Jurnal Ilmiah Multidisipliner (JIM) Vol 9 No. 12 Desember 2025 eISSN: 2118-7300 223 POLA PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA UMAR BIN KHATTAB DAN UTSMAN BIN AFFAN:STUDI TENTANG PUSAT-PUSAT LEMBAGA PENDIDIKAN Jihan Nur Aslam Mukerin1, Serly Meilani2, Ria Nanda Safitri3, Ellya Roza4
[email protected],
[email protected],
[email protected], ellya[email protected]ska.ac.id 4 Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau ABSTRAK Kontribusi dua khalifah besar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan, dalam perkembangan pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin. Umar bin Khattab dikenal sebagai pelopor sistem pendidikan yang terstruktur dengan mendirikan lembaga seperti kuttab, memperluas fungsi masjid sebagai pusat pendidikan, dan menetapkan kebijakan pemberian gaji kepada guru. Sementara itu, Utsman bin Affan berfokus pada standarisasi dan penyatuan bacaan Al-Qur’an untuk menjaga kemurnian wahyu dan mencegah perpecahan umat. Ia membentuk tim penyalin mushaf dan mendistribusikannya ke berbagai wilayah Islam. Kedua khalifah ini memberikan fondasi penting bagi peradaban Islam, dengan Umar menitikberatkan pada penguatan sistem pendidikan dan Utsman pada pelestarian ajaran pokok melalui kodifikasi Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode library research yang mana sumber data didapat dari buku-buku, jurnal, karya ilmiah, majalah, dan dll. Proses pengumpulan data dilakukan dengan membaca publikasi atau kajian terdahulu yang berkaitan dengan gagasan pendidikan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola pendidikan pada masa Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Kata Kunci: Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan, Lembaga Pendidikan. PENDAHULUAN Teori pendidikan berperan sebagai pijakan awal dan landasan utama dalam pengembangan praktik-praktik edukasi, misalnya dalam perumusan kurikulum, pengelolaan sekolah, serta pelaksanaan proses belajar-mengajar(Sholichah, 2018). Pendidikan dapat dianggap sebagai segala sesuatu dalam hidup yang berpotensi memengaruhi pertumbuhan seseorang.(Arifuddin & Karim, 2021) Rasulullah meninggal pada (632 M) tanpa meninggalkan wasiat kepada penggantinya. Beberapa kaum Muhajirin dan Ansar berkumpul di balai Kota Bani Sa'idah di Madinah untuk berdiskusi tentang siapa pemimpinnya. Meluasnya wilayah islam maka meluas pula kebutuhan kehidupan dalam segala bidang. Keteraturan dalam bidang pemerintah dan seluruh perlengkapannya membutuhkan pemikiran yang lebih serius. Pendidikan islam yakni suatu proses pembelajaraan yang disandarkan kepada ajaran islam. Dan semua yang berkaitan itu bersumber kepada Al-Qur’an dan As Sunnah, yang mana sejalan dengan fungsi Al-Qur’an yakni sebagai pedoman hidup bagi umat muslim, dan As Sunnah sebagai pendetail dari Al-Qur’an. Kedua sumber ini memiliki nilai yang mutlak atau relevan diberbagai zaman, sehingga pendidikan yang ideal akan banyak berpacu kepada Al-Qur’an dan As Sunnah. Sistem nilai atau moral yang dijadikan kerangka acuan adalah nilai-nilai dan moralitas yang diajarkan Islam melalui wahyu Allah yang diwahyukankepada utusan-Nya Nabi Muhammad SAW.Nilai akhlak Islam mengandung aspek normatif (aturan dan pedoman) dan aspek operatif (menjadi dasar bagi perbuatan amal)(Roza, Pama, & Pama, n.d.). Masa kekuasaan Khulafaur Rasyidin ditandai dengan akselerasi perkembangan Islam pada multi-aspek, salah satunya adalah pendidikan. Muatan pendidikan pada era ini bersifat
