scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Internalisasi Nilai Antinarkoba Sebagai Mekanisme Sosial: Pendekatan Fungsionalisme Terhadap Sosialisasi BNN Kabupaten Sidoarjo

Faiz Muktar Ghonim Irawan

Full text

2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Internalisasi Nilai Antinarkoba (Faiz Muktar Ghonim Irawan) | 487-492 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 487-492 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18000498 Internalisasi Nilai Antinarkoba Sebagai Mekanisme Sosial: Pendekatan Fungsionalisme Terhadap Sosialisasi BNN Kabupaten Sidoarjo Internalization of Anti-Drug Values as a Social Mechanism: A Functionalist Approach to the Socialization Programs of the National Narcotics Agency (BNN) of Sidoarjo Regency Faiz Muktar Ghonim Irawan 1 1 Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poitik, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Surabaya, Indonesia Email Coresponden: faizmuk[email protected] Abstrak Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar menjadi perhatian serius karena pelajar berada pada fase rentan dalam proses pembentukan nilai dan jati diri. Sosialisasi yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sidoarjo menjadi salah satu strategi preventif yang penting. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana materi penyuluhan yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi BNNK Sidoarjo dapat membentuk kesadaran dan nilai sosial antinarkoba di kalangan pelajar. Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung terhadap kegiatan penyuluhan serta telaah terhadap materi presentasi resmi BNNK Sidoarjo yang berjudul Indonesia Darurat Narkoba. Hasil deskriptif menunjukkan bahwa materi penyuluhan menekankan nilai tanggung jawab, kesadaran sosial, dan kontrol diri sebagai landasan dalam membangun sikap antinarkoba. Penyampaian materi yang interaktif dan berbasis narasi pengalaman juga membantu menguatkan pemahaman pelajar terhadap bahaya narkoba dalam konteks kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: antinarkoba, pelajar, penyuluhan, sosialisasi Abstract Drug abuse among students has become a serious concern, as they are in a vulnerable phase of identity and value formation. The socialization efforts carried out by the National Narcotics Agency of Sidoarjo Regency (BNNK Sidoarjo) serve as a crucial preventive strategy. This paper aims to describe how the educational content delivered in BNNK Sidoarjo’s outreach programs contributes to the development of anti-drug awareness and social values among students. This study adopts a qualitative descriptive approach, with data collected through direct observation of outreach activities and an analysis of the official presentation material titled Indonesia Darurat Narkoba. The findings show that the outreach materials emphasize values such as responsibility, social awareness, and self-control as foundations for building anti-drug attitudes. The use of interactive delivery methods and narrative-based messages further strengthens students' understanding of drug dangers in everyday life contexts. Keywords: anti-drugs, educatio,; prevention,; students Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 18 December 2025 PENDAHULUAN Penyalahgunaan narkoba merupakan persoalan sosial yang masih menjadi perhatian serius, terutama di kalangan pelajar. Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa (Islam & 2020, n.d.). Masa remaja adalah tahap krusial dalam pembentukan jati diri, di mana individu sedang mencari nilai, orientasi, dan tempat dalam kehidupan sosial. Pelajar dalam prosesnya, menghadapi tantangan internal, tapi juga rentan terhadap tekanan eksternal seperti ajakan teman sebaya, pengaruh media, hingga paparan informasi yang keliru. Fenomena ini membuat pelajar menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dalam pusaran peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Fenomena tersebut tidak hanya menunjukkan kerentanan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Internalisasi Nilai Antinarkoba (Faiz Muktar Ghonim Irawan) | 487-492 individu, tetapi juga mencerminkan adanya disfungsi sosial pada sistem nilai yang belum sepenuhnya berjalan efektif. Pada konteks ini, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar dapat dipahami sebagai gejala sosial yang menandakan lemahnya mekanisme pengendalian sosial yang berfungsi menjaga keseimbangan masyarakat. Badan Narkotika Nasional sebagai lembaga negara yang bertugas dalam pencegahan dan penanggulangan narkoba menargetkan pelajar sebagai sasaran utama kampanye antinarkoba. Mereka dianggap sebagai generasi muda yang sedang membangun identitas diri dan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan. Pelajar menjadi subjek yang diharapkan mampu membangun kesadaran sosial dan menjadi bagian dari upaya kolektif melawan narkoba. Masih umum ditemukan banyak pelajar yang terpapar narkoba, baik sebagai pengguna pasif, aktif, maupun sebagai bagian dari rantai distribusi. Ada pula yang terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang narkoba, entah karena glorifikasi lewat media atau kurangnya edukasi yang mendalam. Upaya BNN dalam mengedukasi pelajar melalui sosialisasi bukan hanya sekadar kegiatan informatif, tetapi juga bagian dari proses internalisasi nilai sosial yang berfungsi memperkuat solidaritas dan keteraturan sosial. Proses ini dapat dipahami melalui kacamata fungsionalisme, yang melihat masyarakat sebagai sistem dengan setiap bagian memiliki fungsi untuk menjaga keseimbangan dan stabilitasnya. Situasi tersebut menandakan adanya kesenjangan antara harapan ideal dan realitas di lapangan. Untuk menjembatani kesenjangan itu, salah satu strategi yang diupayakan adalah melalui pendekatan edukatif. Sosialisasi dan penyuluhan menjadi sarana penting dalam menanamkan nilai, membentuk kesadaran, dan membangun pemahaman kritis di kalangan pelajar. Peran Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sidoarjo sebagai agen edukatif yang terlibat langsung dalam penyampaian nilai kepada generasi muda. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan BNNK Sidoarjo ke sekolah-sekolah bukan sekadar kegiatan formal, melainkan menjadi ruang interaksi sosial tempat nilai ditanamkan dan makna dibentuk. Intersocial network development adalah wadah untuk memfasilitasi kegiatan edukasi yang memiliki fungsi untuk pengenalan, pembelajaran dan juga pengembangan pengetahuan yang sudah diajarkan (Mulyadi et al., 2020). Penyalahgunaan narkotika di wilayah Sidoarjo memperlihatkan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Salah satu indikator utama terlihat pada jumlah narapidana di lembaga pemasyarakatan yang tersangkut kasus narkoba. Lapas Kelas I Porong tahun 2020 mencatat lebih dari 1.500 orang terlibat kasus narkotika, jauh melebihi jumlah penghuni untuk kasus kriminal umum maupun tindak pidana korupsi. Lapas Kelas II Sidoarjo tahun 2020 juga mencatat angka yang tinggi, dengan lebih dari 700 orang terjerat kasus serupa. Kondisi ini menunjukkan bahwa peredaran narkoba telah menjadi salah satu masalah hukum paling menonjol di wilayah tersebut. Tingginya angka tersebut memperlihatkan adanya tekanan sosial yang