Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan: Perbandingan Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah
Full text
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Islam Nusantara dan Islam (Hartinawanti, at.,al) | 552-557 Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Volume 3, Nomor 11, December 2025, P. 552-557 E-ISSN: 2986-6340 Licenced by CC BY-SA 4.0 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18033415 Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan: Perbandingan Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Islam Nusantara and Progressive Islam: A Comparative Perspective of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah Hartinawanti, Indo Santalia, Andi Aderus Program Studi Dirasah Islamiyah, Universitas Islam Alauddin Makassar E-mail: [email protected], [email protected], [email protected] Abstract This article examines the two largest patterns of Islam in Indonesia, namely Nusantara Islam initiated by Nahdlatul Ulama (NU) and Progressive Islam developed by Muhammadiyah. Both represent the face of Indonesian Islam as moderate, inclusive, and adaptive to the socio-cultural context of the Nusantara. The study focuses on historical background, theological characteristics, da'wah approaches, points of similarity and methodological differences, as well as their relevance to national life. This research method uses a qualitative approach based on literature studies, analyzed descriptively and analytically with a comparative approach. This research method uses a qualitative approach based on literature studies, analyzed descriptively and analytically with a comparative approach. Keywords: Nusantara Islam, Progressive Islam, NU, Muhammadiyah, Religious Moderation Abstrak Artikel ini mengkaji dua corak keislaman terbesar di Indonesia, yakni Islam Nusantara yang digagas Nahdlatul Ulama (NU) dan Islam Berkemajuan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah. Keduanya merepresentasikan wajah Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan adaptif terhadap konteks sosial-budaya Nusantara. Fokus kajian mencakup latar historis, karakter teologis, pendekatan dakwah, titik persamaan serta perbedaan metodologis, serta relevansinya terhadap kehidupan kebangsaan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka, dianalisis secara deskriptif analitis dengan pendekatan komparatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua konsep tersebut tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi: Islam Nusantara menekankan aspek kultural dan tradisional, sedangkan Islam Berkemajuan mengedepankan rasionalitas dan modernitas. Sinergi keduanya berpotensi memperkuat moderasi beragama (wasathiyah) dalam konteks keindonesiaan. Kata kunci: Islam Nusantara, Islam Berkemajuan, NU, Muhammadiyah, Moderasi Beragama. Article Info Received date: 25 November 2025 Revised date: 30 November 2025 Accepted date: 18 December 2025 INTRODUCTION Islam hadir sebagai agama universal yang membawa nilai rahmatan lil ‘alamin. Ketika memasuki berbagai kawasan dunia, Islam selalu menampilkan karakter yang beragam sesuai konteks budaya, sosial, dan sejarah masyarakat setempat. Di Indonesia, Islam tumbuh melalui jalur dakwah damai dan akulturatif, sehingga memunculkan identitas keislaman yang khas. Dua corak besar yang mencirikan wajah Islam Indonesia hari ini adalah Islam Nusantara yang diusung NU dan Islam Berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah. Islam Nusantara mencerminkan ekspresi keberagamaan yang selaras dengan tradisi lokal, ramah terhadap keragaman budaya, serta menekankan keseimbangan antara teks, akal, dan realitas (‘urf). Sebaliknya, Islam Berkemajuan menekankan tajdid (pembaruan), rasionalisasi ajaran, serta orientasi pada kemajuan intelektual dan sosial. Kedua konsep ini sering dipersepsikan bertentangan, padahal keduanya lahir dari akar yang sama yaitu menghadirkan wajah Islam yang moderat, antikekerasan, dan relevan dengan konteks