224 komprehensif, tidak hanya memuat aspek keagamaan, tetapi juga mengintegrasikan pengajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan, administrasi pemerintahan, serta ilmu pengetahuan umum. Para khalifah awal Islam mengimplementasikan sistem pendidikan yang bersifat komprehensif, di mana ilmu agama tidak menjadi satu-satunya prioritas, melainkan diimbangi pula dengan ilmu sosial dan sains yang berkaitan langsung dengan kehidupan praktis. Selain itu, pendidikan pada era ini lebih memprioritaskan upaya pembinaan karakter, moralitas, dan pengembangan ilmu pengetahuan sebagai manifestasi dari iman. Penerapan pendekatan holistik ini berhasil menciptakan generasi Muslim yang memiliki keluasan pengetahuan, keteguhan iman, dan penguasaan keterampilan praktis di berbagai disiplin ilmu. Perkembangan pendidikan Islam selama era Khulafaur Rasyidin melibatkan sistem yang komprehensif, mulai dari pendidikan yang bersifat informal di lingkungan rumah dan sosial hingga pendidikan formal yang diselenggarakan di masjid dan halaqah-halaqah (majelis-majelis ilmu). Sistem pendidikan selama era Khulafaur Rasyidin memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter umat Muslim dan berfungsi untuk memperkuat fondasi masyarakat Islam. Para khalifah, yaitu Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, memimpin dengan berpegangan pada prinsipprinsip yang dijiwai oleh nilai-nilai pendidikan Islam. Mereka secara konsisten menekankan pentingnya keadilan, kejujuran, persatuan, dan kesetaraan di antara umat. Lebih lanjut, para pemimpin ini menampilkan teladan kepemimpinan yang didasari oleh ketakwaan, integritas, dan semangat pengorbanan. Penerapan nilai-nilai luhur ini dalam pemerintahan mereka memberikan dampak besar terhadap peningkatan kualitas kehidupan umat Muslim dan relevan sebagai teladan hingga saat ini.(Ayyubi, 2024) Kontribusi dalam membangun peradaban Islam tampak jelas dari peran Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengubah gelar kepala negara dari Khalifah al-Rasul menjadi Amir al-Mu'minin setelah naik takhta. Kemudian, kepemimpinan dilanjutkan oleh Utsman bin Affan (Sayyidina Utsman) sebagai khalifah penerus ketiga yang bertugas menyebarluaskan Islam. Terdapat banyak pelajaran yang bermanfaat dalam bidang pendidikan yang dapat dipelajari dari riwayat Utsman, sejak keislamannya hingga menjadi khalifah. Inti dari pembelajaran tersebut adalah menjadikan Al-Qur'an sebagai dasar pendidikan, sebab Al-Qur'an merupakan wahyu yang memuat penjelasan yang sangat kompleks mengenai nilai-nilai Islam. Menurut Miftahu pendidikan Islam pada masa khulafaur rasyidin bersifat holistik, mengedepankan pembentukan karakter, keteladanan, dan penyebaran ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat. Setiap khalifah memberikan kontribusi unik dalam memajukan pendidikan, seperti pelestarian Al-Qur'an oleh Abu Bakar, penyebaran ilmu ke berbagai wilayah oleh Umar, standarisasi mushaf Al-Qur'an oleh Utsman, dan pengembangan logika serta retorika oleh Ali.(Zalnur, Masyhudi, Islam, Imam, & Padang, 2024) Selain itu, Syamsiar mengatakan bahwa pendidikan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab (624-644 M) dalam membangun peradaban Islam. Khalidfa Umar merupakan seorang intelektual dan mujaddid era klasik. Pada masanya, pemerintahan Islam mengalami transformasi dan lompatan besar melalui inovasi, reformasi politik dan ide-ide yang bersifat ijtihad modern; tentang hukum dan fiqih, sosial kemasyarakatan, moderasi beragama dan lain-lain. Karakter Khalifah Umar yang lain adalah hobinya melakukan blusukan. Karakterkarakter di atas menunjukkan bahwa Umar merupakan pemimpin yang out of the box.(Syukur, 2023) Lebih lanjut Tisna mengungkapkan bahwa, kebijakan politik pada periode awal Islam turut menentukan perkembangan dan kemajuan pendidikan di wilayah pemerintahan pusat hingga wilayah taklukan, seperti al-Quds (Palestina), Syam, Sassanid (Persia), Mesir, dan
225 lainnya. Sistem tersebut dapat dilihat dari peraturan mengenai pengangkatan pendidik (guru dan dosen), munculnya metode pembelajaran bilingual, pembayaran gaji guru secara berkala, dan sistem pendidikan berjenjang, mulai dari jenjang dasar hingga madrasah. Lebih lanjut, terlihat bahwa sejak masa pemerintahan Umar bin Khattab, akses pendidikan Islam telah dapat diakses secara luas oleh masyarakat tanpa memandang ras, status sosial, dan ekonomi.(Nugraha, 2020) Selain dari pada itu, Nor Holis menyatakan bahwa perkembangan pendidikan pada masa Utsman adalah menjadikan al-Quran sebagai landasan dari pendidikan karena alQuran merupakan wahyu yang di dalamnya mengandung nilai-nilai Islam.