as fish floss (abon ikan) and fish nuggets. The implementation methods included stages of socialization, counseling, and participatory training conducted from October to November 2025. The activities began with observation and coordination with the village government to identify the partners’ potentials and problems. The results showed a significant increase in participants’ knowledge and skills after the training, particularly in fish processing techniques, product packaging, and simple digital-based financial management. The processed products have a higher market value compared to fresh fish and show potential to be developed into sustainable micro-enterprises. Overall, this program contributed to the empowerment of coastal women and the improvement of the local economy through diversification of marine-based products. Keywords: Fish Product Diversification, Coastal Community Empowerment, Training, Household Economy, Independent Women.
2 PENDAHULUAN Bajo medang merupakan kelurahan di Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa Besar, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa ini memiliki luas wilayah 19 km2. Per tahun 2024, terdapat 1.549 jiwa yang tinggal diwilayah ini (BPS, 2024). Kelurahan Bajo Medang memiliki kondisi geografis berupa wilayah pesisir dengan topografi datar dan ketinggian rata-rata 10 mdpl. Akses menuju desa ini hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dari Pelabuhan labuhan badas menuju pulau medang. Potensi sumber daya alam dikelurahan ini sangat besar terutama dari segi hasil laut yang melimpah namun masih belum tergali dengan maksimal dan optimal. Mata pencaharian mayoritas masyarakat kelurahan Bajo Medang adalah nelayan. Sebagaian besar kegiatan perekonomian di kelurahan bajo medang ditopang oleh industry perikanan, sekitar 90% penduduknya adalah nelayan dan 10% adalah petani dan tukang, akan tetapi masih banyak hasil laut yang dikumpulkan para nelayan belum mencukupi untuk kebutuhan hidup nelayan itu sendiri. Hal ini dikarenakan pemahaman masyarakat terhadap pengolahan dan pemasaran hasil laut masih tergolong rendah, dan kukurangan finansial juga menjadi faktor utama untuk melakukan segalanya. Tingkat pendapatan para nelayan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, harga ikan masih murah karena dijual kepedagang yang yang bersedia menerima hasil laut mereka, dan biasanya para nelayan menjual hasil tangkapan ke pengepul dengan harga Rp. 25.000,- per kg. Dengan keterbatasan kemampuan pengolahan dan pemasaran ikan dengan harga jual yang tinggi merupakan persoalan yang selama ini menjadi permasalahan yang belum terselasikan. Bajo medang memiliki potensi alam yang melimpah terutama dalam sumber daya laut, akan tetapi belum dapat membuahkan hasil yang lebih baik dan belum bisa meningkatkan pendapatn keluarga masyarakat nelayan secara signifikan. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan gizi keluarga, terutama anak. Solusi yang dapat memberikan wawasan kepada masyarakat terutama wilayah pesisir adalah bagaimana cara meningkatkan nilai jual hasil laut dan memperbaiki prekonomian para nelayan sehingga mampu memenuhi gizi keluarga yang cukup. Ikan yang di tangkap tidak dijual mentah hanya untuk pedagang, tetapi ikan harus diolah menjadi berbagai jenis makanan karena alasan ini akan meningkatkan nilai jual dibandingkan harga ikan mentah segar. Hidayat (2021), menjelaskan bahwa penggunaan teknologi pengolahan hasil perikanan berpotensi untuk meningkatkan nilai jual hingga dua kali lebih tinggi dibandingkan produk segar yang belum diolah. Selain itu, keanekaragaman olahan ikan menjadi produk siap konsumsi seperti abon, nugget, dan bakso ikan dapat memperpanjang masa simpan serta meningkatkan daya saing produk di pasar lokal maupun regional (Sari & Putra, 2022). Solusi yang nyata yang kami tawarkan adalah dengan memberikan pelatihan yang berkualitas dalam mengolah ikan yaitu menjadi abon dan nugget ikan. Perempuan di daerah pesisir mempunyai peran penting dalam membantu prekonomian rumah tangga melalui aktivitas pasca tangkap dan pengolahan hasil laut. Pemberdayaan perempuan melalui peningkatan keterampilan dalam pengolahan ikan diharapkan dapat menciptakan kemandirian ekonomi rumah tangga sekaligus meningkatkan ketahanan sosial masyarakat pesisir (Rahmawati, 2021). Pengembangan keterampilan dan pengetahuan dalam pengolahan hasil laut adalah bentuk nyata dalam pemberdayaan masyarakat agar selalu bisa berinovasi dan berkreasi untuk mencapai prekonomian mandiri. Kreativitasan masyarakat pesisir harus digali agar unggul dan layak untuk dipasarkan kepada masyarakt luas sebagai salah satu kewirausahan yang berkelanjutan. Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan Program Kemitraan Masyarakat bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan kelompok “Wanita Mandiri” di Desa Bajo Medang dalam mengolah hasil tangkapan ikan laut menjadi produk bernilai tambah. Melalui kegiatan sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan diharapkan kelompok sasaran mampu menghasilkan produk olahan seperti abon dan nugget ikan yang memiliki nilai
3 jual tinggi serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha mikro yang berkelanjutan di tingkat rumah tangga nelayan. METODE Metode yang kami gunakan adalah metode sosialisasi. Metode ini melibatkan masyarakat sebagai subek juga objek kegiatan didalamnya yang mengharuskan partisipasi aktif dari seluruh peserta pelatihan mulai awal acara sampai dengan pengemasan produk. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai dari tahap koordinasi dan sosialisasi, penyuluhan dan pelatihan. Adapun tahapan pelaksanaan ini sebagai berikut : HASIL DAN PEMBAHASAN a. Tahap Koordinasi dan Sosialisasi Tahap koordinasi adalah tahap awal sebelum melakukan kegiatan. Pada tahap ini seluruh tim pelaksana melakukan kegiatan koordinasi internal kepada kepala desa untuk melakukan kegiatan didesa tersebut sekaligus menyusun rencana kegiatan, meyiapkan administrasi, dan menentukan jadwal untuk turun lapangan. Kegiatan ini meliputi penyusunanan rancangan kerja, identifikasi kebutuhan mitra, dan mengumpulkan data awal mengenai kondisi ekonomi bajo medang. Gambar 1. Koordinasi Dengan Kepala Desa Bajo Medang Selanjutnya tim pelaksana melakukan sosialisasi (Gambar 2) dengan kelompok “Wanita Mandiri” untuk memaparkan tujuan, manfaat, dan tahapan pelaksanaan program secara rinci. Sosialisasi juga berfungsi untuk membangun komunikasi yang baik antara tim pengabdian dan masyarakat agar tercipta rasa saling percaya dan dukungan aktif dari pihak-pihak yang terlibat. Gambar 2. Tahap Sosialisasi Pada tahap ini juga dilakukan identifikasi potensi dan permasalahan yang dihadapi oleh kelompok pengolah ikan di Desa Bajo Medang, menggunakan pretes yang berisi 9 pertanyaan terkait pengetahuan cara mengolah ikan dengan benar (Gambar 3).
4 Gambar 3. Kegiatan Pengisian Pretes Hasil sosialisasi menjadi dasar dalam penyusunan materi dan strategi kegiatan lanjutan seperti penyuluhan dan pelatihan. Melalui tahap sosialisasi, peserta memperoleh pemahaman awal mengenai pentingnya diversifikasi olahan ikan laut sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Gambar 4. Hasil analisis Pre-test terkait divertivikasi olahan ikan Analisis hasil pretes menunjukkan bahwa lebih banyak respoden yang menjawab pernah pada pertanyaan 1 – 3 akan tetapi terjadinya penurunan pada pertanyaan 4-6 dan yang menjawab tidak tahu lebih banyak (Gambar 4). Hal ini menunjukkan bahwa kelompok mitra masih membutuhkan peningkatan kapasitas dan pendampingan dalam bidang manajemen usaha, inovasi produk dan pemasaran berbasis digital agar dapatmengoptimalkan potensi sumber daya perikanan yang dimiliki. b. Tahap penyuluhan Tahapan kedua adalah penyuluhan, yang difokuskan pada pengembangan pengetahun mengenai pentingnya pengolahan hasil laut dan faktor pendukung kewirausahaan. Pada tahap ini peserta juga diberikan pemahaman tentang pengelolaan keuangan sederhana menggunakan buku kas. Peserta diajarkan cara mencatat pengeluaran dan pemasukkan secara digital untuk memudahkan pemantaunya biaya produksi, laba, dan arus kas usaha. Pendekatan ini penting agar anggota kelompok mempunyai kemapuan dasar dalam mengatur aktivitas ekonomi jangka Panjang.