dapat mengganggu fungsi integratif masyarakat. Dalam kerangka fungsionalisme, ketidakseimbangan seperti ini menuntut adanya intervensi sosial yang mampu mengembalikan tatanan nilai agar masyarakat kembali stabil. Sejumlah titik di Sidoarjo teridentifikasi sebagai kawasan rawan peredaran gelap narkotika. Lokasi-lokasi dengan intensitas pergerakan manusia yang tinggi, seperti Bandara Internasional Juanda, Terminal Purabaya, dan Stasiun Sidoarjo menjadi salah satu fokus pengawasan. Juga tempat kost, hotel, jasa pengiriman barang, serta tempat hiburan seperti kafe dan karaoke juga termasuk dalam kategori titik rawan. Data mencatat keberadaan lebih dari 90 hotel dan hampir 200 jasa pengiriman di wilayah ini, yang mencerminkan potensi luasnya distribusi narkoba melalui jalur-jalur non-tradisional. Temuan dari Badan Narkotika Nasional (BNN) bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap bahwa penyalahgunaan narkoba tidak hanya terbatas pada kelompok tertentu. Sebagian besar pengguna berasal dari kalangan pekerja, mencapai angka 66,1%. Sementara itu, pelajar dan mahasiswa mencakup sekitar 13,8% dari keseluruhan pengguna. Persentase ini memperlihatkan bahwa kelompok usia produktif dan generasi muda sangat rentan terhadap pengaruh narkotika, termasuk di lingkungan pendidikan. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Internalisasi Nilai Antinarkoba (Faiz Muktar Ghonim Irawan) | 487-492 Tiga jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi dalam kurun waktu satu tahun terakhir adalah ganja, sabu, dan ekstasi. Ganja menempati urutan pertama dengan persentase pengguna sebesar 65,5%. Bentuk penyebarannya pun semakin bervariasi, seperti ganja sintetis yang diubah dalam bentuk cairan vape atau serbuk yang dicampur dalam minuman. Selain itu, muncul juga inovasi berbentuk "permen narkoba" yang menyasar kelompok muda dengan tampilan yang tidak mencurigakan. Fenomena ini menambah tantangan dalam upaya pengawasan dan penanggulangan. Maraknya variasi bentuk narkoba juga menjadi indikator perubahan dinamika sosial yang menuntut adaptasi dari sistem pengawasan dan edukasi. BNNK Sidoarjo melalui penyuluhan diharapkan dapat berfungsi sebagai penyeimbang sosial yang menguatkan nilai moral di tengah perubahan tersebut. Materi penyuluhan yang disampaikan oleh BNNK Sidoarjo menekankan pentingnya peran edukasi dalam memutus rantai penyalahgunaan narkoba. Selain penguatan aspek hukum, strategi pencegahan diarahkan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai bahaya narkoba, jenis-jenis zat adiktif, serta faktor-faktor yang memengaruhi kerentanan individu, termasuk kondisi keluarga dan lingkungan sosial. Pendekatan ini bertujuan membangun ketahanan sosial yang lebih kuat, dengan melibatkan masyarakat secara aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian peredaran gelap narkotika. Berbeda dengan kebanyakan tulisan yang menyoroti bentuk program atau efektivitas kegiatan sosialisasi, artikel ini secara khusus menyoroti konten atau materi penyuluhan yang disampaikan. Materi penyuluhan tidak bisa dipisahkan dari proses pembentukan kesadaran sosial karena melalui materi itulah nilai-nilai dibungkus, dijelaskan, dan disampaikan kepada audiens. Penulisan ini melihat materi penyuluhan bukan hanya sebagai informasi, tetapi sebagai alat sosialisasi nilai yang secara simbolik dan naratif membentuk pemahaman pelajar terhadap narkoba, moralitas, dan kehidupan sosial mereka. Isi dalam materi akan dijelaskan secara lebih dalam, sehingga diharapkan bisa menangkap pesan-pesan sosial yang ingin dibentuk oleh negara kepada warganya, terutama