(Holis, 2023) Mentari menambahkan, pada masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan, pendidikan agama Islam terus diberikan dan dikembangkan. Selama masa pemerintahan Usman bin Affan, pendidikan agama Islam terutama didasarkan pada Al-Quran dan hadis. Pusat pendidikan mulai tersebar ke daerahdaerah lain dan para penuntut ilmu ini dapat menuntut atau menyebarkan ilmunya di berbagai daerah yang berbeda, jadi tidak hanya di dalam daerah yang ia tempat tinggali. pendidikan yang seperti itu menjadi lebih merata dan lebih mudah dijangkau oleh oleh para penuntut ilmu. Pemerataan penyebaran guru dan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas harus dilakukan dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah dan sekolah yang memang membutuhkan hal itu.(Putri, 2024). METODOLOGI Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan (library research). Penelitian kajian kepustakaan merupakan ringkasan tertulis yang di ambil dari buku-buku, artikel jurnal, dakumen lainnya yang berkaitan dengankajian penelitian(Sugiyono, 2022). Yaitu penelitian yang kajiannya dilakukan dengan menelusuri dan menelaah Literature atau sumber-sumber tertulis yang berkaitan dengan pokok bahasan (penelitian yang di fokuskan pada bahanbahan pustaka) khususnya yang membahas tentang peradaban Islam pada masa Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.(Hartono, 2019) Tegasnya riset kepustakaan ini membatasi kegiatan hanya dengan bahan koleksi kepustakaan saja tanpa melakukan riset lapangan.(Zed, 2018) Dengan metode ini, penulis tidak melakukan observasi langsung di lapangan, melainkan mengumpulkan informasi dari data sekunder yang dapat dipertanggungjawabkan. Menurut bungin penelitian library research meliputi menemukan informasi dan mengidentifikasi secara relevan, kemudian menganalisis apa yang di temukan oleh peneliti serta mengembangkan ide ide peneliti. Tentunya hal ini membutuhkan skill peneliti untuk mencapai laporan penelitian.(Bungin, 2021) Berdasarkan buku metode penelitian kepustakaan Mestika Zed berkenannya penelitian untuk mengumpulkan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengelola hasil kajian pustaka. Dengan metode studi pustaka ini, diharapkan penelitian mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai pola pendidikan Islam pada masa Khulafau Rasyidin. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menambah khazanah keilmuan, khususnya dalam kajian sejarah pendidikan Islam, serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang ingin memperdalam pembahasan tentang peran pusat-pusat lembaga pendidikan dalam perkembangan peradaban Islam.
226 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Umar Bin Khattab 1. Biografi Umar Bin Khattab Umar bin Khattab lahir pada tahun 513 M di Mekah dalam klan suku Quraisy, Bani Adi. Setelah memeluk Islam, ia memperoleh gelar al-Faruq (pembeda antara yang hak dan yang batil) (Lubis, 2020). Pada masa pra-Islam, Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang pegulat dan orator ulung. Ia juga memiliki keistimewaan sebagai satu-satunya sahabat Nabi Muhammad SAW yang melek huruf dan cakap dalam menulis. Selain itu, ia juga aktif sebagai seorang pedagang, di mana perdagangan menjadi mata pencaharian utamanya. Umar bin Khattab menempati posisi sentral sebagai salah satu tokoh utama dalam sejarah Islam. Beliau dikenal memiliki keteguhan, kemauan yang kuat, dan karakter yang tegas. Sebelum menjabat sebagai khalifah, Umar digambarkan sebagai sosok yang keras dan tanpa kompromi, bahkan cenderung kejam. Namun, setelah menjadi pemimpin, di bawah pemerintahannya, ekspansi wilayah kekuasaan Islam meluas secara signifikan dan cepat. Perluasan wilayah kekuasaan Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab tidak hanya berfokus pada aspek geografis, tetapi juga berdampak signifikan pada pengembangan masyarakat di berbagai lapisan. Untuk mendukung perluasan ini, diperlukan sumber daya manusia yang terampil dan kompeten. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, sistem pendidikan anak mulai terstruktur. Beliau mendirikan fasilitas belajar khusus untuk anak-anak di area masjid. Penataan ini menjadi inspirasi bagi model pendidikan anak-anak yang ada saat ini, yang dikenal dengan berbagai istilah seperti Taman Pendidikan Al-Qur'an dan Raudhatul Athfal. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, Khalifah Umar bin Khattab dapat disebut sebagai "Bapak Pendidikan Anak Usia Dini". Untuk mendukung kegiatan pendidikan, beliau menunjuk dan mengangkat tenaga pendidik di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk di daerah-daerah yang baru bergabung. Para guru di wilayah ini bertugas untuk mendidik penduduk yang baru memeluk Islam dengan mengajarkan Al-Qur'an, akidah, dan ajaran Islam lainnya. 2. Lembaga Pendidikan Umar bin Khattab Adapun lembaga pendidikan yang dikenal sebagai Kuttab sebenarnya sudah ada sebelum datangnya Islam, tetapi kurang mendapatkan perhatian di Mekah. Perkembangannya semakin pesat setelah Perang Badar, ketika Rasulullah memerintahkan para tawanan yang pandai membaca dan menulis untuk mengajari kaum Muslimin sebagai tebusan atas diri mereka. Pada masa awal Islam, Kuttab berfungsi sebagai lembaga pendidikan dasar yang mengajarkan keterampilan membaca, menulis, serta dasar-dasar agama Islam dan membaca Al-Qur'an. Untuk tingkat pendidikan yang lebih tinggi, kegiatan belajar dilaksanakan di masjid, dengan materi yang mencakup Al-Qur'an dan tafsirnya, Hadis, dan fikih(Mahmudah, 2021). Pada masa ini, bahasa Arab mulai berperan sebagai lingua franca di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Penggunaannya tidak hanya sebagai alat komunikasi sehari-hari, tetapi juga sebagai media utama untuk memahami Al-Qur'an dan ajaran Islam secara keseluruhan, sehingga berfungsi sebagai alat pemersatu umat Islam. Perluasan wilayah Islam ke luar Jazirah Arab mendorong perkembangan pesat bahasa Arab. Para tentara Muslim yang melakukan penaklukan menghadapi hambatan komunikasi dengan penduduk setempat, namun mereka tetap mempertahankan bahasa arab. Situasi ini memotivasi penduduk di wilayah yang ditaklukkan untuk mempelajari bahasa Arab, karena dianggap sebagai kehormatan. Akibatnya, bahasa arab secara bertahap menyebar di masyarakat luas dan akhirnya menjadi bahasa ibu di wilayah tersebut.
227 Sebelum masa kepemimpinan Umar bin Khattab, masjid telah berfungsi sebagai pusat ibadah dan pendidikan syariat Islam, baik pada masa Nabi Muhammad SAW maupun nabinabi sebelumnya. Menurut catatan sejarah, setidaknya terdapat empat masjid tertua dalam Al-Qur'an, disebutkan empat masjid utama: Masjid al-Haram, Masjid al-Aqsa, Masjid Quba, dan Masjid Nabawi. Dari keempatnya, dua masjid yang pertama dibangun sebelum masa kenabian Muhammad SAW, sedangkan dua masjid yang belakangan didirikan pada awal Islam, yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW. Umar bin Khattab memiliki peran sentral dalam penyebaran pendidikan dengan menunjuk para dai dan guru untuk diutus ke wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan. Secara eksplisit, beliau menyatakan bahwa salah satu tujuan utama pengiriman gubernur dan petugas ke daerah adalah agar mereka dapat mengajar masyarakat. Sebagai contoh, ketika menaklukkan berbagai wilayah, Umar menulis surat kepada para pemimpinnya, seperti Abu Musa al-Ash'ari di Basra, Sa'ad ibn Waqqas di Kufah, dan 'Amr ibn al-'As di Mesir, yang isinya memerintahkan mereka untuk mendirikan masjid pusat dan masjid untuk suku-suku sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, proses pengajaran ilmu seperti Al-Qur'an, bahasa, fikih, dan disiplin ilmu lainnya dilaksanakan di beberapa lokasi utama, yaitu: a. Masjid Pusat Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, pembangunan masjid mengalami peningkatan signifikan. Diperkirakan terdapat sekitar 12.000 masjid yang digunakan untuk salat Jumat. Beliau secara aktif menginstruksikan para pemimpin wilayah untuk mendirikan masjid. Sebagai contoh, dalam suratnya kepada Abu Musa al-Ash'ari di Basra, Sa'ad ibn Waqqas di Kufah, dan 'Amr ibn al-'As di Mesir, Umar memerintahkan