scieee AI-readable full text Open interactive document viewer

Systematic Literature Review: Role of Reinforcement In Intrinsic and Extrinsic Motivation

Fakhriatul Ulfa Miladiah, Rahma Fithri, Yuliana Intan Lestari

Full text

Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3, Issue 6, January 2026, P. 1-12 E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.18058630 *Corresponding Author Email: [email protected] Systematic Literature Review: Role of Reinforcement In Intrinsic and Extrinsic Motivation *Fakhriatul Ulfa Miladiah1, Rahma Fithri2, Yuliana Intan Lestari3 123Magister Psikologi, Fakultas Psikologi, UIN Sultan Syarif Kasim Riau A B S T R A C T Learning motivation is a crucial foundation for the academic success of elementary school students, yet low motivation remains a primary challenge in educational practice. Although the behavioristic approach through reinforcement offers a practical solution, empirical findings on its effectiveness show inconsistencies, particularly in differentiating its influence on intrinsic and extrinsic motivation. This study aims to synthesize empirical findings on the influence of reinforcement on the learning motivation of elementary school students. The method used is a systematic literature review of seven articles from the Google Scholar and Sage Publications databases that met the inclusion criteria. The synthesis results indicate that reinforcement is a fundamental factor that significantly shapes behavior and enhances motivation. Positive reinforcement, such as praise, is proven effective in strengthening perceived competence, whereas criticism has the potential to damage learning interest. Its effectiveness is highly dependent on crucial factors such as timing, consistency, and appropriateness to student characteristics. This study confirms that reinforcement, when applied strategically and wisely, is an applicable and relevant tool for teachers to create a supportive learning environment that fosters the development of student motivation. A B S T R A K Motivasi belajar merupakan fondasi krusial bagi keberhasilan akademis siswa Sekolah Dasar, namun rendahnya motivasi masih menjadi tantangan utama dalam praktik pendidikan. Meskipun pendekatan behavioristik melalui reinforcement menawarkan solusi praktis, temuan empiris mengenai efektivitasnya menunjukkan ketidakkonsistenan, terutama dalam membedakan pengaruhnya terhadap motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis temuan empiris mengenai pengaruh reinforcement terhadap motivasi belajar siswa SD. Metode yang digunakan adalah systematic literature review pada tujuh artikel dari database Google Scholar dan Sage Publikasi yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil sintesis menunjukkan bahwa reinforcement merupakan faktor fundamental yang secara signifikan membentuk perilaku dan meningkatkan motivasi. Reinforcement positif, seperti pujian, terbukti efektif memperkuat persepsi kompetensi, sementara kritik justru berpotensi merusak minat belajar. Efektivitasnya sangat bergantung pada faktor krusial seperti ketepatan waktu, konsistensi, dan kesesuaian dengan karakteristik siswa. Penelitian ini mengonfirmasi bahwa reinforcement, ketika diterapkan secara strategis dan bijaksana, merupakan alat yang aplikatif dan relevan bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan motivasi siswa. INTRODUCTION Motivasi belajar merupakan salah satu determinan psikologis paling fundamental dalam keberhasilan akademik siswa karena berfungsi mengarahkan, mempertahankan, dan meningkatkan perilaku belajar menuju pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan (Schunk, 2020). Motivasi tidak hanya memengaruhi seberapa besar usaha yang dikeluarkan siswa dalam belajar, tetapi juga menentukan ketekunan, ketahanan menghadapi kesulitan, serta kualitas keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi cenderung menunjukkan partisipasi aktif, fokus perhatian yang lebih baik, serta capaian akademik yang lebih optimal dibandingkan siswa dengan motivasi rendah (Ryan & Deci, 2020). Sebaliknya, rendahnya motivasi belajar sering kali berimplikasi pada perilaku pasif, keengganan mengikuti aktivitas pembelajaran, serta rendahnya pencapaian akademik. Dalam praktik pendidikan formal, khususnya pada jenjang sekolah dasar, permasalahan motivasi belajar masih menjadi isu yang banyak ditemukan. Guru kerap menghadapi siswa yang A R T I C L E I N F O Article history: Received 18 December , 2025 Revised 19 December 2025 Accepted 25 December 2025 Available online 29 December 2025 Keywords reinforcement, learning motivation, elementary school students, systematic literature review, behavioristic theory. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright © 2025 by Author. Published by Yayasan Daarul Huda Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6 Tahun 2026, P. 1-12 Socius E-ISSN: 3025-6704 kurang menunjukkan minat belajar, rendahnya partisipasi dalam diskusi kelas, serta minimnya ketekunan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik (Sardiman, 2018). Kondisi ini tidak hanya berdampak pada hasil belajar jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi sikap siswa terhadap pembelajaran dalam jangka panjang. Oleh karena itu, rendahnya motivasi belajar siswa menjadi tantangan serius bagi pendidik dalam merancang pembelajaran yang mampu membangkitkan, memelihara, dan mengembangkan motivasi belajar secara berkelanjutan (Uno, 2019). Sementara itu, pendidikan dasar merupakan fase krusial dalam pembentukan fondasi motivasi belajar. Hal tersebut dikarenakan pada tahap ini orientasi belajar, minat akademik, serta persepsi diri siswa mulai berkembang secara sistematis. Pengalaman belajar yang dialami siswa pada masa kanak-kanak tidak hanya membentuk kebiasaan belajar, tetapi juga memengaruhi perkembangan aspek psikologis seperti rasa percaya diri, persepsi kompetensi, dan sikap terhadap tantangan akademik. Dalam konteks ini, interaksi pedagogis antara guru dan siswa memegang peran strategis. Sejalan dengan Laranjeira & Teixeira (2024) yang menekankan bahwa kualitas pengalaman belajar di sekolah dasar memiliki implikasi jangka panjang terhadap motivasi dan perkembangan diri siswa. Upaya meningkatkan motivasi belajar siswa telah lama menjadi fokus dalam berbagai teori belajar. Pendekatan kognitif menekankan peran proses mental internal dan strategi berpikir, sedangkan pendekatan konstruktivistik menyoroti pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan. Di sisi lain, pendekatan behavioristik menekankan perubahan perilaku sebagai indikator utama terjadinya proses dan hasil belajar (Slavin, 2018). Meskipun berbagai pendekatan tersebut memiliki kontribusi teoretis yang signifikan, pendekatan behavioristik masih memiliki relevansi tinggi dalam konteks pendidikan dasar karena menawarkan strategi yang praktis, terstruktur, dan mudah diterapkan dalam pengelolaan kelas sehari-hari (Ormrod, Anderman, & Anderman, 2020). Teori behavioristik memandang belajar sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati dan diukur secara objektif melalui hubungan antara stimulus dan respons (Santrock, 2017). Dalam kerangka ini, lingkungan belajar menjadi faktor penting yang dapat direkayasa untuk memunculkan perilaku belajar yang diinginkan. Guru berperan sebagai pengatur stimulus yang dapat memengaruhi respons siswa melalui pemberian konsekuensi tertentu. Seiring dengan Woolfolk (2020) yang menegaskan bahwa pendekatan behavioristik memungkinkan guru untuk secara sistematis mengamati, mengendalikan, dan memodifikasi perilaku belajar siswa melalui pengelolaan lingkungan belajar yang terencana. Salah satu konsep utama dalam pendekatan behavioristik adalah reinforcement (penguatan), yang didefinisikan sebagai stimulus atau konsekuensi yang diberikan setelah munculnya suatu perilaku dengan tujuan memperkuat kemungkinan perilaku tersebut terulang kembali (Schunk, 2020). Reinforcement dapat berupa reinforcement positif maupun reinforcement negatif yang keduanya berfungsi memperkuat perilaku belajar, meskipun melalui mekanisme yang berbeda (Slavin, 2018). Dalam konteks pembelajaran sekolah dasar, reinforcement sering diwujudkan dalam bentuk pujian, umpan balik verbal, penghargaan simbolik, maupun penguatan non-materi lainnya yang relevan dengan karakteristik perkembangan siswa (Putri & Hasanah, 2021). Sebagai strategi pembelajaran, reinforcement memiliki peran penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa karena memberikan konsekuensi yang bermakna atas usaha dan perilaku belajar yang ditampilkan. Penerapan reinforcement yang tepat terbukti mampu meningkatkan partisipasi, keterlibatan aktif, serta konsistensi perilaku belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung (Woolfolk, 2020). Ryan & Deci (2020) juga menekankan bahwa reinforcement tidak hanya berkontribusi pada motivasi ekstrinsik, tetapi berpotensi mendukung motivasi intrinsik apabila diberikan secara informatif, mendukung otonomi, dan tidak bersifat mengontrol. Dalam perspektif teori motivasi modern, motivasi belajar dibedakan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik mendorong siswa untuk belajar karena adanya ketertarikan, rasa ingin tahu, dan kepuasan internal terhadap aktivitas belajar, sedangkan motivasi ekstrinsik berkaitan