scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Kegiatan Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri Babakan Bandung

Salipah Jumatul Mariah, Dhea Anisa Putri, Saharani Nurul Agni, Zulfa Hoirul Bariyyah, Muhammad Gufron Al Mubarok, Rizki Mulyana, Ramdani R, Muhammad Ulwanul Umami Attibyan, Adji Mohammad Dharsa, Dian Herdiana, Siti Sadiah S, Nani Kurniasih

Full text

2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Volume 4, Nomor 9, Desember 2025, Halaman 121-132 Licenced by CC BY-SA 4.0 e-ISSN: 2986-7002 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18013711 Kegiatan Aktualisasi Nilai Pancasila dalam Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar Negeri Babakan Bandung The Actualization of Pancasila Values in the Learning Process at Babakan Bandung Public Elementary School Salipah Jumatul Mariah1), Dhea Anisa Putri2), Saharani Nurul Agni3), Zulfa Hoirul Bariyyah4), Muhammad Gufron Al Mubarok5), Rizki Mulyana6), Ramdani7), Muhammad Ulwanul Umami Attibyan 8), Adji Mohammad Dharsa9), Dian Herdiana10), Siti Sadiah S11), Nani Kurniasih12) 1,2,3,4,5,6,7,8,9Progam Studi Hukum Ekonomi Syariah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung E-mail : [email protected],2dheaanisap0[email protected]om, 3sahanurulagni[email protected]om, [email protected],[email protected], [email protected], [email protected],[email protected],[email protected], [email protected] Abstrak Artikel ini mengkaji pentingnya pendidikan dalam membentuk karakter peserta didik melalui internalisasi nilainilai Pancasila, khususnya sila kedua “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” dan sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kecerdasan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk memahami implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kegiatan sosialisasi bertema “Stop Bullying dan Terapkan Peduli Sesama” yang dilaksanakan oleh mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 7 November 2025 di SDN Babakan Bandung, melibatkan siswa kelas 6A dan 6B. Serangkaian kegiatan dilakukan, mulai dari survei awal, penyampaian materi mengenai bullying, ice breaking, sesi tanya jawab, hingga pembuatan “Pohon Ungkapan Perasaan” sebagai media ekspresi dampak emosional bullying. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa mengenai pentingnya sikap saling menghargai, empati, serta menjaga persatuan dalam kehidupan sosial. Implementasi nilai-nilai Pancasila terbukti mampu mendorong pembentukan karakter positif sekaligus meminimalkan perilaku bullying. Artikel ini menyimpulkan bahwa pendidikan berbasis nilai Pancasila sangat relevan diterapkan di era globalisasi, dengan rekomendasi untuk memperluas kegiatan serupa ke sekolah lain serta melibatkan keluarga dan masyarakat demi penguatan karakter secara menyeluruh. Kata Kunci: Pengajaran, Aktualisasi, Generasi Muda Abstract This article examines the importance of education in shaping students’ character through the internalization of Pancasila values, particularly the second principle, “Just and Civilized Humanity,” and the third principle, “The Unity of Indonesia.” According to Law No. 20 of 2003, education aims to develop students’ potential to possess intelligence, personality, noble character, and social skills. This study employs a qualitative method to understand the implementation of Pancasila values in a socialization activity themed “Stop Bullying and Practice Caring for Others,” conducted by students of UIN Sunan Gunung Djati Bandung on November 7, 2025, at Babakan Bandung Public Elementary School, involving classes 6A and 6B. A series of activities were carried out, including an initial survey, delivery of material on bullying, ice-breaking sessions, Q&A, and the creation of a “Tree of Emotional Expressions” as a medium to express the emotional impact of bullying. The results indicate an increased student understanding of the importance of mutual respect, empathy, and maintaining unity in social life. The