mereka untuk membangun masjid pusat yang digunakan untuk salat Jumat dan masjidmasjid khusus bagi setiap suku. b. Masjid Tiap Kota Dalam suratnya kepada komandan pasukan di Suriah, Umar bin Khattab melarang mereka untuk meninggalkan kota dan pergi ke pedesaan. Beliau memerintahkan agar mereka membangun masjid di setiap kota, namun tidak seperti di Kufah, Basra, dan Mesir yang membangun masjid khusus untuk suku-suku. c. Bangunan atau Sekolah Ketika umat Islam membutuhkan tempat terpisah dari masjid untuk pendidikan anak-anak, Umar bin Khattab mengeluarkan instruksi agar sekolah-sekolah didirikan. Beliau juga menunjuk tenaga pengajar khusus untuk mendidik dan mendisiplinkan anakanak di lembaga-lembaga tersebut. 3. Strategi Penyebaran Pendidikan Umar bin Khattab Sepanjang masa kepemimpinannya, Khalifah Umar bin Khattab mencurahkan perhatian serius terhadap berbagai aspek, mulai dari bidang hukum, pemberian nasihat, pemahaman Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, pendidikan, hingga upaya kemakmuran rakyat. Terkait bidang pendidikan dan penyebaran agama Islam, Khalifah Umar memiliki beberapa strategi dan kebijakan utama, yaitu: a. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Madinah menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan dan fatwa(Naemah & Abd, 2002). Madinah menjadi tempat berkumpulnya para sahabat, terutama mereka yang merupakan as-Sabiqun alAwwalun (generasi pertama yang masuk Islam). Umar menempatkan sekitar 130 fuqaha (ahli fikih) di sekelilingnya untuk membantu mengelola urusan umat, mencari solusi, dan bermusyawarah dalam berbagai masalah keilmuan, serta ajaran Rasulullah. Para sahabat dan murid Umar bin Khattab mengembangkan ilmu di Madinah. Sebagian dari mereka kemudian diutus ke wilayah-wilayah taklukan untuk mengajar
228 dan membimbing penduduk yang baru memeluk Islam. Selain berfungsi sebagai pusat pendidikan, Madinah juga merupakan pusat fatwa. Terdapat tujuh tokoh utama yang sangat aktif dalam memberikan fatwa, yaitu Umar, Ali, Abdullah bin Mas’ud, ‘Aisyah, Zayd bin Tsabit, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Umar. b. Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, beberapa sahabat yang memiliki pengaruh besar tidak diizinkan meninggalkan Madinah tanpa izin dari khalifah dan hanya untuk waktu yang terbatas. Hal ini bertujuan agar para sahabat yang ahli dalam berbagai bidang pendidikan, seperti Uthman, Ali, Abdur-Rahman ibn Auf, Ubayy ibn Ka'ab, Muhammad ibn Maslamah, dan Zayd ibn Thabit, dapat tetap berada di Madinah untuk mendukung kepemimpinan Umar. c. Umar bin Khattab menunjuk para sahabat yang ahli di bidangnya sebagai gubernur atau guru di berbagai wilayah taklukan. Mereka bertugas mengajarkan Al-Qur'an dan ajaran Islam lainnya kepada penduduk setempat. Selain itu, ketika mengirimkan pasukan, Umar juga menyertakan para ulama dan ahli fikih untuk mendidik prajurit tentang Al-Qur'an, agama, dan prinsip - prinsip hukum fikih Kebijakan mengatakan bahwa salah satu tujuan utama kunjungan gubernur dan petugas ke wilayah tersebut adalah untuk mendidik masyarakat secara komprehensif . d. Umar bin Khattab menetapkan kebijakan pemberian upah atau gaji bagi para pendidik. Beliau mengalokasikan dana dari Baitul Mal (kas negara) untuk guru dan mufti, dengan tujuan agar mereka dapat mendedikasikan seluruh waktu mereka untuk kegiatan mengajar dan mengeluarkan fatwa. Sebagai contoh, Umar 4. Metode Pendidikan Umar bin Khattab Dalam melaksanakan proses pengajarannya, Khalifah Umar bin Khattab mengimplementasikan beberapa metode yang bersumber dari praktik yang diturunkan oleh Rasulullah SAW, antara lain: a. Halaqah Metode ini didefinisikan sebagai pembelajaran yang dilaksanakan secara kolektif atau berkelompok, dengan bimbingan langsung dari seorang guru (pendidik). Khalifah Umar bin Khattab secara rutin menyelenggarakan pertemuan-pertemuan kelompok, baik dengan para fuqaha' (ahli fikih) maupun dengan kelompok pemuda. Metode halaqah juga diterapkan oleh para sahabat dalam pengajaran, seperti yang dilakukan oleh Abu