scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Strategi Pembelajaran Diniyah TPQ Dalam Menumbuhkan Rasa Cinta Anak terhadap Alquran di Pondok Pesantren Roudlhotul Quran, Mojopuro, Wonogiri, Kecamatan Jatiroto

Firdha Hayrany, Galih Hamzah, Nisrina Valentina, M. Jufri Halim

Full text

2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Penguatan Manajemen Strategi (MH. Khafadloh, et., al) 90-94 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Volume 1, Issue 5, November 2025, P. 90-94 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18006574 Strategi Pembelajaran Diniyah TPQ Dalam Menumbuhkan Rasa Cinta Anak terhadap Alquran di Pondok Pesantren Roudlhotul Quran, Mojopuro, Wonogiri, Kecamatan Jatiroto Firdha Hayrany, Galih Hamzah, Nisrina Valentina, M. Jufri Halim UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email: [email protected] [email protected] valenin[email protected] jufri.hali[email protected] Abstrak Pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini memiliki peran strategis dalam membentuk karakter religius dan spiritual anak. Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) sebagai lembaga pendidikan nonformal menjadi garda terdepan dalam memperkenalkan Al-Qur’an dan nilai-nilai islam kepada anak-anak serta menumbuhkan kecintaan terhadap AlQur’an. Namun, di tengah pesatnya informasi perkembangan teknologi dan budaya digital maka minat anak dalam mempelajari Al-Qur’an cenderung menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pembelajaran diniyah yang diterapkan oleh TPQ di Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an, Mojopuro, Wonogiri, Kecamatan Jatiroto dalam menumbuhkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan subjek penelitian terdiri dari kepala TPQ dan wali santri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan di TPQ ini meliputi pendekatan emosional, metode cerita Qur’ani, pembiasaan ibadah, serta keteladanan guru. Strategi ini terbukti mampu meningkatkan semangat dan kedekatan emosional anak terhadap Al-Qur’an. Temuan ini menunjukkan pentingnya penerapan strategi pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam pendidikan diniyah, guna membentuk generasi Qur’ani yang mencintai dan mengamalkan isi Al-Qur’an sejak usia dini. Kata Kunci: Pendidikan Diniyah, TPQ, Strategi Pembelajaran, Cinta Al-Qur’an, Metode Yanbu’a. Abstract Quranic education from an early age plays a strategic role in shaping children's religious and spiritual character. Quranic Education Parks (TPQ), as non-formal educational institutions, are at the forefront of introducing the Quran and Islamic values to children and fostering a love for the Quran. However, amidst the rapid development of technology and digital culture, children's interest in studying the Quran tends to decline. This study aims to analyze the diniyah learning strategies implemented by the TPQ at the Roudhlotul Qur'an Islamic Boarding School, Mojopuro, Wonogiri, Jatiroto District, in fostering children's love for the Quran. This study uses a qualitative approach with a descriptive case study method. Data collection techniques were carried out through participatory observation, in-depth interviews, and documentation, with the research subjects consisting of the head of the TPQ and the guardians of the students. The results show that the learning strategies used at this TPQ include an emotional approach, the Quranic story method, habituation of worship, and teacher role models. This strategy has been proven to increase children's enthusiasm and emotional connection to the Quran. These findings demonstrate the importance of implementing learning strategies that address cognitive, affective, and spiritual aspects in early Islamic education to foster a Quranic generation that loves and practices the Quran's contents from an early age. Keywords: Early Childhood Education, TPQ, Learning Strategy, Love of the Koran, Yanbu'a