implementation of Pancasila values is shown to effectively promote positive character formation while minimizing bullying behavior. This article concludes that value-based education grounded in Pancasila is highly relevant in the era of globalization, with recommendations to expand similar activities to other schools and involve families and communities to strengthen character development comprehensively. Keywords: Teaching, Actualization, Young Generation Article Info Received date: 20 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 13 Desember 2025 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 PENDAHULUAN Pendidikan adalah sebuah rencana dan usaha untuk memberikan bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada peserta didik untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam kehidupan sehari-hari, karena pendidikan memiliki tujuan, yaitu seperangkat hasil dari pendidikan yang dicapai oleh peserta didik setelah diselengarakan kegigiatan pendidikan tersebut. Seluruh kegiatan pendidikan, yakni bimbingan pengajaran atau latihan, diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan itu. Suardi (2010: 7). Maka pernyataan di atas sejalan dengan UU No. 2 Tahun 1985 yang berbunyi bahwa tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan bangsa. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia dalam menata pendididkan sebagaimana tercantum dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, yang berbunyi: Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia tahun1945. Peran Pancasila dalam Pendidikan tentulah sangat penting di Indonesia, karena Pancasila memiliki peran penting dalam pembentukan karakter melalui penerapan nilai-nilai Pancasila memiliki makna bahwa setiap warga negara Indonesia dalam setiap aspek kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat harus senantiasa berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan juga memiliki keadilan. Namun, dalam di era globalisasi ini, dalam dinamika yang terus berubah, pemahaman dan pengaplikasian Pancasila pun senantiasa mengalami tantangan dan perubahan. Penerapan nilai-nilai Pancasila harus didasari dengan pembelajaran. Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dan pendidik, dengan bahan pelajaran, metode penyampaian, strategi pembelajaran, dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamanya sendiri dalam interaksi dengan lingkunganya. Slameto (2003). Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara diupayakan agar tidak mengakibatkan perpecahan yang merugikan. Pancasila sebagai ideologi bangsa terdapat nilai-nilai yang bisa diaktualisasikan dalam kehidupan sekitar. Tanpa nilai-nilai Pancasila tersebut, masyarakat Indonesia tidak akan memiliki pandangan atau pedoman untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara di dalam negara yang memiliki budaya beragam. Dalam setiap sila memiliki makna yang penting, seperti pada sila ke dua dan tiga yaitu “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia”. Sila ini mengajarkan kita untuk selalu menganggap semua manusia itu sama tanpa adanya perbedaan kedudukan serta memberikan perintah untuk selalu Bersatu tanpa adanya perpecahan. Penerapan sila ke dua dan tiga dalam kehidupan sosial yang kita gunakan dalam aktualisasi Pancasila di SDN Babakan Bandung dengan tema Stop Bullying dan Ciptakan Peduli Terhadap Sesama baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, yang mana bertujuan untuk menjaga kerukunan antar sesama dan meningkatkan rasa empati kepada orang lain. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini menggunakan metode penelitian berjenis kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk memahami beberapa gejala yang timbul pada peserta didik dalam mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila khususnya sila yang ke dua dan ketiga 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” dan “Persatuan Indonesia” juga untuk menganalisis, mendeskripsikan, mencatat, dan menginterpretasikan terhadap keadaan yang sedang terjadi. Dimana kelompok kami ikut terjun menemui para anggota guru dan peserta didik dari SDN Babakan Bandung khususnya pada anak-anak yang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Metode kualitatif ini lebih responsif dan mudah untuk menyesuaian dengan pola nilai-nilai yang dihadapi (Sugiyono,2010). Kami melakukan kegiatan aktualisasi nilai Pancasila sila ke dua dan ketiga dilaksanakan di SDN Babakan Bandung yang berada di Jl. Maruyung no. 93A, Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, 7 November 2025. Yang menajdi sasarannya yaitu kelas VI-A dan VI-B pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026, dengan melibatkan seluruh siswa kelas yang berjumlah 39 orang. Seluruh anggota kelompok berusaha untuk memaksimalkan kinerjanya masing-masing demi tercapainnya tujuan dari apa yang telah kami buat yaitu “Stop Bullying dan Menumbuhkan Kepeedulian Terhadap Sesama”. Kami juga memiliki harapan besar terhadap para siswa untuk saling peduli terhadap sesama juga saling mengingatkan jika ada murid yang saling menghina dan melakukan kekerasan baik verbal maupun non verbal kepada temannya, agar tidak ada lagi perundungan diantara sesama siswa. Kelompok kami berjumlahkan 9 orang, yang terdiri dari : Ramdani dan Saharani Nurul Agni, bertugas membuka acara dan membimbing anak-anak dari mulainya acara sampai selesai acara. Muhammad Ghufron Al Mubarok dan Muhammad Ulwanul Umami At Tbyan, bertugas memaparkan materi mengenai bahaya bully dan penjelasa tentang nilai-nilai Kemanusiaan Yang adil dan Beradab, Persatuan Indonesia yang dijadikan dalam satu tema yaitu “Stop Bullying dan Terapkan Peduli Sesama”. Dhea Anisa Putri dan Rizki Mulyana, bertugas mengadakan permainan menarik untuk anakanak dan dilanjutkan dengan ice breaking. Salipah Jumatul Mariah dan Zulfa Hoirul Bariyyah, bertugas mengadakan pembuatan pohon ungkapan perasaan atau story telling dari dampak bullying dan mengadakan QnA berhadiah untuk para siswa. Adji mohommad Dharsa, bertugas sebagai operator dan PDD (publikasi, dokumentasi, dan desain) yang dibantu oleh Salipah, Dhea, Zulfa. Tujuan utama dalam kegiatan aktualisasi ini yaitu menciptakan rasa saling peduli dan tolong menolong serta menghilangkan kebiasaan menghina dan mengejek antara sesama teman. Dan diharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat kepada anak-anak serta bisa di terapkan dalam lingkungan sekolah. HASIL, PEMBAHASAN, DAN DAMPAK Secara etimologis, istilah Pancasila berasal dari bahasa Sanskerta, yang tersusun dari dua kata, yaitu “panca” yang berarti lima dan “sila” yang berarti dasar atau prinsip. Kata sila juga dapat dimaknai sebagai pedoman yang menjadi landasan tingkah laku seseorang atau suatu bangsa, serta berkaitan dengan adat, kesopanan, akhlak, dan moral. (Anugrah Ayu Sendari, 2021). Berdasarkan kelima sila Pancasila, disusunlah berbagai Undang-Undang dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Nilai-nilai Pancasila tersebut tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat dan dijabarkan lebih rinci dalam pasal-pasalnya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, mencakup bidang pendidikan, hukum, politik, ekonomi, seni budaya, serta kemasyarakatan. Oleh sebab itu, Pancasila sebagai ideologi negara berperan penting dalam memberikan arah dan dasar bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, Pancasila sebagai pandangan hidup juga berfungsi sebagai pembentuk karakter dan kepribadian bangsa (Hissoh Negeri Yogyakarta I, 2021). Berbicara tentang penerapan nilai-nilai Pancasila, saat ini kami lebih berfokus pada penerapan nilai Pancasila sila ke Dua dan Tiga yang berbunyi "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia". Kita selaku manusia harus mengetahui bahwa setiap manusia memiliki kewajiban untuk memperlakukan sesama dengan rasa keadilan dan menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hidup yang adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya, menghargai