Musa. Beliau dikenal memiliki suara yang merdu dan bacaan Al-Qur'an yang indah, sehingga banyak orang berkumpul untuk mendengarkan bacaannya(Yanti, Insannia, & Aprison, 2023). Ketika Abu Musa Al-Ash'ari bertemu dengan Umar bin Khattab, Umar sering memintanya untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur'an. Karena keindahan suaranya, banyak orang, termasuk para penuntut ilmu, berkumpul mengelilinginya di masjid Basra. Abu Musa kemudian membagi para penuntut ilmu ke dalam beberapa kelompok atau halaqah. Ia berkeliling di antara kelompok-kelompok tersebut untuk membacakan ayat, mendengarkan bacaan mereka, dan mengoreksi jika ada kesalahan. b. Talaqqi Umar bin Khattab menerima pendidikan langsung dari Nabi Muhammad SAW melalui metode talaqqi, yaitu pembelajaran tatap muka yang berfokus pada hafalan dan pemahaman Al-Qur'an. Metode ini juga diterapkan oleh Umar selama masa kepemimpinannya. Beliau menekankan pentingnya menanamkan Al-Qur'an di hati umat, sejalan dengan ajaran yang ia terima langsung dari Nabi. Metode talaqqi juga diterapkan oleh para sahabat dalam memberikan pengajaran. Sebagai contoh, Abu Musa al-Ash'ari, yang bertanggung jawab atas wilayah Basra, menjadikan masjid di sana sebagai pusat intelektual. Beliau mendedikasikan sebagian
229 besar waktunya untuk mengajar. Setelah salat, Abu Musa akan berbalik menghadap jemaah dan memulai kegiatan belajar-mengajar. Ia mengoreksi bacaan Al-Qur'an mereka secara langsung, yang merupakan inti dari metode talaqqi. c. Ceramah Umar bin Khattab menggunakan metode ceramah atau dakwah untuk menyampaikan ajaranny Beliau sering memberikan nasihat, baik dalam pertemuan, sesi pengajaran, maupun saat khutbah Jumat dan khutbah lainnya(Yanti et al., 2023). Dengan kemampuan sastranya yang ulung, Umar menyampaikan nasihat, hukum, larangan, dan solusi atas berbagai masalah yang dihadapi umat. Umar bin Khattab menyampaikan ceramah dan dakwah di berbagai kesempatan, seperti saat khutbah di masjid, setelah salat berjemaah, atau dalam pertemuan untuk menyelesaikan masalah. Beliau juga memberikan pengajaran saat bertemu para sahabat atau ketika akan menugaskan mereka. Dalam metode ceramah dan dakwahnya, Umar menggunakan dua pendekatan yaitu: AlHikmah (kebijaksanaan) dan Al-Mau'idzatul hasanah (nasihat yang baik). B. Utsman Bin Affan 1. Biografi Ustman bin Affan Utsman bin Affan memilki nama lengkap Utsman bin Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdusy-Syams bin Abdul Manafbin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Ibnu Madrakah bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf. Sedangkan ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Robiah bin Habib bin Abd Syams bin Abdi Manaf bin Qushay. Utsmaan bin Affan lahir pada tahun 576 M di Thaif, 6 tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Bapaknya benama Affan dan ibunya bernama Arwa binti Kuriz bin Rabiah bin Habib Abdisyam bin Abdi Manaf. Utsman bin Affan masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan Rasulullah dimana nenek Utsman bin Affan yang bernama Ummu Hukaim dan ayah Rasulullah yang bernama Abdullah saudara kandung.(Gultom, 2022) Pengangkatan Utsman bin Affan menjadi khalifah didahului oleh keislamannya melalui ajakan Abu Bakar, menjadikannya figur sahabat dekat Nabi SAW. Utsman dikenali berdasarkan sejumlah sifat yang menunjukkan keluhuran budi pekerti, seperti sikap yang sangat pemalu, kedermawanan, kesabaran, serta kekuatan memelihara kekerabatan. Selain itu, ia juga dicirikan oleh kelembutan, kasih sayang, pemaaf, toleransi, dan husnul zhan. Namun, catatan sejarah juga menyebutkan adanya kecenderungan kelemahan dan kepatuhan yang berlebihan terhadap kepentingan keluarganya.(Gultom, 2022) 2. Lembaga Pendidikan pada Masa Khalifah Utsman bin Affan Pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab, pendidikan Islam mengalami perkembangan yang signifikan, baik dari sisi kelembagaan maupun substansi ajarannya. Salah satu peristiwa paling bersejarah yang memberikan pengaruh besar hingga saat ini adalah proses pembukuan Al-Qur’an al-Karim. Adapun langkah-langkah dalam penulisannya sebagai berikut.