Method Article Info Received date: 20 November 2025 Revised date: 25 November 2025 Accepted date: 18 December 2025 PENDAHULUAN Pendidikan Al-Qur’an menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan karakter dan etika anak sejak usia dini. Melalui pendidikan diniyah, anak-anak dikenalkan pada nilai-nilai keislaman dan diarahkan untuk bisa membaca, memahami, serta mencintai Al-Qur’an. Rasa cinta pada Al-Qur’an mencerminkan iman yang tumbuh dari pemahaman dan kebiasaan berinteraksi dengan kitab suci, yang pada akhirnya membentuk individu berakhlak baik sesuai dengan ajaran Islam (Sa’diyah, 2020). 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Penguatan Manajemen Strategi (MH. Khafadloh, et., al) 90-94 Dengan demikian, pendidikan diniyah, khususnya di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), memegang peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai Qur’ani sebagai landasan spiritual bagi anak-anak Muslim. Namun, tantangan dalam pendidikan Al-Qur’an di zaman modern semakin meningkat. Pengaruh globalisasi, perubahan teknologi, dan budaya digital yang meluas membuat fokus anak-anak mudah tergeser dari kegiatan keagamaan, termasuk belajar Al-Qur’an. Banyak anak yang lebih menyukai hiburan digital seperti media sosial dan permainan online ketimbang aktivitas mengaji. Hal ini mengakibatkan berkurangnya minat dan kecintaan anak terhadap pembelajaran Al-Qur’an. Dampaknya, proses belajar di TPQ sering kali mengalami masalah seperti kejenuhan, hilangnya motivasi belajar, serta kurangnya inovasi dalam metode pengajaran yang diterapkan oleh pengajar (Mutmainah, 2021). Menurut pengamatan awal di Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an, Mojopuro, Wonogiri, terlihat bahwa antusiasme anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an bervariasi. Beberapa santri menunjukkan semangat tinggi dalam pembelajaran, tetapi ada juga yang terlihat kurang aktif dan cepat merasa bosan. Penyebabnya antara lain adalah terbatasnya variasi dalam metode pengajaran, kurangnya penggunaan media menarik, dan pendekatan yang cenderung monoton. Situasi ini menunjukkan perlunya adanya strategi pendidikan diniyah yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif (kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik), tetapi juga menyentuh aspek afektif, yaitu membangun rasa cinta, kedekatan, dan semangat anak dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Dalam konteks ini, peran ustadz atau pengajar TPQ sangatlah krusial. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai contoh yang menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Al-Qur’an kepada anakanak. Menurut Hamzah (2019), strategi pembelajaran adalah sebuah rencana menyeluruh yang menggabungkan metode, media, dan pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan efektif. Di sisi lain. Hamruni (2011) menyatakan bahwa dalam pendidikan Islam, strategi pembelajaran harus berlandaskan pada nilai-nilai spiritual dan moral agar proses pendidikan tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter yang Qur’ani. Studi-studi sebelumnya mengindikasikan pentingnya penggunaan strategi pembelajaran yang inovatif dalam pendidikan diniyah. Mutmainah (2021) menekankan efektivitas metode cerita Qur’ani dan permainan edukatif dalam meningkatkan minat belajar anak di TPQ. Di samping itu, Mansur (2022) menjelaskan pentingnya metode talaqqi dan musyafahah sebagai cara efektif untuk menjaga keaslian bacaan dan membangun kedekatan spiritual anak dengan Al-Qur’an. Temuan-temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran diniyah yang dilakukan dengan pendekatan emosional dan interaktif lebih berhasil dalam menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Dengan latar belakang tersebut, penelitian ini akan berfokus pada strategi pembelajaran diniyah di TPQ dalam meningkatkan rasa cinta anak terhadap Al-Qur’an di Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an, Mojopuro, Wonogiri. Harapannya, penelitian ini bisa memberikan gambaran menyeluruh mengenai penerapan strategi pembelajaran oleh USTADZ Faris Al-Zanzami dalam menciptakan suasana belajar yang menarik dan bermakna bagi anak-anak. Tujuan dari studi ini adalah untuk menjelaskan metode pembelajaran diniyah yang diterapkan di TPQ Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada Al-Qur’an. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai elemen yang mendukung dan menghalangi pelaksanaan metode tersebut dalam proses belajar, serta menganalisis sejauh mana metode pembelajaran diniyah dapat meningkatkan motivasi, semangat belajar, dan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an sebagai bagian dari pembentukan karakter religius sejak usia muda. Secara teori, diharapkan hasil studi ini dapat menambah wawasan dalam bidang pendidikan Islam, khususnya terkait dengan pengembangan metode pembelajaran diniyah yang efektif dan berfokus pada pembentukan karakter Qur’ani. Di sisi praktis, penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat nyata bagi para pengajar, pengelola TPQ, dan lembaga pesantren untuk menciptakan model 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Penguatan Manajemen Strategi (MH. Khafadloh, et., al) 90-94 pembelajaran yang inspiratif, menarik, serta mampu menumbuhkan cinta anak terhadap Al-Qur’an secara berkelanjutan. KAJIAN PUSTAKA Pendidikan Al-Qur’an pada anak usia dini adalah landasan utama dalam membangun kepribadian religius dan moral anak. Masa usia emas merupakan periode pertumbuhan otak yang sangat cepat, menjadikannya waktu yang paling ideal untuk menanamkan nilai-nilai spiritual serta kecintaan pada kitab suci Al-Qur’an. Menurut Nurfadilah, edukasi Al-Qur’an di masa ini berfungsi sebagai cara untuk menanamkan nilai-nilai ketuhanan yang berpotensi membentuk kecerdasan spiritual dan emosional anak, sekaligus menanamkan nilai-nilai moral yang kokoh untuk menghadapi perkembangan zaman. Lembaga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) berperan sebagai garis depan dalam proses pengajaran Al-Qur’an untuk anak-anak, khususnya bagi mereka yang tidak tinggal di lingkungan pesantren. TPQ tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an, namun juga berfungsi sebagai tempat pertama untuk memperkenalkan ajaran Islam melalui proses belajar yang terstruktur dan berdasarkan pembiasaan ibadah. Riset yang dilakukan oleh Mulyani menunjukkan bahwa TPQ yang memadukan pembelajaran kognitif seperti membaca dan menghafal dengan pembinaan afektif yang meliputi pembentukan akhlak dan penanaman rasa cinta terhadap Al-Qur’an jauh lebih efektif dalam membentuk karakter religius anak secara menyeluruh. Sejalan dengan kemajuan zaman dan tantangan era digital, strategi pengajaran di TPQ harus disesuaikan dengan ciri psikologis anak. Pendekatan yang menyenangkan, sesuai konteks, dan menyentuh emosi menjadi kunci penting dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Dalam studi oleh Sari dan Firmansyah, terbukti bahwa penggunaan metode seperti cerita Qur’ani, permainan yang mendidik, serta pendekatan emosional dalam proses belajar dapat meningkatkan semangat belajar anak sekaligus menciptakan keterikatan emosional dengan Al-Qur’an. Pondok Pesantren Roudhlotul Qur’an yang terletak di Mojopuro, Wonogiri, adalah salah satu contoh institusi yang mengimplementasikan pembelajaran diniyah yang menyeimbangkan aspek kognitif dan afektif. Walaupun lembaga ini belum banyak dikaji secara ilmiah langsung, model yang serupa pernah diteliti oleh Safitri dalam kajian mengenai strategi pengajaran Al-Qur’an di lingkungan pesantren. Ia menemukan bahwa pendekatan yang berlandaskan kasih sayang, kesabaran, dan spiritualitas mampu menghasilkan santri yang tidak hanya mahir membaca Al-Qur’an, tetapi juga mencintai serta mengamalkan ajaran dan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, model