generasi muda. Tulisan ini bertujuan untuk memahami bagaimana materi penyuluhan BNNK Sidoarjo berperan dalam membentuk nilai antinarkoba di kalangan pelajar. Fokus utama adalah pada cara materi membingkai narkoba sebagai masalah moral dan sosial, serta bagaimana materi tersebut digunakan untuk memperkuat norma sosial yang mendukung kehidupan sehat dan produktif. Penulisan ini juga ingin melihat bagaimana materi tersebut berinteraksi dengan pengalaman pelajar dan bagaimana proses sosialisasi nilai itu dijalankan di ruang-ruang edukatif seperti sekolah. Kajian ini menempatkan penyuluhan BNNK Sidoarjo bukan hanya sebagai intervensi pendidikan, tetapi sebagai mekanisme sosial yang berfungsi menjaga keteraturan dan solidaritas sosial di kalangan generasi muda melalui internalisasi nilai antinarkoba. METODE Penulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menggambarkan secara mendalam bagaimana materi penyuluhan yang disampaikan oleh BNNK Sidoarjo berperan dalam membentuk nilai antinarkoba di kalangan pelajar. Data bersumber dari materi presentasi penyuluhan yang dianalisis secara tematik, serta pengalaman langsung penulis saat mengikuti kegiatan tersebut, yang digunakan untuk memahami bagaimana pesan disampaikan dalam konteks sosial dan simbolik. Penulis juga menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi dilakukan secara langsung oleh penulis saat mengikuti kegiatan penyuluhan di lapangan. Observasi ini bertujuan untuk menangkap bagaimana pesan-pesan antinarkoba disampaikan, baik melalui narasi visual (PPT), penyampaian lisan, hingga interaksi dengan audiens. Pengalaman ini memberikan gambaran lebih utuh tentang bagaimana konten materi digunakan dalam konteks sosial yang nyata. Literatur review dalam tulisan ini digunakan untuk memperkuat kerangka analisis dan memberikan dasar teoritis dalam membaca materi penyuluhan. Penulis merujuk pada teori sosialisasi dari Émile Durkheim untuk melihat penyuluhan sebagai proses pembentukan nilai dalam masyarakat. 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Internalisasi Nilai Antinarkoba (Faiz Muktar Ghonim Irawan) | 487-492 Teori konstruksi sosial dari Berger & Luckmann digunakan sebagai kerangka pemaknaan terhadap isi dan penyampaian materi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pesan Etika Sosial dalam Materi Penyuluhan Materi penyuluhan yang disampaikan oleh BNNK Sidoarjo menekankan pentingnya nilai-nilai moral sebagai landasan dalam menolak penyalahgunaan narkoba. Nilai-nilai seperti tanggung jawab terhadap tubuh sendiri, kesadaran kesehatan, serta penghargaan terhadap kehidupan menjadi garis besar dari materi. Salah satu pesan kunci dalam penyuluhan adalah ajakan kepada pelajar untuk mengambil peran aktif dalam melindungi diri sendiri dan lingkungan sekitar dari ancaman narkoba, yang secara simbolik memperkuat nilai kontrol sosial. Penekanan semacam ini merupakan bentuk internalisasi norma sosial yang memperkuat identitas moral pelajar sebagai individu yang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya. Secara sosiologis, nilai-nilai ini berfungsi sebagai mekanisme pengendalian sosial yang mencegah perilaku menyimpang melalui pembentukan kesadaran moral sejak usia sekolah. BNNK tidak hanya menyebarkan informasi, tapi juga menanamkan sistem nilai yang berperan menjaga keseimbangan sosial di lingkungan pelajar. Secara simbolik, penyuluhan juga menyandingkan narkoba dengan gambaran kerusakan sosial dan pribadi. Materi menjelaskan bahwa penyalahgunaan narkoba berdampak pada fisik (seperti perubahan mata, mulut, dan gerak tubuh), psikis (ketergantungan, halusinasi, paranoia), hingga sosial (terjerat hukum, kehilangan keluarga, stigma masyarakat). Dampak narkoba bagi kesehatan juga meliputi rusaknya otak manusia secara permanen, dapat juga menimbulkan kerusakan gigi, jantung, hati, paru-paru, ginjal, lambung dan organ reproduksi manusia bahkan bayi yang dikandung dari ibu pecandu narkoba dapat terlahir secara cacat mental maupun fisik (Ilmiah Kesehatan et al., 2017). Penyuluhan menggambarkan narkoba bukan hanya sebagai ancaman kesehatan, tapi sebagai bentuk pelanggaran terhadap tatanan nilai masyarakat. Klasifikasi narkoba dalam materi juga memperkuat muatan nilai moral. Narkoba dibagi menjadi beberapa golongan berdasarkan tingkat risiko dan efeknya, seperti beberapa jenis Narkotika Golongan I yang sering didengar dalam pemberitaan adalah ganja, sabu-sabu, opium, kokain, heroin, MDMA. Golongan II yang sering dijumpai adalah Benzetidin, Betametadol, morfin. Pada Golongan III ada yang mudah kita temui yaitu kodein yang digunakan sebagai campuran obat batuk. Ada pun narkotika jenis baru seperti tembakau gorilla, flakka, blue sapphire, kratom (Pramesti et al., n.d.). Meskipun bentuknya berbeda-beda, semuanya dianggap merusak jika disalahgunakan. Sosialisasi penyuluhan memperingatkan bahwa memilih untuk menggunakan narkoba sama dengan memilih untuk keluar dari nilai sosial yang sehat. Ini menunjukkan bahwa materi penyuluhan tidak sekadar informatif, tetapi juga normatif—mengajak pelajar untuk menilai tindakan mereka bukan hanya dari sisi hukum, tetapi dari sisi etika dan tanggung jawab sosial (BNNK Sidoarjo, 2024). Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana norma sosial bekerja secara halus melalui pendidikan moral, menegaskan fungsi sosial penyuluhan sebagai penjaga integrasi nilai di kalangan remaja. Strategi Penyampaian Pemateri Sosialisasi Badan Narkotika Nasional Kabupaten Sidoarjo memiliki strategi sendiri dalam penyuluhan tampak dirancang untuk membangun keterlibatan emosional dan kognitif peserta. Penyuluhan disampaikan dengan cara narasi interaktif, cerita nyata, dan ilustrasi visual yang kontekstual. Pada salah satu slide, Informasi narkoba generasi baru kini hadir dalam bentuk yang sulit dikenali: permen, minuman, hingga liquid vape yang mudah ditemui di masyarakat. Fakta ini menegaskan pentingnya strategi penyampaian yang tepat agar materi penyuluhan antinarkoba tidak sekadar menjadi teori, tetapi benar-benar dipahami dan diantisipasi oleh pelajar. Menampilkan gambar permen warna-warni dan cairan vape yang disebut mengandung zat adiktif, disertai keterangan bahwa bentuk-bentuk ini sering digunakan untuk menyamarkan narkoba di lingkungan sekolah (BNNK Sidoarjo, 2024). Strategi ini 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Internalisasi Nilai Antinarkoba (Faiz Muktar Ghonim Irawan) | 487-492 menjadi bisa dirasakan kenyataannya dalam menyentuh realitas keseharian pelajar dan membangun kewaspadaan yang lebih personal. Penyuluh juga menggunakan istilah-istilah populer yang ada, seperti “Flakka” Flakka, adalah sintetis dari jenis katinon yang dijual sebagai obat desainer, pengguna obat ini dapat membuat seseorang seperti zombie (Krisnawati, 2023). “Blue Safir” atau“Snow White” blue safir atau snow white yang dapat diubah dalam serbuk ataupun cairan. Liquid rokok elektik atau vape banyak didapatkan mengandung blue safir (Inayah et al., 2023). untuk menjelaskan nama jalanan dari narkoba jenis baru. Penggunaan istilah informal ini menunjukkan adanya adaptasi bahasa dalam komunikasi penyuluhan agar lebih relevan dan mudah diterima oleh pelajar. Sosiologi melihat