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Islam Nusantara dan Islam (Hartinawanti, at.,al) | 552-557 Indonesia. Artikel ini berupaya menelaah karakteristik keduanya secara komprehensif agar dapat dipahami sebagai dua ekspresi keislaman yang saling melengkapi. RESEARCH METHODS Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka (library research). Metode studi pustaka (library research) adalah metode penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis data yang bersumber dari berbagai literatur tertulis, seperti buku, artikel jurnal ilmiah, dokumen resmi, laporan penelitian, dan sumber akademik lain yang relevan dengan objek kajian 1 . Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami, menafsirkan, dan menganalisis konsep-konsep pemikiran keislaman secara mendalam, khususnya mengenai Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan dalam perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sumber utama berasal dari buku karya tokoh NU dan Muhammadiyah, dokumen resmi organisasi (Muktamar NU ke-33 dan Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua), serta artikel jurnal nasional. Data dianalisis secara deskriptif-analitis dengan pendekatan komparatif untuk melihat persamaan, perbedaan, dan relevansi kedua konsep dalam konteks keindonesiaan. RESULTS AND DISCUSSION 1. Konsep Islam Nusantara Perspektif Nahdlatul Ulama (NU) Islam Nusantara merupakan ekspresi keberagamaan yang tumbuh dari proses panjang interaksi Islam dengan kebudayaan lokal Nusantara. Islam Nusantara yang digagas Nahdlatul Ulama (NU) merupakan identitas Islam yang dapat dipahami sebagai model pemahaman pemikiran dan pengalaman shari’ah Islam melalui pendekatan kultural 2 . NU menegaskan bahwa Islam tidak datang untuk menghapus tradisi, tetapi menyucikan dan meluruskannya sesuai prinsip tauhid 3 . Karena itu, praktik tradisi seperti tahlilan, selametan, dan ziarah kubur tidak dipandang sebagai penyimpangan, tetapi sebagai bentuk ekspresi religius masyarakat yang telah diislamkan. Menurut KH. Said Aqil Siradj, ciri utama Islam Nusantara meliputi 4 : a. Humanis, Islam ditempatkan sebagai ajaran yang menekankan nilai kemanusiaan. b. Toleran, Menghargai perbedaan etnis, budaya, dan agama. c. Kontekstual, Menafsirkan teks agama dengan mempertimbangkan realitas sosial. Akhmad Sahal menegaskan bahwa Islam Nusantara adalah relasi organik antara Islam dan budaya. Dengan demikian, Islam menjadi inklusif dan mudah diterima masyarakat tanpa menghilangkan substansi nilai-nilai syariah 5 . Islam Nusantara bertujuan untuk menciptakan wajah Islam yang ramah (friendly Islam), memperkuat identitas Islam Indonesia, menghadirkan model keberagamaan moderat yang dapat menjadi solusi bagi ekstremisme global 6 . 2. Konsep Islam Berkemajuan Perspektif Muhammadiyah Islam Berkemajuan berakar pada pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang menekankan pentingnya kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah dengan semangat rasional, ilmiah, dan progresif. Konsep ini bertujuan menjadikan Islam sebagai kekuatan pencerahan (tanwir) yang membawa perubahan nyata dalam kehidupan umat 7 . Ciri-ciri pokok Islam Berkemajuan 8 : 1 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Alfabeta, 2019). 2 Nur Syam dan Nawawi, “Islam Nusantara Berkemajuan sebagai Basis Moderasi Islma di Indonesia,” Islamica: Jurnal Studi Keislaman 13, no. 2 (2019): 236–55, https://islamica.uinsa.ac.id/index.php/islamica/article/view/566. 3 Tim PBNU, Dokumen Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama: Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (PBNU, 2015). 4 Said Aqil Siradj, Islam Sumber Inspirasi Budaya Nusantara (LTN NU, 2014). 5 Ahmad Baso, Islam Nusantara Ijtihad Jenius dan Ijma’ Ulama Indonesia, Jilid I, Cet. I (Pustaka Afid, 2015). 6 Khabibi Muhammad Luthfi, “Islami Nusantara: Relasi Islami dan Budaya Lokal,” Shahih: Journal of Islamicate Multidisciplinary 1, no. 1 (2016): 1–16. 7 Tim PP Muhammadiya, Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua (Percetakan Muhammadiyah GRAMASURYA, 2015). 8 Haedar Nashir, Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia (Suara Muhammadiyah, 2016).