pembelajaran TPQ yang masih sering berpusat pada hafalan tanpa pemahaman mendalam sering kali menghasilkan peserta didik yang hanya dapat melafalkan ayat tanpa memiliki kedekatan emosional dan pemahaman makna yang sesungguhnya. Oleh karena itu, pengembangan model TPQ yang bersifat menyeluruh atau holistik yang meliputi dimensi kognitif, afektif, dan spiritual merupakan kebutuhan mendesak dalam pendidikan diniyah. Penelitian yang dilakukan oleh Sulastri memperkuat hal ini dengan menyatakan bahwa model pembelajaran integratif yang berdasar pada rasa cinta terhadap Al-Qur’an terbukti dapat membentuk karakter religius anak yang kuat, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan Islam di masa kini. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk mendapatkan pemahaman yang holistik tentang strategi pembelajaran konteks alami TPQ Roudhlotul Qur’an. Subjek penelitian meliputi Kepala TPQ dan salah satu wali santri dari TPQ Roudhlotul Qur’an. Teknik pengumpulan data dalam artikel ilmiah ini menggunakan: 1) Observasi partisipatif di ruang kelas dan luar kelas; 2) Wawancara mendalam dengan subjek; 3) 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Penguatan Manajemen Strategi (MH. Khafadloh, et., al) 90-94 Dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif dan berkelanjutan menggunakan model Miles dan Huberman (reduksi data, penyajian data, dan verifikasi/penarikan kesimpulan). Keabsahan data dipastikan melalui triangulasi sumber. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil wawancara dengan para pengajar di TPQ Roudlotul Quran, terungkap bahwa pendekatan belajar yang diterapkan adalah metode Yanbu'a. Metode ini dipilih karena mudah diterapkan, tidak rumit, dan sesuai untuk segala umur, dengan penekanan pada penguasaan tajwid ilmi (teori tajwid) serta kemampuan membaca lancar. Dalam praktiknya, metode ini menggunakan cara terstruktur yang menyoroti makharijul huruf (lokasi artikulasi huruf) dan memadukan teknik kelas bersama serta pribadi (musyafahah). Ini membantu para guru memberikan perhatian ekstra berdasarkan kebutuhan masing-masing siswa. Tanda-tanda peningkatan rasa sayang anak-anak pada Al-Qur'an tampak dari sikap positif seperti rajin membaca, senang mendengarkan murottal, bersemangat menghafal, dan bisa menerapkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam rutinitas harian. Meski demikian, para pengajar menemui hambatan dalam proses belajar, seperti variasi kemampuan anak misalnya, ada yang belum mahir membaca Al-Qur'an atau alfabet latin plus minimnya perhatian masyarakat pada pendidikan diniyah (agama). Untuk menangani perbedaan kemampuan dan ketertarikan anak, para guru menggunakan cara individual dengan sabar, tidak membandingkan siswa satu sama lain, dan memberikan arahan khusus menggunakan bahan yang lebih mudah. Sementara itu, bantuan dari keluarga sangat penting untuk kesuksesan belajar. Partisipasi orang tua melalui teladan, dorongan, dan penyediaan sarana menjadi elemen utama yang mendorong minat dan kasih sayang anak pada Al-Qur'an. Dalam menghadapi era digital, para guru berinovasi dengan memanfaatkan teknologi melalui aplikasi Al-Qur'an dan sumber digital edukasi seperti video hafalan, ceramah Islam, tartil, dan tilawatil Qur'an. Upaya ini bertujuan mendekatkan anak-anak dengan Al-Qur'an lewat media modern, sambil tetap menjaga esensi pembelajaran. Secara umum, pendekatan belajar diniyah di TPQ Roudlotul Quran tidak sekadar tentang membaca dan menulis Al-Qur'an, melainkan juga membina hubungan emosional dan rohani anak dengan kitab suci. Gabungan antara cara tradisional seperti musyafahah dan penggunaan teknologi digital mencerminkan penyesuaian harmonis antara menjaga khittah (landasan) pesantren dan menjawab perkembangan zaman. Akibatnya, diinginkan anak-anak tidak cuma bisa membaca AlQur'an tepat, tapi juga berkembang jadi generasi yang mengasihi dan menerapkan ajaran Al-Qur'an