(Al-tsari, 2004) a. Motif Penulisan Al-Qur’an Penulisan Al-Qur’an Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, umat Islam telah tersebar luas ke berbagai wilayah. Kondisi ini menimbulkan perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an, terutama karena perbedaan dialek bahasa di kalangan kaum Muslimin. Peristiwa ini semakin jelas terlihat ketika kaum Muslimin dari Syam dan Irak bergabung dalam penaklukan Armenia dan Azerbaijan. Hudzaifah bin Al-Yaman, salah seorang sahabat Nabi, melihat adanya perselisihan di antara mereka mengenai bacaan Al-Qur’an. Ia khawatir perbedaan tersebut akan memicu pertikaian besar, sebagaimana pernah
230 terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani yang berselisih dalam urusan kitab suci mereka.(Rindra, Alimni, & Yusuf, 2023) Melihat situasi yang mengkhawatirkan, Hudzaifah segera menemui Khalifah Utsman untuk menyampaikan persoalan tersebut. Utsman kemudian mengirim surat kepada Hafsah binti Umar, istri Nabi sekaligus putri Umar bin Khattab, untuk meminjam mushaf yang sebelumnya telah dikumpulkan pada masa Abu Bakar. Mushaf ini digunakan sebagai acuan dalam penyalinan. Utsman kemudian menunjuk sebuah tim yang terdiri dari sahabat-sahabat terpercaya, yaitu Zaid bin Tsabit, Abdullah bin AzZubair, Sa’id bin Al-‘Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Mereka ditugaskan untuk menyalin mushaf ke dalam beberapa salinan. Setelah selesai, mushaf asli dikembalikan kepada Hafsah. Salinan mushaf yang baru kemudian dikirim ke berbagai wilayah penting, seperti Mekkah, Kufah, Bashrah, dan Madinah. Setiap mushaf dikirim bersama seorang sahabat atau guru untuk mengajarkan cara membaca yang benar sesuai dengan riwayat yang sahih. Misalnya, Abdullah bin As-Sa’ib diutus ke Mekkah, Al-Mughirah bin Syihab ke Kufah, Amir bin Qais ke Bashrah, sementara Zaid bin Tsabit tetap di Madinah. Untuk menghindari perpecahan, Utsman memerintahkan agar mushaf lain yang berbeda atau tidak sesuai dengan mushaf standar dibakar. Langkah ini sangat penting karena di masa itu umat Islam membutuhkan pedoman bacaan Al-Qur’an yang jelas, mudah dipahami, dan seragam. Selain itu, hadis atau sunnah Nabi juga berperan besar sebagai penjelas dan pelengkap pemahaman terhadap Al-Qur’an. Dari sinilah kemudian berkembang berbagai cabang ilmu keislaman, termasuk ilmu hadis. b. Musyawarah Khalifah Utsman dengan Para Sahabat Sebelum melaksanakan proyek besar penulisan mushaf standar, Khalifah Utsman tidak bertindak seorang diri. Ia terlebih dahulu mengadakan musyawarah dengan para sahabat utama dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, termasuk para ulama dan tokoh besar, di antaranya Ali bin Abi Thalib. Dalam musyawarah tersebut, Utsman menjelaskan latar belakang keinginannya untuk menyatukan mushaf Al-Qur’an. Para sahabat pun mempelajari dan mendiskusikan persoalan ini secara mendalam. Setelah pembahasan, semua sahabat yang hadir menyatakan persetujuan penuh terhadap rencana tersebut. Kesepakatan ini juga disampaikan kepada umat Islam di berbagai wilayah, dan tidak ada seorang pun yang menentangnya. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan mushaf standar Utsmani mendapat legitimasi penuh dari umat. Tujuan utama langkah ini adalah untuk menjaga kemurnian, keaslian, dan keautentikan Al-Qur’an sebagai wahyu Allah, agar tidak terjadi penyimpangan maupun perpecahan di kalangan kaum Muslimin. c. Perbedaan Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa Abu Bakar dan Utsman Meskipun sama-sama berkaitan dengan pengumpulan Al-Qur’an, terdapat perbedaan latar belakang antara masa Abu Bakar dan masa Utsman. Masa Abu Bakar Pengumpulan dilakukan setelah Perang Yamamah, di mana banyak para penghafal AlQur’an (qurra’) gugur sebagai syuhada. Abu Bakar khawatir jika Al-Qur’an hilang atau sebagian ayat terlupakan. Oleh karena itu, ia memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan seluruh ayat yang ditulis di berbagai media, seperti pelepah kurma, batu tipis, dan hafalan para sahabat. Hasilnya berupa mushaf yang dikumpulkan dalam lembaran-lembaran dengan susunan ayat dan surat sebagaimana diajarkan Rasulullah. Masa Utsman pengumpulan kembali dilakukan bukan karena khawatir Al-Qur’an hilang, melainkan karena adanya perbedaan bacaan antar umat Islam di berbagai wilayah. Dengan adanya hal tersebut maka sampai sekarang umat muslim mudah dalam membaca