dengan dorongan akibat adanya konsekuensi eksternal seperti Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6, Tahun 2026, P. 1-12 Fakhriatul Ulfa Miladiah., et., al/ Systematic Literature Review penghargaan, nilai, atau pengakuan sosial (Ryan & Deci, 2020). Reinforcement dalam praktik pembelajaran sering kali menjadi penghubung antara usaha belajar siswa dan hasil yang mereka rasakan, sehingga berperan dalam membentuk kedua jenis motivasi tersebut. Penelitian empiris menunjukkan bahwa reinforcement sosial, khususnya umpan balik guru, memiliki peran penting dalam membentuk persepsi kompetensi dan minat belajar siswa. Laranjeira & Teixeira (2024) menemukan bahwa reinforcement tidak semata-mata berfungsi sebagai alat kontrol perilaku, melainkan sebagai stimulus psikologis yang membentuk pengalaman belajar yang bermakna. Sementara Liu dkk. (2025) mengindikasikan bahwa reinforcement digital efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa sekolah dasar, terutama melalui mekanisme motivasi ekstrinsik dan engagement jangka pendek. Sehingga hal tersebut juga menunjukkan bahwa selain reinforcement sosial, perkembangan teknologi pendidikan menghadirkan bentuk reinforcement baru melalui media pembelajaran digital. Fenomena tersebut tampak pada pembelajaran berbasis game dan kuis interaktif yang menyediakan penguatan instan berupa skor, visualisasi capaian, dan umpan balik secara langsung. Meskipun demikian, literatur menunjukkan bahwa dampak reinforcement terhadap motivasi belajar tidak bersifat seragam. Reinforcement sosial cenderung berkontribusi pada pengembangan motivasi intrinsik melalui peningkatan persepsi kompetensi dan minat belajar, sementara reinforcement berbasis digital lebih dominan memengaruhi motivasi ekstrinsik. Di sisi lain, reinforcement yang tidak tepat, seperti umpan balik negatif, dapat berdampak merugikan terhadap persepsi diri dan minat belajar siswa (Laranjeira & Teixeira, 2024). Sehingga variasi jenis reinforcement, sumber penguatan, konteks pembelajaran, serta latar budaya menyebabkan hasil penelitian terkait reinforcement dan motivasi belajar kerap menunjukkan ketidakkonsistenan. Selain itu, sebagian besar penelitian masih mengkaji motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik secara terpisah tanpa pendekatan integratif. Banyak studi juga berfokus pada konteks pembelajaran tertentu atau intervensi jangka pendek, sehingga belum memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana reinforcement bekerja secara berkelanjutan dalam membentuk motivasi belajar siswa sekolah dasar (Widodo & Fauzi, 2022). Padahal, pada praktiknya, kedua jenis motivasi tersebut sering kali berkembang secara simultan dan saling memengaruhi. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan sebuah kajian literatur yang sistematis untuk mensintesis temuan-temuan empiris mengenai peran reinforcement terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar. Systematic literature review menjadi pendekatan yang tepat untuk mengintegrasikan hasil penelitian yang tersebar, mengidentifikasi pola pengaruh reinforcement, serta menjelaskan mekanisme psikologis yang mendasarinya. Dengan demikian, kajian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana reinforcement dapat dimanfaatkan secara efektif dalam konteks pembelajaran pendidikan dasar dalam memengaruhi motivasi belajar intrinsik dan ekstrinsik siswa sekolah dasar. RESEARCH METHOD Penelitian ini berjenis studi kualitatif dengan metode systematic literature review. Penelitian ini mengkaji pengaruh reinforcement terhadap motivasi belajar siswa sekolah dasar. Kajian ini menggunakan kerangka Population–Exposure–Outcome (PEO), dengan siswa sekolah dasar sebagai populasi, reinforcement dalam konteks pembelajaran formal sebagai variabel paparan, serta motivasi belajar intrinsik dan ekstrinsik sebagai outcome utama. Sehingga dirumuskan pertanyaan penelitian utama, yaitu “Bagaimana reinforcement dalam konteks pendidikan memengaruhi motivasi belajar intrinsik dan ekstrinsik siswa SD?” Selanjutnya, pangkalan data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber pada Google Scholar melalui https://scholar.google.com/, Sage Publications melalui https://journals.sagepub.com/, dan PubMed melalui https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/ dengan tipe akses terbuka. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian data berupa bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, yakni ("reinforcement" OR "positive reinforcement" OR "teacher reinforcement" OR reward OR praise OR feedback OR "penguatan" OR "penguatan positif") AND Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6 Tahun 2026, P. 1-12 Socius E-ISSN: 3025-6704 ("learning motivation" OR "academic motivation" OR "intrinsic motivation" OR "extrinsic motivation" OR "motivasi belajar" OR "motivasi intrinsik" OR "motivasi ekstrinsik") AND ("elementary school students" OR "primary school students" OR "siswa sekolah dasar" OR "siswa SD"). Yang mana seluruh artikel yang diperoleh akan diseleksi guna memperoleh jurnal dan artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi, yaitu (1) merupakan artikel jurnal hasil penelitian empiris atau review/meta-analysis; (2) meneliti reinforcement sebagai paparan utama dan outcome motivasi intrinsik/ekstrinsik dalam konteks sekolah formal; (3) melibatkan subjek siswa sekolah dasar; (4) dipublikasikan dalam rentang tahun 2021–2025; dan (5) tersedia dalam teks lengkap (full-text). Sementara kriteria eksklusinya, yaitu (1) bukan artikel jurnal hasil penelitian empiris atau review/meta-analysis; (2) tidak meneliti reinforcement sebagai paparan utama dan outcome motivasi intrinsik/ekstrinsik dalam konteks sekolah formal; (3) melibatkan subjek selain siswa sekolah dasar; (4) dipublikasikan diluar rentang tahun 2021–2025; dan (5) tidak tersedia dalam teks lengkap (full-text). RESULT Berdasarkan hasil penelusuran data, secara keseluruhan diperoleh 18.053 sumber pada Google Scholar (n=17.600), 450 Sage Publication (n=450), dan PubMed (n=3) yang sesuai dengan kata kunci. Selanjutnya peneliti melakukan penyaringan melalui fitur tahun publikasi, tersedia dalam teks lengkap, dan dokumen artikel ilmiah, diperoleh 81 sumber secara keseluruhan. Kemudian peneliti melakukan penyaringan dan penyeleksian kesesuaian judul, diperoleh 10 artikel Sage Publication pada dan 8 artikel pada Google Scholar. Selanjutnya peneliti melakukan seleksi abstrak sesuai kirteria pada 18 artikel tersebut dan diperoleh 7 artikel yang dapat diseleksi lebih lanjut. Pengguguran 11 artikel disebabkan reinforcement implisit/tidak terukur, fokus subjek selain SD, dan fokus pedagogi non-behavioristik. Pada proses seleksi tahap akhir pada isi dan kelengkapan artikel, peneliti menemukan 7 artikel yang layak dianalisis lebih lanjut. Berikut bagan prosedur dan hasil studi pustaka yang dilakukan. Gambar 1. Bagan Prosedur dan Hasil Studi Pustaka Sistematis Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6, Tahun 2026, P. 1-12 Fakhriatul Ulfa Miladiah., et., al/ Systematic Literature Review Tabel 1. Deskripsi Data Penelitian Reinforcement terhadap Motivasi Siswa SD No. Penulis (Tahun) Judul Desain dan Metode Lokasi dan Sumber Data Sumber dan Jenis Reinforcement Temuan Utama 1. Liu dkk. (2025) Evaluating the Effectiveness of Quizizz for Enhancing English Vocabulary Acquisition and Engagement Among Rural Elementary Students − Quasiexperiment − Pre/Post Test & Survey − Taiwan (Pedalaman) − 72 Siswa Kelas IV (9-10 thn) − Platform Quizizz − Positif (Poin/Leaderboard) Skor naik 30,5%; sangat efektif untuk pengenalan gambar, lemah pada konteks kalimat. 2. Laranjeira & Teixeira (2024) Examining Teacher Feedback, Perceived Competencies, Interests, and Achievement in Fourth-Grade Students in Portugal − Cross-sectional − Survey − Portugal (Lisbon) − 409 Siswa Kelas IV (9-13 thn) − Guru − Positif (Attributional) & Negatif (Kritik) Umpan balik positif perkuat persepsi kompetensi; kritik merusak minat & nilai. 3. Nurman & Pagarra (2023) Hubungan Pemberian Reinforcement Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas Tinggi di UPT SPF SD Inpres Lanraki 2 Kota Makassar − CausalComparative − Survey − Indonesia (Makassar) − 101 Siswa Kelas Tinggi (IV-VI) − Guru − Positif & Negatif (Verbal/Non-verbal) Hubungan positif & signifikan; semakin tinggi penguatan, semakin tinggi motivasi. 4. Suoth dkk. (2022) Dampak Pemberian Reward dan Reinforcement Negatif Terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas V Sekolah Dasar − Eksploratif (ex post facto) − Mixed (Observasi & Angket) − Indonesia (Halmahera) − 15 Siswa Kelas V SD (10-11 thn) − Guru − Positif (reward) & Negatif Pemberian reward & reinforcement negatif bersama-sama pengaruhi 22,9% motivasi. 5. Sanawiah dkk. (2021) Hubungan Pemberian Penguatan (Reinforcement) terhadap Motivasi Belajar Siswa Kelas Tinggi di UPT SD Negeri 79 Ujung Tanah − Korelasional − Survey − Indonesia (Bone) − 55 Siswa Kelas Tinggi (IV-VI) − Guru − Positif & Negatif (Verbal/Non-verbal) Hubungan sangat kuat dan penguatan berkontribusi 73,96% ke motivasi. 6. Souwakil dkk. (2025) Literature Review: Pengaruh Penguatan Verbal dan Non-verbal terhadap Motivasi Belajar Peserta Didik Literature Review − Indonesia − 6 Artikel Utama tingkat SD & MTs/SMP − Guru − Verbal & Non-verbal Penguatan verbal berkontribusi 53% sampai 59,7% terhadap motivasi belajar. 