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Islam Nusantara dan Islam (Hartinawanti, at.,al) | 552-557 a. Purifikasi dan tajdid, membersihkan praktik keagamaan dari bid’ah, takhayul, dan khurafat. b. Berbasis ilmu pengetahuan, mengintegrasikan ajaran Islam dengan kemajuan sains dan teknologi. c. Modern dan progresif, mendorong umat untuk maju dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. d. Keadilan dan kemanusiaan, menjadikan Islam sebagai basis etis pembangunan masyarakat madani. Dalam bidang pendidikan, sekolah-sekolah yang dirintis Muhammadiyah sempat mendapat cemooh dari masyarakat karena mengajarkan ilmu-ilmu umum semisal ilmu alam, ilmu hitung, bahasa Belanda, tulisan latin, dan sebagainya. Sekolah-sekolah Muhammadiyah justru mendobrak anggapan masyarakat umum ini dengan langkahnya memodernisir diri 9 . Melalui ribuan amal usaha (sekolah, universitas, rumah sakit, panti sosial), Muhammadiyah membuktikan bahwa Islam bukan hanya sistem ibadah tetapi gerakan kemajuan peradaban. Prinsip Muhammadiyah sebagai prinsip dakwah merupakan fondasi yang mendasari gerakan dakwah dan perjuangan Muhammadiyah dalam menyebarkan nilai-nilai Islam melalui ceramah atau pengajian, pembangunan sekolah, rumah sakit, dan lembaga sosial 10 . Berikut adalah uraian dari beberapa prinsip utama Muhammadiyah sebagai prinsip dakwah: a. Tajdid atau pembaruan Prinsip tajdid merupakan landasan dawah yang mendasari gerakan dakwah Muhammadiyah untuk memastikan bahwa dakwah yang dilakukan selalu relevan dengan dinamika zaman tanpa mengorbankan prinsip dasar Islam. b. Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam prinsip dakwah berbasis Islam berkemajuan yang bertujuan mencerdaskan umat dan membentuk generasi yang unggul dalam iman, ilmu, dan amal (Muhammadiyah, 2013). c. Pemberdayaan Umat Pemberdayaan umat yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup umat Islam melalui pemanfaatan sumber daya yang ada, baik dalam hal spiritual, sosial, maupun ekonomi. 3. Persamaan dan Perbedaan Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan Walaupun NU dan Muhammadiyah memiliki pendekatan yang berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menampilkan wajah Islam yang damai, moderat, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia 11 . a. Titik Persamaan NU dan Muhammadiyah Baik Islam Nusantara maupun Islam Berkemajuan sama-sama mempertimbangkan perubahan situasi dan kondisi masyarakat, denganmenjadikan prinsip kemaslahatan sebagai tolok ukurnya 12 . Titik persamaan NU dan Muhammadiyah 13 : 1) Berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, 2) Menolak radikalisme, ekstremisme, dan kekerasan, 3) Mempromosikan moderasi beragama (wasathiyah), 4) Berkomitmen pada NKRI, Pancasila, dan pluralitas Indonesia, 9 Zainun Wafiqatun Niam, “Konsep Islam Wasathiyah Sebagai Wujud Islam Rahmatan lil ‘alamin: Peran Nu dan Muhammadiyah dalam Mewujudkan Islam Damai di Indonesia,” Palita: Journal of Social Religion Research 4, no. 2 (2019): 91–106, https://doi.org/10.24256/pal.v4i2.764. 10 Putriany dkk., “Menghubungkan Dua Tradisi: Model Dakwah Islam Nusantara dan Islam Kemajuan,” Nusantara: Jurnal for Southeast Asian Islamic Studies 21, no. 1 (2025): 102–13. 11 Zakiya Darojat dan Abdul Chair, “Islam Berkemajuan and Islam Nusantara: The Face of Moderate Islam in Indonesia,” Atlantis Press: Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 302 (2019): 60–63. 12 Arif Al Wasim, “Titik Temu Islam Nusantara Berkemajuan dalam Perspektif Fenomenologi Edmund Hussrl (1859 – 1938),” AN NUR: Jurnal Studi Islam 12, no. 1 (2020): 47–72, https://doi.org/10.37252/an-nur.v12i1.80. 13 Nashir, Islam Berkemajuan untuk Peradaban Dunia.