hak dan kewajiban masing-masing tanpa memihak ataupun menindas. Sementara itu, hidup yang beradab berarti berperilaku sesuai dengan 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 norma, moral, etika, dan nilai kemanusiaan yang luhur. Sila ke 3 mengandung makna bahwa seluruh rakyat Indonesia harus menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi, golongan, maupun daerah. Persatuan Indonesia menegaskan bahwa meskipun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras, bahasa, dan budaya, semuanya tetap satu dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam kegiatan aktualisasi Pancasila sila ke-2 dan 3, kegiatan ini dilakukan oleh Adji Mohammad Dharsa, Dhea Anisa Putri, Muhammad Gufron Al Mubarok, Muhammad Ulwanul Umami At Tbyan, Ramdani, Rizki Mulyana, Saharani Nurul Aghni, Salipah Jumatul Mariah, Zulfa Hoirul Bariyyah, yang merupakan mahasiswa jurusa Hukum Ekonomi Syari'ah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Pelaksaan program aktualisai Pancasila sila ke-2 dan 3 tersebut dilaksanakan di SDN Babakan Bandung Jl. Maruyung No. 93A, Kutamandiri, Kec. Tanjungsari, Kab. Sumedang. Adapun sasaran peserta yaitu Siswa/I SDN Babakan Bandung kelas 6A dan 6B. Pada program aktualisasi Pancasila sila ke 2 dan 3, dilakukan dengan beberapa kegiatan yaitu: Kegiatan Survei Gambar 1. Pelaksaan Survei ke SDN Babakan Bandung Gambar di atas merupakan kegiatan dari anggota kelompok 1 saat melakukan survei dan observasi dengan Kepala Sekolah dari SDN Babakan Bandung yang berada di Kecamatan Kutamandiri, Kabupaten Sumedang. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 24 Oktober 2025, kegiatan ini bermaksud untuk meminta izin melakukan kegiatan aktualisasi di sekolah tersebut dengan tujuan memberikan edukasi mengenai “Stop Bullying dan Menumbuhkan Peduli Terhadap Sesama”. Besar harapan bisa mendapatkan izin dari Kepala Sekolah. Kami menyampaikan kepada beliau gambaran pelaksanaan serta metode seperti apa yang akan kami paparkan dikegiatan nanti. Alhamdulillah kami mendapatkan perlakuan yang baik dari Kepala Sekolah, dan setelah berbincang beliau menerima maksud dan tujuan kami yang akhirnya memberikan izin kepada kami untuk melaksanakan aktualisasi ini. Kami diberikan izin untuk melaksanakan aktualisasi ini, dan yang menjadi sasaran kegiatan ini yaitu siswa/i kelas VI. Gambar 2 & 3. Dokumentasi dengan Kepala Sekolah dan Anggota Kelompok 1 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 Setelah permohonan izin, kami melaksanakan sesi dokumentasi, gambar diatas merupakan bukti bahwasannya kami telah diizinkan oleh Kepala Sekolah untuk melakukan aktualisasi yang akan dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 7 November 2025. Pelaksanaan Aktualisasi Kegiatan Pancasila Gambar 4. Kegiatan olahraga Sesuai dengan rencana kami, kami melaksanakan aktualisasi di hari jum’at tanggal 7 November 2025. Sebelum kami melaksanakan aktualisasi, sebagian dari kami ikut melaksanakan kegiatan rutin yaitu senam pagi yang dilakukan setiap hari jumat oleh seluruh siswa SDN Babakan Bandung dari kelas 1-6. Kami membantu guru untuk mengatur dan menertibkan barisan senam, lalu kami pun ikut membersamai dalam kegiatan tersebut yang dipimpin oleh bapak guru olahraga. Kami dan para siswa melakukan kegiatan senam pagi dengan sangat senang dan bergembira. Lalu sebagian dari kami mempersiapkan alat yang dibutuhkan untuk aktualisasi seperti infocus, layar proyektor, speaker, dan tentunya laptop. Gambar 5. Pembukaan oleh MC Setelah melakukan senam pagi, anak-anak SDN Babakan Bandung di arahkan untuk masuk ke kelas, termasuk siswa kelas 6. Kami melakukan briefing terlebih dahulu dan berdoa bersama demi kelancaran Aktualisasi ini. Setelah itu kami masuk ke kelas, dan kegiatan sosialisasi yang berjudul “Stop Bullying dan Tumbuhkan Peduli Terhadap Sesama” dibuka dan di pimpin oleh Ramdani dan Saharani Nurul Agni. Pertama-tama Mc menyambut hangat para siswa kelas 6, lalu mereka memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud dan tujuan kami datang. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 Gambar 6. Perkenalan setiap anggota Selanjutnya adalah kegiatan pengenalan anggota kami kepada para siswa, memperkenalkan diri masing-masing juga asal tempat kami tinggal serta menyampaikan maksud dan tujuan sosialisasi mengenai “Stop Bullying dan Tumbuhkan Peduli Terhadap Sesama” yang akan kami lakukan. Mereka sangat antusias dengan kedatangan kami. Kami mengharapkan para siswa dapat memahami materi edukasi yang kami sampaikan sehingga dapat tercapainya tujuan kami dalam kegiatan sosialisi tersebut. Gambar 7. Pelaksanaan kegiatan materi bullying Kegiatan selanjutnya adalah menyampaikan materi yang dipaparkan oleh 2 anggota kami, yakni M.Gufron dan Ulwanul Umami. Materi yang disampaikan yaitu tentang pengertian apa itu bullying, jenis-jenis bullying, lalu memberi tahu dampak dari bullying dan cara mengatasi bullying. Selain itu kami juga menyampaikan materi mengenai bagaimana cara menumbuhkan sikap kepedulian terhadap sesama. Dalam kegiatan ini para siswa sangat memperhatikan dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh anggota kami sehingga saat melakukan sesi tanya jawab mereka sangat antusias dan turut berlomba-lomba untuk dapat menjawab pertanyaan yang kami berikan. Besar harapan kami kepada mereka, kami harap mereka bukan hanya sekedar mendengarkan apa yang kami sampaikan tetapi mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari. Kami berharap dengan Langkah kecil ini bisa mengurangi angka bullying yang terjadi di Indonesia. Gambar 8. Ice Breaking Setelah penyampaian materi selesai, kami memberikan kegiatan ice breaking untuk para siswa agar tidak merasa bosan dan jenuh serta dapat memberikan energi semangat untuk kegiatan berikutnya. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 Kegiatan ice breaking ini di pandu oleh oleh 2 orang anggota kami yakni Rizki Mulyana dan Dhea Anisa Putri, dalam kegiatan tersebut para siswa sangat bersemangat sehingga untuk kegiatan selanjutnya dapat dilaksanakan dengan sangat baik. Gambar 9. Infak Setiap Jum’at Disela-sela kegiatan sosialisasi kami menyaksikan kebiasaan yang sangat luar biasa baik, yakni pengumpulan infaq Jumat. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya membentuk karakter siswa yang memiliki moral empati sehingga kami merasa hal ini sangat sejalan dengan tujuan kami dalam sosialisasi yang dilakukan, yaitu peduli terhadap sesama. Dengan infak ini bisa memberikan pelajaran bahwa diluar sana masih banyak yang kekurangan makan untuk sehari-hari, tempat tinggal yang tak layak hingga Pendidikan yang belum tentu semua anak bisa dapatkan. Dari infak ini semoga bisa menjadi Langkah kecil untuk menumbuhkan rasa kepedulian dalam hati mereka. Gambar 10. Sesi Tanya Jawab Setelah pemateri selesai menjelaskan materi tentang nilai-nilai Pancasila dan penerapannya dalam konteks Stop Bullying dan Menumbuhkan Peduli Sesama. Sesi tanya jawab pun dibuka yang dipimpin oleh Salipah Jumatul Mariah dan Zulfa Hoirul Bariyah. Suasana ruangan menjadi lebih hidup ketika beberapa peserta mulai mengangkat tangan. Pertanyaan pertama dari Salipah, yaitu bagaimana cara menghindari bullying?, lalu seorang siswa yang bernama Bintang, spontan mengangkat tangan dan menjawab “tidak saling mengejek sesama teman, tidak boleh menyebut nama orang tua. Pertanyaan berikutnya dari Zulfa, sebutkan apa saja bentuk pembulian yang sering terjadi di sekolah?, lalu seorang siswa yang bernama Adit menjawab dengan lantang “bullying yang sering terjadi di sekolah adalah menyebut nama orang tua, memukul, menghina terhadap fisik. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 Sesi tanya jawab berlangsung dengan antusias hingga waktu berakhir. Para peserta terlihat lebih memahami bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipelajari, tetapi juga perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Kegiatan ditutup dengan ajakan untuk terus membiasakan sikap yang mencerminkan Pancasila, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Gambar 11. Kegiatan menempelkan sebuah kertas ungkapan perasaan siswa dari dampak bullying di sebuah pohon Berikutnya, dilanjut dengan kegiatan dimana para siswa berpartisipasi mengungkapkan perasaanya dari dampak bulliying yang di tulis dalam sebuah kertas lalu di tempelkan pada sebuah poster pohon harapan. Sebagai lanjutan dari kegiatan sosialisasi Stop Bullying, para siswa diajak untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui sebuah kegiatan kreatif bernama “Pohon Ungkapan Perasaan”. Kegiatan ini bertujuan membantu siswa mengenali emosi yang muncul akibat tindakan bullying, sekaligus menjadi ruang aman bagi mereka untuk menyampaikan isi hati tanpa rasa takut ataupun malu. Setiap siswa diberikan selembar kertas kecil berbentuk daun. Pada kertas tersebut, mereka diminta menuliskan perasaan yang pernah mereka alami atau mereka bayangkan jika seseorang menjadi korban bullying baik perasaan sedih, takut, marah, kesepian, ataupun harapan positif seperti ingin dihargai dan ingin memiliki teman yang baik. Proses penulisan dilakukan dengan pendampingan lembut, sehingga siswa merasa nyaman untuk jujur menuliskan apa yang mereka rasakan. Setelah selesai menuliskan ungkapan perasaan, siswa diarahkan untuk menempelkan “daun-daun perasaan” tersebut pada sebuah poster besar berbentuk pohon. Poster tersebut kemudian dinamakan “Pohon Ungkapan Perasaan dan Harapan”. Semakin banyak daun yang tertempel, semakin terlihat jelas betapa banyak emosi yang muncul akibat perilaku bullying. Hal ini menjadi pengingat bersama bahwa setiap tindakan memiliki dampak, terutama pada perasaan teman-teman di sekitar. Pada bagian bawah poster, disediakan ruang khusus yang disebut “Poster Harapan”. Di sini, siswa menuliskan harapan mereka untuk lingkungan sekolah yang bebas bullying. Ada yang menuliskan keinginan untuk memiliki teman yang lebih peduli, ada yang berharap semua siswa saling menghargai, dan ada pula yang menuliskan tekad pribadi untuk tidak melakukan bullying dalam bentuk apa pun. Ketika seluruh daun dan harapan sudah ditempelkan, poster tersebut menjadi hasil karya bersama yang penuh makna. Poster ini kemudian dipajang di area sekolah sebagai pengingat dan motivasi bagi seluruh warga sekolah untuk terus menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang. Kegiatan ini tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga membantu siswa mengolah emosi, membangun empati, serta memperkuat komitmen untuk menghentikan bullying sejak dini. 2025 Nanggroe : Jurnal Pengabdian Cendikia Vol. 4 No. 9 Kegiatan Aktualisasi Nilai (Salipah Jumatul Mariah, dkk.) |121-132 Gambar 12. Kegiatan Penyerahan Hadiah Sebagai rangkaian dari kegiatan, Adji dan Gufron melaksanakan prosesi penyerahan hadiah kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat. Pemberian hadiah ini merupakan bentuk apresiasi atas keaktifan, ketelitian, serta kemampuan siswa dalam memahami materi yang di sampaikan tentang Stop Bullying. Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi peserta didik agar lebih berani mengemukakan pendapat, berfikir kristis, dan berpartisipasi secara aktif selama proses berlangsung. Dengan adanya penghargaan tersebut, diharapkan tercipta suasana belajar yang lebih kompetitif secara sehat, serta mendorong siswa untuk meningkatkan prestasi dan keterlibatan mereka dalam setiap kegiatan akadem Gambar 13. Kegiatan partisipasi para siswa untuk Stop Bullying Dalam kebersamaan ini, kami berdiri sebagai satu suara: Stop Bullying. Senyum anak-anak hari ini adalah pengingat bahwa setiap dari mereka berhak untuk tumbuh dengan aman, dihargai, dan dicintai tanpa rasa takut. Melalui momen sederhana ini, kami belajar bahwa kebaikan itu menular, dan keberanian untuk saling membela adalah langkah kecil yang membawa perubahan besar. Bersamasama, mari ciptakan lingkungan yang penuh empati, saling menghormati, dan bebas dari segala bentuk perundungan.