sehari-hari. Pendekatan belajar dengan metode Yanbu'a di TPQ Roudlotul Quran menunjukkan dedikasi untuk meletakkan dasar bacaan Al-Qur'an yang benar sekaligus membangkitkan cinta anak pada kitab suci. Teknik musyafahah (tatap muka) memungkinkan interaksi emosional antara pengajar dan murid, yang mempererat ikatan spiritual. Masalah seperti keragaman kemampuan dan kurangnya dukungan komunitas adalah tantangan lazim di TPQ. Namun, langkah pengajar dalam menggunakan cara pribadi dan teknologi menandai penyesuaian yang baik. Bantuan keluarga tetap krusial, sesuai dengan pandangan pendidikan yang mendorong kerja sama antara sekolah dan rumah. Sementara itu, penyertaan materi digital dalam belajar Al-Qur'an adalah inovasi untuk menangani isu masa kini tanpa melupakan prinsip-prinsip dasar. Oleh karena itu, strategi menyeluruh dan sesuai konteks bisa menumbuhkan cinta anak pada Al-Qur'an, bukan sekadar sebagai kitab sakral, melainkan sebagai petunjuk kehidupan. SIMPULAN Strategi pembelajaran diniyah di TPQ Roudhlotul Qur’an Mojopuro, Wonogiri, terbukti efektif dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an melalui penerapan metode Yanbu’a dan pendekatan musyafahah. Pembelajaran tidak hanya menekankan kemampuan membaca dengan tajwid 2025 Indonesian Journal of Educational Research (IJER) Vol. 1 No. 5 Penguatan Manajemen Strategi (MH. Khafadloh, et., al) 90-94 yang benar, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara guru dan santri. Dukungan keluarga, inovasi media digital, serta keteladanan ustadz menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran. Meski demikian, perbedaan kemampuan anak dan minimnya sarana belajar masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan. SARAN TPQ perlu terus mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, meningkatkan pelatihan guru, serta memperkuat kolaborasi dengan orang tua dalam menumbuhkan kebiasaan membaca Al-Qur’an di rumah. Penggunaan media digital secara bijak juga dapat menjadi sarana efektif untuk menarik minat anak di era modern. REFERENSI Hamruni. (2011). Strategi pembelajaran pendidikan agama Islam. Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga. Hamzah, B. U. (2019). Strategi pembelajaran: Konsep dan implementasinya dalam pembelajaran di sekolah. Raja Grafindo Persada. Isnaini, R. (2022). Pengaruh gadget terhadap minat anak dalam belajar Al-Qur’an. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 7(2), 88–99. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2017). Pedoman penyelenggaraan Taman Pendidikan AlQur’an (TPQ). Direktorat Jenderal Pendidikan Islam. Mansur. (2022). Pendidikan Al-Qur’an pada anak usia dini: Strategi dan implementasi di TPQ modern. Deepublish. Mulyani, S. (2021). Pengaruh pembelajaran di TPQ terhadap pembentukan karakter religius anak. Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, 6(1), 34–47. Mutmainah, S. (2021). Inovasi strategi pembelajaran di TPQ dalam meningkatkan minat belajar AlQur’an anak. Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 6(1), 45–58. Nurfadilah. (2020). Urgensi pendidikan Al-Qur’an pada anak usia dini. Jurnal Ilmiah Islam Futura, 20(2), 145–158. Shihab, M. Q. (2008). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan peran wahyu dalam kehidupan masyarakat. Mizan. Sari, H., & Firmansyah, M. (2021). Strategi pembelajaran Al-Qur’an yang menyenangkan di TPQ: Studi terhadap penggunaan metode bermain dan cerita. Jurnal Tarbiyatuna, 12(1), 22–35. Sa’diyah, N. (2020). Pendidikan diniyah dan pembentukan karakter religius anak di era digital. Jurnal Tarbiyatuna, 11(2), 103–117. Safitri, I. (2020). Strategi pengajaran Al-Qur’an berbasis cinta dan spiritualitas di pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 14(2), 123–135. Sulastri, D. (2021). Model pembelajaran holistik pada TPQ dalam membentuk karakter religius anak. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 27(1), 50–65.