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Islam Nusantara dan Islam (Hartinawanti, at.,al) | 552-557 5) Memandang Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin. b. Titik Perbedaan Pendekatan NU dan Muhammadiyah Perbedaan pendekatan NU dan Muhammadiyah 14 dapat dilihat pada tabel berikut. Aspek Islam Nusantara (NU) Islam Berkemajuan (Muhammadiyah) Orientasi Kultural-tradisional Modern-rasional Metode Dakwah Akulturasi budaya Purifikasi & rasionalisasi Sikap terhadap tradisi Menerima tradisi lokal Meninjau tradisi secara kritis Fokus Integrasi Islam & budaya Nusantara Pencerahan dan kemajuan peradaban Simbolisasi tahlilan, maulid, ziarah pendidikan modern, amal usaha Dari tabel tersebut, terlihat bahwa NU menitikberatkan aspek historis-kultural, sedangkan Muhammadiyah fokus pada rasionalitas dan modernitas. Perbedaan ini lebih bersifat metodologis daripada teologis. 4. Relevansi Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan dalam Konteks Keindonesiaaan Indonesia merupakan bangsa multikultural yang membutuhkan model keagamaan moderat dan toleran. Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan memberikan fondasi penting bagi terwujudnya harmoni sosial serta mampu berkompetisi dalam dunia global 15 . Relevansi keduanya mencakup 16 : 1. Memperkuat Moderasi Beragama (Wasathiyah), keduanya menolak ekstremisme dan mengajak umat menjaga keseimbangan antara teks dan konteks (QS. Al-Baqarah: 143). 2. Menjaga Keutuhan NKRI, keduanya menolak agama sebagai simbol politik identitas dan mendorong Islam yang menciptakan kedamaian. 3. Meningkatkan Peran Islam dalam Peradaban Global, Islam Nusantara memberi teladan harmoni budaya, sementara Islam Berkemajuan memberi kontribusi dalam bidang ilmu, pendidikan, dan kesehatan. 4. Mewujudkan Islam yang Inklusif dan Berkeadaban, dengan menggabungkan kearifan lokal dan rasionalitas modern, Islam Indonesia tampil sebagai model alternatif Islam dunia yang moderat, humanis, dan solutif. Indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari beragam suku, budaya, dan agama. Dalam konteks ini, konsep Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan memiliki relevansi yang sangat penting. Baik Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama (NU) menekankan bahwa umat Islam tidak boleh terjebak dalam simbol atau formalitas belaka tanpa memahami substansi ajaran agama 17 . Memahami dan mengaktualisasikan spirit-spirit Islam Nusantara dan juga Islam Berkemajuan yang sangat menekankan aspek-aspek nasionalisme dan juga kontekstualisme dalam beragama dan berbangsa, agar terbentuk komunitas muslim yang sadar akan toleransi, moderasi, dan pluralisasi, dalam merawat kerukunan umat multikultural Nusantara 18 . CONCLUSION 14 Nasikhin dkk., “Moderasi Beragama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam Konsep Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan,” Islamic Review Jurnal Riset dan Kajian Keislaman 11, no. 1 (2022): 19–34. 15 Tegug Luhuringbudi dkk., “Islam Berkemadjoen Perspektif Globalisasi: Kontribusi Islam Indonesia pada Peradaban Global,” Mawa’izh Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan 11, no. 1 (2022): 74–96. 16 Nurjannah dan Andi Aderus, “Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan,” Jurnal Smartsociety Adpertisi (JSSA) 4, no. 1 (2025): 1–10. 17 M. Imdadun Rahmat, Islam Pribumi Islam Indonesia (Erlangga, 2017). 18 Ahmad Fahrur Rozi, “Aktualisasi Spirit Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan, Dua Instrumen Penangkal Arus Radikalisasi Penegak Negara Demokrasi,” Muẚṣarah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer 2, no. 2 (2020): 58, https://doi.org/10.18592/msr.v2i2.4313.