7. Fernando dkk. (2025) Theoretical Review of Behavioristic Approaches in Education: The Role of Reward and Punishment in Increasing Learning Motivation Literature Review − Indonesia (Bandung) − 20 Sumber Ilmiah Tingkat PAUD-SD − Guru − Positif (Reward) & Negatif (Punishment) Reward tingkatkan motivasi eksternal; sistem token efektif tingkatkan disiplin. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6 Tahun 2026, P. 1-12 Socius E-ISSN: 3025-6704 DISCUSSION Konsep Reinforcement dalam Perspektif Teori Behavioristik Prinsip reinforcement yang menjadi inti dari teori belajar behavioristik B. F. Skinner, menemukan relevansinya yang paling nyata dalam konteks pembelajaran siswa Sekolah Dasar. Pada usia ini, siswa sedang dalam tahap awal membentuk pemahaman tentang aturan dan perilaku yang diharapkan di lingkungan sekolah. Perilaku mereka, seperti mengangkat tangan sebelum berbicara atau mengerjakan tugas, sangat responsif terhadap konsekuensi langsung yang diterima. Schunk (2020) mendefinisikan inti dari teori ini sebagai sebuah pandangan di mana perilaku dipahami sebagai hasil dari konsekuensi yang mengikutinya. Bagi guru SD, ini berarti bahwa setiap interaksi, baik berupa pujian maupun abaian, secara aktif membentuk kebiasaan belajar siswa di masa depan. Dalam pandangan behavioristik, belajar tidak dipandang sebagai proses mental internal yang kompleks, melainkan sebagai perubahan perilaku yang dapat diamati secara langsung oleh guru (Ormrod et al., 2020). Pendekatan ini sangat berguna bagi guru di tingkat dasar karena fokus pada hal-hal yang nyata dan terukur. Sebagai contoh, keberhasilan pembelajaran tidak diukur dari "apa yang dipikirkan siswa", tetapi dari "apa yang dilakukan siswa", seperti kemampuan mereka mengerjakan soal matematika dengan benar atau menulis kalimat yang tepat. Pendekatan dengan fokus pada perilaku yang teramati ini membantu guru dalam mengevaluasi efektivitas strategi pengajaran mereka secara objektif. Teori behavioristik menjelaskan bahwa pembelajaran siswa terjadi melalui hubungan stimulus dan respon yang jelas (Slavin, 2018). Di kelas SD, stimulus bisa berupa perintah guru ("Silakan ambil bukumu"), pertanyaan ("Siapa yang tahu ibu kota Indonesia?"), atau kehadiran teman sebaya. Stimulus ini diharapkan dapat memunculkan respon tertentu dari siswa, seperti mengambil buku atau mengangkat tangan. Respon yang muncul kemudian tidak dibiarkan begitu saja, melainkan akan ditentukan nasibnya oleh konsekuensi yang mengikutinya. Konsep konsekuensi juga memegang peran yang paling menentukan dalam siklus pembelajaran siswa, karena ia yang menjawab apakah suatu perilaku akan diulang atau dihentikan guna membantu siswa membangun kebiasaan belajar yang adaptif dan produktif (Santrock, 2017). Tanpa adanya konsekuensi yang jelas, siswa akan kesulitan membedakan perilaku yang baik dan buruk. Sejalan dengan Woolfolk (2020) yang juga menyoroti bahwa perilaku atau stimulus tersebut akan diperkuat (diulang) atau dilemahkan (dihentikan) tergantung pada respon konsekuensi yang diterima setelah perilaku muncul. Konsekuensi yang bersifat memperkuat, seperti senyuman atau pujian dari guru, akan secara signifikan meningkatkan kemungkinan perilaku positif tersebut muncul kembali, membantu siswa SD membangun seperangkat perilaku belajar yang adaptif. Konsekuensi tersebut akan meningkatkan kemungkinan konsistensi munculnya perilaku belajar yang sama dan positif di masa mendatang sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan (Ormrod et al., 2020; Schunk, 2020; Woolfolk, 2020). Sementara itu, konsekuensi dalam konteks pendidikan formal juga dapat berfungsi sebagai alat untuk membentuk perilaku belajar yang diinginkan, seperti keaktifan, perhatian, dan ketekunan siswa (Slavin, 2018). Jenis-Jenis Reinforcement dalam Konteks Pembelajaran Dalam mengelola kelas di tingkat Sekolah Dasar, guru memanfaatkan dua jenis utama reinforcement, yaitu positif dan negatif, untuk membentuk perilaku siswa. Kedua jenis ini bertujuan sama, yaitu meningkatkan kemungkinan munculnya kembali perilaku belajar yang diinginkan (Schunk, 2020). Pemahaman terhadap perbedaan keduanya menjadi kunci bagi guru untuk menerapkan strategi yang tepat dan efektif dalam menciptakan lingkungan belajar yang positif dan teratur. Reinforcement positif adalah strategi yang paling umum dan intuitif digunakan di kelaskelas SD. Strategi ini bekerja dengan cara menambahkan stimulus yang menyenangkan atau diinginkan siswa setelah mereka menunjukkan perilaku tertentu. Contohnya sangat beragam, mulai dari pujian verbal ("Hebat, jawabanmu benar!"), pemberian bintang atau stiker di buku tugas, hingga penghargaan simbolis seperti menjadi "pemimpin barisan" untuk sehari. Slavin (2018) menjelaskan bahwa reinforcement positif diberikan dengan cara menambahkan stimulus Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6, Tahun 2026, P. 1-12 Fakhriatul Ulfa Miladiah., et., al/ Systematic Literature Review yang menyenangkan setelah perilaku belajar muncul, seperti pujian, hadiah, nilai tambahan, atau penghargaan simbolik. Sehingga bentuk penguatan ini sangat efektif karena memberikan umpan balik langsung yang membuat siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk mengulangi perilaku tersebut (Woolfolk, 2020). Pujian verbal dan penghargaan non-materi seringkali menjadi pilihan utama para guru karena kemudahan penerapannya dan dampak psikologis yang positif pada siswa. Sebuah ucapan "Bagus sekali sudah mau membantu temanmu" yang disampaikan dengan tulus dapat lebih berarti daripada hadiah fisik. Santrock (2017) membahas bahwa pujian verbal dan penghargaan non-materi merupakan bentuk reinforcement positif yang paling sering digunakan dalam pembelajaran karena mudah diterapkan dan tidak memerlukan biaya besar. Penting bagi guru untuk memberikan pujian yang spesifik sehingga siswa tahu persis perilaku mana yang sedang dihargai, yang pada akhirnya membantu mereka menginternalisasi nilai-nilai positif tersebut (Hidi & Renninger, 2019). Di sisi lain, reinforcement negatif juga dapat digunakan, meskipun perlu penerapan yang lebih hati-hati agar tidak disalahartikan sebagai hukuman. Reinforcement negatif bekerja dengan cara menghilangkan atau menghindarkan siswa dari stimulus yang tidak menyenangkan setelah mereka menunjukkan perilaku yang diharapkan (Slavin, 2018). Contohnya, seorang guru mungkin mengatakan, "Karena kalian sudah bekerja dengan tenang, kita tidak perlu mengerjakan soal tambahan hari ini". (Schunk, 2020) menjelaskan bahwa reinforcement negatif juga digunakan dalam pembelajaran dengan cara menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan setelah perilaku yang diharapkan muncul. Strategi ini memperkuat perilaku (bekerja tenang) dengan menghilangkan sesuatu yang tidak diinginkan (soal tambahan). Banyak orang, termasuk para pendidik, masih sering keliru mengartikan reinforcement negatif sebagai hukuman (Woolfolk, 2020). Padahal, dalam teori behavioristik, keduanya memiliki fungsi yang sangat berbeda. Reinforcement negatif bertujuan memperkuat perilaku dengan menghilangkan rangsangan aversif, sedangkan hukuman bertujuan mengurangi perilaku dengan menambahkan rangsangan yang tidak menyenangkan (misalnya, teguran) atau mengambil sesuatu yang diinginkan (misalnya, waktu bermain) (Ormrod et al., 2020). Pemahaman yang jelas mengenai perbedaan ini sangat penting agar guru dapat menerapkan strategi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sementara itu, temuan penelitian juga menunjukkan bahwa reinforcement positif umumnya dinilai lebih efektif dibandingkan reinforcement negatif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa karena memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan (Ryan & Deci, 2020). Di mana reinforcement positif lebih berpotensi mendukung perkembangan motivasi intrinsik apabila diterapkan secara tepat dan proporsional (Hidi & Renninger, 2019). Yang meskipun demikian, efektivitas reinforcement sangat dipengaruhi oleh konteks pembelajaran, karakteristik siswa, serta cara guru menerapkannya dalam proses belajar mengajar (Santrock, 2017). Pengaruh Reinforcement terhadap Motivasi Belajar Siswa Reinforcement memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap motivasi belajar siswa SD, terutama pada tahap awal pembentukan disiplin dan kebiasaan akademis. Pada usia ini, dorongan untuk belajar sering kali masih bersifat eksternal, dan reinforcement berfungsi sebagai penggerak utama. Konsekuensi positif yang diterima siswa setelah menunjukkan perilaku belajar, seperti pujian atau hadiah kecil, secara langsung memperkuat keinginan mereka untuk terus berpartisipasi (Slavin, 2018). Schunk (2020) menjelaskan bahwa reinforcement memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi belajar siswa karena konsekuensi positif yang diberikan setelah perilaku belajar muncul dapat memperkuat dorongan siswa untuk terus belajar. Tanpa reinforcement awal ini, banyak siswa mungkin akan kesulitan menemukan alasan untuk terlibat aktif dalam tugas-tugas sekolah. Penerapan reinforcement secara konsisten terbukti berdampak langsung pada peningkatan motivasi ekstrinsik siswa (Ryan & Deci, 2020). Ketika seorang siswa secara rutin menerima stiker setiap