231 Al-Qur’an, relevansinya dapat dilakukan penerjemahan dan tafsir yang mana upaya untuk merepresentasikan pemahaman Al-Qur'an kepada orang lain. Perbedaan dialek menyebabkan sebagian orang saling menyalahkan bacaan yang lain. Untuk mencegah perpecahan, Utsman memerintahkan penyalinan mushaf standar dengan menggunakan dialek Quraisy, yaitu bahasa yang dipakai ketika Al-Qur’an diturunkan. Mushaf standar ini kemudian diperbanyak dan disebarkan ke berbagai wilayah.Sementara mushaf lain yang tidak sesuai diperintahkan untuk dimusnahkan.(Holis, 2023) Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, dilakukan pengelompokan peserta didik secara teratur dan sistematis, yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi masing-masing. Pengelompokan ini dilengkapi dengan penerapan metode pendidikan tertentu. Pengklasifikasian peserta didik dan metode pengajaran yang diterapkan adalah sebagai berikut: 1) Kelompok pertama terdiri dari orang dewasa atau orang tua yang baru memeluk Islam, di mana metode yang digunakan meliputi ceramah, hafalan, dan latihan. 2) Kelompok kedua adalah anak-anak, baik dari keluarga Muslim lama maupun mualaf, dengan fokus metode pada hafalan dan latihan. 3) Kelompok ketiga mencakup orang dewasa atau orang tua yang telah lama memeluk Islam, yang menerapkan metode diskusi, ceramah, hafalan, dan tanya jawab. 4) Kelompok keempat ditujukan bagi individu yang mengkhususkan diri dalam studi keagamaan secara komprehensif dan mendalam; metode pengajarannya meliputi ceramah, hafalan, tanya jawab, diskusi, dan sedikit hafalan.(Maghfirah & Salmiwati, 2025) 3. Strategi Penyebaran Pendidikan Ustman bin Affan Pengangkatan Utsman bin Affan sebagai khalifah tidak dilakukan melalui penunjukan langsung oleh Umar bin Khattab, melainkan merupakan hasil dari proses pemilihan yang dilakukan oleh Panitia Enam (Majelis Syura) yang dibentuk oleh Khalifah Umar menjelang akhir hayatnya. Panitia Enam tersebut terdiri dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Dan akhirnya dengan melalui proses panjang selama tiga hari, Abdurrahman bin ‘Auf sebagai dewan syuro membai’at Utsman sebagai khalifah dengan melalui musyawarah panjang. Dengan sistem yang dilakukan seperti itu situasi pemilihan khalifah berjalan dengan lancar, dan tidak terjadi perselisihan dan perpecahan di masyarakat.(Gultom, 2022) Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, beliau menerapkan kebijakan yang mendukung perkembangan pendidikan Islam, khususnya terkait tenaga pendidik. Kebijakan tersebut memberikan kebebasan kepada para sahabat yang dekat dan memiliki pengaruh besar dengan Rasulullah untuk menetap di daerah pilihan mereka. Langkah ini memungkinkan pendidikan Islam menjadi lebih merata dan mudah diakses oleh berbagai lapisan masyarakat, karena para sahabat tersebar di berbagai wilayah yang kemudian menjadi pusat-pusat pendidikan. Kebijakan ini menjadi tonggak awal penyebaran pendidikan Islam secara luas, mendukung perluasan dakwah Islamiyah ke seluruh penjuru wilayah.(Samsul, 2008) Adapun tujuan pendidikan pada masa khulafaur Rassyidin di zaman Ustman bin Affan ialah sesuai dengan tujuan pendidikan Rasulullah SAW yaitu membentuk masyarakat Muslim yang berkarakter kuat serta mengembangkan dimensi kemanusiaan dalam menjaga dan mengelola keseimbangan alam. Pendidikan Islam pada periode ini bertujuan untuk melanjutkan dan mempertahankan warisan Rasulullah, terutama dalam mewariskan nilainilai dan budaya Islami kepada generasi berikutnya. Generasi penerus yang dimaksud mencakup para tabi'in dan tabi'ut tabi'in, yang diharapkan mampu membawa peradaban Islam menuju kemajuan yang lebih tinggi.(Maghfirah & Salmiwati, 2025)