5 Gambar 4. Tahap Penyuluhan Pada kegiatan ini juga dilakukan serah terima pemberian alat bantuan pengolahan hasil olahan ikan kepada ketua kelompok mitra. Penyerahan simbolis alat ini dilakukan oleh Ketua Tim Yadi Hartono, M.Si di wakili oleh Anggota Tim Alia Wartiningsih, M.Si (Gambar 5). Gambar 5. Penyerahan secara simbolis bantuan alat produksi c. Tahap pelatihan Tahap selanjunya adalah tahap pelatihan diversifikasi olahan ikan dilakukan keesokan harinya, pada tanggal 3 November 2025. Pelatihan ini diikuti oleh kelompok Wanita Mandiri yang berjumlah 50 orang. Kegiatan diawali dengan mengisi daftar hadir kegiatan, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan, dikarenakan adanya keterlibatan Kelompok PKK Desa Bajo Medang sehingga pada pelatihan ini yang memberikan arahan adalah Ibu Kades Desa Bajo Medang. Praktik pembuatan produk berbasis olahan dilakukan kurang lebih 7 jam (420 menit). Gambar 6. Pelatihan Pembuatan Abon Ikan dan Nagget Ikan Hasil pengamatan selama pelatihan menunjukkan bahwa kelompok mitra telah mampu membuat produk berbahan dasar olahan ikan. Terdapat dua produk olahan ikan yang dibuat oleh kelompok Wanita Mandiri yaitu Abon Ikan dan Nugget Ikan (Gambar 7). Gambar 7. Produk Abon Ikan dan Nagget Ikan
6 Kelompok Wanita mandiri kemudian belajar untuk melakukan pengemasan produk hasil olahan. Kegiatan ini menghasilkan dua jenis kemasan yaitu dalam bentuk standing pouch dan plastik vacuum (Gambar 8). Kemasan yang dibuat yaitu kemasan abon ikan dan kemasan nagget ikan. Gambar 8. Pengemasan Produk Olahan Setelah pemberian pelatihan, kelompok responden diberikan soal postes. Hasil postes menunjukkan bahwa setelah dilakukannya pelatihan terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah kegiatan pelatihan. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan yang telah dilakukan dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta pelatihan (mitra PKM) secara menyeluruh, terutama dalam hal pengolahan ikan, pengemasan, manajemen keuangan secara digital, dan pemasaran digital. Gambar 9. Grafik Hasil Postes terkait diversifikasi olahan ikan KESIMPULAN Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan di Desa Bajo Medang berhasil mencapai tujuan utama, yaitu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan kelompok “Wanita Mandiri” dalam mengolah hasil tangkapan ikan laut menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Pelaksanaan kegiatan yang meliputi tahap koordinasi, sosialisasi, penyuluhan, dan pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil postes dibandingkan dengan pretes. Peserta mampu menghasilkan dua produk unggulan, yaitu abon ikan dan nugget ikan, dengan kemasan menarik yang berpotensi dikomersialisasikan. Selain itu, peserta juga memahami pengelolaan keuangan sederhana sebagai dasar pengembangan usaha rumah tangga. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis partisipatif mampu meningkatkan kapasitas ekonomi dan kreativitas perempuan pesisir, serta menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat nelayan. DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Kecamatan Labuhan Badas dalam Angka 2024. BPS Kabupaten Sumbawa Besar. Hidayat, A. (2021). Teknologi pengolahan hasil perikanan sebagai upaya peningkatan nilai tambah produk laut. Jurnal Teknologi Pangan, 9(2), 112–118.
7 Rahmawati, D. (2021). Peran perempuan pesisir dalam penguatan ekonomi rumah tangga melalui pengolahan hasil laut. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 5(1), 45–53. Sari, N., & Putra, A. (2022). Inovasi diversifikasi produk olahan ikan untuk peningkatan nilai ekonomi di daerah pesisir. Jurnal Agroindustri dan Perikanan, 14(3), 203– 210.