strategi ini bisa dibaca sebagai bentuk simbolisasi sosial di mana penyuluh menggunakan bahasa dan simbol yang dipahami kelompok sasaran agar makna pesan dapat diterima secara menyeluruh. Pengalaman secara langsung penulis dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, terlihat bahwa pendekatan ini berhasil menciptakan suasana yang tidak kaku. Penyuluh tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka ruang diskusi ringan, menyelipkan humor, dan memberi kesempatan peserta menyampaikan pendapat. Pendekatan ini membuat pelajar tidak merasa dihakimi, tetapi diajak untuk berpikir bersama mengenai dampak narkoba terhadap masa depan mereka. Ini sesuai dengan konsep interaksionisme simbolik, Interaksionisme simbolik ini dilakukan secara sadar, menggunakan gerak tubuh, yaitu suara atau vokal, gerakan isyarat atau gerakan fisik, ekspresi tubuh, yang semuanya itu mengandung arti atau makna (Pastoral & 2017, n.d.). Pesan penyuluhan menjadi lebih melekat dan mampu membentuk kesadaran internal secara bertahap. Dampak Materi Penyuluhan Antinarkoba Materi penyuluhan yang disampaikan BNNK Sidoarjo punya kekuatan besar karena isinya selaras dengan kondisi nyata yang dihadapi pelajar. Dampaknya dijelaskan secara menyeluruh, mulai dari rusaknya hubungan keluarga, munculnya stigma, hingga ancaman terhadap keamanan lingkungan (BNNK Sidoarjo, 2024). Pelajar didorong untuk melihat persoalan narkoba sebagai masalah sosial, bukan hanya persoalan individu. Dampak lain yang terlihat selama kegiatan adalah munculnya keterlibatan aktif dari peserta. Penulis mengamati adanya respon spontan dari beberapa pelajar yang mulai mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi mereka. Topik-topik yang dibahas dalam penyuluhan juga menyentuh hal-hal yang dekat dengan kehidupan pelajar, seperti peran teman, guru, dan keluarga dalam membentuk perilaku. Penyuluh menyampaikan bahwa “lingkungan bukan nya tempat tinggal, tapi juga tempat kita terbentuk.” Kalimat ini memperjelas bahwa nilai dan perilaku seseorang berkembang lewat interaksi sosial yang berlangsung setiap hari. Pemahaman ini sejalan dengan pandangan, manusia yang berada dalam dunia tersebut saling berhubungan, sehingga kesadaran yang terbentuk diantara mereka bersifat sosial atau dimiliki bersama (Wita et al., 2022). Penyampaian materi dikemas dengan bahasa yang relevan, visualisasi yang akrab, dan contoh yang membumi. Pelajar diajak berpikir kritis mengenai situasi yang mungkin mereka alami, seperti ajakan teman atau tekanan kelompok. Proses ini menumbuhkan refleksi sosial, yaitu proses mengevaluasi nilai dan tindakan berdasarkan pengalaman sendiri. Penyuluhan berjalan aktif karena pelajar dilibatkan untuk memahami, merenung, lalu menyusun sikap pribadi maupun sosial terhadap narkoba. SIMPULAN Materi penyuluhan yang disampaikan oleh BNNK Sidoarjo telah berhasil menginternalisasikan nilai-nilai moral dan etika sosial kepada pelajar dalam rangka pencegahan penyalahgunaan narkoba. Nilai-nilai seperti tanggung jawab terhadap diri sendiri, kesadaran akan pentingnya kesehatan, serta penghargaan terhadap kehidupan disampaikan secara komunikatif, visual, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari pelajar. Materi penyuluhan tidak hanya menggambarkan narkoba sebagai ancaman kesehatan, tetapi juga sebagai bentuk pelanggaran terhadap norma sosial yang dapat merusak hubungan keluarga, pertemanan, dan lingkungan sekitar. Penjelasan mengenai dampak fisik, psikis, dan 2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Internalisasi Nilai Antinarkoba (Faiz Muktar Ghonim Irawan) | 487-492 sosial yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan narkoba membantu pelajar memahami risiko yang dihadapi. Penggunaan bahasa sehari-hari yang dekat dengan peserta, ilustrasi nyata, dan diskusi terbuka dalam penyuluhan menunjukkan adanya keberhasilan dalam menciptakan keterlibatan aktif peserta, yang terlihat dari bagaimana mereka mulai mengaitkan materi dengan pengalaman pribadi. Hal ini menunjukkan bahwa materi penyuluhan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga normatif, sesuai dengan tujuan untuk membangun kesadaran dan tanggung jawab sosial pelajar dalam menolak narkoba. Berdasarkan hasil temuan, disarankan agar pelaksanaan kegiatan penyuluhan di masa mendatang mempertahankan penggunaan bahasa sehari-hari yang relevan dengan peserta didik serta strategi penyampaian interaktif yang telah terbukti efektif dalam menarik perhatian pelajar. Perlu ditambahkan pula sesi diskusi yang mendalam untuk mengaitkan materi penyuluhan dengan pengalaman pribadi peserta, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima dan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi antara pihak sekolah, guru, dan orang tua hendaknya ditingkatkan guna menciptakan lingkungan yang mendukung penerapan nilai-nilai antinarkoba secara berkelanjutan. Dengan demikian, materi penyuluhan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk sikap dan perilaku antinarkoba di kalangan pelajar. REFERENSI Inayah, Z. (2023). Sosialisasi dampak penyalahgunaan narkoba di lingkungan masyarakat Desa Modong, Kabupaten Sidoarjo. Indonesian Journal of Community Service, X(X). https://journal.umg.ac.id/index.php/ijtdh/article/view/1987 Islam, J. A. A.-T. B. D. K., & Andriyani. (2020). Peran lingkungan keluarga dalam mengatasi kenakalan remaja. At-Taujih: Bimbingan dan Konseling Islam, 3(1). https://jurnal.arraniry.ac.id/index.php/Taujih/article/view/7235 Jumaidah. (2017). Perilaku pencegahan penyalahgunaan narkoba pada remaja di wilayah Kecamatan Sukmajaya, Depok. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 16(3). https://journals.uima.ac.id/index.php/jikes/article/view/284 Juwita, R., Firman, F., Rusdinal, R., & Aliman, M. (2020). Meta-analisis: Perkembangan teori struktural fungsional dalam sosiologi pendidikan. Jurnal Perspektif, 3(1), 1–8. https://doi.org/10.24036/perspektif.v3i1.168 Krisnawati, W. (2023). Pelatihan public speaking pada komunitas muda dalam rangka sosialisasi pencegahan narkoba bersama BNN Kabupaten Gresik. DedikasiMU: Journal of Community Service, 5(1), 31–39. https://doi.org/10.30587/dedikasimu.v5i1.4523 Maulana Yusuf, J., Suhendra Hadiwijaya, A. (2023). Sintesa teori konstruksi sosial realitas dan konstruksi sosial media massa. Dialektika Komunika: Jurnal Kajian Komunikasi dan Pembangunan Daerah, 11(1), 75–89. https://www.ejournal.unis.ac.id/index.php/DK/article/view/3498 Mulyadi, Y. (2020). Wadah interaksi sosial. Jurnal Sains, Teknologi, Urban, dan Perancangan, 2(1), 37–44. https://doi.org/10.24912/stupa.v2i1.6776 Pastoral, T. D. (2017). Interaksionisme simbolik dalam kehidupan bermasyarakat. Jurnal Sosial dan Pastoral, X(X). http://e-journal.stp-ipi.ac.id/index.php/sapa/article/view/33 Pramesti, M., Putri, A. R., Assyidiq, M. H., & Rafida, A. A. (2022). Adiksi narkoba: Faktor, dampak, dan pencegahannya. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal, X(X). http://journal2.stikeskendal.ac.id/index.php/PSKM/article/view/108 Wita, G. (2022). Fenomenologi dalam kajian sosial: Sebuah studi tentang konstruksi makna. Titian: Jurnal Ilmu Humaniora, 6(2). https://mail.online-journal.unja.ac.id/titian/article/view/21211