kali menyelesaikan tugas membacanya atau mendapat pujian di depan kelas saat menjawab pertanyaan, ia akan termotivasi untuk mengulangi perilaku tersebut demi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6 Tahun 2026, P. 1-12 Socius E-ISSN: 3025-6704 mendapatkan penghargaan yang sama. Motivasi ekstrinsik ini sangat berguna, terutama untuk mendorong siswa yang mungkin awalnya kurang berminat atau ragu untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran (Woolfolk, 2020). Meskipun berfokus pada motivasi ekstrinsik, reinforcement yang diterapkan dengan bijak juga dapat menjadi batu loncatan untuk mengembangkan motivasi intrinsik siswa. Kunci terletak pada cara reinforcement tersebut diberikan. Pujian yang bersifat informatif dan berfokus pada usaha ("Saya lihat kamu berusaha sangat keras dalam mengerjakan soal ini") lebih efektif dalam menumbuhkan rasa kompeten dibandingkan pujian yang bersifat menghakimi ("Kamu pintar"). Hidi & Renninger (2019) menemukan bahwa reinforcement juga dapat mendukung perkembangan motivasi intrinsik apabila diterapkan secara proporsional dan tidak berlebihan. Dengan merasa kompeten, siswa secara perlahan akan mulai menikmati proses belajar itu sendiri, bukan hanya hadiahnya (Schunk, 2020). Pengaruh reinforcement juga terlihat sangat jelas pada peningkatan partisipasi aktif siswa di dalam kelas (Slavin, 2018). Siswa yang merasa bahwa kontribusi mereka dihargai—misalnya, dengan mendapat anggukan atau pujian singkat dari guru setelah mengangkat tangan—akan lebih berani untuk bertanya, menjawab, atau terlibat dalam diskusi (Woolfolk, 2020). Lingkungan kelas yang responsif seperti ini menciptakan siklus positif di mana partisipasi menghasilkan reinforcement, yang kemudian reinforcement mendorong lebih banyak partisipasi, hingga pada akhirnya meningkatkan keterlibatan belajar secara keseluruhan (Ormrod et al., 2020). Berbagai temuan empiris menunjukkan bahwa penerapan reinforcement secara sistematis dapat meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan di berbagai jenjang pendidikan (Ryan & Deci, 2020). Yang mana studi-studi tersebut menegaskan bahwa reinforcement merupakan strategi efektif untuk mengatasi masalah rendahnya motivasi belajar di lingkungan pendidikan formal (Gumay, 2024; Hidi & Renninger, 2019). Lain dari itu, efektivitas reinforcement sangat bergantung pada ketepatan mengintegrasikannya agar tidak hanya meningkatkan motivasi sesaat, tetapi juga mendukung keberlanjutan motivasi belajar sesuai tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa (Santrock, 2017; Schunk, 2020). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Efektivitas Reinforcement Efektivitas reinforcement dalam membentuk perilaku siswa SD tidak bersifat mutlak, melainkan sangat bergantung pada bagaimana strategi tersebut diterapkan. Salah satu faktor penentu utama adalah ketepatan waktu pemberian. Siswa SD memiliki rentang perhatian yang relatif singkat, sehingga hubungan antara perilaku dan konsekuensinya harus sejelas mungkin. Reinforcement yang diberikan segera setelah perilaku muncul terbukti jauh lebih efektif dalam memperkuat respons yang diinginkan (Ormrod et al., 2020). Memberikan pujian kepada siswa tepat saat ia berhasil menyelesaikan soal di papan tulis akan memiliki dampak yang jauh lebih kuat daripada mengingat-ingat untuk memujinya di akhir pelajaran. Selain timing, konsistensi adalah faktor lain yang tidak kalah pentingnya. Siswa perlu memahami pola yang pasti agar dapat memprediksi konsekuensi dari tindakan mereka. Jika suatu perilaku (misalnya, antri dengan tertib) dipuji pada hari Senin tetapi diabaikan pada hari Selasa, siswa akan menjadi bingung dan perilaku positif tersebut tidak akan menguat. Woolfolk (2020) menjelaskan bahwa konsistensi dalam pemberian reinforcement berperan penting dalam membantu siswa memahami pola hubungan antara perilaku dan konsekuensi yang diterimanya. Konsistensi dari guru menciptakan rasa aman dan kepastian, yang menjadi landasan yang kuat bagi pembentukan kebiasaan belajar yang positif dan berkelanjutan. Kejelasan reinforcement juga menentukan keberhasilannya. Siswa SD perlu mengetahui secara eksplisit perilaku apa yang sedang dihargai. Pujian yang umum seperti "Hebat!" mungkin menyenangkan, tetapi tidak seefektif pujian yang spesifik seperti "Hebat, kamu sudah bisa menulis huruf 'g' dengan bentuk yang benar!". Slavin (2018) menegaskan bahwa kejelasan reinforcement juga menentukan keberhasilannya, karena siswa perlu mengetahui secara eksplisit perilaku apa yang dihargai atau diperkuat. Reinforcement yang disertai penjelasan spesifik tidak hanya memperkuat perilaku, tetapi juga memberikan informasi berharga kepada siswa tentang standar yang diharapkan guru (Ormrod et al., 2020). Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. 3, No. 6, Tahun 2026, P. 1-12 Fakhriatul Ulfa Miladiah., et., al/ Systematic Literature Review Terakhir, karakteristik individual siswa merupakan faktor penentu yang tidak dapat diabaikan. Siswa di kelas SD memiliki usia, latar belakang, dan preferensi yang beragam. Seorang siswa kelas satu mungkin sangat termotivasi oleh stiker bergambar kartun, sedangkan siswa kelas lima mungkin menganggapnya terlalu kekanak-kanakan dan lebih menghargai kepercayaan untuk menjadi ketua kelompok. Woolfolk (2020) menambahkan bahwa karakteristik siswa, seperti usia dan jenjang pendidikan, turut memengaruhi efektivitas reinforcement dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru yang efektif adalah mereka yang mampu mengamati dan memahami kebutuhan masing-masing siswa, lalu menyesuaikan jenis dan bentuk reinforcement agar dapat mendorong setiap anak mencapai potensinya secara optimal (Slavin, 2018). Sintesa Temuan Penelitian Reinforcement terhadap Motivasi Siswa SD a. Konsep dan Efektivitas Reinforcement dalam Perspektif Behavioristik Berdasarkan sintesis hasil penelitian yang disajikan, prinsip reinforcement dari teori behavioristik terbukti secara konsisten sebagai faktor fundamental dan signifikan dalam membentuk perilaku serta meningkatkan motivasi belajar siswa di tingkat Sekolah Dasar. Berbagai studi, baik yang bersifat eksperimental maupun korelasional, memberikan bukti kuat yang mengonfirmasi mekanisme stimulus-respons-konsekuensi sebagai landasan efektif untuk modifikasi perilaku di lingkungan sekolah dasar. Secara kuantitatif, kontribusi reinforcement terhadap motivasi belajar siswa sangatlah substansial. Penelitian yang dilakukan oleh Sanawiah dkk. (2021) menunjukkan angka yang sangat tinggi, di mana pemberian penguatan berkontribusi sebesar 73,96% terhadap motivasi belajar siswa kelas tinggi. Temuan ini diperkuat oleh studi literatur dari Souwakil dkk. (2025) yang melaporkan bahwa penguatan verbal secara spesifik memberikan kontribusi sebesar 53% hingga 59,7% terhadap motivasi belajar. Bahkan ketika hanya mempertimbangkan pengaruh gabungan dari reward dan reinforcement negatif, penelitian Suoth dkk. (2022) menemukan dampak yang signifikan sebesar 22,9% terhadap motivasi Siswa Kelas V. Data ini secara kolektif menekankan bahwa reinforcement bukanlah faktor peripheral, melainkan variabel sentral yang secara langsung memengaruhi dorongan belajar siswa. Mekanisme reinforcement ini juga bekerja melalui berbagai bentuk dan terbukti efektif dalam praktik. Studi Liu dkk. (2025) mengilustrasikan bagaimana stimulus berbasis digital seperti platform Quizizz dengan elemen poin dan papan peringkat (leaderboard) berfungsi sebagai reinforcement positif yang efektif, menghasilkan peningkatan skor penguasaan kosakata sebesar 30,5%. Di sisi lain, Fernando dkk. (2025) dalam tinjauan teorinya mengonfirmasi bahwa reward secara umum efektif untuk meningkatkan motivasi ekstrinsik, sementara "sistem token" terbukti sebagai alat yang ampuh untuk meningkatkan disiplin, sebuah perilaku yang sangat relevan untuk siswa SD. Ini menunjukkan bahwa prinsip behavioristik dapat diterjemahkan ke dalam berbagai strategi praktis, dari pujian verbal hingga sistem terstruktur, untuk mencapai tujuan perilaku yang spesifik. Selain itu, penelitian juga menegaskan peran guru sebagai sumber utama reinforcement dan pentingnya jenis penguatan yang diberikan. Laranjeira & Teixeira (2024) menemukan bahwa umpan balik positif dari guru mampu memperkuat persepsi kompetensi siswa, sementara kritik justru merusak minat dan nilai. Ini sejalan dengan temuan Nurman & Pagarra (2023) yang menemukan hubungan positif dan signifikan antara pemberian reinforcement guru dengan motivasi belajar, di mana semakin tinggi frekuensi dan kualitas penguatan, semakin tinggi pula motivasi siswa. Secara keseluruhan, berbagai penelitian ini secara konklusif menunjukkan bahwa penerapan reinforcement, baik dalam bentuk verbal, material, maupun melalui sistem terstruktur, merupakan mekanisme yang efektif dan aplikatif untuk mengarahkan perilaku positif serta membangun fondasi motivasi belajar yang kuat bagi siswa Sekolah Dasar. b. Jenis-Jenis Reinforcement Selanjutnya berbagai jenis reinforcement, baik positif maupun negatif, terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap motivasi dan perilaku belajar siswa Sekolah Dasar, dengan efektivitas yang bergantung pada bentuk dan konteks penerapannya. Reinforcement positif secara konsisten menunjukkan dampak yang kuat dan menguntungkan. Sebagai