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Islam Nusantara dan Islam (Hartinawanti, at.,al) | 552-557 Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan merepresentasikan dua pendekatan utama dalam membentuk Islam moderat di Indonesia melalui peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Islam Nusantara menegaskan pentingnya integrasi ajaran Islam dengan tradisi dan budaya lokal sebagai basis pembentukan keberagamaan yang inklusif dan toleran, sementara Islam Berkemajuan menekankan pembaruan pemikiran, rasionalitas, serta kemajuan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pencerahan umat. Meskipun berbeda dalam pendekatan metodologis, kedua konsep tersebut memiliki kesamaan visi dalam menghadirkan Islam yang damai, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial. Indonesia dalam konteks yang plural dan dinamis, sinergi antara Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan menjadi elemen penting dalam memperkuat moderasi beragama serta merespons tantangan global seperti ekstremisme, disrupsi budaya, dan ketimpangan pendidikan. Kolaborasi nilainilai kultural yang diusung Nahdlatul Ulama (NU) dengan modernitas rasional yang dikembangkan Muhammadiyah tidak hanya memperkokoh harmoni sosial dan keutuhan kebangsaan, tetapi juga membuka peluang bagi Islam Indonesia untuk berkontribusi sebagai model moderasi beragama yang relevan dan berdaya saing di tingkat global. REFERENSI Baso, A. (2015). Islam Nusantara: Ijtihad jenius dan ijma’ ulama Indonesia (Jilid I, Cet. I). Pustaka Afid. Darojat, Z., & Chair, A. (2019). Islam berkemajuan and Islam Nusantara: The face of moderate Islam in Indonesia. Advances in Social Science, Education and Humanities Research, 302, 60–63. Luhuringbudi, T., Liza, F., & Akbar, N. (2022). Islam berkemadjoen perspektif globalisasi: Kontribusi Islam Indonesia pada peradaban global. Mawa’izh: Jurnal Dakwah dan Pengembangan Sosial Kemanusiaan, 11(1), 74–96. Luthfi, K. M. (2016). Islami Nusantara: Relasi Islami dan budaya lokal. Shahih: Journal of Islamicate Multidisciplinary, 1(1), 1–16. Nashir, H. (2016). Islam berkemajuan untuk peradaban dunia. Suara Muhammadiyah. Nasikhin, R., & Nasikhin. (2022). Moderasi beragama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam konsep Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan. Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman, 11(1), 19–34. Niam, Z. W. (2019). Konsep Islam wasathiyah sebagai wujud Islam rahmatan lil ‘alamin: Peran NU dan Muhammadiyah dalam mewujudkan Islam damai di Indonesia. Palita: Journal of Social Religion Research, 4(2), 91–106. https://doi.org/10.24256/pal.v4i2.764 Nurjannah, & Aderus, A. (2025). Islam Nusantara dan Islam berkemajuan. Jurnal Smartsociety Adpertisi (JSSA), 4(1), 1–10. Putriany, A., Aderus, A., & Syamsuddin, D. (2025). Menghubungkan dua tradisi: Model dakwah Islam Nusantara dan Islam kemajuan. Nusantara: Journal for Southeast Asian Islamic Studies, 21(1), 102–113. Rahmat, M. I. (2017). Islam pribumi Islam Indonesia. Erlangga. Rozi, A. F. (2020). Aktualisasi spirit Islam Nusantara dan Islam berkemajuan, dua instrumen penangkal arus radikalisasi penegak negara demokrasi. Mu’asharah: Jurnal Kajian Islam Kontemporer, 2(2), 58. https://doi.org/10.18592/msr.v2i2.4313 Siradj, S. A. (2014). Islam sumber inspirasi budaya Nusantara. LTN NU. Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Syam, N., & Nawawi. (2019). Islam Nusantara berkemajuan sebagai basis moderasi Islam di Indonesia. Islamica: Jurnal Studi Keislaman, 13(2), 236–255. Tim PBNU. (2015). Dokumen Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama: Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia. PBNU.
2025 Madani : Jurnal Ilmiah Multidisipline Vol. 3 No. 11 Islam Nusantara dan Islam (Hartinawanti, at.,al) | 552-557 Tim PP Muhammadiyah. (2015). Pernyataan pikiran Muhammadiyah abad kedua. Percetakan Muhammadiyah Gramasurya. Wasim, A. A. (2020). Titik temu Islam Nusantara berkemajuan dalam perspektif fenomenologi Edmund Husserl (1859–1938). An-Nur: Jurnal Studi Islam, 12(1), 47–72. https://doi.org/10.37252/annur.v12i1.80